We Walk [Part XVIII] – Final Decision (Last Part)


Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part XVIII] – Final Decision (Last Part)

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

“AH, dingin!” Jjong memekik membuatku mengkerut memeluk tubuhku sendiri. “Kenapa Onew-hyung lama sekali?”

Ia memutar kepalanya ke belakang mencari Jinki, sedangkan aku masuk ke sebuah gazebo yang sudah dipenuhi salju. Hari ini mereka turun lebat sekali.

“Kyaaa, dingin!” aku ikut memekik seperti halnya Jonghyun.

Wae?” Ia berlari menghampiriku dengan wajah cemas―masuk ke dalam gazebo juga. “Aigoo, tentu saja. Jangan duduk, berdiri saja!”

Aku terkekeh.

“Seperti duduk di atas es balok,” ujarku dan Jjong menatapku tanpa berkedip. “Wae? Jangan bilang kau terpesona dengan kecantikanku malam ini.”

Jjong tertawa. “Selamat datang kembali, Miss Jira. Kau terlahir kembali menjadi manusia. Syukurlah…”

Aku membuka mulut untuk membalasnya, namun kuurungkan. Kutatap matanya dan mendapati kebahagiaan di sana.

Bukan, bukan karena aku telah pulih hingga dapat berbicara riang tanpa beban seperti ini. Tapi karena aku ingin menyampaikan padanya bahwa aku akan pergi lagi, seperti halnya dua tahun lalu. Dengan sangat menyesal kukatakan kalau hal itu kembali terulang.

Yaaa~,” Jjong menepuk lenganku. “Ini tiket untukmu. Kau harus datang, hm?”

Aku tersenyum dan menyambar tiket tersebut.

“Jjongie-ya…,” dia menoleh dan tersenyum hangat, “…er, aku… aku akan kembali ke L.A.”

Sunyi sejenak. Angin bertiup sedikit kencang kali ini, membawa kepingan-kepingan salju menghujani tubuh kami. Bahkan berjalan saja membuat lantai gazebo berlubang karena salju yang telah menumpuk. Dia menatapku tanpa ekspresi dengan mulut sedikit terbuka.

“Lagi?” gumamnya lirih.

Aku mengangguk perlahan.

“Kapan kau kembali?”

“Be-belum ada rencana untuk itu. Setelah lulus Appa menawariku mengurus salah satu cafénya di sana.”

“Dan kau akan menolaknya ‘kan?”

Aku menggeleng. “Itu impianku…”

“Impianmu itu menjadi penyanyi, Kim Jira!” Jjong mencengkeram kedua lenganku, rahangnya mengeras.

Aku menggeleng lagi, “Memiliki café impianku juga…”

“Jangan bodoh. Berhenti bermain-main!”

“A-aku serius, Jjong-ah, mianhae…”

Ia melepaskan cengkeramannya dan berjalan menjauh memunggungiku. Tak lama kemudian ia kembali menghampiri. “Lebih baik kau tak usah datang!” Ia menyambar tiket yang kupegang dan buru-buru pergi keluar dari gazebo menembus hujaman salju, tepat ketika Jinki muncul.

“Jonghyun-ah,” panggil Jinki namun tak disahut.

Jinki tidak datang sendiri, di belakangnya ada seseorang. Itu… Minho. Dan tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang tak terkendali. Wajah memanas walau suhu sangat dingin tengah malam ini.

“Menunggu lama?” tanya Jinki, senyum khasnya muncul. Ia memasuki gazebo, namun Minho tetap di luar. Ia berdiri kaku di sana. “Sedang apa kau di sana? Ayo kemari!” panggil Jinki.

Minho berjalan masuk, membuat lubang-lubang jejak kaki semakin banyak.

Aku dan Minho berdiri berdekatan dengan Jinki di depan kami. Ia masih memamerkan senyum malaikatnya, membuatku merasa semakin hangat.

“Lihatlah, betapa indahnya melihat kalian bersama…” Jinki membentuk kedua telunjuk dan jempolnya menjadi kotak kemudian menyipitkan sebelah matanya untuk meneropong kami melalui lubangnya. Seperti seorang sutradara.

Hyung,” panggil Minho, ada nada protes di sana.

Jinki lagi-lagi hanya tersenyum. “Apa kau tidak lelah, Minho? Aku sangat lelah jujur saja.”

“Jika hanya akan berkata omong kosong, lebih baik aku pergi…”

“Tunggu!” Jinki menarik lengan Minho saat pria itu hendak berbalik. Jinki menatap kami bergantian, kemudian melepaskan pegangannya pada lengan Minho, lalu menatap mataku dalam.

“Orang menjadi lebih mengerti setelah terhubung dengannya. Setelah menjalani banyak waktu bersamamu, kini aku mengerti bagaimana perasaanmu yang sebenarnya. Aku akan berhenti sampai di sini. Ini sudah sangat cukup, takkan kulanjutkan perasaan ini. Aku menyerah karena perasaan Jira terhadapmu, Minho. Aku tahu ini sangat menyakitkan, namun lebih teriksa lagi melihat orang yang kusayangi tersakiti karenaku…,” Jinki menatapku lekat, “…Jira-ya, berjanjilah kau akan hidup dengan baik. Berjanjilah kau akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Kembalilah padanya!”

Air mataku sudah menggenang di pelupuk mata. Kemudian ia menoleh ke arah Minho dan melanjutkan, “Minho-ya, ayo hentikan!”

Minho menunduk.

“Hanya itu yang ingin kusampaikan pada kalian. Jika bertemu denganku besok, anggaplah kalian tak pernah melewati malam ini. Lupakan kejadian ini dan jangan pernah mengungkitnya. Bersikaplah biasa ketika melihatku. Maaf atas semuanya, kuharap kalian tak membenciku.”

Jinki mengatakannya dengan nada riang seperti tak terjadi apapun. Sikapnya ini membuat hatiku sakit. Selama ini ia bahkan mencurahkan seluruh hati dan waktunya untukku tanpa kubalas sedikitpun. Bodoh! Bagaimana bisa hati dan mataku sebuta itu?

Air mataku menyeruak keluar, terutama ketika Jinki melangkahkan kakinya meninggalkan gazebo. Ia berjalan menjauh meninggalkan kami. Aku berlari mengejarnya dan memeluknya dari belakang.

Oppa.”

“Hm?”

Oppa,” panggilku lagi dengan tangis yang semakin mengeras.

“Ya?”

Oppa!”

Ne, Jira-ya?” suaranya kini sedikit bergetar.

OPPA!”

AKU memasuki KBS Gymnastics Gymnasium ketika gerbang untuk memasuki arena konser telah dibuka. Tadi siang Jjong memberiku kembali tiket itu. Ia singgah ke apartemenku di sela-sela perjalanannya menuju gedung konser untuk melakukan rehearsal terakhir. Ia meminta maaf, sambil menangis tentu saja, predikat crybaby-nya takkan pernah lepas.

Aku menyusuri kursi-kursi mencari nomor seat yang tertulis dalam tiket. Setelah menemukannya, aku duduk dan mulai mengeluarkan light-stick pemberian Taemin―di mana tentu saja tulisan yang tertera pada light-stick itu hanya ada namanya.

Lampu mulai padam dan barulah aku sadar telah duduk di deretan kursi yang kosong. Kim Jonghyun, apa-apaan ini? Mengapa aku dibiarkan duduk sendirian seperti ini? Keterlaluan! Aku duduk di tengah, di deretan yang kosong. Hanya ada aku.

Opening VCR telah muncul, lagu SHINee World mulai menggema. Tanpa sadar aku ikut berteriak dan mengacungkan light-stick ketika Taemin muncul pertama, disusul oleh Kibum, Jinki, Minho dan Jonghyun dari kolong panggung.

Ada beberapa orang di sampingku yang baru datang. Mereka duduk dan ramai berceloteh. Aku menoleh dan mendapati beberapa member SNSD dan f(x).

Eonni,” panggilku dan Jessica menoleh.

“Jira-ya!”

Dia memelukku. Tak terasa, sudah dua bulanan kami tak bertemu. Yuri yang ada di sampingnya ikut menoleh dan tersenyum padaku.

“Oh, pantas kursi-kursi ini kosong. Ternyata kalian…”

“Ya. Beberapa dari Super Junior dan Trax akan mengisi kursi di samping kirimu. Mereka masih dalam perjalanan. Kami tak dapat masuk di saat lampu masih menyala.”

Sica mengeluarkan banana milk dari tasnya dan memberikannya padaku.

Gomawo.”

“Jira-ya, kudengar kau cemburu padaku.”

Aku mendengar suara yang lain dan itu Yuri. “He?”

“Minho yang memberitahuku. Oh ayolah, tidak ada MinYul. Kau boleh tenang…,” ucapannya terputus ketika kulihat Sica menyikut lengan Yuri. “Oh, mianhae…”

Gwaenchanayo,” sahutku, mengalihkan suasana dengan menusuk penutup banana milk dan mulai menyesapnya. Jika dapat disimpulkan, inti pembicaraan tadi adalah: ‘Oh ayolah, kalian sudah berpisah’. Yuri tak bermaksud seperti itu, ini hanya otakku yang mengingatkan bahwa kami memang telah berpisah.

Aku dan Yuri tidak terlalu akrab walau dulu kami pernah membesarkan mata bersama. Di antara mereka, aku hanya akrab dengan Sica dan Yoona. Tapi hingga saat ini aku belum melihat batang hidung si Yoon-choding itu. Menyebalkan!

Ketika konser hampir berakhir, Sica berbicara tanpa menoleh padaku, “Jira-ya, aku… aku bukan tipe orang yang suka ikut campur, kau tahu itu. Tapi… kurasa Jinki menyukaimu. Apa kau tahu?”

“Hm,” sahutku mengkonfirmasi.

“O-oh, baiklah, aku benar. Jadi, bagaimana menurutmu?”

Aku menoleh dan mendapati ia juga tengah menatapku. Ah, dia semakin cantik. Bulu matanya semakin indah. Aku menjawab, “Bagaimana apa?”

Well, kau… kau dan Minho sudah… kau tahu…,” ujarnya terbata-bata dan salah tingkah.

“Hm, Eonni, aku mengerti maksudmu.”

Sica menjadi lebih bersemangat. Ia bahkan mengubah posisi duduknya. “Jadi?”

Aku mengangkat bahu. “Aku menyakitinya lagi. Aku… sangat buruk!”

Bisa kulihat kekecewaan di wajahnya. Ia kembali bersandar dan menikmati konser. Sica menggigit camilan sehatnya dan tak lagi mengajakku bicara.

Aku memutuskan untuk menatap lurus ke panggung. Di mana SHINee menyanyikan lagu terakhir mereka, ‘One’. Satu per satu dari mereka mengucapkan terima kasih pada penggemar dan mulai menangis. Jjong menangis paling keras, dan disusul oleh Kibum. 2Min seperti biasa, mereka tidak menangis seperti yang lainnya. Benar apa kata Kibum, mereka ‘anak tanpa emosi’.

Jinki sempat melihatku. Ia tersenyum dan berbalik memunggungi sambil menyeka air matanya dengan handuk. Setelah itu ia berbalik lagi. Senyum itu masih ada, benar-benar seperti senyum malaikat. Tapi ia tak lagi memandangku, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil terus menyeka air matanya yang tak berhenti meleleh.

Di klimaks lagu adalah bagiannya. Ia bahkan tak dapat bernyanyi dengan baik karena menangis.

Ajik geudae maeumi nae gyeote olsu eopneun geol arayo… geunde…

        (I know that your heart cannot come by my side yet…)”

Setelah line-nya selesai, ia kembali berbalik dan menghapus air matanya dengan handuk. Tanpa sadar aku menurunkan light-stick dan menutupi mulutku dengan tangan.

Astaga, Jinki, maafkan aku…

Jinki kembali mendekatkan mic ke mulutnya, namun ia tidak bernyanyi dengan baik. Bahkan ia tak dapat menyelesaikan line tersebut.

Geudaereul aju mani geudael michidorok saranghago shipeo

      (I really, really, I want to love you like crazy)

      Ijeneun geuraedo dwejyo geureon geojyo?

      (I can do that now, right?)”

Dia menghadap ke belakang lagi untuk menyembunyikan tangisannya, namun Taemin mendekatinya dan menghapus air mata Jinki menggunakan handuknya. Si bungsu itu tertawa untuk menghibur.

“Kau lihat,” ujar Sica dingin. “Aku sering menemukan Jinki seperti itu jika ia sedang sendiri.”

“Aku… aku tak tahu harus bagaimana…,” tangisku meledak membuat Kyuhyun yang ada di sampingku terkejut. Sica merangkul tubuhku, ia membelai lembut punggung dan kepalaku.

“Siapa yang ada di hatimu saat ini, Jira-ya?”

Aku menggeleng kuat-kuat. “Tak tahu.”

“Kau tahu, hanya saja kau takut mengatakannya…”

SETELAH konser berakhir aku tidak langsung pulang. Memutuskan untuk jalan-jalan mengelilingi pasar malam Dongdaemun. Ini masih pukul sebelas, aku ingin menikmati saat-saat terakhirku di Seoul sebelum berangkat besok lusa.

Aku sudah meminta pada Jonghyun untuk tidak mengantarku ke bandara. Sedih sekali jika harus melihatnya menangis, pada kenyataannya aku tak sekuat dulu. Kali ini aku tak bisa mentolerir orang yang menangis karena kepergianku.

Sudah pukul dua belas, lututku mulai gemetar kelelahan. Aku tersaruk-saruk ke sisi jalan dan menghentikan sebuah taksi. Selama perjalanan, aku hanya memandangi pemandangan melalui jendela, tanpa menikmatinya.

Sesampainya di apartemen, lampu tidak ada yang menyala ketika pintu kubuka. Rupanya eomma belum pulang, ia masih menemui teman-temannya, mungkin sedang larut mengadakan perpisahan.

Aku berjalan menuju kamar dan sialnya si pintu tak mau terbuka. Aku tak mengerti ini terkunci atau bagaimana, karena setelah itu kutemukan sebuah note yang tak jauh dari sana.

Pintunya rusak. Aku menghilangkan kuncinya, mianhae…

      “Eomma!!!” aku menjerit frustrasi dan menjatuhkan kasar tubuhku ke atas sofa ruang tengah. Aku berbaring menatap langit-langit. Diam, melamun, hingga bayangan Jinki yang menangis tadi kembali berputar di dalam ingatan.

Ponselku berdering.

“Jira-ya…”

Oppa…”

“Tadi aku bertemu dengan Sica. Kau… kau jangan mempercayai ucapannya. Itu semua tidak benar. Aku menangis karena keberhasilan konser SHINee, bukan karena hal lainnya. Apa yang telah kukatakan kemarin malam tak mungkin ditarik kembali. Aku sudah melepasmu…”

Aku diam, terkejut mendengar nada suara Jinki yang tetap riang.

Oppa, maafkan aku.”

“Maaf untuk apa? Kau tak melakukan kesalahan apapun padaku, jadi berhenti merasa bersalah. Tuhan memang tak menakdirkanmu untukku. Aku yakin akan mendapatkan seseorang secepatnya, walau mungkin tidak sebaik dirimu.”

“Tidak. Kau akan mendapatkan yang lebih baik dariku. Berjanjilah!”

Jinki tertawa. “Ya, ya. Baiklah. Er, belum tidur? Ini sudah pukul satu.”

“Aku menunggu Eomma pulang. Kau sendiri belum.”

“Kamar sedang dibajak oleh Taemin. Ia sedang menangis…”

“Menangis? Waeyo?” tanyaku panik, bahkan sampai bangun dari pembaringan.

“Oh, Jira-ya, aku harus membantu Kibum membujuk Taem. Sampai jumpa nanti. Bye…”

Oppa, tunggu! Oppa!”

Teleponnya sudah diputus. Aku kembali tidur ketika suara pintu terbuka membuatku kembali bangun.

“Ayo masuk!” suara eomma membuatku segera bangkit dan menghampirinya.

Eomma, ba…,” kata-kataku terputus saat melihat Minho tengah berdiri di hadapanku. Ia sama terkejutnya sepertiku. Mata kami sama-sama bertemu memandangi satu sama lain. “Mi-Minho?”

A-annyeong,” sapanya.

Aku tak sanggup menyahut, hanya mengangguk-angguk kaku. Eomma berjalan melewatiku, ia masuk ke kamarnya. Aku yang sudah bisa menguasai diri berjalan menyusulnya.

Eomma, apa-apaan ini?” Eomma tak menyahut, ia duduk di meja rias sambil melepaskan anting-antingnya dengan santai. “Mom, bisa kau jelaskan?”

Ia berbalik menatapku.

“Kami tak sengaja bertemu di coffee shop, jadi kuminta saja dia mampir kemari,” eomma melirik jamnya, “Tapi ini sudah sangat malam. Lebih baik dia menginap di sini.”

“Menginap? Eo-eomma, jangan bercanda! Sekarang di mana kunci kamarku?”

Eomma memandangku malas. “Akukan sudah memberitahumu melalui catatan itu. Aku tak sengaja menghilangkannya…”

“Alasanmu sangat tidak masuk akal. Eomma…”

“Kim Jira, kau bisa tidur di ruang tengah.”

Eomma membuka lemari dan menarik beberapa selimut dari dalamnya kemudian mulai mendorongku keluar kamar.

Eomma, Eomma!”

Pintu tertutup. Aku melempar selimut ke berbagai arah dan menghentak-hentakkan kakiku ke lantai sambil terus memanggil eomma. Percuma… Sekarang aku tahu dari mana sifat keras kepalaku berasal. Saat berbalik, aku mendapatiMinho tengah menatapku dengan mata Keroronya. Aku berdeham dan merapikan rambutku, lalu berjalan menghampirinya sambil menyeret selimut-selimut besar tersebut.

“Bisa bantu aku?” tanyaku jengkel.

Minho menghampiriku dan menarik selimut-selimut itu dengan mudah. Barulah aku sadar kalau mereka terdiri dari dua selimut. Dan ini musim dingin, tidak mungkin salah satu dari kami tidur tanpa alas ataupun tanpa selimut.

Tanpa diminta, Minho sudah mulai merapikan selimut-selimut tersebut. Setelah selesai, ia melepaskan coat dan melipatnya menjadi bantal. Kemudian masuk ke dalam selimut dan berbaring disana.

Aku masih berdiri menatapnya tak percaya. Setelah mengatakan ingin melepasku, mengapa ia dengan mudah kembali di hadapanku seperti ini?

“Kau tak lelah? Tidur lebih baik daripada berdiri seperti itu. Kuperhatikan tadi kau banyak berteriak sambil mengacung-acungkan light-stick. Dan rahangmu tak kunjung mengatup ketika melihatku membuka kancing blazer saat tampil solo. Benar ‘kan?”

JLEB!

Aku seperti ditikam dari depan. Kata-katanya sangat tajam.

“Kau sedang apa? Kenapa tak pulang?”

Minho kembali membuka matanya. “Ini sudah tengah malam. Berikan aku tumpangan untuk menginap.”

Aku melepaskan coat juga dan melipatnya seperti yang dilakukan Minho tadi, lalu berjalan masuk ke dalam selimut. Jantungku berdegup semakin kencang. Ia tidur di sampingku, kami satu selimut, bau parfumnya menyeruak masuk ke dalam hidung dan ini membuatku gila!

Kami masih membuka mata memandangi langit-langit. Tenggelam dengan pikiran masing-masing.

“Maaf…”

“Untuk apa?” tanyaku sengit.

“Kau menderita karenaku.”

“Jangan terlalu percaya diri!”

Minho mendengus, ia terkekeh. “Kau marah?”

“Tentu saja! Kau pria paling menjengkelkan yang pernah kukenal.”

“Itulah mengapa aku datang untuk meminta maaf…”

Kami terdiam lagi. Yang terdengar hanya suara TV yang berasal dari kamar eomma. Mengingatnya saja kembali membuatku jengkel. Setidaknya Minho menjadi tahu, seperti apa watak calon mertuanya―tidak, tunggu! Barusan aku bilang apa? Calon mertua? Oh ayolah, berhenti berkhayal, Kim Jira!

Aku menarik napas dalam-dalam untuk lebih menenangkan diri, menyebabkan bau parfumnya kembali menyeruak ke dalam hidung. Ini benar-benar bisa membuatku mabuk.

Kuberanikan diri untuk berbicara. “Aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk membohongi perasaanku sendiri. Jika harus memohon, aku akan memohon padamu saat ini juga. Kumohon, Minho, tak ada kata ‘berakhir’. Karena aku akan memintamu untuk mengulangnya dari awal lagi dan lagi…”

Bisa kurasakan tangan Minho menggenggam tanganku di balik selimut. Membuat jantungku berdetak kencang dan rasanya seperti memaksa ingin keluar.

“Kudengar kau kembali keL.A.?” tanyanya sambil menunjuk koper-koper yang berderet di sisi ruangan.

“Ya.”

“Taemin menangis sangat keras dan mengurung diri di kamar saat mengetahuinya dari Jonghyun-hyung tadi, sebelum aku kemari.”

“Ah, aku akan sangat merindukannya—kau juga, tentunya,” aku menambahkannya ketika kulirik Minho sedikit berjengit tidak suka. “Apa kau benar-benar bertemu Eomma di coffee shop?”

“Hm, ia memanggilku. Jadi aku datang dan kami bertemu di coffee shop. Dia bilang kalau putrinya sudah seperti mayat hidup, jadi aku kemari untuk membuatnya kembali menjadi manusia.”

Aigoo,” aku memukul kepalanya pelan menggunakan tangan yang bebas. Yah, sudah kuduga kalau eomma berbohong.

Minho memiringkan tubuhnya hingga dengan leluasa ia dapat memandangi wajahku. Tangan kirinya menopang kepala, sedangkan tangan kanan masih menggenggam erat tanganku.

Ia terus memperhatikan tiap lekuk wajahku dengan kedua alis bertaut. Membuatku sangat salah tingkah dengan wajah memanas. Kedua matanya yang tajam menatap lekat tepat di kedua bola mataku. Kemudian, ia mulai bersuara…

“Di dunia ini ada satu hal yang membuatku begitu bahagia. Itu adalah kau. Eksistensimu adalah keajaiban bagiku. Mulai saat ini, aku hanya ingin berada di sampingmu…,” napas hangat Minho berhembus menerpa wajahku, jarak kami begitu dekat hingga membuatku tercekat, “…aku minta maaf atas semua kebodohan yang telah kulakukan padamu selama ini. Aku tak pernah memiliki maksud untuk menyakitimu. Karena kau adalah alasan bagiku untuk hidup, Jira-ya.”

Aku tahu seharusnya ini membuatku bahagia, namun entah kenapa kedua mataku sudah digenangi air mata. Minho menyeka air mataku saat mereka mulai meleleh dan meluncur di sudut mata.

“Hidup memang sulit dan menangis bukanlah sesuatu yang buruk. Maafkan aku, kelak suatu saat aku takkan membiarkan mereka terjatuh lagi menganak sungai di pipimu. Aku akan bertanggung jawab atas itu,”Minhomengucapkannya dengan tenang di mana kedua matanya masih terpaku padaku.

Gomawo. Cheongmal gomawo, Minho-ya.” Aku sedikit bangun untuk memeluknya. “Tetaplah di sisiku, kumohon!”

“Hm,” Minho mengangguk dan membalas pelukanku, hingga tubuhku kini berada di atasnya. Ia sedikit menjauhkanku dari tubuhnya dan kembali berbicara, “Apapun yang terjadi, jangan pernah mempercayaiku jika aku mengatakan tak lagi menginginkanmu. Dan jangan pernah merasa tersakiti tanpa seizinku!”

Aku mengangguk keras dan kembali menangis terharu. Beberapa kali ia mengecup kepalaku lembut. Aku sungguh berterima kasih untuk hari ini. Terima kasih pada eomma yang telah membuat kami bertemu, juga berterima kasih pada Jinki yang sudah mengorbankan dirinya demi kebahagiaan kami.

“Mungkin ini kesempatan yang Tuhan berikan itu…”

“Hm,” aku mengangguk setuju.

KEESOKANNYA, di saat aku terbangun, aku dikejutkan dengan wajah Minho yang dekat sekali dari pandanganku. Ia masih terlelap dan menarik napas tenang. Ia pasti sangat lelah, mengingat konsernya semalam yang menguras banyak energi.

Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat bulu matanya yang indah dan hidungnya yang lurus panjang. Aku merindukan hal-hal seperti ini. Lebih dari sebulan kami terpisah.

“Pandanglah sesukamu,” ujarnya dan tiba-tiba saja mata Keroro sudah nampak di hadapanku. “Sebesar itukah rasa rindumu?”

Aku terkejut dan sedikit mundur. Namun Minho menarik dagu dan mengecup bibirku kilat.

Morning~”

Dasar pencuri! Ia menyibakkan selimut lalu bangun dan merapikan tatanan rambutnya. Bajunya sudah lain, ia sudah menggantinya.

“Kau… mau kemana?”

Dia berbalik dan tersenyum. “Hari ini adalah konser hari ke-2. Ini sudah pukul tujuh, aku akan ke dorm mengambil barang-barang yang dibutuhkan lalu ke perusahaan, baru ke arena konser.”

“Wah, Mr. Busy is back!” sindirku.

Dia terkekeh lalu berjalan menghampiriku dan menarikku untuk bangun. “Buka matamu. Antar aku sampai depan!”

“Tak mau, di luar sangat dingin.”

Minho melepaskan pegangannya dan berjalan ke dapur, kemudian membawakanku secangkir cokelat panas. “Minumlah, semoga rasanya sama seperti buatan Kibum.”

Aku mengambil cangkir tersebut dan menyesapnya.

“Enak. Aku lebih suka ini dibandingkan buatan Kibum.”

“Benarkah? Ini pertama kali aku membuatnya.” Minho mengambil cangkir yang ada di tanganku kemudian ikut meminumnya. Ia memuntahkannya sebelum minuman itu tertelan. “Kau bohong. Ini pahit!”

Aku tertawa. Dengan mata masih menutup rapat, aku keluar dari selimut dan berjalan tersaruk-saruk menuju wastafel untuk mencuci muka. “Kau juga bohong. Kau bilang cokelat buatanku manis. Tapi kenyataannya itu pahit.”

“Cokelat?” ia membuat mimik lucu dengan wajahnya ketika berusaha mengingat. “Ah, cokelat Valentine itu?”

“Ya, saat itu kau bilang manis. Tapi kata Jonghyun rasanya sangat pahit sampai hampir membunuh kalian.”

Aku tak sanggup membuka mata, masih sangat mengantuk. Sepertinya semalam aku tidur pukul tiga. Pria yang selama ini kurindukan tidur di sampingku, jadi sangat wajar jika aku terus terjaga hanya untuk menikmati kehadirannya.

Kuraba apa saja yang ada di pinggiran wastafel untuk mencari sabun pencuci muka. Setelah mendapatkannya, kutuangkan sedikit ke telapak tangan dan mulai meratakannya ke seluruh wajah.

Minho menghampiriku dan memeluk perutku dari belakang seperti yang selalu ia lakukan padaku dulu. “Cokelat itu memang manis. Memakannya sambil menatapmu, itu sudah sangat manis.” Ia menempelkan bibirnya di kepalaku.

“Mi-Minho, jangan begini. Eomma…”

Eomonim pagi-pagi sekali sudah pergi. Dia bilang akan ke Daegu berpamitan dengan kerabatmu dan kembali nanti malam.”

Mwo? Tanpa mengajakku?”

“Kau sudah dibangunkan tadi. Tapi sama sekali tak menyahut.”

Eomma… melihat kita tidur bersama?” cicitku.

Aku bisa melihat Minho mengerutkan dahinya dari pantulan cermin. “Apa maksudmu dengan tidur bersama? Semalaman aku tidur di sofa kok.” Aku menatapnya bingung, kemudian ia melanjutkan, “Aku ada di sampingmu hanya sampai kau terlelap, setelah itu pindah ke sofa.”

Bibirku membentuk huruf ‘O’. Tunggu, sepertinya ada yang aneh dengan wajahku. “Minho, panas. Wajahku seperti terbakar…”

Minho memeriksa wajahku dan berteriak. “Yaaa, ini pasta gigi!!!”

Mwo?! Ottokhae? Panas sekali!”

Aku mulai menangis karena mata yang pedih. Minho menekan kepalaku mendekati kran air dan membantu membersihkan wajah.

“Sudah bersih, sekarang bagaimana?”

“Masih panas,” rengekku panik dan menyandarkan kepala di dadanya. “Semuanya terbakar. Ottokhae?”

Minho berlari menuju lemari es dan mengambil beberapa es batu, lalu membalutnya dengan saputangan dan menempelkannya di kedua pipiku. Ia merengkuh wajahku dan mengecupnya tepat di dahi. “Gwaenchana. Lain kali tolong hati-hati!”

Setelah selesai membubuhi krem wajah, aku melipat selimut-selimut dibantu oleh Minho. Kemudian ia membantuku memakaikan coat dan kami keluar dari apartemen.

Benar dugaanku. Di luar sangat dingin dan membuatku mengkerut menempel pada Minho, di mana ia melingkarkan lengan kanannya ke pinggangku.

Ketika melewati sebuah mobil, aku mengambil gundukan salju di atas atapnya dan menempelkannya ke wajah. “Ah, nyaman…”

Minho terkekeh. “Kau ceroboh sekali.”

“Itu pasta gigimu! Kau yang menaruh sembarangan.”

Ia mengeratkan pelukannya di pinggangku. “Mianhae. Kau perlu ke dermatologi kalau begitu. Ngomong-ngomong, kapan kau kembali lagi ke sini?”

Hatiku mencelos. Jadi, Minho belum mengetahuinya?

Kuhentikan langkah, begitupula dengannya. “Er, Minho-ya, setelah lulus nanti Appa memintaku untuk memimpin salah satu café-nya.”

“Jadi kau pulang kapan?”

Aku menunduk. “Tidak ada rencana untuk itu…”

Mwo?!” pekiknya. “Kita bahkan baru baikan.”

“Aku tahu…”

Minho terlihat sangat kacau. “Sampai di sini saja. Kau masuklah. Aku pergi, sampai nanti…”

Ia berjalan dengan cepat dan segera masuk ke dalam taksi. Sedangkan aku hanya memandanginya hingga taksi tersebut menghilang dari pandangan.

KIBUM datang ke apartemenku dan membantu kami membawa koper-koper hingga memasukkannya ke dalam taksi. Ia datang bersama Taemin di mana ia masih tak berhenti mengerucutkan bibirnya dan tak mengajakku bicara.

“Kau marah?” tanyaku sambil mencubit pipinya. “Dulu kau menangis melepasku pergi, kenapa sekarang marah?”

“Karena dulu masih ada harapan kau kembali. Kali ini tidak…,” ia menarik lenganku, “…kenapa di saat kami akan debut kau selalu tak ada di sisi kami, Noona?”

“De-debut?”

“Ya, kami akan debut di Jepang tahun ini,” sahut Kibum yang duduk di sisiku. Taksi terus berjalan membawa kami menuju bandara. Kulihat eomma tengah asyik memainkan ponselnya di kursi samping kemudi.

“Wow, itu keren. Lagu apa yang akan dialih ke bahasa Jepang?”

Replay,” kali ini Taemin yang kembali menjawab. “Lagi-lagi Noona takkan mendengar lagu itu.”

“Siapa bilang. Masih ada internet di dunia ini, Tae-ya, dan Amerika juga negara maju. Aku takkan tertinggal informasi mengenai kalian.”

“Tapi Noona takkan melihat langsung rambutku dengan konsep baru!” Taemin masih terus merajuk, membuatku gemas.

Aku tersenyum dan mengacak rambutnya. “Mianhae…”

Obrolan tersebut menghanyutkan kami hingga tak terasa taksi berhenti. Pintu utama Incheon International Airport ada di hadapanku. Kuhela napas berat. Rasanya sulit sekali melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam.

Taemin menurunkan topinya hingga menutupi sebagian wajah. Ia memelukku dan tak ingin melepasnya. “Noo~ naaa~, jangan pergi!”

“Aku harus.”

Noonaaa~~~,” ia kembali merengek hingga Kibum menariknya untuk melepaskanku.

“Jangan merengek dengan suara keras seperti itu! Kau bisa menarik perhatian orang-orang. Bisa-bisa besok sudah ada headline berjudul ‘SHINee Taemin Berkencan Dengan Wanita Tua’…”

Yaaa!” aku memukul keras kepala Kibum, tak peduli lagi dengan image artisnya, ia tetap adikku yang menyebalkan.

Dua orang pria berlarian menghampiri kami. Itu Jinki dan Jonghyun. Tanpa basa-basi Jjong langsung memelukku erat, namun kali ini ia tak menangis.

“Ah, entah kapan aku bisa melihatmu lagi.”

“Kau harus mampir ke rumahku jika SHINee memiliki jadwal disana.”

Jjong mengangguk. “Pasti. Er, kau benar-benar tak berniat kembali kemari di tengah-tengah mengurus café?”

“Tak tahu. Eomma bahkan mengajakku keParis untuk menghadiri perilisan pakaian musim panas hasil rancangannya nanti.”

“Wah, sibuk sekali!” sindir Jinki, merasa diabaikan.

Oppa,” aku melepaskan diri dari pelukan ‘Si Monster Otot Jonghyun’. “Terima kasih sudah datang. Well, syukurlah kali ini kau tak marah. Kau benar, ini de javu. Hanya saja situasinya terbalik.”

Yaaa, kenapa dengan wajahmu?” tanya Jinki.

Aku menyentuhnya dengan kedua tangan. “Apa masih merah? Aigoo~ Tak apa-apa, hanya sedikit kesalahan.”

“Oh ya, ngomong-ngomong di mana Minho?” tanya Kibum memandang berkeliling. “Cih, anak itu…”

Pemberitahuan bahwa pesawatku akan segera take off mulai terdengar. Aku memeluk mereka satu per satu dan perlahan-lahan berjalan menjauhi mereka.

“Jira-ya, kau tak apa-apa?” tanya Jinki.

Aku mengangguk dan tersenyum. “Gwaenchanayo, Oppa.”

Ia berjalan mendekat dan merengkuh wajahku lalu mengecup pipiku lembut. “Aku berjanji ini adalah yang terakhir. Sampai jumpa nanti.”

Aku tercenung, terkejut mendapat perlakuan tersebut. Perlahan-lahan aku mundur dan kulambaikan tangan pada mereka berempat yang membalasku. Bisa kulihat Taemin membuat bentuk hati dengan kedua tangannya. Aku membalasnya, setelah itu berbalik.

Tidak, aku tidak baik-baik saja. Hatiku sedih mendapati kenyataan bahwa Minho tak datang mengantarku. Saat ini aku benar-benar tak mengerti, apa ia marah padaku?

“Keterlaluan! Awas jika nanti bertemu, aku akan mencekiknya…”

GREP!

Seseorang memelukku dari belakang. Bisa kurasakan tarikan napasnya yang cepat di telingaku. “Maaf terlambat…”

Suara ini…

Aku berbalik. Ya, benar. Minho berdiri di hadapanku mengenakan jubah besar “empat kilogramnya” yang pernah ia pakai saat kami di atap gedung KBS dulu, saat Jinki memergoki kami tengah bersama.

Ia terlihat sangat kelelahan.

“Aku akan menunggumu. Sampai kapanpun akan kutunggu. Jadi, kembalilah!” Ia melepaskan cincin pasangan kami dan memberikannya padaku.

“I-ini…”

Minho melangkah mundur dengan senyum khasnya. Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan sketchbook berukuran A3 dan membuka lembaran pertama.

Aku akan menunggumu, bahkan jika hal itu sangat melelahkan.

      Aku terkekeh, begitupula eomma yang berdiri beberapa meter di belakangku. Minho membuka lembarannya lagi.

Jangan pernah mencintai orang lain, kau hanya boleh memikirkanku!

      “Babo,” gumamku. “Tentu saja.”

Ia membuka lembaran lainnya…

Jika ingin kita terus bersama, kau harus kembali. Berikan cincin itu padaku ketika kau kembali nanti. Maka aku resmi menjadi milikmu lagi. Aku bukan milikmu tanpa cincin itu di jariku.

      Rasanya aku ingin menghampirinya dan menjambak rambutnya hingga lepas. Sungguh, Choi Minho!

Lembaran lainnya kembali ia buka…

Dalam hidupku, ini adalah keputusan egois yang pernah kubuat. Namun itu adalah pilihan yang bijak. Bahkan bagi masa depan kita.

      Aku tersenyum dan ia membalik lembaran lagi.

Aku akan sangat merindukanmu. Saranghae…

      Kututup mulutku dengan punggung tangan. Air mataku secara otomatis tumpah. Si bodoh itu kembali membuatku menangis. Ia harus membayar mahal ini semua jika aku benar-benar kembali.

“Tunggu aku!” teriakku. “Kau harus menungguku!”

Ia mengangguk. “Selesaikan semua urusanmu disana. Jangan terlalu banyak memikirkanku. Kau harus fokus dengan impianmu…”

Aku mengangguk. “Bye…”

Eomma memanggilku untuk segera jalan. Aku menurut dan perlahan-lahan mendekati eomma. Namun, seseorang kembali menarikku. Itu Minho, ia mengecup dahiku sangat dalam. Lalu ia berjalan mundur melambaikan tangannya.

“Sampai jumpa,” teriaknya dengan kedua tangan membentuk hati.

“Hm… Sampai jumpa.”

Well, aku tak keberatan berpisah dengan jalan seperti ini selama kami saling mempercayai satu sama lain sampai waktu itu tiba. Seperti yang kau tahu, kami adalah pasangan yang keras kepala. Di mana hanya ada satu nama di hati kami.

Tuhan pasti mempunyai alasan mengapa kita dipertemukan dan dipisahkan dengan seseorang. Terima kasih, Tuhan, terima kasih atas kesempatan yang telah kau berikan bagi kami…

-End of We Walk story

 

P.S.: Untuk pendeskripsian Onew nangis di konser itu aku menyesuaikan dengan fancam di bawah ini:


# Yay, selesai jugaaa… Mohon maaf untuk Jira-Jinki shipper. Maaf juga sama semuanya yang kecewa dengan akhir cerita ini. Dari awal dapet ide juga udah diputuskan kalau Jira bakalan sama Minho. Tapi sempet gamang di tengah-tengah waktu JinJi shipper pada nongol. Keke~

# TERIMA KASIH BANYAK FOR ALL MY LOVELY READERS… Baik yang menampakkan dirinya atau yang nggak sama sekali dari awal sampai akhir. Yang penting FF ini dibaca…

# Sebenernya FF ini dibuat khusus selama promosi Lucifer-Hello. Makanya ceritanya cuma dibuat 6 bulan (periode Agustus-Januari). Tapi publishnya kelebihan~

Tadinya mau bikin WW season 2 khusus pas SHINee promosi album baru Korea lagi. Karena masih banyak karakter yang belum diceritain. Tapi jadi kayak Cinta Fitri jatuhnya berseason-season ria –_-“ Semuanya kembali tergantung MOOD. Hehe~ Kalaupun berlanjut, kemungkinan besar judulnya berbeda…

#Di part ini banyak kata-kata yang dicetak miring. Diabaikan aja, sebenernya ini udah masuk pengeditan. Mau saya bukukan soalnya *obsesi >o<

# Tolong kasih tahu kekurangan-kekurangan yang ada di FF ini―termasuk penggunaan bahasa, tanda baca, plot, dll―juga authornya (siapa tau cara berkomunikasinya jelek gitu).

3 thoughts on “We Walk [Part XVIII] – Final Decision (Last Part)

  1. aih….
    udahan gitu ?? endingnya brasa A2DC deh. si rangga ke luar negri g tau balik kapan. disuru nunggu gitu si cinta. cuman dimari yg disuru nunggu si minho.
    lanjutin atuh diyaaaa….. hehe

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s