We Walk [Part XVI] – The Truth and My Hurts (Minho’s POV)


Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part XVI] – The Truth and My Hurts (Minho’s POV)

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

 

SM Building. Mei 2009. 08:00 PM.

“Jira-noona sangat mencintaimu. Apa kau tak tahu?” Key datang dengan pernyataan mengejutkan. Ia menjatuhkan dirinya ke sofa dan mendengus memperhatikan keadaanku yang terpuruk. Aku masih berada di ruang latihan, mencoba mempelajari lagu baru untuk comeback kami, Juliette. Kegiatan ini untuk mengalihkan pikiranku yang masih dipenuhi bayang-bayang Chaesa, karena kami baru saja berpisah. Namun ada hal lain yang kini menjadi pusat perhatianku, yaitu pernyataan Key.

Aku memandanginya hampa. Seperti ada deburan ombak besar yang menghantam tubuhku, aku berlutut di lantai. Mataku seakan melompat keluar tanpa bisa mengedip dan berakhir memelototi lantai. Tubuhku panas dan lemas.

“Kuulangi, Jira-noona sangat mencintaimu,” dia mengulangnya karena menikmati reaksiku yang tampak tolol. “Dia pergi karena kau lebih memilih perempuan itu…”

Key duduk merosot di sofa dengan tangan terlipat dan mata terus menatapku tajam, sedangkan tatapanku masih tak lepas memelototi lantai. Hati ini terasa diperas secara perlahan.

Dia melanjutkan, “Bersyukurlah aku masih temanmu, terlebih kita berada dalam satu tim hingga aku tidak memukulmu. Seperti yang kau lihat selama ini, hubunganku dengannya memang kurang harmonis. Tapi membuat dia meninggalkan impiannya membuatku sangat terpukul…,” tubuhnya mulai bergetar, “…aku dan noona mengikuti audisi bersama-sama di tahun 2005. Ia berlatih sangat keras setiap hari setelah memasuki pelatihan dan berjuang hidup sendirian diSeouldengan umurnya yang masih terlalu muda. Yang ia miliki hanya mimpi-mimpinya dan kita! Ia bahkan menganggapmu sebagai suplemennya di tengah diet ketat yang ia jalani. Ia melewati semuanya selama hampir 3 tahun. Dan hanya karena kau…”

Key menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia terisak disana. Setiap kata yang diucapkannya seperti pisau tajam yang merobek hatiku. Gundukan penyesalan sedikit demi sedikit menumpuk di dada.

“Wae,Minho, wae?!” pekiknya. “Kenapa kau melakukan ini?!”

Aku hanya diam.

“Berhenti berakting! Kau tidak sedang di hadapan publik. Kau tidak harus menunjukkan karismamu yang memuakkan itu. Jawab pertanyaanku!”

Tanpa kusadari, tanganku sudah mengepal.

Dia berteriak lagi, “Mengapa kau memilih perempuan itu jika memang kau menyukai Jira-noona?!”

“Karena aku tahu Onew-hyung juga mencintainya!” aku balas berteriak. Key menghentikan sedu-sedannya dan aku yakin di kepalanya kini hanya terfokus oleh kata-kataku barusan. Matanya membelalak dengan mulut berbentuk ‘O’, bisa jadi ia baru saja menggumamkan kata “mwo” atau apapun, aku tak peduli. Dadaku bergemuruh oleh emosi yang selama ini kubendung. Dan kini bendungan itu retak, aku meluapkan segalanya. “Bagaimana bisa aku meminta Jira-noona menjadi kekasihku jika di sisi lain leader kita juga mempunyai perasaan yang sama!”

“Kau… kau tahu dari mana?” tanyanya syok.

“Perasaanku mengatakan hal itu.”

Dia memutarkan bola matanya. “Jangan sok tahu! Mereka hanya oppa-dongsaeng, sebuah hubungan yang wajar menurutku…”

“Kau tak mengerti. Aku bisa merasakannya dari bagaimana cara Onew-hyung memandangnya…”

“Pikirkan saja dirimu sendiri, Choi Minho. Aku tak mengerti mengapa kau menjalin hubungan selama hampir satu tahun tanpa ada perasaan apapun di antara kalian. Oke, kau sempat menyukai Chaesa, tapi itu hanya… kagum, kurasa.”

Dia mulai berbicara sok tahu sambil membersihkan wajahnya dengan tisu dan berkaca di seberangku. Sebelah tangannya berkacak pinggang.

“Aku pernah mencintainya, Kibum-ah.”

“Idiot! Kau benar-benar idiot. Jangan gunakan tampangmu untuk mempermainkan wanita…”

“Aku tak pernah mempermainkan mereka…”

“Kau hanya ‘tak pernah memiliki niat untuk mempermainkan mereka’, tapi jelas kau sudah melakukannya secara tak sengaja!”

Aku kembali terdiam, masih dalam keadaan berlutut. Posisi ini persis seperti penjahat yang sedang mengaku dosa-dosa.

“Yeah, kau benar.”

Dia melempar tisu bekas pakainya ke tempat sampah di ujung ruangan, kemudian berbalik menghadapku, sebelah tangannya masih berkacak pinggang. “Seperti yang kukatakan barusan, pikirkanlah dirimu sendiri,Minho-ya. Jika memang Onew-hyung memiliki perasaan pada Jira-noona, anggap saja ini sebagai kompetisi—walaupun pada dasarnya kau sudah memiliki jawaban siapa yang keluar sebagai pemenang.”

“Tapi…”

“Dengar,” ujarnya sinis. “Noona sangat keras kepala, memintanya untuk kembali kemari saat ini adalah harapan yang mustahil. Yang bisa kau lakukan hanyalah menunggunya.”

Aku diam, mencoba berpikir. Walau aku benci melakukan ini, tapi akhirnya aku mengangguk menyetujui sarannya.

“Mengapa kau melakukan ini, Kibum-ah?”

“Apa?”

“Mengapa kau ingin melihatku dan noonamu bersama?”

Dia diam sejenak. Ujung telunjuknya mengetuk-ngetuk kursi kayu di sampingnya. “Itu karena… aku pernah melihatmu menciumnya ketika ia sedang tertidur pulas di ruang latihan. Saat itu, kupikir kau serius…”

+++++++

TUBUHKU hampir kaku saat melihatnya berdiri di depan pintu. Aku tak percaya kalau itu hal yang nyata. Jira tengah berdiri di hadapanku. Wajahnya juga menampakkan keterkejutan, secara spontan aku memeluknya. Perbuatan bodoh menurutku, karena aku hampir membuatnya kehilangan napas. Itu saat-saat terindah bagiku kalau saja Taemin tidak datang mengganggu.

Penantian panjangku selama hampir dua tahun akhirnya terbayar. Aku memintanya menjadi kekasihku ketika SHINee memiliki jadwal diJakarta. Saat itu aku tak memikirkan apapun, bahkan Onew-hyung. Aku tahu itu sangat egois, tapi kupikir sangat wajar jika kau sedang jatuh cinta. Dan yang terpenting, aku tak pernah berpikir untuk mempermainkannya. Perasaanku tulus, karena aku pernah dipermainkan seorang gadis, jadi aku tahu bagaimana rasanya dipermainkan.

Hari ini aku memilih rehat di dorm setelah kemarin melakukan penerbangan dan tinggal selama beberapa hari diTaipei. Jadwal yang gila membuatku sangat letih. Sudah pukul sebelas siang dan aku masih terbaring bermalas-malasan di kasur menikmati hari kosong.

“Minho-ya, ini ponselmu sudah diperbaiki,” Onew-hyung datang dengan sebuah bungkusan di tangannya. Aku bangun dan mengambilnya. Ingatanku melayang pada kejadian semalam, di mana aku secara tak sengaja menjatuhkan ponsel. Dan lucunya, banyak yang mengira aku sengaja merusaknya. Ck, mana mungkin, nyawaku ada di sini!

Aku mengaktifkannya dan tak lama kemudian fotoku bersama Jira terpampang jelas sebagai wallpaper. Aku selalu melihat gambar ini sebagai pemompa semangat dan selalu berhasil.

“Gomawo-hyung.”

“Bisa ikut aku?” tanyanya serius. “Adayang ingin kubicarakan. Bersiaplah, aku menunggumu di bawah.”

+++++++

SESAMPAINYA di bawah―di halaman depan dorm―kulihat Onew-hyung tengah mengikat sepatunya kuat-kuat. Ia mendongak dan memintaku untuk datang menghampirinya. “Kemarilah!”

Aku menurut.

“Yang sampai di sini lebih dulu adalah pemenangnya,” ujarnya.

“Eh?” Aku benar-benar tak mengerti apa yang dia maksud.

“Aku menantangmu adu lari. Ottae (bagaimana)?”

Aku terkejut dan sepertinya mimik Keroro-ku muncul. “Kenapa mendadak? Aku tidak memakai sepatu saat ini,” protesku.

Dia tak mendengar dan malah berlari lebih dulu. “Ini sepadan. Kaukanatlit,” teriaknya.

“Yaa, Hyung!”

Refleks, aku mengejarnya. Entah kenapa aku merasa ini ganjil. Keinginanku untuk menang begitu kuat. Aku menendang lepas sandal dan berlari kencang tanpa alas kaki. Apa yang ada di pikirannya? Mengapa tiba-tiba melakukan ini?

Kami berlari mengelilingi kawasan dorm. Ia melesat jauh di depan. Tentu saja, mengingat caranya yang sedikit curang.

Pintu masuk apartemen sudah terlihat di depan mata dan rasanya mustahil bagiku untuk menang karena ia sudah sampai lebih dulu. Aku berhenti, mengatur napas agar kembali stabil.

“Ige mwoya?” protesku, sedikit tegas kali ini.

Dia terlihat sangat kelelahan dengan keringat bercucuran dan napas tersengal-sengal. “Aku menang. Yeah, aku menang!” teriaknya.

Aku mendengus geli. Ya, aku ingat. Saat trainee kami sering melakukan ini dan selalu aku pemenangnya. Dulu kami berlari di dalam gedung akademi SM untuk tiba di ruang latihan lebih dulu. Jadi ini masih ada kaitannya dengan pembalasan dendam? Wah, benar-benar…

“Yeah, kau menang. Cepat katakan apa yang kau inginkan. Ayam?” tawarku. Seperti permainan pada umumnya, pemenang bebas meminta apapun dari yang kalah. Onew-hyung berjalan ke sebuah bangku. Udara sangat dingin dan ini sangat cocok untuk kami yang tengah kepanasan. “Bukankah kau bilang ada yang ingin dibicarakan, Hyung?”

Dia mengangguk.

“Minho-ya,” ekspresinya berubah serius. “Kau tahu selama ini aku sudah sering mengalah.”

Aku mengerutkan dahi. “Tentu, kau leader.”

“Aku tidak berbicara dalam konteks itu. Aku berbicara sebagai Lee Jinki.”

Hatiku mencelos. Aku mengerti arah pembicaraannya. Tidak, kumohon jangan sekarang!

“Er… Hyung…”

“Aku juga mencintainya,Minho-ya,” gumamnya membuat perutku seperti dipukul oleh tangan tak terlihat. “Sudah empat tahun ini aku memendamnya. Manusia memiliki keterbatasan untuk sabar, bukan? Dan aku sudah tak sanggup lagi menahannya. Jadi maaf, aku mengatakan ini, karena aku lelah menyembunyikannya. Kau mungkin tak paham, tapi hatiku benar-benar sakit.”

Aku diam menunduk. Aku tahu lambat laun hal ini pasti terjadi. Dan kini aku merasa jijik pada diriku sendiri.

“Apa yang kau minta dariku, Hyung?” gumamku lirih.

Dia menarik napas dalam-dalam. “Aku menangkanbarusan? Ah, rasanya tidak etis jika aku memintamu menyampaikan perasaanku padanya. Tidak apa-apa, lupakan saja masalah ini. Aku masuk dulu, cuaca semakin dingin. Kau juga sebaiknya masuk.”

Jantungku berdegup berkali-kali lipat dan rasanya seperti ada sesuatu yang berkali-kali menghunus hatiku. Aku harus bagaimana?

+++++++

SEBUAH hadiah masih terbungkus rapi di atas tempat tidur. Aku berencana untuk memberikannya pada Jira sebagai perayaan hari jadi kami. Pengorbanan untuk mendapatkannya cukup besar. Aku mencuri-curi waktu saat diTaipeikemarin untuk menyempatkan diri membeli sesuatu disana. Namun, sepertinya nasib hadiah itu harus berakhir terkurung di dalam lemari.

Malam ini aku menemuinya. Tapi bukan untuk merayakan anniversary atau apapun. Semalaman aku sudah memikirkan hal ini dan sudah diputuskan untuk berpisah dengan Jira demi Onew-hyung. Perasaanku tidak tenang, kesan pengkhianat terus melekat di relung hati.

Kini Jira tengah berdiri di hadapanku, wajahnya penuh harap. Aku menatapnya lekat seakan tidak pernah melihat wajah cantiknya lagi.

“Kita… berpisah saja. Aku tidak layak untukmu, Noona.”

Kalimat itu butuh perjuangan keras untuk mengatakannya. Demi Tuhan aku tak pernah rela untuk mengatakan hal-hal semacam itu. Namun ini harus kulakukan jika tak ingin terus-menerus membuat Onew-hyung menderita. Dan rasanya aku ingin sekali membenturkan kepalaku ke tiang ayunan saat kembali memanggilnya ‘noona’.

“Jangan konyol.”

Ia tak marah, melainkan memohon dan itu membuatku semakin sulit. Wajahnya pucat dengan bibir tak berhenti bergetar menahan hawa dingin.

Maafkan aku, Jira-ya, aku benar-benar meminta maaf!

Aku berpikir keras mencari alasan yang logis. “Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Selalu merasa bersalah tiap melewatkan panggilanmu. Pada kenyataannya duniaku bukan untukmu,” ucapku muram. Sulit menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya.

Kami terus beradu argumen. Dia menyerangku dengan beberapa  kalimat dalam nada memohon. Hatiku sangat sakit dan yakin ia juga merasakan hal yang sama. Ingin sekali mengakhiri semua ini dan memeluknya erat. Tapi aku tak bisa.

Kuangkat kepala untuk menahan air mata agar tak terjatuh dan sadar kalau ia memperhatikan tiap gerak yang kulakukan.

“Jangan memaksakan diri!” ujarnya. “Kau sendiri bahkan tak menginginkannya―”

Aku kembali menatap wajah cantiknya. Rambut panjang bergelombang berwarna kecokelatan terlihat semakin berkilau ditempa cahaya lampu dari sudut taman. Aku kembali menarik napas. “Aku tak lagi menginginkanmu,” kuucapkan lambat dan jelas supaya ia menyerah dan kami tidak berlama-lama berada dalam situasi tak menyenangkan ini.

Kami kembali beradu argumen, dia bersikeras meruntuhkan niatku untuk berpisah darinya. Hingga akhirnya secara tak sopan aku memutus ucapannya dan pergi meninggalkannya.

Aku terus berjalan menjauhinya dan berhenti di sebuah tempat sepi. Napasku tersengal-sengal menahan rasa sakit yang bergemuruh di dada. Aku tak ingin seperti ini. Rasanya aku ingin kembali dan memeluknya, mengatakan kalau hal ini tidak benar. Tapi sekali lagi, aku tidak bisa.

Terdengar suara seretan sepatu mendekat, aku bersembunyi agar tak terlihat. Jira berjalan dengan kepala menunduk, ia tak menangis, hanya saja pandangannya terlihat kosong.

Aku berlari ke sisi jalan untuk menghentikan taksi. Perasaanku semakin kacau saat taksi yang kutumpangi melewatinya yang tengah berjalan terseret. Aku ingin sekali berlari ke arahnya dan berjalan di sampingnya.

Kukeluarkan ponsel.

BulkaMH: Hyung, tolong jemput Jira. Dia berjalan ke arah Dongdaemun.

BlingJH: Apa maksudmu dengan ‘berjalan’?

BulkaMH: Kami baru saja berpisah…

Kuhenyakkan diri dengan posisi tubuh sedikit merosot. Ini adalah hari terberat yang pernah kujalani sejak debutku. Saat berpisah dari Chaesa aku tidak merasa seburuk ini, karena posisinya aku yang tersakiti. Tapi kini… aku yang menyakiti Kim Jira.

Aku kembali mengetik.

BulkaMH: Hyung, bisa temui aku di halaman dorm? Sekarang, aku segera sampai.

      LJOnew: Ok.

+++++++

      Kulihat Onew-hyung tengah berdiri di samping pintu masuk. Ia menggigil kedinginan walau sudah memakai beberapa tumpuk hoodie. Aku menariknya menjauhi kawasan dorm menuju tempat sepi.

“Maaf, aku tidak bisa menyampaikan perasaanmu padanya,” ujarku. “Tapi aku sudah meminta berpisah darinya. Kau bisa menyampaikan sendiri perasaanmu, Hyung.”

Ia menatapku tak percaya sambil mengertakkan gigi.

“Dasar bodoh!” teriaknya dengan tangan kanan melayang hendak memukulku, namun ia tidak melakukannya dan malah mendorongku hingga tersungkur. “Apa yang ada di pikiranmu, hah?!” teriaknya.

“Wae?! Bukankah seharusnya kau senang?!” aku balik meneriakinya.

“Bodoh!”

“Berhenti meneriakiku seperti itu! Aku melakukan ini semua demi kau!”

“Aku tak memintamu memutuskannya! Perkataanku kemarin hanya bercanda! Kau benar-benar idiot, Choi Minho. Kim Jira sangat mencintaimu.”

Ia berteriak semakin gila sedangkan aku menatapnya hampa. Bercanda katanya? Apa maksudnya dengan bercanda? Ini keterlaluan!

“Arghh!” Onew-hyung memukulkan tangannya ke tembok, aku bisa melihat tangannya bengkak memerah. “Kau… benar-benar bodoh!”

Ia menarik kerah mantelku, memaksaku untuk kembali berdiri.

“Apa maksudmu bercanda? Bukankah kau memang mencintainya sejak dulu?!” teriakku seraya berusaha melepaskan diri darinya. Ini tak mudah, ia begitu kuat. Imej lemah yang selalu ia tampakkan di TV adalah palsu.

“Hyung!” dari kejauhan Taemin berteriak menghampiri kami. Pakaian sekolahnya masih lengkap dengan tas tersampir di bahunya. Sepertinya ia baru pulang dan mendengar keributan di sini. “Kumohon jangan seperti ini!”

“Diam!” bentak Onew-hyung membuat Taem terkejut. Ini pertama kalinya ia memperlakukan magnae seperti itu.

Taem berlari pergi meninggalkan kami. Onew-hyung kembali menatapku. “Mengapa kau melakukan ini untukku,Minho-ya?” tanyanya lemah. Ia melepaskanku dari cengkeramannya.

“Karena aku tahu kau sangat mencintainya. Selama ini aku pura-pura tak tahu dan ini sangat egois. Aku minta maaf.”

“Tidak. Ini tak boleh terjadi. Kalian tak boleh berpisah, kumohon. Aku berkata seperti ini bukan karena kau, tapi karena Jira. Aku tak ingin melihatnya menderita.”

“Aku juga tak bisa melihatmu menderita karenaku, Hyung. Aku rela menghentikan semuanya demimu.”

“Minho-ya…”

Ucapannya terhenti ketika kami mendengar suara derap kaki mendekat ke arah kami. Aku bisa melihatnya dari jarak jauh dan minim cahaya sekalipun kalau mereka adalah Taem, Kibum, dan Jonghyun-hyung. Aku merasa sedikit lega melihat keberadaan Jjong-hyung, itu berarti ia sudah menemukan Jira.

“Mianhae.”

Aku menepuk pundaknya. “Tak apa. Sudah saatnya bagimu untuk bahagia, Hyung.”

“Tapi kau juga mencintainya…”

“Aku lebih menyayangimu.”

Air mataku meleleh dan langsung kuhapus sebelum Onew-hyung menyadarinya.

“Mianhae. Aku merusak hubungan kalian.”

“Justru aku yang meminta maaf karena telah hadir di antara kalian. Masuklah, Hyung, aku akan ke perusahaan untuk berlatih.”

“Gomawo.”

“Hm,” aku mengangguk dan berbalik pergi darisana. “Tolong jaga dia,” gumamku lirih hampir tak terdengar. Dan pada kenyataannya malam itu aku tak datang ke perusahaan, melainkan pulang ke Incheon untuk menumpahkan kepedihanku disana.

+++++++

SM Academy. November 2010. 05:00 PM.

KEY terlihat sangat gelisah setelah membaca pesan di ponselnya. Ia tak berhenti melirikku dan itu membuatku menjadi tak nyaman. “Wae?!” tanyaku jengkel.

“Tak apa-apa.”

“Cepat katakan ada apa?” desakku. “Lirikkanmu itu membuatku gila.”

Dia mendengus. “Um, harus bagaimana memberitahumu? Er… sepertinya Jira-noona dalam perjalanan menuju kemari.”

Hatiku mencelos. Mendengar namanya membuat perutku sedikit terguncang. Ratusan kupu-kupu itu kembali datang dan menyerang. Aku yakin kini wajahku sudah matang.

“Aku ke toilet,” pamitku dan Key hanya mengangguk. Aku tak ingin ia menemukanku dalam keadaan memalukan seperti ini. Dia sepupu Kim Jira, sedikit banyak pasti kesal padaku karena telah memperlakukan noonanya seperti ini.

“Mi-Minho…”

Aku mendongak dan menemukan gadis yang baru saja kupikirkan. Apa ini nyata atau kini bayangan seseorang dapat terefleksikan dengan mudah melalui pikiran dan muncul di depan mata?

Mata kami membesar. Jantungku yang tadi sudah berdebar dua kali lipat, kini menjadi berkali-kali lipat dari sebelumnya. Dan parahnya, bukan ratusan kupu-kupu lagi yang menyerang perutku, melainkan jutaan!

Mataku menangkap kejutan lain. Takjub! Warna keemasan yang terpancar dari rambutnya memantulkan kemilau pada wajah cantiknya. Rambut pirangnya membuat ia semakin cantik. Namun ia terlihat semakin kurus. Apa ia makan cukup baik akhir-akhir ini?

Lalu mataku beralih ke jari-jari tangannya. Di beberapa jari, cat kukunya tampak rusak. Sepertinya ia sedang melakukan sesuatu pada kukunya sebelum pergi kemari.

Aku menata kembali mimik wajah. “Ikut aku,” pintaku dingin. Aku berjalan ke arah kelas ‘composing’ dengan dia yang mengekor di belakangku. Setelah sampai, kututup pintu dan berbalik menghadapnya. “Adaapa?”

“A-aku…,” ia terlihat gugup kemudian menghela napas, “…aku ingin memastikan apa kau tidak mabuk saat itu.”

Aku tersenyum kecut. Tentu tidak, Jira Sayang, sama sekali tidak. Bukan mabuk, melainkan gila. Semua ideku ini sinting!

“Sama sekali tidak. Aku sudah mempertimbangkan semuanya. Hubungan kita memang harus diakhiri.”

Lagi-lagi kami beradu argumen. Kekeraskepalaannya benar-benar membuatku ingin menyerah saat ini juga. “Kau benar-benar keras kepala. Aku juga pernah bilangkan, ‘kau memerlukan pria yang layak untukmu’…”

“Bukankah aku juga pernah mengatakannya kalau pria itu adalah kau?!”

Aku menatapnya jengkel, kemudian menarik napas panjang dan kembali melunak. Aku berjalan melewatinya menuju pintu. Tak ingin berlama-lama lagi berada di sini hanya untuk menyakitinya.

“Kau akan mengetahuinya suatu saat nanti mengapa aku melakukan ini. Kumohon, jangan lakukan ini lagi! Sebaiknya kita bersikap biasa saja seperti dulu, sebelum kita memulai semua ini. Kau noona-ku, dan anggaplah kembali aku sebagai dongsaeng.”

Kami terlibat lagi dalam percakapan sengit, hingga akhirnya ia bertanya, “Apa karena Shim Chaesa?”

Kupejamkan mata. Ingin sekali berteriak ‘bukan’, hingga tubuhku bergetar memendam kepedihan. Aku benar-benar tak dapat menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya jika sedang bersama dia. Aku tak pernah menangis banyak sebelumnya. Bahkan dalam SHINee, aku dan Taemin dikenal sebagai ‘anak tanpa emosi’.

Aku buru-buru pergi meninggalkan ruangan sebelum tangisku meledak. Setelah keluar, samar-samar terdengar tangisannya yang memilukan. Hatiku semakin sakit, lebih menyakitkan ketimbang kalah dalam permainan.

Kukeluarkan ponsel dan mulai mengetik.

BulkaMH: Jira ada di sini…

Kutekan tombol ‘send’ dan pesan pun terkirim. Semoga Onew-hyung menemuinya…

+++++++

SHINee’s dorm – Kangnamgu. 20 November 2010. 12:15 AM.

MALAM ini drama debutku tayang. Aku dan ketiga member lainnya menonton bersama. Harusnya ini adalah momen yang baik, namun entah kenapa aku malas berkomentar apapun. Aktingku tidak buruk di dalam drama. Berbanding terbalik dengan kenyataan, hingga kini aktingku tidak cukup baik untuk menyembunyikan perasaanku di hadapan Jira. Menyedihkan!

Kudengar mereka mulai berkencan. Ini berita baik, tapi aku tidak merasa senang. Sebaliknya, aku ingin mati! Nyatanya aku tak sekuat perkiraan melihat Onew-hyung tertawa mendapatkan kebahagiaannya. Ribuan kupu-kupu yang berada di perutku beralih berterbangan menuju jantung dan menggerogoti disana. Rasanya aku ingin mati!

Sejak drama berakhir Onew-hyung tak berhenti memandangi ponselnya, ia banyak tersenyum terlihat sangat bahagia sambil berguling-guling di atas kasurnya. Kuputuskan untuk tidak masuk ke dalam kamar, menghindar lebih baik.

Kemudian tak berapa lama, ia keluar kamar dan terlihat gusar, sudah lengkap dengan pakaian rapi yang membungkusnya. Ia menghampiri Jonghyun-hyung yang berada di dapur dan berbisik padanya. Aku berusaha kembali berkonsentrasi pada TV, pertunjukan sepak bola sedang berjalan, tim favoritku sedang berjuang. Tapi aku malah tidak memperhatikan dengan pikiran sibuk memikirkan hal-hal lain.

Onew-hyung kembali ke kamar, sedangkan Jjong-hyung menghampiriku. “Kim Jira sedang dalam perjalanan kemari,” bisiknya.

“Mwo?!” balasku berbisik. “Tapi ini sudah tengah malam.”

Jjong-hyung menggerakkan bibirnya membentuk kata ‘molla’. Aku bergegas menyambar mantel dan berjalan menuju dapur menarik trashbag dari dalam tempat sampah.

“Akan kau apakan itu?” Tanya Key yang baru keluar dari toilet.

“Membuangnya.”

“Jam segini?”

Aku tak menjawabnya, tergesa-tergesa menuju pintu keluar dan… terlambat. Jira sudah ada di tangga tengah menatapku. Alasanku keluar sebenarnya memang untuk mencarinya, ini sudah lewat tengah malam. Gadis ini benar-benar membuatku cemas setengah mati. Dan mengenai trashbag, ini hanya alibi agar mereka tak curiga.

“Oh, annyeong,” sapanya canggung sambil setengah merunduk.

Aku  hanya mengangguk, masih terkejut dengan kemunculannya. Wajahnya terpantul cahaya lampu yang merambat melalui celah jendela di sampingnya. Pada jam seperti ini pun ia masih terlihat cantik.

“Onew-hyung menunggumu,” ujarku mengingatkan tujuannya kemari sambil berjalan menuruni tangga melewatinya.

“Tapi…”

Kuhentikan langkah dan kembali bicara tanpa berbalik. “Jangan kecewakan dia, kumohon! Anggap ini permintaan terakhirku.”

Lagi-lagi kami terlibat dalam ‘dialog keras kepalanya’, membuatnya tiba-tiba memelukku dari belakang. “Aku percaya,” gumamnya. “Aku percaya ucapanmu di mobil saat itu.”

Aku terdiam. Tak lama kemudian berkata, “Lepaskan!”

“Tak mau. Aku sangat merindukanmu.”

“Kau hanya akan menyakiti Onew-hyung jika terus seperti ini. Lepaskan!”

Ia melepaskanku. “Aku juga tersakiti, tolong jangan lupakan hal itu!” isaknya.

Hatiku mencelos. Dia menangis…

Perlahan-lahan kujatuhkan trashbag dan berbalik menghadapnya. Aku terkejut melihatnya menangis, kemudian kunaiki beberapa anak tangga dan kedua tanganku refleks menyeka air mata di wajahnya. Wajah kami saling berdekatan, hanya menyisakan jarak beberapa senti. Sekarang aku bisa melihat bulu mata panjangnya dari dekat.

“Kumohon berhenti menangis!” pintaku. “Jangan temui Onew-hyung dengan wajah seperti ini! Aku tak ingin ia khawatir dan memikirkan banyak hal. Ayo cepat masuk temui dia!”

Ia berteriak, memprotes. Melontarkan kalimat-kalimat kekecewaannya. “Baik. Aku akan melakukan apa yang kau minta…”

Lalu ia menghilang masuk ke dalam sedangkan aku terduduk lemas di tangga. Kedua tanganku mengacak rambut, kesal pada diriku sendiri…

+++++++

BEBERAPA menit setelah itu, Onew-hyung membawa Jira pergi. Aku ingin mengekori mereka, tapi itu sangat tidak etis. Jadi kuputuskan untuk diam di dorm, menyaksikan sepak bola yang sama sekali tak menarik minatku.

“Minho-ya, wae?” Tanya Jjong-hyung.

Aku diam tidak menyahut.

Key menyalakan mesin karaoke. “Lebih baik kita bersenang-senang sekarang!” teriaknya mencoba menghiburku.

“Ayolah, tunjukkan kemampuan vokalmu! Kaukansudah mulai berlatih eksklusif,” tantang Jjong-hyung.

Aku masih tetap diam membiarkan mereka yang malah asyik bernyanyi sendiri. Setelah lagu berakhir, Key kembali memaksaku bernyanyi.

“Minho, lampiaskan semuanya!” ujarnya tegas sambil menyodorkan mic di depan wajahku.

Aku menyambarnya dan memilih sebuah lagu. The One feat. Taeyeon – Like A Star…

Jjong-hyung mengambil bagian Taeyeon, sedangkan aku bagian penyanyi prianya. Kemampuan vokalku masih belum dikatakan hebat, namun kini jauh lebih baik dibandingkan dulu.

Aku mulai bernyanyi:

“You’re My Everything To Me

You’re My Everything To Me

Haneurye byeol cheoreom hwan hagebi chwojuri

(I will shine for you brightly like a star in the sky)

Geudaeneun namanae sarang

(You’re my only love)

Yongwonhan namanae sarang
(Forever my only love)

Uri saranghaeyo
(We love each other)

Geudae hanamyeon nan chungbunhaeyo…
(Only you is enough for me)…”

Nyanyianku terhenti. Aku menjauhkan mic dari mulut. Dada semakin sesak menyakitkan. Kemudian aku berjongkok, memeluk kedua lutut dan membenamkan wajah. Mic masih menempel dalam genggaman. Aku tak dapat menahannya lagi. Aku menangis, sangat keras. Perasaan menyesal menyeruak menggerogoti hati. Sekarang aku berada di ujung jalan bercabang: mempertahankan cinta atau menghormati pemimpin grupku.

Aku bahkan tak dapat membenci Onew-hyung. Justru merasa bersalah karena berpikir telah mengambil gadis yang dicintainya. Tapi ini bukan salahku. Cinta memang takkan pernah bisa dipersalahkan. Perasaan ini tumbuh secara alami, tak seorang pun dapat menyangkalnya.

Jjong-hyung menepuk bahuku menguatkan. Dadaku masih sakit dan air mata masih belum berhenti. Suara kesakitan terisak-isak keluar. Berteriak sekuat tenaga pun kurasa tidak dapat menghilangkan rasa sakit yang mengganjal di dada.

Apa yang harus kulakukan? Ini bahkan jauh lebih sakit dari apapun…

 

+++++++

27 Desember 2010. 11:00 AM.

KONSER perdana kami di Jepang, SHINee The 1st Concert in Tokyo, sudah selesai digelar di Japan Yoyogi National Stadium 1st Gymnasium selama dua hari berturut-turut. Aku senang, tapi juga sedih mengingat keadaanku saat ini.

Kudengar hari ini Taemin akan pergi bersama Jira. Sejak kemarin aku tak bisa tenang memikirkan rencana kencan mereka. Si magnae selalu bertingkah sesuka hatinya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana Jira dipeluk seperti biasanya. Aku tidak suka!

“Aku pergi,” pamit Taem girang.

Aku pun ikut keluar. Tak tahu apa yang sedang kulakukan, kakiku tak bisa berhenti untuk tidak mengikutinya. Aku tak menyukai apa yang sedang kulakukan, ini memalukan dan kekanakkan. Aku benci mengakui ini… ya, aku mengekorinya dari belakang.

Kuturunkan topi, berharap tak ada yang mengenaliku dan berlari ke sisi jalan menghentikan taksi. Taemin berada di depanku di dalam van perusahaan.

Sesampainya di halaman parkir apartemen Jira, Taem keluar dan menjemput gadis itu. Aku mengawasi dari dalam taksi dan bisa kulihat Jira tengah berdiam diri di balkon. Bodoh! Masih saja melakukan kebiasaan buruk itu. Cuaca sangat dingin hari ini.

Mereka datang dan langsung masuk ke dalam van. Sesuai perkiraanku, bocah itu menggenggam tangannya. Aish!

Wajah Jira terlihat pucat, ia terlihat kurang sehat. Ingin rasanya keluar dan berlari menghampirinya. Aku rindu memeluknya seperti dulu. Sudah lebih dari sebulan kami berpisah.

“Ahjusshi, tolong berhenti di pertokoan depan!”

Aku berlari masuk ke dalam toko dan mengambil asal sebuah syal panjang dengan selimut tebal. Setelah membayarnya, aku kembali berlari menuju toko di sampingnya untuk membeli obat-obatan dan menumpang mengisi air hangat ke dalam tumbler lalu kembali berlari menuju taksi.

Aku menghirup oksigen sebanyak mungkin sambil merebahkan diri. Napas masih tak berhenti tersengal.Limabelas menit kemudian taksi sampai di Lotte World.

“Di mana mereka?” aku mulai meracau sambil terus berjalan mencari mereka. Kedua tanganku dipenuhi barang bawaan seperti selimut dan tumbler. Ini sangat merepotkan.

Mataku terus menyapu seluruh tempat hingga akhirnya mereka dapat kutemukan. Taemin tengah memijat tengkuk Jira yang sedang muntah. “Astaga,” aku mulai panik namun tak dapat berlari menghampiri mereka.

Taemin berlari ke arahku, sepertinya ia berniat untuk membeli air. Aku memanggilnya, “Taemin-ah!”

“Minho-hyung?” tanyanya heran. “Sedang apa di sini?”

“A-aku berlibur dengan keluarga. Ini libur natal ‘kan?”

“Yeah, kau benar. Er… Hyung, Jira-noona sakit. Bisa bantu aku untuk menjaganya? Aku ingin membeli air…”

“Tidak usah. Kau pulang saja! Biar aku yang bertanggung jawab.”

“Tapi…”

“Sudah kubilang pulang saja.”

Taem menurut. Ia berjalan menuju pintu keluar sedangkan aku berlari menghampiri Jira. Ia menggigil kedinginan. Aku ingin sekali memaki pengelola di sini. Mengapa indoor bisa sedingin ini?! Pemanas ruangan mereka rusak?!

“Minum ini!” ujarku dan tanpa ragu langsung duduk di sampingnya.

Ia menoleh dan terkejut. “M-Minho?!”

Aku tak menyahut, langsung membebatkan syal panjang ke lehernya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. “Cepat minum ini!”

Aku memberinya obat yang tadi kubeli beserta tumbler berisi air hangat. Ia menurut dan segera meminumnya. “Gomawo… Er, apa yang kau lakukan di sini?”

Hatiku mencelos. “A-aku mengekori kalian,” ucapku malu sambil menundukkan kepala.

“Wae?”

“Aku sendiri juga tak tahu.”

Dia terlihat sangat pucat, namun tetap cantik. Rambutnya yang sekarang berwarna pirang membuat kulitnya terlihat berkilau. Tirus wajahnya semakin jelas, ia semakin kurus. Bodoh, apa dia menyiksa dirinya selama tak bersamaku?

“Noona, kau baik-baik saja?” tanyaku, benci harus kembali memanggilnya ‘noona’.

“Hm, hanya sedikit lemas. Ngomong-ngomong di mana Taemin?”

“Aku sudah menyuruhnya pulang. Maaf merusak acara kalian.”

Aku menarik napas, menyadari bahwa permintaanku sudah terkabulkan. Dulu saat kami masih trainee, aku bertaruh dengannya kalau aku berhasil masukKonkukUniversity, dia harus mengajakku kemari, ke Lotte World. Permintaanku tercapai, namun tidak dalam keadaan seperti ini. (Baca part II)

Dia menjilat bibirnya. Warnanya tidak memerah, tetap putih, bahkan semakin pucat. Aku memandanginya tanpa henti. Wajahnya yang mungil, bibir tipis yang mirip bibir Key, dan hidungnya yang tinggi-lurus, semuanya kupandangi bergantian. Jira adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan ciptakan.

“Kau… kau masih mencintaiku, Choi Minho. Kau masih menginginkanku, bukan?”

Lamunanku buyar. “Tidak,” jawabku lambat-lambat, memastikan aku setuju dengan apa yang kuucapkan. Tapi pada kenyataannya ada nada tidak yakin terselip disana.

Aku merunduk.

“Minho-ya, apa berbohong membuatmu sedikit membaik?” nadanya agak meninggi.

“Dengar, hubungan kita sudah berakhir, Noona. Sekalipun aku ataupun kau masih saling mencintai, hubungan kita tak dapat diselamatkan. Kumohon mengertilah!”

Kini dia yang merunduk.

Ponselku bergetar, Taemin mengabarkan kalau ia sudah sampai di dorm. “Aku sudah menyuruh Taemin untuk meminta Onew-hyung kemari menjemputmu.”

Ia membulatkan matanya memandangku. Aku bangkit dari bangku begitupula dengannya.

“Kenapa bukan kau saja?!” tanyanya berang dengan emosi meluap.

“Aku… tidak bisa.”

“Berhenti bertingkah bodoh, Choi Minho! Jangan korbankan hatimu!” teriaknya bergetar.

Aku melangkah mendekatinya, lalu memeluknya erat. “Kim Jira, jika bukan karena kau, aku takkan mengenal cinta. Terima kasih telah mengajariku persahabatan, cinta… semuanya. Seperti yang kau tahu, aku sangat mencintaimu, namun keadaan memaksa kita untuk tidak memiliki satu sama lain. Kalian adalah orang yang kusayangi. Tidak ada pilihan di antara cinta dan persahabatan. Memilih keduanya atau tidak mendapatkannya sama sekali. Dan aku… secara sepihak memilih untuk melepaskanmu demi persahabatan kami. Mungkin ini terdengar egois di telingamu, tapi… hanya ini yang dapat kulakukan. Maafkan aku!”

Ia membalas pelukanku. Kucengkeram tubuhnya kuat-kuat, terengah-engah karena berusaha menghirup sebanyak mungkin aroma rambutnya. Baunya lain dari yang lain―bukan beraroma bunga ataupun jeruk. Tak satu shampoo pun di dunia ini yang bisa menandinginya.

Kulepas lebih dulu pelukan kami. “Onew-hyung sudah tiba…,” aku membantunya menghapus air mata, “…jangan menangis lagi karenaku, kumohon!”

Aku menarik napas dalam-dalam, tangisku lagi-lagi hampir meledak. Kemudian kulanjutkan, “Jika di lain waktu Tuhan kembali memberi kesempatan, aku akan menjagamu dengan baik dan takkan lagi melepasmu.”

Aku berusaha untuk tersenyum dan ternyata itu sulit sekali. Di seberang kami, berjarak sekitar 10 meter, Onew-hyung berdiri. Kulambaikan tangan padanya dan ia balas tersenyum.

“Pergilah,” pintaku berat.

Keping-keping salju turun berjatuhan di luar jendela samping kami. Ini salju pertama kami dan harus dilewati dalam keadaan seperti ini…

Aku mengangguk untuk meyakinkannya pergi menemui Onew-hyung. Ia menurut. Perlahan-lahan berbalik dan berjalan ke seberang. Ia berjalan tertatih-tatih dan lemah. Dan setelah sampai di pertengahan jalan, ia kembali berbalik dan bergumam, “Saranghae…”

“Aku tahu,” sahutku dengan suara bergetar, kuharap ia tak mendengarnya. “Begitupula aku…”

Lagi-lagi berusaha untuk tetap tersenyum. Mataku tak beranjak darinya yang kembali berjalan hingga sampai di tempat Onew-hyung. Leaderku itu mengangguk padaku dan kubalas. Ia membawa Jira keluar dari sini.

Lututku bergetar hebat, tak sanggup lagi menopang tubuh, hingga aku berlutut dengan napas terengah-engah. Tanganku masih mencengkeram erat dada. Aku tak sadar saat napasku yang terengah-engah berubah menjadi sesuatu yang lain―aku baru sadar bahwa aku menangis tersedu-sedu.

“Tidak. Kembali padaku, Jira-ya!” aku berusaha teriak, tapi nyatanya tak ada suara yang keluar dari mulut. Kucengkeram dada, di mana cincin pasangan kami berada, aku memakainya sebagai bandul kalung.

Semuanya, berakhir hari ini…

 

-end of Minho’s POV

 

..to be continued..

+++++++

 

#Yay, next part gilirannya Onew’s POV, abis itu… berakhir~

#Ceritanya sengaja dibuat lompat-lompat karena nggak mungkin detail. Itulah kenapa banyak scene (halah~) yang sengaja di-cut.

#Saya tau ceritanya gini-gini doang. Galau lagi-galau lagi-galau lagi nggak ada peningkatan. Keke~ Mianhae >.<v

#Kritik & saran are welcome… Berkomentarlah sesuka kalian. Feel free ya~ Makasih^^/

12 thoughts on “We Walk [Part XVI] – The Truth and My Hurts (Minho’s POV)

  1. Aneh daku sama Minho…udah tau Onew dah ngalah gitu tetep aja…
    aigoo~
    tapi keren ffnya…
    selama ini aku penasaran ma Minho nya disni akhirnya ketahuan juga isis hati yang sebenarnya..
    Ha3x..
    yang Chocolate in love nya mana???
    aku penasaran..
    lanjutannya di tunggu ya..
    ok??

  2. astaga si dubu, masih sempatnya becanda…
    kasiahn juga minho
    dilema bgt ya…
    ga galau2 amat kok hehehe
    baca ini bener2 kek baca buku haiannya min ho
    ternyata dari awal dia dah suka ama jira..

  3. Minhoo.. Kmu ga egois yg ego si jinki >,< tpi jinki udh trlanjur cinta😥 nyesek bcanya aduhh.. Sumpah aku bingung knapa jd gini jlan critanya unn? -_-" jd si jira bkal sma jinki atau minho? Omo.. Next part.. Next part..
    Kekekekek~

  4. bingung aku mo komen apa. Speechless baca minho’s pov. Nyesek gila…!!! Gemes euy !!
    Jd bsk onyu’s pov?? Ditunggu. Pnsaran sbnrnya dy maunya apa sih…
    Tapi bis itu udah ya?? Hiks… Masa udah sii…=(

  5. onnie, aku reader baruu.
    annyeong~
    aku suka FF onnie, tp aku gk ikutin yg we walk ini, jd agk sedikit krg nyambung.
    ini udh mw end ya atau gmna?

    aah, minhonya bikin makan hati nih.
    iya onn, galau, tp bgus kok,
    galaunya jelas, kk~

    salam kenal onn🙂
    kpn2 aku mampir lg, hehe

  6. yaa,,, eonni… annyeong…. ff nya kok lama banget sih di publish??
    aku kangen ff nya eonni… kalo nggak ada kerjaan,, pasti aku buka ff nya eonni yg udah ku baca…

    nggak jarang lo… aku mencak mencak sendiri di kamar soalnya ff nya eonni ngga ada yg baru

    makanya eonn… janagn buat aku mati penasaran… cepetan bab selanjautnya.. di tunggu… fighting!!

  7. eonni keren bangeeeeet!!!!
    hiks hiks minho menderita banget ternyata TT
    pdhl awalnya mw ny jira ma onew,tapiii sekarang…onew ma aku aja deh #plakkk

    g sabar next part nih

    eonni hwaiting!!!

  8. Annyeong…salam knal aku reader baru….
    baca FF ini bikin nyesek dada knapa sesedih ini…:)
    jadi pengen trus baca….kombawo….

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s