SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part IX]


Author: Diyawonnie

 

HYEON duduk di pekarangan sekolah dengan sebuah buku gambar di pangkuannya. Ia mengedarkan pandangan memperhatikan sekitar, lalu mengguratkan pensilnya ke atas kertas. Guru seni kali ini meminta para siswa untuk menggambar sebuah aktivitas di sekolah dan membiarkan mereka keluar kelas untuk mendapatkan objek yang bagus.

Hari ini Taemin tak masuk, jadwal keartisannya membuat ia terpaksa membolos. Hal ini pula-lah yang membuat Hyeon kehilangan semangatnya. Ponsel bergetar, ia melirik layarnya dan terkejut melihat nama si pengirim yang tertera di sana.

From: Taemin

Hyeon-ah, baik-baik saja di sana tanpaku?

Hyeon tertawa, ia menggelengkan kepala dan mulai membalas pesannya.

To: Taemin

Ya…

Ia menjawab singkat dan menekan tombol kirim. Lalu ia menaruh ponselnya di samping kaki dan mulai melanjutkan menggambar. Sesekali ia melirik ponsel, belum ada jawaban. Lagipula apa yang harus dibalas jika hanya menjawab ‘ya’? Ia merasa menyesal sekarang. Mengapa tadi tak jujur saja?

Hyeon meraih ponselnya lagi dan mulai mengetik…

To: Taemin

Err… Sebenarnya tidak…

Pesan terkirim. Jantungnya berpacu dua kali lipat. Apa kira-kira jawaban Taemin? Hingga lima menit terlewati pun ponsel belum juga bergetar. Taemin belum membalas. Hyeon menaruh kembali ponselnya ke tanah dan kembali menggambar walau konsentrasinya mulai terpecah.

Sepuluh menit berlalu, gambarnya sudah hampir selesai. Berulang kali memeriksa ponsel pun sebuah pesan belum muncul di layar. Ia memberikan sentuhan terakhir pada gambarnya lalu menaruhnya di samping kanan setelah semuanya selesai.  Tak lama kemudian ponsel bergetar, ia buru-buru meraihnya.

From: Taemin

Maaf, ada yang harus kulakukan tadi.

Assa! Kau merindukanku. Bertemu sepulang sekolah nanti di gedung SM.

Kebetulan aku punya waktu sambil menunggu jadwal berikutnya. Sampai nanti^^/

Hyeon menggenggam erat ponselnya. Ia mendekap dadanya yang berdegup kencang dengan senyum mengembang.

+++

“Hyung, sedang apa di sini?” tanya Eunhyuk pada Sungmin saat ia keluar dari dorm.

“Tak ada. Tadinya aku mau mengantarkan ini. Tapi, apartemen mereka kosong.”

“Yesung-hyung tadi mencarimu. Oh ya, di mana Kyuhyun?”

“Molla, tadi dia ke bawah.”

“Ah, benar-benar anak itu meninggalkanku. Hyung, aku pergi latihan. Sampai jumpa…”

“Hm,” sahut Sungmin lesu sambil masuk kembali ke dorm.

Saat sampai di SM building, Eunhyuk memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju gedung. Namun, sebuah pemandangan berhasil membuatnya berhenti.

“Oppa, aku membuat bekal ini untukmu.”

“Sooran-ah, aku harus segera masuk ke dalam. Kumohon, berikan aku jalan!”

“Tidak, sebelum oppa memakan semua ini.”

“Sooran-ah~” Kyu mulai frustasi memikirkan cara agar dapat bebas.

Eunhyuk terpaku. Jantungnya berdegup kencang dengan mata tak berhenti menatap Sooran. Ia maju beberapa langkah hingga berhasil mendekati mereka.

“Hyukkie-hyung?” panggil Kyu merasa terselamatkan.

“Ada apa ini?”

“Hyung, bukankah saat itu pernah bertanya siapa yang membuatkan makan siang untukku? Ini dia… ini Shin Sooran. Sooran-ah, ini Eunhyuk-hyung. Kau pasti sudah mengenalnya.”

Sooran tersenyum dan membungkuk. “Annyeong haseyo.”

“Baiklah, kalian mengobrol saja dulu. Aku masuk ke dalam.”

“Oppa!” panggil Sooran yang tak di dengar Kyu. “Kyuhyun-oppa!”

“Err- Kau Shin Sooran?”

“Iya!” jawab Sooran galak. “Aku mau kuliah. Oppa, tolong berikan ini untuk Kyuhyun-oppa!”

“Ah, ne.” Eunhyuk menerima kotak makanan dengan senang hati. “Mau kuantar?”

“Tidak usah,” sahutnya ketus. “Pastikan bekal itu sampai di tangan Kyu-oppa!”

“Yep, kau tak usah khawatir. Sampai jumpa, Shin Sooran.”

Sooran mengibaskan tangannya tanpa menoleh ke belakang. Sedangkan Eunhyuk masuk ke dalam dan menghambur Kyuhyun. “Jadi itu yang namanya Shin Sooran?”

“Ya, kenapa?”

“T-tidak.”

“Apa itu? Untukku?” tanya Kyu seraya menunjuk bekal makan dalam pelukan Hyukkie.

“E-enak saja. Dia memberikan ini untukku!”

+++

CHAESA terjatuh berkali-kali saat memaksakan diri menari. Kyeon sudah melarangnya tapi kau tahu sendiri kalau Chaesa berkepala batu. Ia tak ingin melepaskan kesempatan ini. Dalam lagu yang mengharuskannya menari, ia dipasangkan dengan Jaejoong. Kesempatan besar, bukan?

“Eonni, hentikan! Kau hanya akan menambah luka kakimu.”

“Kyeonnie-ya, aku masih belum menyerah. Jangan paksa aku!”

“Noona memang gila, yeobo-mu saja sama sekali tak peduli…”

“Tutup mulutmu, Seungho-ya!” teriak Chaesa.

“Demi Tuhan…,” Kyeon memutarkan bola matanya jengkel, “…siapa ‘yeobo’ yang kalian maksud selama ini? Eonni, kenapa hanya Seungho yang diberitahu? Ini sungguh tak adil.”

“Bukankah sudah kubilang, akan ada saatnya aku memberitahumu. Sekarang bukan waktu yang tepat.”

“Apa yang kalian lakukan? Ayo, latihan!” teriak Jaejoong.

Chaesa berhenti menari dan berjalan ke pinggir ruangan untuk meraih botol minum dan istirahat sejenak.

“SM Town Concert tinggal menunggu hari. Apa kakimu baik-baik saja, Noona?” tanya Minho.

“Hm…  Lalu bagaimana dengan SHINee?”

Minho mengangguk-anggukkan kepalanya sok tua. “Tak ada masalah. Ahhh, sepertinya uri Taeminnie sedang jatuh cinta saat ini.”

“Taeminnie?!”

Minho mengangguk lagi. “Ya, sepertinya ia jatuh cinta dengan Hyeon…”

“A-apa?! Hyeon? Lee SooHyeon adikku?”

“Hm…”

“Bagaimana bisa?”

“Kenapa bertanya? Apa cinta dapat diprediksi?”

Chaesa berpikir sejenak, lalu menaruh botol minumnya dan berdiri terpincang-pincang untuk kembali berlatih. Minho menggelengkan kepalanya jengkel, lantas ikut berdiri dan menarik lengan Chaesa.

“Noona, mengapa kau begitu keras kepala?”

“Aku ingin berlatih,” Chaesa menarik lengannya, tapi nyatanya cengkeraman Minho lebih kuat. “Minho-ya, lepaskan!”

“Tidak. Bukankah dokter mengatakan kau harus beristirahat selama enam minggu?”

“Tapi konser tinggal tiga hari lagi.”

“Kau tahu apa itu artinya?”

“Tidak. Aku tak ingin menyerah…”

Minho menarik rambutnya frustasi. Ia tetap mencengkeram lengan Chaesa, kemudian menariknya ke sisi ruangan dan memaksanya untuk duduk. Chaesa tak dapat melakukan apapun. Ia sudah tahu betapa tidak mungkin untuk melawan Choi Minho yang sama keras kepala seperti dirinya.

“Aku… tidak pernah memohon seperti ini pada siapapun sebelumnya. Noona, demi kebaikanmu, kumohon lepaskan perform itu. Kumohon!” Minho sedikit menundukkan kepalanya.

Chaesa mengerutkan dahinya. “Apa yang membuatmu begitu peduli padaku, Choi Minho?”

Minho tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan mengacak rambut Chaesa pelan dan pergi kembali berlatih dengan yang lainnya.

“Cih, Choi Minho, aku lebih tua darimu!”

+++

MYU RA tak berhenti menatap jam tangannya. Kali ini ia sedang berada di sebuah pedesaan di Kangwondo untuk mengikuti sebuah filming variety. Pukul dua siang dan ia masih di sini. Memerlukan waktu beberapa jam untuk sampai di Seoul, dan apakah janji ‘mentraktir Kyuhyun’ masih berlaku? Mengingat pria itu sama sekali tak menyinggungnya melalui sms, telepon, maupun aplikasi chating ponsel mereka yang setipe. Tunggu, memangnya mereka sudah bertukar nomor telepon?

“Myu Ra-sshi, apa yang mengganggu pikiranmu?” tanya seorang pria botak yang juga menjabat sebagai PD.

“T-tidak ada, sunbaenim.”

“Bekerjalah dengan baik! Kau orang beruntung yang langsung mendapatkan posisi PD. Seharusnya kau menjabat yang lebih rendah sebagai orang baru,” omelnya. “Sekarang kau diskusikan dengan penulis skrip tentang bagaimana mereka harus bertindak!” perintahnya seraya menunjuk artis-artis yang ada di sana.

“Ne,” sahut Myu Ra kesal.

+++

“Kau kenapa?” tanya Wookie. Ia penasaran mengapa Kyu menekuk wajahnya sedari ia sampai di ruang latihan.

“Hyung, apa selama ini kau tahu Sungmin-hyung berhubungan dengan Myu Ra?”

Wookie mengerutkan alisnya. “Benarkah? Yang kutahu hubungan mereka kurang harmonis. Myu Ra-noona kerap menghindari Sungmin-hyung…”

“Apa maksudmu dengan ‘noona’?”

“Apa?” tanya Wookie bingung. “Dia memang noona, kan? Myu Ra-noona lahir di bulan dan tahun yang sama dengan Donghae-hyung.”

“Benarkah?!”

“Kau tak tahu?”

Kyu menggeleng. “Kupikir ia lebih muda dariku atau seumur.”

“Selalu seperti itu. Kau terlalu percaya diri.”

“Jadi, kami terpaut satu setengah tahun?”

Wookie menjentikkan jarinya. “Yep, tepat sekali. Kenapa? Jangan bilang kalau kau menyukainya! Tunggu, apa dia orang yang kau sebut-sebut teman kencan kemarin?”

Kyu tak menjawab, wajahnya memerah.

“Wah, hebat! Semua orang jatuh cinta…”

“Si-siapa?”

Wookie mengedikkan kepalanya ke arah Eunhyuk. Di mana ia sedang asyik melahap makanan dari Sooran sambil tak berhenti tersenyum.

+++

HYEON dan Ki Young menengadahkan kepala mereka saat sampai di depan gedung SM. Masing-masing mata mereka terpaku pada jendela ruang latihan yang tepat menghadap ke jalan.

“Cepat kau hubungi Taemin!” pinta Ki Young.

Hyeon menurut, ia mengeluarkan ponsel dan mengirim sebuah pesan untuk Taemin. Tak lama kemudian, sebuah kepala muncul dari jendela atas ruang latihan.

“Tunggu, aku segera ke bawah,” teriak Taemin.

“Kau gugup?” tanya Ki Young mulai menggoda.

“Tidak. Bagaimana denganmu, Eonni? Henry-oppa sepertinya ada di sini juga.”

Jantung Ki Young mencelos. Sejak pertemuan pertamanya dengan Henry, ia tak bisa melupakan kejadian itu. Entahlah apa yang ada di pikiran Ki Young mengenai hal ini, tapi orang-orang menyebutnya ini adalah ‘jatuh cinta’.

“Hyeon-ah,” panggil Taemin di meja resepsionis. Ia tak berani keluar gedung tanpa penyamaran. Tangannya melambai riang.

“Masuklah! Aku pulang saja,” ujar Ki Young.

“Eonni yakin? Bukankah sayang sekali melewatkan kesempatan bertemu Henry-oppa?”

“Oh, demi Tuhan, Hyeon-ah. Baiklah aku masuk.”

Hyeon tertawa geli dan berjalan masuk menghampiri Taemin. Mereka tampak canggung satu sama lain dengan wajah keduanya yang sama-sama memerah.

“Aku masuk sendiri,” ujar Ki Young meninggalkan mereka.

Taemin tersenyum canggung. Jantungnya berdegup kencang. Begitupula dengan Hyeon. Untuk beberapa saat mereka tak saling bicara, hanya saling melirik dan itupun hanya sekejap. Karena jantung mereka berdegup berkali-kali lipat.

“A-ayo masuk!” ajak Taem dan Hyeon mengangguk. Mereka masuk ke dalam lalu menaiki tangga. “Apa yang terjadi di sekolah?”

“Hanya menggambar. Itu yang kuingat…”

Yeah, Hyeon… Selanjutnya yang ada di pikiranmu hanyalah Lee Taemin dan ponsel.

“Umm, bukankah tadi kau bilang tak berjalan baik tanpaku?”

JLEB! Wajah Hyeon memanas dan entah bagaimana harus mendeskripsikan degup jantungnya saat ini. Kau pasti paham bagaimana rasanya jatuh cinta dan diberi pertanyaan menusuk ulu hati seperti itu oleh pria yang kau cintai.

“Ada apa memanggilku kemari?” Hyeon balik bertanya, ia mengalihkan pembicaraan.

“Umm, entahlah. Aku juga bingung mengapa memintamu kemari…”

“Kurasa Taem merindukanmu, Hyeon-ah,” celetuk Minho di belakang mereka.

“Hyu-hyung!”

Minho membantu memapah Chaesa untuk kembali masuk ke dalam ruang latihan. Ia tersenyum geli melihat tingkah Taemin yang kelabakan. “Aku benar, kan?”

“Yaa, kalian harus fokus pada sekolah,” timpal Chaesa ikut menggoda.

“Eonni! Ka-kami…”

“Lalu bagaimana denganmu, Hyung?” tanya Taemin, ia melakukan aksi pembalasan. “Tidakkah sakit melihat wanita yang dicintai menatap pria lain?”

“Yaa!” teriak Minho membekap mulut Taemin. “Noona, ayo masuk!”

“Apa maksudmu?” tanya Hyeon yang dibalas senyuman ‘evil’ dari Taemin.

“Kau mengerti maksudku…”

+++

“Sial, nyasar!” umpat Ki Young yang malah memasuki kawasan manajemen. Beberapa blok meja yang tertatap rapi masing-masing menopang satu kompuuter. Dan beberapa karyawan tak memedulikan kehadirannya. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Ki Young berbelok dan berjalan lurus hingga menemukan sebuah studio musik di ujung koridor. Dari dalamnya terdengar alunan suara biola. Ia terpaku melihat siapa yang memainkannya.

“Hello,” sapa pria itu yang sadar sedang diperhatikan. “Oh, kau adik Chaesa, kan?”

“N-ne. H-Henry-oppa?”

Henry mengangguk. “Senang bertemu kau lagi, dan kumohon jangan memanggilku ‘oppa’. Cukup nama saja.”

Henry mengajak Ki Young duduk di sofa dan memberikan sebotol air mineral padanya. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam.

“Bahasa Koreamu lebih baik daripada saat kita pertama kali bertemu waktu itu,” puji Ki Young memulai pembicaraan.

“Benarkah? Wah, terima kasih. Kau tahu, aku sangat berusaha keras selama ini.”

“Yah, kau jenius. Aku bahkan masih berkutat dengan pelajaran bahasa Jepangku.”

Henry yang tengah meneguk minumnya buru-buru menoleh. “Bahasa Jepang?”

“Ya, aku sedang mengincar beasiswa untuk belajar di sana.”

“Wah, hebat,” pujinya sambil tersenyum dan itu membuat Ki Young sedih.

“Tapi entah kenapa sekarang aku tak memiliki keinginan lagi untuk belajar di sana. Aku takut…”

Henry mengerutkan alisnya bingung. “Apa yang kau takuti? Untuk benturan budaya kurasa tak masalah. Kau lihat, aku bisa melaluinya dengan baik di sini. Apa itu yang kau takuti?”

Ki Young menggeleng. “Bukan, bukan itu. Yang kutakuti adalah terpisah… darimu…”

+++

MATAHARI kembali bersembunyi. Langit mulai gelap dan Myu Ra kini sudah ada di mobil perusahaan yang membawanya kembali ke Seoul. Tangannya tetap menggenggam ponsel, sejak tadi siang pikirannya berkecamuk untuk meminta nomor Kyuhyun pada Chaesa atau tidak. Ponsel tiba-tiba bergetar, sebuah pesan masuk.

Myu Ra, kau ada di mana? Aku akan menunggumu di taman sekitar apartemen.

Penuhi janjimu! –Kyuhyun

Tangannya bergetar dan senyum bahagia merekah dari bibirnya. Lihatlah, jika Tuhan menghendaki, ia bahkan tak perlu repot-repot meminta nomor Kyuhyun pada Chaesa. Kyuhyun yang menghubunginya lebih dulu dan kencan mereka sepertinya tak harus ditunda.

“Hai,” sapa Myu Ra saat ia melangkah masuk ke kawasan taman. Di sebuah bangku ia melihat Kyuhyun tengah duduk memainkan ponselnya di sana.

“Oh, hai…,” balas Kyuhyun canggung, “…kau membuatku menunggu, keterlaluan!”

“Bukankah sudah kubilang aku akan terlambat? Kau ini menyebalkan!”

Kyuhyun tersenyum, ia mempersilakan Myu Ra duduk di sampingnya. Dalam beberapa saat suasana hening. Masing-masing sibuk memikirkan topik yang akan dibahas.

“Umm…,” Kyuhyun terlihat sangat berpikir keras, kemudian ia berbicara, “…aku baru tahu kalau kau seorang ‘noona’.”

Myu Ra menoleh kilat dengan ekspresi terkejut. Namun lambat laun ekspresinya melunak, lebih tepatnya pasrah. “Lalu? Apa kau akan memanggilku ‘noona’?”

“Apa kau ingin kupanggil seperti itu?”

“Sama sekali tidak!” tolaknya mentah-mentah.

“Seperti yang kau inginkan,” Kyuhyun menghadapkan wajahnya pada Myu Ra, “Demi Tuhan, kau bahkan tak terlihat lebih tua dariku satu setengah tahun. Saat awal bertemu, kupikir kau seumur dengan Jinki.”

“Jangan bercanda!”

“Aku tak bercanda. Ini serius!”

Myu Ra menoleh dan mendapati Kyuhyun tengah menatap padanya. Jantung mereka tiba-tiba berdebar keras.

“A-aku baru tahu kalau kalian berkencan,” ujar Kyuhyun seraya memalingkan wajahnya.

“Siapa dan siapa?”

“Kau dan Sungmin-hyung.”

Myu Ra tertawa. “Aku bahkan tak menyukainya. Bagaimana mungkin bisa berkencan, kau tahu sendiri bagaimana tabiat Sungmin. Pria yang sangat kasar.”

“Jadi, kalian tak ada hubungan apapun?”

“Ummm, tidak juga. Kami mempunyai hubungan,” sahut Myu Ra membuat Kyuhyun menyipitkan matanya menyelidik. Kemudian ia melanjutkan, “Setidaknya kami bertetangga, bukan?”

Tawa Kyuhyun meledak. Ia merasa dipermainkan.

“Kau… anak nakal!”

Kyuhyun dan Myu Ra menikmati waktu mereka bersama. Mengobrol lebih intim di taman nyatanya lebih berharga dibandingkan makan bersama di sebuah restoran mewah ataupun café. Kyuhyun tak berhenti membuat Myu Ra tertawa. Dan tanpa sadar seseorang mengawasi mereka dari jauh…

..to be continued..

#Yay udah basi banget ini FF. Tapi semoga masih ada yang mau baca dan komen. Keke~ Makasih^^/

 

7 thoughts on “SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part IX]

  1. Waaahh ,minho suka sama chaesa yaaaa ??xD

    Hihi ,aq suka KyuRa couple dah .. xP .. Lanjut lanjut .. Aq ma Sungmin aja hohoho

    Oh ya Aq minta alamat fbnya Onn ..pengen kenal sma sang author yg daebak ini .. ^^

  2. setelah sekian lamaaaa, akhirnya publish juga…

    aku nyari2 lanjutan kisahnya jinrin-teuki tapi gak ada😦
    yah, gapapa deh… cerita couple2 yang lain juga seru.

  3. Anyoeng diya oenni, mitha oenni, aku reader bru dsini. Aku ngebut loh bca sarababo dr part 1, tp mian bru komen dsini.. *ol di hape*.. Oenn, nti chaessa jd ma wonpa or ma minho?? *lebih sreg minho sich*

    Blog’y diya oenni apa ya?? Aku suka we walk:). Truz bwt mitha oenn, kpn coklat in love’y di pub lge?? Hwaithing ya oennideul, the awesome ff maker..

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s