WE WALK – [PART 1] I’M HOME


WE WALK – PART 1  I’M HOME

Author : diyawonnie.minhonew

Cast : Kim Jira (imaginary cast) & SHINee

Genre : Friendship, Romance, and Life.

Summary :  Ini adalah kisah mengenai gadis berumur 21 tahun, Kim Jira. Ia mengundurkan diri sebagai trainee SM dan memilih untuk melanjutkan studinya di Amerika. SHINee, teman-teman seperjuangannya selama masa trainee kecewa dengan keputusan sepihak tersebut. Onew adalah satu-satunya member yang memusuhi Jira karena terlalu kecewa dengan keputusan itu. Hal ini membuat Jira jengah, namun di sisinya masih ada empat member lain yang siap menghibur. Salah satunya Taemin. Jira kerap memanjakan anak ini, bahkan memperlakukannya seperti anak berumur lima tahun, yang membuat seluruh member dan manajer mengecam tindakannya. Lalu masih ada Jonghyun, teman sebayanya. He’s a player… Kemudian Key, ia adalah sepupu Jira, namun hobi sekali memperlakukan Jira seperti budaknya dan mereka sering sekali beradu mulut. Dan yang terakhir adalah Minho. Satu-satunya pria yang dicintai Jira. Namun naasnya, Minho masih mencintai mantan kekasihnya.

Apa yang membuat Onew marah pada Jira?

Bagaimana aksi JongKey yang secara sukarela menjadi “Mak Comblang Tak Resmi” Jira-Minho?

Lalu bagaimanakah Jira meraih cintanya? Apakah Minho akan mempertahankan masa lalunya, atau malah berubah pikiran?

+++++++

AKU berlari dengan senyum mengembang dari bibir. Kepala ini dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu. Inilah saatnya, setelah dua tahun berlalu. Rasa rindu ini meluap, jantung seperti akan melompat. Tak lama lagi, aku akan bertemu mereka.

Napasku terengah-engah saat sampai di shelter bus. Belum sampai lima menit, bus sudah datang. Aku menaikinya dan memilih duduk di belakang agar lebih mudah saat turun nanti. Tadi Kibum mengirimiku pesan kalau mereka sudah tiba di airport. Seperti yang kau tahu, keluarga SM Town baru saja menyelesaikan konser mereka di L.A., dan hari ini mereka kembali.

Ponselku bergetar. Pesan dari Kibum lagi. Dia bilang kalau grupnya akan langsung pulang ke dorm. Baiklah, aku hanya harus turun di shelter berikutnya, tak perlu repot-repot ke airport.

Sepuluh menit berlalu, aku turun dari bus. Wow! Tempat ini… Dua tahun kutinggalkan masih saja sama seperti dulu. Tak ada yang berubah. Well, sebenarnya aku ini pulang kampung. Setelah kurang lebih dua tahun menimba ilmu di negeri Paman Sam. Tepat saat SM Town bertolak ke L.A., aku kembali. Jadi tidak sempat bertemu mereka semua. Maka dari itu, hari ini kuputuskan untuk menemui SHINee lebih dulu. Lagipula memang hanya mereka yang benar-benar dekat denganku.

Aku mampir ke tempat makan fast food yang menjual beragam ayam. Tidak, bukan Mexicana. Aku yakin sekali mereka sudah mencicipi semua variant ayamnya dan merasa bosan mungkin. Jadi aku memilih tempat lain. Ini hadiah untuk Jinki.

Terakhir bertemu dengannya saat di bandara dua tahun lalu, saat mereka mengantarku. Dia terlihat marah mengetahui aku pergi. Well, semuanya marah, tapi hanya dia satu-satunya yang terlihat sangat marah. Itu hari di mana aku pergi meninggalkan mereka tepat sebulan sebelum SHINee debut. Jinki menghindar dariku dan menutup mulutnya selama beberapa hari.

“Bye…,” pamitku.

“Noo~ naaa~” Taemin memelukku erat dan manja. Dia terus menggelayuti tubuhku sambil menangis, mencegahku pergi.

“Taemin-ah, lepaskan noona!” seru Minho. Si anak manja itu menurut. Dia melepaskanku dari pelukannya.

“Okay, saat pulang nanti noona harus siap berdebat denganku menggunakan English!”

“Kau pikir aku takut, Kibum-ah?”

Dia memelukku hangat. Aku tahu dia sebenarnya anak yang baik, walaupun kadang-kadang sering menganggapku seperti musuhnya.

Kulirik Jjong, dia menangis juga. “Oh, our crybaby,” ejekku. Dia menunduk dan menutupi sebagian wajahnya menggunakan lengan. Kemudian ia berjalan menghampiriku dan menghamburku dengan pelukannya.

“Ka-kau tetap pe-pergi?” isaknya. “Ka-kau akan me-menyesal tak melihat kak-kami debut!”

“Itu pasti. Jjong, hentikan, jangan buat aku sulit meninggalkan kalian!”

“Jaga dirimu baik-baik, Noona!” ujar Kibum. Dia mengangkat tangannya mengajakku high-five.

Jjong melepaskan pelukannya. Bisa kulihat hidung memerah dan matanya yang sembab. Dia masih tak berhenti menangis. Kibum memeluknya. Kulirik Taemin, dia juga masih tak berhenti menangis. Beruntung Minho ada di sampingnya untuk menghibur. Tinggal satu orang lagi…

Kulihat Jinki hanya diam. Dia berdiri paling jauh dari kami dengan kedua tangan enggan keluar dari saku sweaternya. Aku melambai padanya untuk pamit. Namun dia tetap pada posisinya, malah membuang muka.

Sialan! Apa salahku? Oke, mungkin karena aku terlambat memberitahu mereka tentang rencana studiku, itulah letak kesalahannya. Dan sampai detik ini hanya dia, Jjong dan Taem yang masih belum bisa menerima keputusanku. Namun aksi mereka berbeda. Jjong dan Taem lebih terbuka dengan melakukan aksi menangis ketimbang Jinki yang lebih memilih diam memusuhiku.

“Bye…,” pamitku padanya.

“Pergilah! Aku tak peduli,” sahutnya mengangkat bahu dan berbalik pergi.

Minho menghampiriku. Dia menepuk bahuku pelan dan tersenyum lembut. “Noona, jangan dipikirkan! Pergilah dan cepat kembali!”

Ini dia… Satu-satunya makhluk di antara mereka yang kerap membuatku gelisah. Entah sejak kapan, kurasa aku mencintainya. Walaupun usia kami terpaut satu tahun. Jujur saja dia lebih dewasa dariku. Kadang aku merasa malu sebagai yang lebih tua mendapatkan perlindungan dan perhatian lebih besar darinya.

Kembali ke masa kini…

Kutekan intercom dan terdengar suara ribut dari dalam. Jjong yang menyapa, dia bertanya siapa tamunya. Aku berdiri di samping intercom agar kamera tak menangkapku. Sengaja ingin membuat kejutan. Kibum sudah membantuku untuk tak memberitahukan pada mereka kalau aku sudah kembali.

Pintu terbuka. Kakiku lemas saat melihat Minho yang membukakan pintu. Dia juga sepertinya terkejut, karena matanya menjadi dua kali lebih besar. Seperti biasa, dia melemparkan senyum hangatnya. Sama sekali tak berubah. Aku merindukan senyum itu.

GREP!

Minho memelukku erat. Aku tak berani bergerak. Lagipula dia mengunciku dengan tubuhnya. Aku tak keberatan, yang penting masih bisa bernapas.

Minho… pelukanmu… hangat…

“Minho-hyung…,” panggil seseorang dari dalam.

Minho buru-buru melepaskan pelukannya, dia menunduk dan mengusap matanya pelan. Hey, dia tak menangis ‘kan?

“Hyung, siapa?” suara itu muncul lagi, kali ini lebih dekat. Itu pastilah Taemin si bayi raksasaku. Dia menghampiri Minho. Aku bisa melihatnya sekarang. Dia tumbuh lebih tinggi dibandingkan saat terakhir kali aku melihatnya. Rambutnya berubah drastis dengan warna pirang mencolok dan panjang. Demi Tuhan, aku sedikit menyesal meninggalkannya selama dua tahun hingga kehilangan kesempatan memantau tumbuh kembangnya.

Dia menoleh, “NOONA~~~”

Well, fisik dapat berubah, tapi tidak untuk kepribadian. Dia masih sama seperti dulu. Manja!

“Taeminnie, annyeong,” sapaku.

Dia melompat dan memelukku sangat erat. Hampir saja aku terjungkal. Tapi anehnya aku tak keberatan walaupun hampir tak bisa bernapas. Aku sangat merindukannya.

“Taemin-ah, biarkan noona masuk dulu!” seru Minho.

Aku masuk ke dalam. Sungguh ruang TV ini sudah seperti kapal pecah. Koper-koper diletakkan sembarangan. Berbagai kantong belanjaan dan hadiah-hadiah dari fans berserakan di mana-mana.

“Wow, sepertinya aku datang di saat yang salah.” Jjong menoleh saat mendengar suaraku. Dari ujung sofa, dia berlari ke arahku. Dia memelukku sangat erat dan ini menyiksa. Bahkan membuat Taem yang masih bergelayut di pundakku terpental. “Astaga, Jjong-ah, lepaskan! Kau bisa membunuhku.”

Dia melepaskan pelukannya. Seringaian jahil  terukir di wajahnya. Aku memperhatikan tubuh seperti apa yang baru saja menyerangku.

“Yay, jadi kau memelihara otot?”

Dia tertawa. “Tidak hanya aku. Minho dan Onew-hyung juga.”

“Taemin?” tanyaku.

Si bayi raksasaku itu kembali menggelayuti pundak. Dia menempelkan dagunya ke bahuku. “Aku ingin, tapi tak diizinkan oleh manajer-hyung.”

“Wae?”

“Umur,” sahut Minho. Dia mengatakannya seperti sepuluh tahun lebih tua dari umurnya sekarang.

“Kibum?” tanyaku lagi.

“Dia menggunakan metode yang salah. Setiap hari hanya sibuk dengan treadmill dan bersepeda. Membuatnya banyak kehilangan berat badan. Alih-alih berotot, dia malah tampak seperti kekurangan gizi,” ejek Jjong.

Aku melirik Kibum yang berada di dapur membuat beberapa minuman.

“Shut up!” sahutnya galak.

“Oh my God! Kim Kibum, potongan rambut macam apa itu?!” pekikku dan dia malah berpose menjijikan. “Yeah, Lucifer daebak! Kau tak mau memelukku, Kibum-ah?”

“No, I’m not,” katanya cuek. Dia membawa minuman-minuman itu ke meja makan, lalu berjalan ke arahku dan akhirnya memberiku sebuah pelukan. “Welcome home, Noona. I miss you so bad.”

“Really?” tanyaku sanksi.

“Oh demi Tuhan, hentikan! Ini bukan Amerika,” sindir Jjong setengah tertawa.

Aku ikut tertawa. “Bahkan Jinki-oppa juga berotot? Aku tak bisa membayangkan bagaimana dubu berotot,” tanyaku kembali ke topik sebelumnya.

Kibum berbisik, “Dia gagal.”

Aku mengerutkan kening. Jjong menambahkan sambil berbisik juga. “Lengannya memang membesar, tapi ototnya masih kurang menonjol. Sehingga tampak seperti lengan yang gemuk. Kau tahu maksudku.”

Aku terkekeh. Astaga, betapa aku merindukan mereka semua.

“Kim-line kembali utuh kalau begitu?” ujar Key seraya memberiku segelas minuman.

“Gomawo.”

“Yeah, Kim Jonghyun, Kim Kibum, dan Kim Jira!” teriak Jjong memekakkan telinga. Bagaimana tidak, dia berteriak di dekat telingaku.

“Yeah, yeah, apapun…,” ujarku terkekeh.

Terdengar suara pintu terbuka. Sepertinya pintu lain dari dalam kamar. Ya, mungkin itu pintu toilet. Jinki keluar dari kamar mengenakan kaos tanpa lengan. Dan sekarang aku mengerti apa yang dimaksud Jjong dengan ‘tampak seperti lengan yang gemuk’.

“Mandi. Segar sekali. Kalian juga sebaiknya…,” kata-katanya terputus saat melihatku.

“Annyeong haseyo,” sapaku formal. Dia lebih tua setahun dariku.

Jinki tak bergerak, bertahan dalam posisinya. Kemudian tak berapa lama melengos ke dapur. “Oh, wasseo?!” sahutnya dingin.

Hey, apa-apaan itu? Itukah cara seorang leader memperlakukan orang yang sudah tak ditemuinya selama dua tahun? Ini keterlaluan. Mengapa dia masih marah? Oh, ayolah. Ini sudah dua tahun berlalu. Aku membuka mulut hendak membalasnya. Namun Kibum menahanku dengan kelima jarinya yang teracung di depan wajahku.

Jinki membuka kulkas, mengambil sekotak karton susu lalu menuangkannya ke dalam gelas. Dia berkata lagi setelah menutup pintu kulkas, “Si Mantan-trainee-SM-yang-mementingkan-studi ini masih mengingat kami rupanya?”

“Hyung!” seru Jjong.

Aku bisa merasakan keempat lainnya menjadi canggung dalam situasi ini. Bahkan Taem perlahan-lahan melepaskan pelukannya dariku.

“Oh, jadi itu sebutan untukku setelah aku pergi?” tanyaku sengit.

“Mengundurkan diri menjadi trainee SM demi melanjutkan studi ke Amerika,” Jinki menenggak susunya hingga tak tersisa dan berjalan kembali ke kamar. “Kau bahkan menjadi sangat terkenal sebelum debut. Hebat!”

“M-mwo?!”sahutku. “Apa yang terjadi?” bisikku pada keempat lainnya.

Taemin menarikku untuk duduk di sofa. “Jadi, saat noona pergi, muncul foto-foto noona di dunia maya dan menyebar dengan sangat cepat. Banyak sekali artikel menuliskan berita tentangmu yang rata-rata menggunakan judul yang sama. Seperti yang Onew-hyung bilang tadi.”

“Itu bukan mauku!”

“Aro~” kini giliran Jjong yang bicara. “Kau tahu Onew-hyung kecewa melihatmu pergi begitu saja. Dia pikir kau sudah berjuang keras bersama kami selama menjadi trainee dalam beberapa tahun. Namun dengan mudah kau melepasnya…”

“Itu tak mudah. Aku bahkan memikirkannya berulang kali,” selaku.

Taem menggenggam erat tanganku. Dia tersenyum manis sekali. “Noo~ naaa~, gwaenchanayo.”

Sialan! Dalam keadaan penuh emosi pun senyum dan ekspresi polos wajahnya selalu membuat amarahku hilang dan menjadikan perasaanku lebih tenang. Dia seperti memiliki kemampuan mengendalikan emosi.

Kubalas senyum Taem dan mengacak rambutnya. “Sudah, jangan dipikirkan! Lebih baik kita makan. Aku beli ayam tadi. Kuharap kalian masih lapar.” Lupakan ayam itu hadiah untuk Jinki. Dia sudah membuatku kesal hari ini.

“Tenang, kami belum makan kok,” ujar Minho, tentu saja sambil tersenyum. Oh, tidak. Jangan sekarang! Kudekap dadaku, karena jantung ini berdegup kencang. Damn!

Aku merasakan pundakku memberat. Aigoo, tak lain dan tak bukan…

“Noo~ naaa~”

“Hm?” sahutku.

Dia menggelayutiku lagi. Tapi aku benar-benar tak merasa keberatan. Entahlah. Seperti yang kubilang tadi, kalau Taem seperti memiliki kekuatan sihir mengendalikan emosi. Aku selalu senang jika dia berada di dekatku.

“Sudah lama aku tak disuapi…”

“Ya! Ya! Ya!” Kibum memprotes, membuat Taem terpaksa membebaskanku dan berjalan lunglai ke meja makan. Sekali lagi, aku hanya tertawa. Poor baby…

+++++++

USAI makan, kami asyik bermain game. Hari sudah semakin gelap dan aku masih enggan meninggalkan apartemen penuh kehangatan ini. Rasa rinduku tak berhenti meletup. Aku masih ingin di sini, membayar kerinduan selama dua tahun terakhir.

Ruang TV sedikit demi sedikit kembali rapi. Kibum benar-benar mengerahkan kekuasaannya menyuruh mereka merapikan. Kau tahu sendiri, tak ada yang bisa mengelak dari titahan Almighty Key, sekalipun orang itu lebih tua darinya. Jonghyun contohnya, dia pasrah diperintah ini-itu oleh Kibum.

Key Yang Maha Kuasa, astaga… Itu nickname yang kuberikan padanya dulu. Karena dia selalu menjajahku sejak kecil. Tak peduli kalau aku ini noonanya. Adik sepupu yang tak tahu sopan santun! Dan sekarang dia memakainya untuk nickname keartisannya? Benar-benar anak ini…

“Noona, pulanglah!” usirnya.

“Mwo?”

“Tak baik perempuan berada di tempat laki-laki selarut ini.” Kibum memulai aksinya.

Aku mendengus. “Oh yeah, sekarang aku seperti berada di sarang penyamun.”

Jjong dan Taemin terkekeh, tapi tidak untuk Minho. Dia berkonsentrasi penuh memenangkan gamenya. Dasar, anak ini seumur hidup takkan pernah membiarkan dirinya kalah.

“Baiklah, aku pulang sekarang…”

“Biar kuantar,” tawar Minho tiba-tiba. Dia meletakkan joysticknya di lantai dan berdiri menyambar jaket yang tersampir di punggung kursi meja makan.

Wait, bukankah dia sedang berkonsentrasi dengan gamenya? Bagaimana mungkin dia rela meninggalkan game hanya untuk mengantarku pulang? Kulirik layar TV dan mendapati karakter pemain bola Minho tengah berguling di rumput. Wow! Dia menang…

“Tak usah, Minho-ya. Aku pulang sendiri saja.” Aku bisa serangan jantung gara-gara tak dapat mengontrol detaknya jika hanya berduaan dengan dia.

“Tak apa, biar kuantar,” sahut Minho meyakinkan.

Kulihat Taem memasang wajah kecewa. Kurasa dia masih ingin berada di dekatku. “Taemin-ah, kau mau ikut? Kita masih bisa mengobrol di jalan…”

“Jonghyun-hyung, aku pinjam motormu. Dimana kuncinya?” tanya Minho. Jjong menunjuk sisi lemari TV.

“Mo-motor?” tanyaku.

“Iye.” Kibum menyahutku mantap dengan kedua tangannya yang dilipat. Persis ibu-ibu, menyebalkan! Aku memelototinya dan dia balik memelototiku. Well, sejauh ini yang tahu aku menaruh perhatian pada Minho, hanya dia dan Jjong. Aku mempercayai mereka karena kami… yeah… Kim-line.

Kibum melambaikan tangannya mengusirku. Dapat kubaca bibirnya bergerak membentuk kata-kata, “Go away and enjoy the momment, Noona!”

Tanganku sudah terangkat ingin memukul kepalanya. Tapi Minho memanggilku di pintu keluar. Ah, benar-benar sial! Sungguh tak leluasa mempunyai sepupu seperti dia. Menggunakan kekuatan bicara untuk memerintah orang, ditambah bahasa tubuh yang tak kalah menyebalkan. Aigoo~

Aku memakai sepatu taliku. Minho berdiri di ambang pintu menungguku selesai. Kudengar Kibum berteriak memanggil Jinki.

“Onew-hyung, keluarlah! Mau sampai kapan sembunyi terus? Dia sudah pulang.”

See? Sekarang kau tahu betapa menyebalkannya Kim Kibum. Dapat kubayangkan bagaimana Jinki merutuk di dalam kamar. Ne, aku pulang. Bersenang-senanglah, Jinki, dengan ayam yang sengaja kami sisakan untukmu!

Aku dan Minho meninggalkan dorm. Dia berjalan lebih dulu dan menekan tombol lift. Tak lama pintu terbuka dan kami masuk. Sunyi, kami tak mengobrol, aku pun takut memulainya. Sulit menyembunyikan suaraku yang bergetar karena gugup.

Sesampainya di bawah, Minho memberikan sebuah helm untukku. Kemudian dia menaiki motor dan menyalakan mesinnya. Wow, Jjong! Motor besarnya ini sangat keren. Cita-citanya memiliki motor seperti ini akhirnya tercapai setelah ia menjadi artis.

Minho mengenakan helm-nya, lantas menaikkan retsleting jaket kulitnya yang agak ketat. Aigoo, dia memiliki tubuh yang sempurna. Bahkan aku masih bisa melihat otot lengannya menyembul walau sudah terbungkus jaket.

Aku naik ke atas motor, mau tak mau berpegangan ke pundaknya. Bisa kurasakan darahku berdesir. Ya Tuhan, ternyata aku masih mencintainya. Minho menoleh ke kanan, berusaha berbicara padaku. “Noona, pegangan!”

NE??? Okay, Jira, calm down. Ini demi keselamatan, jangan berpikir macam-macam!

Kucengkeram erat pinggangnya, dia menutup kaca helm dan memasukkan gigi. Tak lama kemudian kami melesat menginggalkan dorm SHINee.

Di perjalanan aku hanya menunduk. Teringat memori-memori dua tahun lalu saat kami masih menjadi trainee SM. Hanya mereka yang paling dekat denganku, sedangkan sunbaenim hanya beberapa. Aku tak punya nyali besar untuk mendekati artis papan atas seperti BoA, Dong Bang Shin Ki dan Super Junior.

Maka dari itu aku selalu bersama kelima anak ini. Mereka terbuka menerimaku, ditambah lagi memang aku adalah sepupu Key. Kami berlatih di kelas menyanyi, menari, akting, modeling, MC, public speaking, bersama-sama. Di luar kegiatan trainee pun kami sering bermain seperti menonton film ke bioskop, karaoke, dan makan. Hal itu selalu kami lakukan secara rutin dalam beberapa tahun.

Keputusanku untuk pergi pasti sudah sangat melukai mereka, terutama Jinki. Karena aku sudah berjanji untuk pergi ke suatu tempat dengannya setelah mereka melakukan debut di MuBank. Hal inikah yang membuatnya masih marah padaku?

“Noona…,” panggil Minho, “…sudah sampai.”

Aku tersadar. Damn! Memalukan. Aku masih memeluk Minho.

“Oh… Ne… Ah, Minho-ya, mianhae,” kulepaskan pelukanku dan mulai salah tingkah.

Dia terkekeh. “Gwaenchana, Noona.”

Aku turun dari motor, melepas helm dan memberikannya pada Minho. Lalu berjalan menuju tangga pintu masuk apartemenku.

“Gomawo, Minho-ya.”

Dia tersenyum dan mengangguk. “Aku pulang, Noona. Jalja,” ucapnya dan melesat pergi. Sedangkan aku hanya berdiri mematung. Tersihir oleh kata-katanya barusan. Astaga, itu adalah ucapan yang sangat kurindukan. ‘Jalja’ adalah kata-kata informal Minho yang hanya ia berani gunakan padaku. Setidaknya itu yang ia katakan dulu. Yep, aku noona yang beruntung! Sorry, Flames…

…to be continued…

**** okeyyy, chingudeul.. ditunggu komennya ^^. Ini FF diyawonnie yang aku suka banget lho ^^/

gara-gara baca ff ini aku jadi bikin MI. terlebih disini karakter anak-anak SHINEe DAPET BGT .

apalagi uri Taemin… gyahaha~

aku gak bisa bayangin klo aku jadi JIRA… pasti bawaannya bakal mimisan terus *lebe* secara dipeluk mulu ma Taemin (dan member lain pastinya)

Buat ahjumma ku.. diya. ayo dunks cepet dilanjutkan lagi ^^. MI aja dah tamat.. masa ini br aku baca smp chap 7 sih..

ayo.. lanjutkan menulisnya .

hwaiting ^^/

15 thoughts on “WE WALK – [PART 1] I’M HOME

  1. MAUUUU…KEREN BANGET CERITANYA TERUTAMA KIM-LINE..soalnya qu jga Kim line

    korean name : “KIM MIN RIN”

    lanjutt yah eon..Taemin or siapapun karakternya jangan ada yang diganti

  2. dr kmren g bsa comment…soalnya ol dhp…..udah baca part 2…penasaran bgt….rencana ada berapa partkah oennie author???hehheheh…..FFnya daebak….g sabar nunggu next part…good job🙂

  3. Kim line!!! ahahaha sama kaya aku *slapped
    Taemin imut banget sii!!! Mau dah di gelayutin kaya gtu..XD
    yaolohh~ kalo aku jadi jira ga bakal mau pulang tuh
    Cari” alesan biar bisa tinggal di dormnya shinee :p

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s