SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part III]


AUTHOR: DIYAWONNIE.MINHO

HYEON meringis kesakitan ketika luka di bagian lututnya tengah diobati oleh seorang ahjusshi yang merupakan salah seorang staf syuting hari itu. Sedangkan Ki Young tak henti-hentinya memaki “babo” pada dongsaengnya itu. Hal ini membuat Hyeon terisak. Dalam keadaan sakit pun bisa-bisanya Ki Young berbuat seperti itu.
“Hentikan, jangan katakan lagi! Eonni tak lihat lututku terluka?”

“Hyaa, aku juga terluka. Lihat nih…,” sahut Ki Young sembari memperlihatkan sikutnya, “…aigoo, lagipula hanya melihat cowok seperti itu saja efeknya sudah seperti ini.”

Hyeon menutupi wajahnya dan menangis. Beberapa orang berlarian mendekati mereka, salah satunya adalah Myu Ra, ia diikuti oleh beberapa pria di belakangnya. Ekspresinya jelas sangat panik. Ketika telah sampai di hadapan mereka, ia mengatur napasnya.

“Gwaenchana?” tanyanya, “Ceritakan padaku. Seluruhnya!”

Ki Young mengangguk lantas menceritakan kronologi kejadiannya, sedangkan Hyeon masih betah  menundukkan wajahnya menyembunyikan rasa malu. Lalu seorang anak lelaki menyeruak di antara kerumunan dan maju ke depan.

“Penyebabnya aku? Oh, jwaesong hamnida,” ucapnya seraya membungkuk.

“Huuuu,” isak Hyeon malu menutupi wajahnya dan memaksakan berdiri untuk pergi dari sana. “Eonni, aku pulang.”

“Ka-kau masih terluka, Lee Soo Hyeon-sshi,” panggil Taemin dan ini membuat Hyeon sedikit melayang.

“Myu Ra-eonni,” rengek Hyeon, “Oh ani, ani, ani… Ki Young-eonni, ayo kita pulang!”

Ki Young mengacak rambutnya geli, “Baiklah. Myu Ra-eonni, kami pulang duluan. Tak biasanya tuan putri Hyeon salah tingkah seperti ini. Sampai jumpa semuanya.”

Myu Ra tersenyum geli dan berbalik untuk kembali bekerja. “Taemin-ah, itu dongsaengku yang kau tanyakan kemarin-kemarin itu? Sepertinya kau tak bertepuk sebelah tangan. Hwaiting!”

Sekonyong-konyong wajah Taemin memerah. Ditambah lagi Jonghyun dan Key menggodanya habis-habisan. “Jadi, bayi kita ini mulai menggoda seorang yeoja? Omo, wajahnya memerah. Berarti itu benar,” ejek Key dan saling menepukkan tangannya dengan Jonghyun.

“Hyung!” protes Taemin sembari menggembungkan pipinya salah tingkah. Sedangkan Onew terlihat sedang berpikir keras.

“Noona, kalau kalian Sarababo, berarti kenal Shim Chaesa dong?”

Myu Ra memutar bola matanya jengkel, “Jinki-ah, kau juara umum kedua di sekolahmu itu benar atau rekayasa SM? Aigoo, dasar dubu payah.”

“MWO?!”

+++++++

BEBERAPA buah koper Chaesa bariskan di depan pintu sebuah dorm. Wajahnya terlihat sangat kesal. Ia menekan interphone dan berteriak, “BUKA, CEPAT BUKA!”

Tak berapa lama, pintu terbuka. “Eonni?” pekik Kyeon Neul.

Suara derap kaki dari dalam terdengar sangat keras, “Aaah, Noona!”

Chaesa tak mempedulikan mereka, ia segera masuk ke dalam. “Kyeon-ah, Seungho-ah, bawa koperku ke dalam!” Mereka berdua menurut. Ditariknya masuk seluruh koper ke dalam dorm. Setelah sampai di ruang tengah, Chaesa menghenyakkan diri di sofa. “Aigoo, nenek lampir itu mengusirku hanya karena aku mengatakan kebenaran.”

Kyeon dan Seungho saling lirik. “Maksudmu… Kim Seera-noona?”

“Siapa lagi?!” bentak Chaesa.

Kyeon sedikit ketakutan, ia lebih memilih pergi ke pantry dan membuatkan minuman. Sedangkan Seungho berjalan menghampiri Chaesa dan duduk di sofa yang sama, ia berusaha menurunkan emosi leadernya itu dengan memijat kakinya.

“Kan bukan aku saja yang mengatakan kalau hidungnya amblas. Hampir semua Sarbob mengatakan seperti itu. Tapi kenapa hanya aku yang diperlakukan seperti ini? Aisshhh… Aku kehilangan rumahku.”

“Eonni, dorm ini juga rumahmu,” Kyeon melongokkan kepalanya dari balik pantry.

“Ara…” Chaesa membalikkan tubuhnya dengan posisi wajah tertanam ke dalam sofa.

“Noona, bangunlah! Kau akan susah bernapas jika seperti itu.”

“Kau diam saja!”

Karena kesal, Seungho menghentikan kegiatan memijatnya. Ia bangkit dari sofa dan pergi menuju lemari untuk mengambil sesuatu. “Noona, kemarin yeobo-mu kemari. Ia mencarimu…”

“Ne?!” Chaesa refleks bangun dengan napas tersengal-sengal, “Aish sial, posisi tidur tadi hampir membunuhku.”

Seungho memutar bola matanya jengkel, lalu melirik Chaesa denga tatapan ‘Apa kubilang!’  Ia menyerahkan sebuah kartu undangan. Dengan sangat membabi buta, Chaesa membukanya. Seungho memperhatikannya miris melihat seorang artis terkenal berkelakuan buruk seperti itu. Terlebih lagi gadis itu adalah leadernya.

Mata Chaesa membesar ketika melihat kapan waktu pernikahan akan berlangsung. Ia berbalik menuju sofa dan meraih tasnya lalu merogoh mencari ponsel.

“Yoboseyo? Yeobooo,” teriak Chaesa.

“Hyaaa, kecilkan suaramu! Aku sedang dikelilingi wartawan,” protes Jaejoong berbisik.

“Oh, mianhaeyo. Yeobo, aku baru melihat undangannya. Aku tak kenal siapa yang menikah, kenapa kau memberikannya padaku?”

“Oh, ya… Kemarin aku tak tahu kau sudah pindah. Jadi kuantarkan saja ke sana. Mmm…kau mau kan pergi bersamaku?”

Tangan Chaesa bergetar, “Ne?! Ah Omo… Yeobo, kau serius?”

“Ne…”

“Mau, tentu saja aku mau. Kapan kau akan menjemputku?”

“Tak akan. Aku takkan sempat menjemputmu. Sekarang aku masih di acara peluncuran handphone yang kubintangi. Kau pergi sendiri. Kita bertemu di parkiran. Kau harus masuk bersamaku!”

“Baiklah, aku siap-siap dulu. Yeobo, sampai jumpa!”

“Hyaaa, di acara nanti kau diharamkan memanggilku seperti itu. Arasseo?!”

“Ne,” sahut Chaesa riang dan menutup teleponnya. “Aku akan kencan dengan suamiku,” ujarnya gemas sembari mencubit kedua pipi Seungho.

“Itu bukan kencan, Noona!”

Chaesa tak mempedulikannya. Dengan riang ia berlari menuju kamarnya untuk segera mengganti pakaian. Sedangkan Seungho membereskan ruang tengah dengan menyingkirkan koper-koper ke depan pintu kamar Chaesa.

“Kyeon Neul-noona, kau di mana?” panggil Seungho karena tak terdengar suara sama sekali dari arah pantry. Ia berjalan menghampirinya, “Aigoo, kenapa nasibku sial sekali tergabung dalam grup band bersama kalian? Hey, Noona, bangun! Kenapa kau tak bisa menghilangkan kebiasaan ‘tidur di mana saja’ mu itu?”

+++++++

SUNGMIN berguling-guling jengkel di sofa. Handuknya melingkar di leher, ia menggenggam sebuah sikat gigi. Sesekali berteriak, mengeluh, menggeram, dan menyumpahi seseorang yang masih berlama-lama di dalam kamar mandi.

“Aku benar-benar ingin buang air. Hyukjae-ah, cepat keluar! Kau sudah lebih dari satu jam berada di dalam!” teriaknya seraya menyilangkan kakinya menahan kencing.

Yesung keluar dari kamar menenteng dua ekor kura-kura peliharaannya. “Dia masih di dalam? Ah, jika kita terlambat, ini semua salahnya. Kenapa tidak pakai kamar mandi sebelah kamarmu?”

“Ah hyung, ma…sih rusak air…nya ma…cet…”

“Kenapa kau?”

“Aku ing…in buang air ke…cil, Hyung. HYAAA HYUK…JAE-AH!!!” Sungmin bangkit dari sofa, masih menyilangkan kakinya. Tangan kirinya kini sudah beralih memegangi ‘sesuatu’. “HYUKJAE, HYUKJAE, HYUKJAE. PALLI!!!”

Yesung kembali ke kamar dan menaruh peliharaannya itu ke dalam kotak kaca. Lantas ia mengambil sebuah burble paling ringan dan memberikannya pada Sungmin. “Menurut mitos, jika kau memegang benda, rasa ingin buang airnya teralihkan.”

“Hyung, ini bukan waktu bercanda!”

“Hyaa, aku serius ingin membantumu. Hyukjae takkan keluar kamar mandi sebelum dua jam bersemedi menikmati yadong. Kau seperti tidak tahu dia saja.”

“Ah, aku jalan-jalan saja,” sahut Sungmin dengan napas tersengal-sengal. Ia berjalan dengan susah payah menuju pintu keluar. Saat pintu terbuka, tepat Ki Young dan Hyeon berjalan melewatinya. “Hey kalian…”

Mereka berdua menoleh dan serentak kedua mata mereka membesar. “Sungmin-oppa?!”

Sungmin mengangguk, “Boleh kupinjam toilet kalian? Demi kelangsungan hidupku di masa depan. Kumohon tolonglah aku!”

Bukannya menjawab, mereka berdua malah melongo menikmati wajah sepet Sungmin.

“Hey, kalian berdua. Kalian ingin melihatku mati konyol seperti ini, ya? Ada bagian tubuhku yang ingin meledak. Ayolah bantu aku, kumohon!”

“Ne,” sahut Ki Young tersadar dari lamunannya. Ia segera menyentuhkan telunjuknya ke fingerlock dan pintu pun terbuka. Ia melihat keadaan kacau Sungmin dengan handuk yang masih melingkar di leher dan sikat gigi yang kini sudah menjadi tusuk konde di poninya, “Oppa, kalau mau sekalian mandi, pakai saja kamar mandi yang…”

“Arasseo…,” sahut Sungmin segera berlari ke dalam.

“Aigoo… Baru kali ini aku melihat idola berkelakuan seperti itu.”

“Eonni,” panggil Hyeon, “Apa maksudnya ‘ada bagian tubuhku yang ingin meledak’? Apanya yang ingin meledak? Aku tak melihat bom terpasang di tubuhnya.”

Ki Young melirik gemas dongsaengnya itu, “Kau… Sudah kelas dua SMA tapi pikiranmu lebih cocok berada di SD! Jangan tanya hal seperti itu lagi. Dan yang terpenting, jangan dengarkan apa yang oppadeul Super Junior katakan! Itu bisa membuatmu jadi sinting. Arasseo?”

Hyeon mengangguk patuh, “Ne, arasseoyo.”

+++++++

“Seera, hentikan! Troli kita sudah penuh,” seru Sangmi ketika dilihatnya Seera terus-terusan memasukkan beberapa snack ke dalam troli belanjaan mereka. Seera menoleh sebentar lalu melenggang santai ke arah pintu masuk. “Hyaa, mau kemana kau?”

“Trolinya sudah penuh kan? Aku akan mengambil satu lagi kalau begitu,” sahutnya enteng.

Sangmi mengertakan giginya kesal, “Uang! Kita juga perlu memikirkan uang!”

“Oh, bokek…,” sahutnya dingin dan kembali ke tempat semula. Masih memandang pedih ke arah rak-rak snack.

Sangmi pura-pura tak melihatnya. Ia tahu kalau itu salah satu taktik Seera untuk minta dikasihani. Ia membelokkan trolinya, namun seseorang juga membelokkan ke arah yang sama sehingga troli mereka menabrak.

“Kau buta?!” teriak Sangmi.

“Jwaesong hamnida,” ujar pria itu tak henti-hentinya membungkuk. “Aku tak sengaja, benar-benar minta maaf.”

“Cih, kalau kau tak becus membawa troli, lebih baik serahkan pada temanmu itu!” seru Sangmi kasar.

“Eonni,” protes Sooran sembari berusaha menggerakkan trolinya ke arah lain, namun Sangmi memegangnya lebih kuat. Terjadilah insiden tarik-menarik troli. Kali ini Sangmi menariknya lebih kuat hingga membuat Sooran yang lemah terjungkal ke arah troli pria itu. Beruntung salah seorang pria lainnya menahan Sooran sebelum perutnya terbentur troli.

“Kau tak apa-apa?” tanya pria itu.

Sooran terkejut melihat siapa yang menolongnya, “Kyuhyun-sshi?”

“Ne?!” sahut Sangmi dan Jin Rin tak percaya.

Kyuhyun menurunkan topinya hingga hampir menutupi mata, “Kau masih bisa mengenaliku?”

“Ne. Dan kau… Ryeowook-oppa?”

Ryeowook menurunkan maskernya sejenak untuk tersenyum dan memasangnya kembali. Ia memandang Sangmi ngeri, “Tadi benar-benar maaf. Kacamata hitam ini kurang nyaman bagiku. Sehingga penglihatanku kurang bagus.”

Sangmi mendelik. Sejujurnya ia kurang suka dengan pria yang terlihat lemah seperti Ryeowook. Ia berjalan menuju kasir, tak menanggapi apa yang Ryeowook ucapkan dan meninggalkan Sooran yang masih terpukau dengan penyelamatnya.

“Hyung, Yesung-hyung sudah mengirimiku sms. Kalau tak cepat-cepat, kita bisa terlambat,” ujar Kyuhyun.

“Iya, aku ke kasir dulu.”

“Sooran-sshi, benar tak ada yang terluka?” tanya Kyuhyun.

“Ne. Aku tak apa-apa. Kenapa kalian di sini? Kemana yang lain?”

“Sebenarnya hari ini adalah bagian tugasnya Yesung-hyung untuk belanja keperluan sehari-hari. Tadi Sungmin-hyung merengek kelaparan dan rasanya bisa seabad jika harus menunggu Yesung-hyung catokan rambut walaupun hanya untuk keluar belanja sebentar. Asal kau tahu, Sungmin-hyung tipe orang yang tak sabaran. Ingin segalanya siap saji di depan mata.”

“Oh. Kalian…sangat aneh!” Sooran melirik Kyuhyun yang ada di sebelahnya yang tengah tersenyum hangat, “Bolehkah aku memanggilmu…oppa?”

Secepat kilat Kyuhyun menolehkan wajahnya ke arah Sooran. “Ne? Ah, jadi kau lebih muda dariku, ya? Mmm, baiklah. Terserahmu saja…”

“Kita lahir di tahun yang sama. Hanya saja kau lahir beberapa bulan lebih dulu dariku. Kamsahamnida, Kyuhyun-oppa,” ucap Sooran sembari tersenyum lebar, “Kyuhyun-oppa, Kyuhyun-oppa…”

“Sudah, jangan disebut terus! Nanti penyamaranku ini sia-sia.” Dari arah pintu luar Ryeowook melambaikan tangannya memanggil Kyuhyun, “Aku harus pergi. Setelah ini masih ada jadwal lain. Sampai jumpa, Sooran-ah.”

“Oppa, bawa ini!” pintanya menyerahkan sesuatu.

“Apa itu?”

“Bekal makan yang kubuat. Kupikir jika harus memasak dulu, Sungmin-oppa akan semakin marah karena kelaparan. Jadi, ini untuk kalian…”

“Kau yang buat?”

Sooran mengangguk, “Bawa saja!”

“Ah, gomawo, Sooran-ah,” Kyuhyun mengambil tumpukan kotak bekal yang dibungkus kain serbet dari tangan Sooran, “Sooran-ah, annyeong.”

“Ne, hati-hati!”

+++++++

“Lama sekali!” protes Sungmin seraya menggosok-gosokkan rambutnya yang basah dengan handuk, “Beli di Jepang, hah? Wookie-ah, ayo cepat masak! Sepuluh menit lagi kita berangkat.”

Kyuhyun menaruh kotak bekalnya di atas meja makan, “Tak usah, ada ini kok. Tadi tetangga kita yang bernama Shin Sooran memberikan ini padaku.”

Eunhyuk keluar dari kamar mandi menenteng notebook-nya. Wajahnya berbinar sekali, terlihat sangat segar. Ryeowook yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala. Sedangkan Sungmin langsung melemparkan handuknya dan mendarat tepat di wajah Eunhyuk.

“Hyaaa, kampret! Lain kali jika ingin menuangkan hasrat mesummu itu, jangan di saat genting seperti ini!”

“Kenapa aku dimarahi? Kan sudah biasa seperti ini. Lagian kamar mandi tak hanya satu.”

“Yang satunya rusak. Babo! Babo! Babo!” teriak Sungmin memekakkan telinga.

“Sungmin-ah, hentikan!” perintah Yesung dengan wajah serius, “Eunhyukkie… Sudah kau siram dengan bersih kamar mandinya? Aku tak suka ada ‘bau-bau aneh’ karenamu.”

GUBRAK!!!

..to be continued..

#Bau-bau aneh di dialog terakhir. Tolong jangan tanya itu apa. Wakakakakkaka~

2 thoughts on “SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part III]

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s