Married Idol (chapter 7)


Main Cast  : Kim Rumi, All Shinee member

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG-15

Cinta adalah latihan bebas untuk memilih. Dua orang saling mencintai hanya jika mereka cukup mampu hidup tanpa yang lain tetapi memilih untuk hidup satu dengan yang lain. (M.Scott Peck)

Sebuah perkawinan yang baik sekurang-kurangnya 80% nasib untung menemukan seorang yang tepat pada waktu yang tepat. Sisanya adalah saling percaya. (Nanette Newman)

STORY

“Rumi… kenapa kakimu?” tanya eomma cemas saat melihatku masuk rumah dangan langkah pincang. Aku tak memperdulikannya dan masuk ke kamarku. Menangis…

Jinki pengecut.. pengecut.. aku benci dia…

Aku benci sikap pengecutnya yang tak mengejarku… benci dengan ketidaktegasannya.. benci dengan ketidakjujurannya… benci dengan ketidakterbukaannya padaku… benci karena dia tak mengakui keberadaanku dihadapan orang lain… dan benci karena aku terlalu mencintainya….

Tapi sekeras apapun aku memakinya… ini resiko yang harus kudapat karena menikah dengannya… diduakan oleh pekerjaannya… diduakan oleh impiannya… tapi aku tak rela jika dia menduakan cinta.. sampai matipun aku tak rela!

Aku tertidur setelah itu… aku bahkan tak merasakan sakit di kakiku… sakitnya terkalahkan oleh sakit hatiku.

@@@@@@@@

Sudah berapa jam aku tertidur? Rasanya lama sekali… saat terbangun aku terkejut melihat Jinki duduk dikursi samping ranjangku. Dan aku melihat kaki ku sudah diperban… diakah yang melakukannya?

“Yeobo~ kau sudah bangun..” sambutnya sambil tersenyum, menghampiriku dan duduk disisi tempat tidur berhadapan denganku.

‘Yeobo..?’ dia memanggilku itu sekarang.. hah.. kenapa tidak memanggilku seperti itu tadi… malah memanggil namaku.

“Untuk apa kemari… kau tidak dengar perkataanku tadi? Aku bilang itu adalah pertemuan terakhir kita..!” ketusku memalingkan wajah.

“Kau terlalu emosional… maafkan aku kau seperti ini karena aku..” katanya mencoba meraih tanganku tetapi kutepis.

“Bagaimana tak emosi melihatmu dicium gadis lain.. terlebih itu bukan di drama.. terlebih… kau tak menghubungiku sebulan ini… bagaimana  aku tak emosi!” sentakku memukul pundaknya.

Dia menangkap tanganku yang memukulnya kemudian menggenggam dan menaruh didadanya , “Yeobo…Akupun kaget saat dia melakukan itu.. percayalah… dan mengenai aku tak menghubungimu.. itu karena perusahaan memang melarangku melakukan kontak dengan mu… takut ponselku disadap…  dan mereka memang tak mengijinkanku menggunakan ponsel beberapa waktu ini… menemuimu langsung pun aku kesulitan… Aku kemaripun diam-diam tanpa sepengetahuan manager..” dia mencoba memberikan penjelasan padaku tapi aku merasa itu percuma… aku sudah sangat kesal padanya.

“Kau pengecut…” kulepaskan tanganku darinya, menatapnya sengit dan aku melihat ekpresi tak terima diwajahnya saat aku mengucapkan itu.

“Apa maksudmu?”

“Kau pengecut Lee Jinki! Aku tau perusahaanmu itu begitu keras padamu.. tapi sikap pengecutmu yang lebih aku benci… kenapa kau mau saja disuruh berpura-pura berkencan dengan Chae Kyeong? Apa karena bukan sikap pengecutmu? tapi karena kau masih suka dengannya.. iya… itu kan yang sebenarnya…”

Ya… keluarkan Rumi.. keluarkan saja semua amarah dan timpakan semua kesalahan padanya.. salahkan dia… dalam hal ini Jinki yang salah… keluarkan saja.. biar dia tau sesakit apa perasaan yang menyelimutiku.

@@@@@@@

“Yeobo… mungkin aku harus pergi dulu.. sampai kau bisa tenang… baru kita bicara lagi.. kau benar-benar terlalu dikuasai amarahmu…” katanya pelan.

“Kalau kau pergi.. jangan harap aku mau bicara denganmu lagi… kita selesaikan masalah ini sekarang!”

“Baiklah… jadi apa yang menurutmu menjadi masalah kita kini,..” kulihat dia masih berusaha tenang disetiap kata-katanya.

“Aku ingin… berita yang mengatakan tentang kau berkencan dengan Han Chae Kyeong berakhir… kau harus bilang kepada publik kalau kau dan dia tak ada hubungan apapun…dan aku ingin pernikahan kita disahkan …” titahku, dia terkejut dengan setiap kata yang didengarnya dari mulutku. Tapi aku tak peduli lagi tentang apa yang dipikirkannya tentang aku kini.

Ya.. aku Kim Rumi mulai hari ini ingin diakui sebagai ISTERI dari Lee Jinki, tak ingin menjalani pernikahan diam-diam lagi.

“Yeobo… kau… ah~ kau tau itu tak mungkin, ‘kan? Tidak dalam waktu dekat ini… lagipula.. perusahaan tak mungkin mengijinkan…” elaknya.

“Tapi aku sudah tak tahan lagi Lee Jinki! Saat di appujeong… aku baru sadar kalau aku sangat ingin kau mengakui keberadaanku… aku tak ingin berdusta kalau aku sepupu Key… aku ingin disebut istrimu.. berjalan bersama denganmu ditempat umum… aku ingin semua orang tau kalau aku ini istrimu…”

“Jadi… tersebarnya berita pernikahan itu … bukan karena kau, ‘kan?” aku bisa mendengar nada tak suka dari cara bicaranya.

“Aku tak tau menahu tentang itu… kau pikir aku yang melakukan itu? Hah… kau menuduhku hanya karena sekarang aku ingin semua orang tau hubungan kita? Aku juga kaget dan mencemaskanmu saat itu.. tapi rasa cemasku menjadi kesal saat tau yang terjadi.. malah muncul berita kencanmu dengan Chae Kyeong… aku benci.. aku sangat benci… walau Key menjelaskan itu hanya untuk menutup-tutupi pernikahan kita.. aku tak merasa tertolong.. tapi tersakiti… terlebih kau tak berani menghubungiku… aku sangat menderita… apa kau tak memikirkan perasaanku?” kata-kata ku semakin keras.. sudah tak memperdulikan perasaanya.. hanya memikirkan diriku sendiri.

“Aku selalu memikirkanmu…dan aku tak menuduhmu…” lirihnya..

“Tapi bukan itu yang kumau sekarang Jinki…”

“Lalu apa?… kupikir kau tau dan siap menerima jika hal ini terjadi… tau posisiku… aku belum bisa melakukan yang kau inginkan… tidak sekarang.. tapi aku pasti akan melakukannya…” Jinki makin tak mengerti dengan sikapku dan terlihat sekali dia sangat kelelahan.

“Tapi aku tak sanggup menunggu sampai saat itu tiba… maafkan aku.. kukira aku bisa menjadi istri yang kuat untukmu… dengan status idolamu.. tapi.. aku tak sanggup Jinki… maaf mengecewakanmu…”

“Jadi … sekarang kau menyuruhku memilih.. memilih mu atau pekerjaanku… impianku, begitu? Itu yang kau mau sekarang?!” air mata mulai mengalir deras diwajahnya.

Tapi sayang, aku tak tersentuh dengan air matanya, dan menjawabnya dingin, “Ya.. umumkan kalau aku istrimu.. atau .. kita bercerai..”

“Yeobo… K-kau.. benar-benar tak bisa berpikir jernih sekarang… percuma aku bicara denganmu saat ini.. aku akan kembali dan berbicara lagi denganmu saat kau sudah tenang.. “ diapun bergegas mengambil mantelnya yang tergeletak di kursi tempat dia duduk sebelumnya dan membuka pintu.

“Kau tidak bisa pergi Jinki.. aku belum selesai..” jeritku membuatnya mengurungkan niat keluar dari kamarku.

“Yeobo~ aku tak bisa mengikuti emosimu saat ini…”

Aku yang semakin kesal mulai melemparkan bantal-bantalku ke arahnya, “Berhenti memanggilku “yeobo’! .. dulu kau bilang akan melepaskanku kalau aku yang memintanya.. sekarang aku ingin pisah.. aku tak tahan hidup denganmu..”

Dia yang semula hendak pergi tampaknya mulai terbawa emosi dan kembali mendekatiku ku lalu mencengkram tubuhku. Mendorongku hingga tersandar di dinding, “Yeobo… hentikan menguji emosiku atau aku benar-benar menuruti kemauanmu…”

Sakitt~… dia mencengkramku kuat sekali…  Aku hanya bisa terdiam… siap menunggu dia mengucapkan kata perpisahan.. siap menunggu dia mengatakan kalau dia menyesal menikah dengan wanita yang sangat emosinal seperti diriku…

Tapi dia malah mengendurkan cengkraman tangannya dan malah memelukku… kembali menangis… kenapa dia yang harus menangis… yang ingin menangis itu aku.. tapi air mataku sudah kering…

@@@@@@@

“Jangan berkata kalau kau ingin berpisah dariku… aku sangat mencintaimu… kau hidupku kini.. jangan ingin menjauh dariku.. aku tak bisa melepaskanmu… aku memang tamak yang menginkan semuanya… kau dan karirku… karna aku tak bisa hidup bila kehilangan salah satunya… kumohon.. jangan suruh aku memilih… aku tak bisa… aku akan mati jika tak bersama mu.. dan aku akan menjadi mayat hidup bila aku kehilangan impianku.. karirku…” dia menangis dan semakin mengeratkan pelukannya.

Jinki… Baboya.. kenapa masih mengharapkanku bersamamu..? jelas-jelas aku bukan wanita yang pantas untukmu.. dengan ego ku yang begitu besar.. tapi kau masih menginginkanku…

Babo… babo… aku bahkan membenci diriku kini.. membenci karena bersikap kasar padamu… terlalu ingin menang sendiri… dan terlebih karena sudah membuatmu menangis.

Ternyata kau tak hanya pengecut.. tapi juga babo…

Dan sayangnya aku malah begitu mencintai namja babo nan pengecut ini…

@@@@@@@@

Jinki kembali ke dormnya setelah keadaan kami sudah cukup tenang… berulang kali dia menciumku sebelum pergi… walau aku merasa jengah karena masih teringat ciumannya dengan Chae Kyeong…

Aku merasa tidak suka saat bibirnya menyentuh tubuhku.. karena saat itu juga bayangan Han Chae Kyeong muncul.. tapi, karena dia tak menceraikanku, aku harus siap menerima ciuman dan sentuhannya walau aku tak suka…

Bagaimana ini? kini aku merasa jijik saat dia menyentuhku.. walau aku masih mencintainya.. bagaimana kami bisa hidup bersama… aku malah tak ingin dia menciumku…

Walaupun kami kembali bersama… keadaan ini akan membuat hubungan kami bisa menjadi semakin tak bahagia…

Yah.. berharap saja ini tidak terjadi selamanya… berharap saja aku bisa melupakan kejadian saat Chae Kyeong menciumnya… kalau aku tidak bisa melupakan hal itu, Jinki tak akan bisa menyentuhku lagi…

Ah~ kenapa aku ini… bagaimana aku bisa menjadi jijik dengan dirinya.. padahal aku juga masih sangat mencintainya… inilah aku… yang selalu bingung dengan diriku sendiri.

@@@@@@@@

“Hari ini jadwalmu ke rumah sakit, ‘kan? Jangan bilang kalau kau lupa..” kata eomma saat aku baru bangun dan memang sekarang sudah pukul 8 pagi… sementara pemeriksaan dan terapiku dijadwalkan pukul 9.

“Aku tak mau ke rumah sakit..” ujarku sambil bermalas-malasan di depan TV.

“Ya.. kau tidak boleh absen berobat.. kalau tidak penyakitmu tak sembuh-sembuh dan kau tak bisa hamil… ayo cepat bersiap-siap..” perintah eomma tanpa peduli dengan mata bengkak ku karena menangis setelah Jinki pulang ke dormnya semalam.

Yah.. akhirnya semalam setelah Jinki pergi, aku menangis lagi… tapi saat dia tak bersama denganku…aku tidak ingin menangis lagi dihadapannya.. tak sudi!

“Shiroh.. aku bosan minum obat dan mengikuti terapi hanya demi menyenangkan keluarga Lee yang begitu menginginkan cucu… mereka tak tau betapa aku sangat menderita gara-gara ulah mereka… gara-gara menikah dengan putra dari keluarga mereka…” ceplosku.

Eomma menatapku tajam, “Ya! Kim Rumi… kenapa kau selabil ini? mengatakan seakan-akan kau teraniaya… Eomma juga mendengar kau memaki suami mu semalam… kenapa kau bisa sekasar itu..? berulang kali meminta cerai.. kau pikir dengan bercerai masalah selesai.., terlebih alasanmu meminta cerai sangat tak masuk akal.. eomma pikir kau mengerti posisi suamimu, dia tak mungkin mengumumkan pernikahan kalian saat ini.. belum saatnya… bukannya kau dulu begitu mengidolakannya… harusnya kau mengerti itu.. bukan menyuruhnya memilih.. antar kau dan karirnya… dia sudah menjadi artis jauh sebelum dia mencintaimu… cintanya pada pekerjaannya sangat besar… jangan kau suruh dia memilih karena itu menyakitinya.. terima dia apa adanya.. dengan semua keadaannya.. dan jadi istri yang baik.. bukan hanya bisa menuntut!

“Ya.. sudah cukup ceramahnya eomma?! Walau dia tak membuat keputusan.. tapi aku sudah! Aku tak akan membiarkannya menyentuhku sampai dia mengumumkan statusku… biar tau rasa dia..” ketusku tapi mendengar perkataanku ini membuat eomma naik pitam dan mendaratkan tamparannya di pipiku.

Sakittt~.. ya!.. kenapa eomma menamparku? Apa salahku? Ini pertama kalinya dalam hidup eomma menamparku… sebesar apapun kesalahan yang telah kulakukan dia tak pernah menamparku ataupun menyakiti fisik ku.. tapi sekarang dia melakukannya… Wae?  Aku sangat ingin melawannya, tapi… kulihat eomma menangis.. omo~

“Salah apa yang eomma perbuat.. sampai kau menjadi orang yang egois seperti ini? baik.. jika itu yang akan kau lakukan… eomma tak mau peduli… itu keputusanmu dan biar kau rasakan sendiri akibatnya!”

Setelah mengatakan itu eomma tanpa mengucapkan salam pergi meninggalkan aku sendirian dirumah untuk bekerja.

Aku merasakan air mataku kembali mengalir.. bukan karena merasa sakit bekas tamparan eomma.. tapi karena menyesal telah membuat wanita paruh baya itu menangis. Menyalahkan dirinya sendiri karena mempunyai putri yang begitu mementingkan dirinya sendiri.

“Eomma… mianhe.. Jeongmal mianhe…” tangisanku sangat deras, menyesali sikap buruk ku yang begitu menyakitinya.

@@@@@@@

Aku bersiap-siap untuk ke Rumah sakit walau sekarang sudah pukul 9 dan jelas aku terlambat dengan janji temu yang sudah ditentukan minggu sebelumnya.

Yah.. masalah apapun yang kini menimpaku… kesehatanku juga sangat penting. Apalagi aku juga merasa mungkin emosiku yang labil ini dikarenakan depresi.. yang jelas aku harus mengobati diriku sebelum terlambat.

Saat aku sudah siap dan akan berangkat, aku mendapat telpon dari Key…

“Yeoboseyo..” sahutku.

“Ya.. Noona, aku mau bicara.. sekarang! Kau ada waktu?”

“Tidak ada… aku mau ke rumah sakit..” jawabku. Sebenarnya aku malas juga sih berbicara dengannya dan juga teman-teman suami ku lainnya untuk saat ini.

“Keuraeyo? tapi sekarang aku sudah didepan pintu apartement mu… “ kemudian kudengar interphone berbunyi.. hah? Sungguhan dia sudah didepan..aissh~ anak ini.

Aku menutup telponnya dan membukakan pintu. Dia tersenyum padaku dan sebelum dipersilahkan masuk, dia sudah masuk duluan.

“Ya.. ternyata beneran mau pergi? Kupikir hanya alasan supaya tak bertemu denganku!” katanya seraya memperbaiki letak topinya yang terlalu turun menutupi mata.

“Aku ada janji untuk terapi hari ini… bisa bicara lain waktu? Aku sudah terlambat..”

“Mwo? terapi? Untuk apa?” tanyanya dengan muka keheranan.

“Tentu saja untuk kandunganku… pasca keguguran aku harus terapi dan mengobati infeksiku.. “ sahutku ketus.

“Apa hyung tau? Dia tak menemanimu? Kau pergi sendiri?” lagi-lagi dia bertanya banyak.

“Hah.. mana dia tau.. aku selalu pergi sendiri..” Key menatapku dengan pandangan ‘kasihan’, menyebalkan sekali…,“Lalu… untuk apa kau kemari?” kali ini giliranku yang bertanya.

“Aku tau kau dan Hyung bertengkar semalam…” katanya sambil merebahkan dirinya ke sofa.

“Cih~ bagaimana kau bisa tau? Jinki yang cerita?” tanyaku ikut duduk disampingnya.

“Mana mungkin dia cerita! … tapi, semalam dia pulang dalam keadaan buruk. Matanya merah dan basah…, aku tau sebelumnya dia dari sini.. karena dia memang mengatakannya saat filming berakhir.. dia memberitahuku agar bisa membuatkannya alasan pada manager Hyung.. karena, yeah.. Hyung memang dilarang untuk bertemu denganmu.. karena itulah, aku yakin kalian pasti bertengkar. Sebenarnya ada masalah apa sih? jika karena Chae kyeong.. aku jadi merasa bersalah juga… karena, aku kan yang memberitahumu tentang gadis itu..”jelasnya.

“Bukan hanya karena Chae Kyeong…”

“Ya.. lalu karena apa? Ceritakan padaku… kan sudah kubilang padamu kalau ada masalah… kau harus cerita padaku… apa ada hal yang terjadi di studio kemarin yang aku tak tau?” serunya mengguncang tanganku, memaksaku bercerita.

“Kemarin… aku melihat Chae kyeong mencium Jinki…yah, Minho juga ada disana…itu jelas masalah besar… tapi aku dan Jinki bertengkar bukan hanya karena masalah itu..”

“Lalu… ada masalah apa lagi yang lebih besar ketimbang suamimu dicium wanita lain?”

“Aku ingin Jinki mengakui kalau aku istrinya di depan umum..” sahutku.

Key kemudian tersentak, “MWORAGO?! Kau gila… kalau itu terjadi, karir kami bisa goyah… lihat saja kejadian kemarin.. pernikahan yang hanya dianggap gosip lalu diluruskan dengan berita kencan Hyung dengan Chae Kyeong? Berapa banyak fans kami yang pergi dan tak terima? Sangat banyak.. walau ujung-ujungnya mereka kembali juga yah.. persis seperti scandal Jonghyun dengan pacarnya yang ‘artis’ itu. Kau tau cercaan yang didapat sahabatku itu… sampai dia menangis… membungkuk dihadapan fans.. kau ingin Onew-hyung juga mengalami hal yang sama? Aku tidak yakin orang-orang diluar sana dapat memaklumi kondisinya… bullshit jika dia melakukannya untuk membuktikan cintanya padamu… perusahaan tak akan mengampuninya..kau tau itu!” ujarnya emosi.

“Karena itulah… kusuruh dia memilih.. aku atau kalian!” ketusku.

“YAA… kau! Aishh~ pantas saja hyung sampai menangis seperti itu. Dia tak mungkin bisa memilih.. lagipula kenapa kau bisa sebodoh itu! Memberinya pilihan yang jelas-jelas merugikan dirinya… noona, kau sama sekali tak dewasa… apa kau tidak menyesal jika pada akhirnya dia memutuskan mencampakkanmu demi kami… karena tindakan bodohmu yang benar-benar bullshit!”

“Aku tak butuh pendapatmu Key! Pergi dari sini karena tak ada yang perlu kita bicarakan lagi..”  aku bangkit membuka pintu, menyuruhnya keluar.

Dia menghela nafas kesal dan bangkit dari duduknya dan menghampiriku, “.. aku akan mengantarmu kerumah sakit..”

“Shiroh! Aku akan pergi sendiri..!”

“Ya..noona.. kau boleh kesal padaku.. tapi aku ingin menolongmu! Kau tidak mungkin bisa pergi dengan kaki seperti itu…” tunjuknya ke arah kaki ku yang masih diperban karena keseleo kemarin.

“Key… aku akan pergi ke poli kandungan… jika ada wartawan atau fans yang melihatmu pergi denganku ke tempat itu.. kau bisa terkena gosip!” aku menolak tawarannya sehalus mungkin walau tadi kami sempat bertengkar.

“Benarkah? bagiku tak masalah… lagipula.. banyak orang yang tau kalau kau itu sepupuku… jadi walaupun ada orang yang melihat kita jalan berdua, aku bisa berkilah… ya, aku sedang menemani sepupuku.. simple, ‘kan? Sudah ayo jalan.. kau bilang kalau kau sudah terlambat..kajja,” ujarnya kemudian melengos pergi mendahuluiku yang menghela nafas karena bingung dengan sifatnya.

@@@@@@@

“Aku tak menyangka harus menunggu selama itu, terlebih berobat di dua tempat.. poli kandungan dan Umum untuk mengobati kakimu… jadi itu obatmu? Banyak sekali.. kau sudah tanyakan pada dokternya apa ada obat syaraf yang termasuk dalam obatmu.. jangan-jangan gara-gara itu kau jadi labil..” kata Key panjang saat kami keluar dari apotik setelah menebus obat.

“Mana ada yang seperti itu…” sahutku ketus.

“Darimana kau tau tak ada? Kan kita tak tau kalau-kalau si dokter salah memberikan resep.. dia mengira kau adalah pasien penyakit jiwa.. hal itu bisa saja terjadi ..” dia tertawa setelah mengatakan itu.

“Tentu saja aku tahu… sudah kutanyakan pada Jinrin.. dia fans beratmu lho…” Key makin girang saat aku mengatakan itu.., “ saat aku menerima obat pertama kali, aku langsung menanyakan  padanya fungsi obat-obatan itu untuk tubuhku dan dia berusaha keras mencari dibuku yang aku tak tau apa namanya karena bahasanya aneh.. dan kemudian menjelaskan satu persatu…”

“Wow.. rupanya dia teman yang baik..” puji Key, “.. apa dia sekolah di kedokteran..”

Aku mengangguk, “… sekarang sudah co-ass.. kau mau kukenalkan dengannya?”

Dia tertawa lagi mendengar tawaranku lalu menggeleng, “.. Hei, jangan mencoba menjodohkanku dengan temanmu… aku tak ingin berkencan dengan fans ku.. lagipula… aku tak berminat dengan orang yang bergelut dibidang kesehatan… cukup dengan eomma ku yang seorang perawat yang selalu menasehatiku tentang pentingnya kesehatan dan yah… cukup dekat dengan Jjong dan ikuti pola hidupnya kita bisa jadi orang sehat..”

“Bicaramu sok sekali… sesehat apapun gaya hidup Jonghyun dia tetap butuh dokter jika dia sakit! Tak mungkin juga sehat selamanya… keseloe waktu di Indonesia saja dia sampai sakit berbulan-bulan.. padahal kata temenku yang orang sana cukup dibawa ke tukang pijat buta Jonghyun akan sembuh.. atau kalau dia patah tulang cukup diminumkan minyak bintang tulangnya akan tersambung sendiri…”

“Wow Daebakk… siapa yang mengatakan itu?” tanya Key antusias.

“Ya.. author ff ini dong,” jawabku sumringah. ^^v

“Ohya noona, setelah ini kau mau kemana?”

“Tentu saja pulang… “ sahutku.

“Ya.. daripada sendirian di rumah.. lebih baik ikut denganku… ada Taemin disana… kau kan sangat menyukainya.. siapa tau dengan bertemu denganya hatimu yang gundah menjadi bahagia..”

“Key.. aku bahkan bertemu dengannya kemarin dan rasa cemasku pada Jinki tak berkurang.. yah.. mungkin karena aku sudah tidak mengidolakan Taemin lagi…”

Lagi-lagi Key tertawa mendengar ucapanku, “Kyaa~ kasian baby Taemin ku… kehilangan salah satu noona-nya.. Hey.. Rumi-noona.. jangan sekali-kali kau mengucapkan itu dihadapannya kalau kau tak ingin melihatnya menangis.”

“Sinca?! Kalau begitu ajak aku bertemu dengannya.. aku sangat  ingin membuatnya menangis sekarang…” seruku yang berarti menerima ajakan Key untuk pergi bersamanya.

@@@@@@@

“Ya Key!” seruku kesal memandang tajam padanya.

“Waeyo?” senyumnya bahagia sekali melihat wajah kesalku.

“Yaa… kenapa malah mengajakku kesini? Bukan hanya Taemin yang bisa kutemui disini… tapi juga suamiku dan wanita sialan itu!” aku memukul tangannya membuatnya meringis tapi masih bisa tertawa.

“Sengaja…” katanya, “…lagian, aku juga harus bekerja noona.. dan aku mengajakmu kemari untuk melihat kami bekerja lagi… carilah tempat yang nyaman untuk menonton dan nikmati pertunjukannya.. selesai acara aku akan menemuimu lagi, bersama Hyung ku tentunya.. annyeong..”

Dia kemudian berlari ke arah backstage. Yah.. dia mengajak ku ke pertunjukan outdoor KBS 3D concert spesial menyambut musim semi. Acara sendiri masih 2 jam lagi dimulai dan pengunjung yang datang belum banyak sehingga tidak ada yang heboh saat Key muncul di kursi penonton bersama denganku.

Ah~ dasar Key… apa yang harus kulakukan selama 2 jam ini? Menunggu saja di kursi penonton? Membosankan sekali jika hanya sendirian…

Untuk membunuh waktu, aku bermain game Hp tak peduli walau diatas panggung artis-artis melakukan rehalsal dan pengunjung yang berdatangan semakin banyak, aku memang sedang tidak mood berada di keramaian hari ini. Tapi karena sudah terlanjur ke tempat ini, ya sudah.. aku tunggu saja sampai acara berakhir, sapa tau nanti mood ku berubah.

Dan kemudian kursi disampingku yang semula kosong diisi seorang pria. Aku memperhatikan pria itu, mengenakan hoddie dengan tudung menutupi kepala dan kaca mata hitam menutupi wajahnya.

Tapi aku tau dia siapa, walau dia berusaha menyamar seperti itu… aku dapat mengenali kalau dia Minho.

“Ya.. kau tak takut fansmu akan menyerbu kemari?” tanyaku masih asyik dengan game ku.

“Tak ada yang mengenali tuh… perhatikan saja sekelilingmu! Mata mereka sedang terpaku pada HoMin diatas sana..”

Ya dia benar, pengunjung terbius dengan penampilan dua member DBSK itu. Mata mereka terpaku dengan penampilan HoMin diatas panggung.

“Lalu.. kenapa kemari? Bukannya bersiap-siap untuk tampil..” aku menyudahi game yang kumainkan.

“Ya.. noona, saking seriusnya bermain game .. kau sampai tidak menyadari penampilan kami? SHINee sudah tampil sebelum ini..” serunya tertawa.

“Mwo?” aku memperhatikan penampilan HoMin. Aigoo~ dia benar… aku terlalu asyik dengan game-ku sampai tak menyadari kalau acara sudah berlangsung.. bukan rehalsal lagi. Aku melihat Minho masih menertawakanku. Menyebalkan…

“Ayo ikut aku ke backstage.. Key menunggumu disana…” katanya bangkit dari duduk dan kemudian menoleh karena menyadari aku tidak mengikutinya. “Ayolah noona~” dia menarik tanganku, memaksa ikut dengannya.

@@@@@@@@

Dia masih tak melepaskan genggamannya selama perjalanan menuju backstage. Berulangkali aku mencoba melepaskan tanganku darinya, tapi tak berhasil. Hah.. Choi Minho.. jika ada orang yang menyadari kau sedang menggandeng tanganku seperti ini.. salah paham mungkin dan pastinya akan terjadi lagi. Tidakkah dia mengerti? Tapi dia tak peduli.

“Minho-sshi.. kenapa sekarang kau jadi baik padaku?” pertanyaanku menghentikan langkahnya.

“Mwo? memangnya dulu aku tak baik padamu?” tanyanya balik dan melepaskan tanganku.

“Ne..!”

“Noona… sejak awal aku sudah baik padamu..”

“Bohong! Baik darimana? Kau sudah mengatakan hal buruk padaku… kau lupa yang kau katakan padaku saat hari ulang tahun mu.. kau tidak suka dengan kehadiranku.. jangan menarik omonganmu sendiri Choi Minho.. kau itu namja!” seruku tanpa memperdulikan kru yang berlalu lalang disekitar kami.

Minho memperhatikan sekeliling… yah, mungkin dia sadar tidak baik jika kami bertengkar disini, ditempat orang banyak dapat mendengar pembicaraan kami, kemudian menarik tanganku lagi, mengajakku ke sebuah tenda kosong. Tenda SHINee.

“Aku tak pernah merasa kalau ucapanku padamu saat itu buruk… aku hanya mengatakan pendapatku.. perasaanku tentang pernikahanmu dengan Onew-hyung. Dan aku berusaha jujur… dan kurasa kau kini sadar dengan maksudku saat itu… setelah kejadian kemarin..” jelasnya.

“Jadi… maksudmu saat itu… kau berpikir karena Chae Kyeong? Karena kau tau hubungan Hyungmu dengan yeoja itu sehingga kau pikir … dia tak bahagia hidup bersamaku? Dia menutupi perasaannya demi aku… begitu?”

Dan dia mengangguk, terlihat menyesal. “Noona… saat itu aku juga berkata Onew-hyung adalah orang yang sangat baik.. selalu berusaha membuat orang lain bahagia tanpa memikirkan dirinya sendiri… kau menanyakan padaku maksud dari itu tapi.. yah, aku tak menjawabnya…”

“Jadi.. maksudmu saat itu… demi membahagiakan orang tuanya dia menikahiku.. padahal ada gadis lain yang disukainya… dan terlebih menikah denganku akan menghancurkan karirnya… aku paham sekarang..” kataku dan kusadari kini aku menangis.

“Tapi.. sekarang hyung sangat mencintaimu..” Ujar Minho, lirih.

“Cinta? Dari mana aku tau itu sungguhan cinta… jangan-jangan hanya untuk membuatku senang saja..”

“A-aku tak mengerti… tapi menurutku itu sungguhan… aku melihat kesedihannya saat kau keguguran.. maka dari itu… aku sadar.. hyung tulus padamu, dan aku menyesal karena telah menentang hubungan kalian.. itulah sebabnya aku mengubah sikapku.. mendukung hubungan kalian, karena aku merasa Hyung tak bisa kehilangan dirimu..”

“Choi Minho.. kau begitu naif.. dia sedih saat itu karena akan kehilangan bayi… sesuatu yang diharapkan keluarganya sehingga menikahiku… jika aku keguguran usahanya menikahiku sia-sia… dan itulah yang ditakutkannya…” isakku, aku tak percaya bisa berkata hal menyakitkan justru untuk diriku sendiri.

‘Bukan itu..”  Minho menggeleng, “…noona yang terlalu berpikiran buruk padanya… yang dia tangisi saat itu adalah noona… noona yang kesakitan… dia takut noona tak selamat… saat noona di ruang operasi, hyung menangis.. memohon pada Tuhan agar tak terjadi hal buruk padamu,” dia berusaha meluruskan pendapatku.

“Yah.. baiklah, jadi sekarang kau sudah setuju dengan pernikahanku dengan Hyungmu,…?” dia mengagguki, “.. lalu apa kau masih setuju dan mendukungku bila aku menyuruh Jinki mengumumkan pernikahan kami?

Ya, dia terkejut dengan pertanyaanku. Terlihat tak suka, “ Untuk apa? Apa motivasimu.. ingin seluruh dunia tau hubungan mu dengan hyung?”

“Karena aku tak tahan! Aku ingin bersamanya… selalu dimana pun.. bisa menggandeng tangannya didepan umum… aku tak rela ada wanita lain yang justru bukan siapa-siapa disebut sebagai pasangannya… terlebih mengetahui kenyataan kalau wanita itu menginginkan suamiku… aku tak rela! Yah… yang kuinginkan sekarang adalah semua orang tau.. aku Kim Rumi istri dari Lee Jinki.. Leader SHINee.. ”

Dia menatapku tajam, terlihat sangat geram dengan ucapanku yang egois.“Noona.. aku tak akan membiarkan hal itu.. tak akan kubiarkan kau mengancam Hyung untuk melakukan hal bodoh itu..” kemudian dia mencengkram bahuku.

“Lepaskan aku Minho-sshi.. kau menyakitiku!”

“Tak akan kulepaskan kau sampai pikiranmu jernih!” sentaknya didepan wajahku.

Jinki tiba-tiba masuk bersama Key dan Taemin ke tenda tempatku dan Minho berada… mereka terkejut melihat apa yang dilakukan Minho padaku.

“Lepaskan istriku Choi Minho!” seru Jinki kasar sambil mendorong tubuh Minho,“Jangan ikut campur dengan hubunganku dan Rumi..”

Minho terdiam tak bisa berkata apapun walau aku tau, dia sangat kesal. Kemudian dia pergi, disusul Key dan Taemin. Meninggalkan aku berdua saja dengan Jinki.

@@@@@@@

“Aku mendengar semuanya … sebegitu inginkah kau dengan pengakuan pernikahan kita?”

“Ne..” kataku memalingkan wajah.. entah kenapa aku sangat takut melihat matanya.

“Itu artinya kau memaksaku untuk tetap memilih..”

“Ne..” aku merasakan air mataku kembali menetes, padahal aku tak mau menangis dihadapannya.

“Aku sangat mencintaimu… tapi aku tak mau keputusanku dengan memilihmu akan menyusahkan member yang lain…  dan aku rasa, kau tak akan berhenti sampai aku membuat keputusan..”

Air mata ini tak sanggup kubendung.. aku menangis… inikah yang kuharapkan? Aku sudah dapat menerka apa yang akan menjadi keputusannya… tapi lidahku kelu untuk  menarik diri… padahal aku tau, keputusan Jinki akan menyakitkan untuk ku.

“Kau mencintaiku?” aku menjawabnya dengan anggukan lemah, “… dan kau masih ingin… “ dengan terbata-bata dia melanjutkan, “..k-kau masih ingin aku mempublikasikan pernikahan kita?”

Aku menatap matanya.. merah dan basah. “Ne… hanya itu yang kuinginkan sekarang!”

Air mata itu tumpah dari matanya, kulihat bibirnya bergetar tapi kemudian bibir itu menempel dibibirku. Menciumku dengan perasaan perih dan basah… basah karena air mata dari kami berdua. saat aku menghisap bibirnya..dapat kurasakan air mata itu dan getirnya.. sakit.. sakit sekali perasaan ini.

Dia mengakhiri ciumannya, “Mianhe… aku … aku tak bisa memilihmu…”

Kucengkram lengannya, jadi itu keputusannya..yah, sudah kuduga… dia melepaskanku. Tapi kemudian dia kembali menciumku, memelukku erat dan berbisik, “… jadi kumohon yeobo.. berhentilah memaksaku memilih… karena aku akan lebih memilih SHINee.. bukan kau, kumohon.. kembalilah menjadi Rumi yang dulu… yang mendukungku… bukannya memaksa.. kumohon.”

Kulepaskan pelukannya, kulihat dia memandangku dengan tatapan mengiba. Masih berharap agar aku melupakan keinginanku yang jelas sangat egois. Tapi aku menggeleng, aku tak tau kenapa aku jadi seperti ini. aku lupa dengan amarah ibuku.. nasehat dari Key dan teguran Minho. Dan juga tak memperdulikan permohonan pria yang sangat kucintai.

Aku tidak memperdulikan semuanya.. demi sebuah pengakuan.

Jinki menatapku tak percaya, dia kemudian menghela nafas panjang. Menjauh dariku dan menyeka air mata yang masih tak berhenti mengalir.

“Baiklah… kalau itu maumu… aku akan mengatakan hal ini pada orang tuaku… yah.. kita berpisah…”

Setelah itu dia menunduk, memunggungiku. Yah.. dia masih menangis, begitu juga aku. Tapi dengan cepat aku mengendalikan diriku. Kuseka air mataku dan bersikap setegar mungkin.. aku menerima semua keputusannya. Yah.. aku menerima karena aku yang membuatnya memilih.

Lalu tanpa mengucapkan apapun padanya, aku keluar dari tenda itu. Diluar aku melihat Key, dia menatapku dengan pandangan tak percaya. Ya.. dia pastinya mengetahui apa yang terjadi didalam karena dia berkata, “..Kau .. yeoja terbodoh yang pernah kukenal Rumi-sshi! Bukan ini yang kuharapkan dari mengajak mu kemari. Wae? Kenapa tak mendengarkan nasehatku? Aku sahabatmu,’kan? Tak kusangka kau tetap mempertahankan egomu…”

“Mianhae… Key…” sahutku lirih dan pergi menjauh darinya.

Aku berjalan dengan cepat. Tak memperdulikan orang-orang yang memperhatikanku yang menangis.

Orang lain tak mengerti perasaanku. Perasaan sakitku… ya.. tak akan ada yang dapat mengerti perasaanku…

Kemudian ku tatap langit senja musim semi. Merah karena dipayungi mentari yang melungsur turun di ufuk barat. Indah.. tapi tak menenangkanku.

Jadi.. inikah hidup yang kupilih? Tak ada indahnya sedikitpun, menyakiti orang yang kucintai dan kemudian merasa sakit sendiri. Lalu, apa yang akan kulakukan setelah berpisah dengan Jinki? Aku tak memikirkan sampai situ…

Saat aku keluar dari area konser itu, aku dapat melihat rombongan SHINee keluar dari pintu lain.

Aku melihat Jinki yang menunduk dirangkul oleh Key, dari tempatku berdiri aku melihat Minho menatapku dingin begitu juga dengan Taemin. Yah.. aku yakin sekarang mereka sangat membenciku karena telah membuat Hyung mereka terluka.

Lalu, saat mobil mereka lewat dihadapanku, kulihat dari dalam Jinki menatap sedih padaku.

Akulah yang telah membuatnya terlalu banyak menangis. Itu yang kusadari sekarang.

Aku lalu teringat masa-masa awal hubungan kami. Dia yang berdehem dibelakangku… dia yang terkejut saat tau aku bagian dari fansnya… dia yang meraih tanganku untuk diajak berkeliling rumahnya, kemudian ciumannya di hari pernikahan kami… pertengkaran pertama kami dipagi pertama kami, lalu kesepakatan bodoh yang dia buat…dan kemudian aku teringat malam pertama kami di hari ulang tahunnya dan malam-malam indah lainnya dimana kami bercinta, memadu kasih.

Aku melupakan hal yang begitu indah itu, aku tak memperdulikan cintanya dan juga cintaku padanya yang tumbuh perlahan.

“Babo.. Kim Rumi babo!” rutukku dalam tangis menggengam kalung berbandul bintang pemberiannya. Kini, aku kehilangannya… bintangku…

~ To Be ConTinUed~

50 thoughts on “Married Idol (chapter 7)

  1. sori mit, aku ga mau nge-like part ini… ga suka banget…
    aku benci rumi di part ini… jangan bikin aku tambah benci dia di part berikutnya ya… *cekek mitmit*

  2. INJEK RUMI!
    TUSUK!
    MUTILASI!
    BAKAR!
    LEMPAR KE SUMUR!
    AKU BENCI RUMI DI PART INI!!!
    /DEKEP JINKI

    Mitmit, kalo sampe part depan si rumi masih nyebelin, aku gak mauuuuuuu >o<
    gak mau baca part sedihnya jinki..
    ff ini mah yg jahat bukan jinki, tapi rumi!
    kekeke~~

  3. Aaahhh~ rumi babo~ *tabok” rumi*😄
    Makin lama rumi makin nyebelin ><
    Kan kasian jinki T.T
    aku jd gregetan ama rumi!! *gigit rumi*

  4. RUMI….JAHAT!!!*pelototinRUMI*
    TEGA,EGOIS,KASIHAN dubu #pelukdubu

    mit onn, napa jadi kayak gini sih,u..u.??
    tega ya buat dubu menderita..

  5. *LEMPAR GRANAT KE RUMI*
    hueeee…. jinki terluka, hatinya hancur berkeping2 tuh… rumi jahat ih… ndak suka saya… emosinya dapet banget.. hueeee… jinki.. cup.. cup..

    key.. key.. gemes gue sama key.. ckck..

  6. Aku nyasar lo maknya bsa nemu ff ini *gak ada yg nanya
    eniwe… Si rumi otaknya lagi tukeran ma udang ye kynya? Parah gila.. Tega bner sama onew…
    sebel akut sama rumi -_- *popo onew
    uda onew sm chae kyeong aja, tggalin si rumi *readerautis
    part slnjutnya dooonk..🙂

  7. karakter’y dpet bget…suka*
    typ lyt acr’y shinee jd kpkiran trs crt in..
    jgn2 slese manggung onew bnran nangs…hikss
    aplgi wktu onew pingsan..
    sumpah! kren bngt ounni.

  8. GILAA….. chap ini aku ikutan mewek masa😥 Rumi nya egois, coba dia mau dengerin saran Key atau Minho, mungkin dia gk akan kehilangan Onew

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s