SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part X]


Author: Diyawonnie

 

Hari ini SM Town Concert digelar. Delapan lembar tiket tertata rapi di atas meja. Semalam Chaesa mengantarkannya langsung kemari, berharap seluruh keluarganya dapat menonton. Di ruang tengah, tampak Seera sibuk berkutat menyiapkan baju apa yang akan dikenakannya.

“Aku pergi dulu,” pamit Myu Ra.

“Eonni, yakin takkan nonton?” tanya Seera.

Myu Ra menggeleng pasrah. Semalam PD sunbaenya menghubungi dan memintanya untuk datang ke kantor pagi sekali. Akhir-akhir ini memang sedang merencanakan pembuatan variety show baru untuk idol group yang baru saja debut. Bagi banyak orang, mungkin kehadiran idol group baru adalah hal yang sangat dinantikan. Tapi baginya, ini adalah bencana, karena ia dan timnya harus bekerja lebih keras menggali ide yang ada di kepala mereka dan menuangkannya ke dalam sebuah variety show.

“Sampaikan saja maafku pada Chaesa dan yang lainnya!” ujar Myu Ra dan menghilang di balik pintu keluar.

Seera memutuskan sebuah baju yang akan dipakainya. Setelah itu kembali ke kamar dan menemukan Sangmi tengah memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.

“Eonni, apa yang sedang kau lakukan?”

“Seperti yang kau lihat, membereskan baju.”

Seera tak mengerti mengapa Sangmi melakukan itu. “Eonni mau liburan?”

Sangmi berhenti beraktivitas, ia memandang Seera sejenak dan menangis. “Aku kembali dipindahtugaskan. Kali ini ke Busan, dan mereka bilang keputusan ini tetap. Takkan ada perubahan lagi.”

“Apa? Itu artinya kau takkan kembali?”

“Tidak juga. Aku masih bisa kemari jika sedang libur panjang ataupun cuti,” sahutnya dan kembali memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.

“Mari kubantu!” Seera berjalan menghampiri Sangmi, namun ia tak melihat ada kabel terbentang di depannya.

BRUK!

“KYAAAAAA~”

Kabel yang terhubung pada setrika tertarik dan mendarat di kaki Seera, di mana ia jatuh menelungkup di sisi kasur.

“Ya, Kim Seera, apa yang kau lakukan?”

“EONNI, JAUHKAN SETRIKA LAKNAT ITU DARI KAKIKU!”

Sangmi berlari mengitari kasur, lalu menaruh setrika kembali ke tempatnya. Seera masih menjerit, kulit kakinya melepuh.

“Ada apa?” tanya Jin Rin dari pintu masuk. “Astaga, Seera-ya!”

Ia buru-buru masuk ke dalam dan berusaha mengobatinya. Setelah berkutat beberapa menit, akhirnya selesai dan kaki Seera terbungkus perban dengan apik.

Sangmi menghela napas lega. Ia kembali membereskan baju-bajunya ke dalam koper. “Sudah tahu kau ini kikuk, masih saja sok-sok mau membantuku.”

Seera mendelik. “Sudah syukur aku yang terkena sial, bukan eonni!”

“Apa?” Sangmi berhenti sejenak dan menatapnya galak. “Entah kepindahan ini membuatku senang atau tidak, yang jelas aku merasa sedikit lega karena terbebas darimu.”

“EONNI!!!” jerit Seera dan melompat hendak menjambak Sangmi.

“Seera-ya, kakimu!” teriak Jin Rin.

 

+++

 

CHAERI menyandarkan sepedanya ke sebuah pohon. Ia berjalan mengendap-endap dan mengejutkan Sulca.

“Ya, Park Chaeri, kau benar-benar…”

“Wae?” tanya Chaeri sembari tersenyum riang. Membuat jantung Sulca berdebar dua kali lipat. “Sulca-ya, apa yang kau lakukan di sini?”

Sulca tersenyum. “Mengapa kau kembali memanggilku ‘Sulca’?”

“Entahlah. Menurutku nama Sulca lebih cantik dibandingkan Kimmie. Jadi, apa yang kau lakukan di sini?”

“Lalu apa yang sedang kau lakukan di sini? Mengekoriku?”

“Ya, Kim Sulca, aku yang bertanya duluan.” Chaeri mendorongnya gemas.

“Hanya menikmati waktu kosong.”

Chaeri mendengus. Kemudian ia memainkan rambut Sulca. “Rambutmu indah sekali. Nampak seperti bukan rambut…”

Hati Sulca atau yang sebenarnya Heechul, mencelos. Lalu ia menarik diri dan menjauhi Chaeri.

“Wae?” tanya Chaeri.

“Jangan sentuh rambutku, maaf!”

“Oh, maaf kalau begitu…”

“Tidak. Kumohon jangan salah paham! Aku hanya tak suka ada yang menyentuh rambutku. Itu bisa membuat tubuhku merinding.”

Chaeri tertawa.

“Jangan menertawakanku!” ujar Sulca dan diam-diam membenarkan posisi wig-nya.

“Aigoo, Sulca-ya, kau aneh sekali,” pekik Chaeri sambil mengaleng bahu Sulca.

DRRRT! DRRRT!

Sulca membuka pesan yang masuk. Itu dari manajer, ia meminta Heechul untuk segera datang ke stadion. Beberapa jam lagi konser akan dimulai, bahkan seluruh member sudah berada di sana.

“Aku harus pergi.”

“Kenapa buru-buru? Kita baru saja bertemu setelah sekian lama…”

“Aku harus pergi,” ulang Sulca tegas dan berjalan menjauhi Chaeri.

“Tunggu! Mmm… Sulca-ya, apa kau datang ke konser SM Town?”

Sulca kembali berjalan dan menjawab lirih. “Tentu. Sampai jumpa.”

 

+++

 

MYU RA kembali memandang ponselnya dan selalu mengeluarkan napas berat setelahnya. Jika dikatakan ingin marah, tentu ia ingin. Perusahaan memintanya untuk bekerja lembur menggarap sebuah variety show baru hingga konsepnya benar-benar matang dan siap diproduksi dalam waktu dekat.

Myu Ra-ya, pukul berapa kau akan kemari? Hubungi aku jika sudah di sini. Akan kuajak kau berkeliling backstage. Itu menyenangkan^^

Isi pesan itu membuatnya semakin ingin menangis. Ia sudah berjanji pada Chaesa untuk menghadiri konser pertamanya bersama keluarga SM setelah setahun debut. Bahkan ia juga telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk melihat Kyuhyun tampil. Tapi seperti yang kau tahu, manusia hanya bisa merencanakan. Selanjutnya, hanya Tuhan-lah yang memutuskan.

“Kau kenapa?” tanya PD sunbae.

“Tak apa-apa,” sahut Myu Ra lesu.

“Kau sakit?”

Myu Ra menggeleng. Ia hanya menggurat-guratkan penanya ke atas selembar kertas. Saat ini sedang break, dan ia memilih diam di ruang meeting, menelungkup tragis di atas meja ditemani secarik kertas dan pena.

“Aku ingin tahu isi kepalamu,” ujar PD itu sambil duduk di atas meja.

Myu Ra bangun, merogoh isi tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas lalu memberikannya pada PD. Pria botak berjanggut itu segera membacanya dan sesekali mengangguk-anggukkan kepala.

“Oke, konsepmu lumayan. Aku akan menampungnya. Datanglah besok sebelum pukul delapan. Aku menunggu di ruanganku. Ingat, jangan membuatku lama menunggu!”

Myu Ra hanya bengong di kursinya. Ia tak mengerti.

“Hey, Myu Ra-ya, kau pikir aku tak tahu apa yang kau inginkan? Pergilah! Nikmati konsernya…”

“Ne?”

“Baiklah, aku berubah pikiran…”

“Jangan!” sela Myu Ra. “Sunbae, terima kasih. Sampai jumpa…”

 

+++

 

“Eonni, hwaiting!” ujar Hyeon.

“Wah, kalian datang. Terima kasih,” pekik Chaesa. “Mana yang lain? Hanya kalian berdua?”

Ki Young dan Hyeon mengangguk. Saat ini mereka sudah ada di backstage berkat bantuan Henry. Perlu kalian ketahui, ‘ungkapan’ Ki Young saat itu pada Henry berdampak positif. Entah bagaimana mulanya, tahu-tahu mereka kini sulit dipisahkan. Hubungan ini dapat dikatakan berjalan tanpa ada seorang pun yang meminta satu sama lain menjadi pacar, ini bisa kalian sebut dengan ‘Hubungan Tanpa Status’.

“Aku ganti kostum dulu,” bisik Henry. Ki Young mengangguk malu-malu.

Chaesa memicingkan matanya curiga. “Jadi, kalian sudah sejauh ini?”

“Tidak, kami masih di sini,” sahut Ki Young asal.

“Ya, Kim Ki Young, berhenti memusuhiku. Aku tak tahu apa alasannya, kau selalu seperti ini sejak dulu.”

“Itu karena eonni sembarangan mendaftarkanku mengikuti beasiswa ke Jepang tanpa kuketahui.”

“Tapi pada akhirnya kau sendiri yang senang karena lulus tes awal.”

“Aku sudah tak menginginkannya lagi sekarang…”

“Aku tak ingin mendengar alasannya kalau itu karena Henry. Jangan bodoh! Aku tahu belajar ke Jepang adalah cita-citamu sejak dulu.”

“Ya, tapi bukan saat ini, eonni.”

“Wae? Kau baru lulus SMA beberapa waktu lalu, sekarang sudah sepantasnya untuk melanjutkan kuliah kan?”

“Kumohon hentikan!” potong Hyeon. “Ini bukan di rumah. Chaesa-eonni, jangan membuat buruk image-mu di depan staff lain!”

Chaesa menghela napasnya dalam, sedangkan mata Ki Young mulai berkaca-kaca. Minho datang dan berdiri di samping Chaesa. Ia tersenyum riang dan menyapa Ki Young dan Hyeon.

“Annyeong…,” sapanya. “Rupanya kau di sini. Hyeon-ah, Taemin mencarimu.”

“Ya, akan kutemui nanti, Oppa.”

Mata Ki Young masih tak lepas dari Chaesa. Perlahan-lahan air matanya terjatuh. “Aku hanya… tak ingin berpisah dengan kalian… Sarababo…” Ia berbalik dan pergi dari sana. Hyeon ikut berbalik dan menyusulnya.

“Apa aku datang di saat yang salah?” tanya Minho.

“Tidak juga. Apa kau lihat Jaejoong-oppa?”

Minho diam tak menjawab, ia mengalihkan pandangannya dan pergi dari sana.

“Hey, ada apa dengan semua orang hari ini?” tanya Chaesa jengkel pada dirinya sendiri.

 

+++

 

DARI sebuah taksi keluarlah Seera, Jin Rin, Sooran, Chaeri, dan Sangmi. Mereka datang tepat gerbang stadion dibuka. Antrian masih panjang dan ini membuat mereka syok. Matahari cukup terik, tapi ini cuaca yang sangat baik untuk sebuah konser outdoor.

“Tunggu aku!” rengek Seera. “Kalian tak lihat aku jalan terpincang-pincang?”

Jin Rin berhenti, ia menunggu Seera. Nalurinya sebagai seorang dokter keluar dan memperlakukan Seera seperti pasien pada umumnya.

“Bagus, Jin Rin. Anak pintar,” ujar Seera menyebalkan.

“Diam atau kau kutinggalkan.”

“Oke,” Seera melakukan gerakan seperti meretsleting bibirnya.

Dari arah kanan, Myu Ra berusaha lari menghampiri adik-adiknya. “Ya, Babooo~” teriaknya dan berhasil membuat kelimanya menoleh. Terjadi sedikit keributan saat Seera mengadukan kejadian yang menimpa kakinya di rumah tadi. Myu Ra memberikan perhatian seadanya, sedangkan Seera menginginkan lebih.

“Lalu apa yang harus kulakukan untukmu, Seera-ya?” tanya Myu Ra jengkel.

“Sebagai leader yang baik, gendong aku sampai dalam, eonni-ya…”

“Apa? Lupakan! Kau satu-satunya yang takkan kutraktir makan nanti.”

“Kyaaa, eonni, mianhae…”

“Jauh-jauh dariku!” usir Myu Ra, sedangkan yang lain hanya menggeleng-geleng kepala.

Setelah melewati gerbang, mereka berjalan menuju seat masing-masing. Chaesa memberi mereka tempat yang strategis. Di ujung kursi, terlihat Ki Young dan Hyeon sudah nyaman dengan tempat duduk mereka.

“Sejak kapan kalian di sini?” tanya Sooran.

“Beberapa jam yang lalu,” sahut Hyeon.

“Ki Young-ah, kau terlihat seperti habis menangis. Apa ada masalah?” bisik Sooran lagi.

Ki Young terdiam. Dia tak menjawab. Percuma rasanya menyembunyikan rahasia dari Sooran. Gadis super sensitif itu bisa merasakan perubahan sekecil apapun yang ada di sekitarnya.

Beberapa screen raksasa yang terpasang di stage dan sekitarnya mulai menampilkan VCR opening. Konser pun dimulai…

 

+++

 

SEUNGHO berulang kali menenangkan Kyeon. Gadis itu sangat gugup. Maklum, ini konser pertama Squash bersama keluarga SM lainnya setelah mereka debut setahun yang lalu. Di samping itu, Chaesa hanya berjalan mondar-mandir berharap kakinya menjadi lebih baik.

“Kyeon-ah, hentikan! Kau selalu seperti ini. Lebih baik kau berlatih atau berdoa,” ujar Seungho.

Chaesa menoleh dan tersenyum geli. Inilah kekurangan Kyeon dibalik kesempurnaannya. Ia selalu gugup jika akan tampil. Padahal mereka sudah memiliki jam terbang tampil yang lumayan. Tapi itu tetap tak merubahnya.

Jaejoong datang menghampiri mereka. “Masih saja seperti ini,” ujarnya sambil menepuk kepala Kyeon.

“Ah, aku benar-benar gugup, Oppa.”

“Kemari!” Jaejoong mengulurkan tangannya dan menarik Kyeon dari sana lalu membawanya jalan-jalan. Chaesa tak berhenti menatap mereka. Hatinya pedih. Berulang kali menyatakan kakinya sakit pun Jaejoong tak memedulikannya.

“Noona,” panggil Seungho. “Kumohon hangan berpikir negatif dulu!”

“Tentu saja tidak,” sahut Chaesa bohong, lantas beranjak dari sana.

Chaesa berbaur dengan anak-anak SHINee dan para coordi. Ia duduk di antara Jonghyun dan Key. Tatapan matanya kosong, wajahnya sangat muram.

 

+++

 

“KYAAAAA! KYAAAA!”

Teriakan-teriakan dari ribuan penggemar yang ada di sana tak pernah berhenti. Stadion masih tetap hidup walaupun konser telah berjalan selama enam jam. Bahkan Seera melupakan cedera kakinya, karena ia sempat nekat ingin menaiki pagar pembatas. Beruntung para babo berhasil mencegahnya.

Setelah konser berakhir pun suasana stadion masih tetap ramai. Rata-rata penggemar masih belum mau meninggalkan tempat mereka berharap idolanya muncul kembali. Namun tentu saja, itu hanya sebuah harapan. Karena pada kenyataannya, para artis langsung ke backstage untuk beristirahat ataupun merayakan berakhirnya konser ini.

“Apa-apaan tadi. Apa kalian lihat?” sungut Sooran.

Yang lain menggeleng.

Sooran menjelaskan. “Kalian sungguh tak lihat Jaejoong-oppa dan Kyeon terus berpegangan tangan selama encore?”

“Ah, aku lihat,” teriak Chaeri. “Tapi aku tak lihat Chaesa.”

“Aku melihatnya,” sahut Sooran. “Aku melihatnya menangis. Namun berpura-pura menangis karena terharu akan konsernya.”

“Baiklah, ayo kita ke backstage!” ajak Myu Ra. Kyuhyun telah menghubunginya dan meminta untuk segera ke backstage.

“Memangnya boleh?” tanya Sangmi.

“Y-ya, kemarin aku sudah bicara dengan Chaesa,” sahut Myu Ra bohong.

“Baiklah, ayo!” teriak seera semangat. Sedangkan yang lain mulai menyingkir darinya. Tak ingin tertular sial.

 

+++

 

TAEMIN berlari menghampiri para Babo, atau lebih tepatnya menghampiri Hyeon. T-shirtnya basah karena tadi sempat diguyur air mineral oleh hyung-hyungnya. Hyeon hanya diam, menikmati pemandangan bagus itu sedekat mungkin. Rasanya mustahil bisa seperti itu kalau saja ia bukan Sarababo.

“Annyeong,” sapa Taemin.

Hyeon mengangguk dan tersenyum. Senyum yang dapat membuat Taemin melayang. Ia membawa Hyeon ke sebuah sofa, di mana hanya ada Jonghyun dan mereka mengobrol di sana. Sedangkan Sooran langsung berlari mendekati Kyuhyun.

“Oppa,” panggilnya.

“Oh hai, Sooran-ah. Mana yang lain?” tanya Kyuhyun.

Senyum Sooran memudar. Ia merasa sedikit sesak di sekitar dadanya. Di Sarbob, yang Kyuhyun kenal baik hanya Chaesa, Sooran, dan Myu Ra. Karena ia sudah sangat sering bertemu dengan Chaesa, lalu siapa yang ia maksud dengan ‘yang lain’ itu?

“Myu Ra-ya,” panggil Kyuhyun saat matanya menemukan yang ia cari. Ia berlari menuju Myu Ra meninggalkan Sooran. “Hai…”

“Hai.”

“Kau sudah makan? Ikut aku kalau begitu!” ajak Kyuhyun dan tanpa basa-basi menggamit tangan Myu Ra.

Sooran menatapnya pedih. Matanya mulai berkaca-kaca. Namun, dari jauh Eunhyuk memperhatikannya. Kini ia tahu semuanya. Semua mengenai perasaan Sooran. Gadis itu dilihatnya pergi ke sudut ruangan. Ia mengikutinya.

Eunhyuk duduk di samping Sooran, mencari waktu yang tepat untuk memulai pembicaraan. Sedangkan Sooran yang menyadari Eunhyuk di sampingnya, langsung berdiri dan pergi dari sana.

“Tunggu!” panggil Hyukkie, namun Sooran pura-pura tak mendengarnya. Ia terus berjalan keluar ruangan. “Shin Sooran…”

Mereka berhenti di sebuah ruangan kecil yang sepi. “Berhenti mengikutiku!” isak Sooran.

“Aku tak bisa.”

“Apa kau senang melihatku seperti ini?”

“Tidak. Tidak sama sekali.”

Sooran berjongkok sambil menutupi wajahnya dan menangis lebih kencang. Eunhyuk bingung harus melakukan apa. Ia hanya diam di belakang Sooran. Tangannya mengepal dan menempelkannya di mulut.

“Wae?!” pekik Sooran. “Kenapa harus Myu Ra-eonni?!”

Eunhyuk ikut berjongkok dan perlahan-lahan membelai rambut Sooran. Ia menarik kepalanya dan menyandarkannya ke dada.

 

+++

 

“Sangmi-ya, kau datang?” sapa Wookie.

“Wookie-sshi, ada yang ingin kusampaikan padamu…”

“Apa itu?”

Sangmi terdiam sejenak. “Aku harus pindah ke Busan. Mereka lagi-lagi memindahkanku. Aku… aku minta maaf atas semua yang telah kuperbuat padamu. Aku selalu memperlakukanmu tak baik…”

Wookie tak menyahut. Ia hanya diam menatap lekat mata gadis yang ada di hadapannya. Wookie berjalan lebih dekat, ia memeluk erat Sangmi.

“Aku tak ingin kau pergi. Kau mengerti perasaanku…”

Sangmi mulai menangis. “Maaf… Aku harus pergi…”

“Sangmi-ya, aku menyukaimu…

 

+++

 

PRANG!

Seera memecahkan vas bunga kecil di samping meja tempat makanan. Para Babo satu per satu mulai meninggalkannya. Mereka malu! Seera lagi-lagi mempermalukan mereka dan dirinya sendiri. Dengan kaki terpincang-pincang, ia memungut pecahan vasnya.

“Mari kubantu,” ujar Donghae. Seera terkesiap melihatnya.

“Jangan! Nanti kau sial juga.”

Donghae tertawa dan tetap membantu.

“Sudah, jangan dilanjutkan! Aku akan menyuruh Office Boy nanti. Lebih baik kau duduk saja. Kakimu sedang luka, kan?” tanya Donghae sambil melirik kaki Seera yang diperban. Kemudian ia memegang tangan Seera dan membawanya ke sofa di sisi ruangan

“Sebaiknya kau pergi. Jangan ada di dekatku. Aku selalu merusak apapun yang ada di sekitarku. Aku bisa mempermalukanmu.”

“Lihat ini,” Donghae mengangkat kedua tangannya. “Tangan ini juga tangan perusak.”

Seera menatapnya bingung.

“Aku juga sering merusak barang-barang member SuJu.”

“Oh ya?”

Donghae tersenyum dan mengangguk. “Lee Donghae imnida. Satu-satunya member SuJu yang paling tampan.”

“Oh, jadi kau member SuJu?” teriak Seera.

“!@#$%^&*()_*^$#%”

 

+++

 

CHAERI duduk di sebuah bangku tengah memandangi sebuah foto. Keningnya berkerut, ia berpikir keras. Foto Heechul yang sedang memakai rambut palsu menjadi ‘Heesica’ di konser Super Show 2 menarik perhatiannya.

“Ini sulca… tapi orang-orang tadi mengatakan ini Heechul. Aku tak mengerti.”

“Annyeong,” sapa seseorang.

Chaeri menoleh. “Sulca-ya… Kau menonton di mana tadi? Aku tak menemukanmu.”

“Cukup dekat,” jawab Sulca dan duduk di samping Chaeri. “Apa yang kau lakukan sendirian di sini?”

Chaeri menyembunyikan fotonya.

“Ah ya, aku akan mengenalkanmu dengan Chaesa. Kau masih ingat ceritaku dulu kan?”

“A-apa? Ah, Chaeri-ya…” Sulca mulai gelisah. “Aku harus pulang.”

“Pulang? Tidak sebelum bertemu Chaesa. Bukankah kau pernah bilang sangat mengidolakannya?”

“Tapi, aku benar-benar harus pulang…”

“Heechul-ah, sedang apa kau dengan pakaian seperti itu di sini?” panggil Hankyung.

Chaeri refleks melepaskan pegangannya pada Sulca. “Hee… Heechul?”

“Ya, memang dia ini Heechul kan?” ujar Hankyung polos. Heechul mendelik jengkel. Kemudian dengan perlahan ia menarik lepas rambut palsunya dan menarik kepala Chaeri lalu menciumnya.

 

+++

 

Tiga minggu kemudian…

HENRY membantu Ki Young memasukkan koper-koper ke dalam bagasi mobil. Hari ini ia harus pergi meninggalkan Korea menuju Jepang untuk melanjutkan studinya. Dan sejak kemarin ia tak berhenti menangis. Perpaduan rasa senang, sedih, terharu, semuanya bergolak di dalam hati. Ia tak ingin berpisah dari Henry, pria yang kini telahresmi menjadi kekasihnya itu.

“Aku akan pulang bulan depan,” isak Ki Young.

“Babo!” umpat Seera. “Jangan habiskan uangmu untuk membeli tiket. Kau contoh Sangmi-eonni yang pergi dengan tenang minggu lalu.”

“Sangmi-eonni hanya keluar kota, bukan negara sepertiku!”

“Sudah, sebaiknya kita ke bandara sekarang,” ajak Henry.

Di bandara Ki Young hanya duduk di sebuah kursi. Ia enggan untuk beranjak walau pesawat hendak lepas landas dalam beberapa menit lagi.

“Ayo, pergi!” usir Henry.

“Kau…”

Henry menciumnya.

“Jangan memikirkan apapun kecuali masa depanmu. Pulanglah jika kau sudah menyelesaikan studimu…”

“Tidak. Aku akan pulang musim panas…”

“Dua tahun yang akan datang,” sela Henry.

Ki Young mengangguk pasrah. Itu karena ia memang diharuskan mempelajari bahasa Jepang selama dua tahun, baru memilih sebuah universitas. Ia berjinjit dan mengecup kening Henry.

“Saranghae…”

“Aku juga. Jika ada kegiatan di Jepang, aku akan berusaha untuk menemuimu. Jangan mengabaikan perutmu dan jangan menerima minuman dengan tutup yang telah terbuka!”

“Ne~”

Henry tersenyum puas. “Anak pintar,” ujarnya sambil menepuk kepala Ki Young. “Pergilah!”

Ki Young berjalan meninggalkan Henry… dan Korea…

 

— To be continued–

 

7 thoughts on “SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part X]

  1. cek cek… Komen ku masuk ga?

    Diyaaaa *sok akrab bener dah*
    Semua couple dibahas, tp jinrin+teuki ga muncul2 juga.. Padahal kan mereka udah satu lokasi tuh. knp “takdir” blm juga mempertemukan mereka?
    *reader cerewet dibakar author*

  2. Sarababo fighting! kayaknya aku cocok juga tuh masuk Sarababo.. *digebuk anak sarbob*
    ff-nya keren.. lanjutin dong!

    mianhae kalo comment-ku rada aneh

  3. kya makin seru…
    w ska ma smwa sarababo…
    btw siwon oppa ma spa yah…
    ko dsni siwon oppa ga d bahs sh..
    w kan biasnya hik..hik😥

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s