SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part VII]


AUTHOR : DIYAWONNIE.MINHO

“Hyung, tolong berhenti dulu di depan!” pinta Wookie.

Supir memarkirkan pick up yang mereka tumpangi di depan sebuah bank. Hampir seluruh member SJ yang ada di sana menoleh heran ke arahnya. Dia menyiapkan sebuah tas berukuran sedang yang sedari tadi didekapnya erat-erat.

“Mau apa kamu?” tanya Leeteuk.

“Aku mau nabung,” jawab Wookie cuek.

“Nabung?” sahut semuanya dan Wookie mangangguk meyakinkan sembari menepuk-nepuk tasnya.

“Apa isi tas itu? Uang?” tanya Kangin geli dan Wookie lagi-lagi mengangguk.

“MWO?!” timpal semuanya. Mereka memaksa Wookie untuk membuka tasnya dan takjub melihat gepokan uang kertas dan beberapa plastik uang koin. “ASTAGA~”

“Ini semua dari celengan babiku. Karena udah penuh, kuputuskan untuk menyimpannya di bank,” Wookie menutup wajahnya dengan sebuah masker lalu membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Namun langkahnya terhenti dan melongokkan kembali kepalanya ke dalam mobil, “Nggak ada yang mau mengantarku?”

Mereka semua mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Gimana kalau aku dirampok?” rengek Wookie.

“Ya udah pilih aja sesukamu,” sahut Leeteuk.

Wookie terlihat berpikir sejenak, “Aku mau…Kangin-hyung dan Siwon-hyung.”

“MWO?! Kenapa aku?” sahut mereka bersamaan.

“Tubuh kalian besar dan pandai bela diri. Jadi sangat cocok kujadikan bodyguard…”

“Hyaaa,” teriak Kangin melemparkan sebuah botol plastik kosong ke tubuh Wookie, “Aisshhh… Ya sudah, ayo! Kau membuang waktu kami.”

Kangin dan Siwon mengenakan topi dan kacamata, lantas mereka keluar dari mobil. Wookie berjalan lebih dulu sehingga membuat mereka terlihat benar-benar seperti majikan dan bodyguard. Mereka memasuki bank, Wookie lanjut berjalan untuk mengantri di barisan menuju teller, sedangkan Kangin dan Siwon memilih untuk duduk.

“Annyeong haseyo, ada yang bisa kubantu?” sambut seorang teller saat Wookie berjalan mendekat.

“Aku mau nabung,” sahutnya sibuk melepaskan tas dari kalungan lehernya dan mendongak, “Ka-kau?”

“Ne?”

“Ah, aniyo,” Wookie sedikit gugup dan agak takut, “Ini uangnya.”

Sangmi syok saat sebuah tas bergemerincing bunyi uang koin diletakkan di hadapannya. Wookie mengeluarkan buku tabungan dan menyerahkannya pada Sangmi yang langsung membukanya dan membaca nama yang tertera di sana.

“Kim Ryeowook?” tanyanya heran lantas menatap Wookie lekat-lekat, “Oh kau…” Dengan sangat profesional Sangmi menghitung semua uangnya. Ia melayani nasabahnya dengan baik, walau agak sedikit jengkel. Setelah selesai, ia menyerahkan bukunya pada Wookie. “Silakan, Ryeowook-sshi. Terima kasih atas kepercayaan Anda untuk tetap menggunakan jasa kami. Semoga harimu menyenangkan, selamat siang.”

“Ne,” sahut Wookie terkesiap melihat senyuman yang Sangmi berikan. Wookie menerima buku tabungannya dan segera meninggalkan tempat teller. Sangmi memperhatikan punggungnya yang pergi semakin menjauh lalu mengalihkan pandangannya ke nasabah yang akan dilayaninya sedang mengacung-acungkan sebuah tas hitam.

“Oh, itu miliknya. Ahjusshi, silakan ke teller lain! Aku harus mengantarkan ini. Jwaesonghamnida.” Sangmi menyambar tasnya dan berjalan terburu-buru menuju pintu keluar. Dilihatnya Wookie akan memasuki pick up-nya. “Ryeowook-sshi!”

Wookie menoleh ke asal suara. Sangmi berlari kecil menghampiri dan menyerahkan tasnya.

“Astaga, aku lupa. Sangmi-sshi, neomu gomawoyo.”

“Ne, cheonmaneyo. Kau sangat ceroboh sekali, walaupun hanya sebuah tas, aku tahu kalau harganya tak semurah harga sepatumu,” omel Sangmi seraya menunjuk sepatu Wookie yang memang seharga dengan belasan karung beras.

“Ke-kenapa galak lagi? Bukannya tadi sudah tersenyum di dalam?”

“Itu profesionalitasku yang bekerja harus selalu ramah pada seluruh nasabah tak peduli siapa orangnya. Sekarang sudah tak di dalam lagi, jadi untuk apa tersenyum?!”

Wookie berjalan menghampirinya dan tersenyum, “Wah sayang sekali. Padahal kamu lebih manis tersenyum.”

DEG!

Sangmi mundur selangkah dan menutupi mulutnya dengan punggung tangan, kepalanya menunduk. “A-aku harus segera kembali. Jangan ceroboh lagi!” ujarnya terbata-bata dan berbalik pergi meninggalkan Wookie yang terus memandanginya berlari.

“Cieee…,” goda para member, manager, sekaligus si supir dari dalam mobil yang masing-masing dari mereka melongokkan kepalanya melalui kaca yang sengaja dibuka.

“Wookie-ya, mau sampai kapan memandanginya? Kita sudah hampir terlambat. Kaja!” teriak Leeteuk. Wookie berbalik dan masuk ke dalam mobil dengan wajah memerah.

+++++++

“Chaesa-noona, dipanggil manajer-noona tuh di kantornya,” ujar Minho.

“Ne? Oh, gomawo, Minho-ya.” Chaesa menaruh tasnya di loker dan segera mendatangi sebuah ruangan berukuran sedang yang didiami oleh seorang wanita berumur 25-an yang menjabat sebagai manajer Squash. Chaesa mengetuk pintu dan masuk setelah dipersilakan. “Eonnie memanggilku?”

“Cepat kemari!”

Chaesa berjalan menghampiri meja kerja dan menunduk di depan sebuah komputer yang ditunjuk Kang Hae Byul. Di sana ia melihat gambarnya sendiri sedang berada di apartement Sarbob tadi pagi. Artikel tersebut berjudul: “Squash Shim Chaesa Menginap di Dorm Super Junior???”

“Ne?! Tapi aku kan menginap di tempat Sarbob…”

“Terus kau akan bilang pada semua orang kalau kau tidur di tempat saudaramu sehingga jati dirimu terungkap?”

Chaesa terdiam sejenak kemudian menjawab, “Sudah sejak awal kubilang, kenapa tak mengatakan yang sebenarnya pada publik? Ini namanya pembohongan! Lambat laun juga akan terbongkar…”

“Jangan biarkan mereka membongkarnya kalau begitu, atau jangan sampai kau sendiri yang membongkarnya. Kau tahu bagaimana konsekuensinya. Kehidupan keluargamu takkan setenang sekarang. Mereka juga pasti akan diikuti penggemarmu. Lain kali jangan menginap lagi di sana! Sekarang pikirkan alasan untuk mengelak jika ada wartawan yang menanyaimu, arasseo?!”

“Ne, araseumnida. Aku latihan dulu, sudah telat…”

“Bawa ini!” Hae Byul melempar sebuah kotak sepatu dan Chaesa menangkapnya, “Berlatihlah menggunakan itu! Karena kau akan menggunakannya saat konser nanti. Kyeon sudah mengambilnya tadi. Sudah, sana latihan!”

“Ne, gomawoyo…”

+++++++

“Ah, cantiknya,” puji Jaejoong.

“Benarkah? Hae Byul-eonni memang pintar memilih sepatu. Tapi… Oppa, apa tak terlalu aneh aku menggunakan hak tinggi seperti ini?” tanya Kyeon.

“Aniya, justru kakimu semakin cantik,” Jaejoong memperhatikan Kyeon lebih lama, “Wow, tinggimu bertambah tujuh senti. Aigoo, syukurlah aku masih lebih tinggi darimu…”

“Jaejoong-oppa, kakiku lebih cantik dari kaki Kyeon. Lihat!” ujar Chaesa tak mau kalah.

“Cih, kaki pendek seperti itu apa yang mau dibanggakan?” ejek Jaejoong.

“Aigoo, aigoo, kejamnya! Aihhh, jadi kita akan menari mengenakan sepatu ini?” keluh Chaesa.

Kyeon mengangguk, “Cuma satu lagu kok, Eon.”

“Kenapa kita harus ikut? Haishhh, ini gara-gara usul gilamu meminta seluruh artis wanita berkolaborasi. Aku korbannya! Kau pandai menari, sedangkan aku? Omo, mana harus menarikan Nu ABO. Micheosseo!”

Kyeon tersenyum seraya menggelengkan kepalanya dan mulai berlatih, sedangkan Jaejoong berjalan menghampiri Chaesa yang masih sibuk berkutat menalikan high heelsnya. “Hey, hey, jangan menekuk wajahmu seperti itu! Jelek sekali. Tenang saja, ada empat setengah yeoja yang akan mengajari Nu ABO…”

“Empat setengah?”

Jaejoong nyengir, “Aku masih ragu Amber itu yeoja atau namja…”

“Yaaa, Yeobo…”

“Sudah kubilang hentikan memanggilku seperti itu!”

“Cih, sebenarnya suka kan kupanggil begitu? Kalau tidak, untuk apa kau menjadikanku pasangan skandalmu kemarin di acara pernikahan Kang Rae Won? Masih sempat pula menggandeng tanganku sambil mengumbar senyum…”

Jaejoong tak menyahut, ia malah mengalihkan pandangannya ke arah Kyeon yang sedang sibuk berlatih. Anak itu memang pandai menari sejak awal dan sempat dimasukkan ke sebuah group bernama F(x) sebagai member keenam. Namun rencana itu kembali diurungkan beberapa bulan sebelum F(x) debut dan mencabut Kyeon lalu memindahkannya ke dalam group Squash karena kemampuannya memetik senar bas di luar rata-rata. Hal itu tak pernah disesali olehnya. Menurutnya, menjadi member dari sebuah group band seribu kali lebih menyenangkan dibandingkan menjadi member sebuah dance group karena ia tak perlu berlatih menari hingga keringat bercucuran.

Kyeon melompat beberapa kali untuk menyesuaikan kaki dengan sepatu hak tingginya. Namun lantai kayu yang dipijaknya licin karena cipratan keringat dari beberapa orang yang juga sedang berlatih. Ia terpeleset, “A-a-a-a… Kyaaaa~”

Chaesa dan Jaejoong dengan sigap berlari ke arah Kyeon untuk menyelamatkannya agar tak terjatuh. “Kyeon-ah,” teriak Jaejoong dan berhasil menahan tubuh Kyeon sehingga sekarang posisi Jaejoong berjongkok dengan tangan menopang punggung Kyeon.

BRUUUKKK!

“Chaesa-ya,” teriak mereka semua yang ada di sana kecuali Jaejoong dan Kyeon. Chaesa jatuh dengan posisi mengenaskan. Ia jatuh menelungkup dengan kaki kanan terjepit paha kiri. Super Junior yang baru datang dan masuk ke dalam ruang latihan langsung syok disuguhkan pemandangan menyiksa seperti itu. Siwon dan Yesung segera berlari untuk membantu Chaesa bangun.

“Gwaenchana?” tanya mereka sambil menggendong Chaesa dan mendudukkannya di sudut ruangan.

“Aaaah, kakiku…,” rintih Chaesa sembari memegangi kaki kanannya yang membengkak.

Di sampingnya ia mendengar Jaejoong menanyai Kyeon, “Gwaenchana? Di mana yang sakit?”

“Di sini…,” sahut Chaesa menunjuk-nunjuk kakinya.

Jaejoong mendelik, “Babo! Sudah tahu tak bisa memakai sepatu hak tinggi, masih sok pahlawan ingin menyelamatkan Kyeon.”

“Apa salah kalau aku ingin menyelamatkan dongsaengku?”

“Babo!”

“Hentikan mengataiku babo!” teriak Chaesa dan melempar sepatunya ke tubuh Jaejoong.

Siwon segera menarik sepatu lainnya yang juga akan dilemparkan Chaesa lalu menatap Jaejoong, “Hyung, kau keterlaluan.”

“Dia akan baik-baik saja, jangan terlalu cemas!” Jaejoong memutarkan kepalanya untuk memastikan kalau DBSK yang lain sudah datang, “Giliranku latihan. Kyeon-ah, Chaesa-ya, kalian istirahat saja dulu!”

“Ne~”

Siwon melirik kaki Chaesa yang membiru. Karena tak tahan, ia memanggul gadis itu dan membawanya ke ruang kesehatan menemui dokter pribadi yang dimiliki SM tanpa memedulikan teriakan Chaesa yang memintanya untuk diturunkan.

+++++++

“Ya ampun, ini hp Chaesa tertinggal,” ujar Sooran.

Mata Seera langsung membesar dan segera menghampiri Sooran. “Eonni, aku mau lihat!”

“Untuk apa?”

“Di hp Chaesa pasti banyak nomor telepon artis. Aku mau nomor Lee Seunggi! Eonni, ayo berikan padaku!”

“Andwae!” tolak Sooran dan pergi meninggalkan Seera yang menekuk mukanya mengerikan menuju pantry di mana Ki Young dan Hyeon sedang sarapan. “Arah sekolah kalian lewat kantor SM kan? Tolong antar ini untuk Chaesa!”

Ki Young menerima hp-nya. “Ne, eonni.”

“Kita pergi dulu. Dadah,” pamit Hyeon.

Di dalam bus…

Ki Young memainkan hp Chaesa, membuka galeri foto. Di dalam folder bertuliskan ‘SMTown’, Ki Young menemukan foto Taemin yang belum pernah ada di dunia maya dan menunjukkannya pada Hyeon.

“Lihat, pangeranmu!”

Hyeon menoleh dan wajahnya memerah. “Kami tak ada hubungan apapun.”

“Memangnya aku bilang kalian ada hubungan? Aigoo, Hyeon-ah, ketahuan sekali kamu suka dia.”

“Eonni!”

Ki Young mengotak-atik kembali hp-nya dan berhenti di satu foto. Dia tertegun sejenak dan memperhatikannya. Foto pria berwajah cute sedang nyengir lebar sambil menenteng biola di tangan kiri dan dawai di tangan kanannya.

“Aku belum pernah lihat orang ini di SM.”

Hyeon menoleh untuk melihat fotonya, “Jelas. Yang eonni tahu cuma Super Junior karena mereka tetangga kita, SHINee karena kita satu sekolah dengan Taemin, DBSK karena ada Jaejoong-oppa, dan Squash band-nya Chaesa-eonni.”

“Iya, kamu bener.”

Ki Young segera mengeluarkan hp dan mentransfer foto-foto ke hp miliknya. Setelah selesai, dia menaruh hpnya dan bersiap-siap untuk turun di halte selanjutnya satu blok sebelum gedung SM.

Mereka menyusuri jalan dan masuk ke dalam SM. Baru setengah jalan, seorang sekuriti mencegat mereka dan menanya-nanyai.

“Kami mau bertemu Shim Chaesa.”

“Chaesa-sshi sedang ada latihan. Kalau kalian mau bertemu, nanti saja saat konser. Lebih baik pergi sekolah, jangan bolos hanya untuk bertemu idola kalian!”

“Tapi kita ini bukan penggemarnya. Kita…,” Ki Young mulai nyolot namun lengannya segera ditarik Hyeon.

“Eonni, jangan bongkar rahasia!” bisiknya mengingatkan.

Ki Young langsung diam, dia mendorong Hyeon untuk maju.

“Ahjusshi, kami kemari untuk menyampaikan sesuatu. Ini sangat penting sekali. Kami memang penggemar Chaesa-eonni, tapi kami sudah saling mengenal,” ujar Hyeon berusaha membujuk.

“Tetap tak bisa. Sudah kubilang dia sedang sibuk latihan.”

Hyeon kesal, dia melirik jam tangannya. Tiga puluh menit lagi masuk sekolah. Dia menyambar hp Chaesa dari tangan Ki Young, lalu mencari nama seseorang yang ia kenal di phonebook. Matanya berhenti pada tulisan ‘Yeobo’. Dia berjalan menjauh dan mulai menelepon.

“Chaesa-ya, aku sedang latihan. Jangan telepon!” sembur seseorang di seberang sana.

“Jaejoong-oppa, jangan ditutup dulu! Ini Hyeon. Hp Chaesa-eonni tertinggal di rumah. Aku dan Ki Young-eonni sekarang udah di SM tapi tak diperbolehkan masuk sama sekuriti di sini. Oppa, tolong kemari!”

“Oh, Hyeon-ah. Ne, oppa ke bawah sekarang.”

Hyeon meminta izin sekuriti untuk tetap menunggu di sana. Beberapa menit kemudian Jaejoong muncul dari balik lift dengan wajah bercucuran keringat. Dia segera berlari menghampiri Ki Young dan Hyeon. Sekuriti yang ada di sana segera menjadi tameng melindungi Jaejoong karena takut diterjang dua gadis tersebut.

“Gwaenchana, aku mengenal mereka,” ujar Jaejoong mengusir sekuriti tersebut dengan halus. “Mana hpnya? Ayo cepat, aku masih harus latihan.”

“Kami mau mengantarkannya langsung sama Chaesa-eonni. Aku nggak percaya sama sekali kalau oppa akan memberikannya pada Chaesa-eonni.”

“Mwo? Aishh, Hyeon-ah, aku benar-benar akan memberikannya pada Chaesa. Ayo mana hpnya? Cepat berikan padaku!”

Hyeon tetap membatu sambil menatap Jaejoong dengan tatapan menusuk. Tak ada pilihan lain, Jaejoong segera berbalik dan berjalan menuju lift. Hyeon tersenyum lebar dan mengikuti Jaejoong.

Setelah sampai, lift berhenti dan pintunya terbuka. Jaejoong mengantar dua gadis itu ke sebuah studio musik. Dia mendorong pintunya terbuka dan mengalunlah sebuah alunan musik biola. Lagu yang dimainkan lembut sekali. Mereka masuk ke dalam, baru beberapa langkah, Ki Young berhenti dan memejamkan matanya untuk menikmati alunan biola tersebut. Sedangkan Hyeon terus masuk ke dalam dan menemukan Chaesa sedang berlatih dengan seseorang.

“Hyeon-ah?” panggil Chaesa heran mendapatkan dongsaengnya ada di sana. “Sedang apa di sini?”

“Mau antarkan ini. Tertinggal di rumah,” sahut Hyeon dan menyerahkan hpnya pada Chaesa.

“Ah, memangnya tertinggal ya? Aigoo, aku saja baru tahu. Hyeon-ah, gomawo,” ujar Chaesa sembari membelai kepala Hyeon. “Ke sini dengan siapa? Sendirian?”

Hyeon menggeleng, “Aniyo. Aku kemari dengan Ki Young-eonni…,” Hyeon menoleh ke belakang dan tak menemukan siapapun di sana. Dia berbelok ke dekat pintu masuk dan menemukan Ki Young berdiri di sana dengan mata terpejam. Hyeon menarik tangan eonninya itu dan menyeretnya masuk ke dalam.

“Ki Young-ah, dari mana kau?” tanya Chaesa.

“Mabuk suara biola, Eon,” celetuk Hyeon.

Chaesa tersenyum. Ki Young memang pecinta musik biola. Dia bisa berhenti melakukan sesuatu jika terdengar suara biola dan dengan cermat menikmati alunan musiknya. Chaesa menarik Ki Young dan menuntunnya untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut Ki Young menemukan seorang lelaki tengah memainkan biola. Wajahnya sedikit tertutup rambut.

“Henry, kenalkan ini dongsaengku, namanya Kim Ki Young.”

Henry menghentikan permainannya dan mendongak, “Oh, hello. Henry imnida.”

Ki Young membeku belum menyambut uluran tangan Henry yang mengajaknya berjabat tangan. Kepalanya terasa pening. Sebelumnya dia hanya memandangi lelaki itu di sebuah foto melalui hp Chaesa.

“Hello,” sapa Henry lagi membuyarkan lamunan Ki Young. Dia segera menjabat tangan Henry.

“Kim Ki Young imnida.”

“Dia orang Kanada. Bahasa Koreanya belum terlalu bagus. Tapi, Ki Young-ah, kamu ikut les Mandarin kan saat di Chungnam dulu? Tak masalah kalau gitu,” ujar Chaesa. “Oke, gomawo sudah mengantar hpku. Sekarang kalian harus sekolah. Jangan sampai terlambat!”

“Eonni, kakimu kenapa?” tanya Ki Young saat melihat Chaesa jalan terpincang-pincang.

“Oh, cedera waktu latihan. Sudah, kalian cepat sekolah.”

Chaesa mengantarkan mereka berdua keluar melewati beberapa ruangan. Di pintu salah satu ruangan, terdapat banyak orang berkumpul. Itu ruang latihan. Beberapa member SJ dan SHINee sedang membicarakan sesuatu. Mata Hyeon membesar saat dilihatnya anak lelaki berambut kuning kecoklatan ada di tengah-tengah mereka sedang merengek.

“Ayolah hyung, sekaliii aja. Kumohon!” pinta Taemin.

“ANDWAE!” sahut mereka semua membuat koor.

“Kamu udah terlalu sering bolos. Apa kata teman-teman dan gurumu nanti? Kalaupun nanti kamu lulus dengan usahamu sendiri, pasti mereka berpikir kalau SM ikut campur untuk membuatmu lulus. Imbasnya SHINee lagi yang kena!” omel Onew.

“Sekolah itu neraka. Kalau gitu izinkan aku pindah sekolah!”

“Kamu mau pindah kemanapun juga tetep sama. Kamu tetep kena bullying. Itu salahmu sendiri yang hobi menyendiri nggak mau bersosialisasi,” kini giliran Key yang mengoceh.

“Aku udah pernah nyoba untuk deketin mereka. Tapi mereka semua langsung ngejauhin aku sambil ngeluarin kata-kata kasar.”

“Ada apa ini? Kenapa kalian nggak latihan?” tanya Chaesa nimbrung.

Shindong menunjuk Taemin, “Bocah ini nggak mau sekolah.”

Mereka semua memelototi Taemin yang membuatnya menciut. Dia tetap berdiri di sana, tak memedulikan Jonghyun yang tangannya sudah kram menyodorkan seragam. Onew menarik Taemin ke ujung koridor dan menceramahinya lagi, tapi itu tak membuat niat Taemin untuk bolos goyah.

“Hyaaa, Taeminnnie…,” panggil Chaesa, “…pergilah sekolah dengan dongsaeng-dongsaengku! Ayo, cepat! Kalian hampir terlambat.”

Taemin menoleh dan baru sadar saat itu juga kalau Hyeon ada di sana. Wajahnya agak memerah menahan malu. Dia menunduk.

“Taemin-sshi, hari ini kita masih harus ikut ujian fisika,” ujar Hyeon.

“Ujian?” sambar Onew. “Hyaaa, Taemin-ah. Kenapa nggak kasih tahu kita kalau kamu ada ujian? Hyaaa, kamu sama sekali nggak belajar…”

“Iya, aku sekolah,” sela Taemin dan berjalan gontai menghampiri Jonghyun kemudian menyambar seragamnya.

“Jinki-ya, kau antarkan mereka ke sekolah!” titah Shindong.

“Ke-kenapa aku?”

“Leader,” sahut Key dengan nada menyanyi mengejek Onew.

..to be continued..

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s