Married Idol (Chapter 2)


Main Cast: Kim Rumi 23 years old, All Shinee member.
Genre: Romantis, humor, PG 15 tapi tenang, author blom ada pikiran untuk naikan rate-nya lagi ^^


Jangan pernah membuang kesempatan untuk menyatakan kepada seseorang bahwa Anda mencintainya.
(H.Jackson Brown, Jr)

Omong kosong jika Anda bilang mencintai seseorang tapi Anda tak mau berkorban baginya. Tiada cinta tanpa jalan penderitaan karena melalui jalan penderitaan orang menemukan cinta yang tercerahkan.
(S.Belen 2005)



 

Ternyata ini nyata. Aku tidak bermimpi sudah menikah dengan seorang idola karena kulihat yang tertidur disamping ku adalah suamiku, Lee Jinki leader dari boyband yang paling kusukai, SHINee. Aku masih tidak menyangka bisa menikah dengannya tapi ada juga rasa sedih karena harus menerima kenyataan di pagi ini aku sudah bukan gadis lajang lagi. Walau kami belum melakukan apapun, selain berciuman memang. Tapi tetap saja, aku sudah menikah dengannya dan saat menjadi istri sebenarnya juga pasti akan segera tiba.

Saat aku akan bangkit dari pembaringan untuk mencuci muka, Jinki menarik tanganku. Rupanya dia juga sudah bangun.

“Mau kemana?” tanyanya. Aigoo~ wajahnya saat bangun tidur menggemaskan. Imut banget. Tak kalah dengan Taemin tentu saja. Karena itulah aku suka OnTae couple, duo makhluk imut.

“Cuci muka lalu membuat sarapan,” sahutku, tapi kemudian dia kembali menarik tanganku sehingga aku tak bisa kemana-mana dan terpaksa menurutinya untuk tetap ditempat.

“Nanti saja, masih pukul enam pagi. Aku juga belum lapar.”

“Ya sudah. Aku akan tidur lagi,” kataku sambil berbaring disampingnya. Jujur sebenarnya aku sangat gugup saat ini. Apalagi saat melihat senyumnya. Eomma~ kau hebat sudah menjodohkan aku dengannya.

Kami berbaring saling berhadapan. Dia menatapku dan kubalas juga dengan menatapnya. Tangannya memain-mainkan jemariku dan tanganku pun memainkan jarinya. Sampai pada akhirnya dia memelukku.

“Saranghae,” bisiknya lembut ditelingaku. Membuatku merinding dan dia semakin erat memelukku. Aigoo~ eomma aku tak kuat.

Kucoba tetap mengontrol pikiran dan perasaan ku. Mencoba tidak ikut terbawa permainannya. Sehingga aku pun bisa berkata, “Jinki-ya, terhitung kali ini, sejujurnya kita baru bertemu tiga kali. Pertama saat kita dijodohkan, kedua kemaren saat kita menikah dan ketiga pagi ini walau semalaman kita bersama. Hm~ menurutku, saat aku menonton perform atau ikut fans sign tidak bisa dihitung karena itu hanya dari aku, kau bahkan tidak memperhatikanku saat itu. Tapi, secepat itukah kau mencintaiku?”

“Tentu saja aku mencintaimu. Kau istriku kini, apa kau tidak merasakan hal yang sama?” tanyanya sembari melepaskan pelukannya.

Aku mendudukan diriku setelah dia melepaskanku, “a-aku, jujur… a-aku belum siap dengan ini! Jinki-ya, harusnya kau mencintaiku bukan hanya karena sekarang aku istrimu. Tapi karena aku adalah aku! Aku juga sangat ingin mencintaimu… tapi, bukan hanya karena kau suamiku.. aku ingin mencintaimu seutuhnya. Sekarang diantara kita, aku tidak hanya menggapmu sebagai idola seperti dulu, tapi kau itu pembimbing hidupku. Aku harus tau tentang perasaanmu sesungguhnya, dan sebaliknya. Kita tidak hanya akan hidup bersama dalam beberapa hari tapi akan seterusnya. A-aku sangat takut jika suatu saat kau akan menyesali keputusanmu menikahiku.”

Untuk sesaat setelah aku mengeluarkan sedikit perasaanku, kami terdiam. Dia hanya memandangiku yang sudah hampir menangis.

“Noona, mianhe,”ujarnya kemudian bangkit dari tempat tidur dan akan keluar kamar tapi buru-buru aku langsung mencegahnya. Kuhadang dia agar tidak bisa membuka pintu.

“Kenapa meminta maaf? Kenapa kau berubah-ubah seperti ini? Baru kali ini aku mendengar kau menyebutku dengan sebutan ‘noona’ ! apa ini artinya kau sungguhan menyesal?”

Ini gawat, kalau sungguhan dia menyesal bisa jadi dia akan menceraikanku hari ini juga. Omo~ aku tidak mau!

Raut wajahnya berubah, tampak sangat kesal sampai dia berkata “Ne, aku menyesal sudah menyatakan cinta padamu! Puas?” bentaknya.

Aigoo~ eomma… dia membentakku. Aku jadi berharap ada Key disini supaya bisa meredakan amarah Hyungnya ini. Eomma~ aku takut. Dia tampaknya marah sekali saat ini. Menatapnya saja aku jadi tidak berani.

Aku pun akhirnya kembali ke tempat tidur, membiarkan dia keluar dari kamar. Dalam hati, aku mengutuknya. Berani sekali dia membentak ku. Padahal wajar saja ‘kan kalau aku bertanya seperti tadi? Atau memang aku yang salah? Kyaa~ aku jadi stress lagi.

@@@@@@@@

Aku keluar dari kamar pukul 8 pagi. Masih belum mandi dan berganti pakaian. Kulihat ‘suami’ ku sedang menyiapkan sarapan. Dia sudah segar dan tampaknya sudah mandi karena pakaian yang digunakannya sudah rapi, aku tau dia pastinya sudah terbiasa dengan pekerjaan dapur jadi kuputuskan tidak membantunya. Lagipula aku masih sangat kesal padanya.

Aku duduk dimeja makan yang terletak didapur, sengaja supaya bisa mengamati Jinki memasak makanan. Meminum teh yang sudah tersedia dimeja. Jinki melihatku tapi dia acuh saja. Menyebalkan.

Aku mencoba berbicara padanya, “Masak apa?”

“Sup kecambah,” sahutnya tanpa menatapku dan masih saja asyik dengan masakannya.

“Ow, kupikir kau hanya bisa memasak daging asap. Ternyata bisa yang lain juga,” ujarku dengan nada mengejek.

Dia berbalik dari masakannya kemudian menatapku sambil mengacung-acungkan spatula kearahku, “jangan cerewet. Kau tidak membantu juga!”

Cih~ menyebalkan sekali anak ini. Ingin rasanya aku tinju wajahnya. Eomma~ kenapa dia jadi menyebalkan seperti ini? Apa karena aku?

“Jinki-ya. Jadi rupanya sekarang kau membenciku, ya?!” tanyaku masih menahan emosi.

“Ya! Noona, kau ini aneh sekali? Tadi saat aku bilang kalau aku mencintaimu kau mendebatku. Dan sekarang saat aku dengan suka hati membuatkanmu sarapan dan mengacuhkanmu karena sibuk dengan masakanku, kau bilang kalau aku membencimu. Maumu apa sih sebenarnya?” kesalnya.

“Karena aku tidak suka caramu. Kau menjawabku dengan mengacungkan spatula kewajahku! Kau pikir aku anak kecil? Lagipula wajar saja ‘kan kalau aku mendebatmu dengan pernyataan cintamu tadi pagi. Karena aku berpikir kau bohong padaku. Kau mengatakan supaya aku tersentuh dan mau bercinta denganmu,’kan? Kau pikir aku bodoh?”

Benar-benar pagi yang buruk, seharusnya pengantin baru seperti kami pada saat seperti ini sedang mesra-mesranya tapi kami malah bertengkar. Awal yang buruk di hari pertama pernikahan.

Kami terdiam cukup lama. Kulihat dia berberapa kali menghembuskan nafasnya dengan kesal. Sup kecambah yang sudah mendidih dibiarkannya saja sampai meluap sampai aku yang harus mematikan kompor dan terpaksa harus berada didekatnya.

“J-jadi sebenarnya kau ini ingin menikah dengan ku atau tidak, sih?” tanyanya saat aku mematikan kompor, “Bukannya wajar jika aku memintamu melayaniku? Aku ini suamimu sekarang! Kau bertanya padaku, apakah aku menyesal menikah denganmu. Tapi aku malah merasa yang menyesal karena pernikahan ini justru kau. Memang aku melakukan ini karena permintaan orang tuaku. Kau pikir aku tidak takut karirku hancur karena pernikahan diam-diam ini? Aku sangat takut. Asal kau tau, demi pernikahan ini pengorbanan ku sangat banyak. Tapi aku tidak menyesal. Aku tau orang tuaku memilihkan gadis yang baik sebagai istriku dan aku yakin dia akan menerima diriku apa adanya. Kau tau? Aku sangat senang saat bertemu denganmu, aku berusaha menyayangimu. Tapi kenapa kau tidak mengerti?”

Aku terdiam mendengar ungkapan hatinya. Jadi, aku yang salah? Babo..babo… aku sungguh babo. Aku sudah membuatnya terluka karena sikapku. Aku berusaha meraihnya untuk kupeluk, tapi dia menolakku. Bagaimana ini? Aku sudah memperlakukannya terlalu buruk. Mungkinkan dia akan membenciku?

“Mianhe…” ujarku hampir menangis, “…Jeongmal mianhe, a-aku memang gadis yang buruk. Harusnya aku merasa bahagia karena telah menikah denganmu. Harusnya aku tidak mendebat dan menolakmu. Bukannya aku gadis yang beruntung karena menikah dengan pria yang sangat kupuja. Mianhe, Jinki-ya.”

Aku kemudian menangis setelah mengatakan itu. Melihat diriku yang menangis sepertinya membuatnya tersentuh lalu memelukku.

@@@@@@@@

Perasaan kami sudah cukup membaik saat kami sedang menyantap sarapan kami. Pertengkaran tadi tentunya menjadikan situasi canggung diantara kami,tapi paling tidak kami jadi tau perasaan masing-masing.

Kami tetap diam sampai sarapan berakhir dan saat kami mencuci piring bersama. Mungkin memang lebih baik tak ada yang berbicara sampai emosi yang menyumbat pikiran masih belum hilang. Dan akhirnya setelah selesai mencuci piring, Jinki memulai lagi pembicaraan.

“Mianhe…” ujarnya padaku, “… harusnya aku sadar, hubungan kita menjadi dekat dari perjodohan sampai ke pernikahan hanya dalam waktu satu bulan. Terlalu singkat memang. Aku masih belum terlalu memahami dirimu. Tapi, kupikir kau menyukaiku. Bukannya kau ini fans ku? Ahh~ mungkin kadar narsisku terlalu berlebihan.”

“Sebenarnya member yang paling kusukai itu Taemin-sshi,” sahutku malu-malu. Tapi kemudian kulihat dia tertawa mendengar jawabanku.

“Jadi, kau bohong saat itu?”

“Aniya! Aku tidak bilang kalau aku menyukaimu. Aku hanya bilang kalau aku menyukai ‘ontae couple’ hanya itu!”

“Hah, bagaimana ini? Kita menikah tanpa memiliki perasaan satu sama lain.”

“Mwo? bukannya tadi kau bilang kau mencintaiku?”

“Yeah, aku mengatakannya ,tapi…”

“Jadi, benar kalau kau mengatakannya agar bisa bercinta denganku?” tanyaku dengan mata melotot kembali emosi.

“Ya, kau benar. Tapi tentu saja ‘kan kalau aku meminta ‘itu’? kita harus memberikan cucu untuk orang tuaku!”

“Shiroh! Kau pikir aku sapi?!”

“Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?” ajaknya.

“Mwo? Kesepakatan?” tanya ku tak mengerti.

“Kau masih belum menginginkan anak, baiklah. Aku mengerti. Tapi, walau kau tidak menyukaiku, kita sudah terlanjur menikah. Aku tidak akan menceraikanmu sampai kau yang memintanya. Tapi, sebisa mungkin itu tidak akan terjadi…”

“Bagaimana kalau tiba-tiba kau jatuh cinta dengan wanita lain?” tanyaku memotong perkataannya.

“Aku akan membunuh perasaan itu, tapi jika itu terjadi padamu, kau akan kulepaskan. Tapi kumohon, belajarlah mencintaiku mulai sekarang, karena aku juga melakukan hal yang sama. Pikirkanlah aku karena aku akan selalu memikirkanmu!”

“Tapi… bagaimana kalau tidak berhasil?”

Kali ini dia terdiam cukup lama untuk menjawab pertanyaanku. Dia kebingungan tentu saja. Tapi kemudian dia berkata, “Mustahil… aku sangat yakin perasaan itu pasti akan muncul!”

Aku melihat senyumannya lagi, yeah.. mungkin dia benar. Pasti akan berhasil. Kemudian dia memeluk ku lagi.

“Mungkin hari-hari kedepan akan sangat berat. Tapi, kita harus ingat sumpah kita dihadapan Tuhan. Lalu kita juga harus menjaga perasaan dan membuat orang tua kita bahagia. Kurasa dengan memegang kuat perasaan itu, kita bisa membangun keluarga yang bahagia.”

“Jadi…” kataku lagi.

“Aku tidak akan memintamu melayaniku sampai kau siap. Tapi, kau harus tau kalau aku akan siap kapan saja,” serunya sambil tersenyum.

Kyaaa~ Jinki genit sekali. Tapi, entah kenapa aku jadi merasa nyaman. Aku ini gadis bodoh yang sangat beruntung mendapatkan suami sepertinya. Dan terlebih, dia juga seorang idola. Aku yakin pasti banyak gadis diluar sana yang akan melakukan apa saja agar bisa bersama dengan suamiku. Ah~ aku jadi sedikit menyesal sudah menyia-nyiakan dirinya, tapi tak apalah. Bukan aku yang memintanya membuat keputusan seperti itu.

“Baiklah.. kau sendiri yang bilang tidak akan memaksaku. Apa perlu perkataan mu tadi ditulis di kertas bermaterai?” tanyaku.

“Kau berlebihan sekali,” ujarnya sambil tertawa.

“Yap, tampaknya kesepakatan juga harus ditambah. Kau tidak boleh mencium bibirku lagi, sampai aku yang melakukannya duluan, arachi?”

“Yakin? Apa tidak menyesal?”

Menyesal sih, tapi dari ciuman bisa berlanjut ke hal lain. Jadi memang harus dibuat kesepakatan seperti itu.

Akhirnya pada pagi pertama pernikahan kami, kami telah membuat kesepakan yang mungkin mustahil dilakukan pasangan lain. Yeah, bisa dibilang kami pasangan aneh. Tapi tentu saja kami melakukan kesepakatan itu untuk masa depan hubungan kami. Kami percaya kalau kelak, kami bisa menjadi pasangan suami istri sepenuhnya.

@@@@@@@@

Sebulan berlalu, karena kesibukan suamiku sebagai artis kami jadi jarang bertemu. Setelah hari kesepakatan kami, dia kembali ke dormnya.Dia hanya pulang untuk menginap seminggu sekali.

Eomonim sangat kesal dengan keadaan itu. Dia benar-benar ingin agar kami bisa sesegera mungkin memberinya cucu. Andai saja dia tau kesepakatan kami, aku yakin dia akan marah besar. Aku jadi merasa bersalah. Semua gara-gara aku.

Tetapi sejujurnya, aku juga sangat merindukan Jinki. Aku lebih sering melihatnya wara-wiri di Tv ketimbang fisiknya langsung. Bagaimana tidak rindu jika seperti itu? Terlebih, bagaimana pun juga kami pengantin baru. Tapi bukan berarti aku sudah jatuh cinta padanya. Aku hanya ..yeah.. mencoba menjalankan peran ku sebagai istri. Jadi, aku merindukannya karena aku sedang belajar mencintainya.

Hari ini, sabtu pagi. Aku sengaja menyiapkan berbagai makanan untuk menjenguknya di dorm. Ini akan menjadi kali pertama aku masuk ke dorm anak-anak SHINee, entah kenapa aku menjadi senang sekali.

Aku cepat-cepat menyiapkan bawaanku karena saat kutanya semalam lewat sms ke Jinki, mereka akan ada schedule pukul sepuluh nanti dan sekarang sudah pukul setengah tujuh. Aku tidak bilang kalau aku akan kesana jadi aku harus segera bergegas.

Sesampainya disana, aku disambut oleh Key. Dia girang sekali melihatku. Aku lebih lagi, sejak hari pernikahan, ini kali pertama aku kembali bertemu dengannya dan juga member yang lain. Saat dipernikahan kami tidak berbicara sama sekali karena memang tidak dibolehkan untuk berbincang saat itu.

“Ya, Noona. Apa hyung tau kau akan datang pagi ini?” tanyanya saat aku masuk.

“Tidak. Kejutan…” kataku, “… Jinki masih tidur?”

“Tidak, dia lagi mandi. Yang masih tidur itu Minho dan si Taemin,” jawabnya sambil mengambil dan mengeluarkan barang bawaanku.

“Jjong dan manager kalian?”

“Jogging pagi-pagi,”sahutnya, kali ini dia sudah memasukan kemulutnya makanan yang kubawakan tadi.

“Berantakan sekali ya?” ujarku sambil memperhatikan seluruh ruangan.

“Ne, kau bisa membersihkannya,” sahutnya cuek.

“Mwo?” tanyaku.

“Silahkan dibersihkan. Aku masih mau tidur, terima kasih makanannya. Enak kok,” katanya sambil berlalu meninggalkanku masuk kekamar.

Tapi kemudian kudengar suara Jinki, “Ya, Key… kau berbicara dengan siapa? Sepertinya perempuan?”

Aku diam saja tidak menyahutnya, sampai dia tiba diruang tengah dan melihatku.

“Yeobo? Kau disini?” tanyanya tak percaya. Aku tersenyum melihatnya, begitu juga dia.

“Gyahahaha~ yeobo,” kudengar Key menertawakan kami dari balik kamarnya. Bikin malu saja jadinya.

Yeah, Jinki memanggilku dengan sebutan ‘yeobo’ sekarang. Katanya supaya makin hari bisa semakin cinta. Jadi, aku juga memanggilnya seperti itu. Tapi, masih malu rasanya. Kalau dirumah tidak akan diolok karena eomonim dan abonim justru sangat senang saat kami menyapa dengan kata itu. Tapi, berbeda disini. Wajar saja member yang lain akan tertawa.

“Hyung.. siapa yeobo?” tanya seseorang dibalik kamar dan aku tau itu suara Taemin.

“Itu istrinya onew-hyung. Dia diluar tuh, sudah jangan  ganggu pengantin baru!” sahut Key setengah mengejek. Kyaa~ menyebalkan.

“Sudah acuhkan saja yang didalam kamar. Untuk apa kemari?” tanya Jinki yang mengalihkan ku dari percakapan orang-orang didalam kamar.

Aku akan menjawabnya, tapi kulihat Key mengintip dari kamar diikuti Taemin dan Minho, mereka senyum-senyum melihat aku dan Jinki, kemudian Key berkata dengan suara ditinggikan seperti suara perempuan, “Yeobo… kok nanya begitu sih? Aku ‘kan kangen…” setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak. Jinki dan aku hanya bisa pasrah jadi bahan olokan.Kemudian Key kembali keluar dari kamar diikuti Minho dan Taemin.

“Ahh~ gara-gara kebanyakan ketawa jadi tidak ngantuk lagi. Padahal aku belum tidur. Tapi, lebih baik aku menemani kalian. Daripada nanti kalian ‘ngapa-ngapain’ ,” kata Key sambil melototin Jinki.

“Hyung, apaan tuh ‘ngapa-ngapain’?” tanya Taemin dengan polosnya sambil bergantian menatap kearah Key dan Jinki sementara kulihat Minho tertawa tanpa bersuara didapur.

“JANGAN SOK POLOS LEE TAEMIN!” seru Key, “Kesel deh, kau ini sudah SMA tapi masih belum paham juga. Dulu saat aku SMA aku sudah paham. Aku tidak akan menjelaskan padamu. Cari sendiri di internet sana!”

“Hya~ Hyung! Kau sendiri bicara tidak jelas. Rese!” seru Taemin pada Key kemudian dia melihatku, “Ah~ gara-gara Hyung, aku jadi lupa menyapa Rumi-Noona! Annyeong Haseyo, wah Noona banyak sekali membawakan makanan untuk kami, Gomapsumida,” sapa Taemin ramah membuat hatiku berbunga-bunga.

“AH~ Annyeong haseyo Taemin-ssi,” kataku masih tak bisa mengendalikan rasa gugup. Mungkin mereka dapat mendengar getaran dari cara bicara ku tadi.

“Noona, kau sepertinya kurang sehat? Wajahmu pucat?” tanya Taemin, dia semakin mendekat padaku sampai akhirnya ditarik Jinki untuk menjauh.

“Mungkin Rumi-noona sedang hamil, wanita hamil memang suka begitu disaat pagi,” kata Key acuh.

Semua terdiam setelah mendengar ucapan Key barusan. Tapi tak lama, karena kemudian Minho dan Taemin berhambur kepelukan Jinki.

“Kyaa~ Hyung ..Chukkae! kau akan menjadi ayah, ahh~ aku juga akan menjadi paman. Pantas saja Noona kemari tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Chukkae!” seru Taemin.

“Hyung~ kau hebat! Benar-benar pria sejati!” lanjut Minho sambil menepuk-nepuk bahu Jinki. Sementara Jinki tak bisa berbicara apapun saking kagetnya.

Kyaa~ kenapa jadi salah paham begini sih? Aku kan hanya gugup karena Taemin ada didekatku. Ini semua ulah Key. Sembarangan sekali sih bicaranya. Tampaknya dia mau mengobarkan perang diantara kami.

“Aniya.. aku tidak hamil! Jangan mengada-ada,” seruku sambil menatap tajam ke Key yang masih senyam-senyum girang.

“Yaaaa~ gagal punya keponakan deh,” sesal Taemin melepaskan pelukannya ke Jinki.

@@@@@@@

Setelah ber-’tidak jelas’ ria selama satu jam di dorm SHINee, aku memutuskan untuk pulang. Lagipula mereka sudah mulai sibuk mempersiapkan perlengkapan mereka, Jonghyun dan manager datang setengah jam sebelum aku pulang. Mereka berkeringat tapi tampak segar karena sudah berolahraga. Mereka hanya menyapaku sebentar karena kemudian mulai ikut bersiap-siap.

Aku menghampiri Jinki untuk pamitan, saat itu dia masih asyik mempersiapkan barang bawaan untuk dimasukan ke tasnya.

“Yeobo, aku pulang,” pamitku.

“Ne, hati-hati. Mian aku tidak bisa mengantar, tak apa kan?”

“Ne, Gwenchana. Selamat bekerja, hwaiting,” kataku, walau sebenarnya sedikit kecewa. “Semuanya, aku pulang dulu ya, annyeongi kasayo!” pamitku pada semua member sambil membungkukan badan.

Key dan Taemin menjawab serempak, “ Annyeong kyesayo!”

Tapi kemudian kudengar Minho berkata, “Ya, Onew-hyung! Rumi-Noona tidak diantar?”

“Aku tidak bisa,” sahut Jinki masih sibuk dengan barang-barangnya.

“Gwenchana, Minho-sshi,” kataku sambil memakai sepatuku.

“Mana bisa seperti itu! Hyung, tak apa ‘kan kalau aku yang mengantar?” tanyanya pada Jinki dan kulihat dia mengangguk, “Baiklah, aku pergi dulu, ayo Noona,” ajaknya sambil mengambil barang bawaan ku.

“Ah, kamsahamida,” kataku kemudian mengikutinya keluar dorm menuju lift.

Saat didalam lift, kami hanya berdua saja. Suasana seperti ini sebenarnya tidak membuatku nyaman. Aku merasa tidak tenang karena berdua saja dengan pria yang kuanggap sangat tampan. Minho itu bias kedua ku setelah Taemin, aku tentu saja sangat gugup saat berdua saja dengannya seperti ini.

Aku tidak berani mengajaknya bicara sampai akhirnya dia duluan yang berbicara, “Noona, sering-seringlah kemari kalau ada waktu. Bawakan bekal seperti tadi, enak sekali.”

“Sebenarnya aku mau, tapi…”

“Kau kesal ya? Karena Key selalu menggodamu? Anggap saja dia cemburu. Sekarang suaminya adalah suamimu,” kata Minho. Ah~ kenapa setiap dia berbicara selalu ada senyum yang menghiasi wajahnya? Bikin aku makin grogi saja.

“Ya, aku juga merasa seperti itu,” sahutku. Kusandarkan tubuhku ke dinding lift. Rasanya lift ini turunya lama sekali.

“Apa… a-apa noona bahagia?” tanya Minho, dia mengatakannnya tanpa menatapku jadi dia tidak melihat ekspresi kagetku saat mendengar pertanyaannya.

“Tentu saja!” sahutku. “Kenapa kau bertanya seperti itu sih?”

“Entahlah,” balasnya, “Baguslah kalau kau bahagia. Aku sangat senang, tapi…” dia tidak melanjutkannya karena pintu lift saat itu terbuka. Aku mengikuti dia yang keluar dari lift, kucoba mensejajarkan langkahku dengannya karena aku sangat penasaran dengan lanjutan perkataannya.

“Noona pulang naik taksi atau bus?” tanyanya.

“Bus!” sahutku cepat, “Minho-sshi, tolong lanjutkan perkataanmu tadi yang terputus! Tapi apa?”

“Anggap saja tidak ada lanjutannya!”

“Ani, teruskan. Cepat katakan yang mau kau bilang tadi!” perintahku.

“Baiklah,” ujarnya mengalah. Dia terlihat jengah sekali dengan todongan pertanyaanku, “Aku senang kau bahagia, tapi…” dia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan, “… tapi aku merasa Onew-hyung tidak!”

Aku menatap tajam padanya setelah dia melengkapi perkataannya itu. Kenapa dia bisa berkata seperti itu? Jinki tidak bahagia? Tau apa Minho tentang perasaan Jinki!

“Terima kasih sudah mengantarku!” ujarku ketus tanpa bisa membalas pernyataan Minho. Sakit sekali rasanya dia bisa mengatakan itu. Untuk apa mengantarku kalau harus mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu. Dia menarik tanganku karena sepertinya dia menyesal. Tapi, percuma! Aku sudah sangat kesal padanya.

Aku berjalan cepat meninggalkan gedung itu menuju halte bus. Aku masih bisa menahan tangisku saat sampai di halte, tapi ketika sudah duduk didalam bus, air mataku sudah tak sanggup lagi kutahan.

Aku tidak tau jika Jinki tidak bahagia. Tapi setelah Minho mengatakan itu, aku jadi berpikiran yang sama. Bisa saja itu terjadi dan itu semua gara-gara aku yang kelewat egois. Aku jadi ingat perkataanya di awal pernikahan kami. Dia terlalu banyak berkorban demi pernikahan ini. Tapi, sekalipun aku tak melakukan apapun. Aku benar-benar istri yang jahat.

 

~To Be ConTinued~

24 thoughts on “Married Idol (Chapter 2)

  1. Kyaaa~
    Udah ada masalah lagi.
    Si ayang (baca: mino) comel amat ya.
    Keke~
    Mit, lanjut mit..
    Si jinki napa pula tuh? Kalo ga bahagia kawin ma rumi, mending kawin ma chaesa aja /plak
    Karakter Rumi mirip chaeri.. Keke~

  2. Jiahahaa~ key jail bgt godain jinki + rumi mulu😀
    Lah? Itu knapa minho blg kalo jinki ga bahagia?
    Ahhh~ minho rese nii!!
    Kan jd penasaran sama prasaan jinki yg sbnrnya >.<
    Oke~ aku lanjut baca k chapt slanjut'a🙂

  3. minho whyy ?? harus segamblang itu ya ngasih tau jinki ga bahagianya -_- taemiiiin kamu polos bgt ih hahaha ttp semangat rumi noona !

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s