LIKE THE SUN (Part 3)


Title: Like The Sun

Author: OnmitHee

Main Cast: Kim Rumi, Lee Jinki, Kim Kibum

Legth: Sequel

Genre: Romance, Tragic

Rating: PG-15


STORY

** Rumi POV

Sudah 6 bulan berlalu setelah kematian ayah. Dan saat ini aku sedang di pengadilan, mendengarkan pembacaan hakim atas kejahatan yang ibuku lakukan. Membunuh ayahku.

Di ruangan ini, aku melihat keluarga pihak ayahku. Sangat tegang menunggu vonis hakim.. yah.. mereka ingin ibuku dihukum seberat-beratnya. Tak peduli walau ibuku melakukan kejahatan itu untuk membela diri.

Haraboji bahkan menyewa pengacara terkenal untuk menuntut ibuku. Yah.. mereka memang banyak uang. Berbeda sekali dengan ibuku yang hanya dibela pengacara yang diberikan pihak pengadilan.

Dan hukuman 10 tahun penjara tampaknya benar-benar membuat ibuku syok. Aku melihat dia menangis dan kemudian pingsan.

Tapi, aku tak akan menghampiri dirinya walau dia terlihat lemah seperti itu. aku memutuskan keluar dari ruang sidang dan sejak hari ini aku bertekad, untuk melupakan dirinya.

Bukan karena aku membencinya hingga aku bersikap seperti ini. Dia tak pantas mendapatkan kebencianku…

Aku hanya merasa… ini saatnya bagiku untuk memulai hidup baru. Melupakan kejadian buruk dan membuka lembar baru…

.. yaitu kehidupanku seorang diri.

++++++++++

Aku terbaring di rumah sakit saat ini. Efek terlalu lelah karena berlatih untuk turnamen musim gugur yang sisa seminggu lagi. Aku berusaha terlalu keras karena aku ingin menang. Aku ingin semua orang mengakui kalau aku bisa berprestasi tanpa harus mengaitkan ku dengan kasus yang menimpa hidupku 7 bulan lalu.

Aku ingin semua orang berhenti mengasihaniku. Karena aku tak butuh belas kasihan. Aku masih bisa hidup.. aku masih bisa berjuang untuk hidupku… aku tak butuh pandangan iba.

Disaat aku larut dalam pikiranku sendiri,aku mendengar sesorang berkata, ”Hey jelek..”

Aku memandang anak lelaki yang memanggilku seperti itu dan aku lalu tersenyum. Kibum dengan masih menggunakan seragam sekolahnya duduk di kursi yang tersedia di samping ranjangku sambil memangku sekeranjang buah-buahan.

”Kau baru berlatih untuk interhigh saja sudah sampai sakit seperti ini… bagaimana kalau untuk olimpiade. Nih.. aku bawakan buah, kau pasti kurang gizi karena hidup di panti seperti itu..”

”Kibum-ah.., gomawo,” kataku.

”Ne.. kau harusnya tak usah terlalu keras pada dirimu seperti ini.. tinggal di rumah sakit itu tak nyaman tau, apalagi di ruangan yang penuh sesak seperti ini..” kata Kibum lagi sambil mengeluarkan apel dan kemudian memotongnya.

”Besok aku sudah keluar kok,..”

”Baguslah… ” sahut Kibum lalu dia menyuapiku buah apel yang sudah di potongnya,

+++++++++

Aku pulang sekolah cukup larut hari ini, karena lusa adalah pertandinganku jadinya aku berlatih sampai malam hari ini.

Walau Kibum menasihatiku untuk tak terlalu keras pada diriku dan sedikit santai dalam menghadapi pertandingan, tapi mana mungkin aku bisa melakukan itu. aku takut kalau aku kalah tahun ini. Aku ingin menang karena jika aku menang lagi tahun ini, kesempatan untukku di tarik pelatnas semakin terbuka lebar.

Ini pertandingan terpenting dalam hidupku, walau pun aku baru keluar dari rumah sakit 3 hari yang lalu, aku tak boleh jadi lemah. Aku sudah banyak tertinggal karena saat dirawat di rumah sakit selama 2 hari. Aku tak ada berlatih saat itu.

Aku berjalan kaki menuju panti tempat ku tinggal selama 7 bulan ini. Udara musim gugur yang dingin cukup menusuk tulangku, sehingga aku semakin mempercepat langkah.

Perjalanan dari sekolah menuju tempat tinggalku mengharuskan aku melewati komplek pertokoan, dimana aku tau di komplek pertokoan itu ada sebuah toko daging kecil milik keluarga Jinki.

Aku selalu berhenti di depan toko itu sekadar untuk memastikan Jinki ada disana atau tidak. Tapi tindakan ku itu percuma, karena aku tak pernah melihat Jinki disana. Anak itu tampaknya sangat jarang pergi ke toko orang tuanya.

Di saat-saat seperti ini, saat aku menantikan Jinki adalah saat-saat dimana muncul penyesalan atas kematian ayahku.

Andai saja ayahku tak meninggal di malam ulang tahunku, aku mungkin masih punya keberanian menampakkan wajahku di hadapan Jinki, tak peduli walau dia tak datang di pesta ulang tahunku.

Tapi karena kasus itu, aku jadi menjauh dari Jinki. Aku tak mau saat kami bertemu dia menampakkan ekspresi yang sama seperti orang lain, mengasihaniku.

Aku tak pernah ke sekolahnya lagi. Lagipula, aku juga tak tau dia sekolah dimana semenjak dia lulus SMP musim semi lalu. Aku mencoba sebisa mungkin tak tau apapun tentang dirinya.

Tapi, walau bertekad seperti itu. aku selalu tak bisa untuk tak berhenti jika sampai di depan toko keluarganya. Itu karena.. aku sangat merindukannya. Berharap bisa melihat senyumnya walau dia tak tau tentang keberadaanku.

Aku mencoba mengendalikan diriku untuk tak menangis. tapi mata ini terasa perih… selalu seperti itu jika aku memikirkan Jinki. Entah kenapa seberat apapun hidup yang kulalui aku tak pernah menangis tapi jika Jinki yang kupikirkan, aku tak kuasa menahan air mataku.

Aku terlalu lemah… karena cintaku yang bertepuk sebelah tangan padanya.

Aku lalu beranjak dari depan toko Jinki, tapi langkahku terhenti saat aku mendengar namaku di panggil. Aku berbalik untuk melihat orang yang memanggilku.

Dan aku tak bisa mengungkapkan perasaanku saat aku melihatnya. Melihat bahwa yang memanggilku itu adalah Jinki.

Dia bergegas berjalan mendekatiku. Tapi aku tak bisa berbicara dengannya lagi. Aku malu.. malu dengan hidupku dan aku tak mau dia mengasihaniku.

Aku mempercepat langkahku. Kemudian aku berlari, walau dia berusaha mengejarku tapi aku yakin dia tak bisa menyusulku. Aku adalah juara interhigh tingkat SMA.. aku mempunyai lari tercepat.

Kemudian aku menoleh kebelakang. Sudah kuduga, dia tak bisa menyusulku. Aku sudah tak melihatnya di belakangku. Dan rasa menyesal itu lagi-lagi muncul…

Aku lalu melanjutkan perjalananku, sambil melamun. Tak memikirkan apapun, sampai aku merasa ada sesuatu menghantam tubuhku. Dan akhirnya aku tak sadarkan diri.

++++++++++

** Jinki  POV

Kenapa dia berlari? Padahal aku sangat merindukannya. Tapi dia tampaknya berusaha menjauh dariku. Apa karena malu?

Apa dia takut aku mengasihaninya?

Kenapa dia bisa sebodoh itu?  aku sangat cemas padanya. Aku takut dia memendam derita hidupnya seorang diri.

Aku sangat ingin membantunya… menemaninya melewati masa sulit seperti ini.

Dia membutuhkan ku, aku yakin itu. tapi dia malah menjauh dariku.

Aku menyesal… mengacuhkannya. Malu dengan keberadaannya… tapi aku menyesali itu. sangat menyesal…

Dia pasti tak tahu, kalau aku datang sore itu. aku ke rumahnya menerima undangan pestanya dan aku kaget saat melihat police line di depan pintu rumahnya.

Andai saja dia tahu kalau aku ingin menemaninya saat itu. tapi aku tak bisa menemuinya… aku tak tau dimana dia setelah kematian ayahnya.

Aku bertanya pada teman-temannya pun tak bisa karena mereka memang tak ada yang tahu tentang keadaan Rumi. Dia menjadi gadis yang sangat tertutup setelah kematian ayahnya.

Bertanya pada Kibum pun percuma karena dia menolak memberitahuku.

Aku merasa bersalah sekali pada Rumi, aku berniat membantunya tapi usaha ku kurang keras. Dia pasti menderita sekali.

Aku sudah mulai kehabisan nafsaku, aku tak bisa menyusul larinya. Dia cepat sekali. Tapi aku tak boleh menyerah. Jika aku tak bicara dengannya malam ini, aku tak tahu apakah akan ada kesempatan lain lagi.

Aku kemudian bisa melihat dia lagi. Dia sekarang sudah tak berlari lagi, tapi hanya melangkah pelan dan sepertinya melamun.

Oh tidak.. kenapa dia melamun disaat seperti ini. Dia sedang di tengah jalan besar sekarang.. dan dia menyebrang tanpa melihat lampu lalu lintas.

Dan aku hanya bisa berteriak saja saat melihat tubuh Rumi terhantam, kemudian terpental karena di tubruk sebuah mobil.

++++++++

** Rumi  POV

Aku membuka mataku yang terasa berat. Sinar lampu ruangan tempatku berbaring sekarang silau sekali.

Aku merasa tubuhku sakit dan kepalaku berat.

Oh tidak.. aku dimana sekarang? Sebelumnya aku merasa kalau sesuatu yang besar menubrukku lalu aku tak sadarkan diri.

Aku kemudian mendengar suara yang sangat ku kenal memanggilku, ”Rumi.. kau sudah siuman..”

Itu suara Jinki, aku tak dapat menangkap apa yang dikatakannya setelah itu. karena kepalaku pusing sekali.

Tapi kemudian aku melihat beberapa orang masuk dan mengerumuniku.

”Kau tau siapa namamu?” tanya seorang pria berbaju putih sementara seorang wanita yang kutahu adalah perawat mulai mencatat sesuatu.

”Kim Rumi…” sahutku lemah.

”Berapa usiamu?” tanya pria itu lagi sementara aku memandang Jinki yang berdiri disamping ranjangku sambil menggenggam tanganku.

”17 tahun… aku dimana sekarang? Aku harus berlatih..”

”Syukurlah dia dapat mengingat dirinya..” kata pria itu dan kemudian kulihat Jinki tersenyum padaku.

”Jinki-ya.. aku harus ke sekolah. Aku mau berlatih.. lusa pertandinganku..”

”Rumi..” aku melihat senyum Jinki hilang. ”Tak usah pikirkan itu… kau beristirahat saja..”

”Andwee…” seruku berusaha bangkit tak peduli dengan rasa pusing yang muncul saat aku mencoba duduk, tetapi kemudian aku merasakan sakit ditubuhku yang lain.

Aku melihat kaki kananku yang tergantung. Andwee.. andwee.. kaki ku kenapa?

“Kakiku..” aku mulai berteriak dan mulai menangis.

“Tenang Rumi.. kakimu baik-baik saja… hanya.. re-retak..”Jinki berusaha menenangkanku.

”Hanya retak? Pertandinganku lusa dan keadaan ini membuatku tak bisa bertanding..” aku masih menjerit.

”Itu bukan lusa Rumi.,. pertandinganmu sudah lewat kemarin dan sebenarnya kau tak sadarkan diri selama 3 hari..”

Aku tak tahu hal apalagi yang terjadi setelah itu, karena setelah mendengar ucapan Jinki pandanganku menjadi kabur dan mungkin aku pingsan lagi.

+++++++++

Hari ini hari kepulanganku setelah dirawat selama 3 minggu di rumah sakit. Pihak dokter bersyukur tak ada yang buruk terjadi pada diriku selain gegar otak ringan dan retak di telapak kaki karena tergilas ban mobil yang menabrak ku.

Tapi bagiku itulah yang terburuk. Kenapa aku tak sekalian mati saja… atau mungkin lupa ingatan, sehingga aku tak merasakan kesedihan seperti ini.

Aku jelas sudah tak bisa berlari lagi dengan cedera kaki seperti itu. padahal impianku hanya satu… menjadi atlit lari no.1.

Aku harus mengubur cita-citaku itu…

Padahal yang bisa kulakukan hanya berlari… aku tak bisa membayangkan bagaimana kelanjutan sekolahku setelah ini.

Mereka pasti akan mencabut beasiswaku…

Ah~ kenapa hal buruk selalu menimpaku?

+++++++++

** Jinki  POV

Sengaja aku pulang cepat dari sekolah hari ini, karena hari ini adalah hari kepulangan Rumi dari rumah sakit. Tapi sebelum pergi ke rumah sakit, aku mampir ke toko orang tuaku. Aku akan menjemput kepulangan Rumi bersama ibuku.

Yah… ada sebuah alasan mengapa aku mengajak ibuku.

Itu karena kami akan mengajak Rumi untuk tinggal bersama kami sejak hari ini. Aku sudah menceritakan semua hal yang menimpa Rumi pada orang tuaku, kecuali perasaanku padanya. Orang tuaku turut bersedih dengan kejadian yang menimpanya dan ingin membantu.

Seminggu yang lalu orang tuaku mendatangi panti tempat Rumi tinggal dan mereka mengijinkan orang tuaku merawat Rumi.

Aku senang sekali, tapi aku tak tau apakah Rumi akan merasakan hal yang sama.

Sikap menjauhnya dariku masih belum hilang, setiap aku menjenguknya di rumah sakit, dia selalu pura-pura tidur.

Padahal aku sangat ingin berbicara dengannya….

++++++++++

Saat aku masuk ke ruangan tempat Rumi di rawat, aku melihat gadis itu sudah siap untuk pulang.. sudah tak lagi menggunakan baju rumah sakit berganti dengan dress pink yang terlihat sangat manis di tubuhnya walaupun sayangnya terlihat cukup janggal karena telapak kaki kanannya masih di gips.

Ibuku yang datang bersamaku, bergegas menghampiri Rumi yang masih duduk di atas tempat tidurnya. Ibuku sepertinya sangat senang melihat Rumi. Sementara Rumi, dia tampak murung. Matanya merah, pastinya karena habis menangis. hah, apalagi yang membuat dia menangis kali ini? Aku harap bukan karena dia tahu tindakan ku ini…

”Rumi-ya, kau sudah siap untuk pulang bersama kami ’kan?” kata ibuku. Rumi mendongakkan wajahnya mendengar sapaan ibuku. Terlihat kaget dan ada ketakutan di wajahnya dan saat dia melihatku, dia menundukkan wajahnya. Berusaha menyembunyikan sorot mata ketakutannya dari ku.

Kemudian aku baru sadar, kalau ada seseorang duduk di kursi samping ranjang Rumi. Seorang wanita tua dan setelah aku membaca name tag-nya, aku tau kalau wanita itu adalah orang dari panti tempat Rumi tinggal selama ini.

”Nyonya Lee, Kamsahamnida karena telah mau membantu anak ini.” kata wanita tua itu sambil berdiri lalu membungkukkan tubuhnya pada ibuku.

”Ne.. tak masalah. Dia teman anakku, sudah seharusnya aku membantunya..”

Dan kemudian aku melihat Rumi membuka mulutnya, terlihat seperti akan berbicara tetapi di urungkan.

”Ne.. Rumi-sshi. Ada yang ingin kau katakan?” kata wanita tua itu. sama sepertiku, dia rupanya sadar akan sikap canggung Rumi.

”Apa.. a-apa ini tandanya, aku di adopsi?” tanya Rumi pada wanita tua itu.

Wanita tua itu tertawa lalu menggeleng, ”Anio, kau masih punya ibu ’kan? Itu artinya kau masih punya keluarga, kau bukan akan di adopsi ’nak..”

”Lalu.. kenapa aku harus tinggal dengan mereka?” Rumi masih bertanya dan sorot matanya mengatakan kalau dia tak ingin ikut dengan ibuku.

”Mereka ingin membantumu… bisa dibilang sebagai keluarga asuh. Kau tinggal bersama mereka sampai kau lulus dari sekolahmu… kurasa tinggal 1 tahun lagi, setelah itu, kau bisa menjalani hidup yang akan kau pilih… ” wanita tua itu menjelaskan dengan bijak.

Rumi kemudian memandangku. Ah` mata itu, indah sekali saat aku melihatnya… dia memandangku cukup lama sampai akhirnya berkata, ”Chewsang hamnida.. ”

”Sepertinya Rumi setuju.. baiklah,” ibuku lalu berkata padaku, ”Jinki-ya, kau bantu Rumi keluar ya.. ibu dan Nyonya Han ada yang ingin dibicarakan.. kau langsung ke parkiran saja ya. Tunggu ibu di mobil..”

”Ne eomma..” sahutku.

+++++++++

Aku mendorong kursi roda yang diduduki Rumi. Kami berjalan saling diam sampai tiba di parkiran.

”Gomawo…” kata Rumi pelan saat kami sudah sampai di depan mobilku.

Aku tersenyum padanya yang akhirnya mau membuka mulut. Dia menunduk setelah mengatakan itu, tapi tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. Sebisa mungkin aku mengendalikan diriku untuk tidak membelai rambutnya, walau sebenarnya sangat ingin.

Lalu dia mulai berbicara lagi, ”bahkan kakekku saja tak mau menampungku.. kenapa kau melakukan ini?”

”A-aku hanya..” aku gugup sekali sehingga tak tau harus berkata apa.

”Tak apa jika kau kasihan… awalnya aku memang tak ingin seorang pun mengasihaniku.. tapi entah kenapa… kini aku bisa menerima jika kau yang melakukannya… ”

Ah~ dia sepertinya salah paham. Aku bukannya kasihan padanya, aku melakukan ini karena aku ingin melindunginya.. membantunya. Tapi aku tak bisa mengungkapkan perasaanku ini sesungguhnya.

”Jinki-ya… kau membuatku semakin tak bisa lepas darimu… kau membuatku berharap lagi… berharap kau membalas perasaanku.. kau memberi kesempatan lagi untukku.. hah kau ini..”

Dia lalu meraih tanganku membuatku menatapnya lagi. Matanya terlihat sedih tapi bibirnya tersenyum dan kemudian tanpa bersuara mulutnya membentuk kata ’sarangheyo’ padaku. Membuat darahku bergejolak. Aku sangat ingin menciumnya saat ini…

Tapi yang kulakukan malah menyentil keningnya…

”Yaa… sakit!!! Kau taukan kalau aku habis gegar otak? Kenapa malah menyentilku..” protesnya sambil mengusap keningnya yang memerah karena sentilanku.

”Itu hukuman karena kau mencoba merayuku…” sahutku tertawa.

Yah.. ini memang bukan waktu yang tepat untuk membalas perasaannya. Walau aku sangat ingin mengatakan kalau aku juga menyukainya, hanya saja yang sebenarnya dia butuhkan bukan itu.

Yang dia butuhkan adalah kehangatan keluarga dan kasih sayang yang bukan hanya dari aku saja tapi dari semua orang sehingga dia bisa melupakan kesedihannya….

~to be continued~
nih FF geje kan? haha~ sudahlah… maklum az, aku masih belajar bikin ff yang pake POV gini… dimaklumi yee….

dan jangan lupa KOMEN ^^/

42 thoughts on “LIKE THE SUN (Part 3)

  1. Ya ampun jinki.. Orang baru sembuh main sentil2 aja, ckck..
    Kira2 ff ini sampe berapa part?
    Aku tunggu yaa lanjutannya..
    Oh iya, mi jinki pov kok ga dipublis2 sih?

  2. Semakin seru aja mith…wahhh si rumi lg sedih n banyak masalah gtu msh bisa aja blg sarangheyo….hiihihi…gmn yaaa khidupan mereka tggal satu rumah tp si dubu msh blum ngaku…hohohooh…qt tggu saja….cepat ya mith next chaptnya,,,dtggu🙂

  3. Sampe panas nih mata baca ff mit2 onn.
    Jinkiiii… Tinggal bilang nado saranghae aja ga bisa.*ntar lgsg tamat donk*
    Di tunggu lanjutannya onn. Yg married idol jinki pov juga yaa..

  4. eonni !! huaa keren banget xD kasian rumi. rumiyaa, jgn gtu dong, kalo sedih nangis aja T.T jinki oppa dewasa bgt, saranghae jinkiyaaa xD

  5. ceile onew,
    rumi ngerayu dihukum..
    padahal dalam hati senang,wkwk
    gengsian banget dah.

    onnie i will waiting for next part #sokinggris
    hohoho….

  6. Wahh~ enak yaa rumi bisa tinggal ama jinki..
    eciyye~ jinki kaga ush malu” gitu dong..xDD
    ribet deh si jinki itu, pdhl tinggal bilang ‘saranghae’ doang susahnya minta ampun -,-
    onn~ maap yak saya baru smpt baca+komen, di tunggu next part nya😀

  7. ya ya ya
    rumi diajak tinggal bareng jinki
    *apa gak bahaya*

    eon, kok sedih amat hidup si rumi,,,,,

    speachless aku jadinya
    #lebeeee😀

  8. jiahahaaaaa…malang nian yaa nasip si rumi….

    jinki oppa bego ahh, kalo suka ya bilang aja suka…
    siapa tau rumi nya jadi terhibur gitu…jangan diemm aja donk, ntar kalo si rumi nya keburu mati duluan gimana???*amit2 deh kalo rumi koid, ntar ga da cast nya lagi….tapi kalo author mau pake saya juga boleh kok…..ckckckckk*maruk*

  9. baca ni ff smbil makan.
    Makannya lom klar ffny uda abis. Heh?? Pendek…!!! Huwe….
    Aduh…. Jinki lembek amat dah… Sini noona ajarin nembak cewe (?)
    Untung kluarga jinki baik hati….
    Ayo mit posting lanjutannya….

  10. yaelah si dubu pakek acara malu” pula dy,apa sih susah.a bilang ‘nado saranghaeyo rumi ya’ kan beres satu masalah…
    Yah kasian rumi kaki.a fraktura ky gitu.
    KIM RUMI HWAITING^^

  11. Ya ampunn chingu.
    Menyedihkn bget y nasibny rumi.
    Sudh jath,tertimpa tangga.
    Eh dtambh kelindas mobil kakiny.
    ^^v
    tp,jinki npa sich mzti nutupin prasaanny?
    Trus terang aj donk chingu.
    Ksian bget liat rumi.
    Nice epep dh,dtunggu next part.
    Hwaiting!!

  12. kenapa sih smggu skali publishnya? Kenapa ga tiap hari aja.. Author, udah key ny bwt aku ajalah, dbanding dia nganggur ga da psgan. Kasian..

  13. kirain bakal da moment romantis n nyatain perasaan tp semua y buyar pas jinki nyentil2 huh. . .
    Nanti kalo omma y jinki tau kalo anak y suka rumi malah ngak setuju lg. . .s jinki nyentil2 huh. . .
    Nanti kalo omma y jinki tau kalo anak y suka rumi malah ngak setuju lg. . .

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s