We Walk [Part II] – Goodbye Stage Lucifer


Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part II] – Goodbye Stage Lucifer

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee, Manajer, & SHINee’s Coordi Fashion.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

STORY

“Noo~ naaa~”

Aku tertawa geli. Satu-satunya dari mereka yang masih memanggilku dengan nada semacam itu hanyalah si bayi raksasa, Lee Taemin. Dia melambai semangat dari celah jendela mobil ketika melihatku keluar dari apartemen. Mereka sengaja kemari menjemputku. Kuhampiri van dan masuk ke dalam, lalu duduk di deretan tengah, di antara Minho dan Kibum.

“Mianhae sudah menganggu istirahat siangmu, Noona. Kau tahu sendiri bagaimana Taemin terus-terusan merengek ingin kau ikut,” ujar Minho .

“Ah, gwaenchana. Lagipula aku memang ingin menonton.”

Hari ini mereka tampil di acara “Music Core” untuk good bye stage Lucifer. Datang sedari siang karena harus melakukan rehearsal dan beberapa pre-recording. Jjong yang duduk di samping kursi kemudi terlihat sangat lelah, ia tidur. Begitu pula dengan yang lainnya. Hanya Key yang masih terjaga. Saat kutanya mengapa tak tidur, dia menjawab kalau tidur hanya bisa membuat tatanan rambutnya rusak. Astaga, benar-benar anak ini…

Seperti yang Taemin bilang, mereka sudah mulai beraktivitas sejak tadi pagi. Jadi tak heran kalau stamina mereka sedikit berkurang siang ini. Tapi sepertinya Jinki yang harus dikhawatirkan. Taem bilang kalau leadernya itu semalam pulang sangat larut karena harus menjalani latihan musikalnya. Tadi pagi ia juga mengikuti jadwal yang sama dengan member. Namun sekarang ia tak bersama kami, ada jadwal individu lainnya yang harus ia selesaikan. Aku khawatir dia jatuh sakit. Bagaimanapun mereka ini juga manusia kan , bukan robot. Aku tak ingin terjadi hal buruk pada mereka.

Satu jam kemudian kami sampai. Kibum memintaku membantunya untuk membangunkan yang lain, jadi mau tak mau aku mengguncang tubuh Minho , karena dia paling sulit dibangunkan. Aku tahu ini bagian dari taktik Kibum untuk mendekatkan kami kembali. Anak nakal!

Aku menoleh ke belakang dan menemukan Taem tengah menguap lebar dan menggucek matanya sambil mengerucutkan bibir. Aigoo, kyeopta! Kucubit pipinya dan ia mengerang manja. Aku tertawa, tapi Kibum malah mengomeli kami untuk segera keluar dan menyuruhku memakai hoodie-nya.

“Pakai ini!” perintahnya.

“Arasseo, tak usah galak seperti itu!” sahutku sengit. Aku tahu maksudnya baik agar aku tak dikenali sebagai Mantan-Trainee-SM-yang-Mengundurkan-Diri-Dua-Tahun-Lalu itu. Tapi caranya membuatku gerah.

Jonghyun menoleh ke belakang di sela-sela menguapnya. “Oh, Jira-ya, kapan datang?”

“Cukup lama. Saat kau masih asyik menjelajah dreamland kurasa,” jawabku asal. Ia nyengir lebar. Kulihat ia memainkan ponselnya dan terkikik sendiri. Ah, penyakitnya belum hilang? Sepertinya dia sedang dekat dengan seseorang…atau banyak? Entahlah. Yang jelas ia adalah satu-satunya member pecinta wanita. Yeah, kau tahu maksudku, he’s a player. Itu dulu, entah kalau sekarang. Tapi sepertinya masih. Konsep bad boynya di Lucifer semakin menguatkan image-nya sebagai seorang player. Tidakkah kau merasa seperti itu?

Bahkan member lain pun mengatakan jika mereka memiliki yeodongsaeng, Jonghyun adalah satu-satunya orang yang tak ingin mereka kenalkan pada dongsaeng mereka. Taem bilang kalau Jjong memiliki mata yang terlalu jujur. Mungkin maksudnya dia mudah sekali jatuh cinta pada setiap gadis yang ia temui. Jujur saja aku tertawa keras saat melihatnya di acara Guerilla Date, rekaman yang dipinjamkan Kibum padaku. Jjong sangat terpojok dan Minho berkuasa sekali pada situasi itu.

Aku keluar dari van dan berjalan bersama iringan kru di belakang yang menggunakan van berbeda. Membiarkan kelima shining boys berjalan duluan. Demi Tuhan popularitas mereka tinggi sekali. Penggemar selalu saja ada, padahal kami sudah masuk melalui pintu belakang.

Coordi-eonni di sampingku membungkuk dan tersenyum saat aku menoleh ke arahnya. Dia terlihat kerepotan dengan beberapa kostum yang ia bawa. Aku menawarinya bantuan dan ia tak menolak. Aigoo, kostum mereka berat sekali. Bagaimana bisa eonni sanggup membawa semuanya? Pasti karena terpaksa. Yah, kadang kita harus menyadari kalau pekerjaan itu kejam!

“Yang kau bawa itu kostum milik Minho dan Onew. Kau aman, mereka tak banyak mengeluh. Member yang banyak bicara jika kostumnya kusut hanya satu…”

“Kim Keybum!” ujar kami bersamaan dan tertawa. Tak butuh waktu lama, aku dan coordinator fashion eonni ini langsung akrab. Well, thanks Kibum-ah, temanku bertambah satu. Hasil dari tak hentinya membicarakan keburukanmu sepanjang perjalanan masuk ke dalam gedung.

Saat sampai di dalam, aku menggantungkan kostum-kostum tersebut ke tiang khusus wardrobe. Kulihat anak-anak sedang menerima pengarahan. Jadi aku duduk di sofa, memperhatikan sekeliling ruang tunggu artis ini. Jadi, beginikah rasanya menjadi artis? Mungkin aku akan berada di sini juga jika tak mengundurkan diri saat trainee dua tahun lalu. Tapi aku tak menyesal. Setidaknya pendidikan jauh lebih penting, kan ?

Well, sebenarnya alasan utamaku memutuskan pergi bukan demi pendidikan semata. Ada alasan lain mengapa aku meninggalkan Korea . Itu karena… Minho . Aku masih ingat detail kejadiannya dua tahun lalu…

Waktu itu Kibum datang ke ruang latihan saat kami masih menjadi trainee. Dia menepuk bahuku lembut, kemudian Jjong datang dan ikut bergabung. Tak beda dengan Kibum, ia juga melakukan hal yang sama, mengusap bahuku.

“Wae?” tanyaku. “Apa kalian merasa sedih karena akan debut duluan? Jangan khawatir! Aku akan segera menyusul.”

Kibum tersenyum getir. Jjong juga melakukan hal yang sama. Membuatku bingung.

“Apapun yang terjadi, tutup telingamu, Noona!” pinta Kibum.

“Wae?” aku tersenyum geli.

Kibum beranjak dari tempatnya diikuti Jjong. Aku menggelengkan kepala melihat tingkah aneh mereka dan melanjutkan latihan menari. Tak lama berselang, Minho datang mengambil tasnya dan botol minuman yang terletak tak jauh dariku.

“Noona, aku pulang duluan,” pamitnya riang.

“Hm. Apa ada sesuatu? Kau terlihat sangat gembira, Minho -ya,” tanyaku, tentu saja dengan degup jantung yang bertambah kencang dua kali lipat. Ini biasa terjadi jika aku melihatnya.

Dia tersenyum, jantungku berpacu lagi semakin cepat.

“Aku mau kencan. Kami baru jadian tadi. Noona, annyeong.”

Aku mematung. Hanya dua kalimat itu, dia berhasil menghancurkan segalanya. Sejak saat itu, aku menghindari Minho , tak lagi datang untuk latihan. Perusahaan berkali-kali mengancamku untuk membayar denda jika aku masih tak datang. Hingga akhirnya, kuputuskan untuk mundur. Pengecut memang, tapi ini jalan terbaik. Toh, aku juga tidak akan menjalaninya dengan benar dalam keadaan hancur seperti itu.

Kudengar gadis beruntung itu bernama Shim Chaesa, teman sekolahnya. Dan tahun lalu Kibum memberitahuku kalau Chaesa meninggalkan Minho ke luar negeri dengan alasan sama sepertiku, melanjutkan sekolah. Mereka putus. Minho hampir hancur dan kehilangan gairahnya saat sedang mempromosikan Juliette. Beruntungnya, dia tipe orang yang profesional, tidak sepertiku.

Kembali ke masa kini…

Mataku terpaku pada seorang eonni berperawakan gemuk yang berdiri di depanku. Ia tengah membenahi beberapa keperluan make up dan hair spray. Taem berlari kecil ke arah eonni itu dan minta rambutnya disisirkan. Omo! Jadi dia bermanja-manja ria dengan semua orang? Benar-benar si bayi…

Eonni menoleh padaku. “Dia magnae, tapi dialah pangeran kita,” ujarnya.

“Iye,” sahutku. “Pangeran kecil di mana semua orang takkan sanggup menolak permintaannya.”

Taem menggembungkan pipinya kesal. Lagi-lagi ia mencoba memenangkan hati noona-noonanya dengan tingkah aegyo. Lalu ia berdiri dan berlari menghampiri Jjong kemudian menyeretnya.

“Yaaa!” protes Jjong kesakitan.

“Noona, kalau aku pangeran kecil, lalu Jonghyun-hyung apa?”

Aku berpikir sejenak. “Bad Prince?” jawabku perlahan.

“Mwo?!” pekik Jjong. Taem tertawa puas sedangkan Jjong merasa dongkol. Kemudian ia menarik Minho yang kebetulan sedang berjalan di sekitar kami dan ditariknya ke hadapanku. “Yeah, kalau begitu menurutmu dia ini Nice Prince?” serangnya balik disertai seringaian lebar di wajahnya.

Aku mematung. Minho juga terlihat bingung dengan situasi ini. Kutatap Jonghyun dengan tatapan mematikan. Ia melepaskan cengkeramannya dari lengan Minho dan tertawa garing ketakutan.

“Mianhae…,” ujarnya nyengir.

“Jjong, kau mati sekarang juga!” geramku lirih, semoga hanya Jjong yang mendengar. Namun dia sudah berlari keluar ruangan sebelum sempat kucekik lehernya. Minho masih berdiri di hadapanku. Kuberanikan diri untuk menatapnya agar ia tak curiga.

Dia tersenyum dan bergumam, “Nice Prince?” Lalu berbalik pergi menyusul Jjong.

Aigoo, aigoo… Semoga ia tak mengerti apa maksud Jjong. Ah, yakin sekali sekarang wajahku sudah seperti kepiting asap. Memalukan! Perlahan-lahan kurasakan pundakku memberat. Yeah, siapa lagi kalau bukan…

“Noo~ naaa~” dia bergelayut manja. “Noona-ya~ Aku masih merindukanmu.”

Aku tersenyum geli. Ya Tuhan, terima kasih Engkau telah menciptakan makhluk se-cute ini.

+++++++

JINKI datang dengan manajer-oppa. Ia masih tetap tersenyum sambil membungkuk memberi hormat pada para staf yang ia temui. Wajahnya pucat karena lelah. Coordi-eonni memberinya kostum, lalu ia keluar ruangan untuk menggantinya.

Aku duduk di sofa sambil menonton artis lain yang sudah mulai rehearsal dan pre-recording melalui TV yang tergantung di sudut ruangan. Kulihat Taem bermain-main dengan coordi-noonanya, Jonghyun memelototi ponsel dan sering kali aku memergokinya tengah senyum-senyum sendiri, lalu Kibum tak hentinya merecoki make up artist-eonni meminta retouch berulang kali, hanya Minho yang sedari tadi diam dan menyibukkan diri mengangkat dumble.

Pintu terbuka, Jinki masuk, sudah lengkap dengan kostum panggungnya. Ia duduk di meja rias siap untuk didandani. Manajer-oppa datang ke arahku.

“Jira?!” panggilnya. “Kau benar Kim Jira?”

Aku berdiri untuk menyambutnya. Sebenarnya baru kali ini kami bertemu. Karena setelah kepulanganku lima hari lalu, aku sibuk mengurusi restoran orang tuaku. Hari ini juga merupakan kali kedua aku bertemu dengan SHINee.

“Oppa, annyeong haseyo.”

Dia memelukku. Kami memang sudah akrab dari dulu. Masih kuingat bagaimana ia membanjiri wajahnya dengan air mata saat diberi kesempatan menjadi manajer. Aku salah satu orang yang membantunya menghentikan air mata itu.

“Aigoo, kau memanjangkan rambutmu? Yaaa, Jira-ya, kenapa kau jadi feminin seperti ini?” tanyanya membuatku jengkel. Haruskah hal seperti ini dibahas?

“Waeyo? Apa tak cocok? Aku kan di sana belajar menjadi seorang pemasar. Mereka menuntutku untuk berpenampilan seperti ini.”

“Noona neomu yeppeo~” teriak Taem dari ujung ruangan sambil mengacungkan kedua jempolnya.

Aku tertawa. “Waaa… Aegi, gomawo.”

“AEGI?!” sahut Jjong, Key, dan Minho bersamaan.

Aku terkejut. Wow! Mereka baru saja membuat koor. Hebat!

“Noona-noona kami yang terhormat, hentikan memanjakan magnae!” sewot Kibum padaku dan beberapa coordi-noonanya.

Kami para noona hanya tersenyum, tak peduli. Sedangkan Taem nyengir lebar penuh kemenangan setelah melihat reaksi kami yang artinya kami menolak.

“Benar, kalian harus menghentikannya!” ujar manajer-oppa.

“Waeyo?” tanya Taem, sekarang dia mengeluarkan jurus puppy eyes-nya.

“Ah, Taemin-ah…,” pekikku dan coordi-eonni lainnya bersamaan. Para pria memutar bola mata mereka jengkel. Hahaha, Taem terlalu cute untuk ukuran remaja umur delapan belas tahun. Bagi kami, para noona, dia seperti anak TK.

“Oke, sekarang kalian siap-siap! Lima belas menit lagi giliran SHINee. Lakukan yang terbaik untuk good bye stage kali ini. Minho , Jonghyun, Taemin, Key, kalian duluan ke studio. Biar Onew menyelesaikan make up-nya,” ujar manajer-oppa membuatku terpana. Bagaimana bisa… dulu dia tak sekeren ini. Tapi sekarang, wow! Oke, pelajaran hidup kali ini: pekerjaan merubah karismamu!

Taemin memelukku kilat kemudian berlari keluar ruangan. Jjong menyimpan ponselnya ke dalam tas lalu mengajakku high-five, diikuti dengan Kibum di belakangnya.

“Noona, well… aku setuju dengan Taemin. Kau lebih cantik seperti ini. Kau bahkan berdandan seperti artis,” ungkap Kibum.

“Wow, Kibum-ah, apa ini pujian? Kedengarannya seperti kau sedang mengejekku.”

Dia tertawa melengking. Jonghyun tersenyum lalu menaruh tangannya di pundakku. “Di sini banyak kaca. Bercerminlah! Kau tampak hebat sekembalinya dari Amerika.”

WOW, Jjong… Daebak! Apa kalian keracunan makanan? Ingatan beberapa tahun lalu masih melekat di otakku saat kalian berdua mengejekku ‘muka panci’ hanya karena penampilanku yang lusuh. Tapi kali ini… Ah, benar-benar…

“Kau memakai make up, Noona?” Kibum mulai mengintimidasi.

“Padahal kau dulu sangat membenci make up,” timpal Jjong.

Astaga, mereka masih meneruskannya? JongKey couple membuatku muak hari ini. “Apa salah jika aku menggunakan make up?”

“No, no… Noona, calm down!” ucap Kibum melambaikan tangannya bodoh. “Tak ada yang salah. Justru kami ingin memuji usahamu ini. Benar kan , Hyung?” tanya Kibum pada Jonghyun, namun yang ia lirik adalah Minho . Sialan!

“Hentikan menggodaku!”

Kulirik Minho, dia sedang menonton kami. Oh bagus, dua kali sial! Jjong membuka lagi mulutnya, “Yeah, yeah, kami berhenti. Karena bodyguard-nya tengah mengawasi kami. Benar, Key?”

Kibum melirik Minho . “Ah, ya…”

Demi Tuhan aku ingin sekali menyumpal mulut keduanya dengan sepatu lalu melempar mereka ke sungai Han, andai aku bisa… Ini seperti terlempar ke masa lalu, di mana mereka melakukan hal yang sama seperti ini padaku. Tapi Minho tak pernah peka. Dia hanya menonton tanpa ekspresi jika melihat kejadian serupa.

“HYUNGDEUL!” teriak Taemin dari pintu. “Kenapa hanya aku yang sendirian ke sana ? Manajer-hyung sudah mengomel. Kaja!”

Jjong dan Key sibuk berlarian keluar ruangan dengan muka bodoh. Minho dengan santai memakai gelang sponsornya lalu berjalan menghampiriku. Oh, no! Jantungku…

“Aku juga setuju apa kata Minnie…,” ujarnya lantas tersenyum, “…noona neomu yeppeo!”

Dia berbalik pergi keluar ruangan, meninggalkanku yang hampir mati berdiri. Ah, rasanya otakku mulai lumpuh, atau jantungku yang lepas dari peredarannya. Tunggu, sejak kapan jantung ber-revolusi? Ah, benar-benar… Hari ini benar-benar…

Kulirik Jinki yang sudah selesai di-make up. Dia berdiri dan menatapku sinis melalui cermin. Oke, sekarang apa lagi?

“Cantik? Cih, bodoh!” ejeknya lalu pergi keluar ruangan. Wooo, Lee Jinki, kau benar-benar mencari mati?

Kuhempaskan tubuhku ke sofa. Dia membuat mood-ku rusak. Benar-benar hebat. Kulirik coordi-eonni sekaligus hairstylist-eonni yang berperawakan gemuk mondar-mandir berjalan di depanku.

“Jira-ya, kau mau melihat mereka?” tanyanya.

“Aniyo. Mereka membuat gairahku untuk menonton hilang.”

“Oke, kalau begitu kau tanggung sendiri jika Taemin mengamuk.”

Ah ya, Taemin. Aku berjanji padanya untuk melihat mereka menampilkan Lucifer terakhir kalinya di MuCore. Perlahan-lahan aku bangkit. Eonni mendorongku lembut saat akan melalui pintu.

“Ayolah, Jira-ya. Harusnya kau senang Minho berkata seperti itu!” MWO???! Mataku melotot, sudah hampir lompat dari tempatnya. “Ya, aku tahu,” katanya, yeah dia menjawab pertanyaan yang tersirat dari ekspresi wajahku.

“Eonni, mmm… Aku…”

Dia melakukan gerakan seperti meretsleting mulutnya. Oh yeah, apa aku bisa percaya begitu saja kalau dia akan tutup mulut?

“Trust to me, please!” pintanya dengan pronountiation yang payah.

“Okay,” jawabku lemah.

+++++++

GREAT! Penampilan mereka keren sekali. Ini pertama kalinya aku melihat mereka tampil langsung. Pantas saja mereka bisa meraih popularitas yang tinggi, itu sepadan dengan kerja keras yang mereka lakukan selama ini.

Bahkan Taemin terlihat sangat dewasa dan cool. Takkan ada yang mengira bagaimana sikapnya saat offcam. Dan Minho… astaga… dia seribu level lebih keren saat berada di panggung. Oke, sepertinya kata-kataku ini mubadzir, karena tak ada kata-kata yang sanggup melukiskan bagaimana kerennya mereka saat melihatnya langsung. Aku beberapa kali meneriaki nama Taem tadi. Sungguh memalukan, bahkan coordi-eonni saja menertawakanku.

Kusambut kehadiran mereka saat sampai di ruang tunggu SHINee. Berteriak dan memeluk Taem, itu yang kulakukan saat ini. Mereka bersorak-sorai terlarut dalam suasana entah senang atau malah sedih. Mereka takkan tampil lagi di MuCore membawakan Lucifer tiap minggu, itu pasti membuat sedih. Tapi aku yakin sekali mereka juga merasa senang karena beban berkurang satu. Tahukah kau kalau selama promosi ini mereka mengeluarkan banyak biaya?

Dari pihak TV untuk sekali tampil, mereka hanya dibayar sekitar 100 ribu won. Sedangkan untuk keperluan kostum dan lain-lain, mereka menghabiskan sampai 4 juta won. Gila memang, tapi ini sebuah promosi yang bagus dan membanggakan karena mendapatkan prestise di mata masyarakat jika berhasil membawa pulang Mutizen.

Jjong dan Key yang telah mengganti pakaian menarikku keluar ruangan dan membawaku ke kantin. Ah ya, aku belum makan siang dan ini sudah masuk jam makan malam. Kulihat Key meminta izin pada manajernya dan menarik tangan Minho untuk bergabung bersama kami.

Saat sampai di kantin, kami menempati meja paling pojok. Ini adalah meja teraman bagi artis yang ingin membicarakan hal serius. Setidaknya itu kata Jjong. Aku tak tahu.

“Noona, kau pesan makanan!” titah Kibum.

“Mwo?! Kibum-ah, aku noonamu. Jangan memerintah sembarangan! Aku bukan Jjong ataupun Jinki-oppa.”

“Ya! Ya! Ya!” Jjong tersinggung.

“Noona, aku lelah sekali,” ujar Kibum mendramatisir sambil menaruh tangannya di kening. Yeah, drama queen!

“Naddo, naddo…,” imbuh Jjong cepat-cepat saat aku menoleh padanya. Menyebalkan!

“Fine!” ujarku kesal sembari menyingkirkan kursi dan berdiri. “Kalian mau apa?”

“Kami cukup air mineral, Noona,” pesan Kibum. “Kami kemari karena kehausan.”

“Baboya? Di sana juga ada air mineral, kenapa harus beli di sini? Buang-buang uang! Kalau kau, Minho ?”

“Bibimbap, Noona,” pesannya seraya tersenyum, membuatku hampir pingsan melihat kilau gigi putihnya.

“Ne, arasseo. Kalian tunggulah! Aku segera kembali.”

Sepuluh menit kemudian bibimbap, kimbab, dan dua botol air mineral sudah siap di baki. Aku menelan ludah saat mencoba mengangkatnya. Berat!

“Kenapa tak panggil aku?” tanya Minho yang sudah berdiri di belakang.

“Oh, Minho -ya…,” gumamku terkejut. Dia mengangkat bakinya dan berjalan ke meja kami. WOW, fantastik! Meja itu kosong. Dua bocah itu lenyap entah kemana. Aku menemukan secarik kertas di atasnya bertuliskan: Nafsu minum kami tiba-tiba hilang, ajaib! Airnya untuk kalian berdua saja. Annyeong^o^/ Kim Jira, Choi Minho, having fun~

Sialan! Mereka mengerjaiku lagi. Minho tersenyum setelah membacanya. Ia duduk dan mulai mengaduk meratakan bumbu merah dengan nasi. “Noona, makan dulu. Baru kita susul mereka.”

Aku mengangguk. Yah, ada bagusnya juga. Setidaknya kami jadi bisa berduaan. Sudah lama tak seperti ini.

“Kau tahu, Noona? Kita belum mengobrol banyak sejak kepulanganmu.”

“Oh yeah, kau benar. Untuk topik awal, mari kita bahas mengenai rambut barumu. Aku menyukainya, kau tampak lebih dewasa.”

Dia tersenyum dan menutupi mulut dengan punggung tangannya. “Jincha-yo? Wah, Noona, gomawo. Mmm… Studimu bagaimana?”

“Syukurlah lancar. Aku belajar dengan keras. Ternyata mempelajari Komunikasi Pemasaran itu tidak mudah. Kita dituntut untuk selalu kreatif dan jago bersilat lidah. Oh ya, kudengar kau diterima di Konkuk University ? Chukahamnida…”

“Hm…,” dia mengangguk membenarkan. “Gomawo. Semoga kau tak lupa janjimu dulu.”

“Mwoya? Janji apa?”

“Noona-ya, kau benar-benar tak ingat? Kau pernah menjanjikan sesuatu padaku jika berhasil masuk Konkuk.”

“Ah ya, aku ingat. Lotte world?”

“Yep. Aku ingin sekali ke sana .”

“Tapi sayangnya itu tak mungkin. Perusahaan melarang keras para artisnya untuk pergi ke taman hiburan seperti itu, kecuali untuk keperluan pekerjaan. Semoga kau belum lupa.”

“Tentu saja tidak. Itu peraturan yang paling kuingat. Ayolah noona, aku ingin sekali ke sana . Sudah lama kan kita tak pergi bersama. Terakhir ke sana sekitar tiga tahun yang lalu, sebelum Kibum debut di Attack on The Pin Up Boys kurasa.”

“Oke, tapi tidak dalam waktu dekat ini.”

Dia meninjukan kepalan tangannya ke udara. “Yes. Noona jjang!” ujarnya seraya menyuap nasi terakhirnya.

“Kita ke atas sekarang. Sepertinya Taemin mencariku,” ajakku setelah mengecek ponsel dan ternyata melewatkan beberapa panggilan si bayi.

Minho berdiri dan menyingkirkan kursi dengan tangannya untuk lewat. “Noona, hentikan memanjakan Taemin!”

“Wae? Jangan bilang kau cemburu!”

Dia tertawa keras, namun ekspresinya kembali serius saat kami sudah berada di depan lift. “Kau hanya akan menggagalkan usaha perusahaan yang ingin mengubah image Taeminnie menjadi ‘agak’ dewasa.”

“Mwo? Haissh, jincha… Aku tak peduli. Biarkan Taem berubah secara alami. Jangan dipaksakan! Beberapa tahun kemudian dia juga akan menyusul ekspresimu itu.”

Dia menoleh bingung, kini kami sudah berada di dalam lift. “Yeah, masih noona keras kepala yang kukenal. Kau tak banyak berubah.”

“Ah, Minho -ya, kenapa kau selalu menampakkan ekspresi serius seperti itu jika di hadapan publik? Berhenti berakting!”

Dia tertawa. “Aku sama sekali tak berakting, Noona. Ini memang aku, si anak Incheon, Choi Minho.”

“Oh, cheongmal?” tanyaku dengan nada mengejek. Pintu lift terbuka, kami melangkahkan kaki menuju ruang tunggu SHINee. “Tapi kau memang selalu dewasa, bahkan lebih dewasa dariku. Jadi, aku percaya padamu, kalau kau ‘tak terlalu’ berakting.”

“Mwoya? Ahaha~ Noona, jincha…,” protesnya tertawa sambil menepuk bahuku.

Jjong muncul dari arah toilet, dia melihat kami. Matanya terpaku pada tangan Minho yang masih menggantung di bahuku. Dia berkata menggoda, “Oh, prince and princess…”

“Kim Jonghyun…,” geramku.

Baiklah, cukup kesialanku di hari ini. Well, walaupun tidak semuanya diwarnai kesialan, karena aku masih bisa mendapatkan waktu berdua dengan Minho . Kekakuan kami setidaknya hilang berkat usaha-konyol JongKey. Kuakui aku harus mengucapkan terima kasih pada mereka.

..to be continued..

+++++++

Okeyy, readers… klo bisa nyempetin baca… jangan lupa ninggalin jejak ya ^^/

This just fanfiction

10 thoughts on “We Walk [Part II] – Goodbye Stage Lucifer

  1. semakin suka…..aku penasaran sama siapa jira jadinya….hmmmm…yg aku tau mitha suka onew…hahhahah…tp ini bukan ff mitha yg bikin kan??yudah cuma satu kata tetap DAEBAK….ahhhhh uri taeminie….sini sini noona manjain km ….hhahahahah….good job🙂

  2. JongKey berbakat bgt jadi mak comblang,
    tapi minhonya ga peka sama skali -,-
    ihhh~ taemin minta dicubit banget >< gemessss deh ama taem yg polosnya ga ketulungan, apa lg kalo udh aegyo-ing »,«

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s