Married Idol (chapter 11)


Author : Onmithee

Main Cast  : Kim Rumi, All Shinee member

Support Cast : Jang Kyungho, Han Chae Kyeong

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG-15

STORY

Aku berbaring dalam pelukan Jinki saat ini. Kami tak melakukan hal lain memang, hanya berpelukan dan sedikit ciuman. Seperti ini saja sudah membuatku sangat bahagia. Seperti mimpi rasanya.

Tak menyangka kalau kami bisa kembali bersama lagi. Padahal sebelumnya aku selalu berkata walau aku begitu mencintainya tapi aku tak mau hidup bersamanya lagi, karena profesinya tentu saja. Karena aku tak mau hubungan kami disembunyikan lagi.

Tapi nyatanya!

Aku melupakan hal itu, aku sudah tak peduli walau dia menyembunyikan diriku, walau kami harus menikah diam-diam lagi. Aku tak peduli!

Yang aku pikirkan saat ini hanya, betapa aku mendapatkan kebahagiaan yang tak bisa dibayar dengan pengakuan hubungan kami. Bahwa dia berada disisiku, mencintaiku. Hanya itu.

Hanya dia yang ku inginkan. Aku tak akan mementingkan ego ku lagi asalkan dia bersamaku.

Jinki semakin mengeratkan pelukannya, aku bisa merasakan dia menciumi rambutku. Ah~ rasanya sudah lama sejak terakhir kali kami berada diposisi ini. Terakhir kali kami berhubungan suami istri seminggu sebelum aku keguguran, lebih dari 3 tahun yang lalu.

Hah.. jangan bilang kalau dia menginginkan ’itu’ sekarang…

Saat ini kami sudah bukan suami istri lagi, pelan-pelan aku melepaskan diri darinya. Tapi semakin aku berusaha melepaskan diri, dia semakin mengeratkan pelukannya.

Dan syukurlah, perutku yang kelaparan bernyanyi di saat yang tepat.

”Yaa.. yeobo, suara apa itu?” tanyanya menatapku heran sambil melepaskan pelukannya.

”Aku kelaparan Jinki,” sahutku, mendudukan diriku ditepi tempat tidur.

”Kalau begitu, aku pesankan makanan untukmu..” dia sudah siap untuk meraih gagang telpon kamar hotel yang berada tepat di meja samping tempat tidur.

”Aku tak mau makanan hotel! Jinki-ya.. kita cari makanan diluar yukk. Ayolah~ ” bujukku.

”Baiklah, aku akan pesan taksi dulu,” sahutnya, dia sepertinya enggan. Tapi tetap menurut. Dia lalu menelpon resepsionis untuk memesankan taksi, sementara dia menelpon aku bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian, aku masih menggunakan t-shirt Jinki saat ini. Mana mungkin kan kalau aku keluar masih menggunakan bajunya.

@@@@@@@@

”Jinki-ya, aku tak bisa makan makanan yang belum matang sempurna seperti itu,” kataku mengembalikan daging ikan tuna yang Jinki taruhkan di mangkuk ku ke atas pemanggangan.

Dia mengajakku makan di sebuah kedai hotpots di tepi pantai yang sangat sederhana. Selain kami, tamu yang ada hanya pria-pria paruh baya yang tampaknya berprofesi sebagai nelayan dan mereka dalam kondisi setengah mabuk. Tempat yang sangat pas untuk kencan diam-diam kami.

”Wae? Dulu kau suka makanan setengah matang?” tanyanya, mengambil daging ikan tadi  yang baru saja ku taruh dan memakannya.

”Sekarang aku hanya boleh makan makanan yang sudah matang sempurna. Termasuk sayuran juga. Kalau tidak, nanti sakitku kambuh lagi. Aku juga tak boleh minum alkohol…” kataku sambil menatap Jinki yang sedang menuangkan Shoju ke dalam gelasku.

”Oh,” cepat-cepat Jinki meneguk habis Shoju yang baru dituangkannya tadi. ”Mianhae… aku tak tau.” lanjutnya.

”Gwenchana..  kau kan memang tak menemaniku saat aku dalam proses terapi dan penyembuhan setelah aku keguguran dulu…”

Opss~ apa yang tadi ku katakan? Seharusnya aku tak berkata seperti itu karena sekarang kulihat Jinki menunduk, meletakkan sumpit diatas mangkuk dan mengakhiri makannya, dia terlihat tak nyaman.

”Mianhaeyo.. bukan maksudku menyindirmu..”kataku menyesal.

”Yeobo.. tak perlu minta maaf. Aku tau itu kesalahanku. Seharusnya aku memang berada disisimu saat kau mengalami masa-masa sulit. Tapi semuanya kau hadapai seorang diri…” katanya. Dia tak menatapku saat mengatakan itu.. dia menatap laut. Aku bisa mendengar suaranya yang bergetar. Dia pasti merasa bersalah sekali.

Lalu dia melanjutkan lagi, ”Apa rasanya sakit? Kau pasti berulang kali mengalami pemeriksaan.. aku bahkan tak tau berapa banyak obat yang harus kau makan dan berapa kali kau mengunjungi dokter. Aku memang tak berguna..”

Aku tak menjawabnya. Aku melanjutkan makanku dan dia memandangiku saat itu. Kami diam saja sampai makananku habis. Dan setelah itu, kami keluar dari kedai, lalu kami berjalan menyusuri pantai.

Tak ada yang bisa dilihat di pantai yang hanya disinari cahaya bulan sabit, cukup gelap dan sepi. Hanya terdengar desir ombak dan suara mobil yang melaju kencang di sisi pantai yang lain.

Setelah cukup lelah berjalan, aku lalu mendudukkan diriku di atas batu besar dan Jinki mengikutiku melakukan hal yang sama.

”Ini pertama kalinya kita melihat pantai berdua saja,” kataku menatap pantai dan ombak yang menggulung. Aku tak mendengar dia menjawabku, lalu ku alihkan pandanganku ke arahnya yang menunduk disampingku. Aku lalu menggenggam tangannya dan berkata, ”Kau kenapa? Dari tadi hanya diam saja..”

”Aku hanya tak tau harus berkata apa..” sahutnya masih tak menatapku.

Aku tersenyum dan semakin mendekatlan dudukku padanya, ”Kalau begitu, ceritakan padaku…. semua hal yang tak pernah kau ceritakan. Tentang perasaanmu saat kau menikah denganku… aku sangat ingin tau…”

”Ani, tak ada yang perlu kuceritakan..” balasnya, mengelak dari pandanganku.

”Kalau begitu.. aku saja yang mulai. Kuharap setelah mendengar ceritaku, kau mau menceritakan kisahmu…”

@@@@@@@@

”Semenjak aku lulus kuliah, eomma selalu mengajakku untuk bertemu pria-pria yang akan dijodohkan denganku, aku selalu menolak pada saat itu juga.. tetapi saat kita bertemu, entah kenapa aku tak bisa menolakmu. Bukan karena kau adalah idolaku, tapi.. entahlah, saat itu lidahku benar-benar kelu. Aku sama sekali tak bisa mengucapkan kata ’tidak’ saat itu.

”Saat kau mengucapkan janji suci itu pun, aku masih merasa tak percaya. Aku mengiranya hanya mimpi. Asal kau tau, dulu aku pernah bermimpi menikah dengan Minho tapi kemudian Taemin menggagalkan pernikahan kami, lalu aku dan dia kawin lari, ah~ sungguh bodoh dan kekanak-kanakan.”

Aku tertawa saat itu dan kulihat Jinki tersenyum.

”Apa saat itu kau juga berpikir agar Taemin menggagalkan pernikahan kita?” tanyanya.

”Aniya.. aku tak memikirkan itu. Tapi jujur saja, aku sempat ragu mengucapkan sumpah saat itu karena melihat dia ada disana…”

”Apa kau begitu menyukainya? Lebih dari rasa suka dari seorang fans?” tanya Jinki lagi.

”Entahlah… tapi perasaan suka ku padanya berbeda dengan perasaan suka ku pada mantan-mantan kekasihku dulu. Aku menyukai Taemin, tapi aku tak pernah berpikiran untuk menjadikannya milik ku seorang. Saat aku melihatnya menari di atas panggung, itu membuatku merasa melayang, membuatku tak bisa berhenti menatapnya.. mengaguminya. Aku ingin memeluknya, memberikan dukungan dan ingin dia bisa lebih bersinar… hanya itu yang kurasakan. Aku merasa tak sanggup jika menjadikan sinar itu milikku seorang, seperti itu juga yang kurasakan saat bersamamu. Kau terlalu luar biasa untukku.. dan aku bukan siapa-siapa…”

”Tapi pada dasarnya, setelah kami tak menyanyi.. tak menari dan kembali ke rumah. Kami bukan siapa-siapa Rumi. Aku juga hanya seorang Lee Jinki, aku juga melakukan hal-hal yang orang lain lakukan.”

Aku mengangguk. Aku paham maksudnya… dia hanya menekankan padaku kalau dia juga sepertiku. Pantas untuk merasakan cinta.

Lalu aku melanjutkan, ”Rasa kagumku padamu yang semula hanya rasa kagum dari seorang fans berubah menjadi perasaan cinta.. aku juga tak tau kapan itu terjadi. Yang jelas setelah kita menikah, aku sangat ingin kau selalu berada disisiku. Saat kau jarang pulang, aku berpikir kalau-kalau kau menghindari rumah karena ada aku disana. Terlebih setelah, Minho berkata kalau dia merasa kau tak bahagia setelah menikah denganku…”

”Mwo? Dia pernah mengatakan itu?” tanya Jinki. Dia terlihat makin tertarik dengan ceritaku.

”Ne..,” aku mengangguk, ”…karena itulah aku menanyakannya padamu. Aku mempercayai ucapanmu saat itu, kalau kau bahagia. Tapi, aku juga sadar Jinki. Apa yang dikatakan Minho benar dan semuanya terbukti dengan berjalannya waktu. Setelah aku tau hubunganmu dengan Chae Kyeong.”

”Rumi-ya..” Jinki menatapku, aku tau dia berusaha agar aku tak melanjutkan perkataanku tapi aku tak peduli.

”Dia memang hanya masa lalumu. Tapi keberadaannya disampingmu membuatku sesak… kau tau saat di appujeong, aku sangat iri padanya. Dia bisa dengan bebasnya berjalan disampingmu, bercanda denganmu. Sementara aku? Aku hanya bisa menatap iri.. aku juga menginginkan itu. bukan dia yang seharusnya berjalan disampingmu, tapi aku. Aku istrimu. Tapi rupanya itu hanya status, aku merasa lebih sakit lagi saat kau tak menghubungiku setelah kabar pernikahan kita mengemuka. Terlebih berita itu diluruskan dengan berita kencanmu dengan Chae Kyeong. Aku sangat benci!

”Kenapa harus dengan yeoja itu? walau Key berusaha menjelaskannya, tapi aku tetap merasa benci. Dan lebih benci lagi saat aku mendengar perkataannya, bahwa kau pernah melamarnya? Itu sungguhan kan?”

Aku melihat Jinki mengangguk. Lalu aku kembali berkata, ”Karena dia melanjutkan sekolahnya, itu alasan dia menolak menikah denganmu? Lalu kenapa kau tak menunggunya dan malah menikahiku. Jelas-jelas kau tak mencintaiku dan… yah, saat itu kau bohong. Kau bilang tak ada yeoja yang kau sukai…”

Aku sudah hampir menangis saat berkata, ”Jika kau jujur saat itu, kita tak akan menikah. Aku tak mungkin mengganggu kalian. Jujur kukatakan padamu Jinki-ya. Aku sempat depresi karena pernikahan kita. Saat kita bercerai, aku bahkan harus menemui psikiater seminggu 3 kali. Aku hampir gila.. selama setahun aku harus meminum obat penenang. Rasa depresi yang muncul karena kehilangan bayiku yang bertumpuk dengan perasaan dibohongi olehmu.. dan karena kau tak memilihku. Aku merasa kau tak pernah mencintaiku. Bahkan sampai sekarang aku merasa kalau cintaku padamu bertepuk sebelah tangan. Saat aku keguguran, aku merasa yang kau tangisi saat itu bukan aku.. tapi karena gagal memberimu anak yang sangat orang tuamu harapkan.”

Aku mengusap air mataku, lalu menggenggam tangan Jinki. ”Sekarang, apa kau masih tak ingin menceritakan perasaanmu yang sebenarnya? … aku sangat ingin tau.”

Jinki menatapku dan membelai lembut rambutku dan berkata, ”baiklah… kalau itu yang kau inginkan.”

@@@@@@@@@

”Yah.. aku menikahimu karena Chae Kyeong menolakku.. dan yah.. aku juga sakit hati padanya.. dia bilang kalau dia menyukaiku tapi dia tak peduli padaku. Dia tak menghubungiku saat di Jepang. Dan saat Eomma menawarkan agar aku menikahimu, akupun menurut. Aku menikahimu memang karena eommaku. Dia sangat menginginkan cucu dan ingin ada yang menemaninya dirumah. Menantu yang tak bekerja.” Jinki memulai kisahnya.

Aku lalu menjawabnya, ”Tapi justru yang selalu sendirian di rumah adalah aku. Eomonim asyik dengan usahanya dan tak mengijinkan aku membantunya di toko.”

”Itu perintah perusahaan Rumi. SMEnt mengijinkan aku menikahimu dengan syarat kau tak terlihat mencolok dalam keluargaku. Jika kau membantu eomma di toko orang-orang akan bertanya tentang dirimu. Eomma tak mungkin bisa menganggapmu sebagai pegawai biasa. lagipula jika kau hamil, orang juga akan bertanya tentang anak yang kau kandung. Jadi, kami menyuruhmu diam di rumah bukan karena tanpa alasan…”

Dia lalu melanjutkan, ”….dan mengenai perkataan Minho padamu. Tentang rasa tak bahagiaku. Yah itu karena aku tak bisa menyentuhmu! Aku sungguhan sudah melupakan Chae  Kyeong saat hari pernikahan kita. aku berusaha memikirkanmu saja… berusaha menyayangimu. Tapi, kau ingat kesepakatan kita di awal pernikahan? kau bilang kau tidak siap melayaniku, jadi aku menunggumu. Padahal, asal kau tau… aku nyaris tak bisa tidur saat malam pertama pernikahan kita. Kau bahkan tak merasa kalau aku memelukmu sepanjang malam. Diam-diam aku menciumi seluruh tubuhmu malam itu. aku tergila-gila padamu hanya dari sebuah ciuman…”

”Jinki-ya… artinya… apakah itu artinya sejak malam itu kau mencintaiku?” tanyaku tak mempercayai ucapannya. Aku benar-benar tak merasa kalau dia melakukan itu padaku. Mungkin karena efek kelelahan sehingga aku tertidur sangat pulas saat itu.

”Ani… aku belum mencintaimu saat itu. semuanya hanya dorongan hasrat, tapi aku berusaha Rumi..” katanya dan aku melayangkan pukulan ke tangannya. Ternyata dia menyebalkan.

”Aku memang tak tau sejak kapan aku jatuh cinta padamu, aku bahkan tak mengerti..” Jinki menarik nafasnya dalam dan setelah menghembuskannya dia melanjutkan, ”Cinta itu sebenarnya apa? Ketika aku begitu menginginkanmu itukah cinta? Dan setelah aku mendapatkanmu lalu disebut bercinta? Aku sungguh tak mengerti Rumi. Perasaanku padamu sangat berbeda seperti yang kurasakan pada Chae Kyeong. Pada saat bersamanya, aku merasa sangat bahagia. Selalu ingin melihatnya tersenyum dan tak ingin menyakitinya.”

”Lalu apa yang kau rasakan saat bersamaku?” tanyaku menahan rasa sakit karena mendengar dia membicarakan yeoja lain.

”Aku selalu menyakitimu dan tak berani berkata jujur. Aku menyakitimu dengan kebohonganku. Tak mengatakan perasaanku yang sesungguhnya… lalu, aku masih ingat saat pertama kali kita bercinta. Aku bahkan tak peduli saat kau menjerit kesakitan, aku terus memasukimu untuk memuaskan hasratku…”

”Katakan… saat itu kau sudah mencintaiku ’kan?” tanyaku. Aku berharap dia menjawab iya tapi ternyata malah sebaliknya. Dia menggeleng.

”Rumi-ya.. Mianhe..”

”Jadi kau bohong saat bilang kau merindukanku saat malam ulang tahun Minho itu?!”

”Aku sungguhan merindukanmu..”

”Tapi kau tak mencintaiku!” aku menangis saat mengatakan itu, ”Aku bercinta dengan pria yang bahkan tak mencintaiku… a-aku seperti pelacur.”

”Aku tak pernah menganggapmu seperti itu!” Jinki memegangi kedua tanganku. Mengusahakan agar aku kembali tenang.

”Bagaimana bisa..? kau jahat! Padahal aku begitu mencintaimu…” kataku.

”Kalau begitu jelaskan padaku! Cintamu seperti apa?”

”Aku selalu merindukanmu,” sahutku.

”Aku juga merasakan itu!” balasnya.

”aku mencemaskanmu. Saat melihatmu aku merasa bahagia, jantungku berdebar kencang saat kau bersamaku. Saat bersamamu aku tak menginginkan hal lain. Aku merasa nyaman saat kau disisiku. Aku tak ingin kau jauh…”

”Aku juga merasakannya..” kata Jinki. ”tapi seperti itukah cinta?”

Aku terdiam mendengar perkataannya. Cinta? Apa aku salah mendefinisikan kata itu selama ini? Tapi itulah yang kurasakan padanya. Dan begitulah caraku mencintainya.

”Aku ingin kau bahagia… walau aku menyakitimu itu kulakukan agar kau tak berhenti tersenyum. Jika aku jujur sejak awal…kau tak akan pernah bersamaku. Padahal aku ingin kau disisi ku. Aku berulang kali mengatakan kalau aku mencintaimu, tapi sejujurnya yang ingin kukatakan adalah aku menyayangimu. Tak ingin kau pergi dariku, saat aku tak bisa menemuimu, hanya dengan mendengar suaramu saja aku sudah sangat bahagia. Perasaan yang berbeda saat bersama Chae Kyeong, aku menyukainya tapi aku begitu membencinya saat dia meninggalkanku.

”Sedangkan saat bersamamu, aku begitu menyayangimu bahkan saat kau meninggalkanku,  membencimu pun aku tak sanggup. Aku tak pernah membencimu saat kau pergi, aku bahkan tak sanggup merubah rasa sayangku padamu menjadi rasa sayang seorang teman, kau adalah wanitaku dan selamanya tetap seperti itu! Rasa cinta itu bisa lenyap. Aku merasakannya saat bersama Chae Kyeong. Tak ada lagi rasa bergetar saat berjumpa. Tak ada rasa rindu jika tak bertemu. Aku hanya menganggapnya sebagai orang biasa. Tapi berbeda denganmu Rumi. Walau kita hanya 7 bulan bersama, tapi aku tak pernah berhenti memikirkanmu selama 3 tahun ini. Apa aku harus menjelaskan perasaan apa itu?”

Aku menangis. Aku benar-benar tak mengerti maksudnya. Tak mengerti perasaannya.

”Asal kau tau, saat aku melihatmu bersimbah darah. Yang paling kutakutkan bukanlah kehilangan bayi kita… tapi aku sangat takut kehilanganmu. Aku merasa berdosa, aku menipumu! Aku takut kau pergi tanpa sempat memaafkanku. Tapi, sekalipun aku tak sanggup meminta maaf, karena aku sangat takut kau membenciku. Membenciku yang telah terlalu banyak berbohong..”

”Jinki-ya..” kataku, saat ini bukan hanya aku saja yang menangis. Dia juga.. oh Tuhan, ternyata mengetahui kenyataan itu benar-benar menyakitkan.

”Apa aku pantas mengatakan kalau aku mencintaimu padahal aku selalu menipumu?” katanya.

”Katakan saja… tapi mulai saat ini. Ketika kau mengatakannya, itu bukan sebuah tipuan lagi..” sahutku.

”Rumi-ya… Saranghae.. Neomu neoumu saranghae..” Jinki menangis sambil berlutut dan memeluk kakiku.

Sesak itulah yang kurasakan saat dia mengatakan itu. Tapi walau kenyataan begitu menyakitkan, aku memaafkannya yang selama ini tak jujur padaku. Karena aku begitu ingin disisinya.

Mulai sekarang, aku sudah tak peduli lagi tentang sejak kapan dia mencintaiku. Itu hanya sebuah kata.. yang terpenting adalah perasannya. Dia begitu menyayangiku dan aku sadar dia menyayangiku sejak awal hubungan kami. Dia yang tak ingin aku terluka. Aku rasa bahkan dengan Key yang berulang kali menyatakan cintanya padaku semuanya menjadi tak ada bandinganya dengan rasa sayang Jinki.

Jinki, walaupun tak mengucapkannya secara jelas tapi aku tau kalau dia menganggapku sebagai hal yang paling berarti. Dan aku tak akan mendebatnya lagi

@@@@@@@@

”Aku selalu menyesali keputusanku karena tidak memilihmu… tapi saat itu kau begitu memaksaku untuk membuat pilihan..” kata Jinki setelah kami berdua cukup tenang.

”Yah.. aku akui, saat itu aku begitu egois.. begitu memaksamu. Padahal aku sudah menduga kalau kau tak mungkin memilihku…” sahutku sambil menyandarkan kepalaku di bahunya.

Entah ini sudah jam berapa. Pastinya sudah sangat larut, pasti argo taksi yang kami tumpangi sudah melonjak karena taksi itu masih saja menunggu kami yang masih asyik menceritakan isi hati kami di pantai ini.

”Saat aku memutuskan menikah… aku bersumpah Rumi. Apapun yang terjadi, aku tak akan melukai member yang lain, berjanji pada mereka bahwa aku tak akan mengumumkan pernikahan kita sampai waktunya tepat. Aku sangat menyayangi mereka… mereka yang menapaki impian bersamaku… aku tak ingin impian mereka hancur karena diriku…” katanya menggenggam tanganku.

”Mereka harta yang terindah bagiku.. tak bisa tergantikan dengan apapun. Keluarga terbaik… ” lanjutnya.

”Yah.. kau bahkan merasa lebih betah bersama mereka ketimbang dirumah..” sahutku, mendongakkan wajahku padanya dan tersenyum.

”Tidak juga.. aku juga merindukan rumah. Apalagi saat kau ada disana…”

”Jinki-ya…”

”hmm?” sahutnya.

”Kau jangan beritahu member yang lain kalau kita sudah baikkan..” kataku.

”Wae? Mereka pasti senang Rumi… mereka sangat ingin kita kembali bersama..”

Pasti senang? Kurasa tidak. Aku tak bisa membayangkan ekspresi Key jika tau hal ini. Aku membohonginya dan menolaknya dengan alasan bahwa aku berkencan dengan Kyungho sunbae. Jika dia tau justru aku kembali bersama Jinki, bisa terjadi hal buruk. Ah~ aku bahkan tak bisa memikirkan apa yang harus kukatakan padanya jika saat memberitahu tentang hubunganku dan Jinki tiba.

”Kenapa wajahmu jadi murung begitu?” Jinki masih bertanya dan aku semakin bingung menjawabnya. ”Kita tak perlu menyembunyikan hubungan kita pada mereka Rumi.. merekalah yang selalu mendukung kita. Aku tak mungkin membohongi mereka..”

”Jinki-ya.. kumohon. Di rahasiakan saja…itu yang terbaik.” kataku.

”Shiroh!” kata Jinki. ”Aku tak pernah menyembunyikan apapun dari mereka. Jadi jelaskan padaku alasan apa yang membuatku harus menyembunyikan hubungan ini dari mereka! Kau takut dengan Minho?”

”Bukan karena itu..”

”Lantas apa?!” Jinki semakin keras padaku.

Otthokae? Apa aku harus menceritakan tentang hubunganku selama 3 tahun ini dengan Key? Aku takut dengan reaksi Jinki jika dia tau. Ah~ aku harus bagaimana?

Aku berfikir keras sampai akhirnya aku berkata, ”Aku hanya ingin menikmati waktu berdua saja denganmu… jika mereka tau hubungan kita, mereka pasti akan mulai menggoda lagi, seperti dulu. Kau tau, aku tak nyaman digoda seperti itu… yang kita beritahu cukup orang tuamu dan orang tuaku saja. Setuju ’kan? Ayolah yeobo~”

Kemudian sebisa mungkin aku bertingkah manja padanya, agar dia setuju. Dan syukurlah dia akhirnya menyetujuinya.

Setelah itu, kami kembali ke hotel. Ah~ benar-benar, rupanya kami menghabiskan waktu di pantai itu selama hampir 3 jam. Aku bahkan tak sanggup melihat angka yang tertera di argo taksi yang kami tumpangi.

”Rumi-ya.. aku menginap di kamarmu atau kau menginap di kamar ku?” kata Jinki saat melihat aku berhenti di depan kamarku, kebetulan kamar dia memang dilantai yang sama denganku.

Aku menatapnya tak percaya. Yaa! Jangan bilang dia…? Aisshh!

”Tidur di kamar masing-masing!” kataku buru-buru masuk ke kamar dan menghempaskan pintu di depan wajahnya.

@@@@@@@@

Kami melewati hari berikutnya tanpa banyak bicara. Terlalu sibuk untuk menyempatkan diri berdua. Dia sibuk dengan pengambilan gambar dan aku sibuk disuruh-suruh Kyungho sunbae yang entah kenapa hari ini mood nya benar-benar buruk.

Aku tak pernah melihat Kyungho sunbae marah padaku seperti hari ini. Padahal aku tak melakukan kesalahan apapun.

”Kau sungguhan pacaran dengan namja seperti itu? dia bahkan tak segan memarahimu di hadapan kami.” kata Key yang tiba-tiba duduk disampingku saat aku sibuk membuat laporan kegiatan hari ini sambil mengawasi syuting mereka tentu saja.

”Kembali ke lokasi mu Key!” seruku tanpa menghiraukan pertanyaannya.

”Walau dia atasanmu. Dia tak berhak memarahimu, apa yang kau suka dari dia sih?” kata Key.

”Karena dia bertanggung jawab. Sangat profesional. Dia bisa menempatkan diri, di saat dia bekerja, dia bekerja tak menyelingi dengan masalah pribadi..”

Perkataan ku rupanya menyindir Key karena setelah aku berkata itu, Key langsung pergi kembali ke lokasinya.

Huh.. kalau aku tak mencoba menghindari Key, mana mungkin aku memuji sunbae seperti itu. aku sangat kesal dengan sunbae saat ini!

@@@@@@@@

”Ah~ laporannya sudah selesai Rumi? Gomawoyo.. maafkan tadi aku memarahimu. Aku benar-benar bingung tadi, lagipula sangat panik… paling tidak kita bisa tidur tenang malam ini, sebelum besok memberi laporan pertanggung jawaban atas syuting 2 hari ini..” kata Kyungho sunbae setelah syuting berakhir.

”Sunbae mengerikan sekali…” kataku.

”Mianhae… kau pasti akan merasakan hal yang sama jika diposisiku. Sutradara itu bertindak semaunya saja…  padahal aku sudah mengatakan hal yang ingin ditonjolkan perusahaan pada iklan ini… hah, kita tak akan menggunakan dia lagi di iklan berikutnya!”

”Tapi kan tak harus memarahiku..” sahutku.

Sunbae mengacak rambutku. ”Maaf ya… sekarang kita pergi minum. Kru yang lain juga sudah pergi… ayolah…”

Kami berdua lalu bergabung dengan kru produksi, member SHINee dan rombongannya ke sebuah rumah makan yang memang sudah dipesan sebagai tempat pesta berakhirnya syuting.

”Kamsahamnida atas kerja kerasnya 2 hari ini. Semoga kerja keras kita mendapatkan respon yang baik dan kita bisa bekerja sama lagi,” kata Kyungho sunbae sebelum kami memulai makan malam kami.

”Setelah ini, kita akan kembali ke Seoul. Semoga kita di beri keselamatan saat kembali nanti. Dan sekarang… mari kita makan dan minum sepuasnya…” Sunbae mengakhiri sambutannya dengan mengangkat sebotol Shoju lalu meminumnya.

”Rumi-sshi, kau tak minum?” tanya sunbae yang melihatku menuangkan air putih dalam gelasku.

Aku menggeleng, tapi sunbae kemudian berkata, ”Yaa.. kau harus minum!”

Dia lalu menuangkan shoju ke dalam gelasnya dan menyorongkannya padaku dan berkata, ”Minumlah.. tenang kau tak akan mabuk!”

”Rumi tak boleh minum alkohol!”

Ruangan yang semula ramai oleh gelak tawa para kru, tiba-tiba sunyi setelah mendengar itu… semuanya menatap ke sumber suara yang berasal dari Key dan Jinki yang duduk berdampingan. Ya.. mereka berdua mengucapkan kalimat itu secara serempak.membuat semua orang termasuk Kyungho sunbae heran.

Tapi, aku merasa takut saat itu. takut karena melihat ekspresi terkejut di wajah Key karena mendengar Jinki mengucapkan hal yang sama dengannya.

Namun, keheningan itu tak berlangsung lama saat terdengar suara seorang yeoja, ”Yaa.. jadi benar.. aku tak salah. Rupanya Kau Kim Rumi sepupu Key? Ah~ pantas saja aku merasa mengenalimu, ah~ Key.. aku kejam sekali. Saat aku bertanya kemarin kau tak menjawabku…”

Ya, itu suara Chae Kyeong. Key memang pernah mengenalkanku padanya dengan menyebut aku sebagai sepupunya. Rupanya dia masih ingat.

Kyungho sunbae meletakkan botol shoju yang baru mau diminumnya dan menatapku tak percaya. Lalu berkata dengan berbisik,”sepupu?”

Aku tak menghiraukan sunbae dan mengarahkan pandanganku kepada Key, terlihat sangat kesal. Dan apesnya saat aku melihat ke arahnya, yang menoleh adalah Jinki. Dia tersenyum sangat manis padaku. Aisshh~ jangan sampai Key menyadari kalau Jinki tersenyum padaku. Aku belum ingin dia tau tentang hubunganku dengan Jinki sekarang.

@@@@@@@@@

”Syukurlah laporan tadi tidak dikritik. Sunbae hebat sekali, dalam waktu cepat merevisinya. Aku rasa laporan yang kubuat masih banyak kesalahannya… tapi sunbae sudah memperbaikinya. Pantas saja sunbae dengan mudah di promosikan ke jabatan yang lebih tinggi..” kataku ke esokan harinya setelah jam kerja berakhir.

Kami sudah kembali ke Seoul pukul 10 tadi malam, dan paginya langsung berangkat kerja seperti biasa. Benar-benar melelahkan, apalagi saat masuk kantor aku dan sunbae langsung memberikan laporan pertanggung jawaban. Sungguh hari yang sibuk, tapi aku juga cukup senang karena rencananya sepulang kerja aku ada janji kencan dengan Jinki. Ah, aku benar-benar tak sabar dan penasaran dengan kencan kami nanti.

”Ah biasa saja,” kata sunbae. ”kita baru bisa tenang setelah iklannya muncul, perlu 2 minggu lagi dan yah.. setelah itu aku akan dipindahkan. Menyesal sekali kita hanya bekerja sama dalam waktu singkat. Kau cukup menyenangkan, menurutku.”

”Sunbae juga menyenangkan..” kataku. ”.. kalau tak marah-marah.”

Aku lalu tertawa setelah itu. Sunbae hanya tersenyum mendengar komentarku itu lalu berujar, “Kau buru-buru sekali. Ada janji?”

”Ne.. janji yang sangat penting!” kataku masih tersenyum. Aku sudah membereskan semua barang-barangku dan sudah siap untuk pulang. ”Sunbae tak pulang? Mau lembur? Hah, sunbae jangan terlalu memaksakan diri..”

”Aku juga sudah mau pergi kok!”sahutnya. ”Sebetulnya aku ingin menagih janjimu dulu.. saat aku jadi pacar pura-puramu. Tapi karena kau sudah punya janji duluan.. baiklah, aku mengalah. Tapi siapkan waktu untukku besok. Kau hutang traktiran dan cerita padaku..”

”Yaa.. tentang Key?” tanyaku.

”Ne,siapa lagi…” angguknya. ”Jujur kukatakan, dia member yang paling aku suka, secara talenta dan style-nya tentu saja.. jangan beranggapan yang bukan-bukan. Aku benar-benar normal. Hanya saja.. aku sangat penasaran. Dan kau berhutang padaku.”

Sunbae mengatakannya dengan menekankan tiap kata. Ah, lucu sekali melihat tingkahnya yang malu-malu itu. sunbaeku ini memang benar-benar aneh.

”Baiklah… aku akan menceritakan apa yang bisa kuceritakan. Sekarang aku pamit dulu… sunbae, annyeong..” kataku sambil membuka pintu ruang kerja kami dan keluar dari sana.

@@@@@@@@

”Yaha… tak lama menungguku ’kan?” kataku pada Jinki yang bertampang cemberut dalam kaca mata hitam bersandar pada mobilnya dan menunggu di parkiran kantorku.

Dia lalu membukakan pintu mobilnya untukku. Setelah aku masuk, diapun melakukan hal yang sama. Ketika kami berdua sudah didalam mobil, wajah masamnya berubah menjadi senyuman.

”Mobil baru ya?” tanyaku tak penting.

Dia nyengir mendengar pertanyaanku, ”Ne!”

”Wow,” gumamku, saat itu Jinki sudah menjalankan mobilnya. ”Jangan terlalu boros. Kalau ada uang, lebih baik ber-investasi. Kau tak selamanya di dunia hiburan..”

”Sudah kok, kau saja tak tau..” sahutnya sombong. ”Mobil ini kupakai khusus untuk kencan denganmu, biasanya cuman teronggok di rumah. Lagipula, mana bisa menggunakan yang biasa. Fans sudah hafal dengan nomor platku, takut dibuntuti..”

”Ohya? Jangan bilang kalau kau memakai ini cuman untuk kencan denganku… kau juga memakainya saat kencan dengan yeoja lain ’kan? Jujur saja..” kataku berusaha menggodanya.

”Yap, aku menggunakannya untuk kencan dengan Chae Kyeong..” balasnya yang saat itu juga aku meninju bahunya, gemas. ”Yaa.. kau langsung marah. Padahal kau yang mulai!”

”Ne.. memangnya tak boleh?” sahutku ketus.

”Hah.. aku hanya bercanda. Cuman kau dan eomma yang pernah menaiki mobil ini. Aku hanya menggodamu… ohya, eomma senang sekali saat tau kita baikan. Tadinya, dia menyuruhku untuk mengajakmu makan malam hari ini. Tapi, aku sudah punya rencana lain… mumpung hari ini aku tak ada schedule, aku mana mungkin membiarkan waktu kencan kita habis dirumah..”

”Lalu, kau akan mengajakku kemana?”

Kulihat Jinki memutar-mutarkan alisnya. Sok misterius, tapi sukses membuatku tertawa.

”Yang jelas, tempat yang menyenangkan…” sahutnya.

Hah? Tempat menyenangkan? Aku tak tau deh, tempat yang menurut dia menyenangkan itu seperti apa. Aku jadi ingat saat kencan pertama kami dulu saat ulang tahun Minho. Dia mengajakku ke bukit dan disanalah aku menyatakan cintaku padanya.

Tapi, masa sih dia mengajak ku ke tempat itu lagi? Aissh~ namjaku ini, memang sangat hebat untuk membuatku penasaran.

To Be Continued

#Kyaaa.. mianhae publishnya telat.. tapi mungkin part2 berikutnya bakal terus telat juga. Maklum saya lagi sibuk2nya hehehe… Mianhae lagi klo di part ini adegannya cuman banyak menceritakan masa lalu.. kan edisi curhat spesial dari Rumi ke Jinki, saling membuka hati gitu.. tapi aku harap kalian suka deh.. Ohya, jangan benci Jinki ya..

Dan terakhir pesan saya selalu JANGAN LUPA NINGGALIN KOMEN YA ^^/

41 thoughts on “Married Idol (chapter 11)

    • g janji cepet lanjutannya… aq sibuk TT__TT..
      tapi thanks banget dah udh mw nungguin nih ff.. aq usahakan secepatnya deh, ada waktu bisa ngetik, aq ketik dah..hahaha

  1. ga bakal onn benci sama onew..
    Makin cinta iya..wkwk

    ”Rumi-ya.. aku menginap di kamarmu
    atau kau menginap di kamar ku?”
    Dihh, onew udh bercerai juga pake nanya,wkwk #dasarganjen

    Mit onn, aku bantu doa,
    Biar urusan onn cepet selesai trus ga sibuk lagi,
    Hehe, ditunggu part 12nya. ;d

  2. kyaaa aku nunggu ni ff. akhirnya nongol juga. aaa sampe mati juga aku gabakalan benci jinki thor haha. gmn nasib key? ya Tuhan. . Terimakasih rumi balik ma jinki (?)

  3. nunggunya mpe jamuran onn. Wakakakak gak ding. Cuman sering mondar mandir ngecek uda tayang pa belum. #curhat
    si jinki jahat juga uda nipu rumi, tp untung skrg uda baikan.
    Makin penasaran mereka mau kencan dimana.
    Musti nunggu seminggu lagi, itupun palng cepet.

  4. sukaaaaaaaaaaaa……………………
    td sebenernya mau ngambek krn dipublish telat, tapi begitu baca, mataku lsg berbinar2 n wajahku berseri2. kyaaaaaaaaaa aku ga benci lg ama jinki!!

    untuk kakak… hwaiting buat segala kesibukannya!!

  5. ounnii…
    ak kr gkn d’post ff’y ak dr hri jum’at lho nunggu’y..
    ak b’hrp bgt onn slh ng-post ky wktu itu..hheee…
    tp akhir’y mncul jg..
    asyiikkk.. jinki’y ud balikan lg am rumi…
    mudh2n aj POV’y jinki g lm ya onn..
    ak pnasaran am prsaan’y jinki wktu itu…
    smoga ksibukan onnii cpet bres,ak doa’in..
    aduh,jd kpnjngan komen’y…
    salam kenal dariku ya onn.
    HWAITTING!!

  6. Hallo thor~
    Akhirnya ini di publish juga. Tiap hari bolak balik ke blog ini buat liat update-an loh~

    suka part ini😀
    Tapi Key dikit amet deh -__-
    Lanjutkan ya thor, dan
    HWAITING!!!

  7. Ah..
    AkhirNya publish juga,.hohoho
    ciee..ciee,.ada yg mo kencan ni yee..
    Ayo2 bruan kencanNya biar ntar lgsug nikah n bkin anak lagi,!
    Hahaha

  8. waaaaahh….
    AkhrN tayang jg,Q ngecek tiap hari lho hehehe

    Q ga bkal bnci ma Jinki eon,
    kiyaaa…seneng bcN mreka baikan..
    Jinki iseng dah nawarn tidur dmana..

    Dtnggu lanjtanN eon
    hwaiting ya

  9. Akhirnya publish juga~
    part ini isi’a curhatan rumi+jinki..
    Hyaaa…jd tau perasaan mereka masing2 ^^
    Sunbae suka key?? ._____.b
    Hahaaa…si sunbae mah ada2 aja dah,
    asiikkk dah~ rumi ama jinki mao jalan2 kemana tuh?
    Next part bakal telat juga ya??😦
    gpp deh~ asal ttp di publish, saya bakal setia menunggu kok #plak

  10. sayalalala udah publis hhey
    lama ya onn tumben telat lehig 2 jari biasanya malem sabtu dah nangkring
    tadi juga kie pas update mycaseu belum nongol2 onn

    suka deh waktu part berbagi keluh kesah sama sakit sama2 makan hati
    tapi untunglah setidanya ada pencerahan kalo duanyany suka saling sayng

    tapi kenapa rumi gak jujur masalah key onn… ntar jadi masalah lagi

  11. akhirnya ke baca…(?) hahahaha..
    udah ditunggu lama2 lho thor.. wkwkwkwk..🙂 Mereka ntar mw kemana y?
    Ditunggu chapter selanjutnya thor!

  12. Annyeong~ aku reader baru di sini Eonn!

    Kyaaa!! Onew oppa,,, tega banget ama Rumi! Aku pngennya Rumi ama Key oppa aja deh, yang romantis. Hahaha!! Tp, aku jga pngen Onew!

    Part slanjutny jgan buat pnasaran lg yah!! Eonn!

  13. yes, yes.. rumi ma jinki baikan, brarti nanti key balikan k aku.. puhahahaha.. *dibantai locket*

    cie yg curhat dri hati k hati.. saya turut senang..😀

  14. edisi curhat dr hati ke hati…. *siul2*
    Gitu dong dari dulu….
    Diobrolin yar beres…. Kekeke
    Keren bgt deh ni part… Yahud !! =)

    Slanjutnya bakal telat ??
    Oke… Gpp. =) emang lagi rempong2nya lu ye…=P

  15. chuachuachuaaaaa….”Pgn Jadi RUMI”
    akhir’a bisa baca lagi. seneng’a bs ngeliat mereka barengan lagi.
    tp,,nasib key gmn neh chingu?bs jd konflik baru…

    lanjutkan..penasaran tingkat alay*wkwkwk…

  16. ternyata niat awal jinki nikah ama rumi
    kurang baik ya…..😦

    ah tapi tak apelah..
    sekarangkan yang penting mereka derdua
    udah saling cinta….😀

    tp gmna dgn nasip keyyy author….???????

    q tunggu part selanjutnya ya….🙂

  17. OMG!!! Ffmu semakin keren
    Astaga chingu….
    Aku sampe ngga tau mau comment apa
    Kebiasaanku kalo ada ff sangat bagus susah comment pnjg2
    Aigoooo~ ini keren bangeeeetttt

  18. Annyeong eonni~~~~
    saya baru nemu blog eonni setelah lama membaca fi SF3SI….
    saking penasaran sama lanjutannya nih.. eh ternyata disini dah dipublish sampe END toh..
    FF nya bagus bgt eon….
    tak bosan saya menantinya….
    DAEBAK deh pokoknya..😀

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s