The prince is a Frog (Chapter 3): ~ The Brother and Sister~


Seorang gadis yang cukup cantik berusia sekitar 21 tahun menyeret travel bag-nya dengan wajah kelelahan memasuki rumahnya yang megah di komplek Gangnam, Seoul.

Gadis itu, Kim Seera baru saja kembali dari London pagi ini. Sengaja dia pulang kerumahnya tanpa mengabari seorang pun anggota keluarganya.

Niatnya sih membuat kejutan. Tapi, rupanya orang rumah-nya tak ada yang terkejut dengan kedatangannya. Pelayan-pelayan dirumahnya menyambutnya dengan ekspresi biasa saja. Kakaknya, Kim Heechul lebih parah lagi, dia cuek saja saat adiknya pulang. Tak ada yang antusias dengan kedatangannya, membuatnya heran dan tentu saja emosi.

Seera: (ngamuk karena dicuekin, menghampiri kakaknya yang sedang asyik menikmati sarapan diruang makan), “Kyaa! Kalian semua! Heran deh, kok bisa-bisanya cuek sama kedatanganku? Aku ‘kan sudah setahun gak pulang. Kok gak ada yang nyambut aku sih?” (pundung abis nih orang)

Heechul : “Lalu kenapa pulang? Kuliahmu gimana kabarnya?” (masih makan dengan cueknya)

Seera cemberut mendengar pertanyaan kakaknya terlebih dengan tingkah cueknya. Apalagi Seera tidak ingin masalah studinya dibahas. Setahun kuliah di Brigthon University membuatnya menderita. Bukan karena kampusnya atau sistem belajarnya, tapi selama di London setahun membuatnya menderita ‘home sick’ akut yang selalu membuatnya merindukan rumah, tapi bukan merindukan kakaknya tentu saja.

Seera: (duduk dikursi disamping kakaknya), “Aku berhenti kuliah,…” (Heechul yang kebetulan lagi minum, kaget. Disemburkannya air dimulutnya ke wajah Seera. Apes nih cewek pagi-pagi, hohoho~) “…Gyaaa!!! OPPA JAHAT!” (usep muka).

Heechul: “KAU..!!” (stress ma ucapan adeknya), “Ya! Kau Kim Seera, kau pikir segampang itu berhenti?! Lekas balik lagi kesana. Kau tidak boleh berhenti kuliah!”

Seera: “Andwae, Shiroh! Aku udah ngajuin surat mundur. Aku males kuliah disana. Aku stress. Lebih baik aku gak usah kuliah daripada mesti keluar negeri lagi. Tak sudi!”

Heechul : (jitak pala adeknya), “Ya, BABO!! Pokoknya kalau kamu gak balik, kamu gak dapat duit. Jangan harap aku mau nafkahin kamu kalau kamu gak nurut aku. Arasseo?!

Seera: “Baik, kalau syaratnya gak dapat duit dari oppa, itu gak masalah. Yang jelas aku gak mau balik kesana. Ogah!” (bicara dalam hati)palingan, oppa juga gak tega gak ngasih aku duit, cuih~” (terus ngomong lagi), “Aku mau istirahat dulu, maklum masih jetlag. Ahhh~ my home sweet home, Donghae oppa. Bawakan koperku ya,” (kedipin mata ke Donghae yang dari tadi mendengarkan pertengkaran kakak adek itu).

Donghae: “Oh,…” (kaget karena tiba-tiba disuruh), “…baik, N-nona.”

Heechul: “Ya, Donghae. Jangan lakukan itu. Memangnya kau ini bellboy? Biarkan saja si Seera bawa barangnya sendiri. Pelayan yang lain, ingat! Jangan mau disuruh-suruh sama anak itu…” (nunjuk-nunjuk Seera), “…selama dia disini, dia harus melakukan semuanya seorang diri. Awas saja kalau kalian membantunya!”

Seera: (ngamuk mendengar keputusan kakaknya), “YAA! Oppa, kau ini seenaknya sekali membuat keputusan. Eomma, Appa dan haraboji di surga akan menangis karena melihatmu menindasku seperti ini!”

Heechul: (berdiri dari duduknya), “Mereka justru akan menangis melihat tingkahmu yang seenaknya saja!”

Seera yang sadar tidak bisa menang dalam perang mulut dengan kakaknya, memutuskan untuk mengangkat barang-barang bawaannya sendiri ke kamar. Yang jelas, keputusannya berhenti kuliah sudah bulat. Dia tak peduli lagi jika kakaknya benar-benar memutus pasokan keuangannya. Dia bertekad akan berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Paling tidak, dia bisa bertahan selama tidak diusir dari rumah.

Heechul: (setelah Seera memasuki kamarnya), “Aigoo~, anak itu makin tidak bisa dikendalikan sejak haraboji meninggal.”

Donghae: “Saya dengar, nona muda menderita homesick saat di London, tuan. Dia ‘kan memang tidak terbiasa jauh dari tuan.”

Heechul: “Kalau tidak betah, harusnya dia berhenti dari awal! Lagipula, aku yakin, bukan aku yang dirindukannya.”

Donghae: (terlihat berpikir), “Lalu, dia homesick karena apa?”

Heechul: (senyum ketus), “Yang dia rindukan itu pastinya kau. Dibanding denganku, kau lebih dekat dengannya ‘kan? Jangan kau kira, aku tak tau kalau kau dan adik ku pernah berkencan.”

Donghae: (lagi-lagi kaget), “Aniya! Kami tidak pernah berkencan. Tuan, anda sepertinya salah paham. Saya mana berani mendekati nona muda. Saya tau kedudukan saya”

Heechul: (tak peduli dengan penjelasan Donghae), “Sebetulnya, status atau kedudukan bukan masalah. Yang ku kuatirkan justru kau!” (Nepuk pundak Donghae), “Kau tau kan kalau Seera itu begitu mengerikan, yeah… dia yeoja yang cantik dan aku yakin banyak pria yang menyukainya. Tapi, lebih baik jangan hanya melihat fisik saja, kecuali… kau siap menerima dia apa adanya. Bisa mengendalikan sifatnya yang bahkan… aku sendiri tidak bisa.”

Donghae tertegun dengan ucapan tuannya. Ya, nona mudanya itu seperti yang dikatakan kakaknya mempunyai karakter yang seenaknya sendiri. Menurut Donghae sebenarnya sifat kedua kakak beradik itu sama.

Donghae sangat paham dengan watak kakak-adik itu karena sudah mengenal mereka sangat lama. Mereka bertiga tubuh besar bersama. Dan mengenai perasaan Seera padanya, Donghae juga tau. Seera memang tidak menganggap Donghae hanya sebagai pelayan atau sekadar asisten kakaknya. Dari pandangan mata Seera terbaca sekali kalau dia menyukai Donghae.

Donghae sangat tau tentang itu. Hal itu karena pandangan mata Seera sangat mirip dengan pandangan mata Heechul saat memandang Boram. Tapi, walaupun ada cinta dari nona mudanya, Donghae tidak mau menyalah gunakan keadaan itu. Dia tau posisinya dan dia yakin, suatu saat nona mudanya akan menemukan seorang pria yang memang pantas dan ditakdirkan untuknya.

 

+++++++

Sender: Jin Rin-Jung

24 August 10  07.05

‘ Oppa, hari ini aku mulai bekerja lagi ^___^ , kali ini mengajar di TK tempat Jin rin mengajar.  Doakan agar aku tidak dipecat dihari pertamaku. Oya, hari ini kau harus pulang. Kita makan malam bersama. Oke. Kutunggu!!’

Dari adikmu yang manis >,<

Jungsoo tersenyum ketika membaca pesan singkat dari adiknya. Adiknya sudah mendapatkan pekerjaan lagi rupanya. Dilihatnya nomer pengirim, ternyata Chaeri menggunakan Hp Jin Rin. Terpikir di benak Jungsoo untuk membelikan adiknya Hp baru. Tapi setelah berpikir ulang lagi, tampaknya itu tidak perlu. Bukan berarti Jungsoo pelit, tapi lebih baik adiknya itu membeli  dari hasil kerja keras nya sendiri, supaya dia tidak lalai lagi kelak.

Siwon: (memakai jasnya sambil memperhatikan Jungsoo), “Pesan dari kekasihmu?”

Jungsoo: (segera meletakkan Hp-nya, kemudian berjalan menghampiri tuannya), “Aniya, itu dari adik ku.”

Siwon: (menatap Jungsoo dengan pandangan tak percaya), “Benarkan? Hah~ aku tidak bisa membayangkan ekspresimu jika pesan itu dari kekasihmu. Mendapat pesan dari adik saja kau sudah terlihat berbunga-bunga seperti itu.”

Jungsoo: (tersenyum malu-malu), “Adik ku baru saja menyampaikan kabar gembira, tentu saja saya merasa senang. Lagipula, bisa dikatakan hanya dia satu-satunya hal yang berarti bagi saya saat ini. Hanya dia keluarga saya, tuan.”

Siwon: (mengangguk), “Ne, aku mengerti. Tapi, bagaimanapun juga, dia tidak akan menemanimu selamanya. Kau harus siap saat hal itu terjadi. Hm~ apa saja schedule ku hari ini?”

Jungsoo: “Oh,” (terkesiap karena mendengar perkataan Siwon). “Kita akan kembali ke Seoul dan setelah jam makan siang, anda akan ke rumah keluarga Kim untuk mendengar pembacaan surat wasiat mendiang Tuan besar Kim Bok So.”

Siwon: (bergumam), “Pembacaan surat wasiat…”

Jungsoo: “Apa anda tidak ingin menghadirinya?” (menunggu jawaban Siwon yang masih saja terdiam sambil asyik mengancingkan jas nya), “Saya bisa membatalkan jika tuan…” (terhenti karena Siwon mengangkat tangannya, tanda tidak masalah), “Baiklah berarti anda akan menghadirinya. Bisa kita pergi sekarang, tuan? Mobil anda sudah siap.”

Setelah siap, Siwon pun melangkah duluan, keluar dari hotel tempatnya menginap disusul oleh Jungsoo. Disepanjang perjalanan dari Namwoon menuju Seoul dengan menggunakan mobil pribadinya, Siwon berpikir. Mencoba memilih kata yang akan diucapkannya saat bertemu sepupunya.

Hubungannya dengan sepupunya, Kim Heechul bisa dikatakan kikuk. Mungkin faktor rentang usia yang menjadi hambatan bagi mereka untuk saling berkomunikasi. Apalagi setelah kakek mereka meninggal setahun yang lalu. Nyaris tak ada kata yang diucapkan selain ‘salam’ jika mereka bertemu.

Siwon sangat ingin hubungan mereka membaik karena itu juga akan berpengaruh bagi baiknya hubungan kerja mereka kelak. Dan dia fikir kakek mereka pun pastinya mengharapkan hal yang sama.

 

+++++++

 

Chaeri memasuki kelas bunga matahari dengan degub jantung yang berdetak cepat. Dia sangat gugup tentu saja. Ini pengalaman pertamanya mengajar, jadi wajar. Terlebih dia tidak pernah dekat dengan anak-anak. Pengalamannya berhubungan dengan anak-anak masih sangat minim.

Kelas itu sunyi pada saat dia masuk, padahal pada saat masih diluar kelas Chaeri mendengar suara ribut dari kelas itu. Tapi, saat dia masuk, suasana menjadi senyap. Semakin mendebarkan saja.

Setelah memberi salam, Chaeri meng-absensi dan semua murid hadir di hari pertama Chaeri mengajar. Termasuk murid yang paling terkenal kenakalannya, Lee Soohyeon.

Suasana masih sangat dingin, anak-anak rupanya masih jaga sikap dengan guru baru. Yeah, tapi itu hanya terjadi di lima belas menit awal pelajaran karena sesuai dugaan, kelas kembali ribut walau saat itu mereka sedang ditugaskan Chaeri untuk menggambar.

Di awal, anak-anak ribut dengan celotehan mereka tentang apa yang mereka gambar. Chaeri yang berkeliling kelas bisa menangkap antusiasme dari anak-anak saat mereka menggambar. Tapi, tak lama terdengar suara tangisan dari seorang bocah lelaki.

“Huweeeee………”

Chaeri: (dalam hati), “Mati aku. Gimana cara diemin anak itu? Eomma..appa… help me.”

Jinki : (murid ini yang paling besar dikelas dan merupakan ketua kelas), “Seonsangnim, Soohyeon menangiskan Taemin lagi!”

Semua murid kecuali anak yang menangis itu memandang ke arah Chaeri. Dari tatapan mata mereka terlihat kalau mereka merasa jengah dengan tangisan teman mereka.  Ditatap seperti itu, Chaeri pun jadi tak tahan juga. Dihampirinya anak yang menangis itu. Chaeri yang masih tidak mengenali anak yang bernama Soohyeon mencari-cari anak yang dimaksud dengan matanya sementara si Taemin masih nangis meraung-raung.

Chaeri: “Ya~ siapa yang bernama Soohyeon? Kenapa menggangu temannya yang sekecil ini?” (sambil membujuk Taemin supaya diam dalam pelukannya)

Chaeri: “cup..cup..cup.., sudah jangan nangis terus, ayo lanjutin gambaranmu,” (ngasih kertas baru ke Taemin).

Kemudian seorang gadis kecil mengangkat tangannya. Anak itu duduk tepat dihadapan Taemin sebelum menangis tadi. Chaeri cukup kaget ketika melihat anak itu, dia tidak menyangka gadis yang tubuhnya lebih kecil dari Taemin itulah murid paling nakal dikelas itu. Aneh.

Chaeri : “Yaa~ Hyeonnie-ya…” (melepaskan pelukan Taemin dan menghampiri soohyeon) “…kenapa membuat temanmu menangis?” (Soohyeon mengacuhkan Chaeri), “Ibu yakin, kau mendengar pertanyaan barusan. Jadi, jawablah.”

Soohyeon : (memandang Chaeri, terlihat tidak suka dengan pertanyaan sang guru), “Dia terlalu cengeng. Aku tidak mengganggunya.”

Taemin : “Bohong bu~, dia tadi mengatai gambaran ku jelek. Huhuhu~” (menangis lagi)

Chaeri meneguk liur. Benar kata Soohyeon, Taemin tampaknya memang terlalu cengeng tapi jelas Soohyeon tampaknya juga salah. Pada saat seperti ini cukup sulit untuknya mengambil keputusan. Dia masih tidak tega menghukum Soohyeon lagipula seumuran mereka memang wajar jika saling ejek. Masalahnya terlalu sepele untuk menghukum murid.

Keputusan Chaeri selanjutnya, dia menjauhkan tempat duduk Taemin dari Soohyeon. Paling tidak, dengan begitu Soohyeon jadi tidak bisa mengejek Taemin lagi. Yah~ sampai jam istirahat tiba sudah cukup tidak terdengar suara tangisan lagi.

 

+++++++

 

Chaeri : (memasuki ruang guru saat istirahat tiba, kemudian menghampiri Jin rin yang sedang asyik menulis agendanya di meja kerjanya), “Yaa. Jin rin-ah. Anak yang bernama Soohyeon itu tampaknya tak begitu nakal. Berlebihan sekali guru sebelum aku yang sampai mengundurkan diri hanya gara-gara tingkah anak itu.”

Jin rin: (masih asyik menulis), “Dia juga sedang mengandung, karena itu mentalnya juga tidak tahan menghadapi tingkah Hyeon.”

Chaeri : “Oh begitu, tapi menurut ku, anak itu tak senakal yang kau bilang. bagaimanpun juga, dia masih anak-anak. Tidak baik mencap-nya nakal karena kita belum tau wataknya yang sebenarnya,” (Jin rin manggut-manggut mendengar ceramah Chaeri), “Kita lah yang menentukan dia akan menjadi anak yang baik atau ….”

PRANG…

Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah. Jin rin, Chaeri dan beberapa pengajar di ruang guru kaget dan mendadak berdiri, beranjak ke asal suara. Suara itu berasal dari pecahnya salah satu kaca jendela di kelas bunga matahari. Di kelas terlihat Jinki, SooHyeon dan Taemin yang juga sama terkejutnya dengan guru-guru mereka.

Jin rin : (bertanya pada semua murid kelas bunga matahari yang berada dikelas) “YAA!!! Siapa pelakunya?”

Jinki menatap Soohyeon, Soohyeon menatap Taemin dan Taemin pun menangis.

Chaeri : “Jadi Taemin yang memecahkan kaca jendela?” (menghampiri Taemin yang menangis)

Taemin : “Aniya seongsangnim. Hyeonnie pelakunya. Dia yang melempar kotak pensil saya ke jendela. Huaaaaa~~~”

Jinki : “Seonsangnim, saya sudah mencegah Hyeon. Tapi dia mengancam akan memanggil kakaknya yang tukang pukul untuk memukul saya. Jadi, saya tidak berani. Huaaaaa~” (kali ini si Jinki juga ikut-ikutan nangis).

Jin rin: “Kalian berdua berhentilah menangis. Sudah menjadi peraturan saat istirahat tiba, tidak ada siswa yang boleh berada di dalam kelas. Kalau kalian tidak berhenti menangis sekarang, ibu akan menghukum kalian.”

Seketika itu juga kedua bocah lelaki itu berhenti menangis. Hebat, Jin rin. Dia dengan mudah mengendalikan para murid. Setelah itu, Jin rin menyuruh Jinki dan Taemin bermain di halaman. Di kelas hanya tersisa dia, Chaeri dan Soohyeon.

Jin rin: (Memandang Hyeon yang terlihat tidak merasa bersalah), “Hyeonnie-ya, ikut Chaeri-seonsangnim ke ruang guru. Chaeri, tolong hubungi wali Hyeon suruh dia kemari. Aku yang akan membersihkan ruangan ini.”

Chaeri: “Mwo? menghubungi wali anak ini? Aigoo~ Jin rin-ah, biar aku saja yang membersihkan ruangan, kau saja yang menghubungi walinya. okey?!”

Jin rin memandang Chaeri dengan malas, dari tatapannya terlihat dia tidak ingin menukar tugasnya dengan Chaeri.

Chaeri: ”Oke… oke.. aku laksanakan… jangan menatapku dengan menyebalkan seperti itu.. ”

Chaeri kembali ke ruang guru dengan mengajak Soohyeon. Dicarinya nomer ponsel wali anak itu. Dia tertegun sejenak melihat nama wali Soohyeon.

Chaeri: (Nepuk jidat, bicara dalam hati), “Aigoo~ rupanya wali Soohyeon adalah asisten pria katak itu. Donghae-sshi.” (Chaeri mikir sejenak sambil memandang Soohyeon yang duduk diam di kursi Chaeri.. bimbang untuk menghubungi atau tidak), “Baiklah.. aku telpon saja dia..”

Tak lama telpon mereka tersambung….

Donghae: ” yeoboseyo..”

Chaeri: (gugup ), ”Anda Lee Donghae wali dari Lee Soohyeon?”

Donghae: “Ne.. kenapa dengan Soohyeon?”

Chaeri: “Ah~ maaf mengganggu.. tapi saya wali kelasnya. Hmm~ bisakah anda ke sekolah pada saat istirahat makan siang?”

Donghae: ”Apalagi yang dilakukan anak itu?”

Chaeri: (makin gugup), ”Aniya… saya tak akan membicarakannya disini.. anda kemari saja..”

Donghae: ”Maaf.. aku tak bisa. Bicarakan lewat telpon saja..”

Chaeri: (gemas dengan perkataan Donghae), ”..Donghae-sshi! Anda harus ke sekolah! Saya akan menunggu anda sampai anda datang.” (setelah itu menutup telponnya).

Hyeon: ”Oppa pasti tak akan datang…”

Chaeri: (kaget mendengar ucapan Soohyeon), ”Ani.. dia pasti datang.”

Hyeon: (Matanya berkaca-kaca), ”Mana mungkin… oppa tak pernah peduli padaku. Dia bahkan tak pernah mengantar ku ke sekolah..” (tangisnya pun tumpah).

Chaeri: (tersenyum), ”Hey.. jangan bilang kau melakukan kenakalan itu agar oppamu memberi perhatian padamu. Tebakkan ibu pasti benar..”

Hyeon: (sesegukan menahan tangis), ”Bagaimana ibu bisa tahu?”

Chaeri: ” Karena aku juga memiliki seorang oppa..” (Chaeri membelai rambut Soohyeon), ”Ibu janji.. pasti akan membuat oppamu kemari. Apapun caranya.. dia pasti akan memperhatikanmu..”

 

To Be Continued

7 thoughts on “The prince is a Frog (Chapter 3): ~ The Brother and Sister~

  1. another great FF.. dah liat di blog lain tapi tak minat baca, ntar knapa pas liat di blog yg punya malah semangat bacanya kekekekke

    keren euh, critanya ngalir aja tanpa perlu ngerutin dahi hahaha

  2. Wkwkwk,,mian bru bc skrg…
    Ihh gmes bgd ma jinki n taemin de,,
    *ngjak ngmng ontae “Sni nonna peluk…”*
    kekeke

  3. udah ku duga…kalo yang paling nakal ntu adeknya donghae..
    tapiii..kok dia kaya gak peduli gitu siii..sama soohyeon..pantes aje dia jadi nakal gt..

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s