LIKE THE SUN (Part 2)


Title: Like The Sun

Author: OnmitHee

Main Cast: Kim Rumi, Lee Jinki, Kim Kibum

Legth: Sequel

Genre: Romance, Tragic

Rating: PG-15

STORY

** Jinki POV

Gadis itu.. gadis yang barusan mencuri ciuman pertamaku berlari pergi meninggalkanku yang masih membeku dan tak percaya dengan hal yang barusan terjadi.

Aku tau kalau dia memang menyukaiku. Dia selalu mendekatiku sejak kami bertemu setahun yang lalu. Tapi.. ini jelas mengejutkan untukku.

Aku memegangi bibirku… masih terasa kelembutan bibirnya dan saat aku mengecapnya.. ada rasa lemon. Apa tadi dia memakan permen lemon atau memakai pelembab bibir rasa lemon?

Aku tak bisa menutupi kalau aku sangat bahagia dengan kejadian tadi. Karena sejak dia mengikuti ku setahun lalu, aku juga jadi menyukainya.

Dia gadis pertama yang menunjukkan ketertarikannya padaku. Lagipula dia sangat manis walau setahun lebih tua dariku, aku juga tau kalau dia pernah menjuarai interhigh lari 100 meter.. dia mengagumkan untukku. Dan aku bangga, gadis seperti dia bisa menyukaiku.

Hah.. bagaimana kelajutannya setelah ini ya… setelah ciuman tadi? apa dia sudah resmi menjadi milikku ya?

Tapi… aku merasa ini terlalu cepat. A-aku belum siap untuk memiliki yeojachingu walau aku juga menyukainya.

Aku takut ini hanya cinta monyet yang sekejap saja muncul lalu menghilang. Aku takut jika suatu saat hubungan kami berakhir, kami malah menjadi musuh. Lagipula… ini pengalaman pertamaku.

Aku takut melukainya…

Aku lalu mengambil langkah cepat menuju rumah Rumi. Yah.. mungkin dia tak tau, tapi aku pernah mengikutinya sekali sehingga aku bisa tau dimana dia tinggal.

+++++++++

Aku tak bisa menahan degup jantungku yang berdetak kencang saat aku berada di rumahnya yang menurutku sangat sederhana. Padahal setahuku dia sepupu Kibum, putra pemilik sekolah tempatku belajar. Tapi, Rumi malah tinggal di apartemen sederhana berbanding terbalik dengan keluara Kim yang setahuku tinggal di komplek elit Gangnam dan memiliki rumah terbesar disana.

Dan saat melihat dia dengan pakaian biasa membuat jantungku rasanya mau melompat keluar. Dia manis sekali dan aku sangat menyukainya…

”Jinki? K-kau.. kenapa bisa tau rumahku?” katanya saat melihatku. Dia kaget sekali tampaknya.

”I-itu tak penting.. aku ingin kita bicara…” sahutku karena sejujurnya aku malu mengakui kalau aku pernah membuntutinya.

”Kita bicara diluar saja ya… tunggu sebentar, aku ambil mantelku dulu.”

Kemudian dia berlari menuju kamarnya. Dan setelah dia mengenakan mantelnya, dia menggandeng tanganku untuk mengajakku keluar mengikutinya. Dia tak melepas gandengannya sampai kami tiba di taman depan gedung apartemennya.

Dia lalu mengajakku duduk di salah satu kursi taman, saat duduk dia berusaha merapatkan tubuhnya denganku. Mungkin maksudnya agar kami bisa saling menghangatkan dalam cuaca dingin ini.

”Ingin bicara apa?” tanyanya, suaranya terdengar manja sekali.

Aku menguatkan hatiku saat menjawabnya, ”Aku belum mengucapkan terima kasih atas kadomu tadi.”

”Bukannya sudah?” katanya lagi sambil menatapku. Membuatku makin gugup saja.

”Ah… Ne…”

“Lalu.. bagaimana dengan ciuman tadi. Kau menyukainya ’kan? Kau membalasnya tadi.. itu tandanya kalau kau menerima cintaku ’kan? Kita sekarang pacaran ’kan?” tanyanya berusaha mencari mataku sementara aku menunduk.

”A-aku belum siap untuk itu,” sahutku dan saat itu Rumi melepaskan tangannya dariku. ”A-aku cukup sibuk untuk berkencan… aku melakukan kerja sambilan dan juga sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian kelulusan. Aku ingin belajar saja sekarang…”

”Tapi.. kau menyukai ku ’kan?” aku melihat matanya mulai basah. Ah~ aku merasa bersalah sekali padanya. Padahal aku juga sangat menyukainya.. tapi, aku tidak bisa mengatakan perasaanku sekarang padanya.

”A-aku belum bisa memastikannya..”

Rumi lalu bangkit dari duduknya. Berdiri dihadapanku. Aku mendongakkan wajahku agar bisa melihatnya. Memastikan dia tak menangis, aku bisa melihat matanya sudah tak kuat menampung butiran air mata. Tapi, dia bisa mengendalikan dirinya.

”Aku tak akan menyerah. Kita pasti akan bisa bersama kelak… aku akan menunggumu..” setelah mengatakan itu dia bergegas pergi meninggalkanku. Masuk ke dalam gedung apartemennya.

+++++++++

** Rumi POV

Hampir 2 bulan berlalu sejak Jinki menolakku. Yeah..dia memang tak mengatakan dia menolakku tapi dia meng-isyaratkan itu dari kata-katanya. Terlebih, dia sekarang terlihat berusaha menjauhiku.

Aku berkali-kali ke sekolahnya tetapi dia seakan menghindar ketika kami bertemu. Mengatakan sibuk dan banyak alasan lain.

Aku bingung dengan sikapnya itu. apa dia merasa risih denganku?

Saat ini aku sedang menunggunya lagi di depan sekolahnya. Besok adalah ulang tahunku dan aku ingin dia mau merayakannya denganku. Ibuku bilang dia akan menyiapkan pesta kecil di rumah dan aku boleh mengajak teman-teman ku. Ini sangat menyenangkan karena aku memang tak pernah merayakan ulang tahun.

Saat aku melihat Jinki keluar dari gerbang sekolah, aku sangat senang. Dia terlihat berbicara akrab dengan teman-temannya, aku bisa melihat tawanya. Tapi, tawanya hilang saat melihatku.

”Yaa… noona-nya Jinki datang.. hahaha~” aku mengabaikan suara mengolok-olok dari teman-teman Jinki saat melihatku. Aku tak peduli komentar mereka, karena Jinki toh tak pernah memanggilku ’noona’.

”Ada apa lagi?” tanya Jinki, dia mengatakan sambil berjalan tanpa memandangku yang berusaha mengikuti langkahnya. Dia dingin sekali sekarang.

”Besok ulang tahunku…” kataku. ”… aku ingin kau datang ke rumahku besok jika kau tak sibuk.”

Dia menghentikan langkahnya dan kemudian menoleh padaku, ”A-aku tak janji..”

”Tak apa.. tapi, kalau kau bisa… datang saja ke rumahku pukul 5 sore. Baiklah sampai jumpa…”

Aku melambaikan tanganku padanya kemudian berlari meninggalkan tempat itu. Ah~ aku sedih sekali melihat dia yang dingin seperti itu. nyata sekali dari sikapnya dia tak ingin datang ke pesta ku.. tapi, aku masih saja mengharapkannya.

Aku… aku merasa kalau diriku sangat bodoh kini.

++++++++++

** Jinki POV

Rumi.. dia terlihat kecewa karena sikapku. Yah.. aku memang sengaja tal peduli padanya padahal aku sangat menyukainya. Hanya saja, aku bersikap seperti itu karena aku malu.

Aku malu jika dia berada didekatku. Sikap dingin dan tak peduli ku padanya bukan tanpa alasan. Itu karena aku memang sengaja menjauh darinya Teman-teman sekolahku pasti mengolokku jika melihat dia menungguku..

Kejadian 2 bulan lalu, saat dia menciumku… rupanya saat itu ada salah seorang teman sekelasku yang melihatnya. Kemudian temanku itu menyebarkannya pada teman-teman yang lain. Jelas saja, hal itu membuatku menjadi bahan olokan. Mereka mengolok karena  aku berkencan dengan siswi SMA.. aku malu sekali jika mereka mulai mengolokku. Itu sebabnya aku menjauh dari Rumi.

Aku tau itu bukan salah Rumi, dia tak salah apa-apa. Tapi, hal yang paling ku benci adalah menjadi bahan olokan… sehingga terpaksa aku menyakitinya.

Aku melangkah gontai saat masuk ke rumahku. Seperti biasa aku akan sendirian di rumah sampai jam makan malam tiba. Orang tuaku bekerja sampai malam karena mengurus toko daging warisan dari kakek pihak ayahku. Mereka tak pernah menyuruhku untuk membantu usaha mereka… bagi mereka yang terpenting untukku adalah menikmati masa sekolah dan belajar sebaik mungkin.

Tapi aku sangat kesepian… itu sebabnya aku selalu menghabiskan waktuku di sekolah, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan juga bekerja sambilan tanpa orang tuaku tahu.

Saat sudah berada di dalam kamarku, aku memandang bingkisan kecil yang teronggok di atas meja belajar. Aku ambil bingkisan itu dan membukanya dan terlihatlah sepasang anting berbentuk bunga yang sengaja kubeli dengan uang hasil kerja sambilanku.

Aku ingin menghadiahkan itu untuk Rumi. Tapi, aku bimbang… karena jika aku memberikan benda itu maka itu dia akan tahu kalau aku juga menyukainya.

Ah~ padahal dia sudah mengundangku untuk datang ke pesta ulang tahunnya besok. Aku bisa memberikan anting itu.. tapi, aku sangat ragu.

Aku harus bagaimana? Tak ada orang yang bisa ku ajak untuk bertukar pikiran… menyebalkan.

+++++++++++

** Rumi POV

Aku sedang melamun seorang diri di kamarku. Sekarang sudah pukul 11 malam, sebentar lagi hari akan berganti dan usiaku bertambah. Aku tak bisa tidur memikirkan hari esok, apa Jinki akan datang ya?

Melihat sikapnya tadi siang, aku menjadi ragu. Padahal dialah yang paling kuharapkan datang di pestaku nanti.

Pesta ulang tahun pertama dalam hidupku. Hah, itu pun bisa terjadi karena aku memaksa ibuku. Kalau aku tak memberikan uang hasil kemenanganku di interhigh musim gugur lalu, belum tentu ulang tahunku bisa dirayakan.

Aboji, pekerjaannya tak tetap. Penghasilannya tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Kalau aku tak mendapatkan beasiswa karena prestasi olah raga belum tentu aku bisa sekolah.

Hah.. di tambah sikap buruknya yang suka mabuk-mabukkan dan main wanita. Aku heran kenapa ibuku bisa bertahan hidup seperti ini. Uang tak cukup, sering dipukuli dan dikhianati. Jika aku menjadi ibuku, aku pasti sudah meninggalkan ayahku.

Tapi dia bertahan dengan alasan bodoh.. cinta. Hah, sikapnya yang bodoh dengan percaya terhadapa cinta itu sangat kuat dan menurun padaku. Aku begitu mencintai Jinki hingga menjadi gadis yang tak tahu malu dan selalu menunggunya.

Kemudian aku mendengar suara ayahku yang berteriak-teriak. Sudah pulang rupanya makhluk menyebalkan itu dan pastinya dalam keadaan mabuk. Aku mengambil mp3 ku dan memasang earphone ke telinga. Aku bosan mendengar suara pertengkaran orang tuaku. Aku bertekad setelah aku lulus sekolah, aku akan meninggalkan rumah ini. Aku tak tahan hidup seperti ini terus.

++++++

Aku mematikan mp3-ku saat aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. Kyaa~ usiaku sudah bertambah, aku sudah 17 tahun sekarang. Aku menyanyi lagu ulang tahun dengan suara perlahan untuk diriku sendiri.

Setelah itu, karena aku sudah tak mendengar suara ayah dan ibuku di luar kamar. Aku bergegas keluar, aku akan menuju dapur untuk mengambil sekaleng cola dingin untuk merayakan ulang tahunku.

Tapi, saat aku keluar kamar. Aku mendengar suara isakan perlahan. Hah, pasti suara ibuku yang menangis. aku lalu menyalakan lampu ruang tengah sekadar ingin melihat ibuku yang tampaknya sedang menangis disana. Yah, sebagai anak sedikitnya aku harus menanyakan keadaanya setelah bertengkar dengan ayahku.

Namun, yang kulihat saat itu lebih buruk ketimbang memar yang selalu mengiasi wajah ibuku setelah bertengkar dengan ayah. Ini hal yang lebih buruk.

Hal yang paling menakutkan dalam hidupku. Dan aku tak pernah menyangka terjadi di hari ulang tahunku.

Aku melihat ayahku tergeletak tak sadarkan diri dengan darah mengucur deras dari kepalanya dan disekitar tubuhnya berserakan pecahan vas bunga sementara ibuku menangis disampingnya.

++++++++

1 jam setelah itu, aku bisa merasakan tubuhku bergetar hebat. Seorang polisi memberikan segelas coklat hangat tapi tak berhasil membuatku nyaman.

Aku melihat polisi bertubuh gemuk dengan rambut tipisnya itu menatapku dengan pandangan iba. Tapi aku tak butuh dikasihani. Yang kubutuhkan adalah tidur dan berharap semua yang terjadi tadi hanya mimpi. Mimpi yang sangat buruk.

Tapi nyatanya saat aku melihat pakaianku yang berhiaskan darah ayah dan saat aku menggenggam tanganku, aku masih dapat merasakan dinginnya tangan ayah yang memeganginya sebelum ajal menjemput di perjalanan menuju rumah sakit tadi.

Kejadian yang sangat buruk yang seharusnya membuatku menangis. Tapi aku tak bisa menangis.

Bukannya aku tak sedih karena monster itu lenyap. Bukannya aku tak sedih karena ibuku sudah jelas ditetapkan sebagai tersangka.

Tapi aku memang tak bisa menangis saat ini.

Aku hanya ingin pulang dan tidur.

++++++++

** Author POV

Rasa haru menyelimuti rumah duka itu. tangisan keras dari seorang pria tua membahana.. menangisi kematian putra pertamanya di tangan istri sang putra sendiri.

Tak ada yang bisa membujuk pria tua itu untuk menghentikan tangisnya. Tapi dipojok ruangan. Seorang gadis dengan hanbok putih duduk dalam diam. harusnya dialah yang paling pantas menangis dengan keras seperti itu.

Tapi dia hanya diam, tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Dia hanya memandang figura yang menampilkan foto ayahnya yang sedang tersenyum sedari tadi dan tak seorang pun mengajaknya bicara.

Setelah 2 jam berlalu dan tamu tak habisnya datang untuk mengucapkan rasa bela sungkawa mereka. Gadis itu memutuskan keluar dari ruangan yang menyesakkan itu.

Dia duduk sendirian menatap langit senja di luar gedung tempat ayahnya sementara di semayamkan sebelum untuk keesokan harinya di kubur.

”Harusnya ini jadi pesta ulang tahunku..” gumamnya.

”Rumi..” gadis itu lalu menoleh mendengar namanya dipanggil.

”Kibum-ah..”

”Kau tak apa kan? Kau diam saja dari tadi…” kata anak lelaki yang memanggilnya tadi.

”Kau berharap aku bagaimana?” Rumi tersenyum saat Kibum duduk disampingnya.

”Menangis seperti haraboji…” sahut Kibum.

”Apa dengan menangis, ayahku bisa hidup lagi dan ibuku tak di jebloskan di penjara?”

Kibum menggeleng, menyesali perkataannya tadi, ”Aku belum mengucapkan selamat ulang tahun padamu.”

”Tak perlu di ucapkan… karena ini hari kematian ayahku.”

”Kalau begitu harusnya kau menangis. jangan sok tegar.. kau itu masih belum bisa apa-apa… jangan sok dewasa..” Kibum mulai menitikkan air matanya.

Rumi mengacak rambut Kibum lembut, ”Nae Dongsaeng.. yang sok dewasa itu kau. Sudah kubilang, tak ada gunanya menangis. dan walaupun kedua orang tuaku pergi, bukan berarti hidupku berakhir…”

”Tapi.. kau akan tinggal dimana setelah ini? Haraboji jelas-jelas menolakmu masuk ke rumah kami. Mengatakan kau bukan anak sah ayahmu.. sehingga tak mengharuskan kami menampungmu… a-aku, sangat cemas sekali Rumi..”

”Tanpa haraboji menampungku pun, aku masih punya rumah. Tak usah mencemaskan diriku… nanti kau sakit lagi…” kata Rumi membujuk bocah lelaki yang masih menangis disampingnya.

Tapi nyatanya, Rumi berbohong. Dia tak akan bisa kembali ke rumahnya, karena jelas rumah itu bukan milik keluarganya, mereka hanya mengontrak dan Rumi tahu itu. dia mana mungkin sanggup membayar uang kontrak rumah. Dia belum bekerja. Terlebih orang tuanya tak memberinya warisan. Dia benar-benar harus hidup dengan perjuangannya sendiri.

Untungnya dia tak harus tinggal di jalanan. Pemerintah menampungnya untuk tinggal di panti anak sampai dia lulus sekolah menengah.

Orang-orang di panti selalu tampak bersikap baik pada Rumi. Tapi Rumi tahu… mereka menggunjingkannya jika dia tak ada dan perlakuan seperti itu tak hanya terjadi di panti tapi juga di sekolah.

Rumi tahu, teman-teman sekolahnya sudah tak sebaik saat sebelum ayahnya meninggal. Rumi beranggapan semua orang bersikap seperti itu padanya karena merasa heran dengan sikapnya yang seolah baik-baik saja padahal tragedi tragis baru saja menimpanya.

Semua orang tampaknya menginginkan dia menangis dan meratapi nasib. Hal yang paling tak ingin dilakukannya.

~to be continued~

42 thoughts on “LIKE THE SUN (Part 2)

  1. Wahhhhh….semakin seru aja mith….hmmmmm….untung tadi pas buka twitter lgsg liat km ngetwit ff ini publish….kasian bgt ya rumi…g kebayang klo jadi dy…huhuuh…dubu ya cepatlah nyatakan perasaanmu….heheheheh…good job mith….next chaptnya jgn lama2 yaaa *maksa*,,,🙂

  2. Onnieeeee…
    Sediiiiiiiiiiiiiiiiiiihh (-̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩)
    Aduuuuh rumi kasian bangeeeeet, jinki tega bangeeeeeeet…
    Aaaah pkknya aku pnsrn,rumi berubaaaaaaah jdnnya (˘̩̩̩~˘̩̩̩ƪ)

    Lanjut onn, aku akan sllu nunggu

  3. aaaahhh….
    Pendek banget….!!!! *pundung*
    Ih… Itu si onyu bikin gemes aja dah !!! Woy…!! Ngaku aja woy…!!! *bikin rusuh komen*
    Aigoo… Tragis bener nasipnya rumi…
    Untung bs ditampung d panti. Tapi w ngerti ko kalo rumi g nangis pas kejadian itu (?).

    • hahah~ iya nasibnya ditampung di panti mirip ma Arumi deh jadinya…
      hah? pendek ndro?
      gpp… sengaja.. masih chap-chap awal mah aq biasa bikin pendek2..
      bwt mancing readers dulu..
      pokoknya bikin mereka g bosan dulu, terus ngikutin..
      itulah taktik aq klo nulis ndro.. haha *bongkar dapur*
      di chap2 awal GM ma MI kan juga pendek2..
      ntar klo dah bnyk yg suka baru deh tiap chapx dipanjangin.. servis spesial gitu

      • hedeh…
        ko jd bawa2 arumi. ababil of the year XDD
        ealah… jd kita di serpis nih (?). tapi sebagai reader, rasanya tersiksa tau nungguin bginian !!! *jitak mitmit, kabur*

  4. onnie..huhuhu~
    sedih, aigo…rumi hidup mu.

    lanjut onn, tpi aku rada-rada ngeri baca ini ff
    pan onnie bilang ga janji bakal happy ending.

    • hahah~
      ya. moga az mood q ntar bs bikin nih ff jd happy ending..
      di teaser kan dulu aq pernah bilang klo tipe ni ff ‘angst’ gitu..
      jadi so pasti ada yg mati lah.. tp g tw deh sapa..wkwkw *sengaja bikin penasaran*
      tp biar ada yg mati ntar.. bukan berarti sallu sada kok.. tunggu az ya si..
      masih panjang nih ff perjalanannya

  5. annyeong, reader baru…

    kasian amat ya nasip si rumi…
    sebatang kara, dijauhi pula ama jinki….
    penasaran ama next part, d tunggu y oenn~~

  6. kyaaaaaa!!! Nie ff dah kluar *heboh* ..hehe dasar Jinki babo *toyor jinki*… Pke acra malu sgala, bda bner sama Rumi yg cuek.. Btw itu Key d’part ini dkit bner yak. *ngelus2 kpla key* ..
    Lnjut cpet onnie, tak sabar nunggu next chapt…
    MA yg Jinki pov mana onn? O.o

  7. Kasian rumi, di hari ulang tahunnya malah dpt musibah
    Tapi kok rumi ga nangis yaa? o_o
    Jinki udahan dong, jgn dingin sama rumi lagi..kasian kan rumi nya T_T
    Untung rumi masih d tampung di panti, klo ga pasti dia luntang lantung(?) ga jelas

  8. eooooonnnn….
    huhuhuhu…..sedih q..
    rumi tragis bgt dah nasibnya…
    jinkiiiii……ayo katakan cintamu biar rumi tmbah kuat….

    dtnggu part brikutnya ceon

  9. Wahahaha~ sifatnya rumi sama kayak aku! Pas nenekku meninggal,aku juga gak tau kenapa,aku gak nangis..
    Padahal biasanya aku cengeng banget ama sesuatu..
    Sampai sekarang pun aku gakbisa nangis karena hal itu..

    malah aku sampe di cap cucu durhaka ama sepupuku -_-
    Padahalkan mane ane tau kenapa ane gak bisa nangis =_=

    btw,good fanfic b^^d ditunggu lanjutannya..

    • hebat ya kamu *ngasih jempol*
      tp mungkin waktu itu km berpikir sama kyk rumi..
      nangis g bakal nyelesaikan masalah…
      tp kadang nangis itu penting lho… ntar gangguan jiwa kyk rumi *di MI* klo smp g nangis… pdhl kan aslinya harusnya sedih

  10. Yaaaaaaaaaaaaaaaaa
    kok jadi sedihh gitu si eon??

    Aku hampir nangis! ( apa udah Ya???)

    Jadi tambah penasaran
    lanjutannya jangan lama-lama eonnie ( selalu saja begini! )

    yang sabar menghadapi akunya ya Mit eonnie🙂

    • haha~ jng nangis krn ff ini dong…
      sebetulnya aq blom menguras emosinya.. masih kurang malahan critanya ==’

      ohh.. klo maslaah nagih lanjutan mah aq dah biasa..
      gpp kok..
      aq author yg sabar ditagih mulu..wkwkwk

  11. Wahh.. kasian skali nasib Rumi..😥
    hhuhuhuhu.. *menangis di pelukan Key*
    ///PLAKK dipukul Lockets
    Setelah ini Rumi pasti susah ya?
    Hwaiting rumi! ^.^

  12. hari ultah justru hari paling menyakitkan….

    gimana ya jinki, tau ga dia ama kejadian yg menimpa rumi???

    part selanjutnya pasti lebih seru neh hehehe

  13. kyaaa
    1.rumi itu salah karena terlalu agresif sama onew oppa
    2.kasian hidup rumi,dia menderita seorang diri_= (itu kesan saya untuk rumi)

  14. ko jd sedih ya ceritanya. Tp happy ending kan? Gmna kl kali ini rumi jdnya ma key. Kasian keynya ga pnya psangan.

  15. big girls don’t cry haha #apadeh
    smoga adegan angst-nya banyak haha #readerpsycho
    oh, part awal yg pendek jd taktik? *tunjuk komen di atas* iyaa deh haha

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s