Say I Do (Chapter 2) Two Birthdays


TITLE : Say I Do (Chapter 2) Two Birthdays

GENRE : Romance

CAST :

– SHINee Lee Jinki

– Kim Hyun Wa

CAMEO :

– SHINee Kim Ki Bum

– SHINee Kim Jonghyun

– SHINee Choi Minho

– SHINee Lee Taemin

– Cho Mal Baek

LENGTH : Sequel

~Hyun Wa POV~

Aku melewatkan hari ulang tahunku yang ke 22 bersama Mal Baek ahjumma.

“Nak, apa kau sudah mengundang Jinki sshi?” tanya ahjumma

“Ne. dia tak yakin bisa datang. Aku yakin dia tak bisa datang hari ini ahjumma.” Jawabku sambil merengut dan duduk di samping ahjumma. “ahjumma… kita jalan-jalan keluar yuk.. nonton bioskop mungkin.” Kataku.

“Ne… ahjumma akan menuruti permintaanmu. Ahjumma ganti baju dulu.” Jawab ahjumma.

Ah… ahjumma sangat baik padaku. Semenjak sepupuku Kim Seon Hwa menikah, ia tinggal dengan suaminya di Jepang. Jadi, di Seoul, kami hanya berdua saja.

Aku menghidupkan TV, menonton acara musik. Aku melihat sesuatu yang membuatku termangu melihatnya. Ternyata… Jinki hampir mirip dengan leadernya SHINee kalo nggak pake kacamata.

“Baik.. ahjumma siap.. ayo pergi!” sentak ahjumma dari belakangku.

“Ne ahjumma.” Kataku sambil buru-buru mematikan TV.

****

Setelah dari bioskop, aku dan ahjumma berjalan dari bioskop sampai di depan gerbang rumah.

“Kejutan!” teriak Jinki dari samping gerbang.

“Mworaedo??” kataku kaget. Loh??? Kok ada jinki? Dan dia pake kacamata seperti biasa.

“Saengil chukkahamnida!!” kata Jinki sambil menarikku ke taman. Di sana, ada sebuah cake kecil, lengkap dengan lilinnya.

“Jinki.. gomasupnida..” kataku sambil menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku.

“tiup lilinnya… jangan lupa buat permintaan!” kata Jinki

aku memejamkan mataku, membuat permintaan, dan meniup lilinnya. Sekarang jadi gelap gulita. Setelah mataku beradaptasi, aku mulai melihat Jinki mendekatkan badannya ke badanku..

“Noona, saengil chukkahamnida.” Bisiknya di telingaku

“EHEM!!!” kata ahjumma ” jangan lupa, ahjumma ada di sini.”

“ani, ahjumma!” kataku sambil memotong kue.” Potongan pertama buat ahjumma. Potongan kedua buat seong saenim ku sayang…” kataku gemas ” ngg.. Jinki?” tanyaku

“Ne?” katanya sambil menyuap kuenya.

“Udah petang…agak gelap nih.” Jawabku.

“aku tau. Makanya, aku siapin lampu kayak gini, buat jaga-jaga.” Jawabnya

CTEEKKK… Pohon-pohon yang tidak berdaun karena sudah musim dingin itu menyala terang

“Wow.” Kataku singkat.

“Hadiah?” kata Jinki. Jinki menyerahkan sebuah kotak besar berwarna putih dengan pita hijau. “Di pake ya!!” katanya lagi.

Aku membuka kado Jinki. ” Jinki!! Gamsahamnida!!!” kataku sambil membungkukkan badan. Di dalam kotak itu terlipat sebuah gaun selutut warna putih dan sepatu tinggi putih.

“Wow.. coba di pake!” saran ahjumma

“Iya… di pake dong” Jinki memelas

“Geure…” aku masuk ke rumah, berganti pakaian, mengganti sepatu dengan semua kado pemberian Jinki dan menghadap ke kaca. I… ini aku???

~ Jinki POV~

“Makin lama, aku makin menyayangi Hyun Wa noona.” Gumamku saat aku pergi belanja sendirian. Hari ini hari ulang tahun Hyun Wa noona. Aku tak tau apa yang di sukainya, jadi, aku hanya memberikan sebuah gaun selutut yang sepertinya cocok untuknya dan sepasang sepatu.

Aku bingung… aku menyayanginya serasa lebih dari seorang rasa sayang seong saenim pada muridnya. Kurasa aku sudah menemukan pengganti Eun Hu, gumamku dalam hati.

***

Aku kembali ke dorm dengan belanjaanku. Harus di akui sebagai seorang Onew yang bernotabene cowok, membawa tas berlogo Guess dan Charles and Keith berisi gaun dan sepatu hak tinggi khas cewek dan sebuah kotak besar agak memalukan saat melewati penjaga dorm. Tapi tak apalah. Aku membawa ini ada alasannya.

Aku membuka pintu dorm, langsung masuk kamar. Di kamar (tumben-tumbennya) semua pada ngumpul, serentak menoleh ke arahku dan barang belanjaan yang ku bawa.

“Guess?? Charles and Keith?? HYUNG BAWA APA

???!!!” Sambut Key ceria.

“Baju. Sama sepatu.” Jawabku simpel.

“Shopping kok ngga ngajak-ngajak?” Key berubah jadi cemberut.

“Mianhae. Taemin ah, bisa kau ambilkan pita di luar? Minho yah, ambilkan gunting.” Perintahku sambil duduk di ranjangku. “Jjong, MINGGIR!!!” usirku.

Taemin dan Minho

memberikan pita dan gunting yang ku suruh tadi. Lalu aku membuka kotak yang ku bawa tadi.

“Key umma, tolong lipatkan.” Kataku sambil menyerahkan gaun putih berpotongan simpel itu.

“Untuk siapa hyung? Cepat sekali kau melupakan Eun Hu sshi.” Kata Jjong.

“seorang yeoja. Ia berulang tahun besok. Dan karena aku tak ada jadwal, rasanya aku bisa pergi ke sana.” Jawabku sambil memasukkan gaun yang sudah di lipat Key.

“Dan ya. Sepertinya aku sudah melupakan Eun Hu sshi.” Kataku dengan senyum pada Jjong sambil memasukkan sepatu hak tinggi ke dalam kotak dan menutupnya.

“Wow.” Jawab Minho dengan nada bercanda sambil memelukku.

“Ne. itu baru hyungku. Ceria seperti dulu. ” kata Taemin sambil ikut-ikutan memelukku.

“Oke, berhenti meluk suamiku.” Kata.. (bisa nebak ini perkataan siapa?) Key umma

“Ya. Yeobo…” kata Jjong dengan waja cemberut, lalu tertawa.

Aku melepas pelukan Minho dan Taemin dan menghias kotak itu dengan pita hijau besar.

***

Aku pergi ke rumah noona,tapi ia tak di rumah. Maka, aku punya ide yang menurutku terlalu brilian. Aku pergi ke toko listrik dan membeli lampu natal. Aku kembali ke rumah noona dan memasang lampu-lampu itu di pepohonan.

Lalu, aku pergi ke toko kue, membelikannya kue tar buah. Aku kembali tepat waktu, aku sempat melihat Hyun Wa noona dan Mal Baek ahjumma berjalan bersama.

“Kejutan!” teriakku dari tempat persembunyianku ketka mereka sudah sampai di depan rumah.

“Mworaedo??” katanya kaget.

“Saengil chukkahamnida!!” kataku. Aku menariknya ke taman.

“Jinki.. gomasupnida..” katanya.

“tiup lilinnya… jangan lupa buat permintaan!” kataku.

Ia meniup dengan penuh semangat. Begitu lilin padam, mendadak, aku ingin menciumnya, namun yang keluar hanya sebuah kalimat. “Noona, saengil chukkahamnida.” Kataku.

“….Potongan kedua buat seong saenim ku sayang…” katanya.

Eeehh??? Sayang???  Kamu bisa ngebaca perasaanku ya?

“Jinki … gelap” begitu katanya

“aku tau. Makanya, aku siapin lampu kayak gini, buat jaga-jaga.” Jawabku. aku berlari ke dinding, menghidupkan saklar,dan tada…. Lampuku berhasil. Aku memberinya kado. Aku ingin ia memakainya.

“Wow.. coba di pake!” saran ahjumma saat Hyun Wa noona membuka kadonya

“Iya… di pake dong” aku memelas padanya

“Geure…” ia langsung masuk ke rumah. Begitu ia keluar rumah, aku merasa yang keluar bukan Hyun Wa.

“Gimana?” tanya nya

“Hyun Wa noona?”

“Ne?”

“Noonan neomu yeppeo!” kataku

“hei! Itu kan lagunya SHINee!” jawabnya

Omo… thanks god! Dia inget!

“aku pengen banget ketemu mereka!” katanya

hah? Itu keinginan nya? Gampang banget! Tenang.. kau akan ku perkenalkan nanti.

~End Jinki POV~

~Hyun Wa POV~

Aku mengantar Jinki ke depan rumah, masih menggunakan gaun yang di berikannya.

“Noona… apa kau ada rencana pergi dua hari lagi?” tanya Jinki

“Aniyo… wae?” jawabku

“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan” katanya.

“Geure… mau jam berapa?”

“Jam 8 malem.. oke?” jawabnya sambil mngedipkan mata.

“Ne.” jawabku.

Jinki menghidupkan mobilnya, dan dalam waktu singkat, Jinki menghilang dari pandanganku.

~End Hyun Wa POV~

~Jinki POV~

Aku menjemput Hyun Wa noona dua hari setelah ulang tahunnya yang bertepatan dengan hari ulang tahunku. Begitu aku sampai di depan rumahnya, aku membunyikan klakson, dan keluarlah ia, dengan gaun yang ku berikan dua hari yang lalu.

‘Neomu yeppeo..” kataku dalam hati saat ia berjalan ke arahku.  “Noona…”

“Ne..” jawabnya.

“Kajja…” jawabku.

Aku menghidupkan mobilku. Aku mengendarai mobilku ke bukit. Dari bukit itu, aku bisa melihat seluruh pemandangan kota Seoul.

“Noona… udah sampe..” kataku

“Owh…” jawabnya

Kami berdua turun dari mobil dan duduk di atas rerumputan.

“Noona…” kataku

“Jinki…” katanya bersamaan denganku. Ia menoleh. Lalu berpaling lagi. “silahkan duluan.”

“Noona… noona tau kenapa aku ngajak noona ke sini?” tanyaku

“Aniyo.. Wae?” jawabnya

“Sebenarnya ini hari ulang tahunku, dan aku ingin pergi berdua dengan noona..”

“Waahh…. Ada untungnya aku bawa ini..” jawabnya sambil membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebuah box yang di bungkus kertas kado warna oranye.

“Noona.. tau dari mana sekarang ulang tahunku?” jawabku.

“Ani… aku tak tau.. aku baru tau tadi.. pas kau memberitahuku.. hadiah itu hanya sebagai tanda terima kasihku padamu selama ini.” Jawabnya.

Yaahhh… kirain,,,pikirku. “Gomawo.” Jawabku akhirnya

“Di buka dong..” katanya lagi

Aku menurutinya.”Rubik!!! Gomawo!!” kataku saat aku selesai merobek-robek kertas pembungkusnya.

“Oh iya…Saengil chukka hamnida… ini lagi satu.” Katanya sambil menyodorkan sesuatu.

“Noona…. Noona inget?” kataku sambil melihat benda yang di sodorkannya padaku. Sapu tangan yang ku pakai untuk menahan darah hidung Hyun Wa noona.

“Tentu aku ingat….  Ini sudah ada padaku selama 15 tahun terakhir. Ini saatnya untuk kembali padamu.” Jawabnya sambil menunduk, dari suaranya, aku menangkap nada malu, namun karena penerangan buruk dan cahaya yang ada hanya cahaya bulan, aku tak bisa melihat wajah noona dengan jelas.

“Ani… noona… ambillah.. agar noona selalu mengingatku, Lee Jinki yang pernah membuat noona mimsan.” Kataku sambil mendorong sapu tangan itu kembali ke pangkuan noona.

“Aku sudah mengingatmu Jinki… Aku tak pernah berhenti memikirkanmu sejak kau menggapus darah di hidungku 15 tahun yang lalu..” jawabnya

“Jinjja?”

“Ne.. aku mau tanya… kenapa sih, kamu manggil aku ‘noona’? aku lebih tua ya?”

“Ne… hanya 2 hari..”

“Kalo begitu, aku nggak mau di panggil noona.” Katanya sambil membuang muka

“Wae?? Noona…”

“Ssshhhh!!!” potongnya sambil menaruh telunjuknya di bibirku. “aku nggak mau di panggil noona… jaraknya kita hanya 2 hari Jinki, jebal, jangan panggil aku dengan noona…plis..???”

“ne.. arraseo.” Jawabku sambil angguk-angguk.

“bagus…” jawabnya sambil mulai tidur-tiduran di atas rumput.

“Noona…” ia langsung menoleh padaku sambil melotot. “Maksudku Hyun Wa sshi..” ia berpaling ke langit lagi. ” aku mau tanya..” kataku sambil merubah posisi dudukku.

“tanya aja Jinki sshi..” jawabnya lagi

“selama aku jadi seong saenim mu, apa kau merasakan sesuatu yang berbeda?” kataku takut-takut. Aku takut ia menjawab tidak, karena aku merasakan perasaan yang sebaliknya.

“Ne..” jawabnya sambil duduk lagi. “saat bersamamu, waktu jadi terasa cepat, kamu inget pepatah yang bilang kalau kita melakukan hal yang disukai waktu akan berjalan cepat kan?” jawabnya

“Ne.. tentu pernah.” Jawabku, aku tak bisa mengatakan betapa senangnya hatiku, aku yakin kalau ngga ada orang di sini, aku sudah lari jingkrak-jingkrak kayak monyet di pulau terdampar ketemu pisang satu tandan. Jinki… tahan diri..

“Aku suka saat aku pergi denganmu. Aku semangat menjalani hariku. Begitu kamu pergi karena selesai mengajariku, aku kangen kamu terus, aku selalu nggak sabar ketemu kamu besoknya.”

“hyun wa sshi.. aku juga begitu” ia hanya tersenyum mendengarnya. “aku suka padamu Hyun Wa..” kata itu langsung terlontar dari mulutku tanpa ku sadari

“a.. a… sepertinya, a..a.. aku juga.,” jawabnya

“jinjja?”

“ne. sebenarnya, aku menyukaimu sejak 15 tahun yang lalu, saat kau menghapus darah di hidungku.”

aku mendekatkan diriku dengannya. Untuk sejenak aku ragu, tapi ku kumpulkan keberanianku, dan ku rangkul pundaknya.

“Jinki… rasanya nyaman bila aku di dekatmu..” kata Hyun Wa sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.

Jinjja? Aku juga nyaman di dekatmu, pikirku.

~End Jinki POV~

~Hyun Wa POV~

“Aku suka padamu Hyun Wa…” kalimat itu terlontar dari mulut Jinki.

Aku senang sekaligus terkejut. Senang karena aku dan Jinki mempunyai perasaan yang sama satu sama lain. Terkejut karena Jinki berani menyatakan perasaannya padaku.

“a… a… sepertinya, a.. a.. aku juga.” Jawabku. Aku memang memiliki perasaan yang sama dengannya, jadi kenapa harus disembunyikan lagi?

“Jinjja?” tanya nya dengan nada tak percaya.

“Ne.sebenarnya, aku sudah menyukaimu sejak 15 tahun yang lalu, saat kau menghapus darah di hidungku.” Jawabku. Aku tak berani menatapnya karena malu. aku hanya menatap ke bawah. Di ujung mataku, aku melihat Jinki bergeser dan mendekatiku.

Aku masih terpaku pada gerakan Jinki yang mendekatkan letak duduknya denganku saat aku merasa tangannya merangkulku.

“Jinki.. rasanya nyaman bila aku di dekatmu..” kataku sambil menyenderkan kepalaku di bahunya.

Jinki mengelus pundakku. “Kau mau kemana sekarang?” tanyanya

“Kemana saja asal denganmu.” Jawabku sambil menatap pemandangan kota Seoul dari atas.

“Kalau begitu, kajja, kita pergi.” Jawabnya sambil menarikku

“Kemana?” jawabku

“Kemana saja asal denganmu.” Jawab Jinki, mengulangi perkataanku katanya sambil berbalik

“Aku baru sadar, kemana kacamatamu?” tanyaku heran. “biasanya kau tak mau melepas kacamatamu kalau pergi denganku..”

“aku hanya menjadi diriku saat aku berdua bersamamu, Hyun Wa.”

Perkataannya tadi sukses membuatku tersipu. Akirnya kami pergi dari bukit dan berhenti di restoran mewah yang terpencil di tepi laut. Jinki menuntunku ke meja yang sudah di siapkan, terletak di tengah laut.

“Jinki… bagus banget tempatnya” kataku terkagum-kagum. Aku begitu asik melihat kanan kiri dan tidak memperhatikan jalanku. Tiba-tiba aku terpeleset dari dek kayu dan akan jatuh ke laut, kalau Jinki tidak menahanku dalam pelukannya.

“hati-hati…” katanya sambil menatap dalam mataku

“n… ne” jawabku.

Jinki mempersilahkan ku duduk duluan, sementara ia berjalan ke arah piano yang di taruh outdoor, dan mulai memainkannya.

Jinki mulai memainkan piano dan bernyanyi, dan kalimat terakir dari lagunya adalah yang membuatku tersentuh

“All I want is you… only one is you.. in my life..” (Life – SHINee – Lucifer)

“Wow… daebak..” kataku sambil bertepuk tangan

Jinki duduk di depanku, matanya menunjukkan keseriusan yang tak pernah kulihat sebelumnya.

“Hyun Wa sshi… saranghae…” ia menatap mataku dalam.

“Naddo saranghae, Jinki sshi.” Jawabku sambil tersenyum malu

“be my girl, jadilah yeojaku…”

“Mwo?” kataku tak percaya. Apa Jinki baru saja menyatakan cinta padaku?

“be my girl, jadilah yeojaku… jebal, aku tak bisa berhenti memikirkanmu, saranghae..”

“Ne… Ne!!! Ne!!!! I do!! Aku mau!!” jawabku makin lama makin keras dengan anggukan yang mantap.

Pelayan datang dan menuangkan dua gelas red wine dan menaruh sepiring spageti ukuran besar di tengah meja.

“Maaf, kami bahkan belum memesan” kataku dengan pelayan itu

“Tapi tuan ini sudah.” Katanya lalu membungkukkan badan lalu pergi.

Aku menoleh pada Jinki. “Untuk date pertama kita..” katanya sambil mengangkat gelasnya

“untuk date pertama kita..” ulangku sambil bersulang.

Kami memulai memakan spageti kami sepiring berdua, seperti film Disney “Lady And The Tramp”.

“Hyun Wa yah… ada hal yang harus kau ketahui tentangku.” Kata Jinki seusai kami makan.

“Apa itu?” jawabku.

“Jinki adalah nama formalku, tapi, sehari-hari, aku sering di panggil Onew.”jawabnya dengan nada seolah bersalah

“terus apa yang salah dengan itu? Kau mau aku memanggilku dengan sebutan itu juga?”

“Ani. Bukankah sudah ku bilang bahwa aku hanya menjadi diri sendiri kalau aku bersama mu?” jawabnya dengan mata masih mentap lurus padaku. Aku sendiri hanya tertunduk.

Aku menenguk wineku. Tiba-tiba mulai terdengar suara musik klasik bertempo pelan dimainkan dengan suara sayup-sayup. Membuatku sedikit merasa romantis dan sedikit merinding.

“Hyun Wa

yah…. ” aku menoleh. Jinki berdiri di sebelahku dengan salah satu tangan terulur. Memintaku berdansa dengan nya.

~End Hyun Wa POV~

~Jinki POV~

Aku melihatnya tertunduk. Cepat-cepat aku memasang aba-aba pada pelayan supaya menghidupkan musik klasik. Pelayan itu cepat tanggap. Dan langsung memainkan lagu pilihanku.

Aku berdiri dan menghampirinya. Ia asik meminum wine nya sampai tidak menyadari aku berdiri di sebelahnya.

“Hyun Wa

yah…” panggilku

Ia menoleh dan melihat tanganku,sejenak ragu dan menyambut uluran tanganku dengan senyum.

“Jinki ah.. seharusnya aku yang menyiapkan ini untukmu, karena kau yang berulangtahun. Bukannya kau yang menyiapkan ini untukku.” Katanya.

“Kurasa aku terlalu menyayangimu, Hyun Wa

yah.” Jawabku.

Musik berhenti. Kami pun berhenti berdansa. Dan duduk kembali dengan senyum mengembang di bibir masing-masing.

****

“Jinki yah.. Gomawo” gumamnya tiba-tiba saat aku mengantarnya sampai ke depan rumahnya.

“Mwo? Aniyo… aku yang seharusnya berterimakasih.” Jawabku.

“Ani! Gomawo. Untuk semuanya. Kau membuat hariku jadi menyenangkan.”balasnya.

“Oh. Ne. cheonmal. Hyun Wa, gamsahamnida.”

“Untuk apa?”

“Kau membuat hariku jadi menyenangkan.” Jawabnya lagi-lagi mengutip kalimatku.

“Sampai jumpa.” Katanya sambil memelukku.

Hah??? Memeluk?? Dia Memelukku?? Ahhh!!! Senangnya, rasanya seperti menemukan salah satu kepingan puzzle yang hilang.

Spontan, aku memeluknya erat. Sangat erat. Sampai akhirnya..

“Jinki ah…” kata Hyun Wa

.

“Ne?” jawabku sambil menatap matanya.

“Aku tak keberatan kau memelukku karena sekarang kau namjachingu ku, tapi, bisa kau turunkan aku?”

Aku heran dengan jawabannya. Aku menoleh, menatap ke bawah. Benar. Aku memeluknya terlalu erat sampai aku tak menyadari bahwa aku sudah mengangkatnya beberapa inchi dari tanah.

“Mianhaeyo…” jawabku denga tatapan masih di bawah dan memalingkan mukaku dari tanah, dan

Pop!!!! Aku tersadar dan menatap Hyun Wa “Hyun Wa yah… kau memberiku… poppo???” tanyaku ragu.. Oh My God!

TBC

4 thoughts on “Say I Do (Chapter 2) Two Birthdays

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s