We Walk [Part IV] – Almighty Key’s Birthday Party


Author: diyawonnie

Title: We Walk [Part IV] – Almighty Key’s Birthday Party

Cast: Kim Jira (imaginary cast), SHINee, Manajer, and JongKey’s girlfriends
(imaginary casts).

Genre: Friendship, Romance, and Life.

STORY

SELURUH penonton melakukan
standing applause saat acara berakhir. Kulihat Jinki tertawa puas sambil duduk
berlutut menengadahkan kepala dan merentangkan kedua tangannya penuh semangat.
Pertunjukan Rock of Ages Musical untuk hari ini selesai.

Kini aku duduk di lobi gedung. Menunggu Jinki menyelesaikan
‘pesta kecilnya’ bersama para pemain di backstage. Karena setelah ini kami akan
pergi ke sebuah café untuk merayakan ulang tahun Kibum. Tadi Jjong
menghubungiku kalau ia dan Minho sudah
membooking tempat di sebuah café di daerah Hongdae. Ck, mereka memang nekat
memilih tempat di wilayah ‘padat’ seperti itu. Masalahnya, banyak sekali anak
muda yang masih berkeliaran di sana pada pukul seperti ini.

“Mian lama. Kaja!” ajak Jinki. Ia mengenakan hoodie, yang
terlihat hanya hidungnya, bahkan aku tak dapat melihat bibirnya bergerak ketika
ia berbicara.

Manajer-oppa memilih jalan belakang karena fans di sini lebih
sedikit ketimbang mereka yang menunggu di depan. Mereka semua mengacungkan
kamera ponsel. Aku yakin tak lama lagi ratusan fancam tersebut akan segera tersebar
di dunia maya.

Aku berjalan duluan bersama seorang eonni berperawakan tinggi
besar. Sampai saat ini aku tak tahu ia menjabat sebagai apa. Ia selalu bersama
manajer-oppa. Kudengar ia manajer juga. Tapi, entahlah…

Saat aku sudah masuk mobil, kulihat Jinki sempat melambai pada
para penggemarnya. Membuat mereka menjerit memekakkan telinga.

“Hyung, kau akan ikut kami juga, kan?” tanya Jinki saat mobil sudah setengah
jalan.

“Entahlah. Aku ingin, tapi perusahaan memintaku untuk ke sana sekarang. Sampaikan
maafku pada Kibum. Dan jangan pulang terlalu larut! Lagipula ini sudah pukul 11
malam.”

“Hm…,” Jinki mengangguk. “Hyung, istirahat yang cukup!”

“Well, seharusnya aku pemilik kalimat itu, Jinki-ya.”

“Yeah… Hahaha~”

+++++++

SATU jam kemudian kami
tiba di Hongdae. Aku dan Jinki diturunkan di sana, lalu masuk ke dalam sebuah café.
Seorang waitress mengantar kami ke sebuah ruangan khusus. Sebelum kami masuk,
pelayan itu meminta Jinki menandatangani agendanya. Jinki menurunkan hoodie, ia
tersenyum dan menandatanganinya, sedangkan aku memilih untuk masuk lebih dulu.

Baru setengah pintu terbuka dan melongokkan kepala, Taem sudah
berteriak memanggilku. Aku tersenyum, menyambut pelukan hangat si bayi raksasa.
Ia lantas menarikku duduk. Ruangan ini besar, bahkan terlalu besar untuk kami.
Dan yeah ada mesin karaoke di sini. Café mewah, mahal, dan berkelas, tapi pada
akhirnya yang kita lakukan hanya karaoke dan minum-minum.

“Noona, bagaimana musikalnya?” tanya Minho.

Kuacungkan dua jempolku. Jinki yang baru masuk dan duduk di
samping Taem berteriak sambil menggeliat. “Yeah… Party!!!”

“Ah, iri sekali. Aku, Taemin, dan Kibum bahkan belum sempat
menonton.”

Minho tersenyum dan menyodorkanku segelas red wine.

“Gomawo.”

“Ngomong-ngomong di mana Kibum? Bukankah dia pemeran utamanya
hari ini?” tanya Jjong dan aku baru sadar kalau ia tak sendiri. Di sampingnya
ada seorang gadis.

“Mungkin sedang menunggu kau-tahu-siapa,” sahut Minho.

“Yeah, Lord Voldemort?” canda Jjong dan mereka tertawa.

Jadi Kibum akan membawa pacarnya kemari? Baguslah, dia masih
berhutang cerita padaku. Dan jika ia kemari dengan ‘barang bukti’, itu lebih
dari cukup.

“Wow, daebak. Kim-line mengkhianatiku,” ujarku sengit.

Jonghyun membelalakkan matanya, hal biasa yang selalu ia
lakukan. “Mwo?”

“Kau dan Kibum memiliki pacar dan sama sekali tak
memberitahuku. How great!”

“Yaaa, hanya Kibum. Aku tidak, mmm… belum!” Dia buru-buru
meralat ucapannya.

“Belum? Jadi dia yang selalu membuatmu tersenyum sendiri saat
menatap layar ponsel, Jjong-ah?” tembakku.

Wajah Jjong seketika memerah. Minho
tertawa dan mengajakku high-five. “Woaaa, noona, aku menyukaimu!”

Kulihat gadis itu pun merunduk. Oke, ini akan menjadi malam
yang menyenangkan bagiku. “Jjong, Jjongie, kenalkan kami!” pintaku.

Dia mengangguk. “Ini teman SMA-ku, Shin Hyebin.”

Kami berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.

“Nama yang cantik,” pujiku. “Pemiliknya pun tak kalah cantik.
Benar, Jjongie?”

“A-apa?” sahutnya gugup sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.

“Sudah berapa lama kalian berkencan?” aku mulai menggoda mereka.

“MWO?!” sahut Jjong. “Belum sampai tahap itu!”

“Oh, kalau begitu akan
ada tahap itu, benar?”

Jjong diam, menunduk. Telinganya memerah.

“Yaaa, Jira-ya, aku menyukaimu!” teriak Jinki tiba-tiba.
Memangnya belum pernah ada yang menggoda Jonghyun seperti ini? Berarti aku
orang pertama? Mati kau Jonghyun. Ini pembalasan dariku.

“Oke, cheers!” ajak Minho
seraya mengangkat gelasnya.

“Yeah,” sahutku, Jinki, Jjong, dan Taem.

“Taeminnie, apa yang kau minum?” tanyaku was-was.

“Cola, Noona. Jangan khawatir!” terdengar ada nada kesal dalam
suaranya. Ya, aku paham bagaimana perasaannya. Dialah satu-satunya member yang
paling terisolasi karena masalah umur.

“Kau akan mendapat kebebasan beberapa tahun lagi, Minnie-ya.
Sabarlah!”

“Aniyo, Noona. Tahun depan aku genap sembilan belas. Yeah, aku
tak sabar.”

“Jincha? Tapi kau tak terlihat seperti akan sembilan belas,”
candaku dan dia merengut menggembungkan pipinya. Kyeopta!

Pintu terbuka. Kibum masuk dengan seseorang. Ia menggandengnya
dan duduk di ujung sofa. “Mian telat. Aku menunggunya selesai latihan.”

“Wow, Steven!*” teriak Jinki seraya mengacungkan kedua
jempolnya pada Kibum. Yeah, dapat dipastikan sekarang kalau dia mulai mabuk.

“Noona, ini yang kujanjikan. Hutangku lunas, oke?”

Aku mengangguk dan meneguk wine-ku lagi. Kulihat Kibum berbisik
pada gadis itu. Tak lama kemudian ia memperkenalkan diri. “Annyeong haseyo,
Jung Mikka imnida. Bangapseumnida.”

Aku tersenyum, menjabat tangannya dan memperkenalkan diri.
Gadis ini cute sekali, tubuhnya tak terlalu tinggi, wajahnya juga sangat manis
dengan mata yang besar. Dan yang terpenting, tak ada kesan feminin sama sekali
padanya. Benar-benar tipe Kibum.

“Dia kelahiran ’92. Sekarang masih trainee,” ujar Kibum.

“SM?” tanyaku.

“Aniya, DSP.”

“Wah, kau penjelajah, Kibum-ah!”

“Mwoya?” protesnya tertawa. “Nicole yang mengenalkanku padanya.
Oke, kita mulai partynya. Sepertinya leluhur kita yang satu ini sudah
mendahului.”

Kulirik Jinki. Ia tengah tidur sambil senyum-senyum sendiri.
Astaga… Tapi ini belum seberapa. Ia bisa jauh lebih buruk dari ini. Jinki
sangat kuat dalam minum. Ia bahkan bisa sangat kuat jika tidak bersama member.
Terkadang si Dubu ini bisa sangat mengerikan di saat-saat tertentu.

+++++++

JJONG dan Key menari
brutal. Mereka menyanyikan lagu 2NE1 – Go Away. Membuat Taem, Mikka dan Hyebin
tertawa terpingkal-pingkal. Aku juga sebenarnya sudah hampir mati menahan tawa.
Harus kutahan karena tak ingin mengganggu Minho
yang entah sejak kapan menyandarkan kepalanya di bahuku. Dia terlalu banyak
minum dan ini pasti akan membuat lehernya sakit karena aku lebih pendek
darinya.

Musik berhenti.

“Aku lelah. Noona, sekarang giliranmu…,” Kibum menoleh, “…Woaaah!”

Jjong mengikuti arah pandang Kibum yang jatuh padaku. “Wooo,
Prince and Princess.”

“Shut up!” sahutku galak.

“Yaaa~ Minho-hyung, itu milikku!” Taemin menarik-narik lengan
kemeja Minho. Aku terkekeh. Ah ya, perlu
kuluruskan, yang dimaksud Taem dengan ‘itu’ adalah bahuku.

Minho terbangun. Ia menggucek
matanya pelan lalu menoleh padaku. “Ah, noona mianhae…”

“Gwaenchana…”

“Kekekekeke~”

Aku menoleh ke sumber suara. Jjong dan Key tengah puas terkekeh
memandangi kami. Sialan!

“Ah, yeobo, ottokhae? Aku ketiduran…,” ujar Jjong pada Key,
namun matanya mutlak menatapku.

“Gwaenchana, gwaenchana… Ayo, kemari tidur lagi, Yeobo!” Key
menyandarkan kepala Jjong ke pundaknya.

Ah, benar-benar. Kapan terakhir kali aku memukul orang? Ingin
sekali mengulang momen itu.

“Aku ke toilet dulu.” Minho
keluar ruangan. Saat pintu tertutup, kulempar botol plastik kosong pada mereka.
Menyebalkan!

“Wooo, noona calm down!” Kibum duduk untuk menalikan tali
sepatunya yang terlepas. “Kami hanya ingin membantu kalian.”

“Dwaesseo (tak perlu)!”

“Oh, jadi kau mampu melakukannya sendiri? Yeah, Kim Jira
jjang!” ejek Jjong.

“Hentikan!  Tak ada yang kulakukan saat ini. Kumohon berhentilah
menggodaku! Aku ingin hidup tenang.”

“Noona akan jauh lebih tenang jika berada di sisinya. Well,
maksudku secara official, bukan noona-dongsaeng. Maka aku pun akan tenang
melepasmu.”

“Melepasku? Wah, Kim Kibum, kesannya seperti kau yang
mengasuhku selama ini. Hebat!”

“Noona, aku yakin sekali kau menginginkannya. Hanya saja kau
terlalu gengsi dengan masalah umur. Bukankah wanita lebih tua dalam sebuah
hubungan saat ini sedang menjadi tren? Lagipula kalian hanya terpaut satu
tahun. Itu bukan masalah besar, ya know?”

Yeah, aku merasa bodoh sekarang dinasihati anak bawang. Seperti
dia pula.

“Aku benar-benar menginginkan kalian bersama,” ujar Jjong,
wajahnya berubah serius.

Oh, boys, hentikan! Ini membuatku gila. Sekarang pipiku mulai
memanas, jantung pun berpacu dua kali lipat.

“Katakan padanya sekarang juga, Noona!” desak Kibum.

“Ini tak semudah yang kau bayangkan, Almighty Key! Hentikan,
tutup mulutmu atau kusumpal dengan ini!” ancamku seraya mengacungkan sebuah
asbak.

“Aku hanya tak ingin kau menyesal lagi,” gumamnya sembari
mengenakan jaket dan topi.

“Errr… Boleh kutahu sebenarnya apa yang kalian bicarakan
daritadi?” tanya Taem hati-hati.

Astaga, aku baru sadar kalau di sini masih ada Jinki dan Taem.
Kulirik leader, ia masih tertidur pulas. Kegiatan musikalnya tadi pasti sudah sangat
menguras energinya.

“Kau tak perlu tahu!” jawab Kibum kejam.

Taem menggembungkan pipinya kecewa. Tapi sedetik kemudian
tersenyum sambil menggelayuti pundakku. “Eomma~”

“EOMMA?!” pekik kami bersamaan. Taem mengangguk polos. Demi
Tuhan ingin sekali anak ini kubawa pulang.

Pintu terbuka. Minho masuk
dengan wajah sedikit basah. Dia menutup pintu dan kembali duduk bergabung
bersama kami.

“Aha, appa wasseo (appa datang),” ejek Kibum, membuat telingaku
memanas.

“Appa?” tanya Minho bingung
sembari menoleh ke samping kiri-kanan mencari orang yang dimaksud. “Nugu?”

Kibum mengibaskan tangannya. “Lupakan!”

“Giliranmu menyanyi, Jira-ya.” Jjong memberikan mic-nya padaku.

“Biar kupilihkan lagunya.” Key meraih remote dan asyik
mengotak-atik sendiri.

“Mwoya? Apa kebebasanku sudah lenyap? Haisss, jincha…,” aku
mendengus sebal sambil melipat tangan dan menghenyakkan diri ke sofa.

Minho mengambil kentang goreng
di atas piring, lalu meraih mic yang satunya. “Aku akan menemanimu bernyanyi…”

“Wow, perfecto!” Jjong tepuk tangan dan mengacungkan kedua
jempolnya.

“Yeah, ini dia… ‘Two Is Better Than One – Boys Like Girls Feat.
Taylor Swift’, sesuai kan
Jjong-hyung?” tanya Key. Wajahku memanas. Kibum benar-benar lihai membuatku
malu malam ini.

“Yah, I love this song…” Minho
tersenyum dan aku memergokinya mengedipkan mata pada Kibum.

Apa maksudnya?! Boys, hentikan membuatku gila malam ini!

Intro musik mulai, Minho
menyanyi lebih dulu.

“I remember what you wore
on our first day. You came into my life and I though… hey… You know this could
be something. ‘Coz everything you do and words you say, you know that it all
takes my breath away. And now I’m left with nothing…”

Kibum dan Jjong bersorak. Bahkan di lagu semellow ini pun
dengan abnormalnya Jjong memainkan tamborin. Gila! Oke, sekarang line-ku dan Minho menyanyi bersama…

“So maybe it’s true, that
I can’t live without you. And maybe two is better than one. But there’s so much
time to figure out the rest in my life. And you’ve already got me coming
undone. And I’m thinking two, is better than one…”

JjongKey kembali menggila. Mereka bersorak sambil menari-nari.
Gadis-gadis mereka hanya duduk, tetapi ikut menyumbangkan tepukan yang tak
kalah keras dari suara lelaki mereka. Taem juga ikut bersorak. Aku sanksi, apa
ia mengerti apa yang sebenarnya ia teriaki?

“Two is better than one…,”
aku dan Minho menyudahi lagu dengan sangat
apik. Minho merangkul bahuku. Seisi ruangan
semakin gencar menyoraki. Wajahku memanas, malu sekali.

“Wah, noona daebak!” puji Taem.

“Yaa, Taeminnie, kau tak mau memujiku?” tuntut Minho.

Jjong tertawa. “Kau lumayan. Berlatihlah lebih keras lagi!”

Minho tersenyum malu dan
mengangguk.

“Benar-benar sayang sekali kau tak menjadi penyanyi, Jira-ya.
Suaramu daebak. Neomu neomu daebak!” puji Jjong sambil tepuk tangan.

Aku tertawa. Tiba-tiba tangan Minho
yang masih merangkul bahuku, menarikku hingga merapat ke tubuhnya. “Tak perlu menjadi
penyanyi. Karena Kim Jira-noona adalah penyanyi pribadiku.”

“Mwoya…?” sahut yang lain.

Kau tahu bagaimana reaksiku? Hanya diam dengan wajah memanas.
Masih untung tidak pingsan. Semoga dia sadar mengatakannya. Tunggu, Minho tak
mabuk ‘kan?

+++++++

AKU duduk di sofa. Kibum
membantu Mikka mengenakan jaket dan membawakan tasnya. Jjong membersihkan
celananya yang penuh remah makanan. Taem asyik meneguk cola-nya setelah
menyelesaikan tiga lagu secara solo. Sedangkan Jinki dan Minho
tewas, mereka mabuk parah.

Kibum mengecek ponselnya. “Taeminnie, driver-hyung sudah
sampai. Kau bantu Onew-hyung keluar. Jangan sampai orang melihatnya mabuk. Bisa
hancur reputasi kita. Aku pulang bersama Mikka. Jonghyun-hyung juga pasti harus
mengantar Hyebin-noona pulang. Jadi…”

“Bagaimana dengan dia?” aku menunjuk Minho.

“Kenapa masih tanya? Tentu saja dia tanggung jawabmu, Noona.”
Kibum melambaikan tangannya bodoh dengan bibir membentuk kata-kata “Goodbye”,
kemudian ia bergegas keluar.

“Yaaa! Kenapa aku?”

“Minho membawa mobil perusahaan…,” ujar Jjong. Dia merogoh tas
punggung Minho dan melemparkan kunci mobil
padaku. “Be carefull, Honey!”

Satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan. Kulihat Kibum
mengeluarkan uang di ambang pintu untuk membayar ini semua. “Kibum-ah, saengil
cukhahamnida! Thanks for tonight…,” teriakku.

“Yeah,” sahutnya tanpa menoleh. Ia masih sibuk menghitung
uangnya. Entah berapa ratus ribu won yang harus ia keluarkan. “Noona, tolong
jaga ayah dari anakmu!” ejeknya dan buru-buru pergi. Kulempar botol plastik
kosong dan malah mengenai pintu.

“Ah, hyung, palli!”

Kudengar Taem merengek. Dia sedang berusaha mengangkat tubuh
Jinki yang benar-benar sudah mabuk berat. Hah, leader ini kacau! Taem menggeram
mencoba mengangkat hyungnya itu dan berjalan terseok-seok keluar ruangan.

“Minnie-ya, hati-hati!”

“Ne~”

Ruangan sunyi. Yang terdengar hanya suara halus dengkuran Minho. Dia tertidur di pahaku. Entah bagaimana mulainya,
tahu-tahu posisi kami sudah seperti ini. Jadi aku tak bisa bergerak banyak
sekarang.

Kupandangi wajahnya. Menyentuh bulu matanya yang panjang dan
ujung hidungnya yang runcing. Aku tak mengerti jalan pikir perusahaan yang
memaksa Minho untuk membuat hidungnya seperti
ini. Yeah, kau pasti mengerti apa maksudku. Plastic surgery! Menurutku, Minho sudah terlahir tampan dengan hidung yang sempurna.
Kenapa harus diperuncing? Inilah kejamnya industri hiburan saat ini. Aku juga
korban. Aku sebenarnya terlahir dengan mata tak sebesar ini. Masih ingat sekali
dulu aku pergi ke dokter khusus kecantikan bersama Yuri saat masih trainee. Kau
tahu dia kan?
Yah, dia member SNSD. Kami pergi bersama untuk membesarkan mata kami. Lucu
sekali, saat itu aku hampir pingsan saat dokter mencoba menyayat kelopak
mataku. Tapi hanya itu. Hidung, rahang, dan bibirku baik-baik saja. Hanya mata.

“Kajima (jangan pergi)!” gumam Minho,
dia mengigau.

“Minho…,” panggilku sambil
mengguncang lengannya. “Ireona (bangun)!”

“Chaesa-ya, kajima!”

Hatiku mencelos. Rasanya seperti kau melewati dua anak tangga
sekaligus secara tak sengaja saat menuruni mereka. Membuat jantung berdebar dua
kali lipat. Hati tiba-tiba seperti diremas. Ini sakit. Ternyata Chaesa masih
mendominasi pikiran Minho. Kurasa aku tak ada
di sana sedikit
pun. Ini benar-benar menyakitkan.

Dan demi Tuhan, apa ini? Kenapa air mataku meleleh seperti ini?
Mendengarnya mengucapkan nama gadis itu di tengah tidurnya saja sudah membuatku
seperti ini.

Mata Minho bergerak. Aku baru sadar kalau air mataku jatuh
tepat di atasnya. Yang bisa kulakukan hanyalah menghapus air mataku dari pipi.
Tak ingin dia melihatku dalam keadaan seperti ini.

Perlahan dia bangun sambil memegangi kepalanya. Aku masih tetap
diam, membiarkan dia memunggungiku. Namun Minho berbalik dan menggucek matanya
saat melihatku.

“Chaesa-ya?” panggilnya dengan suara yang menandakan kalau dia
masih berada dalam pengaruh alkohol. “Ka-kau kembali?”

Tak dapat kutahan. Ini terlalu menyakitkan. Air mata ini
kembali meleleh, tapi aku berusaha keras agar menangis tanpa suara. Kurasakan
Minho mulai meraih tanganku dan menuntun untuk membelai wajahnya. Aku tetap
diam dan kini tanganku diciumi olehnya.

“Tetaplah di sini! Tetaplah di sisiku!”

Minho menarik lenganku hingga
aku jatuh ke pelukannya. Dia semakin mengeratkan pelukannya di saat aku mencoba
untuk bernapas. Air mataku tak berhenti meleleh.

“Minho,” kucoba memanggilnya,
berharap ia sadar setelah mendengar suaraku.

Dia diam selama sekitar sepuluh detik dan melepaskan pelukannya
untuk menatapku. “Ne?”

“Aku bukan…”

Minho menciumku.

Sekarang apa yang harus kulakukan? Apa harus senang? Tidak! Dia
menciumku karena di pikirannya aku adalah Shim Chaesa, bukan Kim Jira. Air
mataku mengalir deras ketika Minho menciumku semakin
dalam. Aku hanya diam, seperti boneka yang bebas ia mainkan. Namun perlahan Minho melambatkan gerakannya. Sebelum akhirnya ia ambruk,
kembali tertidur.

Aku mendudukkannya, setelah itu menghenyakkan diri ke sofa
memandang layar TV, dan meneguk beberapa gelas wine. Air mata masih belum mau
berhenti. Tatapanku kosong dengan otak bergolak. Kalau saja di sini ada Jinki,
aku pasti sudah memeluknya. Dialah orang yang selalu membuatku tenang dan
menghibur. Aku sangat membutuhkannya sekarang.

Ponselku bergetar. Telepon dari Taemin. Kujawab panggilannya.

“Noo~ naaa~ Odiseyo (di
mana)?”

“Di jalan. Kami segera sampai. Kututup teleponnya, Minnie-ya.
Bye…”

Kuletakkan ponselku di paha, lalu menoleh ke samping untuk
melihat keadaan Minho. Dia masih tidur dengan
kepala terkulai. Kulirik jam tangan, sudah pukul dua dini hari sekarang. Kuhapus
air mataku dan menyambar kunci mobil yang terlempar ke sudut sofa. Kemudian
menarik Minho dalam pelukanku dan memapahnya
keluar ruangan.

Sekarang kau sudah menemukan jawabannya mengapa aku begini? Ya, karena aku terlalu mencintai Choi Minho…

..to be continued..

*”Wow, Steven…” Onew pernah teriak kata-kata ini di Making The Muzit waktu
mereka dalam mobil perjalanan mau fansign juga di ShimShimTapa waktu comeback
Lucifer…

# I’m back. Yeah! Harusnya
momen ini bahagia, soalnya pas ultah Key. Tapi tiba-tiba aja tangan asyik ngetik sendiri dan berakhir kayak gini. Hahaha~ Sesama cewek pasti tahu gimana rasanya diperlakukan kayak Jira di atas. Pedih! Hehe~ Btw, mengenai plastic surgery di atas, namanya juga fiksi. Jangan diambil pusing ya^^ Thanks buat
yang udah baca dan komen. See u next part^^/

 

coment onhee: seperti kata authors… ini just fanfic… buah dari kreatifitas seorang fans.. so sebagai sesama fans idola kita ini (baca: SHINEe) berilah komentar setelah membaca fanfic ini ^^

14 thoughts on “We Walk [Part IV] – Almighty Key’s Birthday Party

  1. wah semakin seru saja…tp jinki dikit bgt ngomong dpart ini..kirain minho bnar2 udah suka,trnyta msh ingat chaesa…penasaran bgt jira akhrny sama siapa…sm jinki aj y author..yayaya *lirik2 mitha*..haha..good job..next part dtggu..

    • haha~ tunggu lanjutannya jng mabil kesimpulan dulu la.. wkwkwk~
      Jinki lagi mabuk n dimabuknya itu mimpiin aku.. makanya g bnyak ngoceh ==’
      ola.. ini authorx bukan aku.. tapi diya…

  2. iya mit ola tau kok author diyawonnie..hihi..makany lirik2 km pas ngomongin jinki…bukanny dy mimpiin ayam yaa?haha…diya,,jinki sm jira aj ya..*reader maksa*plakkk..g mgkn sm taem kan ,,g mau ola..hahaha..good job diya.. **

  3. keren eonnie ~~ diriku makin cinta padamu ~~

    ihh si nyu2 lagian ke mana sih ??bukannya jagain itu jira-nya

    si JONGKEY bner2 parah kelakuannya~~ ga aslinya~~ ga fiksinya~~ttep aja ga beres

    ih..itu yg jdian sm KEY aqu kan eon ??

    taemin tetaplah engkau menjadi anak sok polos nak ~
    jjong ud punya shin sekyung juga ~

    Minho..please deh jangan bikin jira sakit hati trus dong..kan kasian~~

    eonnie thx yah ud di confirm ~di FB

  4. baru komen di part ini *hyaah, maluu!* *bowbowbow*
    kak diyaa *aku yakin kau lbh tua* *kicked* ini beneran DAEBAK lhoo, KEREN! SUGOII NE!
    #minjemjempolsekampung😄

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s