When I call is “love” – PART 4


Author: Yuwe

Cast: Park Kim Hae, Park JungSoo and Henry lau

STORY

[Park Jungsoo POV]

“Jungsoo-ya! Yogi!“ panggil seorang Ahjussi yang duduk di pojok ruangan.

“Jungmin Ahjussi!“ sapaku seraya melambaikan tangan dan berjalan ketempatnya duduk. “Annyeonghaseyo Ahjussi. Lama tidak bertemu.“ Sapa ku lagi sambil menjabat tangannya.

“Ne, Annyeong.“ Balasnya sambil menyalami tanganku, “Kau sudah besar sekali. Silakan duduk!“ suruhnya. Aku duduk di kursi kosong di depannya. Jungmin Ahjussi adalah adik tiri Eomma. Dia tinggal Busan, namun sudah beberapa bulan ini dia pindah ke Seoul bersama keluarganya. Aku jarang sekali bertemu dengannya. Bisa di bilang ini pertemuan pertamaku lagi dengannya setelah 40hari meninggalnya Eomma. Kurang lebih 13tahun aku tidak bertemu dengannya. Hanya lewat teleponlah aku mengetahui kabar Beliau, begitu juga sebaliknya.

Memang sering kali dia meneleponku atau Kim Hae, namun karena terpisah jarak dan kesibukan masing-masing, kita jadi jarang bertemu. Sebenarnya, Eomma masih mempunyai adik satu lagi, namun dia tidak tinggal di korea. Dia dan keluarganya tinggal di Belanda sana.

“Mau pesan apa? Biar aku pesankan.“ Tawarnya.

“Ice Chocolate saja.“ Kataku setelah memilih-milih. Sebenarnya aku tidak haus atau lapar sih.

“Yogi! Ice Chocolate 1!“ teriak Ahjussi dari kursinya kepada pelayan di Caffe itu.

“Ye, Seonnim!“ jawab pelayan itu

“Jungsoo-ya, bagaimana kabarmu dan Kim Hae? Maaf karena aku jarang mengunjungi kalian. Aku sangat sibuk dengan pekerjaanku.“

“Gwaenchana, Ahjussi. Aku dan Kim Hae baik-baik saja. Kabarmu sendiri bagaimana?“ tanyaku. Aku sengaja tidak memberitahu tentang keadaan Kim Hae sebenarnya karena aku tidak mau merepotkannya. Karena Beliau sudah cukup repot mengurusi anak bungsunya yang terkena Autisme.

“Ah, Geureyo? Baguslah kalau begitu.“ Katanya sambil menyeruput kopinya. “Lalu bagaimana pekerjaanmu? Masih bekerja di toko buku itu?“

“Ng.. Aku sudah tidak bekerja disana lagi Ahjussi. Aku mencari yang lebih dekat dengan rumah.“ Akuku

“Oo.. begitu rupanya. Lalu bagaimana keadaan Kim Hae? Dia sudah baikan? Masih sering sakit?“ tanyanya. Terlihat rasa cemas di raut wajahnya.

“Ngg.. Ne. Kim Hae sudah lebih baik sekarang.“

“Jwaesonghamnida, ini Ice Chocolatenya.“ Potong pelayan itu. Di letakannya gelas itu di hadapanku.

“Kamsahamnida.“ Kataku.

“Silakan di minum.“ Suruhnya.

Sesuai suruhannya, aku meminumnya. Kulihat dia tersenyum ramah padaku. “Jungsoo-ya, kau terlihat sedikit kurus.“ Katanya sambil menatapku.

“Ah? A-anieyeyo. Mungkin hanya perasaan Ahjussi saja. Hehehe“ elakku. Memang sebenarnya aku kehilangan 5kg berat badanku sejak Kim Hae masuk rumah sakit waktu itu.

“Jungsoo-ya, sebenarnya ada hal yang ingin aku beritahu padamu.“ Wajah ahjussi berubah jadi serius.

“Waeyo?“ tanyaku penasaran sekaligus takut. Ahjussi selalu membuatku takut dengan wajah seriusnya. Membuatku jadi teringat kembali di saat paling berat untukku dan Kim Hae.

++++++++++++++++++++++++++++

[author PoV]

“Kim Hae-ya!“ panggil Min Ah

“Wae?“

“Kau sudah berkenalan dengan Xiaoxin? Bagaimana orangnya? Dia siapanya Hennie?“ tanyanya penasaran

“Henry bilang sih dia anak teman Appanya. Dia baik kok. Kau mau berkenalan dengannya?“ tanya Kim Hae

“A-Ani.. Aku.. aku cuma penasaran saja.“

“Kau menyukai Henry juga ya Minnyaaaa…? ayo mengaku saja… hahaha“ goda Kim Hae yang membuat merah wajah Min Ah.

“A-ani! M-mana mungkin! Dia bukan tipeku! Lagi pula, bukannya kau yang menyukainya?“

“A-ani!“

“Ah~ mukamu merah tuh! Mengaku sajalah! Hahaha“ tawa Min Ah puas melihat Kim Hae salah tingkah dihadapannya.

“YA! *Ibtamulla! Ibtamulla! (*tutup mulutmu)…“ Min ah semakin puas melihat Kim Hae seperti ini. Dia malah semakin meledeknya.

“Ya! Kalian sedang apa?“ tanya Henry dibelakangnya yang membuat mereka berdua terkejut.

“OMO! Kapchagiya! Aigoo!“ omel Min ah dan Kim Hae sambil memukul lengan Henry

“Ya! Neo waeire?“ katanya kaget melihat reaksi kedua sahabatnya itu.

“Kau yang kenapa! Kenapa muncul tiba-tiba seperti itu?! Membuatku jantungan saja!“ omel Min ah

“Mwo?“

“Ah sudahlah. Annyeong Xiaoxin“ sapa Kim Hae pada Xiaoxin yang sedari tadi hanya melihat dan tersenyum sendiri karena kelakuan Min Ah dan Henry.

“Annyeonghaseyo,Kim Hae ssi.“ Sapanya ramah.

“Ah, Ne. Xiaoxin ini Min Ah. Lee Min Ah.“ Kata Kim Hae memperkenalkan Min Ah pada Xiaoxin. Dia membungkuk sebentar lalu menyapa Min Ah, “Annyeonghaseyo Min Ah. Chao Xiaoxin imnida. Mannabangapseumnida.“

“Ne, Lee Min Ah imnida. Bangapseumnida.“

“Kim Hae-ya!“ panggil Jinki.

“Ne?“ sahut Kim Hae. Jinki memberinya isyarat agar dia ketempatnya. “Ah, arasseo. Jankam..“ katanya sambil berjalan ke tempat Jinki berada.

“Wae Jinki-ya?“

“Kau ada waktu? Kalau boleh aku ingin mengerjakan tugas kelompok kita hari ini. Aku besok ada ujian piano di tempat kursusku. Ng.. jadi aku mungkin tidak bisa mengerjakannya besok. Bagaimana kalau hari ini saja?“ tanyanya. wajahnya terlaihat sedikit gugup saat mengatakan itu.

Sebenarnya tujuan utama Jinki ingin pergi dengan Kim Hae bukanlah untuk mengerjakan tugas kelompoknya, melainkan agar bisa jalan berdua dengan Kim Hae. Karena sudah lama Jinki mendekati Kim Hae, namun Kim Hae sama sekali tidak menyadarinya. Kim Hae pikir kalau Jinki hanya berlaku baik padanya tanpa maksud apapun.

“Ngg.. baiklah. Kita mau melukis apa?“

Jinki terlihat senang dengan jawaban Kim Hae. “Bagaimana kalau kita ke taman? Aku ingin melukis anak-anak yang sedang bermain disana. Ottae? Kau mau?“ jawabnya riang.

“Geure. Kita ke taman. Aku juga ingin melukis mereka.“ Jawabnya. “Karena aku lupa akan masa-masa itu.“ Gumamnya

“Mwo?“

“Ani. Tapi, aku bilang mereka sebentar ya..“ Kata Kim Hae seraya menunjuk tempat Min Ah, Henry dan Xiaoxin berada. Jinki mengangguk mengiyakan. “Kau ikut saja bersamaku kesana“ katanya “Tidak apa-apa. Mereka baik kok. Mereka sudah jinak. Kau tidak usah takut. Hehe“ lanjutnya ketika melihat ragu di wajah Jinki. Jinki tertawa mendengar ucapan Kim Hae.

“Ok.“

“Yo! Minnya, hari ini aku pulang dengan Jinki ya.“

“Ok. Pasti kalian mau mengerjakan tugas tadi ya? Ah! Malas sekali aku harus sekelompok dengan orang itu!“ katanya.

“Memang kau sekelompok dengan siapa Min ah-ya?“ tanya Jinki

“Ah! Itu temanmu, si Kibum! Ah! Malas sekali! Dia pasti mengomeliku tiap detik! Buruk sekali nasibku!“ omelnya “Kau denganku sajalah Jinki! Biar Kim Hae dengan Kibum. Yayayaya?“ rengeknya . jinki yang melihatnya hanya bisa tersenyum

“Kibum sebenarnya baik kok Min ah. Hanya saja dia memang suka keterlaluan dengan ucapannya. Hehe Nanti kau pasti akan suka satu kelompok dengannya.“ Jelas Jinki

“I Hope so… Kalian mau menggambar apa untuk tugas itu?“ tanya Min Ah. Sepertinya dia sudah menyerah dan menerima takdirnya.

“Siapa bilang aku mau mengerjakan tugas? Aku mau kencan dengan Jinki tau. weee“ guraunya pada Min ah yang membuat Jinki tersipu. Sedangkan Henry terlihat kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut Kim Hae barusan.

“Mwo?“ refleksnya

“Yah, kau kencan saja. Tapi jinki, kau harus mengatasi orang itu dulu kalau kau mau mengajak Kim Hae pergi.“ Beritahu Min ah sembari menunjuk Jungsoo yang sudah menunggu Kim Hae di depan gerbang.

“Ah, aku lupa. Hari ini aku di jemput Oppaku Jinki. Sepertinya akan sulit untuk mengajakku keluar. Hehe“ beritahu Kim Hae sambil cengengesan. “Aku yakin sekali dia akan memaksaku ikut pulang bersamanya.“ Lanjutnya.

“Gwaenchana Kim Hae-ya. Nanti kita tentukan lagi harinya. Lagipula kau sedikit pucat hari ini. Lebih baik kau istirahat saja. Hehe“ ucapnya.

“Mianhae Jinki-ya.. aku janji, aku akan mengerjakan bagianku.“ Kataku menyakinkan.

“Ne, Gwaenchana. Aku pulang dulu. Annyeong!“ pamitnya lalu pergi meninggalkan Kim Hae dan lainnya.

“Kau sepertinya menyesal sekali karena tidak jadi pergi dengan Jinki?“ tanya Min ah

“Ani. Geunyang….

“Kau suka pada Jinki yaaaa? Makanya kau tidak marah melihat Hen….“ belum sempat Min Ah menyelesaikan kalimatnya, Kim Hae langsung membekap mulut Min Ah. “Kalian pulang saja duluan. Hehe“ suruhnya pada Henry dan Xiaoxin. Sebenarnya Kim Hae tidak mau kalau Henry sampai mendengar lanjutan dari perkataan Min Ah.

“Kalian ini kenapa sih?“ tanya Henry heran

“Ani, hehehe“

“Ngg.. Kim Hae ssi, sepertinya…“

“Wae? Sepertinya apa Xiaoxin?“ Xiaoxin menunjuk Min Ah yang hampir kehabisan nafas karena mulutnya di bekap Kim Hae. “Ah.. Mianhae Minnya! He he aku lupa.hehe“ katanya sambil cengengesan. Sedangkan Min Ah ngosngosan karena hampir mati kehabisan nafas. Seharian ini dia sudah hampir mati di bekap oleh 2 orang temannya.

“YA!!!!“ katanya kesal

“Aku pulang ya Kim Hae. Lebih baik kau cepat panggil Jungsoo Hyung kemari. Atau kau akan..“ Henry melirik Min Ah “… akan dimakan hidup-hidup oleh Minnie! Hahahaha Ayo Xiaoxin kita pulang!“ sambungnya sambil menarik tangan Xiaoxin untuk segera lari dari situ. “Annyeong !“ teriaknya saat sudah di depan gerbang.

“YA! HENRY LAU! AWAS KAU!“ amuk Min Ah lalu menatap marah Kim Hae.

“Mianhaeyo Minnya.. hehe aku benar-benar tidak sengaja.“ Sesalnya “Habisnya sih, kau tadi hampir membuat jantungku copot! Mianhae!“ pintanya sambil menundukkan kepala.

“Ah sudahlah. Memang aku yang salah. Ayo pulang!“ katanya. Min ah memang paling tidak bisa marah dengan Kim Hae. Begitupula Kim Hae, walaupun Min Ah sering mengusilinya, dia tetap saja tidak bisa di pisahkan darinya.

Kemudian mereka berjalan bersama hingga depan gerbang dimana Jungsoo sedang menunggu Kim Hae.

“Oppa!“ panggil Kim Hae pada Jungsoo. Kim Hae memandang heran Oppanya. Wajahnya sedikit kusut dan dia tidak langsung menyauti panggilan Kim Hae.

“Dia kenapa?“ tanya Min Ah disampingnya

“Entahlah..“ jawabnya. Dia panggil lagi Oppanya itu, “Oppa!“

Jungsoo terkejut melihat Kim Hae dan Min Ah sudah ada di depannya. “Ah, Kapchagiaya! Kau sudah pulang?“

“Ne. Kau kenapa Oppa?“ tanya Kim Hae khawatir.

“Ani. Gwaenchana.“ Katanya kemudian melihat Min ah, “Kau sedang apa disini?“

“Bukan urusanmu.“ Jawab Min Ah ketus. “Aku pulang! Kau hati-hati ya! Sepertinya Otak Oppamu itu sedang konslet.“ Katanya asal seraya pergi meninggalkan Kim Hae dan Jungsoo

“Ya!“ teriak Jungsoo

“Oppa, kenapa kau selalu ketus terhadap Minnya? Diakan sahabatku.“ Tanya Kim Hae.

Sebenarnya Jungsoo bukan benci pada Min Ah, dia hanya suka mengusilinya. Namun dalam hatinya, dia menyayangi Min ah seperti dia menyayangi Kim Hae.

“Ani. Ayo pulang! Kau sudah meminum obatmu?“

“Kau suka sekali mengalihkan pembicaraan Oppa.“ Katanya kesal “Sudah. Aku sudah meminum obatnya. Oia tadi kau kenapa melamun seperti itu?“ tanyanya lagi.

“Ani. Sepertinya tadi aku tidur sambil membuka mata.“ Jawabnya asal.

“Heh! Sudahlah! Terserah kau saja, Oppa.“ Omel Kim Hae. Jungsoo selalu seperti itu jika ada hal yang ditutupinya.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Bagaimana hari pertamamu masuk sekolah lagi?“

“Molla. Sepertinya biasa-biasa saja.“ Jawabnya kesal. Dia jadi teringat Henry dan Xiaoxin. Entah kenapa hal itu membuat hati Kim Hae sakit.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

“Henry ssi, teman-temanmu lucu ya.. aku senang satu sekolah dengan kalian.“ Kata Xiaoxin riang. Henry hanya tersenyum simpul. “Oia, sepertinya namja tadi menyukai Kim Hae.“ Sambungnya

“Mwo?“

“Kau kenapa Henry ssi?“ tanya Xiaoxin khawatir melihat reaksinya

“Ah, Ani. Hehe“

“Oia Henry ssi, apa mereka tau kalau kita sudah tunangan?“ tanya Xiaoxin tiba-tiba

“Ani. Aku sengaja tidak memberitahu mereka. Aku tidak mau mereka berubah sikap padaku. Kau mengertikan alasanku?“ beritahu Henry. Memang benar itu alasan yang membuat Henry tidak memberitahukan kalau Xiaoxin adalah tunangannya kepada Min ah dan Kim Hae. Namun alasan Henry sebenarnya karena dia tidak mau Kim Hae menjauhinya. Karena sampai detik ini, Henry masih mencintai Kim Hae. Walaupun dia tau kondisi Kim Hae yang sebenarnya.

“Ne, arasseoyo.“ Katanya menyetujui. Henry tersenyum simpul.

Perjalanan pulang yang paling canggung yang pernah Henry alami. Dia masih belum merasa nyaman kalau dia hanya berduaan dengan Xiaoxin.

Henry mulai menekan-nekan ipod dan memasang earphone di telinganya, sedangkan Xiaoxin diam saja hanya melihat pemandangan di luar. Sejak pertemuan pertamanya dengan Henry, Xiaoxin sudah mempunyai perasaan khusus pada Henry. Namun sepertinya ia harus memendam rasa itu karena ia tau Henry sama sekali tidak menyukainya.

Flashback di Malam Pertunangan..

[Henry POV]

“Ahjussi! Lepasakan aku! Berhenti sekarang! Aku tidak mau pulang! Ahjussi!“ teriakku sambil terus berusaha lepas dari cengkramannya. Aish! Mereka kuat sekali! Sial! Aku tidak bisa berkutik!

“Nyonya sudah menunggu di dalam, Tuan muda.“ Beritahu ahjussi sesampainya di depan pintu. Dia masih saja memegangi lenganku. Dengan terpaksa aku masuk ke rumah. Eomma sudah menungguku di kamar. Beliau membawakan satu stelan Jas Putih formal beserta dasi dan sepatu Pantofel baru yang mengkilap.

“Cepat ganti bajumu. Sebentar lagi mereka akan datang.“ Beritahu Eomma

“Eomma, aku tidak mau di jodohkan!!! Aku bukan anak kecil lagi, Eomma! Aku bisa mencari dan memilih yeoja mana yang pantas bersamaku!“ debatku. Sepertinya Eomma sudah mengetahui reaksiku akan seperti ini, dia hanya diam saja tidak menjawab apa-apa.

“Ayo cepat ganti baju!“ suruhnya sambil mendorongku masuk lemari pakaian. “Kau tidak punya pilihan lagi Henry. Kau harus menuruti apa perintah Appamu. Kau taukan bagaimana sifat Appamu? Sebaiknya kau menyerah saja.“ Katanya dari kamarku

“Tapi Eomma..“

“Sudah selesai belum?“ tanyanya tanpa menghiraukan alasanku. Aku keluar dari lemari pakaianku dengan kaos hitam yang dibalut Jas putih dan celana Jeans.

“Kenapa kau memakai celana Jeans dan kaos?!“ omelnya. Aku tidak memakai kemeja yang tadi diberikan Eommaku juga celana bahannya tidak aku pakai. “Cepat ganti!“ suruhnya. Aku sangat kesal dengan Eomma, kenapa dia tidak dipihakku kali ini!

“Sirho!“ tolakku tak kalah keras, “Aku pakai baju ini atau tidak sama sekali!“ ancamku

“Henry Lau!“

“Eomma! Waeire!? Aku sudah tidak punya pilihan untuk menjalani kehidupanku! Aku tidak punya pilihan untuk pergi dari perjodohan ini! Dan sekarang aku tidak punya pilihan untuk menggunakan pakaianku?!“

“Eomma! Aku ini manusia bukan patung! Aku punya hati, Eomma.. kenapa kau tidak mengerti itu sekarang? Kemana Eommaku yang selalu disampingku?“

Eomma berjalan kearahku dan memelukku. Lalu berkata di telingaku, “Mianhae Henry-ya. Aku tidak bisa membantumu saat ini. Ini sudah keputusan Appamu.“

Whitney masuk ke kamarku saat Eomma sedang memelukku, “Eomma, keluarga Chao sudah datang.“ Beritahunya. Tak lama kemudian Eomma keluar “Kau cepat menyusul.“ Suruhnya sesaat sebelum menutup pintu.

Aku menghela nafas panjang sesaat setelah Eomma pergi.

“Appa memang begitukan, Gege?“ katanya sambil memelukku. Hatiku sedikit tenang setelah dipelukknya.‘gomawo, whitney.‘ batinku.

“Ayo kita keluar. Jangan sampai Appa marah karena ini“ katanya mengingatkan.

++++++++++++++++++++++++

“Ini Henry anakku.“ Perkenalkan Eomma pada keluarga Chao yang sudah duduk di sana.

Aku membungkuk menyapanya. Kulihat ada seorang yeoja sebayakku yang duduk diantara mereka. Yeoja itu terlihat sangat anggun dengan gaun putih tulang yang di pakainya. Mukanya pun cantik. Kenapa dia mau dijodohkan seperti ini? Ah,iya.. Mungkin nasibnya sama sepertiku.

“Duduk.“ Suruh Eomma. “Ini Chao Xiaoxin. Henry, kau ajak Xiaoin untuk mengobrol di taman belakang.“ Sambungnya. Kuturuti perintah Eomma, ku ajak dia ketaman belakang.

Harus di akui, mukaku sedikit panas saat aku mengajaknya tadi. Dan sepertinya dia juga merasakan hal yang sama, mukanya bersemu merah.

“Ngg.. Henry Lau imnida.“ Kataku membuka pembicaraan.

“Ng X-Xiaoxin imnida.“ Katanya memperkenalkan. Dia terlihat sangat canggung, begitu juga aku. Aku tidak tau harus melakukan apa. Kami berdua hanya diam memandang langit malam. Aku tidak suka suasana seperti ini. Akhirnya malam perjodohanku pun tidak bisa aku hindari. Appa memperbolehkanku tetap berteman dengan Kim Hae. Tapi sebagai gantinya, aku harus bertunangan dengan Xiaoxin, dan aku sudah melakukannya. Bagaimana aku menjelaskannya pada Kim Hae?

[END Flashback]

To Be Continued

Aduh mian, kemaren aq publishx pake khilap (?).. gak nyangka ke pub gambarx doang.. gak pake tulisan… tapi bukan berarti aq sedang stress lho ya, cuman inetx aja yang lagi stress.. hahaha

9 thoughts on “When I call is “love” – PART 4

  1. skrng dah ada tulisannya hahahaha

    aduh.. mian.. aq khilap kemaren..

    komen ff…

    yaaa… ada Jinki n key….
    tp tetep.. kasian ma mochi…
    appanya mochi *lempari telor busuk*

  2. ahirnya ada tulisannya hehehehe…

    kasin bgt si henry..
    tapi kenapa aku lebih setuju kim hae dgn onew ya?? hehehe
    sayang mereka ga jadi kerja kelompok hehehehe……

    ohya, omnya joongsoo ngomong apa ya ampe JS kusut gitu??

  3. annyeong🙂

    author, suka sama jalan ceritanya yang harus bikin kita nebak2 dan gk nemu2 jwabannya dan penasaran dan gak sabar nunggu cerita selanjutnyaa

    daebak !!

  4. Aaa~ sabar ya, Mochi.. Nasib banget.. Ck
    Min Ah sama Leeteuk saling suka, ya? *sotoy*
    Aku penasaran sama pembicaraan di antara Leeteuk dan pamannya.. Hm..
    Kimhae udah mulai suka (lagi) sama Mochi, kayaknya.. Hhe
    Part 5, Eonn~! Hehe

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s