We Walk [Part VI] – From Jakarta With Love


Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part VI] – From Jakarta With Love

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee, Manajer and His Assistant.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

STORY

KEPALA tak berhenti bergoyang, walau perlahan, ketika musik mengalun memasuki telinga melalui headshet. Di tanganku berlembar-lembar kertas putih dipenuhi gambar-gambar contoh kostum tergenggam erat. Sejak manajer-oppa memberikannya padaku, benda ini tak pernah lepas dari tangan. Aku mencoba memahami catatan-catatan kecil yang ditinggalkan para coordi untukku.

“Kau gugup?” tanya Jjong lemah.

Aku menggeleng. “Kau baik-baik saja?”

Dia tersenyum tipis dan mengangguk. Jjong kurang sehat, dia terlalu lelah karena sudah dua minggu ini jadwal menggila setelah SHINee comeback dengan ‘Hello’. Mereka nyaris hanya tidur dua jam per hari. Apalagi setelah mendapatkan jadwal tambahan menjadi DJ radio menggantikan Super Junior yang tengah berlibur di Eropa dan Amerika. Dari keseluruhan member, hanya dia yang jatuh sakit. Wajahnya pucat tak bersemangat. Ia mengenakan jaket hitam dengan retsleting yang dibiarkan terbuka. Ini menggelikan, dia sangat benci panas, tapi pada akhirnya mengenakan jaket tebal untuk pergi ke Indonesia. Yep, kami di Incheon airport sekarang.

Dua hari yang lalu aku sudah mempersiapkan baju apa yang akan kukenakan selama di Jakarta. Namun, semalam aku merombak keseluruhan rencanaku untuk mengenakan hotpants atau baju lengan pendek lainnya hanya karena… Yeah, seperti yang kau tahu, entah sejak kapan, aku memiliki coordi-oppa. Lee Jinki…

Tadi malam ia tak berhenti menceramahiku ini dan itu via telepon. Salah satunya soal berpakaian. Ia tak ingin melihatku mengenakan pakaian minim. Astaga, kesannya seperti aku ini hobi mengenakan pakaian tak sopan. Padahal hanya hotpants dan itu wajar kan? Jinki menganggapnya seperti sesuatu yang tabu.

“No hotpants, no tank top! Arasseo?! Atau kau akan tahu akibatnya jika tetap bersikeras. Norma budaya kita dengan mereka berbeda!” Itu ultimatumnya semalam. Menyebalkan!

Dan jadilah sekarang aku dengan celana dan jaket jins panjang. Rambut kuikat tinggi-tinggi, kacamata hitam milik Kibum bertengger di hidung, tas sudah berada di punggung. Jakarta, I’m coming!

“Wow, Jira-ya, kau kembali ber-reinkarnasi?” ejek manajer-oppa.

“Bisa bicara lebih jelas?” balasku sinis.

“Yeah, kau berdandan kembali seperti anak lelaki. Apa sepatu hak menyakitimu?”

“Well, oppa, kudengar Key bersedia menjadi coordi,” ancamku.

Dia tersenyum dan melakukan gerakan seperti mengunci mulutnya. Bagus, pagi-pagi sudah ada yang merusak moodku.

“Noo~ naaa~” Taemin berlari kecil ke arahku dan manajer-oppa menjadi pagar betis di antara kami.

“Taeminnie, tahan keinginanmu untuk memeluk Jira. Penggemarmu berkeliaran di sini.”

Taem cemberut. Ia mengerucutkan bibirnya dengan pipi menggembung. Lucu sekali. Tapi sayang aku tak bisa memeluknya, terlalu beresiko. Benar apa yang manajer-oppa bilang, penggemar mereka berkeliaran di mana-mana.

“Aku hanya ingin bilang kalau pakaian noona dan Minho-hyung satu tipe. Apa kalian janjian?” tanya Taem.

Aku mengernyit bingung dan melirik Minho. Bingo! Kami seperti anak kembar yang dipakaikan baju sama sekarang. Kulepas kacamata dan mengembalikannya pada Kibum. Itu karena Minho memakai kacamata juga.

“Noona, why?” tanya Kibum menerima kacamatanya. “Menurutku kalian sangat serasi.”

Minho menoleh dan tersenyum, kemudian ia merangkul bahuku. “Wah, ini kebetulan yang hebat!”

“Benarkah hanya kebetulan?” selidik Kibum.

“Apa maksudmu?!” tanyaku berang.

Kibum terkekeh, terlihat sangat puas. “Jangan dilepas, Minho! Dia sangat menikmatinya.” Kibum menunjuk tangan Minho yang masih tergantung di bahuku. Dia tertawa melengking.

“Sayang sekali aku harus melepasnya sebelum Shawol menangis,” ujar Minho dan melepaskan rangkulannya.

Wow! Percaya diri sekali dia.

Kami berjalan ke gate keberangkatan. Beberapa back dancer yang termasuk dalam rombongan sudah berjalan duluan. Jinki mendekatiku dan membisikkan sesuatu.

“Tahu seperti ini, kau lebih baik mengenakan hotpants!”

“What?!” Dia berjalan semakin cepat meninggalkanku. “Yaaa, oppa. Apa maksudmu?”

Dan dia pura-pura tak mendengar. Hebat!

“Temani aku!” pinta Jjong. Aku menoleh  dan baru sadar kalau ia berjalan tertinggal di belakang. Ia mendesah. Bisa kurasakan napasnya panas.

“Jjong, are you okay?”

“Yeah.”

+++++++

SEKITAR pukul empat sore, pesawat kami mendarat dengan selamat di Soekarno-Hatta airport. Aku tak menyangka penggemar mereka sebanyak ini di Indonesia. Halyu wave benar-benar daebak!

Kibum berjalan paling depan bersama asisten manajer dan Jjong yang menutupi wajahnya dengan passport untuk menghindari bidikkan kamera karena wajahnya semakin pucat. Jinki di tengah bersama seorang back dancer, di belakangnya ada Taemin, Minho, juga manajer-oppa. Sedangkan aku berjalan di belakang mereka.

Jeritan histeris memekak telinga terdengar di sana-sini. Para petugas keamanan berusaha keras menjaga kami. Asisten manajer menarikku saat kami berjalan keluar, menyuruhku untuk naik ke bus lebih dulu. Yah, bus lebih baik daripada van. Setidaknya kami memiliki ruang gerak lebih luas.

“Uwaaa~ Sambutannya bagus sekali. Bagaimana besok…,” Taemin menghenyakkan diri di salah satu kursi.

“Hyung, sekarang kita kemana?” tanya Kibum.

“Ke Hotel Mulya untuk ganti baju, itu tempat kita menginap. Kemudian Ritz Carlton untuk press conference setelah itu makan malam,” jawab manajer-oppa sambil membaca rundown acara.

Anak-anak mengangguk. Bus mulai berjalan dan mereka kembali beristirahat, waktu tidur yang lumayan di pesawat tadi rupanya belum membuat mereka puas.

“Oppa, boleh kubuka tirainya? Aku ingin melihat pemandangan di sini,” pintaku.

Manajer-oppa mengangguk. Aku menyingkirkan tirai, menyisakan sedikit celah yang cukup bisa membuatku melihat keadaan di luar. Minho duduk di sampingku, ia ikut menyaksikan apa yang kulihat.

“Astaga, macet!” celetuk salah satu perwakilan kedutaan besar yang ikut bersama rombongan kami.

Aku dan Minho saling menoleh, dia mengangkat bahunya. Macet? Ini tak lucu! Kami harus segera sampai di hotel untuk membersihkan diri kami yang mulai tak berbentuk. Badanku sudah lengket, udara di sini lembab dengan angin bawaan laut yang membuatku tak nyaman. Baiklah, aku terlalu banyak menuntut, padahal aku bukan pemeran utama di sini. Tetapi akan sangat tidak lucu jika tercium kabar, ‘Salah satu kru SHINee bau’. Oh, no!!! Lebih baik aku mati.

Ini jam pulang kantor, Jakarta lumpuh pada jam seperti ini. Itu yang kudengar dari perwakilan Kedubes tadi. Tetapi syukurlah kami bisa sampai di hotel walau telat sekitar sepuluh menit.

“Jonghyun-ah, Kibum-ah, ini kunci kamar kalian. Taemin bersama Minho. Onew bersamaku. Jira, kau sendiri, tentu saja.”

“Ne,” sahut kami. Manajer-oppa benar-benar berkharisma jika sedang bekerja seperti ini.

Tiga orang bellboy mengantar kami menuju kamar. JongKey yang lebih dulu sampai di kamar mereka. Aku ikut masuk ke dalam. Wow, not bad. Mereka mendapatkan kamar yang mewah. Semoga aku pun begitu. Kulihat Kibum mengeluarkan selembar uang berwarna merah. Bellboy itu pun sumringah, dia pergi meninggalkan kami.

“Kau memberinya berapa?” tanyaku.

“Entahlah,” dia mengeluarkan uang yang sama dari sebuah amplop. “Seratus ribu.”

“Itu berapa won?” tanyaku lagi.

Kibum mendelik. “Hitung saja sendiri, Noona, jangan merepotkanku dengan hal-hal kecil seperti itu. Aku mau mandi!”

“Cih, anak itu benar-benar…”

“Yaa, Kim Jira, kamarmu di luar sana. Aku mau mandi juga, atau kau ingin melihatku mandi?” goda Jjong.

“Tidak, terima kasih.”

Aku keluar dari kamar terkutuk dan mencari kamarku. Yah, syukurlah aku juga mendapatkan kamar yang sama. Hanya saja di sini single bed, tidak seperti di kamar JongKey.

Setengah jam kemudian kami sudah berada di loby untuk pergi menuju Ritz Carlton menghadiri press conference. Anak-anak sudah rapi dengan pakaiannya, di mana sebelum itu satu per satu dari mereka merecokiku yang sedang mandi dengan serangan telepon bertubi-tubi.

“Jira-ya, kau letakkan di mana pakaianku?” pertanyaan Jinki dan Jjong serupa.

“Noona, di mana pakaianku?! Ah, palli (cepat)!!!” tipe seperti ini pastilah Almighty Key.

“Noo~ naaa~, aku tak dapat menemukan pakaianku~” nada semacam ini sudah tentu Taeminnie si bayi raksasa.

“Noona, maaf, pakaianku di simpan di koper yang mana?” pertanyaan sopan seperti ini tentu saja Choi Minho. Ah, ini membuatku hampir gila. Aku penasaran apa yang membuat para coordi betah bekerja sama dengan mereka. Ini benar-benar mengerikan, apalagi jika berurusan dengan makhluk seperti Kibum.

Bus berhenti, kami semua turun dan masuk ke dalam Ritz. Press conference berlangsung selama beberapa menit setelah itu dilanjut acara seperti penyambutan dengan beberapa performance kebudayaan Indonesia. Kulihat Jjong sangat menikmati  acaranya ketika tiga penari wanita muncul. Ah, anak ini…

Waktunya makan malam. Aku mengambil makanan lebih dulu dan duduk di meja bulat bersama manajer-oppa juga asistennya. Kulihat Minho sempat mengambil sumpit namun menaruhnya kembali dan menyambar sendok saat Kibum membisikkan sesuatu padanya.

“Uwaaa~ Semoga lidah dan perutku bisa menerimanya,” ujar Jinki yang baru datang dengan makanan di tangan. Di piringnya terdapat beberapa daging yang ditusuk.

“Apa itu?” tunjukku.

Dia mengangkat bahunya. “Di sana tertulis ‘chicken’, jadi kuambil saja.”

“Wah, oppa daebak!” ejekku.

“Yeah,” dia menatap meja panjang di sisi ruangan sambil menyipitkan mata. “Seit? Apa makanan ini dibaca ‘seit’? Tertulis begitu di sana.”

Aku mengikuti arah pandang Jinki dan menemukan papan bertuliskan ‘SATE’. Aku mengangkat bahu, “I dunno.”

“Sudah kubilang kalau aku lupa!” omel Minho yang baru saja datang bersama Kibum.

“Untuk apa kau datang kemari jauh-jauh jika pada akhirnya menggunakan sumpit,” ejek Kibum.

“Kibum-ah, hentikan ocehanmu atau aku yang akan menghentikannya!”

Jinki menghabiskan makanannya lebih dulu, tetapi matanya masih berburu ke meja panjang yang menopang beragam makanan Korea-Indonesia di sisi ruangan.

“Aku belum kenyang. Aku ketagihan ‘seit’!” rengeknya. Manajer-oppa menatapnya tajam. “Oh, oke, Hyung. Diet!”

Kami terkekeh. Jinki benar-benar terlihat sangat bodoh!

+++++++

SESAMPAINYA di Hotel Mulya, aku langsung masuk kamar. Energi harus tersimpan baik untuk besok. Kita takkan tahu apa yang akan terjadi esok ‘kan? Semoga semuanya berlangsung lancar. Ini pengalaman pertamaku menjadi seorang coordinator fashion dan rasanya menegangkan.

Ponsel bergetar. Sebuah pesan masuk, dari Kibum.

From: EvilKey

Noona, bisa kau bawa diktat kostum untuk besok?

Aku harus memeriksanya, karena kau selalu ceroboh.

Ke kamarku. NOW!!!

Cih, Almighty Key beraksi. BIG NO, Sir. Aku lelah, ingin tidur. Lagipula masih ada hari esok! Kulempar ponsel ke kasur. Membongkar koper dan menyambar piyama lalu masuk ke kamar mandi untuk menggantinya. Setelah selesai, kulihat ponselku di atas kasur kembali menyala.

From: EvilKey

NOONA, DI SINI JUGA ADA TAEMIN!!! YOUR CHILD, HUH?!

Damn!!! Lagi-lagi Kibum menggunakan kelemahanku. Koper yang tak jauh dari sisi kasur, kuseret menggunakan kaki. Mengambil cardigan baby-blue dan menyambar diktat komposisi kostum di meja kecil samping kasur. White flag! Sekarang aku berjalan menuju kamar Kibum.

Pintu kamar sedikit terbuka, aku langsung masuk. “Yaaa, Kibum-ah…”

“Noona?”

“Mi-Minho? Ke-kenapa… Ki-Kibum… Ah, maaf aku salah masuk kamar,” aku bergegas ke pintu.

Minho menarik tanganku. “Aniyo.”

Dia menatapku lekat-lekat, membuatku hampir meleleh. Aku berdeham membersihkan kerongkongan. Ia melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan beranda luar, kemudian menggesernya hingga terbuka.

Angin hangat berhembus. Minho berbalik menatapku dan tersenyum. “Noona, kemarilah!”

Aku menurut. Dia menggenggam tanganku saat menuntun keluar dan memposisikan tubuhku tepat di hadapannya. Aku memejamkan mata menikmati angin yang menerpa wajahku. Jakarta daebak, membuat semua orang addict dengan AC.

“Kita takkan bisa seperti ini di Seoul. Musim gugur yang dingin telah tiba dan tak lama lagi akan berganti musim dingin. Setidaknya kita membutuhkan mantel agar tubuh tetap hangat. Tapi di sini, hanya dengan mengenakan t-shirt tipis di bulan Oktober, kita bisa menikmati angin malam yang hangat.”

Aku tersenyum, mata masih terpejam. Benar apa yang Minho bilang. Kita takkan bisa seperti ini di malam hari di Seoul pada bulan Oktober. “Kenapa kau ada di kamar Kibum?”

Dia tak langsung menjawab. Bisa kurasakan ia maju selangkah, membuat tubuhnya semakin merapat di belakangku. “Karena aku yang meminta Kibum untuk membawamu kemari.”

Mataku spontan terbuka. “Kenapa bukan kau yang memintaku?”

“Aku takut noona menolak.”

“Lalu apa tujuanmu membawaku kemari? Apa hanya untuk ini? Merasakan perbedaan angin Jakarta-Seoul?”

“Tentu saja bukan,” dia terkekeh kemudian berdeham kecil. “Banyak sekali yang ingin kubicarakan denganmu.”

Aku berpikir sejenak dan teringat sesuatu. “Ah ya, game center. Kau belum menjelaskan arti ‘maaf’ itu.”

“Itu salah satunya.” Minho berdeham lagi dan bisa kudengar ia menelan ludah. Baiklah Minho, jika kau memintaku kemari hanya untuk mencurahkan hatimu mengenai Shim Chaesa, aku bersumpah akan berlari keluar kamar dan takkan bicara padamu lagi sampai waktu yang tak ditentukan.

“Oh, come on!” desakku.

“A-aku sudah melakukan hal yang tak sopan padamu di malam ulang tahun Kibum. Dan kau menangis karenaku, bukan?”

Jantungku berdebar keras. Tentu saja hal itu, tapi dari mana ia mengetahuinya? Bukankah ia sedang mabuk?

Ia kembali melanjutkan, “Saat kau memanggil namaku, kesadaranku pulih. Dan entah dorongan dari mana tiba-tiba ingin menciummu. Hal itu pun terjadi dan aku membuatmu menangis. Aku marah pada diriku sendiri. Aku benci membuat seorang wanita menangis. Aku bahkan menyebutkan nama gadis itu di hadapanmu, suatu hal yang tak pantas kulakukan. Tapi demi Tuhan, Noona, ketika menyebutkannya aku dalam keadaaan tak sadar dan nama itu meluncur begitu saja dari mulutku,” tuturnya.

Aku mencerna kata-katanya dengan baik. “Apa tujuanmu memberitahukan hal ini padaku?”

Minho mendengus, tak lama kemudian ia memelukku dari belakang. “Apa lagi? Tentu saja karena aku tahu perasaanmu, Noona.”

“Ma-maksudmu?”

“Aku mengetahui semuanya, perasaanmu, sejak setahun yang lalu. Kepulanganmu ke Korea adalah hal yang paling kutunggu di dunia ini. Maka dari itu, aku refleks memeluk saat melihatmu berdiri di pintu dorm waktu itu…”

“Tahu? Kau tahu semuanya?” tanyaku syok.

“Ya. Kibum yang memberitahuku pasca aku berpisah dengan kau-tahu-siapa.”

Aku terkekeh. “Aish, anak itu. Well, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

“Humm… aku ingin kita menyusul Kibum dan Mikka. Cukup adil ‘kan?”

Degup jantungku semakin mengeras. Bulu romaku berdiri saat Minho mengatakannya sambil berbisik di telingaku.

“Ta-tapi kontrakmu…”

“Ada apa dengan kontrak? Semenjak perusahaan bermasalah dengan JYJ juga Hankyung-hyung, mereka mengubah sebagian pasal-pasal dan salah satunya mengenai kepemilikan kekasih. Tapi tentu saja aku tak ingin mengambil resiko yang dapat membahayakan keselamatanmu. Kita tetap harus merahasiakannya dari manajer-hyung juga publik. Setuju?”

Aku tersenyum lebar. “Yeah.”

Minho memutar tubuhku hingga kami saling berhadapan. Tinggiku hanya sebatas dagunya, jadi dia merunduk untuk menatapku. Perlahan-lahan ia mengangkat daguku dengan telunjuknya. Jantung ini berdegup sangat kencang, membuat mulutku tercekat.

“Saranghaeyo,” bisiknya dan ia menciumku.

+++++++

KIBUM menepuk-nepuk punggungnya dan tak berhenti mengomel ketika manajer-oppa tak berada di sekitar kami. Dia tak berhenti menyindirku. Dan Jjong disela-sela kesibukannya ‘berkencan’ melalui ponsel, tak berhenti tertawa mengejek.

“Badanku sakit sekali. Tidur berdua bersama Taemin sangat tersiksa. Dia selalu bergerak lima menit sekali, membuatku terpaksa tidur di sisi kasur. Yeoboku kembali demam, jadi tak bisa tidur bersama,” keluh Kibum. “Dan demi Tuhan bahkan dia tak mengucapkan ‘maaf’ ataupun ‘terima kasih’ dengan semua pengorbanan dan apapun yang telah kulakukan untuknya.”

“Mianhae, kamsahamnida,” ucapku dingin. Saat ini aku sibuk membantu Taem merapikan rambut keritingnya. Kurang lebih lima belas menit lagi mereka tampil.

Kibum mendengus, matanya mendelik sebal. Dia mengunci mulutnya saat manajer-oppa datang. Jinki menghampiriku dan memintaku merapikan rambutnya juga. Kulihat manajer-oppa memperhatikan kami yang tertawa karena cerita humor maut Jinki.

“Sudah rapi. Jinki-ya, kau bisa pergi ke sisi stage bersama asistenku sekarang!” titah manajer-oppa.

“Ne? Kurasa belum rapi, Hyung. Sebentar lagi.”

“Hyung, kau bilang gadis itu seumur denganku?” tanya Taem tiba-tiba.

Manajer-oppa mengangguk. “Jangan macam-macam!”

“Wae? Aku hanya bertanya kenapa dicurigai?!” Taem memajukan bibirnya.

“Maksudmu artis Indonesia yang berfoto dengan kalian tadi? Gita Guta-gutawa? Astaga, nama yang sulit!” Sekarang aku membenahi bagian belakang pakaian Jinki.

Taem mengangguk. Aku meliriknya menggoda. “Waeyo?” tanyanya.

“Wah, anakku sudah besar,” ujar Kibum menggelengkan kepalanya dengan kedua tangan di pinggang. “Jadi kau sudah pintar berbahasa Inggris atau Indonesia, huh?”

Aku menyikut rusuk Kibum. “Berhenti menggodanya!”

“Aku sudah delapan belas. Wajar, kan?”

Yeah, itu benar. Tapi aku tak pernah memikirkannya sampai ke sana. Aku selalu menganggap kalau Taemin masih bayi, di mana umurnya belum pantas mengenal cinta. Aku belum siap melihatnya tersakiti hanya karena seorang gadis. Aku tak ingin hal buruk melukai hatinya. Taemin terlalu suci untuk dinodai.

Minho melipat tangannya dan berbicara serius. “Ya, tapi bukan dengan gadis yang tadi, Taemin-ah.”

“Tentu saja, Hyung. Aku tidak siap menjalin hubungan jarak jauh dan berbeda kewarganegaraan…”

“Wowowow, Taemin-ah, daebak! Apa kalian bertukar nomor telepon juga? Kau berbicara seperti itu seakan-akan sudah mengenalnya lama. Bahkan mengobrol saja tadi tidak!” sela Jjong.

“Memang tidak. Aku mengatakan hal ini karena sedang terlintas di pikiranku. Hanya itu!”

“Karirmu masih panjang. Umurmu terlalu muda untuk mengenal cinta. Lagipula masih ada jutaan fans yang harus kau cintai,” ujar Jinki bijak. Bagus, dia berada di pihakku.

Taem mengangguk pasrah. Aku menepuk bahunya memberi semangat. Manajer-oppa memanggil mereka untuk segera keluar. Bisa kudengar fans meneriakkan nama ‘SHINee’.

“Hwaiting!” teriakku mengepalkan tangan.

Minho menghampiriku dan tersenyum sambil mengedipkan kedua matanya. Kubalas senyumnya dan menepuk punggungnya pelan. Kami keluar bersama. Aku berdiri di sisi panggung. Bangga melihat mereka, teman seperjuanganku saat trainee kini sudah memiliki nama yang bersinar di mata dunia.

Namun, aku juga cemas melihat kesehatan Jjong yang menurun. Wajahnya pucat, padahal ia yang paling tebal mendapatkan make up.

Setengah jam kemudian acara selesai. Aku diminta asisten manajer untuk masuk ke dalam bus lebih dulu. Kibum masuk disusul dengan Jjong yang entah kenapa berjalan timpang.

“Jjong-ah, kau kenapa?” pekikku.

“Terpeleset saat turun tangga dan sialnya terjerembab ke parit. Terlalu banyak orang di sana dan aku berjalan terburu-buru untuk segera sampai bus. Tak apa-apa, tak usah cemas!”

Tak lama kemudian Jinki dan Taem masuk. Mereka memegang kepalanya masing-masing. “Kalian kenapa lagi?” tanyaku.

“Ada yang menjambak rambutku,” jawab Taem. “Tapi ada juga yang memelukku.”

Bisa kulihat ia tersenyum. Dasar si bayi. Sebegitu besarnyakah keinginannya memiliki pacar?

Minho masuk dengan permen loli di mulutnya, dialah yang terlihat paling santai. Mengapa ia tak berusaha menjaga yang lain dengan tubuh besarnya?

Ia tersenyum saat melihatku. Mereka semua duduk, termasuk aku. Bus berjalan menuju hotel. Sesampainya di sana, fans sudah ada yang menunggu di loby. Luar biasa kecepatan mereka!

Kutarik koperku dan memberikannya pada bellboy. Lalu turun ke bawah. Ini membuatku tak nyaman terburu-buru seperti ini. Kami harus mengejar pesawat penerbangan pukul setengah dua belas karena besok mereka masih memiliki jadwal lain di Korea.

Saat sampai di bawah, kulihat Jjong meringis bersandar ke tembok. “Ada apa dengannya?” tanyaku panik.

“Tadi dia terjatuh saat akan masuk lift dan melukai kaki yang sudah jatuh sebelumnya,” sahut Jinki.

Aku sungguh membenci keadaan terburu-buru seperti ini.

Banyak orang yang membantunya masuk ke dalam bus. Saat sampai di airport pun ia terpaksa digendong manajer-oppa karena tak kuat berjalan. Kibum yang berjalan di sampingku juga tak berhenti mengeluhkan dadanya yang sesak. Aku tak bisa berbuat banyak, aku bukan perawat atau ahli kesehatan. Jinki menggenggam tanganku ketika dilihatnya aku mulai gelisah. Dia menenangkanku. Dan aku berani bertaruh kalau ia belum mengetahui hubunganku dengan Minho karena ia sama sekali tak menyinggungnya sejak pagi. Biarlah, mungkin ini lebih baik. Leader orang yang paling dekat dengan perusahaan dan itu membahayakan posisi kami. Bukannya meragukan kesetiaan Jinki, tapi mengingat tugasnya sebagai seorang leader SHINee, kurasa ia akan melakukan apapun untuk melindungi timnya. Setelah sebelumnya kecolongan oleh Kibum, sekarang dia sedang berusaha memproteksi Taem… dan Minho, mungkin.

..to be continued..

+++++++

#Mengenai cederanya Jonghyun, ini menurut versi FF ini. Dan kalo ada yang nggak suka dengan munculnya nama GitGut, hehehe ^^V

Terima kasih yang udah baca dan kasih komentar. Sekali lagi, just fiction…

12 thoughts on “We Walk [Part VI] – From Jakarta With Love

  1. Ahahay keluar juga
    Andwae! Taem ngga boleh coba2 lirik2 cewe
    Ngga tega ngebayangin dia sama cewe TT____TT
    Wkwkwkwk
    Jjong payah ah
    Jangan bilang nanti dia jadi anti-indo pula
    Huhhh
    Ayo ayo lanjutannya jangan lama2

  2. Numpang promo ya gan..:D

    LOWONGAN KERJA SAMPINGAN GAJI 3 JUTA /MINGGU

    Kerja Management dari program kerja online (Online Based Data Assignment Program / O.D.A.P) MEMBUTUHKAN 200 KARYAWAN diseluruh indonesia yang mau kerja sampingan online dengan potensi penghasilan 3 JUTA/MINGGU+GAJI POKOK 2 JUTA/BULAN, Tugasnya hanya ENTRY DATA, per entry @10rb, Misal hari ini ada kiriman 200 data dari O.D.A.P yang harus di ENTRY berarti kita dapat hari ini @10Rb x 200 = 2 JUTA. Lebih Jelasnya kirimkan Nama LENGKAP & EMAIL ANDA.

    Buka http://www.penasaran.net/?ref=cdizbb

  3. mreka abis perform lgsg balik k bandara tau… G mampir k hotel… *digetok diya* *namanya juga ff!!* kekeke =P
    Jieee…. Jadian juga…. Prikitiw… PJ dong PJ….
    Kekeke
    Dasar onyu anak ayam!!! Seit?? Wakakak…. Sate bang sate…. Sini2 aku bkinin yg banyak =P

  4. seru-seru
    si onew baru pertama kali makan sate tapi syg nya dia gak bisa bilang sate *jdi inget obama*
    hehehe
    wahh minho akhirnya berani buat mengungkapakan isi hatinya, mmm pastinya jakarta jadi tempat yg bersejarah
    hihihi
    kasihan si jjong sial bgt dtg ke indonesia beda sama minho
    iidihh taemin udh mulai genit mau ngegoda gitgut, taemin terlalu suci untuk dinodai

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s