Don’t Say Goodbye [1 of 2]


DON’T SAY GOODBYE [1 of 2]

Title : Don’t Say Goodbye

Author : Onmithee

Cast : Cho Kyuhyun, Park Chaeri and Kim Bongchul

Genre : Tragedy, Angst.

Rate : PG 17

 

Please don’t read if your age under 17 years old ^^

—-

 

“Andwe… Chaeri-ya… andwe.. hentikan!”

Door…

Door…

Terdengar dua kali letusan tembakan. Tubuh gadis itu lunglai, meregang nyawa…

 “Se-selamat… ti-tinggal….”

“Andwe… andwe… .”

Jangan pernah berkata selamat tinggal, sayang…

Kita tak akan pernah berpisah. Kau tahu itu!

Kau dan aku satu, selamanya. Walau jarak memisahkan, hatiku milikmu.

Sayang, jangan pergi. Kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu.

Aku milikmu, hati dan jiwa ini seluruhnya.

Sayang, kita akan bersama selamanya. Selama-lamanya…

10 Febuari 2011. Gangnam Resident Hill. Seoul.

 

Kyuhyun-ah…

Akhirnya hari ini tiba…

Hari ini akan menjadi hari terakhirmu di dunia ini. Aku sangat bahagia, akhirnya hari ini tiba juga. Sudah enam bulan aku merencanakan ini. Merencanakan kematianmu.

Kita akan berpisah hari ini, sayang. Kau tak perlu lagi menyembunyikan diriku. Tak perlu lagi takut penggemarmu tahu kalau aku kekasihmu. Karena apa? Karena mereka akan mengenaliku sebagai malaikat pencabut nyawamu.

Aku sudah tak sabar ingin melihatmu meregang nyawa. Apa yang akan kau ucapkan ketika tahu kalau aku sangat ingin menghabisi nyawamu?

Kalimat cinta yang selalu kau ucapkan pasti akan berubah menjadi kutukan.

Tatapan mesramu pasti akan berubah menjadi tatapan benci.

Serta, kau tak akan menyentuhku dengan lembut lagi. Kau pasti akan mencakarku, menjambak, memukul. Pastinya kau akan melawanku ketika aku hendak mencelakakanmu.

Oh sayang. Aku sudah tak sabar lagi untuk merasakannya…

“Sayang, bagaimana penampilanku?”

“Sangat tampan.” Sahutku.

Cho Kyuhyun, kau memang selalu tampan. Bahkan mungkin kau akan menjadi korban pembunuhan tertampan dengan tuxedomu itu.

Aku lalu mendekatinya yang masih merapikan rambut di depan cermin besar di kamar kami. Aku merapikan dasi kupu-kupu yang dia kenakan.

Oh.. aku sudah sangat ingin mencekiknya dengan dasi ini. Tapi, jika kulakukan maka tak akan berjalan sesuai rencana. Jadi, aku hanya merapikan dasi itu.

Dia lalu membelai pipiku. Memeluk dan mencium leherku.

Sumpah demi apapun. Aku benci ketika dia melakukan ini.

Tapi, aku berusaha bertahan. Hanya hari ini, biarkan saja dia berpikir aku menyukainya. Yah, pada akhirnya dia juga akan mati ditanganku. Biarkan saja dia bahagia. Sebentar saja.

“Sayang, aku punya hadiah untukmu.” Katanya.

Dia melepaskan pelukannya. Berjalan menuju meja rias, mengambil sesuatu dari dalam laci. Dia lalu menghampiriku. Tangannya dia sembunyikan dibelakang punggungnya. Senyum menyebalkannya mengembang. Kau tahu, senyum itu sebenarnya mungkin akan dibilang sangat manis oleh para penggemarnya. Tapi tidak untukku. Segala sesuatu darinya adalah menyebalkan. Dan aku sudah sangat muak padanya.

“Pejamkan matamu, sayang.” Pintanya.

Aku mencoba tersenyum. Mengikuti permintaanya, aku memejamkan mata. Aku tahu dia berjalan ke belakangku. Menciumi tengkukku lagi, lalu aku merasakan sesuatu yang dingin melingkar di leherku.

“Sekarang bukalah matamu,” bisiknya ditelingaku.

Aku menurut. Aku menunduk untuk melihat benda yang dikalungkannya di leherku. Aku tersenyum melihat hadiahnya. Sementara dia mencium pipiku tanpa henti.

“Kau tak suka, sayang?”

“Aku suka.” Jawabku pendek. Biarpun suka tapi bukan berarti aku akan membatalkan niatku. Karena hal yang paling aku sukai adalah kematianmu, sayang.

“Itu replika dari kalung yang diberikan Raja Louis XVI untuk istrinya Maria Antoinette. Aku membelinya di Paris seminggu yang lalu. Andai saja yang asli dijual, aku pasti akan membelinya untukmu.”

Aku berbalik untuk menatapnya. Dia meraih kedua tanganku. Wajahnya terlihat bahagia sekali.

“Aku suka apapun yang kau berikan padaku.” Kataku membual.

Dia langsung mencumbuku ketika aku menyelesaikan ucapanku. Ah.. aku muak dengan ciumannya ini. Tapi aku tetap membalasnya.

“Aku juga punya kejutan lain untukmu. Tapi baru akan kuberikan di pesta nanti.”

“Kenapa tak kau berikan sekarang?” tanyaku sok penasaran.

Dia menggeleng. Tertawa penuh kemenangan mengira aku begitu menginginkan kejutannya itu.

“Tak bisa.” Katanya. “Tunggulah saat pesta.” Dia lalu merapikan tuxedonya. “Aku duluan ke mobil. Kau rapikan make-up mu. Lipstikmu pudar gara-gara ciuman kita tadi.”

Aku menatap punggungnya yang berlalu meninggalkanku sendirian di kamar kami. Aku lalu menatap diriku di cermin. Benar katanya, make-up ku berantakan gara-gara ulahnya. Aku membenahi diri. Lalu aku kembali memperhatikan penampilanku lewat cermin.

Gaun satin hitam pendek tak berlengan yang kukenakan tampaknya terlalu indah jika menjadi kostum untuk membunuh kekasihku itu. Sayang sekali pakaian ini akan bersimbah darah. Tapi, paling tidak Kyuhyun harus melihatku dalam keadaan cantik ketika dia mati.

Aku kemudian keluar dari kamar dengan membawa tas yang berisi senjata untuk membunuh Kyuhyun. Ah, rasanya sudah tak sabar. Tapi sebelumnya, ada rencana lain yang harus kulakukan.

Noona, kau sudah siap?”

Seorang pria sedikit gemuk dengan rambut ikal bertanya padaku. Pria ini, Kim Bongchul adalah asisten Kyuhyun. Umurnya baru 23 tahun. Lebih muda 2 tahun dariku dan Kyuhyun. Dia selalu berada disekitarku dan Kyuhyun. Dia juga ikut tinggal di mansion ini. Aku berjalan mendekatinya.

“Tentu.” Jawabku.

“Kalau begitu ayo kita susul hyung ke mobil,” dia berjalan memunggungiku.

“Bongchul-ah…”

Dia berbalik. Alis kanannya naik, ekspresi wajahnya seakan berkata, ‘ada apa?’

Aku tersenyum mendekatinya. Merangkulnya yang membuatnya terkejut, rasa terkejut yang sebentar berganti dengan jeritan perih.

No-noona.. a-apa…” dia tak sanggup berkata-kata lagi. Wajahnya pucat dengan darah bersimbah dari punggungnya.

“Selamat tinggal Bongchul-ah…” kataku mencabut belati yang kutikamkan ke punggungnya. Mundur dengan cepat tanpa rasa bersalah atau sedih ketika dia terjatuh menahan sakit. Aku bahkan menendang tangannya yang berusaha mencengkram kakiku. Berjalan melaluinya yang sedang kesakitan. Menutup pintu, membiarkan dia sendirian di dalam. Di mansion yang selama ini menjadi tempat tinggal kami.

“Sayang, kau lama sekali.” Seru Kyuhyun yang sedang menyandarkan dirinya di Lamborgini hitam miliknya saat aku tiba di tempat parkir. “Mana Bongchul?”

“Katanya dia akan menyusul. Tiba-tiba sakit perut.”

“Oh? Jadi aku yang menyetir?” wajahnya terlihat cemberut.

“Aku yang akan melakukannya.”

“Itu bagus.” Angguknya kemudian masuk ke mobil.

“Aku akan membawamu mampir ke suatu tempat sebelum kita ke tempat pesta.” Kataku sambil menghidupkan mesin mobil.

Kyuhyun menunjukkan wajah penasarannya. “Kemana?”

“Tempat yang sangat special.”

“Ah, kau benar-benar membuatku penasaran.” Dia terlihat bahagia sekali.

‘Yah, kau pasti penasaran ingin melihat tempat kematianmu.’

Sekitar 20 menit aku mengemudikan mobil.  Kyuhyun berkali-kali bertanya padaku kemana akan mengajaknya karena kami semakin menjauh dari pusat kota.

“Sayang, 30 menit lagi pestanya dimulai. Apa akan sempat? Kita bisa putar arah dan ke tempat yang kau mau setelah pesta usai ‘kan?”

“Kita akan sampai sebentar lagi. Bersabarlah, sayang.”

Aku bisa melihat wajahnya yang merengut sambil menatap arloji. Dia memang terkenal dengan kedisiplinan waktu. Dia pasti sangat tak suka jika terlambat, apalagi pesta yang akan kami datangi adalah pesta ulang tahunnya yang diadakan special oleh managemennya untuk dirayakan bersama penggemarnya. Ulang tahun Kyuhyun sebenarnya sudah lewat seminggu yang lalu, tapi karena saat itu dia sedang disibukkan dengan jadwal konser keliling dunianya, sehingga baru bisa dirayakan hari ini.

Lima menit kemudian kami tiba di tempat tujuanku. Kyuhyun terlihat bingung. Wajahnya penuh akan rasa ingin tahu.

“Ini hanya gudang kosong, sayang.”

“Ada sesuatu yang special di dalam sana.” Kataku. Mengeluarkan selembar kain hitam dari dalam tas ku.

“I-itu untuk apa?” dia bertanya dengan polosnya.

“Untuk menutup matamu. Tak seru kalau kau melihat kejutan yang kubuat untukmu.”

Dia tersenyum. Mengangguk. “Oke, silahkan menutup mataku.”

Aku tertawa. Dia memang sangat bodoh. Begitu besarkah rasa kepercayaannya padaku sehingga tak curiga kalau aku akan mencelakakannya?

Setelah aku menutup matanya dengan kain hitam itu. Aku mengajaknya keluar dari mobil. Menuntunnya ke gudang kosong bekas pabrik kertas yang sudah tak digunakan lagi. Dia menggenggam tanganku sangat erat. Seolah takut aku meninggalkannya.

Kami sampai pada tiang yang menjadi penyangga gudang. Aku mendorongnya ke tiang itu. Lalu mengeluarkan tali, mengikat Kyuhyun ke tiang itu sambil tetap dalam posisi berdiri.

“Sayang, apa yang kau lakukan?” nada suaranya mulai terdengar panik.

“Hanya bermain sebentar, sayang. Kau pasti akan menikmatinya.”

Setelah mengikatnya dengan erat. Aku membuka penutup matanya. Dia terlihat terkejut.

“Apa yang akan kau lakukan? Tak ada kejutan apapun disini?”

“Kejutannya sebentar lagi, sayang.” Aku mencium pipinya, bibirnya, lalu lehernya. Dia begitu menikmati perlakuanku.

“Euhgg, sa-sayang. A-akan lebih nyaman jika k-kita melakukannya t-tanpa kau mengikatku. Ahh…”

Aku tak memperdulikan ucapannya. Masih bagus aku menservicenya sebelum dia mati. Kami bercinta cukup lama. Walau mengeluh karena terikat, toh aku tahu kalau dia sangat menikmati permainan kami.

Aku pasangkan lagi celananya yang terbuka setelah aku merasa puas. Aku tahu dia masih menginginkan lagi. Tapi bagiku sudah cukup. Bisa-bisa aku kehabisan tenaga sebelum rencana puncakku terlaksana.

“Sayang, ayolah. Lepas ikatanku.”

Aku menggeleng, menolak permintaanya. Aku merapikan pakaianku. Mengambil cermin kecil dalam tas. Mematut diri. Oh, sial… make-up ku luntur.

“Memangnya ada kejutan lagi?”

Aku mengangguk. Tersenyum padanya. Aku memasukkan cerminku. Lalu mengambil sesuatu dari sana. Yah.. sesuatu itu adalah belati yang kugunakan untuk menikam Bongchul. Kyuhyun terlihat terkejut melihat belatiku yang ternoda darah.

“Sa-sayang,” dia kembali terlihat gugup. “Be-belati itu. I-itu darah siapa?”

“Bongchul.” Kataku.

“Apa yang kau lakukan padanya?” suaranya terdengar ketakutan.

“Aku membunuhnya, sayang…”

“Bohong! Kau bercanda. Kau mencoba mengerjaiku!”

Aku menggeleng. Senyumanku masih tak hilang. “Aku tak bercanda, sayang.”

“Chaeri-ya!” dia berseru marah. “Ini sama sekali tak lucu!”

“Kenapa memanggilku dengan nama, sayang? Seperti bukan kau saja?”

“Park Chaeri, ada apa denganmu? Lepaskan aku! Kau kenapa? Kau sungguhan membunuh BongChul? Itu bohong! Apa salahnya padamu?!”

Aku tertawa. Tertawa sangat lepas. Dia melihatku dengan ekspresi bingung dan ketakutan.

“Bongchul memang tak salah apa-apa. Malang sekali dia…”

“Chaeri-ya…” serunya. Wajahnya memelas.

“KENAPA MASIH MEMANGGIL NAMAKU?!” pekikku. Aku mengarahkan belatiku pada lehernya. “Bukankah kau selalu memanggilku ‘sayang’ ketika kita berdua saja? Tak ada orang lain disini. Hanya kita. Tak ada managermu. Tak ada fans. Tak ada wartawan. Kita berdua saja, sayang.”

“Kau kenapa?” air mata mulai membasahi wajahnya. “Apa maumu?”

“Aku ingin kau mati. Aku akan membunuhmu di tempat ini. Itulah kejutan dariku sayang.” Kataku menarik kalung pemberiannya. Aku bisa merasakan perih di leherku. Aku meraba leherku, berdarah. Tapi aku tak peduli. Sebentar lagi rasa sakit ini hilang. Berganti rasa bahagia karena aku bisa melenyapkan pria ini dari muka bumi.

“Katakan padaku! Alasan apa yang membuatmu ingin membunuhku! Aku salah apa? Aku sangat mencintaimu. Kau tahu itu. Hanya kau wanita yang kucintai. Aku hidup untukmu, sayang. Lalu kenapa kau ingin aku mati?!”

Aku terkekeh. Tanganku masih mengarahkan belati ke lehernya yang putih itu.

“Karena aku membencimu. Hanya itu alasanku.”

Dia menangis, “Kau bohong! Kau mencintaiku. Aku tahu itu.”

“AKU MEMBENCIMU CHO KYUHYUN! SANGAT BENCI HINGGA KE SUMSUM TULANGKU!” pekikku. “Kau tak tahu apa-apa. Aku tak mencintaimu. Aku benci kau!”

“Lalu, kenapa kau mau hidup bersamaku? Bercinta denganku? Menerima ciumanku. Kalau kau membenciku? Kau mencintaiku sayang. Jadi hentikanlah ini. Lepaskan aku dan lupakan kalau kau ingin membunuhku.”

“TIDAK! Aku tak mau! Aku hidup bersamamu, bercinta denganmu, semuanya kulakukan demi hari ini. Agar aku bisa menghabisimu. Aku tak akan melepaskanmu…”

10  Febuari 1997. Children’s House Matilda. Nowon, Seoul.

“Park Chaeri, kemarilah.”

Aku mendatangi ibu kepala panti asuhan yang memanggilku. Aku melihat ia bersama dengan seorang bocah lelaki kurus berwajah sendu dengan mata sembab. Bocah lelaki itu baru aku lihat hari ini. Dia pasti pendatang baru. Anak yang bernasib sama denganku, kehilangan keluarga, sebatang kara. Tubuh bocah lelaki itu lebih kecil dariku, mungkin usianya lebih muda.

“Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku pada ibu kepala.

“Kau antar anak ini ke kamarnya,” kata ibu kepala sembari memberiku sebuah koper. “Kamarnya di lantai 2, di pojok dekat tangga, bekas kamar Junsu. Lalu antar dia untuk berkenalan dengan teman-temanmu yang lain.”

“Baik bu.”

Aku lalu menggandeng tangan bocah lelaki itu sementara tanganku yang lain menggeret koper miliknya. Dia terlihat terkejut ketika aku menyentuh tangannya. Tapi dia tak menolak, malah menggenggam tanganku sangat erat.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Cho Kyuhyun.” jawabnya lirih.

“Aku Park Chaeri.” Kataku memperkenalkan diri. “Kau habis menangis?”

Dia mengangguk. “Aku baru kehilangan keluargaku.” Katanya mulai terisak.

“Semua disini juga seperti kau. Aku juga sama. Aku sudah tinggal disini sejak usiaku 7 tahun. Ohya, berapa umurmu?”

“se-sepuluh tahun…”

“Aku juga. Wah, kukira kau lebih muda. Aku baru berulang tahun tiga hari yang lalu.” Seruku.

“Aku juga,” sahutnya. “Aku berulang tahun seminggu yang lalu.”

“Jadi kita hanya terpaut empat hari?”

Dia mengangguk, senyum mulai menghiasi wajahnya.

“Jadi, aku tak perlu memanggilmu ‘oppa’,” kataku.

“Ya, panggil saja namaku. Chaeri-ya…”

Untuk pertama kalinya, seseorang memanggil namaku dengan cara seperti itu. Suaranya begitu lembut. Aku pikir, dia akan menjadi teman terbaik yang pernah aku miliki.

14 Maret 2003 . Yeom Kwang High School. Nowon, Seoul.

“Berhenti mengikutiku! Kita beda kelas. Kau tak perlu selalu bersamaku!”

Dia menggeleng, masih mengikutiku berjalan menyusuri lorong sekolah ketika jam pulang tiba. Siswa-siswa yang lain memperhatikan kami. Tapi aku tak peduli pada mereka.

“Chaeri-ya, tunggu. Kau tak boleh pergi!”

“Apa hak mu melarangku? Aku akan kencan dengan Heechul-sunbaenim. Dia sudah menungguku di gerbang sekolah. Kau bisa pulang sendiri. Jadi berhentilah mengikutiku!”

“A-aku tak mau kau pergi dengannya!”

Aku berbalik. Aku bisa melihat keringat mengucur deras dari keningnya. Wajahnya terlihat sayu. Dia lalu menarik tanganku. Memaksaku untuk menatap matanya.

“Chaeri-ya,” katanya perlahan. “Kau tak boleh kencan dengannya.”

“Kenapa? Dia menyukaiku. Kenapa kau selalu marah setiap kali ada pria yang mencoba mendekatiku. Kita hanya berteman, Cho Kyuhyun. Kau tak berhak mengatur ataupun melarangku berkencan.”

“Aku punya hak!” nada suaranya meninggi. “Karena aku tak menganggapmu teman, Chaeri-ya. Aku menyukaimu, menyukai kau sebagai wanita. Aku mencintaimu…”

Di White day setelah enam tahun kami bersama. Untuk pertama kalinya dia menyatakan cintanya padaku. Aku terpaku menatap wajah tampannya. Dia berubah setelah enam tahun kebersamaan kami. Dia lebih tinggi dariku. Begitu tampan dengan suara bass yang merdu walaupun dia hanya berbicara.

Aku menunduk setelah mendengar pernyataan cinta darinya. Rasanya berbeda dari pernyataan cinta yang pernah diungkapkan oleh lelaki lain. Mungkin karena aku sudah terlalu terbiasa dengan keberadaannya bersamaku selama ini. Karena kami tumbuh besar bersama.

Dia merengkuh wajahku. Memaksaku kembali menatapnya. Wajahnya terlihat penuh harap akan jawabanku. Aku merasa bimbang, bagaimanapun juga dia adalah teman terbaikku selama ini. Kami tinggal di tempat yang sama. Akan ada rasa canggung jika aku menolaknya. Hubungan kami pasti akan berubah tak seindah dulu. Tapi jika aku menerimanya dan suatu saat hubungan kami berakhir, itu juga menjadi hal yang buruk. Aku sangat bingung.

“Aku ingin kau juga mencintaiku. Menganggapku sebagai pria…” dia berusaha memelukku. “Aku ingin bersamamu selamanya…”

Aku tak bisa menolaknya. Karena dibandingkan dengan orang lain, dialah yang paling aku kenal baik. Tak ada pria yang sebaik dirinya. Lagipula, aku juga ingin selalu bersamanya.

Airmataku menetes ketika tanpa persetujuanku, dia mengecup pipiku. Aku benar-benar tak bisa menolaknya. Membiarkan saja dia memelukku dan malah membalas pelukannya.

“Jangan pergi dengan pria lain. Sudah ada aku yang akan melindungimu,” bisiknya.

Yah, dia benar. Aku tak butuh pria lain. Cukup Cho Kyuhyun seorang. Aku percaya padanya.

10 Febuari 2006. Paradise Hotel. Cheju island.

Nafas kami berderu, aku berusaha menahan pekikan dan rintihan karena kenikmatan yang Kyuhyun berikan pada tubuhku. Setelah hentakan terakhir yang membuat kami mencapai puncak, dia menghempaskan tubuhnya ke sampingku.

Peluh membasahi tubuh kami atas pengalaman pertama ini. Aku menatap langit-langit kamar masih tak mempercayai apa yang barusan terjadi.

“Sayang, terima kasih,” Kyuhyun mengatakan dengan nafas tersengal. Aku menoleh padanya yang tersenyum puas. Dia mengecup bibirku. Membelai pipiku. “Aku mencintaimu.” Ucapnya.

Aku tak menjawab. Aku menggapai tangannya yang masih mengelus wajahku. Kucium jemarinya. Membalas senyum kebahagiaannya.

Ini adalah perayaan 9 tahun kebersamaan kami. Tak menyangka kami bisa seperti ini sekarang. Kami baru saja menyelesaikan studi di SMA. Kyuhyun, dia mendapatkan beasiswa kuliah di Kyunghee university. Sementara aku tak melanjutkan sekolah. Tapi bukan berarti aku tak melakukan apapun. Aku adalah seorang trainee. Aku akan debut menjadi seorang penyanyi tak lama lagi. Aku sudah menjalani masa-masa trainee sejak ditingkat dua SMA.

Kami berdua sudah tak tinggal di panti lagi. Kyuhyun memilih hidup sendiri di kos. Dia kuliah sembari bekerja part time. Dari penghasilannya, dia menyisihkan untuk mengongkosi biaya hidupku yang tinggal di asrama. Dia benar-benar bertanggung jawab padaku. Sehingga aku tak menyesal menyerahkan hidupku padanya.

“Paling tidak, jika kau terkenal nanti kau tak akan memutuskanku karena kita sudah melakukan ini, sayang,” imbuhnya tersenyum nakal padaku.

“Kau pikir, aku akan meninggalkanmu jika aku sudah terkenal? Itu tak mungkin!” rengutku.

Dia terkekeh, “Aku tahu itu. Kau tak akan meninggalkanku karena kau sangat mencintaiku.”

“Percaya diri sekali,” aku ikut terkekeh.

“Sayang…”

“Hm?” tanyaku.

“Berjanjilah, jangan pernah mengatakan selamat tinggal padaku. Kita akan selalu bersama selamanya. Bersatu tanpa saling menyakiti…”

Aku termangu mendengar ucapannya itu. Dia menatapku. Jari-jari tangannya yang panjang masih bermain membelai wajahku.

Aku menganguk, “Ya, aku berjanji…” kataku mengecup bibirnya.

 

 

++To Be Continued++

** HOT HOT .. baru kali ini bikin FF genre hampir NC kyk gini.. hohoho~

btw, nih FF cmn bakal di publish disini ^^ soo please leave comment ya ^^

ohya.. endingx ntar rada gaje… gak tw deh kenapa aq bisa nulis FF yg kayak gini, otak lagi sarap kali yooo.. hahaha

bagi yg blom 17 baca nih FF ya sudah lah.. wong dah dikasih peringatan gituuuuuu~

biar gak NC tetep az aq gak mau ngotorin otak kalian yang masih polos.. buahaha *iya klo beneran masih polos sih*

55 thoughts on “Don’t Say Goodbye [1 of 2]

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s