We Walk [Part VII] – We should split up!


Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part VII] – We should split up!

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee, Manajer and His Assistant.

Genre : Friendship, Romance, and Life.


STORY

SETELAH menyelesaikan jadwal di acara radio MBC FM Stary Night atau orang-orang biasa menyebutnya dengan PKL Byulbam. Minho, Jjong, Taem mampir ke café-ku hanya untuk sekedar ‘menumpang’ menikmati night coffee. Alasan ini hanya kamuflase dari tujuan sebenarnya, Minho ingin menemuiku. Manajer-oppa selalu ada di sisinya, ditambah lagi aku tak memiliki cukup alibi untuk terus berada di dekat Minho. Jadi, dengan night coffee inilah akhirnya kami bisa bertemu.

“Jjong, bagaimana dengan kakimu?”

“Oke. Tak ada masalah serius. Hanya saja besok harus kembali ke rumah sakit untuk check up.”

Aku mengangguk. Manajer-oppa tak di sini, ia berada di tempat lain menemani Jinki dan Kibum yang menjalankan jadwal individu mereka. Ia hanya mengutus asisten, tapi sekarang sedang pergi ada urusan.

Kulirik Taem, dia bungkam sejak awal datang. Aku tahu dia marah karena tak diberitahu mengenai hubunganku dengan Minho. Ia mengetahuinya secara tak sengaja saat Minho meneleponku akan kemari yang memanggilku dengan sebutan ‘jagiya’.

“Taemin-ah~” panggilku. Dan astaga, apa yang kulakukan? Aku menyesal memanggilnya dengan nada kekanak-kanakkan seperti itu. Minho dan Jjong bahkan tersedak.

“Mwoya?!” tanya Jjong terkekeh sambil membersihkan mulutnya dengan serbet.

Minho menggelengkan kepalanya. “Kalian benar-benar cocok. Noona, apa kau mulai terjangkit Taemin-sindrom sekarang?”

“Oh, shut up!” Kututup wajahku dengan tangan. Sial, malu sekali! “Taeminnie, my lovely baby…,” bisa kurasakan Minho mengernyit, “…cheongmal mianhae. Kami tak bermaksud menyembunyikannya darimu. Kurasa belum saatnya banyak orang untuk tahu.”

“Tak apa. Sudah sepantasnya untuk magnae,” sahutnya lesu.

“NO! Jangan pernah berpikir seperti itu! Bahkan sampai sekarang pun leader belum tahu…”

“Jadi, Onew-hyung belum tahu?” selanya dan aku mengangguk. “Jangan sampai dia tahu. Kumohon sembunyikan hubungan kalian!”

“Wae?” tanya Minho bingung, alisnya bertaut.

“Bisakah aku tak menerima banyak pertanyaan?”pintanya sok berkuasa. Yeah, he’s our little boss. Daebak!

Minho mendengus jengkel. Kutatap wajah Taem lekat-lekat. Bisa kubaca ia sedang menyembunyikan sesuatu.

“Tapi aku tetap masih marah,” celetuknya.

“Yaaa!” seru Minho, matanya membesar. Ia mendorong bahu Taemin yang duduk di sampingnya. Ini karena Jjong tak mengizinkan aku dan Minho untuk duduk bersama. Sudah kubilang kan kalau Taem merajuk? Jadi, karena hal itu.

“Apa yang harus kulakukan agar kau tak marah lagi, Minnie-ya?” aku mulai merayu dan lagi-lagi Minho mengernyit.

“Umm… bagaimana kalau noona mengajariku beberapa mata pelajaran? Saat ke Indonesia kemarin kudengar ada ujian dan aku tertinggal.”

“Jika itu math, jangan bermimpi! Aku takkan pernah membantumu seumur hidup. Itu bagian Jinki-oppa.”

Dia tertawa. “Tidak, bukan. Aku takkan pernah lupa kalau matematika adalah musuh terbesar dalam hidupmu, Noona. Aku ingin kau mengajariku bahasa Inggris. Ottaeyo?”

“Itu oke. Tapi, bukankah kau bisa meminta bantuan Kibum?”

Dia menggeleng keras-keras.

Minho angkat bicara, “Aku pernah melihat Kibum mengajarinya bahasa Inggris. Sangat mengerikan…”

“Bagai di neraka…,” timpal Taem mengangguk mantap.

Jjong menambahkan. “Kudengar Taem hanya minta diajari tenses dan grammar. Tapi Kibum tetap ngotot dengan pengucapan native. Aku juga pernah menjadi korbannya…”

“Aku juga,” Minho mengangkat tangannya.

“Jika kau menonton Hello Baby episode dua, Taem memberi Yoogeun laptop mainan. Dan saat aku memainkannya dan mengatakan ‘enter’ dengan pronun yang salah, Key tanpa diminta membenarkannya  dan menurutku nadanya mengejek,” tutur Jjong berapi-api.

“Kalau aku saat mengatakan ‘uniform’ di episode dua belas. Saat kita semua mendesain t-shirt sendiri. Itu sangat menjengkelkan, membuatku malu!” tambah Minho.

Taem mengangguk. “Hingga akhirnya Key-hyung marah dan pergi tidur tak ingin lagi mengajariku hanya karena English native-ku payah.”

Kuperhatikan wajah mereka yang berubah serius dan jengkel. Yah, sepupuku Kim Kibum memang juara!

Asisten manajer datang dan menghampiri meja kami. “Aku kemari menjemput Jonghyun,” katanya.

“Aku? Kupikir jadwalku sudah selesai untuk hari ini.”

“Ada jadwal mendadak. Aku benar-benar minta maaf.”

“Ah, hyung, tak apa-apa. Ayo!” Jjong menyampirkan tas coklatnya di bahu kiri. “Aku pergi duluan. Minho, jangan kau pakai kesempatan ini untuk ‘bersenang-senang’. Belajar vokal jauh lebih baik…”

“Arasseo, hyung!” potong Minho jengkel.

“Bye…,” pamit Jjong. Kami melambai padanya.

Aku sedikit mengerti arah pembicaraan mereka. ‘Bersenang-senang’ mungkin maksudnya adalah kencan denganku. Ah, sungguh sejak kapan aku menjadi percaya diri sekali seperti ini. Tapi jika mengenai ‘vokal’, aku sangat mengerti. Di acara radio tadi Minho melakukan kesalahan saat menyanyikan lagu Dynamic Duo – Guilty, suaranya tak mampu mencapai nada falset.

Taemin terkikik.

“Yaaa!” mata Minho membesar dan telinganya memerah. “Aku tahu kemampuan vokalmu semakin baik dan kau sempat memamerkan suara emasmu beberapa saat setelah aku melakukan kesalahan itu sambil memandangku. Apa itu belum membuatmu puas? Taeminnie, berhenti menertawaiku!”

Taemin tergelak sambil memukul-mukul meja sampai wajahnya memerah. Sangat puas sekali. Minho berdiri, ia pindah duduk bersamaku. Malam ini harus kuakui kalau Minho sangat tampan seperti biasanya. Ia mengenakan kemeja merah kotak-kotak dengan beberapa kancing yang sengaja dilepas hingga memperlihatkan dalaman t-shirt putihnya. Dan aku suka sekali dengan perpaduan celana blue-jeansnya.

Minho memandangku. “Semoga kau tak mendengarnya tadi.”

“Well, maaf mengecewakanmu,” sahutku.

“Sial!” umpatnya. Ia menenggelamkan wajah ke tangannya yang terlipat di meja.

Minho, aku bahkan tertawa. Lagipula tidak hanya mendengar, aku sempat streaming tadi. Sungguh, maafkan aku. Semoga kau tak berniat membunuhku jika tahu.

“Ah, aku ingin ke toilet,” Taem berdiri sambil menyeka matanya yang basah. “Hyung, pergunakan waktumu sebaik-baiknya, karena tak ada kata ‘bermesraan’ ketika aku kembali. Jira-noona milikku!”

Minho bangun dan melempar Taem dengan tisu bekas. “Apa kau pacarnya?!”

“Hyung pikir untuk apa aku menyanyikan lagu ‘Saranghamnida’ di Byulbam tadi?” Taem mengedipkan matanya padaku. Minho berusaha menendang Taem, namun anak itu berhasil melarikan diri.

Aku terkekeh. “Sejauh ini tak ada yang curiga ‘kan?” tanyaku setelah Taem hilang dari pandangan.

“Tentu saja tidak. Ini pertama kalinya kita bertemu sejak dari Indonesia minggu lalu,” Minho melembutkan suaranya, dia menatapku. “Rasanya pasti tak enak berpacaran denganku…”

“Jangan pernah berpikir seperti itu! Aku tak menyukainya.”

“Aku benar-benar minta maaf. Kita jarang bertemu karena kesibukanku. Aku ingin kau bersabar,” Minho menggenggam tanganku.

Aku mengangguk. “We’re not not communicate. Aku ingin kita menjalani hubungan yang sehat! Tak boleh lepas dari komunikasi, setuju?”

Sekarang giliran Minho yang mengangguk. “Aku hampir gila memikirkan cara agar kita bisa bertemu. Manajer-hyung semakin ketat mengawasi kami, dia bahkan mulai mencurigai Kibum. Aku tak ingin ada yang mengganggu hubungan kita.”

“Ya, aku pun.”

“Noo~ naaa~” dari jauh Taem sudah memanggilku.

Aku dan Minho menoleh. “Apa kau tak malu kalau ada yang mendengar rengekan manjamu itu?” tanya Minho. Ia menarik tanganku ke bawah meja, hingga kami masih bisa berpegangan tangan tanpa terlihat si bayi.

“Hyung, sadarlah! Hanya kita berdua pelanggan yang tersisa. Bahkan karyawan saja sudah tak ada. Hanya kita bertiga. Di sini!”

“Mwo? Jam berapa sekarang?” tanya Minho.

“Satu dini hari!” Taem melirik jam tangan sambil menyesap latte-nya.

“Astaga, ini sudah terlalu malam. Kita harus segera kembali sebelum Onew-hyung dan Kibum sampai di dorm lebih dulu.”

Minho melepaskan genggamannya. Ia mengeluarkan ponsel dan menelepon driver. Taem memaksa masuk ke sofa kami, ia duduk di antara aku dan Minho. Seperti biasa, ia menggelayuti pundakku.

“Noo~ naaa~ Aku belum pernah main ke apartemenmu lagi sejak kau kembali.”

“Yaaa,” panggil Minho lemah. Aku tak dapat melihat wajahnya, Taem sengaja menghalangi kami. “Aigoo, apa seperti ini rasanya memiliki anak jika sudah menikah nanti?”

Aku tertawa dan Taemin hanya menyeringai jahil.

“Watta~” teriaknya seraya menunjuk sebuah van yang terparkir di depan café. “Noona, kaja~”

Si baby merapatkan blazer abunya, kemudian menyeretku keluar. Benar-benar tak menyangka ia sekuat ini. Minho memakai tas punggungnya dan berjalan di belakang kami. Ia membantuku mematikan lampu café dan mengunci pintunya.

“Yaaa, Taeminnie, kau duduk di depan!”

“Shiro-yo, aku dan noona di tengah dan hyung di depan. Bukankah sudah kubilang, pergunakan kesempatan saat aku tak ada?!”

“Aish!” Minho berkali-kali menendang batu di jalanan dengan kesal. Tak ada yang bisa kulakukan. Sungguh, Lee Taemin sudah menyihir kami untuk mematuhi permintaannya.

+++++++

AKU mendesah dan menendang selimut ketika interkom berbunyi tanpa jeda. Sejak kapan apartemenku menjadi kamp militer? Orang yang menekan interkom sepertinya tak waras, dia terus menekan tanpa jeda.

Kulirik jam. Benar-benar… baru saja tidur empat jam yang lalu. Aku berusaha bangkit dan berjalan ke ruang tengah lalu berakhir memelototi layar interkom.

“Noo~ naaa~”

Lee Taemin dan… MINHO??? Astaga, untuk apa mereka kemari sepagi ini? Kupikir ucapannya semalam untuk berkunjung kemari hanya bercanda.

Aku berlari ke toilet untuk mencuci muka. Beberapa menit kemudian, kubuka pintunya. Taem dengan riang menghamburku dengan pelukan. Dia berlari riang masuk ke dalam. Minho tersenyum, ekspresinya tenang. Ia mengangkat kantong plastik, sarapan untuk kami. Jjong bernyanyi riang saat membuka sepatunya, dan yang terakhir adalah Kibum. Aku sangat yakin dialah pelaku-penekan-interkom-tanpa-ampun itu.

“Lihat!” dia mengacungkan telunjuknya. “Hampir saja patah hanya untuk membangunkanmu.”

See? Dia benar-benar tersangkanya. Aku tak pernah salah.

“Di mana Jinki-oppa?”

“Tidur. Dia terlalu lelah karena jadwal musikalnya,” sahut Jjong.

Mereka semua mengenakan pakaian olah raga. Mungkin baru saja jogging dan terdampar di sini sebagai trek terakhir. Aku hanya berdiri mematung di pintu masuk, ini pertama kalinya mereka kemari setelah menjadi artis. Dulu kami sering berkumpul di sini hanya sekedar menonton film atau membolos trainee bersama. Tapi sekarang, aku merasa ada tembok tebal yang memisahkan kami. Status kami berbeda, tentu saja. Mereka idola dan aku hanya gadis biasa. Yah, krisis percaya diriku mulai mencuat ke permukaan.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Minho membuyarkan lamunanku, dia tersenyum dan mencium dahiku singkat. Yang lain berseru.

“Aku benar-benar tak mengizinkan hal-hal seperti itu dilakukan di depan anakku,” protes Kibum seraya menunjuk Taem yang tengah menutup matanya.

Jonghyun menyeringai lebar. “Tak apa, lakukanlah sesuka kalian!”

“Andwae, Yeobo!” Kibum menatapnya tajam dan Jjong tak peduli.

“Jira-ya, tebak pekerjaan apa yang kulakukan semalam!” Jjong mengatakannya sambil tersenyum riang.

Minho menggiringku ke meja pantry karena Kibum sudah mulai menyiapkan sarapan yang mereka bawa. Ingatanku kembali pada kejadian semalam, di mana Jjong diajak pergi asisten manajernya. “Entahlah, memangnya apa?”

Jjong kembali tersenyum lebar. “Aku melakukan photoshoot dengan Shin Se Kyung. Kau tahu kan kalau dia tipe idealku?”

“Hm, benarkah? Photoshoot untuk apa?”

“Err, aku tak tahu pasti. Manajer-hyung maupun asistennya tak memberitahuku… tunggu, apa mungkin untuk We Got Married?”

“Mwo???” pekikku dengan mulut terbuka lebar. Sedangkan yang lain hanya menggeleng bosan.

“Sejak bangun tidur, ia tak berhenti membicarakan hal ini. Terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang. Aku muak!” keluh Kibum.

Jjong tersipu, wajahnya memerah. “Karena kami berpose seperti sepasang kekasih. Itu saja.”

“Wow!” kami semua serentak tepuk tangan.

“Aku bahkan merangkulnya seperti ini…,” dia memperagakannya pada Taemin.

“Ah, benar-benar iri,” Taem menggembungkan pipinya.

Minho tertawa. “Taeminnie, kau benar-benar ingin punya pacar, huh?”

“Tentu saja,” jawabnya mantap. “Aku belum pernah berkencan sebelumnya. Ingin sekali merasakan apa itu kissing. Minho-hyung, noona, memang seperti apa rasanya?”

Aku dan Minho otomatis tersedak. Bagaimana bisa ia mengatakannya dengan wajah polos seperti itu?

“Bicara apa kau?!” bentak Minho, matanya berair.

“Aku kan hanya bertanya.”

Jjong dan Kibum tertawa keras.

“Kau tanya saja Kibum! Dia sudah lama berpacaran dengan Mikka,” Minho mengalihkan perhatian. Namun, Kibum berbalik dan pergi menuju  lemari es. Pura-pura tak mendengar.

Jjong masih terkekeh. “Tae-ya, sebaiknya kau mencari pacar. Tenang saja, kami semua akan merahasiakannya dari Onew-hyung juga perusahaan.”

“Masalahnya, di mana aku bisa mencarinya, Hyung? Aku bahkan teralienasi di sekolah,” sahut Taem, wajahnya berubah serius. Anak ini benar-benar…

“Taemin-ah, kudengar ada artis dari girl group yang terang-terangan bilang ingin dekat denganmu…,” aku berusaha mengingat-ingat namanya.

“Ah, Sukira…,” ucap Kibum.

“Miss A Suzzy, Suzzy…,” timpal Minho.

“Dia bahkan memanggilmu ‘Taemin-oppa’ bukan sunbae,” Jjong mulai menggodanya.

Taem mengangkat bahunya. “Aku menginginkan seorang gadis yang bersinar bagai matahari. Yang membuatku selalu menatap padanya…”

“Wooo…,” kami berempat membuat koor. Sama sekali tak menyangka dengan ucapannya.

“Apa dia kurang bersinar?” tanyaku. “Dia sangat cantik. Menurutku, dia gadis yang pantas diberikan penghargaan sebagai idola remaja tercantik.”

“Menurutku penghargaan itu lebih cocok untukmu, Noona,” ujar Taem.

Aku mendengus. “Apa aku masih cocok disebut ‘remaja’? Jjong, bagaimana menurutmu? Apa kita ‘remaja’?”

Jjong terkekeh. “Tenanglah, lain kali kau akan kukenalkan pada teman-temanku,” ujarnya sambil menepuk bahu Taem.

“He? Itu artinya seumur denganmu, Hyung? Dwaesseo (lupakan)! Too old…”

“Mwo? Taeminnie, itu artinya kau menyebutku tua juga?” protesku.

Minho, Jjong, dan Kibum tertawa keras. Sedangkan Taem membeku dengan mulut terbuka. Oke, bisa kumaafkan kalau dia salah bicara. Dan faktor lain mengapa kumaafkan, karena dia terlalu cute. Aku kalah hanya karena hal itu, tak bisa dipercaya.

“Hyung, bagaimana hubunganmu dengan Hyebin-noona?” tanya Minho mengalihkan pembicaraan sambil menyuap sarapannya.

Jjong mengacungkan jempol. “Semakin dekat. Mungkin akan kuungkapkan tak lama lagi.”

“Dengan cara apa?” Taemin memajukan tubuhnya ke depan meja, sangat tertarik dengan topik ini. “Siapa tahu aku bisa menirunya suatu saat.”

“Aigoo, kau memang tak kreatif!” ejek Kibum.

“Aku belum tahu. Yah, hanya memikirkan hal-hal yang romantis. Mungkin sekitar tanggal 26 nanti, sepulangnya dari kontes biola.”

“Wah, Jonghyunnie, fighting!” aku menepuk bahunya.

“Gomawo. Kupikir ini harus berhasil. Mengingat aku sudah memendamnya sejak SMA.”

Minho tepuk tangan dengan kepala menggeleng takjub. “Daebak!”

“Dia gadis impianku. Anggun, sopan, dan cantik. Bahasa tubuhnya mirip Shin Se Kyung, maka dari itu aku mengidolakannya. Dulu ia sangat populer di sekolah, kudengar saat ini di kampusnya pun begitu. Kalian tahu sendiri, saat trainee dulu aku masih belum memiliki kepercayaan diri. Tapi sekarang…”

“Hanya gadis bodoh yang menolak seorang idola. Begitu kelanjutan ucapanmu, Jongie?” sindirku.

“Tentu saja bukan. Kau ini sensitif sekali! Maksudku, setidaknya sekarang aku semakin tampan ‘kan?”

Kami memutar bola mata. Ini sungguh menyebalkan!

Jjong tertawa. “Just kidding…” Ia menunduk, menatap layar ponselnya, sedangkan kami melanjutkan sarapan. “Oh, Onew-hyung mencari kita. Setelah makan sebaiknya pulang. Aku merasa tak enak sejak kemarin bermain tanpanya.”

“Aku akan menyusul.” Minho meletakkan gelas bekas pakainya di bak cuci.

“Tidak, pulanglah dengan mereka. Aku tak ingin Jinki-oppa curiga jika hanya kau yang tak pulang.”

“Tapi aku masih ingin di sini. Apa noona tak merindukanku?”

“Bukankah kita baru saja bertemu semalam? Jangan menanyakan hal bodoh seperti itu! Tak ada yang lebih kurindukan di dunia ini selain dirimu…”

Kibum tertawa. “Demi Tuhan ini tontonan yang bagus. Aku bersumpah belum pernah mengatakan hal-hal menggelikan seperti itu dengan Mikka.”

“Itu karena kalian pasangan alien,” balas Minho kesal.

“Baiklah, Minho, satu jam lagi kau harus sudah ada di dorm. Akan kupikirkan alasan yang bagus jika Onew-hyung bertanya. Dan jangan lupa kita ada jadwal pukul sebelas!” ujar Jjong sambil memakai sepatunya. “Aku harus pergi lebih awal untuk check up.”

“Wow, hyung, gomawo.”

Lima belas menit kemudian mereka pergi setelah sebelumnya sempat ada perang antara 2Min. Si magnae memelukku tanpa ampun, sedangkan pacarku tak mengizinkannya. Namun, seperti yang kau tahu, magnae selalu menang. Sudah kubilang kan kalau dia bos kecil? Permintaan yang diucapkan Taem layaknya perintah yang disampaikan pimpinan Yakuza.

Aku berdiri memunggungi Minho yang duduk di meja pantry memainkan ponselnya, sibuk mencuci gelas-gelas kotor. Jantungku tak pernah berhenti berdegup kencang. Hanya tinggal kami berdua di sini, membuatku sangat gugup. Ini pertama kalinya Minho berada di apartemenku sendirian, tanpa yang lain.

Kuletakkan gelas-gelas yang sudah bersih di sisi bak cuci, kemudian membuka lemari es dan menoleh padanya. “Kau mau buah?”

Dia menggeleng, tanpa menatapku.

“Oke.” Kututup kembali lemari es dan masuk ke kamar. Kasurku masih berantakan, walaupun Minho takkan masuk kemari, tapi aku merasa sangat malu. Tak seharusnya seorang gadis memiliki kamar berantakan seperti ini.

“Jagiya,” panggilnya.

“Ne?”

“Tidak, hanya memastikan kalau kau tak pingsan atau apapun. Aku tak mendengar suaramu, itu membuatku khawatir.”

Aku tersenyum, degup jantung juga semakin mengeras. “Aku mau mandi. Kita berangkat bersama nanti.”

“Ke café? Akan kuantar…”

“Tidak, kau ada jadwal pukul sebelas dan ini sudah pukul sembilan. Kita harus berpisah di stasiun subway. Tak ada tawar-menawar!”

Kudengar Minho terkekeh. “Oke. Lakukan sesukamu, Noona! Aku menunggu di sini…”

“Oke, bye…,” kututup pintu kamar dan masuk ke kamar mandi.

+++++++

MINHO menggenggam tanganku erat. Kami berjalan di sepanjang pertokoan menuju stasiun. Kuperhatikan ia sejak tadi menekuk wajahnya. Itu karena aku menambahkan aksesoris lain di wajahnya untuk menyempurnakan penyamaran.

“Ah, benar-benar, Noona. Ini sangat menganggu.”

Aku tertawa. “Kumis itu cocok untukmu.”

“Kacamata dan topi sudah cukup…”

“Tapi buktinya sudah banyak fancam yang tersebar dengan kau menyamar hanya dengan itu. Penggemarmu sangat jeli. Sekarang saja aku merasa takut ada yang mengenalimu. Err, apa kau juga harus melepaskan genggamanmu, Minho?”

“Tidak! Aku tak ingin noona menjauh dariku walau hanya beberapa sentimeter. Aku tak ingin kau hilang dari pandanganku.”

“Well, okay.”

Kami berdiri di tangga masuk menuju stasiun. Minho menarikku ke dinding sebelum aku turun. Dia tersenyum, sangat manis dan tenang seperti biasanya. Namun terasa janggal dengan kumis yang terpasang.

“Aku benci melakukan hal ini, tapi… seperti keinginanmu, kita harus berpisah. Ah, baru kali ini aku membenci ‘jadwal pukul sebelas’.”

Aku tertawa. “Kita akan bertemu lain kali jika kau ada waktu.”

“Yeah. Apa kau bisa kupercaya untuk pergi sendirian, Jagiya?”

“Oh, shut up! Kaupikir aku balita?” kupukul dadanya pelan.

“Hati-hati!” Perlahan-lahan Minho melepaskan genggamannya.

Aku mengangguk. “Kau juga. Bekerjalah dengan baik!”

“Hm…,” dia mengangguk dan tersenyum. “Saranghae…”

“Naddo (aku juga)…”

“Bye…”

Aku berjalan mundur menjauhinya, namun Minho menarikku lagi dan mengecupku pelan di kening. “Ah, Minho, sungguh… Jangan memelihara kumis jika kau sudah tua nanti. Ini sangat tak nyaman.” Kuusap dahiku pelan.

Dia tertawa. “Oke, sampai jumpa…”

“Bye.”

..to be continued..

+++++++

#Holaaa~ Masalah vokal Minho yang gagal mencapai nada falset itu bener. Temen-temen bisa lihat di link ini à http://www.youtube.com/watch?v=9Pn3xy4Ol2E

Acara PKL Byulbam Radio itu tanggal 20 Oktober, foto-foto JongKyung juga diambil tanggal 20. Bisa dilihat dari bajunya Jjong yang sama. Jadi saya kepikiran untuk bikin alur cerita kayak gini. So, jangan heran dengan cerita ‘photoshoot with Se Kyung’ itu. Akan dijelaskan di part berikutnya, “We Walk [Part VIII] – Jonghyun Scandal”.

Kata-kata Taemin yang pengen punya pacar bersinar kayak matahari juga pernah dia ucapin di salah satu acara. Saya lupa apa namanya. Hehe~

Pokoknya FF ini sebagian besar dari fakta-fakta seputar SHINee, juga kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini.

Terima kasih… Annyeonghi gaseyo^^/

12 thoughts on “We Walk [Part VII] – We should split up!

  1. oahahahaha…..
    Makin hari uri taeminnie makin imut aje… *uyek2 pipi taemin* nuna karungin gapapa ya taem?? Astaga…. Imutnyo….!!! Ahahaha *plak*
    Ah… Minho berkumis. Hihihi nemu aja kumis palsunya =P
    Mang ni pe brapa part si diya??

  2. taemin ngomong gt dacara lupa jg tp yg pasti dy b2 sm key dsna dy muji kahee after school klo g salah y dy n key muji big mommy..hmm..semakin seru..tp onew kok ngilang dsni?aku kan kangen dy…hmm..haha…suzy cow impianny bukan taem lg tp yoesoeb..yes..yes..haha

  3. yeyeye…comment aku akhrny publish jd ff part vi kmren g bs comment tp aku comment k fbny mitha kok diya..hehe..fb diya apa?ntar aku add..hehe…pdhal smgt bgt comment kmren tp g bs..huhu..good job diya…btw taem g ush dcariin pcr y,,soalny kan dah ada aku *plak*..haha

    • nih komennya ola
      ”yahhhhh,,,ternyata yg jadian minho n jira,,,,yudah deh jinki sama ola aja,,,hahhahaha,,ceritanya detail bgt,,,,lucu pas mereka pas bilang ‘seit’,,,hahhahaha,,,wahhh makanan kesukaan ol…a juga dsuka jinki *toss*,,suka sate jg mereka ternyata ,,,nyahhaaahha,,,taem jgn sama gitgut dy udah punya cow derby romero yudah deh taem sama noona aja yaaa,,,,*plakkk*…g kebayang klo jinki tau jiho jadian,,,hmmmmmgood job diya,,great FF,,,hidup SEIT,,,LOL…🙂

  4. diya…
    mian bnget bru bisa comment
    aku ol di hp truss
    heheheeh..trsiksa juga jdi silent readerr
    kekekekk

    aku suka bngetbangettt sama ff diya sama mita
    hehehhe
    aku fans klian dahhh
    mkanya jngan lma” ngluarin part slanjutnya yaaahhh
    *plakkkk
    *muji ada maunya doang
    kekeekekek

    trsiksa mnunggu part slanjutnya ga kluar2
    sediihhh
    ga napsu mkann jdinya
    heheheh

    pkonya smangat bwat klian yaaaa
    cpetan smua ff nya di lunasiiinnn

    eiyayyy
    aku lena 20 thn
    slam knalll

  5. ntar pas onew tau marah ga ya dia?? apalagi dia baru ngeh kalu dari mereka smua (kecuali manager) cuma dia yg belum tau kalu minho en jira dah pacaran..kacihan onew hehehe

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s