Married Idol-END


Author : Onmithee

Main Cast  : Kim Rumi, All Shinee member

Support Cast : Jang Kyungho, Han Chae Kyeong, Baek Soojin, Manager SHINee

Length : Sequel

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG-15


STORY

“Bagaimana? Dia tak apa-apa ‘kan?” aku segera menyergap Jinki dengan pertanyaan itu ketika melihat Jinki keluar dari ruangan Chae Kyeong.

”Ne.. gwenchana. Dia memang kehilangan cukup banyak darah, tapi dokter sudah mengatasi keadaannya. Sekarang dia sedang tidur, kita pulang saja… ada teman yang menjaganya kok,” kata Jinki tersenyum tipis.

”Sebenarnya aku juga tak mau khawatir, tapi… di-dia memotong nadinya di bagian mana?” tanyaku, memandang ruangan Chae Kyeong di rawat.

”Tentu saja di pergelangan tangan..” jawab Jinki, senyum pun hilang dari wajahnya. Berganti kegusaran.

”Kau tau profesi Chae Kyeong ’kan? Dia… dia seorang penata rambut.. bagaimana kalau lukanya sangat dalam dan..dia tak bisa melanjutkan pekerjaannya lagi..”

”Tak usah pikirkan itu,” kata Jinki memegang bahuku, ”.. dia melakukan ini karena keputusannya sendiri… dia yang memotong nadinya sendiri, Rumi. Dia sudah siap dengan resikonya..”

”Tapi.. Jinki-ya..”

”Jangan bicara lagi. Jangan menjadi lemah lagi karena masalah ini… ” Jinki melepaskan pegangannya dan memunggungiku, ”.. dia tak akan bisa mengancamku.”

”Tapi.. kau mencemaskannya kan? Aku melihatnya dari sikapmu. Di sepanjang perjalanan menunju kemari kau gelisah… terburu-buru. Kau sangat cemas.. i-ini karena Chae Kyeong melakukannya demi…”

Jinki memutus ucapanku, berbalik dan menatapku tajam, ”Dia melakukan itu demi dirinya sendiri.. bukan karena aku! Kumohon padamu, kita tak usah membicarakan ini lagi dan pergi dari sini. Kita sudah tau keadaannya… tak perlu mencemaskannya lagi.”

Aku hanya bisa terdiam mendengar perkataan Jinki itu. tercengang karena sikap dinginnya. Sepanjang perjalanan menuju apartementku, kami tak berbicara. Jinki terlihat sangat kesal dan emosional, aku takut dengan sikapnya yang seperti ini.

@@@@@@@@

Aku nekat mengunjungi Chae Kyeong keesokan harinya tanpa memberitahu Jinki terlebih dahulu. Dia pastinya tak mengijinkan aku menjenguk Chae Kyeong. Aku tak peduli persetujuannya, aku hanya ingin memastikan keadaan Chae Kyeong dan paling tidak, kalau aku bisa, aku ingin menyadarkannya agar tak melakukan perbuatan nekat seperti itu lagi. Karena jika dia sampai kenapa-napa.. aku juga akan merasa bersalah…

Saat aku sampai di ruangan tempat Chae Kyeong di rawat, yeoja itu sedang menyantap makan siang. Kondisinya memang terlihat baik, tapi ketika melihat pergelangan tangan kirinya yang diperban, rasa bersalah muncul bertubi-tubi dalam hatiku.

Dia menyuruh temannya yang menjaganya keluar saat melihat aku masuk ke ruangannya, dan setelah temannya itu pergi, aku pun lalu menyapanya.

”Bagaimana keadaanmu?” kataku canggung.

”Seperti kau lihat,” jawabnya dengan wajah masam.

”A-aku membawa buah-buahan untukmu.. makanlah, untuk menambah stamina.”

“Bawa saja kembali bawaanmu itu dan pulanglah.. aku tak mau melihatmu,” Chae Kyeong mengatakan itu sambil merebahkan dirinya menyamping, memunggungiku.

”Aniya… aku tak akan pergi. Ada yang mau kubicarakan denganmu!” seruku mengambil tempat duduk yang tersedia di samping ranjang Chae Kyeong dan mendudukinya.

”Bicara saja… tapi aku tak akan mendengarkanmu!” Chae Kyeong lalu mengambil bantalnya dan menutupi telingannya dengan bantal itu.

Aku yang kesal dengan sikapnya, menarik kasar bantal itu. membuat Chae Kyeong menatap marah padaku.

”APA MAUMU KIM RUMI?! KAU TIDAK PUAS MELIHATKU SEPERTI INI?!” jeritnya.

”Ne.. aku tak puas!” seruku.

”JADI BAGAIMANA SUPAYA KAU PUAS? KAU INGIN AKU MATI? SUPAYA KAU BISA HIDUP TENANG DENGAN JINKI TANPA PENGGANGGU LAGI?!” serunya, air mata mengalir deras di wajahnya.

”Aniya..” aku mengalihkan padanganku. ”A-aku tak ingin seorang pun menderita karena hubunganku dengan Jinki…”

”A-aku mencintainya Rumi… sangat cinta. Kau pasti mengerti perasaanku ’kan?” Chae Kyeong sudah tak berteriak lagi padaku, tapi tangisannya masih deras dan nafasnya tersengal-sengal.

”Aku juga mencintainya.. ” sahutku lirih.

”Tapi kau merebutnya dariku! Kau muncul saat aku pergi.. kau pengganggu! Dia hanya menjadikanmu pelarian saat aku pergi. Dia hanya mencintaimu sesaat.. mencintaimu karena kau memberikan semua yang dia mau…”

”Lalu.. kenapa kau beri aku kesempatan itu?!” seruku. ”Kenapa kau malah pergi saat Jinki membutuhkanmu? Kenapa kau mementingkan dirimu sendiri? Jangan menyalahkanku karena kesalahan yang kau perbuat sendiri.. jangan menyalahkanku karena jalan hidup yang kau pilih sendiri… semua yang terjadi padamu sekarang adalah pilihanmu!”

Chae Kyeong terdiam tak mampu berkata apapun. Dia masih menangis dan kemudian berkata lirih, ”Jadi.. ini semua salahku?”

”Aku tak menyalahkanmu… tapi kalau kau merasa kau salah maka itulah yang sebenarnya…” aku lalu memandang tangannya yang diperban. Melihat noda darah yang muncul disana dan kemudian berkata dengan lebih tenang, ”Apa kau benar-benar berpikiran untuk mati?”

”Aniya.. aku melakukan ini agar bisa bertemu Jinki… agar dia memperdulikanku. Mau melihatku lagi, aku tersiksa dengan sikapnya yang sangat dingin padaku…”

”Babo!” ujarku dan Chae kyeong memandangku hendak protes, tapi aku segera melanjutkan, ”Kalau kau mati, kau malah tak akan bisa melihat Jinki lagi… harusnya kau pikirkan itu.”

”Tapi, aku tersiksa melihatnya bersama orang lain. Aku ingin dia bersamaku…”

”Kau sudah melewatkan kesempatan itu. Biarkan dia bersamaku.. kumohon,” aku menundukkan tubuhku padanya. Entah kenapa kau malah memohon seperti ini padanya.

”Rupanya kesempatan itu hanya muncul sekali ya..” ujar Chae Kyeong, ”Jangan merendahkan diri dengan memohon padaku. A-aku tak akan mengganggu kalian lagi…”

Aku segera mengangkat wajahku, melihat Chae Kyeong yang duduk bersandar di tiang ranjang sedang tersenyum dengan mata sembab. ”Sebetulnya, seseorang semalam kemari. Dia memarahiku karena tindakan ku ini. Dia juga mengatakan hal yang sama seperti kau bilang. Kalau aku telah melewatkan kesempatanku… dia memohon padaku, agar aku tak bertindak bodoh lagi dan menjalani hidupku dengan baik. Dia bilang padaku agar tak menggugat takdir dan berhenti membuat orang yang kucintai menderita karena keegoisanku. Sebetulnya aku tak peduli dengan perkataannya itu, tapi ketika aku melihat matanya saat mengatakan itu.. aku merasa kalau dia juga merasakan kepedihan seperti yang kurasa… aku lalu memikirkan sepanjang malam ucapannya. Yah, setelah itu aku memutuskan untuk bersikap lunak.. aku akan merestui hubungan mu dan Jinki jika kau yang meminta langsung.. aku ingin melihat kesungguhanmu… dan yeah, kau sukses.” kata Chae kyeong sambil menghapus air matanya.

Aku terdiam sesaat mendengar perkataan Chae Kyeong tadi sampai dia berkata, ”Kau kenapa?”

”Aniyo.. aku tak apa.” sahutku tersenyum padanya.

”Lee Jinki itu… hanya seorang di dunia ini seperti dirinya. Melihat senyumnya adalah hal yang paling aku suka. Dan aku sangat sedih ketika dia tak mau tersenyum padaku lagi. Jaga dia.. kumohon. Buatlah bahagia…” kata Chae Kyeong lagi-lagi menitikan air matanya.

”Ne.. kamshamnida Chae kyeong-sshi,” aku menundukan lagi tubuhku.

”Sudahlah, tak usah berterima kasih padaku. Katakan itu pada Kibum, dia yang menyadarkanku.. hah~ aku tak menduga akan dinasehati anak itu. dengan kecerewetannya rupanya dia bisa mengatakan hal-hal yang menyentuh…” lalu Chae Kyeong merebahkan dirinya, ”.. mungkin ini sedikit kasar, tapi.. pulanglah.. aku ingin sendiri saat ini.”

”Ne, aku akan pergi. ” aku bergegas bangkit dan beranjak menuju pintu tapi kemudian langkahku kuhentikan, ”Tapi… tanganmu..”

”Tenang saja… aku tak pernah menggunakan tangan kiri untuk pekerjaanku,” katanya tersenyum lalu melambaikan tangan. Aku tersenyum padanya dan mengucapkan  kata ’sampai jumpa’ sebelum akhirnya meninggalkannya seorang diri di kamarnya.

@@@@@@@

Malamnya aku dan Jinki makan malam bersama di rumah orang tuanya. Eomonim dan abonim sepanjang makan malam tak henti-hentinya membicarakan rencana pesta pernikanan kami. Mereka tertawa dan saling bergurau, aku juga melihat Jinki larut dalam suasana kebahagiaan itu. aku senang Jinki sudah kembali ceria lagi padahal aku belum menceritakan percakapanku dengan Chae kyeong tadi siang.

Setelah membantu eomonim membersihkan bekas makan malam kami. Aku lalu ke taman belakang rumah, melihat Jinki duduk disana memandang bintang.

”Yeobo~,” panggilku berdiri dibelakangnya yang sedang duduk di kursi dan membelai rambutnya.

”Ne… Yeobo, ada apa?” katanya mendongakkan kepala, menatapku dan tersenyum.

”Tadi siang aku  menjenguk Chae Kyeong…” saat itu juga Jinki kembali memandang ke depan dan senyumannya hilang.

”Wae? Kau tak harus menemuinya… ”

”Harus.. aku harus menemuinya.”

”Kalau kau menemuinya, kau akan dibuatnya merasa bersalah. Itu akan mengganggu hubungan kita… harusnya kau menuruti perkataanku.” seru Jinki berdiri menghadapku.

”Jinki-ya.. dengarkan aku…” aku mencoba menenangkannya tapi dia malah menangis memelukku.

”Aku tak ingin.. aku tak ingin karena dia mengancam ingin mati membuatmu melepaskan ku… mengakhiri hubungan kita. aku tak ingin itu… aku tak ingin kita berpisah lagi…”

”Yeobo~ sudah kuduga. Kau terlalu cemas… tenang saja bukan hal itu yang terjadi…” kataku menepuk punggungnya.

Dia melepaskanku dan menatapku heran, ”Lalu apa?”

”Dia sudah memilih untuk membiarkanmu bersamaku.”

”Benarkah? Dia berkata seperti itu?” Jinki masih tak percaya.

”Aku sungguhan.. jadi berhentilah berpikiran buruk padanya…. ”

”Mana bisa.. dia terlalu sering merengek padaku. Memohon untuk bisa kembali seperti dulu… a-aku sangat kesal padanya. Kalau tak di perintah perusahaan, aku mana mau berpura-pura berkencan dengannya..,” sahut Jinki ketus.

”Tapi… yeoja itu, bagaimanapun juga pernah sangat kau cintai ’kan?” Perkataanku itu menjadi tembakan ampuh baginya. Dia terdiam dan menggaruk kepalanya malu lalu mengangguk. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan itu lalu mengalungkan tanganku dipinggangnya. ”A-aku tau kenapa dulu kau bisa sangat menyukainya…  dia sangat baik. Kau jangan sampai lupa kebaikannya hanya karena rasa kesalmu.”

”Ah~ kau berusaha menasihatiku..” sungutnya lalu tertawa.

”Kau menyukai wanita berhati baik. Tipe mu tak mengalami perubahan.. yeah walau aku jauh lebih baik dari siapapun juga,” kataku bersandar di bahunya.

Tawa Jinki semakin keras, membuatku terganggu dan mencubit perutnya kesal tapi dia tetap tertawa dan berkata, ”Aigoo~ istriku narsis sekali…”

@@@@@@@@

Musim dingin berganti. Memasuki musim semi walau salju masih ada menutupi sebagian tempat tapi kehangatan sudah mulai terasa. Matahari sudah mulai bersinar sedikit lebih ceria dibanding hari-hari sebelumnya.

Hari ini, dua minggu sebelum pesta pernikahanku dan Jinki berlangsung, aku memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan tempat aku bekerja selama hampir 1 tahun ini. Keluarga Jinki dan SMent memang memintaku untuk berhenti kerja, katanya demi pencitraan diriku di masyarakat. Yah, memang sejak 2 bulan lalu hubunganku dan Jinki sudah diketahui oleh masyarakat. Awalnya, aku menolak permintaan mereka untuk berhenti kerja. Aku tak ingin hanya berdiam di rumah saja seperti dulu tapi eomonim bilang aku masih bisa bekerja membantunya di toko. Dia tak akan membiarkan ku sendirian di rumah lagi seperti dulu. Tentu saja karena tawarannya itu aku lalu memenuhi permintaan mereka.

Aku memandang ruangan tempat kerjaku sebentar lalu menyalami rekan-rekanku selama ini. Aku sangat senang di antara mereka yang mengantarkan kepergianku, disana ada Kyung ho-sunbae.

”Sunbae.. Kamsahamnida karena selalu membantuku…” kataku.

Kyung ho sunbae menepuk bahuku, ”itu kewajiban seorang sunbae bukan. Jangan melupakan kami mentang-mentang kau akan menikah dengan seorang bintang.”

”Tentu saja tidak…” kataku . ”Kalian harus datang di pesta pernikahanku.”

”Tentu saja…” sunbae mengatakannya sambil memandang rekan-rekan lain yang mengangguk. ”Pasti datang untuk melihat pilihanmu.”

Aku tersenyum mendengarkan perkataan sunbae. Dia mengajarkan ku untuk bisa berani memilih, walau aku tak melakukannya. Tapi dari yang dikatakannya dulu padaku, menyadarkanku bahwa memutuskan memilih sesuatu itu memerlukan pengorbanan. Dan untuk memperoleh kebahagiaanku, aku telah membuat banyak orang berkorban. Ya.. aku tak boleh menyia-nyiakan kebahagiaan ini lagi.

@@@@@@@@

Seminggu sebelum pesta pernikahan….

Aku merasa badanku tak nyaman beberapa waktu ini. Mungkin karena terlalu lelah menyiapkan segala urusan untuk pesta pernikahan. Beberapa hari aku mengalami muntah-muntah di pagi hari dan selera makanku memburuk. Aku benci mencium bau nasi, karena itu membuatku mual.

Ah~ ternyata menyiapkan pesta pernikahan itu melelahkan dan membuat stress. Entah berapa kali aku dan Jinki bertengkar hanya karena masalah sepele. Aku sering kali memarahinya yang selalu datang terlambat jika kami berjanji bertemu. Aku bahkan sering marah padanya jika dia tak menelponku sehari saja. Hah.. entah kenapa aku jadi emosional seperti ini. Padahal selain sibuk menyiapkan pesta pernikahan, Jinki juga masih harus bekerja. Perusahaan belum memberinya cuti sampai hari H-1.

Ternyata lebih nyaman menikah diam-diam seperti dulu saja, tak perlu repot seperti ini…

Karena kupikir perubahan mood ku ini dikarenakan stress menjelang pernikahan. Aku memutuskan untuk refreshing seorang diri. Aku berjalan-jalan sendirian memasuki tiap toko di Hongdae. Tak ada yang kubeli, hanya melihat-lihat dan saat aku melihat pasangan yang berjalan bersama, aku tersenyum sekaligus iri.

Kemudian aku menikmati makan siang di sebuah rumah makan cepat saji. Saat aku hendak menyantap burger yang kupesan, aku mendapat panggilan telpon. Aku cukup ragu untuk mengangkat panggilan itu karena itu panggilan dari Key.

Aku me-reject panggilan itu dan meneruskan makanku. Tapi rupanya dia menelponku lagi. Aku dengan terpaksa mengangkatnya.

Yeoboseyo.. Rumi..” suara Key.

”Ne.. wae?”

Hehe… apa aku mengganggumu?”

”Ne…” sahutku sambil menggigit burgerku.

Burgernya enak?”

”Mwo?!” Aku menghentikan makanku dan mengedarkan padangan ke seluruh ruangan dan akhirnya aku melihat seorang namja berkacamata hitam melambai padaku. Aishh~ kenapa aku tak menyadari kehadirannya padahal dia terlihat kentara sekali.

Key lalu berjalan menuju mejaku. Cepat-cepat aku berusaha menghabiskan makananku, aku tidak siap berbincang lama-lama dengannya.

”Porsi makanmu banyak juga!” Key terlihat takjub melihat pesananku yang memang sangat luar biasa banyak tak seperti makanku yang biasa.

”Aku kelaparan… sudah beberapa hari aku tidak selera makan.”

Dia tersenyum lalu membelai rambutku, ”Ne.. makan yang banyak supaya kau kuat di hari pernikahanmu nanti.”

”Ne.. pastinya..”kataku berusaha menjauhkan kepalaku dari tangannya.

”Aku tak menyangka bertemu denganmu disini… rencananya aku ingin jalan-jalan sendiri. Shopping hehe.. mumpung tak ada schedule…”

”Oh..” kataku berusaha tak terlihat tertarik dengan perkataannya.

”Rumi-ya.. kau mau ikut denganku… tenang, aku tak akan mengajakmu macam-macam. Kita bicara berdua…”

”Shiroh..” kataku bangkit dari kursiku dan berusaha pergi tapi Key menahan tanganku.

”Hanya sekali Rumi. Kali ini aku berjanji.. ini hanya sekali…”

@@@@@@@@@

Aku kini berada di dalam mobil Key. Kami sekarang sedang menuju suatu tempat yang aku tak tahu kemana Key hendak mengajak ku. Perjalanan yang cukup jauh membuatku merasa lelah lalu tertidur. Saat aku bangun, mobil sudah berhenti. Aku tak melihat Key di kursi kemudi tapi aku bisa mencium bau garam. Pantai… Key mengajak ku ke pantai.

Aku keluar dari mobil yang ternyata di parkir Key tak jauh dari pinggir pantai. Kulihat Key duduk di dekat bibir pantai. Aku lalu duduk disampingnya yang menatap laut.

”Indah ya…” katanya menoleh padaku dan tersenyum.

”Kenapa mengajak ku kemari?”

Dia masih tersenyum mendengar perkataanku, ” Karena ini memang impianku.. melihat pantai dan matahari tenggelam bersama-sama yeoja yang kucintai..”

Aku merasa sesak dengan perkataannya itu. ”Key..”

”Tak usah takut Rumi-ya.. aku bukannya ingin mengganggumu lagi dengan perasaanku.” putusnya.

Dia menatapku lembut saat itu. aku merasa tak tahan, bagaimanapun juga aku memiliki perasaan padanya walau itu sangat tipis.

”Saat aku mabuk malam itu… aku tau kalau kau membalas ciumanku. Aku memang mabuk saat itu tapi saat merasakan kehangatanmu… aku tersadar Rumi…” Key mengatakannya sambil menggenggam tanganku. Aku ingin menepis tangannya tapi perasaanku berkata sebaiknya kubiarkan saja. Walau itu menyebabkan aku tak bisa menahan debaran di dadaku ini. Aku gugup mendengar perkataan yang akan dia ucapkan selanjutnya.

”A-aku mendengar Minho memarahimu malam itu. memaksamu untuk melepaskan aku dan Onew-hyung… dan a-aku mendengar tangisanmu. A-aku sangat ingin menghajar Minho saat itu… tapi saat mendengar kau menangis, aku tak bisa berbuat apa-apa.. yah, itu karena kau menangis bukan karena ucapan Minho.. ta-tapi karena sikapku yang selalu memaksamu untuk mencintaiku…”

Aku menangis mendengar cerita Key. Tapi kemudian Key memegang bahuku, menyuruhku menatapnya dan sekarang aku tau, diapun sedang menangis.

”Aku mencintaimu Rumi-ya… aku ingin kau mendapatkan kebahagiaan. Aku ingin melihat senyummu… senyum lembut tanpa beban seperti yang kulihat di foto.. di foto perjodohan yang diberikan eommanya Onew-hyung untuk perjodohan kalian… a-aku sudah menyukaimu bahkan sebelum bertemu fisikmu. Aku hanya bisa mengutuk dalam hati saat Onew-hyung dengan bangganya memberitahu Jonghyun kalau kau adalah calon istrinya saat acara fans sign. Tapi aku hanya bisa menyembunyikan perasaanku… berpikir kalau itu hanya perasaan sementara. Walau aku tak rela merestui pernikahan kalian, tapi aku berusaha menjadi teman yang baik.. tersenyum melihatmu berdampingan dengan   Onew-hyung. itu kulakukan karena aku…. a-aku ingin melihat kalian bahagia. Ya… aku tak bisa mengatakan pada Onew-hyung tentang perasaanku padamu sebelum pernikahan kalian karena aku tak ingin dia terbebani dengan perasaanku. Aku menyayanginya…. dia Hyung terbaik..”

Key lalu menarik nafasnya dalam, ”… A-aku sedih saat hyung ditinggal pergi Chae Kyeong, tapi keadaannya membaik saat kau hadir. Dia memperlakukanmu sebaik mungkin sebagi istrinya… tapi aku sedih karena kau tak merasakannya. Terlalu memikirkan perkataan orang lain membuatmu goyah.. dan aku berusaha menguatkanmu. Berusaha mengembalikan kepercayaanmu pada Hyung. tapi perbuatanku itu berdampak buruk.. aku terlalu hanyut saat bersamamu dan perasaan suka ku menjadi semakin besar dan malah ingin memiliki. Saat kau berpisah dengan hyung, aku merasa sedih tapi juga bahagia.. karena kupikir ini bisa menjadi kesempatanku…”

Key merubah posisinya, kali ini dia memandang laut, menghirup dalam-dalam udara asin itu dan setelah menghembuskannnya dia berkata, ”.. tapi akhirnya aku sadar. Kesempatan untukku agar bisa bersamamu sudah lewat. Kesempatan itu hangus saat aku tak berani mengatakan perasaanku terhadapmu sejak awal pada Onew-hyung.”

”A-ku berterima kasih.. karena kau sudah memberikan kesempatan untukku agar bisa bersama Jinki..” kataku.

Key memandangku sebentar lalu dia kembali menatap laut, ”.. kalau ada kehidupan yang akan datang. Kesempatan untukku tak akan ku sia-siakan.”

”Kau akan mendapat yeoja baik. Bahkan sebelum kehidupan akan datang itu ada..” kataku bisa tersenyum.

”Ne.. tapi yeoja itu tak sebodoh kau..” katanya menjitak kepalaku.

”Hey, Kibum! Aku ini lebih tua darimu.. sopanlah!” seruku menggosok kepalaku yang dijitaknya.

”Shiroh.. ” dia tertawa. ”untuk apa sopan dengan yeoja bodoh.”

Key lalu berlari ke arah pantai dengan gaya mengolok-olok ku. Aku bergegas menyusulnya.

”GOMAWOYO KIM KIBUM.. SEPUPU TERTAMPANKU!” jeritku ke arah pantai setelah  tak dapat mengejarnya.

”Hey.. aku tak mau jadi sepupu yeoja bodoh sepertimu,” balasnya. ”Ayolah Rumi… kita sama sekali tak punya hubungan darah. Tak usah bersandiwara kalau kau sepupuku. Semua orang sudah tau kalau kau calon istri Onew-hyung.”

”Hehe… kalau begitu. Gomawoyo… ”

”hah.. masih saja berterima kasih.”

”Kibum-ah.. itu terima kasih yang berbeda. Itu ku ucapkan karena kau sudah membuat Chae Kyeong mengikhlaskan Jinki untukku.” kataku.

”Hah… rupanya dia cerita…” kata Key sambil mengais kakinya di pasir pantai.

Aku tertawa melihat wajahnya yang merona karena malu. Tapi kemudian aku merasa tubuhku sangat lemas… dan terakhir sebelum kesadaranku hilang aku mendengar Key berteriak panik memanggil namaku.

@@@@@@@@

”hm~ dimana aku?” kataku saat membuka mata dan melihat cahaya silau dari lampu di sebuah ruangan yang tak ku kenal.

”Kita di klinik. Istirahatlah sebentar…” kata sebuah suara yang ku kenali milik Key.

”Mwo?!” Aku bergegas duduk dan dampaknya kepalaku terasa pusing hingga membuatku berbaring lagi.

”Cih~ tekanan darah rendah..” kata Key.

”Yaa.. ini karena aku terlalu lelah menyiapkan pesta pernikahanku…” sahutku mencoba menyamankan diri dengan tempat tidur yang keras ini.

”Babo!” bentak Key membuatku kaget. “Itu bukan karena terlalu lelah.. tapi karena kau hamil…”

”Mwo? A-aku apa?” aku mencoba memastikan apa yang baru ku dengar dari Key.

”Ne.. kau hamil! Aigoo~ dokter bahkan bilang kalau kandunganmu sudah berusia hampir 1 bulan. Aigoo~ kenapa tak menyadarinya? Bukannya kau dulu sudah pernah hamil?” cecar Key tapi dia tak bisa menyembunyikan senyumnya.

”Aigoo~ Key…” aku mencengkram tangannya girang.

”haha~ kau harus memberitahu Onew-hyung secepatnya. Jangan disembunyikan lagi seperti dulu, arasseo?” titah Key.

”Ne.. arasseo eomma..” kataku bergegas menelpon Jinki.

”Yaa.. jangan panggil aku eomma..” jitak Key di kepalaku.

@@@@@@@@@

Hari ’H’ Pernikahan…..

Aku gugup.. astaga, padahal aku sudah sangat cantik dengan gaun putih. Aigoo~ akhirnya pestanya tiba juga. Ah~ aku gugup sekali. Banyak orang yang hadir di pernikahan ini. Wartawan di luar juga tampaknya sudah siap mengambil gambarku. Ah~ aku grogi~

Aku berjalan mondar-mandir di ruang tunggu pengantin wanita seorang diri sampai kulihat kepala Jinki menengok masuk.

”Yaa, ngapain kau kemari? Keluar sana tunggu tamu!” usirku saat melihatnya masuk.

”Yeobo… Sudah 3 hari tak bertemu aku kangen…” katanya.

Aigoo~ Jinki. Mau tak mau aku jadi malu dengan tingkahnya itu. tapi aku langsung cemberut saat melihatnya duduk dengan lututnya dan memeluk perutku.

”Appa kangen sama kamu baby..”

Yaa! Yang dia rindukan ternyata anaknya. Aku langsung menjitak kepala Jinki saking kesalnya karena sudah membuatku sukses salah paham.

”Ya.. yeobo. Sakit tau!” seru Jinki bangkit dari duduknya dan memijat-mijat kepalanya.

Aku lalu berkilah, ”Kau sih ribut sekali. Jika eomma atau orang lain dengar kalau aku sedang hamil bagaimana?”

”Bahkan eomma mu belum tahu?” kata Jinki membelalakan matanya yang sipit itu.

”Ne.. bisa mati aku dimarahinya jika dia tahu..” kataku dan saat itu pintu terbuka.

”Yaa.. Jinki rupanya kau disini? Sudahlah, ayo cepat keluar, acara sudah hampir mulai. “ seru eomonim.

Dan kemudian acara pengucapan sumpah itu dimulai. Pernikahan kami yang kedua kali ini benar-benar meriah. Aku tersenyum saat melihat teman-temanku berada di kursi tamu menyaksikan aku dan Jinki mengikat janji. Ada Kyunho-sunbae dan rekan-rekan kantor.. teman-teman shawol ku dulu yang tampak sangat antusias. Kim Seera dan Jin rin bahkan tak henti-hentinya menyorotkan handycamnya ke Key dan Jonghyun. Sementara Chaesa dia mengambil kesempatan duduk disamping Minho. Kiyoung malah lebih hebat lagi.. dia berbincang akrab dengan Henry Lau dari Super Junior.. mereka benar-benar memanfaatkan kesempatan. Dan syukurnya mereka memaafkanku yang tidak memberitahu mereka tentang pernikahanku yang sebenarnya dulu

Selain mereka aku melihat Chae Kyeong dan Baek Soojin si banci itu. aku dengar setelah Chae Kyeong sembuh, dia tak bekerja menangani anak-anak SHINee lagi, SM menugaskannya menjadi hair Stylist grup debutan baru.

”Semoga Onew-hyung mendapatkan banyak anak. Kalau perlu sebanyak jumlah trainee di SM.. terus, buat Rumi-noona, semoga noona semakin cantik.. . aku mewakili Key-eomma berpesan, noona harus bisa memberikan anak yang lebih keren ketimbang aku, Minho-hyung dan Jonghyun-hyung. jaga Onew-appa .. astaga selanjutnya aku tak mau baca lagi. Pesannya makin aneh. Pokoknya dariku… CEPAT DAPAT ANAK YA..” bunyi sambutan Taemin yang sukses membuat semua tamu tertawa.

Selanjutnya Minho berdiri menggantikan Taemin berbicara, ”ehem… mungkin tak ada kata yang lebih baik di ucapkan selain kata ’SELAMAT’ .. a-aku mengangumi hubungan kalian.. cinta kalian yang sangat kuat. Dan aku harap apapun yang terjadi kedepannya… Onew-Hyung dan Rumi-noona bisa selalu bersama. Selalu mengingat hari ini… hari-hari indah dimasa lalu dan yang akan datang. Selalu berbahagia…”

Minho terdiam cukup lama dan kemudian dia memandangku dengan senyuman lebar, ”Rumi-noona.. kamsahamnida. Aku berterima kasih sedalam-dalamnya padamu.. kau sudah membuat hidup Onew-hyung menjadi lebh bewarna. Sukses selalu untuk kalian berdua..”

Minho mengacungkan tangannya tinggi dan tersenyum lebar kemudian turun dari podium. Sekarang giliran Jonghyun yang maju.

”Ah~ aku tak menyangka kalian bisa sampai di hari ini. Onew-hyung selalu curhat padaku tentang perasaannya pada Rumi-noona…. yah, menurutku awalnya kalian pasangan aneh. Tapi semakin hari aku sadar kalian tak aneh tapi menakjubkan. Bisa melewati segala rintangan… tak peduli dipisahkan waktu tapi kalian kembali bersama… itu benar-benar membuatku terharu… ”

Yah.. aku bisa melihat betapa terharunya Jonghyun. Dia terlihat meneteskan airmata dan kulihat Jinki berkata, ”ayolah” padanya.

”Okey… aku sangat bahagia melihat kalian. Teruslah saling mencintai… tak peduli rambut memutih… tubuh tak sehat lagi .. selalu bersama dalam suka dan duka… hanya terpisahkan oleh maut. Bahagia selamanya…”

Setelah mengatakan itu Jonghyun segera turun dan menghampiri aku dan Jinki. Dia memeluk Jinki erat dan kemudian menyalamiku. Lalu dia berkata, ”ah~ aku juga ingin segera menyusul kalian…”

Perkataan Jonghyun yang spontan itu jelas saja membuat seluruh ruangan riuh. Lalu dia berkata lebih pelan pada Jinki, ”ah~ besok bakal jadi headlines news nih perkataanku tadi…”

Jinki menanggapinya dengan tawa, ”berarti berita tentang pesta pernikahanku kalah dong…”

”Haha~ tentu saja,” sahut Jonghyun. ”Huh~ si Key tidak ikut memberi sambutan, cuman nitip pesan ke Taemin.”

”Wae?” tanyaku.

”Molla..” Jonghyun mengangkat bahu, ”.. katanya dia akan memberi kejutan saat pesta usai.”

Lalu 1 jam berlalu. Para tamu sudah banyak yang pulang, begitu juga wartawan. Yang tersisa hanya keluarga SMTown yang masih sibuk dengan kegiatan foto-foto serta keluargaku dan keluarga Jinki.

Saat aku, Jinki dan kedua orang tua kami asyik bercanda gurau, Key mendekati kami.

”Onew-hyung. chukkae… aku sebenarnya menyiapkan sebuah kado spesial untuk pernikahan kalian…” kata Key dengan senyum penuh arti.

”Mwo? Cepat berikan..” kata Jinki bersemangat.

”Ini… bukalah. Kuharap kau dan Rumi-Noona suka..”

Jinki yang bersemangat segera membuka kado dari Key dan ketika melihat kadonya. Aku dan Jinki hanya bisa merengangkan bahu lemas, sementara orang tuaku dan Jinki terheran-heran melihat kado itu.

”Sepatu bayi?” kata eomonim tak mengerti sambil menatap ke arahku dan Jinki bergantian.

”Yah.. kuharap kalian suka. Memang sih, aku memilihkan warnanya pink padahal jenis kelamin anak itu belum diketahui…”

”Tunggu Key..” sergah eommaku, ”..Hey kado ini terlalu cepat.”

“Terlalu cepat? Bukannya sekarang Rumi-noona sedang hamil ya?” tanya Key dengan wajah tak berdosa.

”Yaa! Key!” jeritku dan Jinki bersamaan.

”Mwo? Pengantin wanitanya sedang hamil?” seru tetamu yang tersisa.

”Yaa… Kim Rumi! Lee Jinki astaga….” seru eommaku dengan pandangan marah.

”Kyaa~ akhirnya kita dapat cucu ..” kata eomonim memeluk abonim.

@@@@@@@

”Kyaa~ yeoja, siapa namanya noona?” tanya Minho bersemangat saat melihat bayiku yang baru kulahirkan kemarin. Tepatnya bayi yang kulahirkan setelah 8 bulan sejak pesta pernikahanku.

”Lee Sora…” kataku kemudian menyerahkan anak ku untuk di gendong Minho.

”Aigoo~ kyeopta. Nanti sudah besar kita jodohkan dia dengan yoogeun ya..” kata Taemin bersemangat memain-mainkan pipi Sora. ”pipinya seperti buah persik… ”

”Anio… dia akan menikah dengan ku nanti,” seru Jonghyun.

”Yaa.. Hyung.. itu tak boleh.. itu pedofil namanya…” protes Taemin.

”Sok tau kamu,” kata Jonghyun meremas rambut Taemin. ”Ngomong-ngomong Onew-hyung mana?”

”Molla.. dia ketakutan melihat anaknya…” kataku kesal.

”Mwo?! Memalukan…” koor Jonghyun dan Minho bersamaan.

”Anio… aku bukannya takut,” seru Jinki sambil melongokkan kepalanya dari belakang pintu.

”Kalau begitu masuk… kami ingin lihat kau menggendong Sora…” kata Jonghyun menarik tangan Jinki. Awalnya Jonghyun tak bisa menarik Jinki, tapi dibantu Taemin akhirnya Jinki berhasil masuk.

”Ayoo.. gendong Sora..” bujuk Minho.

Jinki pun melakukannya dengan takut-takut, lalu saat anak itu berada di tangannya. Aku bisa melihat Jinki tak bisa menahan air matanya.

”Sora ku…” katannya mencium bayinya lalu duduk di samping ranjangku. ”Yeobo… gomawoyo… Sora cantik sekali.”

”Ne.. Sora kita memang cantik..” kataku tersenyum melihat wajah kikuk Jinki.

”Aigoo~ romantis.. romantis…” kata Taemin yang langsung terdiam setelah mendapat lirikan tajam dariku dan Jinki.

”Melihatmu melahirkan Sora kemarin.. membuatku ketakutan. Kita cukup punya 1 anak saja… tak usah pedulikan keinginanku dulu yang ingin 3.. memiliki Sora saja sudah cukup…”

”Hah.. cuman bicara di awal saja tuh. Bisa jadi nanti berubah pikiran lagi,”kali ini Jonghyun yang menyeletuk.

Kemudian pintu kembali terbuka, Key dengan senyum ceria datang.

”Sora-ya.. eomma datang.” kata Key nyaring yang membuat Sora terbangun dan menangis.

”Yaa… Halmeoni!” seruku dan Jinki padanya.

”Aigoo~ julukanku nambah lagi,” kata Key meratapi nasib.

”Seperi biasa.. Key yang tahu duluan… dia bahkan sudah tahu nama anak Onew-hyung padahal dia baru datang,” kata Jonghyun menggelangkan kepalanya.

Kami semua tertawa mendengar ucapan Jonghyun barusan. Aku lalu menatap Minho, Key, Jonghyun mereka bertiga mempunyai peranan masing-masing dalam pernikahanku dengan Jinki. Sahabat terbaik yang pernah dimiliki suamiku. Begitu juga dengan Taemin.. dibalik kepolosannya aku melihat sisi penyayangnya. Mengenalnya beberapa tahun terakhir ini membuatku yang dulunya sangat mengidolakannya menjadi begitu menyayangi laksana adik ku sendiri. Kemudian aku menatap suamiku, Lee Jinki yang sedang menenangkan tangisan bayi kami… ah~ aku tak tahu harus berkata apa tentangnya. Yang jelas, aku merasa sangat beruntung bisa menjadi istrinya.

Menjadi istri seorang idola rupanya memang bukan hal yang buruk. Menikah dengannya adalah keberkahan dalam hidupku. aku tak ingin menyiakan dirinya lagi.. aku berjanji.

THE END

**** Kyaaaaa~ *jejeritan dulu* mianhae klo endingnya rada mengecewakan dan lama publish. Aku mikir akhir yang tepat tapi buntu sampai disini.

Aku harap readers yang udah ngikutin nih ff dari awal g nyesel ya …

Gomawo atas komen-komennya slama ini…

Aku gak bikin after story dr kisah ini. cukup sampai disitu saja hehehe~ lagian ide sudah buntu ==’ untuk MI Jinki POV bakal lanjut tenang az kok ^^

Okey… seperti biasa.. jangan lupa komen ya ^^/

98 thoughts on “Married Idol-END

  1. EON???? kenapa komenku tidak ada disini? apakah dulu tidak masuk? setahuku aku komen apa lagi ini last part.. AAArghhh~! tidak!! Dulu belon punya wp sih eon, jadi magang di hape dengan uname sama dan seringkali gagal komen. Padahal aku inget aku takjub ma adegan dirumah sakit pas rumi ngelahirin. Aku inget banged komen lumayan panjang ituu…… andweeeee… ternyata tidak ada sama sekali~!

    YA AMPUN~~
    malam ini aku datang ke sini cuma mau liat last part MI yg masih kuingat bagussssss dan menakjubkannya. Ini FF favorite aku eon!! Aku kangen ama ff eon. tapi aku belum bisa baca cast suju~! da belum dapet feelnya.. entar deh ya eonmit aku baca pas udah beneran suka kyuhyun. lol~!!! *walau si diya udah nyeret2 aku suruh baca*

    Mimit eonnieeeee….. saya mah selalu berharap JINKI POV dilanjutin. Kalau ada waktu dan ide kesana, nanti dibuat lagi yaaaaa eon.. Lope lope pokoknyaa… akan selalu kunanti dengan sabarrrrrrr ^^//

  2. it feels so real..
    gak kayak sebuah cerita fiksi hasil imajenasi pengarangnya,tapi kayak baca curhatan sepenggal kehidupan yang pernah dilaluin sama pengarangnya.manteb! (pake b biar poool..hehe..)

  3. Akhirnyaa….. Happy Ending,,,
    Baby Sora ya :3 haha Onew knpa si smpe takut gtu sm Sora?? :3 sora kn cuman bayi doang :3
    Baru tau ada yang Jinki pov sm Rumi pov. dari chap 1-4 aku komennya di Jinki O.o!!
    gpp kan thorr??

  4. Selalu keren disetiap episodenya, terinspirasi banget. tetap semangat di ff lain. sangat ditunggu FF SHINee. aku sangat ngefans mereka terutama Onew si Leader tentunya. Gomayo atas ceritanya. Hwaiting🙂

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s