SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part II]


CHAERI dan Seera mengenyakkan diri di sofa. Kecewa karena dvd yang dibawa Myu Ra bukanlah yang mereka harapkan. Sedangkan yang lainnya memanjakan diri melihat puluhan pria tampan. Dvd itu merupakan kumpulan perform para artis K-pop yang ditujukan kepada para pegawai baru untuk menghapalnya.

“Jadi kau satu sekolah dengan anak itu?” tanya Chaeri dan Hyeon mengangguk, “Ah, kyeopta.”

“Dia member SHINee,” celetuk Myu Ra, “Dia magnae… Oh, wow! Itu kan yang tadi pagi bertemu denganku di dekat lift. Jadi dia artis juga? Pantas berbeda…”

Yang lain menoleh memandang Myu Ra lalu ke TV. Ketika terdapat profil si artis, seluruh tulang mereka melemas.

“I…itu kan…,” ujar Ki Young terbata.

“Yang tadi…,” timpal Seera.

“JADI MEREKA ARTIS JUGA?!” pekik mereka semua.

“Yang tadi siapa?” Tanya Myu Ra bingung.

Seera yang tak percaya langsung berlari menuju pintu keluar. “Hyaa, kau mau kemana?” teriak yang lain.

“Melihat dengan mata kepala sendiri!” teriak Seera dan memakai sandalnya lalu membuka pintu dan…BRAK!!! Seseorang dari luar menendang pintu tersebut hingga berhasil membuat Seera terpelanting. Semua orang yang ada di ruang tengah segera berlari berhamburan menuju asal suara.

Si pelaku penendang pintu itu menatap tajam wajah mereka satu per satu dengan ekspresi campur aduk. “KENAPA TAK SEORANG PUN DARI KALIAN YANG MEMBERITAHUKU APARTEMENTNYA DI SINI?!”

“Omomomo~,” Myu Ra berjalan menghampiri dan memeluknya, “Ini dia yang kulupakan. Mianhae, Chaesa-ah, cheongmal mianhae. Kami benar-benar lupa karena kemarin sibuk merapihkan barang-barang. Ayo, masuk!”

’Kulupakan’, Eon? Aigoo, teganya!” rengek Chaesa seraya masuk ke dalam dan membanting pintu.

Myu Ra menuntun Chaesa masuk yang diiringi para Babo lainnya.

“HYAAA! LIHAT HIDUNGKU!” teriak Seera tiba-tiba yang merasa dicuekkan. Lagi-lagi hidungnya bocor merembes keluar darah. “Sakiiit~”

Dengan gesit Jin Rin segera memapah Seera masuk ke kamar dan mengobatinya di sana.

“Kena? Oh, mianhae…,” sahut Chaesa dingin.

“Mianhae, mianhae… Ganti hidungku! Myu Ra-eonni, aku mau oplas…oplas…op…”

BRAK! Myu Ra membanting pintu kamarnya agar suara rengekkan Seera tak terdengar lagi lalu kembali terenyak di sofa. Hyeon dan Ki Young sibuk berkutat di dapur membuat camilan, sementara Chaesa berbaur dengan yang lainnya menonton dvd.

“Kalian suka mereka?”

“Super Junior? Tidak, atau mungkin belum. Entahlah…rasanya aneh ngefans sama tetangga,” jawab Chaeri.

“Cih, tetangga… Ngaku-ngaku!”

“KITA MEMANG BERTETANGGA DENGAN MEREKA!!!” teriak Chaeri dan Sangmi bersamaan.              “MWO?!” Chaesa balas berteriak, “JADI PARA SUNBAE JUGA TINGGAL DI SINI?!”

Mereka semua yang ada di sana mengangguk bangga.

Hyeon dan Ki Young muncul dari dapur dengan dua gelas minuman dan berbagai camilan. “Chaesa-eonni, mana ahjusshi yang tadi? Bukankah kau kemari diantar seseorang?” tanya Hyeon.

“Ahjusshi?” Chaesa malah balik bertanya dan mengingat-ingat, “OMO, KYAAA OPPA!” Ia berlari menuju pintu, mencari sosok yang dibicarakan Hyeon. Di luar sana, di samping pintu, nampak Siwon tengah berdiri. Wajahnya terlihat sangat letih. Chaesa segera memapahnya masuk ke dalam dan berkali-kali meminta maaf. Sesampainya di dalam, Siwon direbahkan ke sofa.

“Oppa, mianhae. Aku lupa,” Chaesa melepaskan jaket Siwon dan memberikannya minuman. Para Babo mulai saling berbisik. Bergosip!

“Aigoo, pantas setahun lebih tak pulang kampung. Ternyata sudah ada yang baru. Mudah sekali dia melupakan Jaejong-sshi,” celetuk Sangmi, “Apa yang dia miliki sampai kau berhasil melupakan Jaejong? Fisik? Atau uangkah?”

“Eonni!” teriak Chaesa tersinggung, “Dia hanya membantuku mencari kalian. Dia sunbaeku, member Super Junior. Namanya Choi Siwon…”

“MWO?!” pekik mereka termasuk Sangmi. Lantas dibesarkannya volume TV dan berteriak gila saat wajah Siwon muncul. Bahkan Seera keluar kamar dan berlari dengan gulungan kasa yang masih bertengger mencocok hidungnya.

Siwon berdiri untuk memperkenalkan diri, “Annyeong haseyo, Choi Siwon imnida. Bangapseumnida…”

Tak ada yang menoleh.

“Annyeong haseyo,” sapanya lagi, “Yeoreobun, annyeong haseyo…”

Tak ada yang menyahut. Mereka semua masih sibuk melihat Siwon melalui TV, sedangkan wujud nyatanya dicuekkan.

“Oppa,” panggil Chaesa dengan pandangan nanar karena kasihan.

“Aku pulang saja. Sepertinya mereka sedang tak ingin diganggu. Mau pulang bersama?”

“Pulang? Ini rumahku,” sahut Chaesa tertawa. “Aku ingin tinggal di sini. Aku sudah membicarakannya kemarin dengan Kyeon dan Seungho.”

“Baiklah. Aku pulang dulu,” Siwon membuka mulutnya hendak pamit pada mereka semua namun Chaesa segera mendorongnya keluar.

“Jangan pedulikan mereka! Karena tetap takkan ada yang menyahutmu. Oppa hati-hati! Sampai jumpa besok.”

Siwon mengangguk dan tersenyum, lantas melambaikan tangannya. Tak lama kemudian, ia menghilang ke dalam lift. Chaesa kembali masuk ke dalam. Para Babo bersorak riang ketika dvd yang mereka lihat sudah selesai.

“Ternyata kita bertetangga dengan idola Asia. Ah, sudah mencicipi masakan Ryeowook-sshi pula. Beruntungnya kita… Oh iya, Siwon-sshi…,” panggil Seera seraya berbalik, namun tak menemukan siapapun di sofa.

“DI MANA DIA???”

“Pulang,” sahut Chaesa.

“Kau tak pulang?”

“MWO?!”

+++++++

Keesokan harinya…

CHAERI menaiki sepeda tuanya dan mulai menggenjotnya keluar kawasan apartement. Ia terus menerus memegangi helm-nya yang di mana ikatannya sudah melonggar. Pagi ini ia akan pergi ke rumah salah satu haksaengnya untuk mengajar. Dengan sangat terpaksa ia harus rela waktu santainya di hari minggu dipakai untuk bekerja. Biaya sewa apartement tidaklah murah. Walaupun gaji Myu Ra dan Sangmi jika digabungkan cukup untuk membayar sewanya per bulan, tetap saja harus ada biaya tambahan untuk makan sehari-hari. Sedangkan untuk biaya sekolah Ki Young, Hyeon, dan biaya kuliah Jin Rin juga Seera, ditanggung seluruhnya oleh Chaesa.

Wajahnya semakin segar dan kantuknya pun hilang ketika angin segar musim semi menerpa wajahnya. Dengan satu tangan memegang kemudi dan tangan lainnya memegangi helm, ia bersiul riang. Ketika berbelok di tikungan, ia sempat melihat kerumunan anak-anak perempuan yang menjerit histeris. Chaeri menghentikan laju sepeda dan memarkirkannya ke salah satu benteng rumah lantas berjalan mendekat ke arah kerumunan tersebut karena penasaran.

Ia membelalakkan mata ketika dilihatnya seorang nona muda tengah dipeluk-peluk bahkan dicium oleh anak-anak perempuan tersebut. Penampilannya sudah sangat kacau, ditambah pakaiannya di bagian bahu telah robek. Rambut panjangnya pun sudah sangat kusut dan berantakan. Gadis itu memohon meminta dilepaskan dan terus-menerus mengatakan bahwa mereka salah orang. Chaeri tak dapat melihat wajahnya karena gadis itu sengaja menutupinya dengan topi.

Karena tak tahan melihat pemandangan itu, Chaeri mengambil ancang-ancang lantas menarik gadis itu dan menyuruhnya menaiki sepeda. Ia menggenjot kencang dan panik karena anak-anak perempuan tadi mengejarnya di belakang.

Setelah dirasa cukup jauh dan berhasil tak ada yang mengikuti lagi, Chaeri menghentikan sepedanya di depan sebuah minimarket. Ia masuk ke dalam dan membeli sebotol air mineral serta plester. Ketika keluar, ia melihat gadis itu berjongkok di trotoar masih menutupi wajahnya dengan topi.

Chaeri menarik lengan gadis itu dan menyuruhnya naik ke sepeda lagi. Ia kembali menggenjot sepedanya dan berhenti di sebuah lapangan kecil kosong yang berada di tengah-tengah pemukiman penduduk. Ia turun dari sepeda dan menuntun gadis itu untuk duduk di bawah pohon rindang.

“Ini minum dulu. Kau pasti masih syok,” ujarnya sembari menyerahkan air mineral.

Tak ada sahutan, kecuali hanya isyarat anggukan.

“Boleh kutahu namamu siapa?”

Gadis itu menurunkan topi dari wajahnya. Kini Chaeri dengan sangat jelas dapat melihatnya. Cantik! Amat sangat cantik. Kulitnya bersih seputih susu, hidungnya mancung, dan bibirnya merah mengkilat. Sangat indah, wajahnya luar biasa indah.

“Mmm… Kim Sulca imnida,” sahutnya lirih dan lembut.

“Kim Sulca?” ulang Chaeri, “Namamu aneh! Oh tidak, maksudku unik.” Sulca mengangguk dan tersenyum, “Kenapa kau bisa dikeroyok mereka?”

Sulca terlihat berpikir sejenak, “Salah orang.”

“Hah, bodoh sekali mereka. Baiklah…,” Chaeri menengadahkan tangannya, “…berikan lengan kirimu!”

Sulca menurut dan memberikan lengannya. Chaeri meraih lengan tersebut lantas menempeli luka cakaran yang ada di sana dengan plester. Kemudian dirapikannya rambut Sulca dengan sisiran jari. Pakaian Sulca pun ia bersihkan dari kotoran tanah.

“Sudah beres. Aku harus mengajar. Maaf tak bisa mengantarmu. Semoga kita dapat bertemu lagi lain waktu. Aku pergi, sampai jumpa,” pamit Chaeri seraya berlari menuju sepedanya.

“Jamkkaman-yo, siapa namamu?”

“Park Chaeri imnida. Sulca-ah, annyeong,” teriaknya riang seraya melambaikan tangan dan mengendarai sepeda lantas menghilang dari pandangan.

+++++++

HARI ini Ki Young dan Hyeon merengek minta ikut diboyong ke gedung SBS. Karena hari ini Myu Ra tetap bekerja dan mereka ingin menikmati hari bebas. Beberapa ruangan telah mereka masuki, tetapi belum menemukan artis yang mereka damba. Dari tadi yang mereka lihat hanya Kang Hodong yang mondar-mandir keluar masuk studio.

“Ah, kenapa ahjusshi itu lagi?” keluh Ki Young kecewa.

“Omo,” pekik Hyeon, “Taemin-sshi?!”

Taemin yang kebetulan sedang keluar studio untuk meregangkan ototnya, dikejutkan oleh pekikkan Hyeon. Ia menoleh lantas tersenyum lalu membungkuk, “Annyeong haseyo, Lee Soo Hyeon. Ban…”

“Taemin-ah, cepat masuk! Filming mulai lagi,” teriak seseorang dari dalam.

“Iye,” teriak Taemin. Ia melirik Hyeon lantas melambaikan tangannya dan masuk ke dalam.

Hyeon tak bergerak sama sekali. Ia mematung dengan mulut sedikit terbuka. Tangannya dingin, berbanding terbalik dengan wajahnya yang memanas. Ki Young berkali-kali memanggil namanya, namun tetap saja tak disahut. Hyeon mengedipkan matanya sekali lantas berjalan kikuk menuju tangga tanpa sadar.

“Hyeon-ah, awas!” teriak Ki Young seraya menarik baju Hyeon.

BRUK! Mereka berdua terjatuh.

+++++++

SEERA menekan-nekan hidungnya gemas dan sesekali mengukurnya dengan sebuah penggaris. Berkali-kali ia lakukan dan hasilnya tetap tak memuaskan. Bablas ke dalam!

“Oh, Tuhan. Ini tidak adil. Di Sarababo hanya aku yang memiliki hidung seperti ini,” ratapnya.

“Babo! Bersyukurlah sedikit,” seru Sangmi, “Masih untung kau tak buruk rupa.”

Seera menolehkan wajahnya dan tersenyum riang, “Eonni, itu artinya aku cantik walau hidungku menyedihkan. Iya, kan?”

“Mwo?! Cih, lama-lama aku bisa gila tinggal di sini…”

“Cepatlah menikah kalau begitu! Jangan perlakukan lelaki seperti pembantu! Terkadang kau suka keterlaluan. Para pria melamar dan semuanya kau tolak. Ahh, lebih baik berikan padaku sebuah.”

“Ambillah! Paling-paling mereka yang kabur duluan setelah melihat sesuatu yang amblas di wajahmu,” sahut Sangmi cuek dan dengan santai meninggalkan kamar.

PRANG!

Seera melemparkan vas bunga ke pintu yang telah menutup. “SHIM CHAESA! INI ULAHMU!”

“Aku?” sahut Chaesa tiba-tiba muncul dari balik pintu, “Wae?”

Seera menunjuk hidungnya.

“Ada apa dengan hidungmu? Masih seperti dulu. Baik-baik saja,” Chaesa masuk ke dalam, lantas mendaratkan ujung telunjuknya ke hidung Seera lalu ke hidungnya, “Omo, parah sekali milikmu! Sudah ya, aku mau mandi. Hari ini jadwalku tak terlalu padat. Ah menyenangkan bisa liburan sebentar…”

Seera mengepalkan tangannya. Tubuhnya bergetar penuh amarah, “HYAAA, SHIM CHAESA!!!”

BUG!!!

Sebungkus besar bermacam-macam kapsul mendarat mulus di wajah Seera dari balik pintu. “Kim Seera, aku sedang belajar!”

Seera melemparkan plastik itu ke kasur, “JUNG JIN RIN!!!”

TUK!!!

“Teriakanmu membuat printerku bermasalah,” teriak seseorang dari balik pintu sambil melemparkan kotak kosong bekas tinta dan lagi-lagi mengenai wajah Seera.

“BUKAN SALAHKU, SHIN SOORAN!!!”

+++++++

“Hyung, dari mana saja? Aigoo, lagi-lagi kau berpakaian seperti itu!” protes Donghae.

“Aku tak butuh pendapatmu. Di mana Teuki-hyung?”

“Filming Starking. Tadi dia menelepon, menanyakan apakah kami sudah bersiap atau belum. Kubilang hanya kau yang belum. Hyung cepatlah ganti pakaianmu! Aku geli melihatnya. Ide penyamaranmu ini gila!”

“Bawel!” Heechul masuk ke dalam kamarnya. Ia menanggalkan pakaiannya dan rambut palsu yang ia kenakan. Kemudian menghapus seluruh make up dari wajahnya.

Ketika berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian, ia melihat sesuatu di bawah melalui jendela. Sedikit terperanjat ketika ia mengenali seseorang yang sedang asyik menggenjot sepeda. Walaupun ini lantai dua belas, dengan sangat mudah ia bisa mengenalinya.

“Kenapa dia bisa ada di sini?” Ia mundur menjauh dari jendela dan mengenakan pakaiannya. Kemudian mengambil sebuah sisir dan berkaca. Ia pandangi kaca tersebut lantas meraba wajahnya. “Kim Sulca… Bukan nama yang buruk ‘kan?”


..to be continued..

#PENTING!!!

Seera a.k.a Rara sebenernya kagak pesek. FF ini 99% fiksi… Buat Rara, jangan meledak ye seudah baca. Haha…

2 thoughts on “SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part II]

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s