We Walk [Part XI] – She’s Back!


Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part XI] – She’s Back!

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee, and Jira’s mom.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

 

STORY

AKU dan Kibum berada di bandara Incheon saat ini. Baik sekali, di tengah jadwalnya yang padat ia masih bisa menemaniku kemari. Asal kau tahu, minggu lalu ibuku menghubungi kami dan mengatakan akan ke Seoul. Berita yang mengejutkan.

Kemarin aku sempat bercerita banyak pada Jinki melalui telepon. Banyak hal yang kukeluhkan atas kedatangan eomma. Well, aku bukan anak yang kurang ajar, tapi jujur saja kalau kedatangan eomma membawa kesulitan untukku. Terutama pada hubunganku dengan Minho.

“Kupikir ibumu sudah tahu,” ujar Jinki saat di telepon kemarin.

“Itu tak mungkin. Apa yang akan terjadi jika ia tahu aku berpacaran dengan pria seumur adikku, Kim Kibum?”

Jinki terdiam sejenak, kemudian tertawa.

“Oppa, itu tak lucu!”

“Oh, sorry. Umm… Haruskah kau mengatakan kalau pacarmu itu aku? Hingga ibumu dapat menyimpan emosinya… Oke, yang ini lebih tidak lucu. Mian…”

Sekarang giliranku yang tertawa. “I wish I can… Tapi Minho sudah berulang kali mengatakan ingin mengenal eomma. Hhh~ Apa yang harus kulakukan?”

Jinki lagi-lagi terdiam.

“Oppa,” panggilku.

“Otakku sedang tak baik malam ini, Jira-ya. Latihan untuk konser tadi benar-benar mengeksploitasi tubuhku. Saran yang berputar-putar di kepalaku hanya itu. Aku lebih tua darimu setidaknya. Ibumu pasti menyetujuinya. Tapi aku juga tak ingin menyinggung Minho. Dia sangat ingin mengenal ibumu. Jadi, bicarakanlah dengannya! Aku yakin, Minho bisa mengatasi semuanya. Dia pria yang dewasa.”

Wow, seluruh kata-katanya itu memberiku pencerahan. Ide gilanya bahkan sempat menggelitikku untuk menyetujuinya.

“Terima kasih, Oppa. Umm… Ngomong-ngomong, bagaimana dengan persiapan konser?”

“Proses penggarapannya sudah mencapai 80%. Hey, datanglah ke Jepang! Aku ingin kau menyaksikan penampilan soloku.”

“Entahlah. Akan kuusahakan. Aku juga sangat ingin melihat konser perdana kalian…”

Jinki menyela, “Aku sangat mengharapkan kehadiranmu.”

+++++++

      “Noona, ini untukmu.”

Ucapan Kibum membuyarkan lamunanku. Kuterima coffee blend-nya dan menatap terminal kedatangan. Masih sepi. Aigoo, apa kami menjemput terlalu cepat?

Aku mendesah. Akhir-akhir ini beban pikiranku semakin bertambah. Keadaan café sudah mulai stabil berkat bantuan Jonghyun, Kibum, dan Taemin. Mereka kerap datang bergiliran untuk membantu kegiatan ‘promosi’. Teman-teman yang baik. Jika perusahaan tahu, aku bisa digantung dan diminta membayar royalti. Masalah café bisa dianggap selesai, tapi beban pikiran lain bermunculan. Seperti perkataan Minho di mobil malam itu, tugas akhir kuliahku, rumor MinYul yang belum reda, sweater rajutan hadiah natal anak-anak, hingga kasus eomma yang datang secara mendadak saat ini. Aku tak tahu apa tujuannya, tiba-tiba saja ia menelepon dan mengatakan sudah membeli tiket penerbangan ke Seoul.

“Noona, itu auntie,” ujar Kibum, lagi-lagi membuyarkan lamunan.

“Mana?”

Mataku mencari-cari eomma dan ya… aku melihatnya tengah berjalan dengan tumpukan koper. Mantel musim dinginnya, aku yakin itu keluaran terbaru. Entahlah, aku tak hapal siapa desainernya. Eomma tersenyum dan melambaikan tangannya pada kami.

Kibum berbisik sambil membalas lambaian. “Noona, apa auntie sudah tahu mengenai kau dan Minho?”

“Belum. Jadi, bantulah kami, Kibum-eomma!”

“Cih, sudah kuduga. Apa karena masalah umur? Memacari Minho sama saja seperti memacariku, bukan? Dia bahkan lebih muda dariku. Ckckck!”

“Tutup mulutmu! It’s noonas’ generation!”

Kibum tertawa melengking. Sedangkan aku hanya fokus melihat eomma dan berjalan menghampirinya.

“Jira-ya, Bong Bong-ah!” panggilnya. “Ah, aku merindukan kalian.”

“Aku juga,” sahut kami bersamaan.

“Auntie, hentikan memanggilku ‘Bong Bong’. Aku sudah besar.”

Eomma mengerling geli. Dia tersenyum dan mulai mengacak rambut kami bersamaan. Sejak kepindahan keluargaku ke Amerika, eomma meminta Kibum untuk memanggilnya ‘auntie’. Terutama saat Kibum ‘menumpang hidup’ di rumah kami di Amerika saat ia bersekolah di sana selama dua tahun.

“Bagaimana kehidupanmu, Jira-ya?”

“Sangat baik,” sahutku lesu.

“Kau, Bong Bong-ah?”

Kibum memutarkan bola matanya. “Ya, sama seperti noona. Well, Auntie, kumohon hentikan memanggilku ‘Bong Bong’!”

“Apa ada yang salah? Itu cute menurutku,” sahut eomma tak peduli dan mulai berjalan mendahului kami untuk masuk ke dalam mobil.

Perjalanan dari bandara menuju apartemen kulalui dalam diam. Kibum membantuku dengan mengajak eomma bercanda. Mereka sangat cocok, setidaknya dalam hal fashion. Dan jantungku seperti berhenti berdetak saat ponsel bergetar menunjukkan panggilan dari Minho.

Aku mendiamkannya. Tak mungkin menerima di saat eomma masih ada di sampingku.

“Demi Tuhan jawablah, Jira-ya! Aku tak tahan mendengarnya walaupun hanya getaran,” ujar eomma membuat keringat dinginku bercucuran. Kibum yang duduk di depan menoleh ke arahku dan mengedipkan kedua matanya disertai anggukan.

Aku menelan ludah dan menekan tombol untuk menjawab. “Yo-yoboseyo?”

“Jagiya~” panggil Minho manja. “Kenapa lama sekali?”

“A-aku sedang di mobil.”

Entah kenapa, Kibum tersedak lalu menoleh ke belakang dan memelototiku kejam. Aku balas memelototinya dengan bibir membentuk kata ‘wae?’. Dia hanya memutarkan bola matanya jengkel.

“Aku merindukanmu,” ujar Minho.

“Ne, aku juga.”

“Jagiya, apa kau sedang bersama Kibum? Taemin yang memberitahuku…”

“Ne!” sahut Kibum, membuat kedua mataku hampir melompat.

Aku mengecek volume ponsel yang ternyata berada di batas maksimal. Jadi, sama saja seperti loudspeaker dengan volume rendah. Siapapun bisa mendengarnya. Baiklah, tamat riwayatku karena eomma tak berhenti tersenyum geli.

“Err… Aku akan menghubungimu nanti jika sudah sampai. Bye…”

BIP~ Telepon terputus, jantungku berpacu kencang.

“Jadi, itukah alasanmu untuk kembali kemari?” tanya eomma.

Lagi-lagi aku menelan ludah. “A-apa maksudnya? Aku tak mengerti.”

Eomma tertawa. “Jagiya~” ujarnya menirukan Minho. Sial, wajahku mulai memanas dan bisa kulihat Kibum menahan tawa di kursi depan. “Kau harus mengenalkannya padaku nanti malam!”

“Kalau begitu turunkan aku di sini!” pintaku. Mobil berhenti di sisi jalan, aku keluar. “Kibum-ah, tolong antarkan eomma sampai apartemen. Kau sudah tahu passwordnya ‘kan? Mom, sampai jumpa nanti malam kalau begitu.”

Eomma tersenyum anggun, namun terlihat angkuh. “Dengan senang hati, Sayang.”

“Bye…” Kututup pintu dan mobil melesat pergi. Aku mulai berjalan memasuki sebuah gedung. SM Academy, di sinilah aku sekarang.

+++++++

SEPENGETAHUANKU, hari ini Minho dan Taemin ada di sini untuk sharing dengan para trainee mengenai pengalaman mereka selama menjadi artis, atau membagikan ilmu apa saja yang mereka miliki. Rasanya seperti kembali ke tahun-tahun sebelumnya saat aku masih menjadi murid SM. Tiga kali dalam seminggu aku kerap kemari untuk latihan, datang bersama Kibum yang selalu menginap di apartemenku jika sudah memasuki akhir pekan.

Aku mendatangi sebuah dinding yang memajang banyak foto trainee yang pernah mengikuti pelatihan di sini. Di salah satu frame foto, aku bisa melihat diriku bersama kelima member SHINee dan beberapa member SNSD berfoto bersama setelah latihan. Aku masih ingat bagaimana lelahnya latihan. Bahkan tiga lapis kaos yang kukenakan tembus oleh keringat.

“Taemin masih sangat muda seperti bayi. Bukan begitu?” ujar seseorang.

Aku menoleh dan terkejut mendapati pria tua yang menatapku hangat. “S-seonsaengnim, annyeong haseyo.”

Dia tersenyum. “Apa kabar? Bagaimana dengan studimu?”

“Ba-baik. Rencananya aku akan kembali ke sana untuk menuntaskan tugas akhir.”

“Mmm…,” dia mengangguk-angguk sambil memegangi dagunya. “Kau bisa saja bagian dari f(x) jika masih di sini. Berniat untuk kembali?”

Aku sangat terkejut mendengarnya. Lee Soo Man seonsaengnim menawariku kembali menjadi trainee?

“Err… Tidak, terima kasih. Aku sudah nyaman dengan kehidupanku sekarang…”

“Tentu saja. Kau pasti sedang berbahagia dipacari oleh salah satu artisku,” ujarnya sambil berjalan menghampiriku dan tersenyum. “Jadikan ini top secret! Aku tak ingin mendengar Flames menjerit histeris dan berakhir ricuh demonstrasi di depan kantor. Itu sangat merepotkan. Mengerti?”

Dia tahu… Dia tahu…

Aku hanya diam dengan mulut terbuka dan pandangan kosong lurus ke depan. Soo Man-seonsaengnim menepuk bahuku berkali-kali dan berjalan keluar sambil mengatakan, “Ah… Sepertinya baru kemarin aku mengaudisimu. Jaga kesehatanmu, Jira-ya!”

Aku buru-buru berbalik dan memanggilnya, “Seonsaengnim.”

“Hm?” sahutnya.

“Ke-kenapa perusahaan melakukan itu pada Jonghyun?”

Dia berbalik dan tersenyum. “Kami melakukan yang terbaik untuk artis kami, Jira-ya. Kau akan tahu mengapa kami melakukannya jika sudah tiba waktu yang tepat untuk kau tahu.”

“Tapi, itu menyakitinya…”

“Masalah pekerjaan tidak seharusnya melibatkan perasaan. Kau sudah belajar mengenai hal itu, bukan? Dunia yang mereka selami itu keras. Apapun keputusan perusahaan, mau tak mau mereka harus menerimanya agar mendapatkan titik aman dalam pekerjaan mereka. Kami punya rencana lain untuk Jonghyun. Kuharap kau tak menanyakan itu apa karena ini benar-benar rahasia kami.”

“Aku hanya ingin perusahaan memperhatikan perasaan mereka juga. Tidak selamanya sebuah perasaan buruk saat dilibatkan dalam pekerjaan. Mereka harus merasakan kebahagiaan saat melakukan apapun yang mereka kerjakan. Kuharap tak ada lagi ‘korban’ lainnya seperti Jonghyun. Maaf, aku berbicara tak sopan, tapi kurasa ada yang harus dibenahi perusahaan, terutama di bagian manajerial. Ah, aku terlalu banyak bicara,” aku membungkuk hormat padanya, “Senang bertemu denganmu kembali.”

Aku berbalik dan segera masuk ke dalam.

Astaga, apa yang baru saja kukatakan? Semua keluar begitu saja tanpa dapat kukendalikan. Memalukan! Ini terlalu kekanakkan. Mengapa aku tak bisa untuk tidak mencampuri masalah orang lain?

“NOONAAA~” panggil Taemin yang muncul dari dalam. “Kau di sini?!”

Ia berteriak sambil berlari. Aku menyeringai sebelum akhirnya ia melompat memelukku.

“Ouch… Astaga, kau bukan enam tahun, Taemmie!” Aku mendorongnya sedikit karena berat badannya. “Dan apakah kau lupa beberapa hari yang lalu mengungkapkan tinggimu menjadi 177 cm?! By the way, di mana hyungmu?”

“Taesun-hyung? Di rumah, mungkin…”

Aku memukul kening, mau tak mau memaklumi kepolosan Taem. “Maksudku Choi Minho, Tae-ya.”

“Aha~ Minho-hyung?” tanyanya sambil terus mengalungkan kedua tangannya di leherku. “Ada di dalam. Kaja~”

Taemin mengantarku ke dalam. Tak ada yang berubah. Isi gedung ini masih tetap sama. Di dalam beberapa kelas yang kulewati ada banyak trainee yang sedang belajar. Taem terus mengajakku ke ruang latihan, ruangan besar yang menyimpan banyak kenangan bagiku.

“Hyung, lihat siapa yang bersamaku!” teriak Taem saat kami masuk ke dalam. Ada banyak trainee di sana yang menoleh, termasuk Minho dan SNSD Yuri. Mereka semua duduk di lantai membentuk lingkaran besar. Yuri melambaikan tangannya padaku dengan senyum mengembang. Yep, dia rekan ‘membesarkan mata’-ku saat trainee dulu.

Aku menepuk bahu Taem. Ini sangat berbahaya, aku tak ingin para trainee mengetahui hubunganku dengan Minho. Bisa dipastikan di antara mereka banyak yang menyukainya. Aku mendorong tubuh Taem untuk kembali bersama hyungnya dan memberi kode kalau aku akan menunggu mereka di sisi ruangan.

“Taemin-ah, mana rekamannya?” tanya Minho.

Taem menepuk keningnya dan kembali berbalik. “Aku lupa. Terlalu excited bertemu noona,” ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku dan keluar dari ruangan. Benar-benar anak itu…

Ponsel bergetar, sebuah pesan masuk.

BulkaMH: Tunggu sebentar, Mrs. Minho.

Aku tersenyum membacanya. Oh, berhenti menggodaku, Mr. Minho!

JiraKim: Dengan senang hati, Dear.

BulkaMH: Jangan kemana-mana! Di sini ada Soo Man seonsaengnim.

Aku mendongak dan menatap ke arah Minho. Dia sedang serius berbicara, sama sekali tak terlihat seperti baru saja memainkan ponselnya. Lagipula, apa ada yang salah dengan keberadaan Soo Man seonsaengnim di sini?

Buzz

Kuabaikan panggilannya dan menatap berkeliling ruangan. Tempat ini mengingatkanku akan banyak hal. Tiba-tiba ingatanku melayang ke kejadian dua tahun lalu saat Minho menyatakan dirinya baru saja mendapat teman kencan. Tubuhku terasa lumpuh saat itu. Menangis di ruangan ini seorang diri pun tak dapat mengobati semuanya. Kedatangan Jinki pun tak dapat menolongku. Aku hancur saat itu. Perasaanku pada pria di samping Yuri itu terlalu kuat. Membayangkannya pergi dari sisiku saja aku tak berani. Aku selalu merasa ketakutan dia akan meninggalkanku suatu hari nanti.

Buzz

      Buzz

Sekali lagi aku menatap Minho. Dia terlihat bahagia bercengkrama dengan Yuri. Yah, rumor MinYul belum sempat kutanyakan padanya. Dan aku tak tahu apakah ini waktu yang tepat untuk menanyakan hal seperti itu padanya.

Kini Yuri membisikkan sesuatu pada Minho. Semua trainee mendesah senang melihat fan service dari MinYul couple. Kupalingkan wajahku tepat di saat Taemin masuk. Dia melemparkan sebuah kaset ke udara dan menangkapnya kembali.

BulkaMH: Jagiya?

JiraKim: Bekerjalah profesional, Choi Minho!

Minho tak lagi membalas. Dia fokus dengan pekerjaannya. Kukeluarkan headset dan memasangkannya ke telinga. Bigbang – Café, kurasa baik untuk hari ini.

+++++++

MATAKU terpejam di saat Jason Mraz – Butterfly masih mengalun. Kemudian seseorang melepaskan salah satu headset dari telingaku. Minho tersenyum hangat saat aku menoleh ke samping. Dia memasang headset itu di telinga kirinya.

“Bo-go-shi-po,” ujarnya mengeja.

Aku tersenyum dan membalas, “Na-ddo.”

Ternyata ruangan sudah kosong, aku baru menyadarinya. Minho memijat kantung mataku lembut. Setelah itu membuka tutup botol air mineral dan memberikannya padaku.

“Apa yang kau kerjakan akhir-akhir ini sampai tega menyiksa kantung matamu? Kau jadi mirip panda.”

Aku tersenyum dan menggeleng. Belum siap memberitahunya kalau aku sedang menyelesaikan tugas akhir dan akan kembali ke Amerika awal tahun nanti. Tak ingin hal ini menjadi awal perpecahan kami. Aku tahu ini sangat egois. Sebuah ketakutan yang tak perlu jika memang Minho mencintaiku dan berpikir dewasa.

“Minho, ada yang ingin kutanyakan.”

“Hm?”

“Apa arti dari ‘MinYul couple’?”

“Minho dan Yuri,” jawabnya enteng.

“Lalu apa ada hubungan ‘unik’ dalam nama itu?”

Minho terlihat berpikir sejenak. “Sunbae-hoobae.”

“Minho.”

“Noona-dongsaeng.”

“Minho.”

“SM Town family?”

“Minho!”

“Aku sungguh tak mengerti apa maksudmu.” Minho melepas headsetnya dan menenggak air dari botol tadi. Kemudian dia buru-buru menoleh. “Apa kau terpengaruh rumor itu?”

Kutarik tangan kanannya. “Lalu apa ini?”

“Gelang…”

“Minho!”

Dia terkekeh. “Astaga, kau benar-benar termakan rumor itu. Baiklah, akan kujelaskan. Begini, aku membeli gelang ini bersama Onew-hyung. Kami membeli gelang yang sama, hanya saja ia jarang memakainya. Gelang ini simple, karena itulah aku menyukainya. Gelang serupa yang dipakai Yuri-noona itu hanya kebetulan. Kudengar ia mendapatkannya dari sponsor. Dan mengenai kedekatan kami akhir-akhir ini, itu hanya sebagian dari pekerjaan. Perusahaan meminta kami untuk memilih teman satu perusahaan dalam program TV manapun jika ditanya siapa wanita ideal kami. Menurut mereka, hal ini tidak akan membuat penggemar kecewa, karena SM Town adalah keluarga. Begitu, Jira sayang. Jadi, tak perlu khawatir akan MinYul ataupun MinStal. Itu hanya buatan.”

Kulepaskan headset dari telingaku dan menatapnya. “Baiklah, aku puas!”

“Katakan padaku apa yang sedang menjadi beban pikiranmu saat ini!” pintanya sambil mengalungkan kedua tangannya di perutku dan menarikku hingga merapat ke tubuhnya.

“Ibuku datang dan ingin menemuimu malam ini.”

“Benarkah?” sahutnya senang.

“Tapi ada beberapa hal yang harus kau ketahui…,” dia menautkan alisnya menungguku berbicara, “…eomma selalu mengingatkanku untuk tidak berpacaran dengan pria yang lebih muda.”

Minho mengarahkan pandangannya ke lantai, menumpukan kedua sikunya ke paha, tangannya meremas-remas botol mineral kosong.

“Jika saja itu mungkin, aku akan meminta pada Tuhan agar lahir lebih awal darimu.”

Kubelai punggungnya. “Ayolah, eomma lebih menyukai pria yang memiliki pemikiran dewasa, selera fashion, dan manner yang baik. Kurasa kau memiliki semuanya. Ibuku tidak seperti ibu Gu Jun Pyo, Minho-ya.”

Dia tersenyum dan bangkit. “Jadwalku sudah selesai. Ikutlah ke dorm! Antar aku berganti pakaian baru menemui ibumu.”

+++++++

AKU melihat Minho dengan tatapan puas. Ia dibalut rapi tuxedo. Kerja kerasnya menghubungi coordi untuk berkonsultasi terbayar sudah. Mereka juga meminjamkanku sebuah gaun cantik setelah mengetahui eomma mengundang kami kemari, restoran elegant bergaya Eropa. Dan aku bersyukur Minho pernah kemari untuk filming, posisi kami aman.

Mataku tak berhenti memandangi Minho. Ia sungguh-sungguh tampan dari atas hingga bawah. Sepertinya ia menyadari tatapanku, karena ia langsung melirik. “Oh, apa yang kau lihat?” tanyanya menyebalkan.

Kutaruh kepalan tangan di rahang kanan dan menatapnya menggoda. “Hey, aku baru sadar kalau kekasihku itu tampan.”

Dia tersenyum dan aku bisa melihat semburat merah di pipinya.

“Aku sudah sering mendengarnya,” ujarnya angkuh. “Tapi hanya kau yang mampu membuatku seperti ini.”

“Seperti apa?”

Dia mengangkat bahunya. “Entahlah. Di dalam perutku seperti terdapat banyak kupu-kupu, tak nyaman namun menyenangkan. Jantungku… begitulah… sulit mengungkapkannya.”

“Hey,” aku menunjuknya, “Sepertinya kau sudah terperangkap pesona Kim Jira.”

Minho tertawa keras hingga matanya berair. Mau tak mau aku pun ikut tertawa. Ujung mataku menangkap seseorang memasuki restoran. Ups, eomma datang!

Aku menyikut rusuk Minho. “Eomma…”

Ia menatap arah yang kutunjuk dan refleks merapikan pakaiannya, begitu pula denganku. Kami berdiri untuk menyambut eomma. Aku tak berhenti mengerjapkan mata takjub melihat gaun yang ia kenakan. Dapat dipastikan appa pasti menggelengkan kepalanya jika tahu berapa harga gaun tersebut.

Ia tersenyum sambil terus menatap kami dari berbagai sisi. Jantungku berdegup kencang sementara Minho malah terlihat santai, ia bahkan mengatur napasnya dengan baik. Ia juga membantu menarik kursi saat eomma akan duduk. Baiklah, nilai plus sudah di tangan. Mannernya bernilai outsanding!

“Kau…”

“Choi Minho imnida. Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Jung.”

Eomma tersipu dan aku merasa senang.

“Bukankah kau SHINee juga?” tanyanya.

“Ya, benar.”

Eomma berhenti sejenak saat seorang pelayan datang dan menuangkan wine ke gelas kami. Kemudian melanjutkan setelah pelayan itu pergi. “Berapa umurmu?”

Jantungku berdegup dua kali lipat.

“Desember nanti genap 20 tahun…”

“Tapi Jira sudah 21 tahun.”

“Eomma,” desisku. Bisa kurasakan Minho menggenggam erat tanganku yang tersembunyi di balik meja, berusaha memberikan ketenangan.

“Jira-ya, sudah berapa kali kukatakan…”

“Sudah berapa kali juga aku menolaknya, Eomma? Ayolah, umur hanya sebuah angka. Aku sependapat dengan appa, kalau umur bukanlah tolok ukur tingkat kedewasaan seseorang. Minho sangat menjagaku. Eomma bisa mempercayainya.”

Eomma meletakkan gelas wine-nya dan menatapku tajam. “Kau ini bicara apa? Kau pikir eomma akan memisahkan kalian? Come on, aku tak sekolot itu, Kim Jira!”

Perlahan-lahan senyumku mengembang. “So?”

“Yeah, aku tahu siapa Choi Minho. Pria yang kau tangisi saat tiba di Amerika dua tahu lalu…”

“Mom!”

“Kurasa kau tak buruk,” eomma menatap Minho tajam. “Tapi takkan kumaafkan jika kau menyakiti putriku.”

“Tentu, Nyonya Jung. Aku akan menjaganya dengan baik.”

“Panggil aku eomonim!” ujar eomma seraya bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan kami. Aku buru-buru mengejarnya.

“Mom, gomawo.”

Ia melirikku singkat dan menghela napas pendek. “Ah, Jira-ya, kau benar-benar sudah dewasa. Aku sedih menyadarinya.”

“Eomma, ayolah jangan seperti ini!” Ia membelai pipiku lembut.

“Bersenang-senanglah, tapi jangan terlalu larut!”

“Siap!”

Ia melirik Minho kemudian kembali padaku. “Aku suka pakaian kalian. First impression…,” eomma mengangkat jempol kanannya, “…aku pulang. Bye.”

“Bye, Mom…”

Aku mengantar eomma hingga pintu keluar, kemudian kembali ke meja menghampiri Minho. Kulihat ia sedang memelototi ponselnya dan entah kenapa wajahnya memucat.

“Mi-Minho…”

“Aku ke toilet sebentar. Tunggulah di sini!”

Aku mengangguk. Tak lama kemudian ponselku berdering. Panggilan dari Jonghyun.

“Jira-ya, odiga (di mana)?”

“Di kawasan Namsan. Wae?”

“Err… Aku tak tahu bagaimana menyampaikannya… Yaaa, Key!”

      “Noona…”

Aku memutar bola mata. Kibum pasti mengambil paksa ponsel Jonghyun.

“Noona, dia kembali.”

“Nugu?”

“Dia kembali. Shim Chaesa telah kembali…”

…to be continued…

+++++++

*Key dipanggil “Bong Bong” sama tantenya itu benar. Untuk bukti, ada kartu ucapan selamat di pameran seni pamannya. Kartu itu dari tantenya dan dia manggil Key “Bong Bong”.

*Untuk gelang Minho-Yuri, Onew emang pernah pake gelang itu pas filming CF Mexicana. Serupa tapi gak sama sih /plak!

 

#Makasih… See u next part^^/

 

****ahjumma.. cepetan lanjut ya… ^^

10 thoughts on “We Walk [Part XI] – She’s Back!

  1. Aduhh Shim Chaesa udah sama siwon aj,
    Jangan ganggu2 jira sama minho,
    Tpi ga apa2 sih onn, minho berpaling ke chaesa asalkan jira sama onyu jadian,heheh #plak #plinplan

    A-yo onn buru lanjut,

  2. dr baca judulny udah tau pasti shim chaesa bkalan kembali..tp ternyata dakhr crta..sempat kiran *she* itu ibuny jira…hmmm penasaran bkalan trjadi apa,,itu minho ktoilet pst gr2 gu2p..kadang penasaran sm perasaan minho..tp g ada minho pov..penasaran jdny…keren bgt diya mian kmren g bs comment dwp mi2th jdny ngrm wall kfb mi2th…good job…next part dtggu…tp smg aja jira sm jinki..chaesa gpp kmbli n ambil minho..haha..*toss mith*…wah itu taemii ku manja bgt..hehe

  3. kenapa tu orang balik lagi sech??
    udah tau oemma nya Jira udah setuju..
    mana ntar Jira mau balik nyelesaiin Study nya..
    aigoo~..
    lanjutannya ditunggu
    g pake lama..
    ok??*maksa*
    Gomawo~
    ^^

  4. Kayaknya kenal shim chaesa -3-
    Akhirnya ketemu juga tokoh fiksi cewe couplenya suju sama couplenya shinee
    Euuuuuu ngga suka minyul
    Sukanya minho doang atau yuri doang
    Hahahaha
    Tokoh favoritku eommanya jira

  5. duh… Si Minho lgsg ketar-ketir…!! Trus gmn ini?? Kesian jira ihh…
    Kirain yg bkl balik emakny si jira… Tapi ntu sumpah ya… Stylish amat nyokapnya. Haha

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s