LIKE THE SUN (Part 4)


LIKE THE SUN (Part 4)

Title: Like the Sun

Author: OnmitHee

Main Cast: Kim Rumi, Lee Jinki, Kim Kibum

Legth: Sequel

Genre: Romance

Rating: PG-15

STORY

Sebulan berlalu setelah Rumi meninggalkan rumah sakit. Selama waktu itu, dia tinggal di sebuah mess di belakang toko daging milik keluarga Jinki bersama dengan beberapa pegawai wanita yang bekerja di toko itu.

Orang tua Jinki memang memutuskan untuk mengasuh dan membantu membiayai sekolah Rumi, tapi bukan berarti mengajak Rumi untuk tinggal bersama di rumah mereka. Alasannya sangat jelas, mereka melakukan itu karena mereka sendiri jarang berada di rumah. Orang tua Jinki selalu menghabiskan harinya di toko dan hanya pulang di malam hari. Mereka mana mungkin membiarkan anak mereka berdua saja di rumah dengan seorang gadis yang tak punya hubungan keluarga sedikitpun dengan mereka. Alasan lainnya karena jarak sekolah Rumi dari mess itu lebih dekat ketimbang jarak dari sekolah ke rumah Jinki.

Orang tua Jinki memperlakukan Rumi dengan sangat baik begitu juga pegawai yang lain. Sepulang sekolah, karena sudah tidak mengikuti kegiatan klub lari lagi, Rumi membantu pekerjaan di toko daging itu. Dan sekarang senyum sudah mulai menghiasi hari-hari gadis itu. Dia merasa sangat nyaman hidup dengan keluarga itu, dengan orang-orang baru di sekitarnya. Mereka bagaikan keluarga baru bagi Rumi.

Dan semenjak Rumi tinggal di belakang toko. Jinki pun jadi setiap hari mampir ke toko keluarganya. Hal yang dulunya sangat jarang dia lakukan. Orang tua Jinki yang awalnya sempat heran dengan perubahan kelakuan anaknya pun kini jadi maklum karena mereka sadar… anak mereka kini sudah mulai tumbuh dewasa.

Walau awalnya mereka sempat tak tahu kalau Rumi menyimpan perasaan khusus untuk Jinki, tapi itu tak berlangsung lama. Setelah seminggu Rumi tinggal disana, orang tua Jinki akhirnya tahu tentang perasaan Rumi pada anak mereka. Mereka tak mempermasalahkan soal perasaan itu, karena mereka jelas sangat menyukai Rumi yang menurut mereka adalah gadis yang giat, kuat, tegar dan penuh semangat. Tapi, mereka belum menyetujui jika Rumi dan Jinki menjalin kasih untuk saat ini karena menurut mereka, anak-anak itu masih terlalu belia untuk menjalani pahit manisnya sebuah ikatan cinta.

++++++

“Yaa! Rumi.. aku tak tahu kalau sudah sebulan ini kau tinggal bersama si ‘alis tebal’. Bagaimana bisa?” cecar Kibum sesaat setelah Rumi keluar dari gerbang sekolahnya.

Rumi cukup kaget melihat Kibum mendatangi sekolahnya. Tapi kemudian dia tersenyum pada sepupu kecilnya itu. “Yaa… akhirnya kau menjemput noona-mu ini juga. Mau ku traktir minum coklat panas?”

“Shiroh!” bentak Kibum lalu mengalihkan wajahnya, “Bukan itu tujuanku kemari! A-aku kesulitan menemuimu beberapa waktu ini. Ku dengar.. kau kecelakaan bulan lalu dan….”

Kibum menghentikan ucapannya dan memandang sedih pada kaki Rumi. Lalu bocah lelaki itu memandang Rumi. Matanya berkaca-kaca.

“Aku sudah tak bisa berlari lagi. Tapi, ini mungkin takdirku…” sahut Rumi membelai rambut Kibum.

“Selalu berkata itu. Takdir! Takdir.. aku benci .. aku benci dengan sikap pasrahmu pada takdir!”

Kibum kini menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis dan itu membuat Rumi tak kuasa untuk tak memeluknya. Dia menepuk pundak Kibum. Rumi masih lebih tinggi dari bocah lelaki itu sehingga dia dapat menciumi puncak kepala bocah itu.

”Kibum-ah.. kau kenapa? Seperti tak biasanya. Wae?”

”Aku benci takdir Rumi-ya.. sangat benci!” isak Kibum dalam dekapan Rumi.

”Jangan berkata seperti itu. Kenapa kau jadi seperti ini sih?”

”Sel kanker dalam tubuhku hidup lagi….a-aku tak tahu kabarmu beberapa waktu ini karena aku harus masuk rumah sakit lagi. A-aku benci ini Rumi-ya…a-aku takut…”

Rumi terkejut mendengar itu. Dia melepas pelukannya dan menatap Kibum tak percaya.

”Bukannya kau sudah sembuh? Operasi pencakokannya sukses ’kan..”

Kibum menggeleng. ”Hanya untuk sementara..”

Rumi kembali memeluk Kibum. ”Tapi.. aku yakin kau akan sembuh.. kau harus kuat.”

”Tapi.. agar aku bisa sembuh. Kita harus berpisah..”

”Yaa.. kenapa harus berpisah? Memangnya kau mau kemana?” kata Rumi.

”Mianhae… tapi, untuk kesembuhanku, haraboji dan orang tuaku akan mengajak ku pindah ke Amerika…”

Bagaikan petir menyambar, itulah yang dirasakan Rumi saat Kibum mengatakan itu. Pergi ke Amerika.. itu sangat jauh. Dan Rumi akan berpisah dengan satu-satunya sepupunya.. orang yang paling disayanginya. Rumi akan merasa sangat hancur jika itu terjadi.

Tapi Rumi mencoba mengendalikan perasaanya. Mencoba berpikir jernih. Ini semua demi kesembuhan Kibum. Dia tak boleh egois dengan menahan anak itu.

”Kapan kau akan pergi?” kata Rumi, dibelainya dengan lembut rambut Kibum. Menikmati moment kebersamaan mereka.

”Minggu depan…”sahut Kibum masih terisak.

”Kalau begitu. Luangkan waktumu dua hari lagi. Kita akan menghabiskan waktu bersama saat itu.”

Kibum menjawab dengan anggukan dan semakin merapatkan pelukan mereka. Dia berharap saat itu waktu berhenti berputar. Kibum masih ingin berada di pelukan sepupunya itu, sepupu yang sangat dicintainya lebih dari apapun juga. Tapi sayangnya seperti takdir, waktu tak pernah berkompromi pada mereka.

+++++++

** Kibum POV

Selama perjalanan pulang menuju rumahku, aku tak melepaskan tangan Rumi dari genggamanku. Seperti biasa jika kami jalan bersama, Rumi-lah yang selalu mengantarku pulang. Padahal bagaimanapun juga, aku ini adalah namja, aku sangat ingin bersikap jantan dihadapannya.. yang sayangnya dia tak menganggapku begitu. Dia selalu memperlakukan ku seperti anak kecil. Tapi, walau itu menyebalkan, aku tak keberatan asalkan bisa selalu di dekatnya.

”Aku tahu ini pasti percuma. Tapi, tak bisakah sekali saja kau masuk ke dalam?” tanyaku pada Rumi saat kami sudah sampai di depan gerbang pagar rumahku.

”Huh~ mana mungkin. Ada haraboji di dalam sana.. aku mana berani.” Tolak Rumi.

“Ini kacau.. harusnya keluarga kita rukun. Bagaimanapun, kau juga cucunya..”

”Dia tak pernah menganggapku begitu, Kibum,” Rumi tersenyum saat mengatakan itu. ”Sampai jumpa 2 hari lagi. Kau akan kujemput di depan sekolahmu. Ingat, bawa baju ganti ya.. kita akan main sepuasnya.”

Aku mengangguk dan memeluknya lagi. ”Sampai jumpa.”

”Ne..” katanya melepaskan pelukanku dan mendorongku agar masuk ke dalam rumah terlebih dulu.

+++++++

Aku tersenyum saat masuk ke dalam rumah memikirkan apa yang akan kulakukan dengan Rumi 2 hari lagi. Aku bertekat tak akan bersedih karena perpisahan ini, karena ini semua demi kesembuhanku. Lagipula, jika aku sudah sembuh, aku pasti akan kembali ke kota ini. Aku juga yakin hubungan baik ku dengan Rumi tak akan putus walau terpisah jarak.

Tapi, senyum ku hilang saat melihat wajah masam haraboji saat aku memasuki ruang tengah. Aku bergegas menuju kamarku yang terletak di lantai dua. Tapi sebelum aku menaiki tangga, haraboji memanggil.

”Kibum-ah, kemarilah. Ada yang akan aku bicarakan denganmu!”

Dengan langkah gontai, aku mendatangai haraboji yang sedang duduk di sofa panjang. Aku duduk di hadapannya.

”Tadi, anak sialan itu mengantarmu lagi ’kan?”

Aku menatap tajam pada haraboji saat mendengar dia mengatakan itu. Aku tahu ‘anak sialan’ yang dia maksud. Itu pasti Rumi. Tega sekali dia menyebut cucunya seperti itu.

”Dia bukan ’anak sialan’. Dia itu juga cucu kakek! Kakak ku!” seruku.

“JANGAN BERANI MENASEHATIKU! ANAK PEMBUNUH SEPERTI ITU BUKAN CUCUKU! DIA JUGA BUKAN KAKAK MU. DIA ANAK HARAM! BUKAN BAGIAN DARI KELUARGA INI!!”

Teriakan haraboji yang menggelegar membuat ibuku yang semula berada di kamarnya buru-buru keluar dan memelukku.

“Abonim..” seru eomma mencoba melindungiku dari amarah haraboji.

“Semua barang-barang mu sudah siap, ‘kan?” kata haraboji. Walau sudah tak berkata keras, aku masih melihat kemarahan di wajahnya.

”Ne.., Waeyo?” sahut eomma.

”Besok pagi, kau dan anakmu berangkat duluan ke Amerika!” kata haraboji.

”Mwo?!” seru eomma tak percaya dan melepaskan pelukannya. ”Abonim, bukannya kita baru pergi minggu depan?”

”Kita percepat saja! Aku tak mau melihat Kibum bersama anak pembunuh itu! Dia pasti berusaha untuk ikut dengan kita..”

”Itu tak benar haraboji!” putusku.

”Jangan membelanya! Kau itu tak tahu apa-apa!” seru haraboji lalu berlalu dan masuk ke kamarnya.

”Andwe.. aku tak mau pergi secepat ini eomma..” seruku dan menangis.

”Kibum-ah, ini semua demi kesembuhanmu.” bujuk eommaku.

”Andwe… aku sudah janji akan pergi dengan Rumi. Aku tak mau pergi besok! A-aku..”

”Jangan membantah kakekmu lagi, Kibum-ah. Dia melakukan ini semua demi kebaikanmu..”

Bohong.. bohong! Haraboji tak pernah berpikiran seperti itu. aku yakin. Dia sangat membenci Rumi dan dia tak ingin melihatku bersamanya.

Aku benci… bagaimana bisa haraboji bersikap sekejam ini pada keluarganya sendiri?!

Aku tak mau… aku tak mau menuruti keinginannya. Aku tak mau pergi.. walaupun harus mengorbankan kesehatanku. Aku tak mau.

Aku tak mau melanggar janji ku pada Rumi.

+++++++

**Rumi POV

Yap, sudah kuputuskan. Aku akan mengajak Kibum ke Lotte world!

Ah~ pasti menyenangkan bermain bersamanya. Jadi, setelah aku mengantarkan Kibum sampai rumahnya. Aku bergegas ke Lotte world. Membeli 2 lembar tiket bermain untuk lusa. Kibum pasti akan sangat senang jika aku mengajaknya ke tempat itu.

Setelah itu, aku langsung pulang ke tempat tinggal baruku. Hari sudah cukup sore saat aku sampai ke komplek pertokoan daerah tempat tinggalku sekarang. Ku harap, aku tak dimarahi karena pulang telat.

Tapi saat aku sampai ke toko, Jungri-eonnie (orang yang bekerja di toko Jinki sebagai kasier dan juga tinggal di mess yang sama denganku) menghadangku. Ah~ gawat! Jangan-jangan aku bakal dimarahi.

”Rumi-sshi. Ada yang mencarimu.” ujarnya. Oh, syukurlah. Rupanya dia menghadangku bukan untuk marah.

”Mwo? Nugu?” sahutku.

”Molla. Yang jelas dia ada di ruangan Nyonya Lee. Ada Jinki yang menemaninya..”

”Lalu Nyonya Lee dimana?” tanyaku.

”Sudah pulang. Tak enak badan. Cepatlah kau temui tamumu itu…”

”Oh.. Ne.” sahutku.

++++++++

**Author POV

Rumi memasuki ruangan Nyonya Lee. Ruangan itu lebih tepat bisa disebut sebagai kantor. Disana Rumi melihat Kibum yang duduk sambil menundukkan wajahnya bersama dengan Jinki yang sedang asyik bermain game komputer di meja kerja ibunya.

”Wow. Akhirnya kau pulang juga. Tumben telat?! Sepupumu sudah lama menunggumu. Sepertinya dia kabur dari rumahnya…” kata Jinki sambil tertawa mengejek dan mengerling sebentar pada Kibum yang wajahnya merah padam karena malu di ejek oleh Jinki.

Rumi tak memperdulikan perkataan Jinki. Dia bergegas duduk disamping Kibum dan membelai rambut bocah itu.

”Kibum-ah. Bukannya kau tadi sudah kuantar pulang? Kenapa kau kemari? Kau tak kabur dari rumah ’kan?”

Tapi Kibum tak menjawab ucapan Rumi. Dia malah memeluk Rumi dan menangis.

”A-aku tak mau pulang. Aku benci haraboji…”

”Hey.. jangan seperti ini. Kau harus pulang…”

”Shiroh..” Kibum menggeleng.

”Maaf mengganggu. Tapi, kau sebaiknya pulang ke rumahmu. Tempat ini bukan untukmu!” seru Jinki menghentikan games-nya.

++++++

**Rumi POV

”Maaf mengganggu. Tapi, kau sebaiknya pulang ke rumahmu. Tempat ini bukan untukmu!” seru Jinki menghentikan games-nya. Aku kesal mendengar dia berkata seperti itu. Tapi yang dikatakan Jinki benar. Sudah cukup aku saja yang ditampung di tempat ini. Lagipula, jika haraboji sampai tahu Kibum lari dari rumah dan berada disini, bisa terjadi hal gawat.  Aku tak bisa membayangkan masalah apa yang akan muncul pada keluarga Lee jika haraboji sampai mengamuk.

”Kibum-ah.. kau dengarkan yang dikatakan Jinki barusan? Jadi pulanglah.. kau tahu ’kan disini aku juga ditampung?! Ini bukan rumahku.”

”Shiroh!” Kibum masih menolak dan makin mengeratkan pelukannya. Membuatku merasa sesak saja.

”Yaa! Jangan seperti ini!” kataku secara paksa melepaskan pelukannya.

Kibum menatapku. Dia tampak terkejut dan air mata semakin deras jatuh di wajahnya. Setelah itu tanpa berkata apapun. Dia mengambil tas ransel yang dibawanya dan kemudian lari keluar dari ruangan.

Untuk sesaat aku kehilangan akal ku. Aku terkejut melihat reaksinya itu. Aku lalu memandang Jinki yang tampaknya sama sepertiku. Dia juga terkejut melihat bocah itu lari tanpa berkata apapun.

Lalu aku berjalan ke arah Jinki dan menarik tangannya. ”Ayo, bantu aku susul dia!”

”Mwo? Kenapa mesti aku?!” seru Jinki seperti tak terima.

”Yaa! Kau tahu ’kan aku tak bisa lari lagi?! Jadi kumohon.. bantu aku. Tolong kejar sepupuku itu. Aku takut dia melakukan hal bodoh!”

+++++++

** Kibum POV

Aku kesal! Sangat kesal. Rumi tak mengerti. Harusnya dia bertanya alasanku melakukan ini! Alasan kenapa aku pergi dari rumah. Tapi dia tak melakukan itu.

Padahal… aku melakukan ini demi dia. Karena aku tak mau dipisahkan darinya. Tapi… dia selalu tak mengerti.

Aku berlari meninggalkan toko itu. Walau berlari membuat nafasku menjadi berat dan seharusnya tak kulakukan mengingat kondisi kesehatanku. Tapi aku tak peduli.

Ini karena aku sangat kesal!

Tapi kemudian tak jauh aku berlari. Ada seseorang yang berhasil menahan lariku.

++++++++

**Author POV

”Yaa! Kibum! Berhenti memberontak!” seru Jinki sambil menarik paksa Kibum berjalan ke arah Rumi.

”Kibum-ah..” Rumi mempercepat langkahnya menuju Kibum dan Jinki. Ketika dia sampai, dia memeluk Kibum yang masih bercucuran air mata. ”Jangan seperti ini, kau ini sebenarnya mengapa? Ada apa denganmu?”

Kibum mengusap matanya yang basah. Dengan sesegukan dia menjawab, ”Haraboji menyuruhku pergi besok. A-aku tak mau! Aku sudah janji denganmu… kita akan bermain bersama sebelum aku pergi. Ta-tapi.. haraboji memaksaku. A-aku tak mau pergi! Lebih baik aku mati disini daripada jauh darimu Rumi..”

Rumi melepas pelukannya dan mendorong Kibum dengan kasar. Hampir membuat anak itu jatuh kalau tidak ditahan oleh Jinki.

”Babo! Turuti perkataan haraboji! Kalau dia menyuruhmu pergi besok.. maka kau harus pergi! Tak boleh membantahnya! Harusnya kau mengerti itu!” bentak Rumi.

”Kau terlalu kasar padanya Rumi..” sela Jinki.

”Jangan ikut campur Lee Jinki!” balas Rumi.

”Maaf kalau itu jadi mengganggumu! Tapi, anak ini menjadikan toko ku sebagai tempat minggatnya. Dan kau juga yang tadi menyuruhku mengejarnya… Ini sudah menjadi urusanku!” ujar Jinki lagi.

Rumi menunduk mendengar ucapan Jinki. Dia menggigit bibir bawahnya menahan kesal. Bukan kesal pada Kibum dan Jinki tapi pada harabojinya. Dia tak mengerti kenapa Kibum disuruh pergi lebih cepat.

”Kibum-ah… mianhae. Tapi, kau harus pergi. Jangan melakukan hal bodoh! Ayo, aku akan mengantarmu pulang!” Rumi mulai menjulurkan lagi tangannya pada Kibum tapi anak itu menolak dan malah bersembunyi di balik tubuh Jinki.

”Shiroh..” Kibum kembali menangis.

++++++++

**Rumi POV

Sudah setengah jam berlalu. Kibum masih tak mau diantar pulang. Aku bingung bagaimana cara membujuknya. Jika haraboji memutuskan agar Kibum pergi besok, maka itu harus dituruti. Aku juga tak bisa mencegah. Lagipula, dia pergi juga untuk menyembuhkan penyakitnya. Tapi, Kibum tak mengerti… sikap anak itu berbeda sekali dibanding tadi siang sebelum dia ku antar pulang. Tadi, dia sepertinya tak keberatan untuk pergi.. tapi sekarang dia seperti enggan. Aku tak tahu apa yang terjadi di rumahnya sehingga dia bersikap seperti ini. Tapi.. dia tak boleh membantah haraboji. Harusnya dia tahu itu.

Aku lalu merogoh tas sekolah yang sedari tadi belum ku taruh di toko. Aku melihat 2 lembar tiket masuk ke Lotte World. Itu memang karcis untuk lusa, tapi mungkin saja bisa di tukar untuk hari ini.

Yaa… karena kepergian Kibum dipercepat. Lebih baik, ku ajak saja anak itu ke Lotte World hari ini juga.

++++++++

Ahh~ syukurlah! Ternyata tiket itu bisa digunakan untuk hari ini. Aku dan Kibum lalu masuk ke Lotte world, menikmati wahananya. Dibelakang kami, Jinki mengikuti. Entahlah.. kenapa dia mengikuti kami sampai sini. Dia sepertinya tertarik untuk bermain bersama aku dan Kibum.

Setelah menaiki wahana Komidi putar. Aku, Jinki dan Kibum lalu duduk di sebuah kursi panjang yang tak jauh dari wahana itu. Sambil menikmati pertunjukan badut dan tertawa bersama.

++++++

**Author POV

Tepat pukul 8 malam. Jinki, Rumi dan Kibum keluar dari arena bermain Lotte World. Wajah puas Jinki karena menikmati permainan berbanding terbalik dengan yang dirasakan Kibum. Kibum tak mengerti kenapa Rumi mengajaknya ke tempat itu. Tapi dia diam saja karena yang diinginkannya saat ini hanya bisa bersama dengan sepupunya.

Kemudian, Rumi dan Jinki mengantar Kibum ke rumahnya. Kibum masih diam saja sepanjang perjalanan. Dia masih tak ingin pulang, tapi akhirnya pikiran jernih muncul di kepalanya. Percuma memang menentang kakeknya. Dan dia tak ingin, Rumi mendapat masalah karena sikap Kibum yang egois.

++++++

** Kibum POV

Aku menghentikan langkahku saat kami bertiga sudah hampir sampai di depan rumahku. Aku lalu menarik tangan Rumi menyuruhnya mengikuti ke pojokan lain, menjauh dari Jinki.

”Yaa! Kibum-ah.. ” seru Rumi.

”Rumi-ya… ” kataku. ”tenang saja, aku tak akan lari lagi. A-aku, hanya ingin berbicara sebentar. a-aku.. sudah putuskan untuk mengikuti perintah haraboji..”

”Itu bagus,” kata Rumi, dia tersenyum tapi aku tahu. Itu bukan dari dasar hatinya.

”Jangan pernah melupakanku..”

”Tentu saja… hanya kau keluargaku. Mana mungkin aku melupakanmu… aku malah takut, yang justru lupa adalah kau…”

”Rumi-ya.. itu tak mungkin! Ada satu hal yang sangat kutakutkan…”

”Apa itu?” Rumi kini menggenggam tanganku.

”A-aku takut.. tak bisa kembali. A-aku takut tak bisa bertemu denganmu lagi..”

”Itu tak mungkin ’kan? Aku yakin kau akan kembali.. jika saat itu tiba, kau yang mentraktirku bermain di Lotte World.”

Aku mengangguk dan memeluknya. Benar-benar ingin menikmati waktu ini bersamanya. Sebetulnya, masih ada yang ingin ku katakan padanya. Tentang perasaanku.. yang tak hanya menganggapnya sebagai seorang ’noona’.. mengatakan padanya kalau aku sangat mencintainya lebih dari apapun. Tapi.. entah kenapa, aku tak bisa membuat pengakuan itu. entah kenapa, aku tak ingin dia tahu, kalau aku sudah menodai perasaan persaudaraan kami. Dengan caraku mencintainya…

+++++++

** Jinki POV

Rumi berjalan di depanku dengan menundukkan wajahnya. Aku tahu dia sedang sedih saat ini. Aku lalu mencoba menyajarkan langkahku dengannya. Kulihat dia tersenyum saat aku berada disampingnya dan lalu dia mengalungkan lengannya di lenganku.

”Kalau ingin menangis.. keluarkan saja. Aku tahu kau sedih karena harus berpisah dengan anak itu.” kataku.

Dia menggelengkan kepalanya lalu dia menarik ku untuk mengikutinya duduk di sebuah halte bis.

”Kita bisa pulang jalan kaki ’kan? Untuk apa menunggu bis disini?” tanyaku.

”Aku tahu itu. tapi, aku ingin melakukan hal ini,” katanya kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku.

Kemudian kami terdiam untuk beberapa saat. Aku tak mengerti apa yang dipikirkan Rumi saat ini. Aku hanya bisa duduk diam disampingnya.

”Aku tak tahu kapan bisa bertemu dengan Kibum lagi….” akhirnya Rumi membuka mulutnya lagi.

”Kenapa tak mencegahnya?” tanyaku.

”Percuma… lagipula ini demi kesembuhannya…”

”Kakek kalian itu.. apakah dia begitu mengerikannya?”

”Sangat.. walau menyebutnya ’kakek’ tapi aku merasa dia bukan kakek ku!”

Aku memandang Rumi, bukannya terlihat marah.. wajah Rumi malah terlihat sedih saat mengatakan itu. aku lalu membelai lembut rambutnya dan kemudian dia mulai tersenyum lagi.

”Hanya Kibum keluargaku..” kata Rumi.

”Tapi.. entah kenapa aku merasa kalau dia menganggapmu lebih dari itu.” kataku spontan saja.

”Mwo? Kenapa kau berkata seperti itu?” Rumi terlihat kebingungan dengan ucapanku.

”Ah~ mianhae. Itu hanya dugaanku..” kataku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tak gatal.

Tapi tampaknya Rumi tak puas dengan ucapanku barusan. Dia menatapku mencoba mencari tahu, lalu kemudian dia tertawa. “Kau cemburu. Ya.. itulah sebabnya kau berkata seperti itu!”

“A-Anio..” seruku gelagapan. Tapi kemudian, aku terdiam ketika Rumi lagi-lagi tanpa persetujuanku terlebih dahulu, mengecup bibirku.

“Dia itu hanya dongsaengku. Sedangkan kau… adalah seseorang yang suatu saat nanti menjadi hidupku. Jangan pernah cemburu padanya…” wajahnya bersemu merah saat mengatakan itu. Ah~ dia benar-benar terlihat manis.

Aku terharu mendengar ucapannya itu. Aku lalu membelai pipinya. Dulu, aku memang bertekat untuk menyembunyikan perasaan ku padanya. Tapi, entah kenapa saat ini… aku ingin dia juga mengetahui perasaanku. Menunjukkan padanya kalau aku juga menyukainya dan menginginkannya menjadi hidupku.

”Rumi-ya.. saranghae..” kataku lalu menciumnya. Ciuman kami sangat dalam, dan aku tahu Rumi menangis saat itu. Tapi aku tak melepaskan diri, aku malah semakin dalam mencumbunya. Aku sangat ingin, menikmati waktu ini dan waktu-waktu berikutnya hanya bersama dengan Kim Rumi. Tak ingin menyia-nyiakannya walau hanya sedetik saja.

+++++++

**Rumi POV

”Rumi-ya.. saranghae..” kata Jinki lalu menciumku. Itu pertama kalinya dia mengatakan cintanya padaku. Kata-kata yang sangat ku nantikan sejak aku mengenalnya 2 tahun lalu. Aku tak bisa menutupi kebahagiaanku karena akhirnya aku tahu kalau dia juga merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan padanya.

Aku bahagia.. tapi juga bersedih…

Aku bahagia karena aku sudah mendapatkan hatinya…

Tapi, aku juga bersedih karena ketika aku mendapatkannya bersamaan waktu dengan perpisahanku dengan sepupuku.

Padahal, aku pernah berjanji pada Kibum jika Jinki membalas perasaanku. Kibum-lah yang menjadi orang pertama tahu.

Ah~ bahkan ketika Jinki menciumku saat ini yang ku pikirkan adalah sepupuku itu.

Tangisanku akhirnya semakin deras membuat Jinki menghentikan ciumannya. ”Rumi-ya.. wae? Apa yang kau tangisi?”

Aku menggeleng dan memeluknya. Aku tak ingin dia tahu kalau aku tak sepenuhnya menikmati kebersamaan kami. Tapi, entahlah.. di hadapannya aku tak bisa menutupi perasaanku, aku begitu mencintai Jinki lebih dari pada apapun.. hanya di hadapannya aku bisa mengeluarkan air mataku. Hanya dia yang bisa membuatku meluapkan kegelisahanku.

”Jinki-ya.. mianhae.. harusnya aku merasa bahagia. Tapi, aku tak bisa berhenti memikirkan perpisahanku dengan Kibum. A-aku sangat takut tak bisa bertemu lagi dengannya… walau ini demi kesembuhannya.. tapi aku tak rela. Aku terbiasa melihat dia di kota ini. Bahkan saat aboji meninggal dan eomma di jebloskan ke penjara.. aku tak menangis… tak merasakan kesedihan seperti ini. tapi, ketika mengetahui akan berpisah dengan Kibum… saat melihatnya terakhir kali tadi dan memikirkan apakah kami masih bisa berjumpa membuatku merasa sedih…A-aku…”

Aku tak sanggup berkata lagi. Aku kembali menangis, Jinki dengan sabarnya mengelus punggungku. Dia tak berkata apapun, hanya mendengarkan. Itulah yang membuatku merasa nyaman bersamanya. Dia lalu melepaskan pelukanku, membelai rambut dan menyeka air mataku.

”Tak apa .. aku mengerti perasaanmu. Menangislah sampai kau merasa baikkan. Aku lebih suka melihatmu seperti ini. Lebih membuka hati…”

”Jinki-ya.. gomawo..” kataku.

”Tak usah berterima kasih. Mengerti dirimu, adalah tugasku sebagai kekasih. Benarkan?”

”Ne..” kataku mulai bisa tersenyum karena ucapannya tadi.. dia menyebut dirinya ’kekasih’. Ya..dia kekasihku kini.

”Ah, akhirnya kau tersenyum lagi.” Jinki tersenyum lebar,”Baiklah.. sekarang kita pulang. Syukur saja eomma sudah pulang sore tadi. Tapi, berhati-hatilah pada Jungri-noona.. takutnya, dia mengadukan mu pada eomma karena kau tak membantunya di toko hari ini..”

Aku mengangguk, ”Ne.. ayo kita pulang.”

Kemudian aku dan Jinki berjalan sambil bergandengan. Aku tahu kalau ini hari yang sangat berat untuk ku. Tapi, segala sesuatu yang berat tak mungkin diberikan begitu saja. Pastinya, semua sudah di ukur dan di ujikan, untuk menge-tes apakah aku bisa melaluinya atau tidak. Dan hari yang berat itupun bisa ku lalui.

Pada saat Jinki mulai mengulurkan tangannya padaku, aku sadar…  pada saat itu juga aku tak akan melalui hari yang berat itu hanya dengan seorang diri.

Ada dia yang selalu membantuku.. meringankan jalanku dan juga menyinari langkahku. Yah.. seperti matahari yang selalu muncul setelah gelap berakhir. Dia, selalu hadir menghangatkan perasaanku.

~To Be ConTinued~

Hayya.. buat readers.. aku takut sih, masih pada bingung ma nih ff. Apalagi bagi readers baru yang baru nemu part ini

Oke ku jelaskan dulu ya…

Di part ini umur Rumi masih 17.. yeah.. masih sekitar 9 bulan lewat dr hari ultahnya yang ‘naas’ di part 2. Jinki masih 15 dan Kibum baru 14. masih SMP gitu..

Terus, Jinki dan Kibum kan dulu pas SMP satu sekolah, jadi wajar az mereka kenal..

Terus apalagi ya.. hmm~

Ohya.. kayaknya kok jamannya masih ribet gitu kan? Maksudnya kok Rumi bs sedih banget pas Kibum mau pergi…yah, karena ini ceritanya masih di awal-awal.. masih cerita masa lampau gitu… HP masih jarang.. internet tambahnya lagi.. masih ‘langka’ haha~. Internet kan baru BOOMING n Murah setelah thn 2004-2005 gitu.. Hp juga baru booming setelah tahun 2002… so, anggap az nih ff setting waktunya sebelum tahun 2002. hahah *author maksa*. Makanya Rumi sedih banget pisah ma kibum. Ya gara-gara susah komunikasi gitccu deh.

Tapi.. tenang az.. mulai part depan. Mulai ke masa modern ^^

Dan di masa modern itu, apakahg si Kibum bakal kembali atau tidak.. dan apakah hubungan OnMi Couple lancar-lancar az.. yah, jawabannya.. tunggu part selanjutnya yihi~

68 thoughts on “LIKE THE SUN (Part 4)

  1. yaaaaaa akhirnya si dubu ngaku juga,

    jangan2 eonnie mau bikin part selanjutnya dengan konsep beberapa tahun kemudian ya??

    Jadi tambah gak sabar nunggu next partnya,,,,

    • yoilah… pasti ke beberapa tahun berikutnya.
      aq gak doyan bikin crita anak-anak kyk gini sebenarnya… baca aza cara mereka bertutur.. sok dewasa bener..
      padahal ko nnton drama korea, klo kisah masa kecil crita2nya yah.. kyk2 gini

  2. Rumi sama onew beda 2 tahun? ga kebayang onew umur segitu mukanya kayak apa, yg kebayang malah taemin, haha..
    Part depan mereka udah pada gede ya?

  3. Huwaaa.
    Eonni, aku benar2 mendambakan jinki disini.
    Gasalah dia jadi 1st biasku di SHINee LOL xD
    Kibumnya sembuh dong, gaasik kalo gada key n.n

  4. Akhirnya onew bilang saranghae…
    trus nyium rumi dalam dan lamaaaaa… #plak
    Harusnya itu jd perfect day nya rumi
    Tpi rumi mala nangis,u..u..

    iya onn, onew povnya mana???

  5. Akhirnya jadian ζ‍‍uƍå mereka..
    Kibum bakal merusak hub mereka kagak tuh? Takut πγα tar dia berubah pas dah plg..
    Lanjutannya cepaaat.. Wkwkkkk..
    Penasaran selanjudnya gmana..
    Oya.. Ngo2 yg married idol (jinki) ngak dilanjutin lagi yah??

  6. Yaiyy~! Akhirnya Jinki-Rumi jadian juga. Hehe..🙂
    ck. Kakeknya ngeselin banget, asli. Pantes aja Kibum minggat..
    Kibum sembuh aja ya, Eonn? Terus ngebuat hubungan Jinki-Rumi lebih ‘berwarna'(?). Hehe

    kutunggu part 5-nya. Hwaiting, Eonn! \^^/

  7. onnie miaaaaaanhe
    ky gak update2 blog
    inet kompi q d protec #nangis
    jadi g bisa update dulu

    selamat onru akhirnya jadian
    tapi knp bukannya ortu jinki udah tau klo rumy suka jinki?trus knp harustakut ma onnie sapa td lupa hahaha
    key sembuh soalnya yang rawatnya kie #bletak

    • gpp qhy..
      aq juga g bisa update Mycaseykim gara2 inet ku lola.. ngashare pic lama bener ==’

      mereka takut sama Jungri onnie gara2 si Rumi gak bantu jualan hari ini… kan maen seharian tuh

  8. wahh dubu…you like the sun..haha….ahh akhrny dubu katakan saranghae…tp tetep rumi yg kiss dluan..hmm g kbyang dhalte kiss2an…haha..great job mith…tp tp tp takutny rumi cinta jg sm key..huah kt tggu sajalah beberapa tahun kmudian..haha…daebak…*mitha g jd folback2 ola*hiks..hehe

  9. Akhirnya jinki bilang jg ttg perasaannya.
    Ckckckck…. Rumi agresif bener.
    Part depan uda ke jaman skrg, ga sabar nunggu kelnjutan OnMi

  10. ooh , setting waktunya lama , aku gak kepikir mereka masih di jaman itu . tapi bukanya di part sebelum nya jinki udah sma ya eon ?
    akhirnya jadian . saya senang moga walaupun ada cobaan OnMi selalu kokoh .

  11. nah….
    Gtu dong jinki… Tinggal blg saranghae aj ko repot… Kekeke
    Aduh mit… Klo g bc ket lu w lupa dah si jinki msi esempe… Uda kisseu2 aja…!! *jitak jinki* tapi si rumi tukang nyosor jg sii… *plak*
    Aseeekk… Brarti bsk bbrp thn kmudian y?? Awas aj kl key tar jd tkg rusuh… Haha

    • udh SMA mah si Jinki ==’
      org korea mah dari smp udh biasa kale kissu-kissuan ndro..
      liat az pic hongki ma mantannya .. ==’
      mereka kissuan di boks foto stiker sambil foto2 pula

  12. roman-romannya, seperti biasa…
    Key bakalan jadi orang ketiga OnMi…
    hehehehe…
    gak ada kapoknya si Key udh di campakkan Rumi dari jaman ff Married Idol, ya?

    Jinki disini ya ollo reaksinya lambat beneeeeer dah ah, pamali ngacuhin perasaan wanita seperti itu, *saaaah*
    yoweees onn saya tunggu lanjutannya…

  13. makin suka ama onew, palagi di part ini…ahirnya onew bilang saranghae kekekekeke…

    kibum ga boleh tinggal dengan rumi karna onew ga suka, bakalan cemburu mati si onew liat rumi en kibum bersama hehehe

  14. yah,, seperti biasa.. semakin hari semakin ditunggu.
    aku adalah penggemar semua ff-mu ounni..
    hee,, walaupun jarang komen..
    maklum yah, hp aku kadang2 sk error.
    jd curhat.

  15. Kibum ke amrik?! Kasian rumi smp sedih gitu😦
    Jangan bilang kalo rumi juga udh mulai suka sama kibum *lirik” mimit onn* xD
    ciyeee OnMi kopel skrg udah jadian!! aahh, mau deh di kissu sama jinki >.< #plakkk

  16. Penulisannya rapi onni, enak bacanya, ehehe. Eh tadi aku liat ada kesalahan, kalo angka satuan kayak “2” ditulisnya “dua” ya onni🙂. Typo kayaknya gak ada deh, waaahhh daebak!! Onni sempet buat blog ini jadi private blog ya? Soalnya, aku pernah buka, tapi gak bisa T.T. Itu avanya onni si gaemgyu? Aku kira dubu loh, ehehe.

  17. Hahahaha aku dateng lagi
    Baca2
    Aigooo onnie-ya, utang ff onnie makin banyak aja
    Tapi aku setia nungguin semua
    Yang like the sun nya diya-onn juga ke mana nih?
    Ay ay ayaya
    Aku sukaaaaa banget ama karakter onyu di sini hahahaha *peluk-peluk onyu*
    Aku juga suka keynya
    Aigooo cengeng amat
    Masih bau -ayam- bawang mereka😄
    Onnie emang sadis
    Si kim rumi kenapa dibikin tersiksa terus? Ganti dong jadi park chaeri hahaha

  18. aih makk, bahasamu kak, mereka masih SMA loh haha
    kayanya critanya bkl tragis terus yak? #soktau
    ini kok macet di part 4? -..-;a
    ayo kak lanjuuut hahaha😀

  19. Chinguuuu …..
    FF yg dibuat chingu tuh selalu menyentuhhh bgt,,ak smpe nagisss …
    Punten ak silent reader hehe tp ak sadar ga boleh jd silent reader cz ak jg hrus menghargaii karyaaa org …
    Daebakkkk FF ny chinguuu ..dr MI trus LTS …

    Tp ak ga suka sifat rumi disini trllu agresiff … Hehe

  20. Aq bru mulai bca ni ff un , jadi komen dari part 1 nya d sni aja ya , hbsnya susah klo harus komen 1_1 ., keke ..
    Kasian bgt liat rumi , dy sayang bgt dgn kibum , tpi malah bkal brpisah ., beneran deh un , aq suka bgt dgn ni ff ., keren , cobaannya mkin byk ni .,
    Ntar kibum bkal sembuh dan pulang gx un ? *harus iya(maksa)* keke ..
    Lanjut ya un , yg married idol jinki pov nya jga d lanjutkan ..

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s