DON’T SAY GOODBYE [2 of 2]


DON’T SAY GOODBYE [2 of 2]

Title : Don’t Say Goodbye

Author : Onmithee

Cast : Cho Kyuhyun, Park Chaeri and Kim Bongchul

Genre : Tragedy, Angst.

Rate : PG 17

 

Please don’t read if your age under 17 years old ^^

—-

 

“Andwe… Chaeri-ya… andwe.. hentikan!”

Door…

Door…

Terdengar dua kali letusan tembakan. Tubuh gadis itu lunglai, meregang nyawa…

 “Se-selamat… ti-tinggal….”

“Andwe… andwe… .”

Jangan pernah berkata selamat tinggal, sayang…

Kita tak akan pernah berpisah. Kau tahu itu!

Kau dan aku satu, selamanya. Walau jarak memisahkan, hatiku milikmu.

Sayang, jangan pergi. Kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu.

Aku milikmu, hati dan jiwa ini seluruhnya.

Sayang, kita akan bersama selamanya. Selama-lamanya…

20 Maret 2006. Seoul Hospital. Seoul

Sudah seminggu aku dirawat di rumah sakit ini.  Rasa sakit masih bisa kurasakan disekujur tubuh. Tapi segala kesakitan itu masih tak bisa mengalahkan rasa sakit di hatiku.

Aku mengumpat. Mengutuk dunia atas ketidakadilan yang harus kujalani. Aku kehilangan keluargaku semenjak kecil. Itu penderitaan terberat dan sekarang penderitaan baru harus kualami. Aku cacat.

Kenapa aku tak mati saja dalam kecelakaan itu. Lebih baik mobil itu menggilas tubuhku sampai hancur sekalian. Itu lebih baik ketimbang hidup dalam ketidaksempurnaan. Aku bagaikan sampah yang teronggok, hendak dibuang tetapi tak ada yang mau melakukannya karena jijik.

Dalam kondisiku sekarang, sudah dipastikan aku harus mengubur impianku menjadi penyanyi. Perusahaan tempatku bernaung mana mau mendebutkan seorang cacat sepertiku. Mereka membutuhkan bintang yang sempurna.

Masa depan yang kuharapkan indah, hancur sudah. Hancur seperti jari-jari kaki kiriku. Aku bahkan merasa jijik ketika melihat kakiku yang sudah tak utuh itu.

“Menangislah jika itu membuatmu puas. Tapi kau pasti tahu, kau tak bisa menangis selamanya. Hidupmu masih berlanjut, Park Chaeri. Kau harus mensyukuri itu.” Pesan ibu kepala panti yang mengunjungiku.

“Benarkah?” tanyaku ragu.

“Tentu.” Ibu kepala membelai kepalaku. Dia kemudian tersenyum pada Kyuhyun yang menjagaku selama aku dirawat. “Banyak hal baik yang akan terjadi selama kau bersabar menghadapi cobaan ini. Kau pasti bisa, anakku.”

Aku tak mau mempercayai ucapan ibu kepala. Aku sudah terlalu banyak bersabar menghadapi hidup ini. Tapi tak ada keajaiban yang terjadi. Apa aku harus menunggu semua masalah muncul dengan tetap bersabar sampai aku mati? Kurasa aku sudah tak sanggup. Tapi jika aku mengatakan pada mereka tentang apa yang aku pikirkan, itu pasti akan membuat mereka cemas.

“Kau dengar kan? Banyak hal baik yang akan terjadi jika kita bersabar. Aku yakin, kau pasti bisa. Kau gadis yang kuat. Kau akan kembali bangkit. Aku percaya itu.” Kata Kyuhyun setelah ibu kepala panti Matilda pulang.

“Apa kau akan selalu bersamaku sampai aku bisa bangkit kembali?” tanyaku.

“Tentu. Bukankah kita sudah berjanji tak akan berpisah?!”

“Tapi, aku cacat Kyuhyun-ah…” aku menangis lagi.

“Bagiku, kau tetap sama.” Dia menyeka airmataku. “Setiap tahun, banyak hal yang berubah Chaeri-ya. Tubuh kita tak akan sama selamanya. Tapi, kau harus percaya padaku. Perasaanku padamu tak pernah berubah. Aku menyayangimu semenjak kita bertemu, selamanya akan selalu seperti itu.”

Aku tahu, dia memang paling pintar berkata manis untukku. Kata-katanya itu adalah obat terampuh dari penyakit hati yang disebut keputusasaan yang kini kurasakan.

Paling tidak, aku akan bertahan demi dia.

25 Mei 2006. Studio SBS. Seoul.

 

Apa-apaan ini?! Aku tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Inikah kejutan yang ingin dia tunjukkan padaku?

Kesibukannya selama dua bulan ini, ternyata karena dia…hah, karena dia debut menjadi penyanyi?!

Ini tak mungkin. Aku bahkan butuh waktu dua tahun untuk bisa masuk ke dapur rekaman. Bahkan itu tidak menjanjikan aku akan segera debut. Masih harus menunggu berbulan-bulan walau tetap gagal karena kecelakaan sialan itu.

Tapi, dia… Cho Kyuhyun, hanya dalam waktu dua bulan setelah kecelakaanku. Kenapa dia justru bisa merasakan indahnya sorotan panggung music?! Kenapa dia bisa dielu-elukan seperti sekarang ini?

Ini tak adil!

Aku berjalan dengan tertatih-tatih karena kaki pincangku ini keluar dari studio. Tak terima dengan kenyataan ini. Kenapa dia melakukan ini padaku. Berbohong tak mengatakan apapun tentang debutnya. Dia pasti akan berpikir aku akan marah, yah itu benar. Aku sekarang sangat marah. Marah karena iri dan marah karena dia menipuku. Membohongiku.

Aku menangis di luar gedung. Aku tak terima dengan segala ketidakadilan ini. Kenapa? Kenapa aku harus menjalani hidup seperti ini? Apa salahku pada dunia ini?

“Sayang…”

Suara itu, aku mengenalnya. Walau sekarang suara itu terdengar begitu menyebalkan.

Aku yang sedang duduk memeluk lutut dan memendamkan kepalaku disana, mendongak. Aku melihat dia, orang yang merebut impianku sedang berdiri di hadapanku. Dia mengenakan hoodie yang menutupi wajahnya sehingga membuatnya susah dikenali. Tapi walau menyamar seperti apapun, aku tahu dia adalah Cho Kyuhyun.

“Kau marah padaku karena tak menceritakan ini?” tanyanya.

Aku tak menjawab. Dia pastinya tahu jawabanku. Bukankah dia begitu mengenalku?

Mianhae, tak memberitahumu sebelumnya. Tapi, aku bisa menjelaskan. Maukah kau mendengarkannya?”

Aku bangkit, mencoba berlalu. Tapi dia menahanku sekuat tenaga. Memelukku erat. Tak membiarkan aku bergerak.

“Apa maumu?” rintihku.

“Dengarkan penjelasanku!” tegasnya. Dia lalu berkata lebih lembut. “Akan kuceritakan semuanya setelah kita di rumahku. Aku akan menyuruh orang untuk mengantarmu kesana. Kau kenal dengan Kim Bongchul ‘kan? Dia asistenku sekarang. Kau ikutlah dengannya.”

Setelah dia mengatakan itu, dia mengecup keningku, kemudian berlalu memasuki gedung lagi. Lalu orang yang bernama Kim Bongchul itu mendekatiku. Aku mengenal pria ini, dia sama sepertiku. Orang gagal. Aku mengenalnya ketika mengikuti audisi di managemen tempat Kyuhyun sekarang bernaung. Yah, tempat dimana dulu aku juga menggantungkan harapan sebelum akhirnya mereka mendepakku. Aku lulus audisi saat itu dan menjadi trainee, sementara Bongchul, dia gagal sejak awal. Fisiknya tak menunjangnya menjadi artis. Tampangnya seperti orang idiot dan ketika berbicara dengan orang asing dia selalu gagap. Suaranya pun pas-pasan, malah bisa dibilang buruk. Tapi dari segala ketidaksempurnaannya, paling tidak dia tak cacat fisik sepertiku. Dia sendiri mengikuti audisi saat itu hanya agar bisa melihat idolanya, Kim Taeyeon yang saat itu menjadi juri. Karena keluguannya, dia diajak bergabung ke perusahaan, walau hanya dipekerjakan sebagai pesuruh. Tak kusangka dia sekarang malah menjadi asisten, yah… mungkin dia diangkat menjadi asisten karena Kyuhyun adalah artis baru.

“A-ayo ikut denganku…” kata Kim Bongchul.

Aku mengacuhkannya. Aku tak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari Kyuhyun.

“Ayolah…” dia menarik ku paksa. Walau aku meronta dia mengabaikannya. Apakah Kyuhyun yang memerintahnya untuk mengabaikan penolakanku? Keterlaluan sekali. Kim Bongchul memaksaku masuk ke sebuah mobil van lalu melajukannya hingga kami sampai ke sebuah mansion yang letaknya masih di lokasi yang sama dengan asramaku dulu.

Dia mengajakku masuk ke mansion itu. Tempat yang sangat bagus dibandingkan kos-an Kyuhyun yang aku tempati selama dua bulan ini semenjak perusahaan memecat status trainee ku. Ternyata, selama aku tinggal di kos-nya, Kyuhyun rupanya tinggal di tempat ini. Mansion yang mempunyai fasilitas lengkap dan modern. Pantas saja dia betah dan tak mau menemaniku hidup di sana. Rupanya, dia hidup enak disini. Oh, aku juga heran, betapa royalnya perusahaan pada pendatang baru seperti Kyuhyun. Apakah potensi Kyuhyun begitu luar biasa sehingga perusahaan mau bertaruh dengan modal besar untuk debutnya.

“Ka-kata hyung, k-kau harus tunggu dia di-disini. A-aku akan me-mengambil barang-barangmu. Hyung bi-bilang kau harus tinggal disini ber-bersamanya…”

Tinggal disini? Bersamanya? Itu tak mungkin. Dia baru debut hari ini. Jika masyarakat tahu dia tinggal bersama dengan kekasihnya, bukankah itu akan menjadi skandal yang menghambat karirnya? Lagipula, perusahaan mana sudi membiarkanku disini. Bukankah Kyuhyun sekarang menjadi aset baru bagi mereka?

 

10 Febuari 2007. Gangnam Resident Hills, Kyuhyun Mansion. Seoul.

“Selamat hari jadi ke-10 tahun,” serunya mencium kedua pipiku saat terbangun pagi ini. “Oya, selamat memasuki usia dewasa, sayang.”

Aku memandangnya yang tersenyum bahagia. Wajahnya begitu polos, tak berubah walau sekarang dia sudah menjadi bintang besar dengan kekayaan yang cukup melimpah. Dia menjadi penyanyi pendatang baru terbaik tahun lalu. Tak terhitung tawaran kontrak iklan yang datang padanya. Dia seakan menjadi anak lelaki kesayangan di negeri ini.

Dia yang begitu bersinar tanpa pernah dia harapkan membuatku selalu iri.

Walaupun cintanya padaku belum berubah, tapi aku merasakan hidup ini menjadi sangat buruk ketika elu-eluan dari masyarakat tertuju padanya. Begitu banyak pujian, sanjungan yang diberikan padanya membuatku yang selalu disisinya bagaikan batu kali yang tak berharga.

Aku yang selalu disampingnya, dikenal hanya sebagai asisten yang membantu membawakan pakaiannya. Bukan sebagai orang yang dulu hampir menjadi penyanyi. Aku merasa malu, rendah diri ketika berada disisinya yang selalu dipenuhi cahaya.

Ingin pergi tapi dia tak pernah membiarkan. Selalu menemukanku kemanapun aku menghindar. Dia begitu mengikatku. Tak melepaskan ataupun mengendurkan tali kekang yang dikaitkannya di leherku.

Oh, paling tidak jika dia tak mau melepaskanku. Kenapa dia tak membiarkan dunia tahu statusku sesungguhnya disisinya. Kenapa dia membiarkan saja semua orang mengenalku sebagai asisten pembawa pakaiannya. Bukan kekasihnya?

Aku tahu, itu karena dia takut pamornya turun. Takut kejayaannya memudar. Takut hinaan karena memiliki kekasih yang pincang. Paling tidak jika dia merasa takut, kumohon lepaskan aku. Biarkan aku pergi!

Tapi segala derita batin ini hanya bisa kupendam. Merasakan sakitnya seorang diri. Karena keegoisannya yang tak mau melepaskanku.

“Hari ini aku tak ada jadwal. Kita bisa seharian bersama. Bersenang-senang berdua. Bongchul sudah kusuruh pergi. Hari ini, tak akan ada yang mengganggu kita.” Katanya penuh keceriaan.

Dia duduk disisi ranjang, masih membelai wajahku yang masih tidur-tiduran.

Aigoo, Chaeri-ya. Kenapa kau terlihat malas sekali. Ayo bangun…” dia menggelitik tubuhku. Tertawa lepas mencoba mencandaiku.

Aku bangkit dari pembaringan. Memukul kedua tangannya yang menggelitikku. Aku kesal sekali. Tapi dia tetap tertawa, mungkin mengira aku marah pura-pura. Aku lalu ke kamar mandi untuk mencuci muka. Dia berhasil menyusulku sebelum menutup pintu. Memelukku, mencium tengkukku. Lalu membisikkan kata-kata yang membuatku merinding.

“Aku ingin memandikanmu pagi ini…”

Aku berendam di bathub, sementara dia menggosok punggungku sembari bersenandung. Aku akui, suaranya sangat indah. Sejak di panti, dia selalu di tunjuk untuk menyanyi solo setiap ada perayaan. Jika dibandingkan denganku, sungguh level suaraku masih dibawahnya. Tapi, menjadi penyanyi adalah impianku. Bukan impiannya. Tapi kenapa dia yang harus mendapatkannya?

Tiap kali teringat kembali hari dimana aku mendapatkan kecelakaan.  Saat itu juga aku begitu ingin mendorong Kyuhyun untuk jatuh dari mansion kami yang berada dipuncak paling tinggi gedung apartemen ini.

Andai saja hari itu aku tak menerima ajakan kencannya. Aku tak akan bernasib setragis sekarang. Aku tak akan cacat. Aku yang akan menjadi penyanyi. Bukan dia!

“Sayang, apa yang kau pikirkan?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Aku hanya berpikir, andai saja hari itu kita tak berjanji untuk kencan. Aku tak menyebrang jalan menuju bioskop tempat kita akan menonton, aku pasti tak akan tertabrak mobil yang dikendarai pengemudi mabuk itu…”

“Kau tahu, ini adalah takdir.” Terangnya.

“Takdir?” aku menertawakan kata itu.

“Apa kau membenci takdir?”

Aku tak menjawabnya. Aku keluar dari bathub, mengambil handuk untuk menutupi tubuh telanjangku. Kembali ke kamar dan menangis di ranjang.

Asal kau tahu Cho Kyuhyun. Aku sangat membenci kata-katamu itu. Takdir? Yang benar saja. Segala yang terjadi padaku bukan karena takdir. Tapi karena kesialan akibat kau memenuhi hidupku.

Aku sudah tak mempercayai apapun lagi semenjak kau membohongiku tentang debutmu setahun yang lalu. Aku sudah tak percaya pada takdir Tuhan. Aku juga tak mempercayai perasaan cintamu lagi.

Yang aku percayai sekarang hanyalah, betapa setiap detik rasa benci selalu tumbuh di hatiku. Rasa benci kepadamu…

10 Febuari 2011. Gudang tua, pinggiran Seoul

“Sayang, aku ingin tahu, jika takdir memang memutuskan kalau kau akan mati ditanganku. Lalu apakah kau akan membenci takdir?”

Kyuhyun tak menjawab. Dia hanya menangis, sangat ketakutan akan kematian yang akan menghampirinya sebentar lagi.

Aku tersenyum puas memandang wajahnya yang lemah. Terlihat bodoh dan tak manis sedikitpun. Aku memindahkan belatiku dari leher ke wajahnya. Ke pipi kirinya, menekannya sedikit dibagian bawah mata. Darah segar sedikit demi sedikit keluar.

Goresan luka yang aku yakin terasa sangat perih baginya, bagiku terlihat begitu indah. Wajah tampannya yang angkuh begitu menderita menahan perih.

“Bunuh aku kalau itu memang memuaskanmu!” serunya. Suaranya bergetar. Bertingkah seakan tenang padahal ketakutan. Salah satu sifatnya yang paling aku benci.

“Aku tak akan membuatnya mudah, sayang.” Kekeh ku. “Kau harus menderita terlebih dahulu!”

“Kau sudah membuatku menderita!” hentaknya. “Hatiku terluka ketika tahu kau begitu membenciku. Membenciku tanpa ku tahu apa salahku!”

“Aku kira, kau mencintaiku selama ini, Chaeri-ya. Aku kira, kau merasakan hal yang sama.” Lirihnya lagi.

Kata-katanya terucap seakan dia yang paling menderita. Seakan dia bayi polos yang tak mengerti dosa. Pernyataan bodoh yang tak membuat perasaan ibaku tergerak padanya. Kata-katamu konyol, Cho Kyuhyun-ah. Begitu konyol sehingga menertawakannya pun aku tak sudi.

“Apa kau tak sadar atas dosamu padaku? Kau yang membuatku cacat!” pekikku. “Kau membuatku gagal meraih impianku. Cita-citaku. Sementara aku gagal, kau malah mendapatkan popularitas! Hal yang sangat ku inginkan. Kau tahu, kau begitu mengenalku, kau tahu kalau aku begitu menyukai saat-saat ketika orang-orang memperhatikanku. Mengagumiku. Terpesona akan kecantikanku. Aku menyukai itu…”

“… sejak kecil, sejak kita masih di panti asuhan. Aku begitu menyukai ketika semua guru, teman-teman terpukau  melihatku bercerita. Terpesona mendengar suaraku. Walau aku tak mendapatkan orang tua asuh karena usiaku yang terlalu tua untuk di adopsi paling tidak aku memiliki orang-orang yang tak ingin kehilanganku. Tapi ketika kau mulai muncul, ketika kau tak sekalipun ingin jauh dariku, aku mulai menyadari, perhatian orang-orang sudah tak lagi tertuju padaku. Kau yang pandai dan tampan menjadi sosok sempurna. Kenakalan yang kau lakukan tak pernah di permasalahkan karena semua orang menyukaimu. Tapi ketika aku melakukan kenakalan yang sama, orang-orang akan berkata ‘Park Chaeri. Berhentilah mencari perhatian. Kau sudah besar. Bersikaplah dewasa. Jadilah anak yang baik.’ Aku merasa dunia sudah berubah. Sudah tak berpihak padaku, walau harusnya aku sadar sejak awal… dunia memang tak pernah berpihak padaku!”

Aku melangkah mundur. Memalingkan wajah menutupi airmata yang mengalir. Sial, kenapa aku menangis disaat seperti ini?

“Kenapa…” dia kembali berani bersuara, “Kenapa kau berharap dunia berpihak padamu? Kita bukan anak-anak yang beruntung. Sejak awal tak ada yang berpihak pada kita. Tapi, walau seluruh dunia menjauhimu, aku selalu disampingmu…”

“Itu yang membuatku muak!” aku kembali memekik. “Karena yang aku  butuhkan bukan hanya kau… ”

“Sedikitpun, aku tak pernah bosan padamu, sayang. Hentikanlah ini, aku berjanji akan memperbaiki keadaan. Aku tahu, bukan ini yang sesungguhnya kau inginkan. Kita akan mulai lagi dari awal…” dia mencoba memohon.

Aku menggeleng, “Sudah terlambat…”

“Untuk berubah, tak ada kata terlambat. Aku akan bersikap lebih baik padamu. Aku akan merubah sifatku yang membuatku muak, aku akan berubah demi kau. Kalau kau ingin aku meninggalkan karirku, semuanya akan kulakukan. Kumohon, sayang. Kita bisa perbaiki hubungan ini…”

Aku menyeringai. Dia mencoba menasehatiku. Berkata bijak dan kembali membuatku merasa muak.

“Sudah kukatakan, Kyuhyun-ah. Semuanya sudah terlambat. Aku sudah tak bisa mundur lagi.”  Aku kembali menodongkan belatiku ke lehernya. “Rasa muakku baru akan berhenti jika kau mati.”

25 Mei 2006. Gangnam Resident Hills, Kyuhyun Mansion. Seoul.

Mianhae, aku tahu kau akan marah. Tapi, aku melakukan ini semua untukmu, sayang…”

Aku memandang hina dirinya yang mencoba menjelaskan alasan kenapa dia membohongiku selama dua bulan ini. Merahasiakan tentang debutnya menjadi penyanyi, suatu profesi yang sangat ku idam-idamkan tapi tak bisa ku wujudkan.

“Biaya pengobatanmu sangat besar…”

Hah.. jadi alasannya karena itu. Uang? Hanya itu? Bukan karena ingin terkenal? Lalu kemudian mencampakkanku yang cacat ini?

“Biaya rumah sakit, rehabilitasi agar kau bisa berjalan, obat-obatan. Aku tak bisa membayar semua itu hanya dengan uang dari kerja sambilan. Sehingga ketika perusahanmu memberiku pekerjaan ini, aku tak menolak. Mereka menawarkan kontrak yang bernilai besar sangat cukup untuk biaya pemulihanmu. Kau bisa berjalan normal lagi jika aku sukses. Kau bisa mewujudkan impianmu, sayang. Jadi, anggap saja ini sebagai batu loncatan.”

Dia menggenggam tanganku. Kata-katanya sangat meyakinkan. Ekspresinya begitu berharap aku memakluminya.

Tapi tidak kah dia sadar, dari setiap ucapannya aku menyadari satu hal…

Aku adalah beban hidupnya.

“Bagaimana jika aku tak bisa normal lagi? Kakiku tak bisa kembali normal lagi. Untuk seumur hidup, kau harus menanggung hidupku, kau tahu itu?!” seruku.

“Aku tak pernah keberatan untuk itu, sayang. Asal kau selalu disisiku. Mendukungku. Menanggung hidupmu selamanya tak menjadi masalah, aku akan melakukan apapun agar kau bisa bahagia selamanya…”

Aku tak mengharapkan dia menjanjikan kebahagiaanku. Karena kebahagiaan yang kuinginkan bukan hanya karena berasal olehnya. Aku yang begitu kesepian sepanjang hidup walau di sekelilingku penuh dengan canda tawa. Ketika manusia merasakan kehampaan di tengah keramaian, bukankah itu tandanya manusia itu memang tak mengharapkan kebahagiaan?

 

10 Febuari 2011. Gudang tua, pinggiran Seoul

“Aku sudah sangat lelah hidup bersamamu…”

Saat aku hendak menikamkan belatiku ke perutnya. Terdengar suara seseorang mendobrak pintu gudang. Sorot lampu senter yang terang mengarah padaku.

Agasshi! Menyerahlah!”

Aku tertawa melihat beberapa orang polisi satu-persatu mendekat padaku. Aku mundur, belati yang semula hendak kutikamkan ke perut Kyuhyun, ku alihkan ke lehernya. Tanganku yang bebas mencengkram leher kekasihku itu. Mencoba mencekiknya.

Agasshi! Turunkan senjatamu!” titah seorang polisi yang paling dekat denganku.

“Jika kalian semakin mendekat. Aku tak akan segan-segan memotong lehernya!”
ancamku.

“Chaeri-ya, kumohon hentikan…”

“DIAM KAU!” jeritku di telinga Kyuhyun. Belatiku semakin dekat dengan kulit lehernya.

“Turunkan senjata anda! Kami tak akan segan-segan menembak jika anda tak menuruti ucapan kami!”

Aku melihat mereka semua, polisi-polisi itu mengarahkan pistol mereka padaku. Aku tertawa melihat reaksi mereka, terhadapku yang hanya memegang belati kecil. Mereka siap menembakku. Oh~ betapa pentingnya Cho Kyuhyun ini rupanya sehingga pihak keamanan bahkan bisa menembak mati penjahat sepertiku.

“Aku tak takut mati!” cibirku, bersiap menancapkan belatiku ke leher Kyuhyun.

Door…

Argghh… perih. Seorang polisi menembak kakiku. Kakiku yang cacat. Membuat keseimbanganku goyah dan aku terjatuh. Mereka semakin mendekat.

Andwe… kenapa kalian menembaknya!!!” aku mendengar jeritan Kyuhyun.

Huh, masih mencoba memperdulikanku rupanya. Tanpa ragu, belati yang masih kupegang kutancapkan ke betisnya. Dia menjerit kesakitan. Oh, aku begitu menyukai jeritannya itu.

“Hentikan, agasshi!”

Aku tak peduli pada polisi-polisi itu. Aku mengambil tas tangan yang kubawa tadi. Ketika semua polisi itu semakin mendekat. Aku tunjukkan sesuatu yang sengaja kusimpan sejak awal di dalam tas ku.

Langkah mereka terhenti ketika mereka melihatku menodongkan pistolku. Hah, mereka pasti tak mengira aku memiliki benda ini.

“Chaeri-ya…”

Hah, ini dia puncak dari semuanya Kyuhyun-ah. Sebentar lagi semuanya akan berakhir.

Jari telunjuk kananku mulai menarik pelatuk mengarahkan senjata apiku ini pada polisi dihadapanku. Senyumku semakin melebar. Ini waktunya…

Andwe… Chaeri-yaandwe.. hentikan!”

Door…

Door…

Terdengar dua kali letusan tembakan. Tembakan itu untukku. Menembus tubuhku. Tapi anehnya, tak ada rasa sakit sedikitpun. Aku seperti akan terbang. Semuanya seakan ringan.

Aku bisa merasakan tubuhku lemas. Jatuh tanpa beban. Aku bisa melihat Kyuhyun yang menjerit. Menangis. Tampak menderita sekali.

Tapi, aku sangat bahagia.

Oh.. akhirnya aku bisa lepas darimu.

Bebas menghadapi kehidupan baru seorang diri. Inilah harapanku. Inilah rencanaku.

Bebas darimu Cho Kyuhyun!

“Se-selamat… ti-tinggal….”

Kata-kata itu kuucapkan tanpa penyesalan.

Andwe… andwe… .”

Jeritannya tak dapat menghalangi kepergianku. Aku bebas. Akhirnya…

 

31 Maret 2011. Gangnam Resident hills. Kyuhyun Mansion. Seoul

Hyung, kenapa belum mengganti pakaian? Kita ada wawancara pagi ini!”

Suara Bongchul membuyarkan lamunanku. Aku yang masih mengenakan piyama tak mengalihkan pandanganku pada pemandangan yang terlukis di jendela kamarku.

“Musim semi segera tiba…” kataku menghirup udara pagi yang begitu sejuk. “Bongchul-ah, kau tahu ini hari apa?”

Aku tak mendengar jawaban Bongchul. Aku lalu menoleh padanya yang tertunduk. Kondisinya baik-baik saja. Tikaman Chaeri di punggungnya memang tak dalam tapi membuatnya harus di rawat di rumah sakit selama seminggu. Sekarang dia sudah sehat. Begitu juga denganku, luka di kaki dan wajahku sudah nyaris tak berbekas. Aku bahkan sudah bekerja, menjalani aktifitasku sejak seminggu yang lalu.

“Sudah 49 hari semenjak kepergiannya…” kataku lirih.

Hyung, aku tahu kau tegar. Kau pasti bisa melupakan kesediahanmu. Kau harus merelakannya…”

“Kami tak pernah berpisah selama ini sebelumnya…” aku menghiraukan ucapan BongChul. “… tak pernah selama ini semenjak kami pertama kali bertemu.”

Hyung…” suara Bongchul terdengar serak. “Hyung, akan baik-baik saja. Hidupmu harus terus berlanjut!”

Arrasseo.” Aku tersenyum padanya. Mengangguk. “Aku akan bersiap-siap. Kau tunggu saja di ruang tengah.”

Bongchul mengangguk. Dia keluar dari kamarku. Meninggalkanku seorang diri.

Aku berjalan ke ranjangku. Duduk disana. Meraba tempat yang selalu Chaeri tiduri. Mengenang gadisku yang kucintai dengan segenap jiwaku.

Apa salahku padamu, Chaeri-ya? Bahkan sampai kau pergi, aku masih tak mengerti alasan kau membenciku. Hanya karena iri. Hanya karena aku membuatmu menjadi cacat. Kau memilih mati? Meninggalkanku? Bukankah aku sudah menunjukkan besarnya cintaku padamu. Aku selalu mencoba membahagiakanmu. Bukankah kau selalu tersenyum ketika kita bersama? Kupikir, kau bahagia, sayang.

Kenapa kau lakukan ini? Bukankah kita bersumpah untuk bersama selamanya?

Mataku kemudian teralih pada Koran yang berada di meja dekat ranjangku. Aku mengambilnya. Koran bertanggal 11 febuari itu memuat berita kematian kekasihku. Tapi mereka tak menulis Chaeri sebagai kekasihku. Mereka menyebutnya sebagai asistenku yang mengalami depresi. Gadis gila.

Kenapa mereka tega mengatakan kau gila, sayang? Kau tak gila. Aku akan menjelaskan semuanya hari ini. Aku akan menyebutmu kekasihku. Gadis yang paling kucintai. Satu-satunya milikku yang berharga…

Yah.. mereka akan tahu hubungan kita yang sebenarnya hari ini, sayang. Aku akan mengungkapkannya. Perusahaan tak akan bisa menyembunyikan hubungan kita lagi.

Aku yang akan mengakuinya. Itu yang kau inginkan bukan? Itulah yang kau harapkan sehingga melakukan hal bodoh itu? Yah, aku paham itu. Aku akan mewujudkan harapanmu itu, sayang…

Tapi sebelumnya, aku akan menemuimu terlebih dahulu.

Dunia ini terasa hampa tanpamu, sayang…

Aku yang terbiasa dengan kehadiranmu disisiku…

Kau yang menghiasi duniaku…

Aku akan menyusulmu, sayang…

Sudah kubilang, kita tak akan pernah berpisah…

Jangan mencoba-coba mengucapkan selamat tinggal padaku…

Jangan pernah berkata selamat tinggal, sayang…

Kita tak akan pernah berpisah. Kau tahu itu!

Kau dan aku satu, selamanya. Walau jarak memisahkan, hatiku milikmu.

Sayang, jangan pergi. Kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu.

Aku milikmu, hati dan jiwa ini seluruhnya.

Sayang, kita akan bersama selamanya. Selama-lamanya…

PRANGG…

Bongchul yang sedang menelpon manager Kyuhyun, terkejut mendengar suara pecahan kaca yang berasal dari kamar Kyuhyun. Segera dia menuju kamar Kyuhyun. Mencoba membuka pintu kamar itu. Tapi, sial! Pintunya terkunci.

“Hyung! Hyung, gwenchanayo?”

Bongchul panik. Tak ada sahutan dari dalam. Dia memutuskan mendobrak pintu kamar Kyuhyun. Dia takut, Kyuhyun melakukan perbuatan bodoh. Mengingat tanda-tanda depresi mulai muncul padanya semenjak Chaeri meninggal.

Setelah cukup bersusah payah, pintu kamar Kyuhyun berhasil Bongchul dobrak. Dia terkejut melihat jendela besar di kamar itu pecah. Dia mencoba memberanikan diri mendekati jendela itu. Menunduk untuk melihat sesuatu yang paling ditakutinya.

Mansion Kyuhyun terletak di lantai paling atas di gedung apartemen ini. Tak terlihat jelas apa yang terjatuh dari tempat ini. Tapi kaki Bongchul lemas, dia terduduk ketika melihat satu-persatu petugas keamanan gedung masuk ke kamar Kyuhyun.

“Tuan Cho sudah tiada…” kata seorang petugas keamanan menepuk pundak Bongchul.

Bongchul tak bisa berkata apa-apa. Tak menyangka Cho Kyuhyun yang menjadi panutannya. Selebriti besar negeri ini mengakiri nyawa dengan cara menyedihkan. Bongchul lalu berjalan menuju ranjang Kyuhyun ketika dia melihat sesuatu disana.

Secarik kertas yang menjadi surat wasiat. Pesan terakhir dari Kyuhyun…

Aku meminta maaf pada semua orang. Terutama pada Kim BongChul yang menungguku di luar kamar. Maafkan hyung karena tak bisa tegar. Kau benar, aku harus menjalani hidupku. Tapi, tanpa Chaeri, bagiku hidup sekarang bukanlah hidup. Dialah hidupku yang sebenarnya.

Yang aku harapkan, aku yang meninggal terlebih dulu. Karena aku tahu, dia akan kuat tanpa diriku. Tapi kenyataannya? Dia memilih untuk meninggalkanku terlebih dulu. Padahal dia tahu, aku tak bisa hidup tanpa dirinya.

Semua orang menyebutnya gila. Gila karena hendak menghabisi nyawaku. Tapi bagiku, dia tak gila. Akulah yang gila karena telah mengekangnya. Aku yang tak mampu berdiri tanpa dia menjadi tongkat penyanggaku.

Dia memang pincang, tapi akulah yang sebenarnya pincang. Aku yang tak bisa berjalan mantap tanpa dia disisiku.

Dirinya yang tak ingin kubagi pada orang lain. Pesonanya yang tak ingin kubagi orang lain. Aku mengekangnya, mengurung potensinya. Begitu takut dia akan meninggalkanku.

Aku bahagia ketika dia mengalami kecelakaan yang membuatnya cacat. Karena dengan begitu dia akan bergantung padaku. Tak ingin aku jauh darinya…

Aku sudah kehilangan keluargaku. Lantas, apa aku salah mempertahankannya selalu disisiku?

Aku yang egois karena aku tak ingin kehilangan dirinya, milikku satu-satunya yang paling berharga.

Aku tahu, bagi kalian keputusan ku ini salah.

Tapi bagiku, segalanya sudah berakhir saat dia pergi.

Aku minta maaf…

Terima kasih sudah memberikan cinta padaku…

-Cho Kyuhyun-

++THE END++

***Ending yang aneh ==’

Oke, biar aneh, tetep.. klo udah baca jng lupa ninggalin jejak (komen) haha~

THANKYU~♥

86 thoughts on “DON’T SAY GOODBYE [2 of 2]

  1. Huaaa…!! Huaaa…!!
    Ff nya daebak thor…
    Sejak aq kenal ff,aq udah baca puluhan ff tp yg ini bener2 daebak…
    Semuanya terasa…trutama nyeseknya..

  2. astaga onnie! Siapa namamu? Dimana rumahmu? Siapa yg bisa melahirkan perempuan berbakat sepertimu yg sangat amazing dalam bercerita di tulisannya? Argh, kisah cinta Chaeri-Kyuhyun bener2 tragis dan mengena banget di hati. Onnie~ya, satu kata. Kau DAEBAK! Keep writing ya onnie. Bye~

  3. Banjir nih kamar gara* baca FF ini apalagi pas suratnya kyuhyun…
    Tragis banget nih kisa cinta mereka tapi massa sih cuma gara* iri+merasa terkekang ma kyuhyun chaeri bisa jdi kaya gitu menurutku rada gmna g2 thor
    tpi ini FF.y bagus banget thor😀

  4. Rasanya ff ini uda dipublish lama banget
    Tapi gak bosan2 bacanya eon :’)
    Terharu banget, kata2nya itu lho
    Keep writing ya eon!!😀

  5. Ini ff uda lama sangat betul?? Tp baru nemu direkomendasi ff… buseeett paling nyesek tuh pas baca surat wasiat kyuhyun.. chaeri tuh sebenernya merasa bersalah krna merasa membebani kyuhyun tapi cara dia ngungkapin kekesalannya malah dengan gtu.. yampuun kyuhyun demi apa kasian bangeet.. keren banget lah author.. mata gue rembes masa T.T

  6. Huuhuuu…
    Kenapa chaerin begitu. Aduuh, padahal kyu udah sayang bgt sama dia. Mungkin ngerasa ga bebas kli yaa sama Kyuhyun..
    Bagus ceritanya thor. Ending tidak terduga.Hehee.. 😊✨👍👍

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s