We Walk [Part VIII] – Jonghyun’s Scandal


Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part VIII] – Jonghyun’s Scandal

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee, and Manajer.

Genre : Friendship, Romance, and Life.


STORY

AKU berjalan santai di sepanjang pertokoan Hongdae. Kedua tanganku masing-masing dipenuhi dua tas belanjaan. Sebelumnya, aku sempat mampir ke toko perlengkapan bahan rajut untuk membeli beberapa gulung benang wol. Entah mengapa terbesit sebuah ide untuk membuatkan mereka sweater saat melihat manekin bersweater di etalase toko tersebut. Menurutku ide ini tak buruk. Sweater hasil rajutan ini akan kujadikan hadiah natal mereka. Masih tersisa waktu sekitar dua bulan lagi.

Perjalananku terhenti saat mata terpaku pada sebuah warung pinggir jalan. Lebih baik mampir ke sana untuk membeli beberapa makanan. Anak-anak pasti menyukainya, lagipula ini masih sore, mereka masih bisa makan sebelum ‘diet malam’.

“Tolong berikan aku tiga porsi ayam goreng, satu steak, dan satu ramyun!”

Aku menarik sebuah kursi dan duduk di sana, menanti pesanan selesai dibuatkan. Sengaja memesan ayam goreng tentu saja untuk Jinki, juga Jjong dan Kibum. Lalu steak untuk Taemin dan ramyun untuk Minho. Semua makanan yang kupesan adalah favorit mereka.

Ini sudah pukul tiga sore, tak terasa kuhabiskan waktu dua jam hanya untuk berbelanja di sini. Setelah ini aku akan menuju dorm SHINee. Kemarin Taem menghubungiku, meminta untuk mengajarinya bahasa Inggris hari ini pukul empat. Jadi, sengaja pulang lebih awal dari café demi ‘anakku’ itu.

“Ini pesananmu, silakan. Semuanya 150 ribu won.”

“Oh, kamsahamnida. Ini…,” kuterima makananku dan menyodorkan uangnya.

Sekali lagi kulirik jam, tiga lewat lima belas menit. Jika menggunakan subway, aku harus berjalan ke stasiun dan menghabiskan waktu setengah jam, lalu berjalan lagi menuju dorm. Tidak, itu terlalu lama, aku bisa terlambat.

Kulambaikan tangan. “Taksi!”

Yah, lebih mahal. Tapi setidaknya aku bisa sampai tepat waktu. Takkan kubiarkan si bayi menunggu. Dia bukan anak biasa, kan? Untuk bisa meluangkan waktu belajar saja sudah merupakan hal yang luar biasa bagiku.

+++++++

“Noo~ naaa~”

Taem menyambutku dengan pelukannya, seperti biasa. Lalu ia membantuku membawakan tas-tas. “Di mana yang lain?” tanyaku.

“Jika yang noona maksud Minho-hyung, dia masih ada jadwal. Mungkin akan pulang sekitar pukul delapan.”

“Aigoo, Taeminnie, aku sungguh bertanya di mana yang lain?”

Ia menyeringai jahil. “Onew-hyung masih harus menyelesaikan jadwal terakhirnya untuk hari ini. Jadwal Jonghyun-hyung sudah selesai sama sepertiku, tapi tadi ia pergi dan bilang ada urusan lain. Sedangkan Key-hyung baru saja keluar untuk bersepeda.”

Kulepaskan mantel dan menyampirkannya ke punggung kursi. Taem menyimpan semua makanan yang kubeli ke dalam lemari es, lalu menuangkan air ke dalam gelas dan memberikannya padaku.

“Gomawo.”

“Ayo, kita selesaikan sebelum pukul enam! Ajari aku tenses dulu untuk hari ini, Noona. Jangan paksa aku ber-native ria!”

Aku terkekeh. “Wah, aku mencium bau sindiran.”

Taem membawaku ke ruangan yang dipenuhi rak buku dan sebuah komputer. Ia duduk di meja, di mana kamus dan berbagai buku bahasa Inggris sudah menumpuk di sana. Kami memulai pelajaran. Taem bertanya mengenai banyak hal, terutama bahasa-bahasa slank, sebuah pertanyaan yang aku yakin sekali takkan keluar dalam ujian.

“Hentikan menanyakan hal itu! Fokus ke pelajaran, Taemin-ah!”

“Well, aku hanya penasaran, Noona,” dia terlihat sangat kecewa. Sungguh maafkan aku, Taem, tapi ini memang bukan saatnya.

“Kau kerjakan semua latihan ini…,” kulirik jam tangan, “Sudah pukul lima. Sebaiknya kuhangatkan makanan.”

“Oke~”

Aku berjalan menuju pintu, namun kembali lagi dan mencabut kabel sambungan internet. “Jangan coba-coba browsing selama belajar. Arasseo?”

“Ne~” sahutnya pasrah. Demi Tuhan, Taeminnie, ini semua demi kebaikanmu. Aku tak ingin melihat kertas ujianmu terpampang nilai C.

Setelah mengeluarkan semua makanan yang kubawa dari dalam kulkas, kumasukkan satu persatu ke dalam microwave. Dari sini aku bisa mendengar suara guratan pena Taem. Dia belajar dengan baik.

“Noo~ naaa~”

“Hm?”

“Sepertinya aku takkan bisa seleluasa dulu untuk bisa memelukmu.”

“Wae?”

“Tingkat kecembururan Minho-hyung semakin tak wajar akhir-akhir ini. Bahkan ia kerap memeriksa ponselku dan mengecek inbox.”

Aku tertawa. “Jincha?! Itu artinya dia benar-benar mencintaiku, kan?”

“Ya…,” dia berhenti sejenak, “…dan tidak! Seseorang merasakan kecemburuan karena rasa cinta, itu memang benar. Tapi kecemburuan bukan tolok ukur tingkat seseorang mencinta, Noona. Cemburu juga bisa menjadi petaka dalam hubungan.”

Aku menoleh dan terpaku menatap pintu ruangan di mana Taem berada. Apa aku sedang berbicara dengan Lee Taemin? Sejak kapan ia bisa mengungkapkan definisi cemburu sedewasa itu?

“Well, you’re right, Taem.”

Aku kurang setuju dengan hal ini, tapi… kurasa Taem memang sudah pantas berpacaran.

“Noo~ naaa~, aku sudah menyelesaikan semuanya. Bolehkah aku makan sekarang?”

“Tentu saja. Simpan pekerjaanmu, akan kuperiksa setelah kau makan.”

Taem muncul dengan rambut berantakan. Ia menggaruk kepala dengan pipi menggembung dan mata menyipit. Ini benar-benar bisa membuatku mimisan. Sungguh lucu! Inilah hasil Taem-eomma yang memimpikan katak besar saat hamil Lee Taemin. Ah sungguh, bicara apa aku ini?!

Pintu terbuka, Almighty Key datang.

“Oh, noona wasseo?” dia masuk ke dapur dan menuangkan air lalu meminumnya. “Aku lapar.”

“Aku bawa ayam goreng untukmu…”

“Pukul berapa ini?” tanyanya.

“Setengah enam. Kau masih boleh makan,” kuambilkan ayam miliknya dari dalam microwave. “Makanlah! Kau sudah sangat kurus.”

“Masalahnya bukan hanya berat badan yang harus dijaga, Noona. Tapi juga ini,” Taem menunjuk pipinya. “Ini yang paling penting dari seluruh anggota tubuh kami.”

“Ye, arasseo.”

Kibum menjatuhkan jaketnya yang berkeringat ke lantai, kemudian duduk bersama Taem dan mulai melahap ayamnya. Aku berjalan ke sofa di ruang TV, mengambil tas dan merogohnya mencari ponsel.

Pintu kembali terbuka.

“Aku pulang.”

“Minho?!” pekikku.

“Noona?” panggil Minho terkejut, panggilan yang akan ia pakai selama ada orang lain di sekitar kami. Yep, it’s ‘noona’. Ia buru-buru melepas sepatunya dan berjalan menghampiriku. “Sedang apa di sini?”

“Wah, dramatis,” komentar Kibum dengan mulutnya yang penuh. Aku berlagak tak peduli.

Kusambut pelukannya. “Aku sudah berjanji akan mengajari uri Taeminnie bahasa Inggris. Kau sudah makan?”

Ia mengangguk pelan.

“Ah, aku sudah membelikanmu ramyun,” ujarku kecewa.

Ia melepaskan pelukannya. “Noona sudah makan?”

Aku menggeleng perlahan sambil mengigit bibir. Ini pengakuan memalukan bagiku. Ia menyeretku ke meja makan. Menarik keluar ramyun dari microwave yang baru dipanaskan ulang oleh Kibum dan menyodorkannya padaku.

“Kumohon habiskan!” Minho membelai pipiku lembut. “Bisa kurasakan tubuhmu semakin kurus saat aku memelukmu, Noona.”

“Bagaimana dia bisa makan jika tanganmu terus berada di sana, Choi Minho?” protes Kibum usil.

Minho tersenyum. “Baiklah, aku mandi dulu. Sampai nanti,” pamitnya dan masuk ke kamar.

“Minho-hyung pulang lebih cepat. Onew-hyung adalah member tersibuk saat ini. Waktu pulangnya sulit diprediksi,” ujar Taem sibuk memotong steaknya.

Ya, dia benar. Aku sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatannya. Jinki semakin lemah dengan umurnya yang bertambah.

“Ngomong-ngomong, untuk apa kau meminta bantuan noona untuk mengajarimu English? Mengapa tak minta bantuanku, Lee Taemin?”

Taem menunduk, berusaha menghindari tatapan Kibum.

“Sudah jelas, kan? Kau tak ada bakat menjadi pengajar,” sahutku.

Untuk menghindari Kibum, Taem berjalan ke bak cuci dan menaruh piring bekasnya di sana, lalu kembali ke ruang baca. Sedangkan aku membantu mengeringkan gelas-piring yang selesai Kibum cuci. Kuperhatikan dia, benar-benar sangat kurus. Jangan katakan kalau tadi ia bersepeda dalam rangka diet!

“Ah, segarnya,” Minho keluar dari kamar, mengenakan t-shirt dan celana jins selutut. “Kibum-ah, apa pacarku menghabiskan makanannya?”

Tidak, ini menggelikan, Minho. Ada apa dengannya hari ini? Mengapa ia menjadi seperti pria dalam drama?

“Yeah,” sahut Kibum malas.

Minho menepuk pundakku. “Nice girlf…”

BRAK!

Pintu terbuka dengan debam keras. Seseorang masuk sambil berlari masuk ke dalam kamar. Kami bertiga mematung dan saling pandang. Kemudian seorang lagi masuk dengan cara yang sama. Minho bergerak lebih dulu di antara kami, ia menyusul masuk ke kamar. Aku dan Kibum mengikutinya.

“Jonghyun-ah, buka!” teriak Jinki sambil menggedor pintu toilet.

Tak ada jawaban. Hanya suara kucuran air dari shower.

“Hyung, waeyo?” tanya Kibum bingung.

Aku berdiri di belakang Minho. Ada apa ini, ada apa dengan Jonghyun?

“Kalian minggirlah!” Manajer-oppa tiba-tiba masuk ke dalam kamar, menyeruak di antara kami dan sekarang sudah bertatapan dengan pintu. “Jjong-ah, kita bisa membicarakannya baik-baik.”

Tak ada jawaban.

“Hyung, ottokhae?” tanya Jinki panik.

“Demi Tuhan, ada apa ini?” tanya Kibum.

“NOONA! HYUNG!” teriak Taem dari ruangan sebelah.

Aku, Minho, dan Kibum segera berlarian menuju si bayi. Teriakannya sangat keras, membuat kami cemas. “Wae?!” tanya Minho.

Taem menunjuk layar komputernya. Kulirik kabel koneksi internet sudah terpasang pada tempatnya semula. Lalu mataku terpaku ke layar. Foto-foto Jonghyun dan Shin Se Kyung?

“Apa ini?” tanya Kibum menghampirinya.

“Baca judulnya, Hyung!”

Mataku beralih ke deretan tulisan di atas foto-foto tersebut, ‘SM Mengkonfirm Hubungan Spesial Antara SHINee Jonghyun dan Aktris Shin Se Kyung’. WHAT?!

Kibum mengambil alih komputer dan memperlihatkan kami seluruh foto-fotonya. Aku mulai mengerti apa maksud dari artikel tersebut. Kurasa ini bukan rumor, di sana tertulis kalau SM telah mengkonfirmnya. Apa ini masih ada hubungannya dengan Jonghyun yang mengunci dirinya di toilet?

Aku berlari meninggalkan mereka dan kembali ke kamar. Manajer-oppa dan Jinki masih belum berhasil membuat Jjong keluar. Aku berusaha menyeruak di antara mereka dan mengetuk pintu keras-keras.

“Jonghyun, it’s me. Kumohon buka! Biarkan aku masuk!” masih tak ada jawaban, hanya terdengar gemericik air. Damn! Ini membuatku cemas setengah mati. Aku berteriak lagi, “Kim Jonghyun, buka!”

“Jira-ya, apa yang kau lakukan di sini?” tanya manajer-oppa.

Aku tak mengindahkan pertanyaannya. Ia membuatku marah. Aku yakin ia mengetahui semuanya, aku tahu ia bekerja sama dengan perusahaan untuk membuat skandal palsu itu.

Jinki menarikku ke samping dan aku berusaha memberontak minta dilepaskan.

“Jongie…,” kulembutkan suaraku, “…biarkan aku masuk. Jangan takut, aku berada di pihakmu. Jongie, kumohon!”

Suara kunci terbuka. Manajer-oppa berusaha untuk membuka pintu namun Jinki menahannya. Aku buru-buru masuk ke dalam dan menutup pintunya.

Kim Jonghyun, dia tengah duduk bersandar di shower box. Membiarkan air membasahi dirinya. Tubuhnya bergetar hebat antara menggigil dan menangis. Perlahan-lahan aku berjalan menghampirinya dan ikut duduk di sana.

“Jonghyunnie, neo waegeurae (kau kenapa)?” tanyaku takut-takut.

Dia masih belum menyahut. Tangisnya mengeras. Kuulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Berusaha membuatnya senyaman mungkin. Aku akan menunggunya berbicara sendiri.

“Hye-,” gumamnya. “Hyebin,” ia masih merunduk, menutupi wajahnya dan kembali menangis. “Hyebin menangis ka-karenaku.”

“Wae?”

“Ka-karena berita pa-palsu i-itu. De-demi Tuhan, a-aku tak ada hu-hubungan apapun de-dengan Se Kyung.”

“Aku percaya padamu.” Aku menggenggam tangannya dan ia membalas genggamanku, cengkeramannya sangat erat. Bisa kurasakan hatinya sakit sekali. Sekarang sudah terbaca masalahnya.

Hari ini tanggal 26, hari di mana Jjong akan mengungkapkan perasaannya pada Shin Hyebin, sepulangnya gadis itu mengikuti  kontes biola. Namun SM dan manajemen Se Kyung mengeluarkan pernyataan sepihak tanpa ia ketahui. Photoshoot itu ditujukan untuk hal ini, bukan We Got Married atau kepentingan kemajuan kariernya. Ini justru memperburuk semuanya.

“Se-semua orang a-akan membenciku. Jira-ya, ottokhae?” air matanya mengalir tersamar dengan derasnya air dari shower. Tangannya bergetar, aku mencoba memeluknya dan ia membalas sangat erat.

Tubuhku sudah sangat basah sekarang.

“Tak ada yang akan membencimu. Percayalah padaku! Kau dan Hyebin akan bersama pada akhirnya. Ini rintangan yang harus kau hadapi untuk mendapatkannya. Jonghyun-ah, aku benci melihatmu lemah seperti ini. Jangan biarkan dirimu terpuruk, kumohon!”

Dia menangis lebih keras. Bisa kudengar suara Minho di luar yang memaksa ingin masuk.

“Se-semuanya hancur! Bagaimana de-dengan SHINee?”

“Apanya yang bagaimana? Tentu saja kau dan SHINee akan baik-baik saja. Percayalah padaku, Jongie! Aku sahabatmu, kau harus mendengarkan semua perkataanku!” Air shower mulai mengganggu pernapasanku. “Kami akan selalu ada untukmu. Kau terlalu berharga untuk dibenci, lagipula ini bukan salahmu. Jika ada beberapa penggemarmu yang pergi, biarlah mereka pergi. Bersikaplah seperti biasa, ini hanya skandal palsu. Kau tak perlu merasa takut. Be strong, Jongie, jebal…”

“Hye…”

“Jika perlu, aku yang akan menjelaskan padanya.”

“Go-gomawo, Jira-ya…”

Pelukannya lambat laun merenggang. Kutatap wajahnya yang pucat. Jonghyun bahkan memejamkan matanya. Tidak, kumohon Jonghyunnie, bangun!

“Jongie-ya, ireona (bangun)! Yaaa!”

Kuguncang tubuhnya, namun tak ada respons. Aku berusaha bangun, namun tubuhku juga mulai kaku. “Siapa saja, tolong kami!” teriakku.

Tak perlu menunggu lama, pintu langsung terbuka. Aku menoleh, kutemukan Minho berdiri di sana dengan mata terbelalak. Astaga Minho, ini bukan saatnya untuk cemburu melihatku dan Jjong berpelukan dengan posisi berbahaya seperti ini. Astaga, kakiku mulai kebas!

Minho menggendongku keluar, ia menidurkanku di lantai ruang TV. Tubuhku menggigil dan ia berusaha menghangatkanku dengan pelukan. Bisa kudengar manajer-oppa, Taem, dan Kibum sibuk membantu Jonghyun.

“Hyung, ottokhae?” teriak Minho panik.

Samar-samar bisa kulihat Jinki menghampiri kami dengan piyama di tangannya. Dia terlihat tenang. “Kita harus mengganti pakaiannya. Ini pakai piyamaku!”

“Bagaimana menggantinya?” Minho belum melepaskan pelukannya.

Kepala semakin berat, tubuh tak berhenti menggigil, kakiku masih kebas, pinggangku juga sakit, suara mereka semakin terdengar samar.

“Noona!” teriak Minho sambil mengguncang tubuhku.

“Jira-ya!” panggil Jinki.

Gelap. Aku tak sadarkan diri.

+++++++

MATAKU terbuka saat kurasakan tangan kananku ditimpa sesuatu yang berat. Kepala juga masih terasa pening. Saat menoleh, kutemukan sebuah kepala meniduri tanganku. Kulirikkan kepalaku ke arah lain. Seseorang tengah tidur nyenyak di kasur tunggal milik Jinki. Aku mengenalinya, itu Jonghyun.

“Noo~ naaa~” teriak Taem dari kasurnya. Ia segera melompat menghampiriku.

Kepala yang menindih tanganku perlahan-lahan bangun. “Oh, Jira-ya. Syukurlah kau siuman.” Itu Jinki…

Taem duduk di sampingku, teriakannya juga membuat Jjong terbangun. Aku menoleh ke samping, begitupula dengan Jjong, kami bertatapan.

“Are you okay, Jjong?” tanyaku dengan suara serak.

Dia mengangguk. “Mianhae.”

“Tidak, tubuhku memang sudah lemah sejak kemarin.”

“Kalian berdua benar-benar membuatku cemas,” Jinki mengelus dahiku dan menepuk pelan tangan Jjong, kemudian ia berjalan meninggalkan kamar. “Istirahatlah, aku akan membantu Kibum membuat sarapan dan bekal sekolah Taemin.”

“Sa-sarapan? Memangnya ini pukul berapa?”

“Tujuh pagi,” sahut Taem.

Kukeluarkan tanganku dari balik selimut dan menyentuh kening, tapi… Apa yang terjadi dengan pakaianku?!

“Si-siapa yang mengganti ini?!” pekikku.

“Aku,” seseorang muncul dari arah pintu kamar.

“Sica-eonni?” aku spontan bangun, mengacuhkan kepala yang pening.

Dia menghampiri kasurku yang kuyakini kalau ini kasur milik Minho.

“Semalam Minho memintaku kemari. Kau sudah baikan?”

Aku mengangguk. “Gomawoyo.” Kupeluk dia. Aku sangat merindukannya. Kami pernah tergabung dalam satu grup saat trainee sebelum akhirnya ia digabungkan dengan SNSD. Jessica Jung adalah partner dance-ku. Kami belajar bersama dari nol. Seperti yang kau tahu, Jessica adalah noona terdekat Minho di SNSD. Bahkan Minho menulisnya di ‘thanks to’ album Lucifer.

“Yaaa, semenjak kau pulang sama sekali tak menemui kami. Menyebalkan,” protesnya.

“Astaga, SNSD sibuk di Jepang. Bagaimana aku bisa menemui kalian.”

“Taeminnie, sedang apa kau diam di sana? Ini saatnya kau sekolah,” usir Sica. Dia sama sepertiku, berperan seperti ibunya, hanya saja Sica persis ibu tiri.

“Ne,” sahut Taem pasrah dan pergi meninggalkan kamar.

“Di mana Minho?” tanyaku.

“Dia sudah pergi dengan manajer menjalani jadwalnya. Dia memintaku untuk membawamu ke dorm. Kau perlu ‘dijaga’!”

“Ah, shiro-yo.”

“Kalau kau tak mau, itu sama saja membunuhku. Kau tahu sendiri seperti apa Choi Minho mencemaskanmu. Bahkan tadi malam ia tak bisa tidur karena menungguimu,” ia memelankan suaranya dan menoleh ke pintu kamar, “Ia tak bisa berbuat banyak karena ada Jinki.”

“Jadi eonni sudah tahu hubungan kami?”

Dia mengangguk. “Hm, beberapa jam setelah kalian jadian di Jakarta. Minho memberitahuku.”

Aku mendengus. Kulihat Sica melirik Jonghyun, membuatku mengikutinya. Lantas ia membelai lengan Jjong lembut.

Jjong menoleh. “Noona, aku hampir gila!”

“Kami ada di pihakmu.”

Aku mengangguk setuju. Sica bangkit dan melemparkanku pakaian. “Pakai ini, kita berangkat sekarang. Aku ada jadwal dua jam lagi.”

“Ke dorm Soshi? Aku tak mau.”

“Jira-ya, jangan persulit posisiku!”

Aku mengangguk pasrah. “Ne.”

..to be continued..

+++++++

#Annyeong ( ^o^)/

Nggak tau kenapa feeling saya ngerasa kalo skandal ini palsu. Hehe, ngarep banget ini mah… Semoga readers nggak ada yang anti-Jessica ya. Hehe.. Mengenai pernyataan “Jessica adalah noona terdekat Minho di SNSD”, itu benar. Ada di thanks to album^^

20 thoughts on “We Walk [Part VIII] – Jonghyun’s Scandal

  1. Minta Izin Numpang Promosi ya…

    LOWONGAN KERJA SAMPINGAN GAJI 3 JUTA /MINGGU

    Kerja Management dari program kerja online (Online Based Data Assignment Program / O.D.A.P) MEMBUTUHKAN 200 KARYAWAN diseluruh indonesia yang mau kerja sampingan online dengan potensi penghasilan 3 JUTA/MINGGU+GAJI POKOK 2 JUTA/BULAN, Tugasnya hanya ENTRY DATA, per entry @10rb, Misal hari ini ada kiriman 200 data dari O.D.A.P yang harus di ENTRY berarti kita dapat hari ini @10Rb x 200 = 2 JUTA. “BILA ANDA DAFTAR SEKARANG KAMI AKAN BERIKAN Rp 200.000 Untuk menambah semangat kerja Anda”. Lebih Jelasnya kirimkan (NAMA LENGKAP & EMAIL ANDA) Melalui WebSite http://www.penasaran.net/?ref=cdizbb

  2. Yahhhh dikit #plakkks
    Aku sih ngga anti-jess
    Tapi bukannya suka jg -_-
    Tp emang jess pantes kok

    Aku jg ngerasa foto & scandal itu palsu
    Seru banget, onn
    Kaya nyata
    Lebih seneng ngebayangin versi ini >_<
    Lanjutannya jangan lama2 doooong😄

  3. haloo~
    ulfah imnida
    reader lama baru komen wkw
    maap thor, belon pnya nyali buat komen pas mnggu kmaren hehe

    feelnya dapet wkw
    amiin, moga aja palsu /plakk

  4. kasihan jjong,u..u..
    SM emang rada-rada sinting,
    tapi aku percaya kok om soman sayang sama artisnya,

    kayanya onew suka jira ya?
    huee..cinta segi 4. minho jira onew tetem #plak
    lanjut onn, xd!

  5. huwaaahh…
    gragra ini epep akuu ga bisa tdurrr
    aku jdi mikirrr
    ehh bner ga siiyhh SSK dn jjong itu cma rkayasa ?
    apa mksud SM nglakuin itu ?
    Kn kasian jjongg
    ahh diyaa..bkin aku bngung yng nyata sma yng fiction
    HIKssss T.T
    daebakkk dahhh diya..
    lnjutkan yyyahhh
    jngan lmalma…
    *kedikedip ganjennn
    kekekekkek

  6. ah payah payah, susah bener cuma mu komen -..-;
    aku beneran gatau mu bikin komen apa,
    nih ff dr part awal sukses bikin guling2 galau, awawawaa kak diyaa DAEBAK!
    tp maaf setiap part yg kubaca gabisa slalu ku komen *bow*
    it’s not just a fict kak diya, it’s daebak fict😄

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s