Say I Do (Chapter 1) Goodbye And Hello


TITLE : Say I Do (Chapter 1) Goodbye And Hello

GENRE : Suka suka anda

CAST :

– SHINee Lee Jinki

– Kim Hyun Wa

CAMEO :

– Park Eun Hu

– SHINee Kim Ki Bum

– SHINee Kim Jonghyun

– SHINee Choi Minho

– SHINee Lee Taemin

– Cho Mal Baek

LENGTH : Sequel

STORY

~Jinki POV~

Aku duduk di mobilku, berdoa saja dengan yeojachingu ku, Park Eun Hu. Aku kesal padanya, ada hal yang membuatku kesal, nyaris membencinya.

“Pertama kau bilang kau pergi ke luar negeri demi melanjutkan pendidikanmu, tapi apa yang ku lihat? Kau keluar dari bioskop dengan seorang namja, yang setahuku bukan keluarga mu.” Kataku dengan wajah yang sudah memerah.

“Cih… tau apa kau tentang keluarga ku?” jawabnya acuh.

“Park Eun Hu! Aku lebih tua dari mu! Sopanlah sedikit!” kataku dengan nada meninggi.

“Itu bukan jawaban dari pertanyaanku.” Jawabnya tanpa memandangku sedikitpun.

“Aku tau keluarga mu! Aku kenal mereka! Kau tidak memiliki halmonie dan harabeoji lagi dari kedua pihak orang tua mu. Abeoji dan eomma mu adalah anak tunggal, begitu juga kau! Aku tau kau pergi dengan namja lain!” kataku.

Plakk…. Pipiku langsung memerah “yaa… Beraninya kau menghina keluargaku!” jawabnya sambil menatapku jengkel

Aku keluar dari mobilku, dan berjalan ke sebelah. ” keluar! Jangan kira aku mau melihatmu sekarang! Keluar!” bentakku karena tak bisa menahan emosi sambil membuka pintu untuk Eun Hu. Jika aku tak ingat diri, aku yakin sudah akan menangis sekarang.

“baik. Kalau itu maumu! Aku pergi sekarang!” Jawabnya sambil menahan tangis.

Seharusnya aku yang menangis Eun Hu-yah. Bukan kamu.

Aku kembali ke dorm dengan persaan sedih. Park Eun Hu, orang yang sudah bersamaku setidaknya untuk satu setengah tahun terakir. Orang yang sudah ku anggap dekat, sama seperti sahabat-sahabatku. Sekarang meninggalkan ku demi namja lain. Ia bahkan berani menamparku, padahal, aku lebih tua darinya. Kemana Park Eun Hu ku yang dulu?

“Hyung… gwencanayo?” kata Key setibanya aku di dorm.

“Ne… gwencana.” Jawabku sambil menghempaskan diri ke sofa.

“ada masalah? Kalau ada masalah, ceritalah pada kami hyung..” rengek Taemin

“Eun Hu menamparku. Aku melihatnya keluar dari bioskop bersama seorang namja, tampak mesra.” Jawabku sambil menengadahkan kepalaku di sofa.

“MWO???” Jawab mereka berempat serentak

“Iiiihh… yeoja itu…” sindir Taemin.

“Omo… hyung!! Lalu, apa yang akan kau lakukan padanya?” kata Jonghyun

“Molla…” Jawabku pasrah.

“Kau masih menyayangi nya hyung?” kata Taemin.

“Ne.  aku tak tau,sebagian diriku bilang aku tak bisa melepaskannya begitu saja, sebagian diriku ingin membalas dendam padanya.”

“Ikuti naluri dan hatimu hyung. Naluri mu tidak bodoh!” kata Minho akirnya bicara

“Relakan saja lah hyung.” Kata Key.

“molla Key ah… sesuatu bilang padaku, bahwa aku harus membicarakannya baik-baik dengannya, baru mengambil keputusan” jawabku.

“sudahlah, ayo kita tidur. Besok kita bicarakan lagi.” Kata Jonghyun

Besoknya aku bangun dengan perasaan yang tetap sedih. Tapi aku menyembunyikan kepedihan ku dengan senyum, namun sepertinya aku tak bisa menipu semuanya.

“jangan kira senyum mu itu bisa mengatakan bahwa kau tak sedih lagi,hyung. Aku sangat mengenalmu.” Kata Key.

“Ah… Key ah.. kau mengenalku baik.”

“Yaa…. Kita sudah bersahabat dan tinggal sekamar untuk waktu yang lama, masa aku tak mengenalmu baik?” katanya sambil mengatur sarapan di meja.

“Ne.. arraseo..” jawabku sambil meminum air putih di gelasku.

“Ne… gomopta…” kata Jonghyun samar dari depan pintu dorm.

“Nugu, jjong?” kataku.

“molla.. nggak pernah ku lihat, mungkin Cuma tamu biasa.” Kata jjong sambil menyerahkan surat.

“Appan nih?” jawabku sambil menerima surat itu. ” Oh iya, Minho dan Taemin mana?”

“Molla, ayo Key, kamu ikut aku.” Kata Jonghyun sambil menarik Key pergi.

“Aku melihatnya dengan tatapan heran, lalu berpaling pada surat pemberian Jonghyun. Senyumku hilang terhapus seraya aku melihat pengirimnya, Park Eun Hu.

Jadi ini alasan Jonghyun menarik Key pergi, supaya aku bisa mendapat waktu pribadi sambil membaca surat ini. Mood ku yang semula sudah membaik jadi buruk lagi.. ingin membunuh orang rasanya. Aku tentu kesal, sudah good mood, berubah lagi… “Huh!!” Aku mendengus. Aku membuka amplopnya. Membacanya sekilas, merobeknya, dan berjalan menuju dapur.

Aku mengambil garpu dan menusukkan robekan-robekan kertas itu. Aku berjalan menuju kompor, ku hidupkan kompornya, dan bye bye Park Eun Hu…

“Hyung!! Apa yang kau lakukan?” tanya Minho menatapku heran.

“Kelihatannya aku lagi ngapain?” jawabku sambil menatapnya.

“Ngebakar… kertas?” jawab Minho.

“Ne. Ini benda penghancur mood, harus di musnahkan.” Kataku.

“Penghancur mood? Apa isinya? Jangan bilang kalo kita di pecat!” kata Minho.

“Nggak lah! Min… menurut mu aku putusin Eun Hu ngga?” kataku membelokkan pembicaraan.

“Aku nggak tau hyung. Tapi kalo aku biasanya bakal nulis di kertas tentang apa aja yang pernah dia buat, negatif dan positifnya, dan memutuskan dalam waktu 1 atau 2 hari.” Jawabnya sambil mengambil tasnya.

“Aku sekolah dulu hyung.” Katanya.

“Taemin mana?” kataku.

“Setan kecil itu ternyata udah berangkat duluan. Aku pergi dulu hyung!” katanya sambil menutup pintu dorm.

“Jjong!!! Key!!! Keluar dari kamar!!! Jangan ngelakuin yang aneh-aneh!!!” teriakku memanggil pasangan aneh itu.

“Ne hyung… ” jawab mereka pasrah.

***

Malamnya, aku memikirkan perkataan Minho tadi pagi. Aku nyaris tak bisa tidur, maka, aku ke ruangan komputer, menulis semua kenangan ku dengan Eun Hu, dan membacanya.

“Hyung benar benar melakukan saranku ya?” kata Minho sambil menyibak pintu ruang komputer.

“Ne. Gomopta.” Kataku.

“Sama-sama hyung. Boleh ku lihat?” katanya.

“Ne. tentu,” kataku sambil menyerahkan kertas itu

Minho membaca kertas itu.” Ooookeee… nggak buruk juga.” Katanya sambil menyerahkan lagi kertas itu.

“Aku harus gimana sekarang?” tanyaku lagi

“Ikuti naluri. Kalo hyung ngerasa masih betah ama dia, ya silahkan lanjutkan. Kalo hyung ngerasa nggak kuat lagi, lepas aja, toh juga masih ada yeoja lain di luar.” Minho menasehatiku.

“Gomopta. Sekarang tidurlah.” Kataku.

“Ne hyung.” Jawabnya.

Dua hari berlalu dan di sinilah aku, di puncak Namsan Tower lengkap dengan penyamaran. Duduk manis menunggu tamuku. 5 menit menunggu, munculah ia, langsung menarik kursi di depanku.

“Mworago?” katanya sambil membetulkan letak duduknya.

“Eun Hu, ada alasan aku ngajak kamu kesini.” Kataku gugup

“Aku tau Onew ah..” katanya sambil menyandarkan badannya di kursi, masih memasang pose sok manis.

“Nggak ada cara mudah buat nge bilang ini, jadi aku langsung ke intinya aja.” Kataku. Ia menganggukkan kepalanya. “Kita selesai.” Kataku sambil menyilangkan tangan di dada. Perih saat mengatakan ini, karena ia sudah bersamaku sejak satu setengah tahun terakir, tapi, tekadku sudah bulat.

“Mwo? Kok??? Kok gitu?” tanya nya gelagapan.

“Sudahlah… itu tak penting. Aku harap kau bahagia dengan namja yang kau ajak pergi kemarin itu, aku tulus memberimu pada namja itu.” Kataku tertunduk.

“Onew ah.. jinjja? Kau mau pergi dariku?” tanya nya.

“Mungkin kau pikir aku jahat dan menyesal, namun, suatu hari nanti, kau bersyukur aku melepasmu.” Kataku.

“Onew ah.. kau membuat kesalahan besar.” Katanya sambil berdiri dari tempat duduknya

“Aniyo… Aku permisi. Annyeong, Park Eun Hu sshi.” Aku tersenyum pedih sambil melambai padanya. Ia sudah bukan apa apaku lagi.

“Yaahh.. dengan tidak adanya dia di sisiku, aku bisa fokus ke pekerjaan.” Gumamku sambil melihatnya dari segi positifnya.

CKIIITTT… BRAKKK…. “Kecelakaan!” teriak seseorang yang berdiri dekat jalan raya.

Aku segera berlari ke tempat kejadian. Terlihat seorang motor menabrak seorang yeoja, sampai yeoja itu tak sadarkan diri.

“Panggilkan ambulan! Cepat!” aku berteriak.

5 menit kemudian, datang ambulan. Yeoja itu di bawa ke rumah sakit terdekat, aku terpaksa ikut karena aku yang meminta di panggilkan ambulan untuk yeoja itu, berarti aku yang harus bertanggung jawab atas nasib yeoja itu.

Di UGD, aku menunggunya sambil membawakan tasnya. Aku menggeledah tas yeoja itu untuk mencari identitas yeoja itu. Kutemukan dompetnya, aku lekas membukanya. Tapi yang kulihat adalah identitas yang mengejutkan.Aku membacaya dalam hati.

Nama : Kim Hyun Wa

Tempat Tanggal Lahir : Daegu, 12 ….

“Permisi…??” kata seseorang di depanku.

Aku mendongak, dokter sudah keluar dari ruang UGD dan berdiri di depanku.

“Bagaimana keadaannya dok?’ tanyaku

“Apa anda mengenalnya?” kata dokter itu.

“Engg… eh… kami berteman” jawabku iseng, nggak pake mikir.

“Ia sudah dapat bernafas sendiri, tapi ia masih harus opname. Siapa nama ahgessi itu?” kata dokternya.

“Hyun Wa. Kim Hyun Wa.” Jawabku

“Hyun Wa ahgessi harus opname, sampai orang tuanya datang, tolong anda menungguinya. Saya permisi.”

“Baik dok.” Aku melihat yeoja itu. Kim Hyun Wa, sedang di bawa menuju kamar opname nya. Terlintas di otakku kejadian 14 tahun yang lalu.

~Flash Back # 14 Tahun Yang Lalu~

Aku yang masih umur 7 tahun, bermain di halaman belakang sekolahku, sambil menunggu orang tuaku menjemputku. Selain aku, hanya ada seorang yeoja yang sekelas denganku sedang menunggu orang tua nya juga. Aku menendang bola dengan keras sehingga…

“Aigooo… uhuhuhu… Jinki!!!” katanya sambil menangis. Bolaku mengenai pas di wajahnya, membuatnya langsung mimisan, walaupun ia tidak menyadarinya.

Aku menghampirinya. “nggak sengaja…” Kataku pelan, hampir seperti bisikan.

“Uhuhuhuhuhuhuhuuhu…..” tangisnya.

Aku tak mau di marahi seong saenim, aku mengeluarkan sapu tanganku. Aku mengangkat wajahnya dan mengelap darah di hidungnya

“A…aku mimisan ya?” tanya nya sesenggukan.

“Ne.” jawabku “Hyun Wa, mianhe.” Sambil tetap mengelap darahnya lalu menengadahkan muka nya ke atas. “Tetaplah tengadah sampai beberapa menit lagi.” Kataku.

Ia menggerakkan tangannya ke hidungnya untuk memegangi sapu tangan ku,dan secara tak sengaja tanganku bersentuhan.

“Aku bisa.. Mian aku ngerepotin.” Katanya.

“Ani… aku yang harusnya minta maaf.” Jawabku

“Hyun Wa? Ayo pulang nak!” Kata seorang ahjussi sambil mencari Hyun Wa.

“Ne abeoji!” jawabnya. “Aku pasti balikin sapu tangan mu besok. Kamu pegang janjiku.” Katanya sambil mengambil ranselnya.

Besoknya ia tak sekolah, besoknya juga,kemudian esoknya lagi. Ia tak juga sekolah. Satu hari menjadi satu minggu. Satu minggu menjadi satu bulan. Satu bulan menjadi satu tahun, ia tak juga menampakkan dirinya. Akirnya, setelah satu tahun, aku mendatangi seong saenimku, menanyakan kabar Hyun Wa. Di kantor guru, aku mendapat berita yang tak menyenangkan.

“Apa ini seong saenim?” kata ku sambil mengangkat koran yang di serahkan seong saenim padaku.

“Baca halaman kedua Jinki.” Perintahnya.

Aku menurut. Pesawat Korea Airways jurusan Seoul – Tokyo, mengalami kecelakaan di laut yang menyebabkan 89 orang tewas dari 90 penumpang beserta awak pesawat tewas. Seorang yeoja kecil di temukan selamat mengapung di tengah laut. Berikut adalah nama penumpang yang tewas. 1. Kim Jung San 2. Cho Mal Seon…

Jung San ahjussi dan Mal Seon ahjumma.. kedua orang tua Kim Hyun Wa.

Aku tak menunggu bel pulang, aku langsung berlari pulang ke rumah. Aku menangisi Hyun Wa, ia bahkan belum mengatakan ‘ Aku memaafkanmu’. Aku murung, tak mau makan. Sampai akirnya aku jatuh sakit.

~End Flash Back~

Aku menunggui Hyun Wa di kamarnya. HP ku berbunyi.

“Yeobosaeyo?” tanyaku.

“Hyung…. Kok nggak pulang?” kata Taemin dari ujung sambungan.

“engg… nggak bisa Taemin ah…. Aku ada urusan… besok pagi aku ke sana.” Kataku membuat alasan.

“Ya udah.” Katanya sambil memutuskan sambungan.

“Aku pasti balikin sapu tangan mu besok. Kamu pegang janjiku.”  Nggg… suara sapa tuh? Perasaan ngga ada yang ngomong deh.

“Eomma… Appa.. awas!!! Uhuhu…” aku menoleh ke ranjang pasien. Dengan cepat ku hampiri Hyun Wa.

“Tak apa..ada aku di sini..” kataku sambil mengelus rambutnya. Ternyata ia mengigau.

Ke ajaiban terjadi. Ia membuka matanya. “Kau siapa?”

“A.. aku temenmu.” Jawabku

“Eh? Aku punya temen ya?” katanya

“Punya lah. Aku temen masa kecil mu.” Jawabku sambil tersenyum.

“Nugu?” jawabnya

“Jinki.. Lee Jinki.. aku pernah menendangmu dengan bola sehingga kamu mimisan. Inget?” kata ku

“Lee Jinki? Bola? Mimisan? Siapa ya? Aku nggak pernah punya temen namanya Lee Jinki.”

Eh? Benarkah? Ia tidak mengenaliku? “Siapa namamu?” tanyaku dengan kawatir.

“Kim Hyun Wa. Kamu?” katanya dengan senyum

“Lee Jinki.” Jawabku. Seketika itu, dokter datang.

“Dok… apa ia amnesia?” tanyaku saat dokter baru melangkahkan kaki ke dalam ruanganku.

“Ne. Saya baru mau memberi tahu anda. Tapi ada beberapa hal yang dia ingat. Seperti seseorang atau sesuatu yang sangat bersejarah dalam kehidupannya.” Jawab dokter.

“Berapa lama penyembuhannya?” serbuku

“Sekitar 3 bulan.Bisa saja sembuh lebih cepat. Tapi ia bisa saja kehilangan semua ingatannya.” Kata dokter memperingatkan

“Ne. arraseo.” Jawabku

“Mana orang tuanya?” kata dokter.

“Meninggal. Kecelakaan pesawat. 14 tahun yang lalu.” Jawabku terputus-putus.

“Saya ikut berduka cita.Baiklah. Berarti, anda yang akan bertanggung jawab atasnya.” Kata dokter.

“Geure.” Jawabku

“Saya permisi.” Kata dokter undur diri.

Aku kembali ke samping tempat tidur Hyun Wa.

“Jinki… apa kau pacarku?” tanya nya.

Mwo???Omo! Pacar!? Aku baru saja putus dengan pacarku dan ia menanyakan hal tentang pacar? “Mo… molla.” Jawabku

Aku buru-buru mengambil hp Hyun Wa, mengecek daftar kontaknya, siapa tau ada kerabatnya yang masih hidup. Aku beruntung, aku menemukan nomor ahjumma nya.

“Yeobosaeyo?” tanya yeoja di ujung sambungan.

“Ne. Apa benar ini Mal Baek ahjumma?” tanya ku

“Ne. ini Hyun Wa kan?” tanya Mal Baek ahjumma

“Ani… ini temannya. Bisa ahjumma ke rumah sakit? Tadi ia tabrakan dan sekarang amnesia.” Kataku

“Mworago??? Arasseo… ahjumma segera kesana.” Jawabnya.

15 Menit kemudian, Mal Baek Ahjumma sudah berada di kamar Hyun Wa. Sekarang memang sudah larut, jadi Hyun Wa sudah tidur.

“Annyeong ahjumma, Jinki imnida, yang nelpon tadi.” Kataku sambil membungkukkan badan.

“Ne, Jinki sshi, gomopta karena menjaga Hyun Wa. Gimana kamu mengenalnya?” tanya ahjumma.

Aku menceritakan pengalamanku itu, dan Mal Baek ahjumma mendengarkan dengan baik.

“Mal Baek ahjumma?” tanya suara yang bukan milikku atau Mal Baek ahjumma.

“Hyun Wa… sayang… kamu sudah bangun nak?”

“Ne ahjumma, makasih buat Jinki …” katanya. “ahjumma.. aku merasa ada beberapa hal yang hilang dari ingatanku. Aku kenapa?” tanya nya

“Ahjumma sulit bilangnya… tapi kamu hilang ingatan sayang.” Kata Mal Baek ahjumma

“jinjja?? Lalu siapa yang akan mengajariku untuk mengingat ahjumma?” tanya nya polos

“Terserah kamu.Atau kau mau Jinki yang mengajari mu?..” kata Mal Baek ahjumma

Eeehhh???? Lhooo??? Kok gini????

“Boleh… asal Jinki sshi nggak keberatan”jawab Hyun Wa

Mereka berdua menoleh ke aku… Omo!!! Apa yang harus ku lakukan??

“Ahjumma mohon Jinki sshi..orang yang datang dari masa lalu biasanya bisa mengingatkannya pada ingatannya…” kata Mal Baek ahjumma berbisik

“Tentu… aku bisa mengajarimu lagi.” Kataku agak ragu

“Ahjumma… aku kan tak tau apa pun tentang kehidupannya.”

“Tenang.. ahjumma akan membantumu.” Kata nya sambil tersenyum

Malam itu, aku membiarkan ahjumma tidur di tempat tidur penunggu sementara aku di sofa. Paginya, aku langsung berangkat ke SMEnt building… badan ku pegal semua.. Tiba-tiba HP ku berbunyi

Jinki sshi… Hyun Wa sudah bangun.. Ia mencari mu… Dari Mal Baek ahjumma

Mian ahjumma.. aku sedang bekerja… tapi aku akan segera ke rumah sakit. Balasku.

Aishhhh….. tugasku tambah berat aja… udah jadi SHINee leader, jadi seong saenim orang amnesia pula!

~End Jinki POV~

~Author POV~

Hari berganti hari, ingatan Hyun Wa pun makin menguat. Hyun Wa mulai bisa mengingat kejadian yang terjadi pada nya beberapa waktu yang lalu. Hyun Wa pun bisa mengingat perlakuan Onew padanya 14 tahun yang lalu. Selain itu, Onew juga sering mengajak Hyun Wa jalan-jalan ke tempat umum, dengan penyamaran tentunya.

~End Author POV~

~Hyun Wa POV~

“Yaaa…. Jinki… kenapa kau selalu mengajakku keluar dengan memakai kecamata hitam dan topi? Kau selalu berpenampilan apa adanya saat di rumahku.. Kau malu berjalan denganku? ” kataku pada Jinki.

“Aniya… hanya saja.. ada hal yang belum kau ketahui tentangku Hyun Wa Noona.” Jawabnya sambil menundukkan kepala.

He??? Noona?? Aku lebih tua dari nya ya??? Pikirku dalam hati

“Apa itu?” tanyaku sambil berhenti di pinggir jalan, kami hendak menyebrang jalan raya.

“Itu…”

“Lihat… itu SHINee!!” kataku sambil bersorak saat melihat boy band itu saat lewat di depan toko elektronik

“Ne… apa noona menyukai mereka?” tanyanya.

“Aku… tak tau..” jawabku.

“Loh… kenapa tidak?” jawabnya

“Aku tak ingat atau tau satu lagu mereka.” Jawabku

“Ah… mungkin.. noona belum mengingatnya saja.” Jawab Jinki sambil merangkul pundakku.

Aaahh… semenjak ahjumma menyuruh aku belajar dengan Jinki, aku menjadi semangat. Entah perasan apa ini, tapi, aku suka saat aku pergi berdua dengannya. Tapi, masih ada hal yang tidak ku mengerti. Kenapa dia memanggilku ‘Noona’? apa aku lebih tua darinya? “Jinki sshi… besok kan ulang tahunku, aku ingin kau datang ke ulang tahunku di rumahku, Mal Baek ahjumma akan datang, hitung-hitung sebagai rasa terima kasihku dan ahjumma karena sudah mengajariku untuk mengingat kenanganku.” Kataku masih dengan mata menatap jalan, tak mau menatap Jinki.

“Aku tak tau bisa datang atau tidak..” jawabnya.

“Geure… arraseo.. tak apa kalau kau tak bisa datang.” Jawabku. Di dalam hati, aku merasa pedih karena ada kemungkinan ia tak datang. “Jinki… aku mau pulang.” Kataku.

“Mwo? Wae? Ada yang salah?” tanya nya kelabakan.

“Aniyo.. aku lelah.” Jawabku sambil menahan pedih.

~End Hyun Wa POV~

TBC (To Be Continued)

7 thoughts on “Say I Do (Chapter 1) Goodbye And Hello

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s