SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part VI]


AUTHOR: DIYAWONNIE.MINHO

“Ahjumma, tolong berikan aku sebuah jimat keberuntungan agar presentasiku hari ini berhasil!” pinta Jin Rin. Ahjumma penjual jimat itu memberikannya satu jimat dan Jin Rin menerimanya, “Ah, kamsahamnida. Ini uangnya…”

“Semoga presentasimu lancar.”

“Ne, kamsahamnida, Ahjumma.” Ia mengikatkan jimat di pinggir tasnya. Kemudian membetulkan tali sepatunya yang terlepas.

“Ahjumma, tolong berikan aku jimat yang bisa membuatku semakin keren dan tampan di atas panggung!” pinta seorang pria di sampingnya.

Setelah selesai mengikat tali sepatunya, Jin Rin bangkit dan mengambil kertas-kertas hand-out yang sengaja ia simpan di atas tumpukan jimat. Ia menoleh untuk melihat sosok pria di sampingnya. Pria itu berbalik memunggungi kios serta memegang erat jimat dengan kedua tangannya. Ia mengenakan hoodie yang hampir menutupi sebagian wajahnya. Jin Rin sedikit mundur untuk melihat apa yang sedang dilakukan pria itu.

“Tuhan, kumohon buatlah aku menjadi superstar yang membuat semua penggemar wanita bertekuk lutut di hadapanku. Dan buatlah aku menjadi semakin tampan di hadapan mereka. Dan…,” pria itu berpikir sejenak lantas berbalik, “…Ahjumma, aku juga ingin jimat untuk kelancaran jodoh.”

Jin Rin terbengong-bengong mendengar doa pria itu.

“Tuhan, tunjukanlah kuasa-Mu saat ini juga. Kirimkanlah jodoh untukku. Jebaaal~ Aku sudah sangat tua tetapi masih saja sendiri,” pria itu menoleh ke samping karena merasa ada yang sedang memperhatikannya, “Waeyo?”

Jin Rin terkesiap, ia merasa seperti maling yang tertangkap. “Ah, aniyo. Jwaesonghamnida,” sahutnya buru-buru merapikan hand-outnya dan pergi dari sana.

“Jamkkanman-yo!” teriak pria itu. Jin Rin terpaku di tempatnya dan pria itu berlari kecil menghampirinya, “Boleh kutahu siapa namamu?”

“Maaf, aku tak bisa bicara dengan orang asing. Semoga kau beruntung digilai wanita. Selamat tinggal,” ujar Jin Rin ketakutan dan segera berlari meninggalkan tempat itu.

“Jamkkanman-yo, Agashi. Agashi~”

+++++++

TAEMIN memasuki gerbang sekolah dengan kepala merunduk. Ia tak ingin mengangkat kepalanya karena belasan kamera handphone tengah menyerbu. Setiap hari selalu seperti ini. Penggemarnya tak pernah puas mendapatkan fotonya dalam keadaan berseragam. Dalam hitungan detik hasil jepretan tersebut dengan sangat cepat akan tersebar luas di dunia maya.

“Kasihan sekali dia,” ujar Hyeon yang berjalan di belakang rombongan Taemin.

“Resiko menjadi artis seperti itu,” sahut Ki Young, “Aku ke kelas, Hyeonnie-ya, jaga pangeranmu baik-baik!”

“Eonni!” protes Hyeon dengan wajah memerah. Ia meneruskan perjalanannya menuju kelas. Setelah masuk pun Taemin masih saja dikerubuti, tapi kali ini bukan penggemarnya melainkan beberapa senior lelakinya.

“Kalian para perempuan bodoh, bubar! Ini bukan fanmeeting! Hey artis, aku benar-benar muak melihatmu. Lihat rambut kuningmu! Sangat mencolok. Kau ingin menjadi satu-satunya yang tampil berbeda dari kami? Kau ingin membedakan statusmu dengan kami? Benar-benar berniat menjadi pusat perhatian, hah?” teriak lelaki gendut-plontos salah satu dari mereka.

aemin masih menunduk dan menyahutnya pelan, “Aku…masih terikat kontrak.”

“Terikat kontrak? Kau mau menyombongkan hal itu pada kami?”

“Ne, bukankah kemampuanmu itu hanya menari? Bahkan suaramu saja tidak terlalu bagus.”

Hyeon geram mendengarnya, baru kali ini ia tahu ada hal seperti ini. Saat hari pertamanya bersekolah, kejadian ini tak ada. Ia membalikkan tubuhnya ke belakang menghadap mereka semua. Memperhatikan dengan seksama.

“Wajahnya biasa saja, juga tidak terlalu tinggi. Kau juga memiliki jerawat sama seperti kami, ya walaupun tak sebanyak diriku, tapi kau benar-benar menyebalkan!”

“Lalu apa yang sunbae inginkan dariku?” tanya Taemin pasrah.

Anak lelaki yang mengaku dirinya sebagai ketua geng tersebut menarik jas seragam Taemin, “Kau menantangku? Kau tak memiliki siapa-siapa di sini. Hyung-hyung SHINee-mu yang konyol itu tak dapat menolongmu…”

“Lalu kalian akan mengeroyoknya? Seperti halnya lelaki busuk pengecut yang hanya berani menindas hoobaenya?” sela Hyeon, kini kedua tangannya sudah terlipat. Ia berdiri sangat angkuh.

“Hyaaa, bicara apa kau anak baru? Berani menantang kami berarti mencari mati!” teriak salah satu anak buahnya.

“Oh ya? Memang apa yang akan kalian lakukan padaku? Memukul, menendang, menjambak, atau membunuh?”

“Soo Hyeon-sshi, bicara apa kau? Tak usah ikut campur. Kau kembali saja ke bangkumu!” pinta Taemin.

“Aniyo, aku tak suka melihatmu hanya pasrah seperti itu,” Hyeon menatap galak si cowok gendut-plontos yang masih mencengkeram erat jas seragam Taemin, “Hyaaa, lepaskan dia atau…”

“Atau apa?” teriak balik pria itu seraya menguatkan cengkeramannya.

KLIK! Hyeon memotret cowok itu dengan kamera hp-nya. “Atau kusebarkan wajah jelekmu ini di dunia maya. Agar kau tak dapat hidup tenang karena pasukan penggemarnya akan berburu untuk membunuhmu.”

Cowok itu melonggarkan cengkeramannya, pertahanannya mulai goyah. Sedangkan beberapa anak buahnya bersiap merampas hp Hyeon. Ia berlari mengelilingi bangku menghindari mereka semua dan berteriak agar Taemin berlari meninggalkan kelas. Taemin menurut, ia berlari keluar kelas dan spontan para penggemarnya di kelas menyerbu mengeroyok sunbae mereka sehingga memudahkan Hyeon untuk lolos dan berlari keluar kelas.

Taemin menunggunya di luar. Ketika ia melihat wajah Hyeon, ia langsung menarik tangan gadis itu dan membawanya ke atap sekolah. Setelah sampai, keduanya berusaha mengatur napas mereka.

“Baboya?!” teriak Hyeon, “Kenapa diam saja diperlakukan seperti itu?”

“Kau pikir aku suka? Manager-hyung dan SHINee-hyung memintaku untuk bersabar tak melawan mereka. Aku bisa menghancurkan reputasi SHINee jika berbuat sesukaku. Ah, aku ingin segera lulus.”

Hyeon berjalan mengikuti Taemin menuju pagar balkon. “Sudah berapa lama seperti ini?”

“Sejak masuk ke sini. Awalnya aku berencana pindah, tapi perusahaan melarangku. Karena akan terjadi kesalahpahaman antara aku, pihak sekolah, perusahaan, dan fans,” Taemin menghela napas sejenak, “Sekolah bagiku sama saja dengan neraka. Aku lebih senang mempunyai jadwal yang sangat padat tanpa waktu istirahat daripada harus kembali kemari.”

Hyeon tertegun mendengarnya. Ia tak menyangka kalau Taemin mempunyai masalah sepelik itu. Bukankah remaja seumur mereka menghabiskan waktunya hanya untuk belajar, bermain, dan merasakan kebebasan? Taemin sangat berbeda. Ia bahkan terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan wajah dan umurnya.

“Mianhaeyo, aku sudah bicara sembarangan.”

“Gwaenchana. Kau orang pertama yang berani melawan mereka. Gomawoyo, Soo Hyeon-sshi,” ucap Taemin dengan senyum merekah di wajahnya.

Seketika wajah Hyeon memerah. “Taemin-sshi, panggil saja aku Hyeon!”

“Oh, ne. Menurutmu apa keadaan kelas sudah terkendali? Sekarang kita harus ke bawah untuk mengikuti ujian matematika.”

“Omo, aku hampir saja lupa. Ayo, kita ke bawah!” ajak Hyeon dan Taemin menggenggam tangannya.

+++++++

CHAERI berteduh di bawah sebuah pohon rindang, menatap ngeri pada rantai sepedanya. Akibat kejadian semalam, rantai sepedanya lepas keluar alur. Belum lagi helm miliknya retak akibat benturan yang lumayan keras. Ia duduk bersandar pada batang pohon mencoba mengutak-atik rantainya.

Dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikannya. Ia mencoba berjalan menghampiri Chaeri dan menyapanya. “Park Chaeri?” sapanya meyakinkan.

“Mau kemana kau? Ayo pulang! Hyaaa, Kim Hee…,” Heechul segera membekap mulut Leeteuk dan menendangnya untuk segera pergi. Mereka berdua baru saja pulang belanja dari supermarket dan mampir sebentar ke pusat perjimatan.

Chaeri mendongak, “Annyeong… Aigoo, sedang apa kau di sini?”

“Harusnya aku yang bertanya. Sedang apa kau di sini?” Heechul memperhatikan sepeda Chaeri, “Rantainya lepas?”

Chaeri mengangguk, “Semalam aku terjatuh. Kemari duduk! Diam di sana kulitmu bisa terbakar. Hari ini panas sekali.”

Heechul menurut, ia duduk di samping Chaeri dan menaruh barang belanjaannya. Kemudian ia menarik rantai yang sedang dipegang Chaeri dan mulai memasangkannya.

“Tak usah. Nanti tangan dan bajumu kotor.”

“Tak apa. Aku bisa melakukannya. Aku membeli banyak snack, kalau kau mau ambil saja!”

“Ah, gomawo,” tanpa sungkan Chaeri meraih kantong plastik dan merogoh isi belanjaannya. “Oh ya, siapa orang yang bersamamu tadi? Kenapa memanggilmu dengan sebutan ‘Kim…i’?”

“Oh, itu oppaku. Di rumah aku memang suka dipanggil…mmm…Kim…mie. Ne, Kimmie.”

“Kimmie? Ahahahaha~ Namamu benar-benar unik, nggak ada normal-normalnya sama sekali. Aku juga akan memanggilmu Kimmie. Boleh kan?” pinta Chaeri dan Heechul mengangguk mengizinkan, “Mmm, Kimmie-ya, ini kedua kalinya kita bertemu tetapi aku merasa sudah dekat sekali denganmu.”

Kimmie a.k.a Heechul tersenyum, masih berkutat dengan rantainya. Namun ia menemukan sebuah tempelan nama di palang sepeda, “Shim Chaesa? Kau penggemarnya?”

Chaeri sedikit kelabakan namun ia berhasil menguasai diri, “Kimmie-ya, ayo kita berbagi cerita!”

Kimmie berhenti sejenak untuk menoleh ke samping kanannya, “Cerita? Mmm… Ide bagus. Kau mulai duluan!”

“Aku? Baiklah… Aku percaya padamu 100%, Kimmie-ya. Jadi kumohon jaga rahasia besarku ini!” Kimmie mengangguk dan Chaeri melanjutkan pembicaraannya, “Sedari lahir aku memang ditakdirkan sendirian. Tak ada ayah dan ibu yang bertanggung jawab atasku. Pengurus panti bilang kalau aku diletakkan di depan pintu seminggu setelah dilahirkan. Aku bukan anak yang diinginkan, mereka membuangku. Aku tumbuh dan besar sebagai bagian dari panti asuhan Cheonsa. Sedari kecil Sarababo memang selalu bersama, sehingga ketua panti sengaja menempatkan kami di paviliun yang berbeda dengan yang lainnya. Juga dikarenakan kami sama sekali tak ingin diadopsi. Kimmie-ya, kau tahu Shim Chaesa ‘kan?”

Kimmie mengangguk, “Shim Chaesa member Squash?”

“Ne. Nama yang terpasang di palang sepeda itu memang dia. Dia salah satu member Sarababo. Di umur yang ke-15 dia nekat mengikuti audisi SM dan hijrah ke Seoul ketika berhasil lolos. Sssst! Kimmie-ya, cerita ini benar-benar rahasia besar. Dia mengikuti audisi SM karena ingin menyusul Jaejoong-sshi. Chaesa sangat mencintainya. Berharap pergi menyusulnya dengan maksud agar lebih dekat, namun sebenarnya Jaejoong tak memiliki perasaan apapun dan Chaesa benar-benar tidak peka.

Di umurnya yang ke-20, Chaesa melakukan debut. Popularitasnya langsung mencuat karena dibantu dengan ketenaran yang dimiliki Yoo Seungho yang telah debut duluan sebagai aktor. Hal ini membuat Chaesa terbebani karena perusahaan berusaha menutupi jati dirinya yang asli. Ia tak pernah lagi pulang ke Chungnam. Mereka merahasiakan keberadaan kami. Bagi mereka, seorang idol yang terlahir dari kehidupan panti adalah buruk dan akan menurunkan ketenaran idol tersebut.

Suatu hari salah satu dari mereka datang mengunjungi kami dan berusaha membujuk kami untuk tidak membuka mulut dari mana Chaesa berasal. Setelah itu, mereka melakukan kebohongan dari mana asal-usul Chaesa. Mereka mengarang cerita sendiri dengan mengatakan kalau dia berasal dari keluarga terhormat pencinta musik yang sangat sibuk melakukan bisnis di luar negeri. Cih… Tapi sebagian cerita itu memang benar. Chaesa memang dilahirkan dari keluarga pecinta musik, kurang lebih begitulah yang dikatakan dalam surat yang mengantar Chaesa masuk panti.

Ia diberkahi sebuah nama dengan arti yang sangat indah. Shim Chaesa, anak berbakat dari keluarga Shim. Dia memang anak ajaib yang bisa memainkan hampir seluruh instrument musik. Hanya saja sifatnya sangat ceroboh dan sering berkelakuan buruk.”

Chaeri memberikan minumnya pada Kimmie yang sudah mulai berkeringat dan melanjutkan pembicaraannya, “Beberapa waktu lalu Myu Ra-eonni lolos seleksi dan mulai bekerja di SBS walaupun statusnya masih sebagai trainee dan pegawai kontrak, begitu pula dengan Sangmi-eonni yang dimutasi. Mereka tak mampu meninggalkan kami berenam. Maka kami pun ikut diboyong kemari di mana sebelumnya mereka berdua datang memohon pada SM untuk mengizinkan mereka tinggal di Seoul dengan menandatangani surat perjanjian bahwa kami tidak akan membocorkan rahasia Chaesa. Masalah perjanjian ini Chaesa sama sekali tak tahu. Kami tak ingin ia semakin terbebani.”

“Kenapa kau harus bekerja sebagai guru privat?”

“Karena memang hanya itu kemampuanku. Aku lebih senang mengerjakan tumpukan soal hitungan daripada bekerja di kantoran. Lagipula jika aku tak bekerja, Sarababo mau makan pakai apa? Gajiku menanggung seluruh biaya makan. Sedangkan gaji Myu Ra-eonni dan Sangmi-eonni menanggung biaya sewa apartement, dan Chaesa menanggung biaya kuliah dan sekolah para Babo.”

“Aku tak menyangka kalian seluar biasa itu. Jadi, kau dan Chaesa bersaudara? Aigoo, aku baru tahu.”

Chaeri menatap lekat gadis di sampingnya, “Apa kau…masih ingin berteman denganku?”

“Kenapa tidak? Chaeri-ya, dengarkan aku! Kau berandalan atau pembunuh sekalipun, aku tetap akan menerimamu sebagai temanku. Baiklah, ayo kita melakukan perjanjian,” ajak Kimmie sembari mengacungkan kelingkingnya. Chaeri mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Kimmie.  “Chingu!” ucap Kimmie lantang.

“Ne, chingu,” sahut Chaeri dan ia langsung memeluk Kimmie.

Kimmie atau yang sebenarnya adalah Heechul sangat terkejut dengan kejadian tiba-tiba tersebut. Seketika wajahnya memerah. “Mmm… Chaeri-ya, ra-ra-rantainya…”

+++++++

“Sudah siang, mau sampai kapan kau di sini?” tanya Seera kejam.

“Seera-ya, semalam aku sudah menolongmu pulang ke rumah. Apa ini balasanmu?” protes Chaesa.

“Oh, jadi kau tak ikhlas menolong kami? Semalam aku dan Sooran-eonni memang tak ada uang, makanya terpaksa meminta bantuanmu. Lagipula yang mengantar kita pulang kan Siwon-ahjusshi…”

“Ne, ne, ne? Siwon-ahjusshi? Aigoo, kalau oppa mendengarnya kau akan habis dilindas hellikopter miliknya!”

Seera hendak membalas perkataan Chaesa, namun terhenti saat mendengar kata ‘hellikopter’. “Apa kau bilang? Hellikopter? Apa dia sekaya itu?”

Chaesa memukul-mukul mulutnya dan memandang sebal ke arah Seera di mana matanya sudah bermunculan tanda dolar. “Mo-molla,” sahutnya seraya menyambar tasnya dan pergi dari sana. Ia keluar dengan tergesa-gesa. Berharap Seera tak mengejarnya.

Di pintu masuk apartement tak sengaja ia bertemu dengan Siwon.

“Chaesa-ya? Kau mau kemana?”

“Siwon-oppa? Ah, aku mau pulang dulu ke dorm untuk mengambil baju, setelah itu latihan.”

“Biar kuantar. Ayo!” Siwon menarik tangan Chaesa dan mengajaknya untuk masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian, mobil mereka melesat keluar kawasan apartement.

“Sedang apa oppa di sana?”

“Aku menginap di dorm SJ. Karena terlalu larut untuk kembali ke rumah dan keadaan tubuhku sedang kurang fit…”

“Jincha-yo? Ah, mianhaeyo semalam sudah merepotkanmu.”

“Gwaenchana,” ujar Siwon lantas tersenyum dan memandang Chaesa hangat. “Ya, sudah sampai. Kutunggu di sini atau…”

“Tak usah! Aku masih harus mandi dan mendiskusikan beberapa hal dengan Seungho dan Kyeon. Oppa pulang saja! Kau benar-benar terlihat sangat letih. Aku tak ingin oppa sakit. Aku masuk dulu, oppa hati-hati di jalan!”

“Baiklah, sampai bertemu di kantor. Annyeong!”

Siwon menancap gas mobilnya dan melesat keluar kawasan dorm Squash lalu menghilang. Chaesa berbalik untuk masuk ke dalam, namun di pintu masuk Kyeon sudah berdiri menunggunya.

“Hebat sekali! Seorang leader membuat anak-anaknya stress. Kenapa eonni tak memberitahu kami dulu kalau tak pulang? Hpmu tak dapat dihubungi, kami benar-benar cemas dan takut. Membayangkan bagaimana kalau kau diculik anti fans atau bahkan dikuliti oleh mereka…”

“Hyaaa, bicara apa kau?! Aku lupa, maafkan aku! ”

Kyeon tersenyum lalu berjalan menghampiri Chaesa dan mengaleng bahunya, “Eonni, jadi Siwon-oppa adalah ‘yeobo’ yang selama ini kau sebut-sebut itu?”

“Mwo?! Aigoo…dasar kau bocah sok tahu! Hyaa, turunkan tanganmu dari bahuku! Mentang-mentang kau lebih tinggi.”

“Eonni, kenapa hanya Seungho yang diberitahu? Aku juga ingin tahu siapa yang selama ini kau sebut-sebut ‘yeobo’ itu.”

“Untuk apa? Bukan urusanmu! Nanti kalau waktunya sudah tiba, aku akan memberitahukannya padamu.”

“Aigoo, pelitnya! Oh ya, Eonni, Seungho stress tuh. Semalaman tak tidur karena menunggumu. Kupikir dia mulai gila.”

“Ne?” pekik Chaesa khawatir dan segera berlari naik ke atas.



..to be continued..

+++++++

2 thoughts on “SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part VI]

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s