SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part V]


AUTHOR: DIYAWONNIE.MINHO

 

“Kau ini bicara apa? Apa aku pria seperti itu?” teriak Heechul.

“Aku kan hanya bertanya. Kenapa berteriak padaku? Aku hyungmu!” Leeteuk balas berteriak.

“Bap…,” gumam Chaeri dengan mata masih tertutup.

Leeteuk dan Heechul menghentikan pertengkaran mereka dan bersamaan menoleh ke arah Chaeri. Mereka saling pandang. “Tadi dia bilang nasi?” tanya Heechul heran.

“Kau urusi saja dia!”

Heechul dengan gesit mencengkeram kerah baju Leeteuk dan menariknya hingga wajah mereka dekat sekali. “Tunjukkan padaku jika memang kau seorang hyung. Bertanggung jawablah atas apa yang telah kau perbuat!”

Leeteuk menepis tangan Heechul dengan kasar lalu keluar kamar. Membuat Heechul semakin emosi melihatnya. Chaeri tak henti-hentinya menggumamkan ‘bap’. Setetes air mata mengalir di ujung mata kanannya. Heechul berjongkok di samping tempat tidur. Ia mengelap air mata Chaeri. Kemudian memeras handuk kecil dan menaruhnya di kening gadis itu.

Lambat laun Chaeri membuka matanya. Kepalanya terasa berat dan cacing-cacing dalam perutnya makin protes. Ia berusaha melihat seseorang di sampingnya. “Nuguseyo? Sul…Sulca?”

Heechul terkejut. Ia bangkit dan pergi meninggalkan kamar. Di luar, ia melepaskan ikatan rambutnya dan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari make up. Setelah selesai, ia kembali ke kamar dan menemukan Leeteuk sudah berada di dalam tengah memandang ngeri pada Chaeri yang sedang asyik makan kesetanan.

“Kau belum makan ya?”

Chaeri mengangguk, “Seharian ini aku hanya minum air putih. Panggilan untuk mengajar sangat padat karena besok beberapa sekolah serentak mengadakan ujian blok matematika.”

“Jadi kau seorang guru privat matematika?”

Chaeri mengangguk, “Kimia, fisika, dan pelajaran menghitung lainnya. Oh iya, Leeteuk-sshi, bolehkah aku minta tambah nasi lagi?”

“Tapi…ini sudah yang keempat, Chaeri-ah.”

“Aku tak peduli. Aku masih lapar. Ini gara-gara perbuatan bodoh Sooran yang memberikan bekal makanku pada dongsaeng-dongsaengmu.”

“Baiklah. Aku ambil dulu,” Leeteuk keluar kamar dan berpapasan dengan Heechul di sisi pintu kamar. “Kenapa tak masuk?”

Heechul menggeleng, “Tidak usah, dia sudah membaik. Terima kasih, Hyung. Maafkan sikapku tadi yang keterlaluan.”

“Gwaenchana. Harusnya aku yang meminta maaf padamu.”

+++++++

“Cut!” teriak sutradara, “Filming untuk hari ini selesai. Kamsahamnida.”

“Kamsahamnida,” teriak semua artis yang ada di sana bersamaan seraya membungkuk.

Kyuhyun melambai ke arah Sooran, memintanya untuk mengikuti ke backstage. Sooran menurut dan menarik Seera meminta untuk menemaninya.

“Sooran-ah, bagaimana penampilanku tadi?” tanya Kyuhyun semangat yang dijawab dua buah jempol dari Sooran, “Apa parodi imitasiku tadi lucu?”

“Sangat lucu, Oppa.”

“Ah, syukurlah. Baru kali ini aku merasa secemas ini.”

“Jangan bilang karena ada dia menyaksikanmu!” sindir Seera sembari menunjuk Sooran.

Seketika wajah Sooran memerah. Kyuhyun tersenyum melihat tingkah mereka, “Ya, mungkin itu salah satunya. Sudah ya, aku mau mencari hyung-hyungku dulu. Sampai nanti.” Kyuhyun melesat pergi dan menghilang di ujung koridor.

“Aku lelah, Seera-ah, ayo kita pulang!”

“Eonni, kau bawa uang? Kita butuh ongkos.”

Sooran merogoh kantong celananya yang kosong, “Ah, eopseosseo! Aku cari Myu Ra-eonni dulu. Kau tunggu di sini!”

Sementara itu di ruang tunggu Super Junior…

Suasana sangat berisik. Eunhyuk tak berhenti mengomeli Shindong yang menghabiskan bekal keramat pemberian Sooran tadi siang. Ia duduk di sudut ruangan sambil memeluk kotak bekalnya dan merutuk. Sedangkan Shindong yang tak kuat mendengarnya, langsung keluar dari sana dan kembali dengan seseorang.

“Ke-kenapa aku dibawa kemari?” tanya Myu Ra bingung.

“Myu Ra-ah, tolong katakan pada dongsaengmu untuk membuatkannya lagi makanan.”

“Ne? Memang dongsaengku yang mana yang sudah membuatkannya makanan?”

“SHIN SOORAN!” ujar hampir seluruh member SJ yang ada di sana.

Pintu terbuka dan Kyuhyun muncul, “Ada apa dengan Sooran?”

“Kau mengenalnya?” tanya Siwon yang dibalas anggukan Kyuhyun, “Cepat panggil dia kemari! Aku muak sekali melihat tingkah Hyukkie hari ini.”

“Oh, entahlah. Terakhir kami bertemu di backstage. Mungkin sudah mau pulang…”

Eunhyuk spontan bangkit dan menjatuhkan kotak bekalnya yang berkelontangan. Ia menarik kerah baju Kyuhyun, “Apa warna baju yang dia pakai? Cepat katakan!” teriaknya.

“Dre-dress ungu dengan pita hijau yang menjepit poninya.”

Eunhyuk melempar Kyuhyun ke samping, lantas berlari keluar ruangan. Di sepanjang koridor ia terus berlari, tak memperdulikan orang-orang yang memandangnya. Ketika sampai di loby, ia mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut ruangan. Beberapa artis yang menyapanya membuat ia terpaksa menyembunyikan sikap aslinya. “Shin Sooran, Shin Sooran, seperti apa sebenarnya dirimu?” gumamnya.

Karena kelelahan, ia duduk di sebuah bangku pualam putih di samping seorang gadis. Matanya masih berusaha mencari-cari seseorang yang mengenakan pakaian seperti yang disebutkan Kyuhyun tadi.

“Aigoo, cantiknya,” pekik gadis di samping Eunhyuk sambil menimang-nimang sebuah vas bunga.

PRAAANG!

Eunhyuk terkejut dan secepat kilat menolehkan wajahnya ke samping, “Hyaaa, apa yang kau lakukan? Kau harus menggantinya!”

“Heee?” sahutnya seraya menoleh dan memasang tampang ‘minta dikasihani’, “Omo, bahkan untuk ongkos pulang saja aku tak punya. Ah, ottokajyo?”

“Kenapa bertanya padaku? Kau ganti sana. Ah, lihat! Petugas gedung datang.”

Seera menoleh ke arah yang ditunjuk Eunhyuk. Dari jauh ia memang melihat seorang sekuriti menghampiri tempatnya. Dengan sigap ia menggeser-geserkan pecahan vas ke samping kirinya menggunakan kaki.

“Annyeong haseyo,” sapa petugas tersebut, “Eunhyuk-sshi, bisa kuminta waktumu sebentar untuk memberikan penjelasan di kantor?”

“Pen-penjelasan? Apa maksudmu?”

“Maaf sebelumnya, tapi Anda telah memecahkan inventaris gedung. Kami hanya meminta penjelasan Anda sebagai bukti untuk memasukkannya ke dalam daftar barang yang perlu dibeli lagi oleh pihak kami,” tuturnya dengan memberi penekanan pada kata ‘lagi’.

“Mwo?!” sahutnya bingung lalu segera menundukkan wajahnya untuk melihat pecahan vas tersebut dan terkejut ketika menemukannya tepat di daerah sekitar kakinya. “Tunggu! Tapi bukan aku yang…”

“Simpan saja penjelasan Anda hingga di kantor. Mari ikut saya!”

Eunhyuk kelabakan, ia menoleh ke samping kanannya da memberikan pandangan mematikan pada Seera. Petugas itu tak henti-hentinya memanggil Eunhyuk untuk segera mengikutinya. Ia terpaksa bangkit dan dengan langkah gontai mengikuti petugas tersebut.

Seera menatap Eunhyuk dengan tatapan ‘ikut prihatin’ disertai dengan gerakan mulut yang membentuk kata ‘jwaesonghamnida’. Eunhyuk yang kesal melihatnya berjalan menghampiri Seera dengan penuh emosi, namun sayang petugas tersebut menarik tangannya untuk segera pergi dari sana.

“Cih, dasar pria aneh! Masih juga berpakaian rapi seperti itu. Apa dia pikir dirinya artis? Berkeliaran di sini hanya untuk mengelabui orang. Untungnya aku pintar. Kau takkan pernah bisa menipuku!” omel Seera. Dari arah kiri terlihat Sooran datang tergopoh-gopoh, “Oh, eonni…”

“Aku tak menemukan Myu Ra-eonni. Ottokhae?” Sooran memalingkan wajahnya ke arah pintu masuk dan tak sengaja matanya menangkap sosok Chaesa yang tengah berjalan masuk. “Syukurlah dia datang. Chaesa-ah!”

+++++++

CHAERI berjalan keluar dorm SJ dan membungkukkan badannya memberi hormat, “Terima kasih banyak kalian telah merawatku.”

“Ah, jangan bicara seperti itu. Aku jadi malu karena akulah yang telah membuatmu seperti ini. Chaeri-ah, sekali lagi aku minta maaf.”

“Iya, maafkan hyungku yang hampir saja membunuhmu,” celetuk Donghae yang disambut oleh sebuah jitakan di kepalanya, “Ah, Teuki-hyung, sakit! Chaeri-sshi, tapi berkatmu juga aku jadi bisa melihat langsung bagaimana sosok mayat yang…”

PLETAK!

Kali ini ada sebuah sandal yang melayang dan mendarat mulus di kepalanya dari dalam dorm. Chaeri yang penasaran melongokkan kepalanya ke dalam, “Apa ada orang lagi selain kalian? Tadi saat siuman aku sempat melihat Kim Sulca.”

“Kim Sulca?” sahut Leeteuk dan Donghae bersamaan.

“Iya. Tapi sepertinya tak mungkin. Mungkin saja karena aku yang belum sadar sepenuhnya. Baiklah, aku pulang dulu. Sampai jumpa.”

“Chaeri-sshi, biar kuantar…,” tawar Donghae.

“Tak usah! Sampai jumpa…”

“Ne, annyeonghi gaseyo.”

Chaeri berjalan menuju lift dan menghilang dibaliknya. Sedangkan setelah menutup pintu, Leeteuk langsung masuk menghampiri Heechul. “Kenapa kau tak menampakkan wajahmu di hadapannya?”

“Aku takut.”

“Takut? Wae, wae, wae?”

“Kim Sulca yang dia maksud itu…aku. Kami bertemu saat aku dalam keadaan berpakaian menyamar dan terpaksa mengenalkan diriku sebagai Kim Sulca. Aku tak ingin dia mengetahui kalau Sulca itu sebenarnya aku.”

“Nama yang aneh! Kenapa dia bisa percaya begitu saja? Hyung, kenapa terpikir nama Sulca?” tanya Donghae.

“Itu gabungan dari Sulli-Jessica!”

Donghae mengangguk-angguk, “Jika aku berpakaian wanita, berarti namaku…DONGBER? Atau AMHAE? Ah, jika disatukan dengan nama Amber jadi buruk sekali!”

“Kalau begitu aku juga dengan Taeng…mmm… TeukYeon? Atau LeeTae? Atau…”

“Tapi, Hyung, jika dengan YoonA bisa jadi namaku menjadi…DongYoon atau…DonA???”

“Haisssshhh, babo!” umpat Heechul lalu pergi menuju kamarnya meninggalkan Leeteuk dan Donghae yang masih asyik memilih-milih nama.

+++++++

Keesokan harinya…

SEBELUM berangkat kerja, Sangmi membuatkan roti isi dan menyiapkannya di meja makan. Hampir seluruh penghuni Babo’s House masih terlelap kecuali dia, Myu Ra, dan Jin Rin. Mereka sibuk mempersiapkan semua kebutuhan para Babo.

“Ki Young-ah, Hyeonnie-ah, bangun! Kalian harus sekolah. Ini hari kedua kalian belajar, jangan sampai terlambat!” teriak Sangmi.

“Eonni, aku berangkat sekarang. Aku harus pergi membeli jimat keberuntungan sebelum memulai presentasiku,” pamit Jin Rin.

“Ne, hati-hati. Semoga beruntung,” sahut Myu Ra dan Sangmi bersamaan.

Dari kamar Hyeon muncul sembari menguap dan mengucek mata, masih dengan piyamanya. Rambutnya benar-benar berantakan. Di pipinya terdapat tulisan-tulisan rumus matematika. “Eonni-eonniku sayang, pagi…”

“Pagi.”

“Aigoo, Hyeon-ah, kau tertidur lagi di meja belajar? Pipimu lagi-lagi penuh dengan rumus. Ayo cepat mandi!”

“Jincha-yo? Hoaaaammm…,” sahutnya seraya masuk ke kamar mandi belakang.

“Hyeon di kamar mandi belakang? Baiklah aku pakai yang ini,” ujar Myu Ra dan masuk ke kamar mandi utama. Tak lama kemudian, “KYAAAA~”

“Eonni, gwaenchanayo?” tanya Sangmi panik di depan pintu kamar mandi.

Myu Ra keluar dengan wajah masam, “PUNYA SIAPA INI?” teriaknya seraya mencuil sebuah boxer berwarna pink.

“Molla…”

Seluruh Babo yang sedang tidur pun terpaksa bangun karena teriakan Myu Ra. Berbondong-bondong mereka menuju asal suara. Ketika ditanya satu per satu perihal kolor tersebut, pertanyaan itu stuck pada Ki Young.

“Sepertinya milik Sungmin-oppa. Kemarin dia numpang mandi di sini dan mungkin itu tertinggal…”

“Mwo? Kau mengizinkannya masuk ke kamar mandi kita? Aigoo…”

Hyeon keluar dari kamar mandi dan langsung mengerti apa yang sedang dibicarakan, “Habisnya kemarin Sungmin-oppa terlihat sedang berjuang melawan mati. Dan bilang akan meledak. Karena kasihan, jadi kami izinkan masuk.”

“’Kami’? Siapa yang kau maksud ‘kami’?” interogasi Myu Ra galak.

“Aku dan Ki Young-eonni,” jawab Hyeonni takut.

Tanpa banyak bicara, Myu Ra beranjak dari tempatnya dan pergi keluar rumah. Dengan kesabaran yang mulai menipis ia menekan interphone dorm SJ dengan penuh nafsu.

Siapa?” tanya seseorang di dalam.

“Tetanggamu!” Tak lama kemudian pintu terbuka dan kebetulan sekali Sungmin yang membukanya, “Kau yang bernama Lee Sungmin?”

Sungmin mengangguk, menatap lekat-lekat wajah tamunya di pagi buta, “Ya, aku. Ada apa?”

Myu Ra melemparkan boxer tersebut tepat ke wajah Sungmin, “Pertama, aku keberatan jika kau memasuki rumah kami tanpa izin dariku sebagai anggota tertua. Kedua, seribu kali aku lebih keberatan melihat benda menjijikan itu ada di kamar mandi rumah kami…”

“Lalu apa yang kau inginkan?” sela Sungmin enteng.

“Mwo? Aisshhh… Hyaaa, aku tak peduli kau artis papan atas atau apa. Yang kubutuhkan adalah kau meminta maaf pada kami! Karena kau sama saja merendahkan harga diri kami.”

“Agashi, kau terlalu berlebihan. Boxer ini tak ada hubungannya dengan merendahkan harga dirimu. Lagipula yang seharusnya meminta maaf itu kau, karena telah mengganggu ketenangan penghuni apartement.”

“Ne?” perlahan-lahan Myu Ra menolehkan kepalanya dan mendapati beberapa tetangga yang lain mengintip dari celah pintu rumah mereka dan menggerutu, “Oh, jwaesonghamnida…,” ucapnya lembut dan langsung memutar kepalanya untuk menghadap Sungmin dan berniat menyemburkan amarahnya lagi. Namun tak hanya Sungmin yang ada di balik pintu, tetapi juga Kyuhyun. “Omo,” pekiknya.

“Oh, Myu Ra-sshi, annyeong haseyo,” sapa Kyuhyun.

“Ah, ne. Ann-annyeong haseyo.”

“Sudah kan, tak ada lagi?” tanya Sungmin, “Jadi namamu Myu Ra? Ehm, Myu Ra-sshi, demi memarahi tetanggamu yang kau anggap kurang ajar ini. Kau sampai lupa kalau saat ini kau masih mengenakan gaun tidur?”

“Ne?” gumam Myu Ra lemas dan melihat tubuhnya, “KYAAA~” teriaknya seraya berlari meninggalkan mereka dan masuk ke dalam rumah.

“Cih, dasar wanita aneh! Beruntung aku bukan pria jahat. Imanku masih kuat untuk melihatnya berpakaian tipis seperti itu,” Sungmin melirik Kyuhyun, “Hyaaa, kenapa wajahmu memerah?”

“Ne? Ah, aniyo,” sahut Kyuhyun seraya menggaruk-garuk kepalanya, “Hyung, katanya dia itu masih keluarganya Chaesa.”

“Ne?”

“Iya, termasuk Chaesa, jumlah mereka ada sembilan,”ujar Kyuhyun tersenyum polos.

Sungmin menoleh secepat kilat, “Mworago? Itu berarti masih ada Chaesa-Chaesa yang lainnya? Astaga, ini kiamat!!!”

..to be continued..

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s