SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part VIII]


“Sampai,” ujar Onew riang sembari memarkirkan mobilnya.

“Oppa, gomawoyo,” sahut Ki Young dan Hyeon bersamaan lalu keluar dari mobil.

Taemin sampai saat ini masih menekuk wajahnya. Dia masih diam tak berniat keluar.

“Yaaa, tunggu apa lagi? Ayo cepat sana keluar!” usir Onew.

Taemin memutarkan kepalanya ke belakang untuk melihat sudah sejauh mana Ki Young dan Hyeon berjalan memasuki gerbang, kemudian berbalik ke depan lagi. “Tunggu sampe mereka masuk lebih dalam lagi. Aku nggak mau temen-temen sekolah mergokin kita datang bareng. Bisa habis mereka berdua kena amukan fans…”

“Wow, aku bahkan nggak mikir sampe situ, Min,” celetuk Onew santai.

“Iya. Sayang hyung pinternya kadang-kadang. Aku masuk dulu. Annyeong…”

“Yaaa,” teriak Onew hendak melemparkan botol parfum pengharum mobil ke arah Taemin namun diurungkannya karena fans sudah mulai berteriak ketika Taemin keluar dari mobil. Sedangkan beberapa dari mereka menyerbu mobil, membuat Onew buru-buru menghidupkan mesin dan pergi dari sana.

Taemin memasuki gerbang. Seperti biasa, lautan manusia menahannya untuk masuk. Puluhan kamera hp membidiknya asal. Taemin terus menundukkan kepalanya dengan sesekali memohon agar diberikan jalan.

Hyeon dan Ki Young yang melihatnya dari jauh merasa khawatir. Karena beberapa dari mereka ada yang nekat mencolek beberapa bagian tubuh Taemin. Mata Hyeon membesar ketika dilihatnya beberapa gadis berseragam berbeda, yang artinya beda sekolah juga, berlari-lari dari gerbang sambil meneriaki nama Taemin. Mereka menerobos kerumunan dan berusaha menggapai Taemin dengan tangan mereka secara kasar.

“Ini salah satu alasan Taemin kenapa dia malas pergi ke sekolah,” celetuk Ki Young.

“Ne, astaga kasihaaan…”

“Lindungi pangeranmu kalau begitu!”

Hyeon mendelik, “ Eonni, berhenti mengejekku! Aigoo, bagaimana cara menolongnya?”

Ki Young mengangkat bahu tak tahu. Hyeon memutar otak mencari cara. Sedangkan Taemin kini masih berjuang berjalan menuju kelas walaupun sedari tadi ia hanya berhasil berjalan sepanjang 20 cm.

“Ehm…ehm…,” deham Hyeon.

“Mau apa kamu?”

“Udah eonni lihat aja!” Hyeon menelan ludah dan melakukan sedikit pemanasan kecil. Lalu dia mulai berlari menuju kerumunan dengan tangan menunjuk ke gerbang sambil berteriak, “ONEW-OPPA, DI GERBANG SANA ADA ONEW-OPPA. KYAAA~”

Spontan seluruh siswi yang sedari tadi mengepung Taemin, berubah haluan dan berlari menuju gerbang ke arah yang ditunjuk Hyeon. Taemin terjatuh karena ikut terseret namun sekitar lima orang siswi yang bertahan di sana membantunya berdiri. Dia memberikan tanda tangannya asal lalu berjalan masuk ke kelas dan sedikit membungkuk saat berjalan melewati Ki Young.

Hyeon berlari mendekati Ki Young dan mengajaknya masuk ke dalam kelas. Setelah sampai di bangkunya, dia menarik napas kelelahan dengan Ki Young yang berdiri di sampingnya membantu mengipasi. Terdengar ribut-ribut di belakang, mereka berdua menoleh.

Taemin tengah dibullying oleh sunbaenya. Hyeon dan Ki Young memutar bola mata mereka bersamaan. “Dan ini yang membuatnya merasa sekolah bagai neraka,” ujar Hyeon.

“Angkat kepalamu!” teriak si kepala plontos masih belum kapok dengan ancaman Hyeon kemarin.

Taemin tak menurut, dia terus menunduk. Sebuah penghapus papan tulis melayang dari depan dan tepat mengenai wajah Taemin juga seragamnya. Mereka semua tertawa mengejek. Si senior berkepala plontos itu menarik seragam Taemin dengan kasar hingga beberapa kancingnya terlepas. Sedangkan beberapa dari mereka dengan kurang ajarnya memainkan rambut Taemin. Ki Young yang baru pertama kali melihatnya menjadi gerah dan menggebrak meja.

BRAK!!!

“Yaaa, Cho Taewoo, lepaskan dia!”

Mereka semua menoleh kecuali Taemin yang masih menunduk.

“Kau, anak baru. Mau menantangku?”

“Cih, terbalik! Berbicara seperti itu berarti kau yang menantangku…”

“Dasar jalang…”

“A-apa?!” teriak Ki Young syok dipanggil seperti itu. Dia dan anak buahnya semakin asyik menyiksa Taemin. Ki Young melemparkan sepotong kapur dan mengenai kepala Taewoo.

“Yaaa,” teriak Taewoo murka. Lalu dia melepaskan cengkeramannya dari seragam Taemin dan mendorongnya dengan kasar. Dia berjalan menghampiri Ki Young. “Berani juga kau anak baru. Apa kau belum tahu siapa aku?”

“Sangat tahu. Kau adalah Cho Taewoo, pria pengecut yang senang memperlakukan kasar hoobaenya, Lee Taemin, hanya karena iri ia seorang artis…”

“Mworago? Kau bilang aku ‘pengecut’?”

“Apa lagi? Kau merekrut anak buah hanya untuk membullying Taemin. Sudah jelas itu adalah prilaku pengecut!”

Tak terima disebut seperti itu, Taewoo melayangkan tangan kanannya untuk memukul Ki Young. Namun Ki Young mencengkeram tangannya dan menjatuhkan taewoo ke lantai. Semua yang ada di sana syok, terutama anak buahnya.

Ki Young menginjak bahu Taewoo, “Masih ada waktu lima menit lagi untuk merapikan diri sebelum bel masuk berbunyi. Jika sekali lagi kudengar kau berbuat semena-mena, akan kucekik kau sampai mati.” Ki Young menepuk kedua tangannya lantas berjalan keluar kelas tersebut menuju kelasnya.

“Si-siapa dia sebenarnya?” tanya Taewoo yang mulai bangkit.

“Eonni adalah juara sabuk hitam Tae Kwon Do termuda nasional,” jelas Hyeon malas dan kembali konsentrasi membuka bukunya untuk belajar.

 

+++++++

 

MYU RA mengeluarkan daftar belanjaan dari dalam tasnya saat memasuki supermarket. Matahari sudah tenggelam, sebelum pulang ke rumah, ia menyempatkan diri membeli kebutuhan rumah tangga. Ia mengambil keranjang dan berjalan menuju deretan rak-rak makanan dan berhenti di tempat sayuran.

“Myu Ra-sshi?”

Myu Ra menoleh dan mendapati Kyuhyun berdiri di sampingnya.

“Oh, Kyuhyun-sshi, annyeong haseyo. Kali ini tugasmu?”

Kyu mengangguk malu, senyumnya melebar. Dia menyambar dua ikat bayam lalu memasukkannya ke dalam troli. Myu Ra mengikuti apa yang Kyu lakukan, namun dia memilih wortel dan mentimun. Mereka meninggalkan tempat itu, meneruskan mencari kebutuhan lainnya.

“Sendirian?” tanya Myu Ra.

“Harusnya dengan Wookie-hyung. Tapi dia baru sampai dorm dan kelihatan masih lelah. Kau baru pulang kerja?”

“Ne. Hari ini pulang agak telat. Kami sedang mempersiapkan program baru.”

“Benarkah? Sepertinya program itu akan sukses kalau aku ada di sana.”

“Cih…,” Myu Ra tersenyum geli, “…kau memohon pekerjaan padaku?”

“Well… Ahahaha~” Kyu menggaruk daun telinganya. ‘Aigoo, Kyuhyun, baboya?’ umpatnya dalam hati.

Lima belas menit berlalu, belanjaan Myu Ra sudah penuh melewati batas kuota keranjang. Rasanya menyesal mengapa tadi ia tak membawa troli. Dengan tertatih-tatih ia berjalan menuju rak tempat ramyun. Kyu yang masih berjalan bersamanya, langsung menyambar keranjang belanjaan Myu Ra lalu memasukkannya ke dalam troli.

“Oh, gomawoyo,” ucap Myu Ra terkejut.

“Ah, gwaenchana. Harusnya aku yang membawa keranjang dan kau membawa troli. Belanjaanmu lebih banyak dariku.”

Myu Ra tersenyum, hampir membuat Kyu limpung. Ia segera mengalihkan pandangannya ke troli, lalu mengajak Myu Ra menuju kasir. Setelah selesai membayar, mereka pun pulang.

“Hujan…,” ujar Myu Ra saat mereka sudah di luar.

“Aigoo~ Aku tak bawa payung. Kau bawa?” Myu Ra menggeleng. Lantas Kyu menyerahkan kantong belanjaannya pada Myu Ra dan melepaskan mantelnya. Ia memayungi Myu Ra dengan mantel tersebut. “Kaja!”

Mereka setengah berlari menuju apartemen yang hanya terletak beberapa blok dari supermarket. Saat sampai di pintu masuk apartemen, mereka berhenti, merapikan penampilan masing-masing yang basah kuyup.

“Kyuhyun-sshi, gomapta.”

Kyu tersenyum. “Kau berhutang padaku!” katanya sambil memeras mantel.

“Ne?”

“Kau harus mentraktirku makan besok malam. Annyeong!” Ia berbicara kilat, kemudian menyambar kantong belanjaannya yang masih dipegang Myu Ra dan berlari masuk ke dalam.

Myu Ra mematung dengan berbagai persepsi yang bergumul di pikirannya.

 

+++++++

 

“Aigoo~ Aigoo~” teriak Kyu saat berlari masuk ke dalam dorm.

“Ya, ya, ya!” tegur Sungmin karena sekarang lantai jadi becek karena ulah Kyu.

“Sungmin-hyuuuung,” teriak Kyu dan menghambur menyerang Sungmin dengan pelukan.

“Kyuhyuuuun, lepaskan! Kau membuatku basah. Aigoo…”

Yesung keluar dari kamar menenteng ddangkoma di tangan kanannya. “Wow, jadi KyuMin is real?” tanyanya dingin lalu pergi ke dapur.

Mereka berdua tak mengacuhkan Yesung.

“Kyuhyun, lepaskan!” Sungmin mendorong Kyu. “Ayo, cepat ganti baju! Setelah itu kamu pel lantainya! Arasseo?!”

Kyu mengangguk semangat. Dia menyerahkan kantong belanjaannya pada Sungmin dan pergi ke kamar mandi. Namun dia melongok lagi memandang Sungmin dan berteriak, “HYUNG, OTTOKHAE? AKU MENGAJAKNYA KENCAN! ASTAGA~”

“CEPAT GANTI BAJU!” teriak Sungmin tak kalah keras. Kyu buru-buru masuk kamar mandi sebelum Sungmin melemparinya sandal. “Dasar magnae gila! Paling-paling cuma si Lee Joon yang dia ajak kencan. Mereka menjadi dekat sekali setelah dalam program yang sama. Yaaa, Wookie-ya, ayo cepat masak makan malam!”

 

+++++++

 

HUJAN rintik-rintik. Jin Rin berjalan sepanjang trotoar. Hari ini ia pulang lebih malam dari sebelumnya. Pulang selarut ini pun tugas kelompok yang ia kerjakan masih belum selesai. Terpaksa pulang karena Myu Ra memintanya. Saat akan berbelok ke wilayah apartemen, sebuah van hampir menabraknya.

“Yaaa…,” teriaknya.

Pemilik van keluar. “Jwaesonghamnida.” Pria itu terus menunduk. Sekarang ia malah berbalik untuk kembali ke mobilnya.

“Jamkkanman-yo! Ini milikmu jatuh,” Jin Rin berjalan menghampirinya. Pria itu berbalik. “Oh, kau…”

Dia mengangkat kepalanya dan menatap Jin Rin. “Ka-kau…”

“Ini jimatnya terjatuh. Selamat malam.” Jin Rin buru-buru meninggalkannya bahkan berlari masuk ke dalam apartemen. Setelah sampai di lantai sebelas, ia menekan interkomnya. Setelah pintu terbuka, ia buru-buru masuk ke dalam.

“Wae?” tanya Chaeri.

“Ada orang aneh. Aku takut.”

“Nugu?”

“Molla,” jawab Jin Rin dan segera masuk kamar.

Myu Ra keluar dari kamar membawa dua buah berkas di tangannya. “Jin Rin sudah pulang?”

Chaeri mengangguk. Sooran bergabung di ruang tengah sambil membawa beberapa resep makanan. Ia menyalakan TV lalu duduk bersama Myu Ra dan Seera.

“Wow, jadi besok menu baru?” tanya Seera.

Sooran menggeleng. “Bukan untuk kalian.”

“Terus?”

Sooran tersenyum.

“Wooo… Pasti untuk pria. Benar?” tebak Chaeri.

“Jincha? Sooran-ah, nugu?” tanya Myu Ra.

“Ah, belum waktunya untuk bilang. Nanti akan kuberitahu jika sudah ada perkembangan.”

“Hm… Oh ya, ada yang ingin kutanyakan,” ujar Myu Ra. “Jika ada seorang pria meminta untuk ditraktir makan dengan alasan balas jasa, itu artinya apa ya?”

“Kencan,” sahut Sooran, Chaeri, dan Seera cuek, tapi tak lama kemudian. “EONNI KENCAN?”

“Mwoya? Tidak, tidak. Bukan! Kalian pasti salah. Dia pasti hanya minta traktir saja…”

“Eonni, nuguseyo?”

“Tak ada! Aku hanya bertanya. Tak ada siapapun yang mengajakku.”

“Tapi tadi eonni bilang ‘dia pasti hanya minta traktir saja’. Itu artinya…”

Pipi Myu Ra memerah, “Aku mau tidur,” ujarnya dan segera masuk kamar.

“Aku juga mau tidur,” ujar Sooran mematikan TV dan berjalan masuk ke dalam kamar.

Seera berdecak, “Cih, daebak! Pria berkeliaran di otak mereka…”

 

+++++++

 

LEETEUK masuk ke dalam kamar, di mana Donghae sedang duduk menekan tuts-tuts piano menggubah lagu. “Oh, Hyung, wasseo?”

“Hm… Yaa, Lee Donghae, masih ingat ‘gadis takdir’ yang kuceritakan saat membeli jimat tadi pagi?”

Donghae mengangguk. “Ne.”

“Aku bertemu lagi dengannya tadi. Dia hampir kutabrak.”

“Mwo? Hyung, sebaiknya kau menggunakan driver. Jangan nekat menyetir sendiri! Jadi, dia tak mati seperti Park Chaeri tempo hari, kan?”

“Tentu saja tidak. Lagipula Chaeri kan tidak mati! Dasar babo!”

Donghae masih berkonsentrasi pada grafik-grafik suara di layar komputernya. “Namanya siapa, Hyung?”

“Itu dia, aku tidak sempat bertanya. Dia selalu ketakutan tiap melihatku.”

“Ahahaha, apa hyung mirip hantu?”

“Mwo?! Tapi aku yakin dia jodohku.”

“Ya, mudah-mudahan.”

“Sedang apa kau?”

“Hyung pikir aku sedang apa?” tanyanya balik.

Teuki menghampiri Donghae dan merunduk melihat monitor. Dia memukul kepala Donghae, “Bicaralah lebih sopan lain kali! Dasar bocah!”

 

+++++++

 

Keesokan harinya…

“Aku pergi duluan,” pamit Sangmi. Dia berjalan menuju lift.

“Oh, Sangmi-sshi, annyeong haseyo,” sapa Wookie dari dalam lift saat pintunya terbuka.

“An-annyeong haseyo,” sahutnya membungkuk.

“Berangkat kerja?”

Sangmi mengangguk, ia masuk ke dalam lift. Wookie tak keluar dari sana, dia malah menutup pintunya dan menekan tombol lantai dasar.

“Bu-bukannya kau pulang? Kenapa tak keluar?”

“Aku ingin mengantarmu sampai depan.”

“Ne?” sahut Sangmi. Pipinya memanas.

Sedangkan di dalam rumah, Sooran sibuk menata makanannya ke dalam kotak bekal. Myu Ra memakai baju terbaiknya. Jin Rin, Seera, Chaeri, Ki Young, dan Hyeon memakai sepatu mereka lalu berangkat bersama.

“Kami pergi…”

“Ne,” sahut Myu Ra dan Sooran bersamaan.

“Sooran-ah, sepertinya aku pulang lebih malam.”

“Oke. Masalah kencan yang kemarin ya, Eonni?”

“Mwo? Ah, bu-bukan. Aku…”

Sooran tertawa, dia menjinjing bekalnya lalu pergi keluar. “Eonni, aku pergi. Waaa~”

“Wae?” tanya Myu Ra.

“Annyeong haseyo,” sapa seseorang di luar.

“Oh, Sungmin-oppa. Jadi ini teman kencan eonni?”

“Hah?” Myu Ra buru-buru ke pintu keluar. “Sungmin-sshi?”

“Eonni, aku pergi. Bye… Semoga kencan kalian menyenangkan.”

“Siapa yang kencan?” tukas Myu Ra.

Di saat yang sama, Kyuhyun keluar dari dalam dorm.

“Kyuhyun-oppa!” panggil Sooran. Dia buru-buru menarik lengan Kyuhyun dan mengajaknya pergi dari sana. “Jangan ganggu mereka! Hari ini mereka mau kencan.”

“KENCAN?” pekik Kyuhyun. Dia berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Sooran. “Hyung, kau tak pernah bilang padaku kalau kalian…”

“Kyuhyun, aku…”

“Oppa, kaja!” Sooran menarik Kyuhyun lagi sampai ke dalam lift.

“Maaf, aku harus berangkat sekarang.” Myu Ra menutup pintu dan pergi terburu-buru.

“Tunggu! Aku kemari untuk memberikan ini, kemarin keluargaku kemari dan membawa banyak makanan.”

“Nanti sore saja setelah kami pulang. Maaf, aku harus pergi.”

“Biar kuantar.”

“Tak usah. Aku bisa sendiri.”

Mata Myu Ra memerah. Ini kacau. Kyuhyun pasti salah paham. Lalu bagaimana dengan rencana ‘Traktir Kyuhyun’ hari ini? Haruskah berlanjut atau takkan pernah terjadi?

 

…to be continued…

3 thoughts on “SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part VIII]

  1. authooooor… *meringsut ala taemin di CIL*
    ff ini kapan ada lanjutannya?
    penasaran sama kisahnya jinrin-teuki sama kyu-myura

  2. mana lanjutannya? aku kalo baca jadi sering nanggung. :((( ditunggu banget nih lanjuta fanfic fancfic laiiin.. aaaa.. i’m your biggest fans! i’ll follow you until you love meeeeeeeeee! *loh?

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s