ISENG DOANG, ada FF gagal Lhoo, dibaca aja klo senggang


Image

Annyeong haseyo reader-nim yang sudah lama tidak berjumpa…udah lebih satu tahun nih blog gak aku isi fanfic macem-macem. hiks.. hikss.. terharu banget masih ada yang sudi mampir (rasa nama warung makan)

sekian lama kita tak bersua… aku gak tau lagi nih blog mau diapain lagi…

aku aja kebingungan nge publish postan yg kayak gini doang. wordpress berubah banget.. terharu suwer deh…

Jujur aja setahunan ini bukannya aku pensiun dari dunia tulis menulis ff, atau terlalu terpesona sama mahluk dari exoplanet, tapi emang karena kesibukan dan jadwal aku yang sangat padat jadinya yaa…. 😄

oke… bacot banget akunya yaa…

tapi, dipostan ini aku sekalian mau ngepub FF gagal yang udah aku tulis selama 1 tahun kemaren…

banyak lhooo ffnya…

cuman yaaa… pada gagal

mau dibaca gak???

tapi gak ada lanjutannya gak apa-apa ya…hehehe

klo gak apa-apa yak weesss.. lanjut aja bacanya…

yang minta lanjutan.. stop sampe sini ajalah gak usah baca

pokoknya FF yg dibawah ini sama FF yg udh aku publis macem absolut boyfriend, married idol jinki pov, love friends or, like the sun itu GAK ADA LANJUTANNYA LAGI… BUAHAHAHAHA

Oke heppy reading and klo mo RCL mah… monggoooo ^___^

FF GAGAL #1

DELUSIONAL GIRL

Delusi adalah suatu keyakinan yang dipegang secara kuat namun tidak akurat, yang terus ada walaupun bukti menunjukkan hal tersebut tidak memiliki dasar dalam realitas. Dalam ilmu psikiatri, delusi diartikan sebagai kepercayaan yang persifat patologis (hasil dari penyakit atau proses sakit) dan terjadi walaupun terdapat bukti yang berkebalikan. Sebagai penyakit, delusi berbeda dari kepercayaan yang berdasar pada informasi yang tidak lengkap atau salah, dogma, kebodohan, memori yang buruk, ilusi, atau efek lain dari persepsi. Delusi menyudutkan seseorang untuk melakukan tindakan yang mengacaukan situasi. Seseorang bertindak berdasarkan persepsi salah yang membuat kita membayangkan respons negatif dari orang lain, karena itu mungkin sekali orang tersebut justru mendapat reaksi seperti yang dibayangkan sehingga menguatkan rasa takut.

-wikipedia-

Awalnya, aku hanya ingin membuat kebohongan kecil…

‘Wow, jadi kalian pernah dekat? Sejauh mana?’

‘Dia bilang, dia menyukaiku…’

Kemudian, aku tak bisa menghentikan kebohongan yang muncul berikutnya…

‘Jadi, kalian pernah pacaran?’

‘Yup. Tapi, tak lama. Kami putus karena kami rasa berteman itu lebih baik.’

Entah kenapa kemudian kebohongan itu begitu merasuk kedalam pikiranku. Bukan karena aku menyesalinya…

Tapi aku merasa kalau kebohongan yang kubuat adalah kenyataan!

Yeah… delusi yang kuciptakan dipikiranku karena aku begitu menyukaimu…

Kapankah hal itu bisa menjadi kenyataan, Cho Kyuhyun?

“Unnie, sungguhan kau dan Cho Kyuhyun-oppa pernah pacaran?”

“Ssst, kau berbicara terlalu keras. Apa kau tak mengasihaniku yang akan di terror fansnya jika mereka tahu hal itu?!”

Gadis yang masih berusia 16 tahun itu terkikik. Han Chae Kyeong namanya. Aku mengajarinya bermain piano di rumahnya sejak 2 minggu yang lalu. Mengajar bermain piano adalah profesi yang kutekuni selama 2 tahun belakangan ini semenjak aku lulus dari Universitas Kyunghee jurusan music modern. Pekerjaan yang menyenangkan walau tak menghasilkan banyak uang.

“Bagaimana kalian bisa berkencan?” Chae Kyeong melanjutkan pertanyaannya. Tampaknya dia tak akan puas sampai aku menceritakan kisahku hingga tuntas.

“Kami sekampus.” Jawabku.

“Bagaimana bisa? Bukankah dia sangat sibuk dengan SUPER JUNIOR?”

“Bagaimanapun juga dia seorang mahasiswa. Dia pasti pergi ke kampus walau sesekali.”

“Jadi, walau hanya sesekali pergi kuliah, dia masih sempat menggoda wanita…” kekeh Chae Kyeong. “… wah, unnie kau hebat sekali pernah berkencan dengan seorang idola. Apalagi dia sangat tampan dan grupnya sudah mendunia. Aku yakin jika fansnya diluar sana akan sangat iri padamu.”

Aku hanya tersenyum mendengar ocehan Chae Kyeong itu.

“Kalian pernah berciuman?” Tanya Chae Kyeong lagi.

Aku menepuk lengan kirinya. Wajahku pasti merah padam kini. Sementara tawa menggoda Chae Kyeong semakin membahana.

Ketika aku sampai di apartemen kecil milikku setelah pulang bekerja, aku menarik nafas lega. Pekerjaanku hari ini tak berat, tapi bualan yang kulakukan hari ini benar-benar menuju ambang batas.

Ingin menghentikan kebohongan ini, tapi aku terlalu menyukai setiap kebohongan yang kubuat.

Kebohongan yang berasal dari imajinasiku yang selalu berharap Cho Kyuhyun adalah kekasihku.

Aku hidup sendirian di apartemenku ini sehingga dengan bebas imajinasiku berkembang liar. Poster Cho Kyuhyun memenuhi dinding kamarku. Membuat kenikmatan tersendiri setiap kali aku memandang wajahnya.

####### DAN KEMUDIAN IDE NGILANG OKE…

Siap di FF gagal selanjutnya???

oke ini dia

FF GAGAL #2

Heeyeojyea

 

Cast

Cho Kyuhyun, Park Chaeri

Nam Woohyun, Shim Hyorin & Im Hanna

Author

Onmithee

Genre

Romance,Friendship, Family

 

++ STORY ++

 

.: 24 July 2010. Daegu :.

Entah kenapa aku merindukanmu akhir-akhir ini. Maafkan aku karena selalu menyusahkanmu. Aku tahu kau sangat membenciku. Itu hal sepantasnya yang aku dapatkan. Tapi, walau berpisah kita adalah saudara. Bersama datangnya surat ini, aku menitipkan hartaku yang berharga.  Jagalah sampai itu berguna untukmu kelak. Aku tahu, aku selalu merepotkanmu. Tapi kaulah satu-satunya keluargaku di dunia ini. Aku menyayangimu.

Dari saudaramu yang bodoh, Hyorin.

Chaeri mengalihkan pandangannya dari surat yang baru saja dia terima pagi ini ke sebuah box berukuran seperti kotak sepatu yang masih tersegel rapi yang datang bersamaan dengan surat yang masih dalam genggamannya. Dia segera membuka isi box  hanya ada buku harian, beberapa lembar foto saat dia dan Hyorin masih kanak-kanak di dalam box itu. Tak ada hal yang istimewa bagi  Chaeri.

————–

.: 15 August 2010. Seoul :.

Hanya ada rasa terkejut yang ada dibenak Park Chaeri saat ini. Tadi pagi dia di jemput seorang pria tak dikenal yang mengabarkan kalau saudaranya, Hyorin mengalami musibah. Tapi Chaeri tak menyangka musibah itu merenggut nyawa saudara kembarnya itu.

Pria yang menjemputnya itu membawa Chaeri dengan mobilnya ke Seoul, ke tempat persemayaman Hyorin. Chaeri tiba di rumah duka saat senja. Disana sudah banyak orang yang melayat. Chaeri tak mengenal satupun dari mereka. Tapi orang-orang itu terpana menatap Chaeri. Yah, Chaeri yakin mereka seperti itu karena terkejut melihat tak ada perbedaan antara wajahnya dengan wajah Hyorin yang mereka kenal.

Park Chaeri dan Park Hyorin yang kemudian berganti nama menjadi Shim Hyorin adalah sepasang anak kembar identik. Yang membedakan mereka hanya tahi lalat. Hyorin memiliki tahi lalat cukup besar di bawah telinga kirinya. Sementara Chaeri tak memilikinya.

Selain tanda fisik, nasib juga membedakan mereka. Setelah kehilangan orangtua mereka 20 tahun silam akibat kebakaran yang menghanguskan rumah dan harta benda mereka di Daegu. Mereka kemudian hidup di panti asuhan kota. Hyorin beruntung, di tahun kedua mereka disana, Hyorin di adopsi oleh keluarga kaya raya yang baru saja kehilangan putri mereka. Setelah itu, Hyorin di boyong ke Seoul. Menetap disana hingga dewasa, meninggalkan saudaranya yang nasibnya masih terkatung-katung tak jelas.

Chaeri menatap figura foto yang menampakkan wajah cantik Hyorin yang tersenyum sangat indah. Di setiap sisi figura foto berhias bunga krisan putih. Suara tangisan terdengar sahut menyahut di ruangan duka. tapi itu tak membuat hati Chaeri tergugah dan ikut menangis.

Karena untuk apa menangis? Dia sama sekali tak mengenal Hyorin setelah perpisahan mereka 18 tahun lalu. Mereka berpisah saat mereka berusia 10 tahun. Tak pernah sekalipun bertemu. Interaksi hanya dilakukan lewat surat. Itupun sangat jarang, mungkin hanya setahun sekali menjelang natal. Chaeri sendiri selalu bingung tentang bagaimana surat Hyorin selalu bisa sampai padanya padahal Chaeri selalu hidup berpindah-pindah dari kontrakan satu ke yang lain.

“Kau tak ingin memberikan salam perpisahan untuk saudaramu?”

Chaeri menoleh pada pria yang berbicara padanya. Itu masih suara pria yang menjemputnya tadi. Pria itu memberi hormat pada abu Hyorin dengan membungkuk. Chaeri mengikuti pria itu memberikan penghormatan.

Setelah memberikan penghormatan, pria itu mengajak Chaeri ke ruangan lain yang terletak di belakang ruangan persemayaman.

Pria itu membukakan pintu untuk Chaeri. Mempersilahkan Chaeri untuk masuk duluan, baru saja Chaeri melangkahkan kakinya ke ruangan tersebut. Suara kursi jatuh dan pekikan menyambutnya.

“Omo~ Hyorin,” seorang gadis menghambur kepelukan Chaeri.

“Hanna, jangan bodoh. Dia bukan Hyorin!”

“Woohyun-ah, dia Hyorin,” seru gadis itu pada pria yang menemani Chaeri sedari tadi.

“Hyorin sudah mati. Kau sendiri melihat dia di kremasi!” Chaeri menatap pria yang berdiri di belakang gadis yang memeluknya ini. Chaeri tahu, pria itu sempat kaget dengan kedatangnnya. Terbukti dengan kursi yang terjungkal di belakangnya. Kata-kata pria itu diungkapkan dengan nada sedikit kaku.

Perlahan gadis yang bernama Hanna melepaskan pelukannya pada Chaeri. Mata gadis itu sembab, wajah dan hidungnya memerah. Dia kembali menangis, kali ini pria yang dipanggil Woohyun mencoba menenangkan dengan memeluknya.

Yeobo, sudahlah jangan menangis terus. Hyorin akan sedih melihatmu seperti ini.” Woohyun mengajak Hanna untuk duduk. Chaeri paham kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih. Sementara pria yang satu lagi, yang menurut Chaeri sangat ketus keluar dari ruangan.

“Siapa dia?” Tanya Chaeri pada Woohyun.

“Dia tunangan saudaramu, namanya Cho Kyuhyun. Maafkan dia bersikap kurang sopan padamu. Dia pasti sangat berduka.”

Chaeri mengangguk. dia memperhatikan Woohyun yang mencoba menenangkan Hanna dengan cara membelai punggung dan rambut gadis itu.

“Lalu kau siapa?” Tanya Chaeri lagi.

Woohyun melepaskan pelukannya pada Hanna, gadis itu rupanya kini tertidur dan Woohyun menyandarkan kepala gadis itu ke bahunya.

“Aku Nam Woohyun,” dia berbicara dengan sedikit berbisik. “Aku adalah sahabat Kyuhyun dan Hyorin. Maaf dari tadi pagi aku belum memperkenalkan diri.” Katanya tersenyum.

——

“Maaf harus membuatmu menunggu terlalu lama di mobil karena aku mengantar Hanna terlebih dahulu.” Seru Woohyun kepada Chaeri yang sedang menunggunya di depan mobil audi hitam milik pria itu. “Ke-kenapa kau menunggu di luar? Udaranya cukup dingin.”

“Saudaraku baru saja meninggal karena keracunan gas monoksida yang ada di mobilnya. Aku mana mungkin mau membiarkan diriku tetap diam disana,… “ Chaeri mengerling pada mobil Woohyun, “… dan mengalami kejadian serupa.”

“Itu tak mungkin,” jawab Woohyun tersenyum.

“Tak ada yang tak mungkin di dunia ini.” Balas Chaeri.

“Masuklah, aku akan mengantarkanmu ke hotel.”

“Tidak. Antar saja aku ke rumah Hyorin!”

Woohyun menatap Chaeri. Dia kemudian menggigit kunci mobilnya. Tampak berpikir.

“Kenapa?” Tanya Chaeri.

“Yakin kau ingin menginap disana?”

“Tentu saja.” Angguk Chaeri.

“Dia serumah dengan Kyuhyun…” Woohyun membukakan pintu mobil untuk Chaeri.

“Wow,” seru Chaeri, dia masuk ke mobil disusul oleh Woohyun.

“Apa kau tak tahu kalau keluarga Kyuhyun yang mengadopsi Hyorin?! Karena itulah mereka tinggal bersama.” Jelas Woohyun siap mengemudikan mobilnya.

Chaeri tak menjawab. Tentu saja karena ia memang tak tahu.

——

Chaeri sampai di salah satu rumah paling mewah bergaya eropa di sebuah kawasan yang bernama Hakseuk-dong. Mungkin rumah dimana Chaeri sedang berdiri di depan pintu gerbang pagarnya ini adalah rumah yang terbesar di kawasan ini.

Pintu gerbang pagar rumah itu terbuka diiringi dengan munculnya seorang pria gemuk yang seluruh rambutnya di tutupi uban mengenakan pakaian pelayan yang membuatnya terlihat seperti pinguin.

“Tuan muda Woo, maaf bisakah anda datang lain kali? Tuan muda kami baru saja beristirahat.” Kata pria gemuk itu.

“Pengurus Ma, ayolah. Ini baru pukul 9 malam. Dia tak mungkin tidur secepat ini,” bujuk Woohyun.

“Tapi tuan sangat lelah karena mengurus pemakaman nona muda Hyo….” Pengurus Ma terkejut saat melihat wajah Chaeri yang bediri di belakang Woohyun. “Nona Hyorin.” Pekik pria itu bergegas mendatangi dan memegangi kedua lengan Chaeri. “Saya tidak sedang bermimpi kan? Kau nona Hyorin kami…” ujarnya berlinang airmata.

“Pengurus Ma, dia Park Chaeri. Saudara kembar Hyorin. Semua orang memang takjub melihat betapa miripnya dia dengan Hyorin. Tapi mereka orang berbeda. Kita harus merelakan Hyorin.”

Woohyun menarik lengan pria tua itu menjauhi Chaeri. Pria itu sekuat tenaga menghentikan tangisannya.

“A-aku tak menyangka tuan….” Isaknya. “… nona Hyorin yang baik hati akan pergi secepat ini. Dia bahkan sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Tuan muda kami. Mereka akan menikah bulan depan…”

“Sudahlah jangan membicarakan itu,” Woohyun menepuk bahu Pengurus Ma. “Sekarang, aku ingin kau membantuku. Chaeri ingin menginap di kamar Hyorin.  Kalau tak keberatan…”

“Tentu saja tidak, tuan muda Woo! Aku akan menyiapkan kamar nona Hyorin. Silahkan masuk.”

——

Melangkahkan kaki di perkarangan rumah itu saja sudah membuat Chaeri takjub dan tak bisa mengatupkan mulutnya apalagi saat dia masuk ke rumah yang sangat mewah itu. Chaeri merasa dia tidak di Korea sekarang. Perkarangan yang luas, rumah yang besar dengan perabotan mahal. Chaeri mendengus tiap kali membayangkan betapa bahagianya hidup Hyorin selama 18 tahun ini, tinggal di sebuah istana dengan begitu banyak pembantu yang siap melayani segala keperluannya. Oh~ benar-benar kehidupan seorang putri.

Iri tentu saja, setelah dia masuk ke kamar Hyorin perasaan itu muncul. Kamar tidur yang dindingnya di tempeli wallpaper berwarna soft pink dengan aksen bunga tulip ungu, kamar itu besarnya mungkin tiga kali lipat dari ukuran apartemen kumuh yang dihuni Chaeri selama ini, tempat tidur  king size bergaya eropa yang sering Chaeri lihat di televisi. Chaeri langsung saja mendudukan diri di ranjang itu. Sangat empuk, Chaeri yakin dia akan tidur sangat nyaman malam ini.

Mata Chaeri kemudian beralih ke dinding bagian kiri kamar. Ada banyak foto Hyorin tergantung disana. Dia beranjak dari ranjang untuk melihat foto-foto itu.

“Hyorin begitu menyukai fotographi. Tapi lebih tepatnya, dia sangat suka di foto. Masih banyak koleksi fotonya yang disimpan di album foto yang ada di dalam lemari sana,” jelas Woohyun menunjuk pada lemari pajang yang ada di sebelah kiri ranjang.

“Nona Chaeri, apa anda ingin membersihkan diri? Saya akan menyuruh pelayan wanita untuk menyiapkan air hangat untuk nona,” ujar pengurus Ma yang juga berada di kamar itu bersama dengan dua orang pelayan wanita yang berdiri dibelakangnya.

“Tentu saja aku mau membersihkan diri. Terima kasih,” angguk Chaeri. Matanya masih terpaku menatap gambar diri saudaranya.

“Baiklah, kalau begitu aku pamit.” Seru Woohyun. Dia menghampiri Chaeri dan memberikan selembar kartu nama miliknya pada gadis itu.

“Terima kasih atas bantuanmu hari ini.” Balas Chaeri.

Woohyun mengangguk, dia mengangkat tangan kanannya. Melambai, “hubungin aku jika kau butuh bantuan.” Ujarnya. Lalu keluar kamar diikuti oleh pengurus Ma.

Sementara itu, Chaeri kembali menatap foto Hyorin.

“Hyorin-ah, kau memang beruntung,” ujar Chaeri berbisik.

—–

.: 16 August 2010 :.

Tidur yang sangat nyaman dengan sebelumnya mandi air hangat membuat Chaeri bangun pagi dengan keadaan yang segar. Setelah membersihkan diri, dia mengenakan pakaian yang disediakan oleh pelayan rumah. Baju kaos kumal dan celana jeans yang di kenakannya kemarin seharian kini berganti dengan dress selutut   bermotif polkadot kecil. Rambut sebahu Chaeri yang semula selalu dibiarkan lurus, sekarang ditata ikal gantung. Membuatnya terlihat sangat mirip dengan penampilan Hyorin yang dia lihat lewat foto.

Chaeri keluar dari kamar Hyorin setelah seorang pelayan memintanya ke ruang makan untuk menikmati sarapan pagi bersama pemilik rumah.

Saat Chaeri tiba di ruang makan, dia melihat pria yang disebut oleh Woohyun sebagai tunangan Hyorin, Cho Kyuhyun yang sedang memandang ke luar lewat jendela besar di sisi kanan ruangan itu.

“Bagaimana tidurmu?” Tanya pria itu tanpa mengalihkan pandangannya mengamati pemandangan luar.

“Sangat nyenyak. Terima kasih.” Sahut Chaeri. Gugup.

Pria itu akhirnya memandang Chaeri walau hanya sekilas. Dia kemudian berjalan ke meja makan. Duduk di kursi utama dan meminta agar pelayan menyediakan makanan sekarang.

“Silahkan duduk.” Dia mempersilahkan Chaeri mengambil tempat karena sedari tadi gadis itu terus saja berdiri. “Aku tak mengerti alasanmu ingin menginap disini. Untung saja aku sudah tidur saat kau datang…”

“Maafkan aku karena lancang.” Sahut Chaeri cepat.

Kyuhyun memandang Chaeri yang duduk di kursi sebelah kanannya. Dia menyeringai pada gadis itu.

“Kau memang sangat lancang. Tapi aku memaafkanmu. Kau bisa pergi dari rumah ini setelah sarapan.”

“Ke-kenapa kau tak membiarkanku menetap?” seru Chaeri. “Bagiamanapun juga aku adalah calon adik iparmu.”

“Aku akan memberimu uang. Jika itu yang kau butuhkan.” Kyuhyun mengabaikan pertanyaan Chaeri.

Chaeri memiringkan kepalanya. Menatap Kyuhyun penuh kebingungan.

“Aku ini calon adik iparmu. Bisakah kau berbicara lebih ramah padaku? Kenapa kau malah merendahkanku?”

“Kau dan Hyorin hanya saudara sedarah yang selama delapan belas tahun hidup terpisah. Kau bahkan tak pernah membalas surat yang dia kirimkan padamu. Hubungan kalian sudah sangat renggang. Aku meminta Woohyun untuk mencarimu dan mengabarkan tentang kematian Hyorin, itu saja sudah merupakan hal yang merepotkan. Aku sudah sangat baik padamu dengan membiarkan kau menginap di kamar Hyorin. Apa salah perkataanku yang akan memberikan uang padamu karena menurutku, itulah yang kau inginkan dengan datang ke rumah ini!”

Kata-kata menghina yang dia lontarkan dengan tatapan dingin menusuk, jelas saja membuat Chaeri terperangah. Dia merasa terhina sekali.

“Aku akan memberikanmu uang. Pergilah dan jalani hidupmu dengan baik.” Lanjutnya.

“A-apa… kau tak mengenalku dan dengan kejamnya merendahkanku! Pria macam apa kau ini?!” seru Chaeri bangkit dari kursinya.

“Aku memang tak mengenalmu. Tapi aku tahu profesimu. Seorang wanita penghibur yang bekerja di klub malam pinggir kota. Aku tak merendahkanmu, tapi aku berbicara kenyataan.” Kyuhyun mengatakannya dengan seringai tak hilang dari bibirnya. Dia bahkan kemudian menyantap makanannya yang berupa roti gandum isi daging dengan lahap. Mengabaikan Chaeri yang tak bisa berkata-kata karena ucapannya. “Kenapa kau berdiri? Makanlah, aku tahu kau pasti lapar.”

Chaeri kembali duduk di kursinya. Dia sudah sering mendapatkan hinaan. Jadi bersabar kali ini tak jadi soal. Lagipula perkataan Kyuhyun benar, Chaeri sangat lapar. Membalas hinaan atau pergi dari rumah ini karena tersinggung tak akan membuatnya kenyang.

——

Chaeri menatap lekat selembar cek yang ada di tangannya. Dia kemudian menatap Kyuhyun tak percaya melihat jumlah uang yang diberikan pria itu. Kyuhyun memberikan uang sebesar seratus juta won padanya.

“Hiduplah dengan baik setelah ini.”

“A-aku…” Chaeri tak mengerti bagaimana dia harus bersikap. Dia hanya menatap Kyuhyun tanpa bisa berpikir.

“Pergilah!”

“ka-kau kenapa sepertinya kau membenciku?!” Chaeri akhirnya menemukan pertanyaan yang tepat.

Kyuhyun tak menjawab. Dia bangkit dari kursinya, hendak meninggalkan ruang makan.

“Kenapa kau tak mengasihaniku? Aku selama ini hidup menderita. Kau tahu profesiku. Tapi kenapa kau malah mengusirku. Walau aku dan Hyorin berpisah bertahun-tahun, aku ini tetap saudara satu-satunya yang ia miliki. Aku dengar keluarga ini mengadopsinya, begitu baik padanya. Tapi kenapa kalian berbuat sekejam ini padaku?”

Kyuhyun yang berdiri di ambang pintu, menoleh pada Chaeri.

“Kenapa aku tak boleh berada disini? Kenapa tak membiarkanku beberapa hari saja disini untuk merasakan hidup yang Hyorin jalani selama ini? Kenapa aku harus kembali ke kehidupanku yang kelam?”

Kyuhyun berjalan mendekati tempat duduk Chaeri. Dengan kasar tangannya menggebrak meja. Membuat Chaeri terperanjat.

“Asal kau tahu, Park Chaeri! Hidup yang kau anggap kelam itu, mungkin lebih baik ketimbang hidup di rumah ini. Kenapa kau tak ingin menjalani hidup yang memang seharusnya kau jalani? Katakan saja, kau iri dengan Hyorin!”

“Ya. Aku iri padanya!” sahut Chaeri.

“Lalu, kenapa kau tak iri dengan betapa cepatnya dia meninggalkan dunia ini? Kau tak iri dengan kematiannya?”

Chaeri membalas tatapan dingin Kyuhyun padanya, “Aku hanya iri pada keberuntungan yang dia dapatkan. Tak lebih. Lantas kenapa?”

Ekspresi Kyuhyun yang dingin berubah, dia tersenyum. Senyumnya semakin lebar. Kemudian dia tertawa, terbahak-bahak hingga dia memegangi perutnya.

“A-ada apa denganmu?” Tanya Chaeri kebingungan.

“Hah,” Kyuhyun mencoba menghentikan tawanya. Walau agak sulit. Chaeri mengerutkan kening melihat begitu anehnya pribadi pria dihadapannya ini. “Kau dan Hyorin benar-benar tak mirip.”  Kyuhyun menghela nafas panjang setelah mengakhiri tawanya. “Cara bicaramu yang lugas. Kau seakan tak menutupi apa yang kau pikirkan. Berbicara tentang semua hal yang kau rasakan…”

“A-aku tak seperti itu…”

“Delapan belas tahun yang lalu, di sebuah jalan antar kota di jalur meninggalkan kota Daegu. Terjadi kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh satu keluarga…” Kyuhyun mengabaikan bantahan Chaeri. “… mobil yang mereka tumpangi terbalik dikarenakan pecah ban. Anak lelaki keluarga itu, terhempas keluar mobil. Kondisinya sangat parah dengan kesadaran yang semakin berkurang. Lalu, seorang gadis kecil yang sedang mengikuti karya wisata, yang bisnya tak bisa melanjutkan perjalanan di karenakan kecelakaan tunggal di depan mereka. Tanpa rasa takut, dia keluar dari bis dan menghampiri bocah lelaki  yang mulai kehilangan harapan hidup karena pertolongan yang tak kunjung datang…”, Kyuhyun menatap Chaeri. Matanya berkaca-kaca. “… dia berkata pada bocah lelaki itu…”

“Kau harus tetap bertahan. Jangan menyerah. Berjuanglah…” Chaeri melanjutkan ucapan Kyuhyun. kilasan kenangan akan peristiwa itu melintas di ingatannya.

“Jadi, gadis kecil itu adalah kau…” Kyuhyun berkata lirih, perlahan ingin mencoba membelai rambut Chaeri. “… ternyata, memang bukan Hyorin.” Dia mengurungkan niatnya membelai rambut Chaeri dan malah memasukan kedua tangannya ke saku celana. Wajahnya menengadah, mencoba menahan airmata yang akan jatuh.

“Apakah anak lelaki itu…”

“Pergi dari rumah ini!” seru Kyuhyun. suaranya yang berat dengan nada rendah, memotong ucapan Chaeri. Dia segera berlalu meninggalkan ruang makan. Mengabaikan Chaeri yang kebingungan.

——-

Woohyun segera memarkirkan mobilnya di tepi jalan depan rumah Kyuhyun ketika melihat Chaeri sedang berdiri bersandar pada benteng rumah itu. Dia segera menghampiri Chaeri yang dilihatnya sedang melamun.

“Kau diusir?” Tanya Woohyun yang dijawab Chaeri dengan anggukan lemah. Woohyun berkacak pinggang, berdecak, “Cih~ kenapa dia bersikap seperti itu?”

“Bisa antar aku ke terminal? Aku akan kembali ke Daegu hari ini, lagipula aku juga harus bekerja…”

“Kau mau bekerja? kau harusnya berhenti dari pekerjaanmu itu!” seru Woohyun.

“Memang kau tahu apa tentang pekerjaanku?” cibir Chaeri.

“Yang jelas itu bukan pekerjaan yang baik. Kau harus berhenti!”

Chaeri memanyunkan bibirnya. Dia berlalu melewati Woohyun, menuju mobil pria itu. “Aku memintamu mengantarku! Bukan menasehati!” serunya.

Woohyun menyusul Chaeri, menarik lengan gadis itu. Memegangi bahunya, membuat mereka berhadapan.

“Tinggalah di Seoul. Aku akan membantumu mencari pekerjaan dan tempat tinggal.”

Alis kanan Chaeri meninggi. “Kau tak perlu melakukan itu.”

“Aku harus melakukannya!” kata Woohyun dengan nada tinggi. Dia menghela nafas. Kemudian berkata, “Kau adalah saudara Hyorin dan dia adalah sahabatku. Apa salah kalau aku mencoba membantumu?”

Chaeri menyeringai, “Baiklah. Aku bukan orang yang merasa sungkan ketika ada orang yang berniat membantu. Aku terima niat baikmu. Tapi, aku tetap ingin kembali ke Daegu hari ini. Banyak barang yang harus aku kemasi, lagipula aku belum membayar uang kontrak rumah bulan ini.”

——

Chaeri dan Woohyun kini dalam perjalanan kembali ke Seoul dari Daegu. Mereka melakukan perjalanan dalam satu hari. Yang dilakukan Chaeri saat di Daegu hanya mengemasi barang-barangnya yang tak banyak jumlanya, hanya terdiri dari pakaian dan dokumen penting termasuk barang milik Hyorin yang dikirimkan padanya bulan lalu. Chaeri juga mengundurkan diri dari tempat dia bekerja.

Mereka sampai di gerbang kota saat hari sudah malam. Perjalanan mereka sendiri cukup membosankan karena Woohyun bukan orang yang banyak bicara.

Woohyun membawa Chaeri ke sebuah gedung apartemen yang tingginya menjulang. Saat dia memarkirkan mobilnya di basement, Chaeri bertanya, “Kita dimana?”

“I-Park Building, aku tinggal disini.” Kata Woohyun sambil melepas selfbelt.

“Ow,” gumam Chaeri.

“Kau akan tinggal di rumahku untuk sementara waktu sampai aku menemukan tempat tinggal yang pas untukmu.”

“A-apa?” seru Chaeri, dia keluar dari mobil mengikuti Woohyun sambil membawa barang-barangnya. “A-apa kekasihmu tak akan mempermasalahkan hal ini?”

Woohyun memandang Chaeri, tersenyum sangat ramah, “Hanna tak akan keberatan. Dia sangat pengertian dan tak gampang cemburu.”

Chaeri mengangguk. Woohyun mengambil beberapa barang bawaan Chaeri. Membantu membawakan. Mereka kemudian masuk ke koridor menuju pintu masuk gedung. Lalu mereka masuk ke lift, menuju lantai 23.

“A-apa kau tinggal sendirian?” Tanya Chaeri. Saat mereka hendak masuk ke pintu no. 234.

“Yup.” Jawab Woohyun sambil memasukkan kata sandi pada kunci rumahnya. “Silahkan masuk,” ujarnya saat pintu terbuka.

“Apa ini tak akan apa-apa?” gumam Chaeri.

“Tentu saja tak apa-apa. Kita hanya tinggal bersama, bukannya sekamar.” Woohyun tertawa, “Ternyata kau agak kaku juga ya?”

“Bukannya begitu, tapi kau baru mengenalku dan kau sudah begitu baik. Apa kau selalu seperti ini?”

Woohyun menggeleng. Perlahan dia menepuk puncak kepala Chaeri, “karena kau adalah saudara Hyorin. Kalian sangat mirip, jadi aku merasa sudah mengenalmu lama, Chaeri-ya.”

Chaeri merasa wajahnya sangat panas kini. Dia yakin, dia sedang tersipu. Chaeri memandang wajah Woohyun yang tangannya masih membelai puncak kepala Chaeri. Mata mereka bertemu, saling tatap lama. Ada kehangatan yang Chaeri rasakan dari sorot mata pria ini. Dia menatap Chaeri lembut, membelai rambut Chaeri penuh kasih sayang.

Chaeri mencoba menjauhkan dirinya, memalingkan wajah. Menepuk kedua pipinya. Nam Woohyun hampir saja membuatnya mabuk kepayang.

——

.: 17 August 2010 :.

Pukul 7 pagi, Chaeri keluar dari kamar, dia berpakaian rapi. Dia sengaja langsung mandi setelah bangun tadi. Baru melangkahkan kaki keluar kamar, wangi harum masakan tercium olehnya. Dia mengikuti asal aroma yang mengguncang perutnya itu. Asalnya dari dapur, dari masakan yang dibuat Woohyun.

“Kau sudah bangun?!” seru pria itu, menoleh sekilas dan kembali menekuni masakannya.

Chaeri berjalan mendekatinya, “Aku kira siapa yang memasak. Rupanya kau.”

“Kaget?” Tanya Woohyun. Chaeri mengangguk. “Aku memang terbiasa melakukan ini. Aku kan tinggal sendirian.”

“Pacarmu itu sangat beruntung…” gumam Chaeri.

“Hanna tak terlalu menyukai masakanku.”

“Mwo?”

“Yang ada diotaknya hanyalah diet, diet dan diet. Itulah sebabnya dia tak menyukai masakanku yang dia sebut ‘kalori mematikan’. Aku tak mengerti bagaimana dia bisa menjalani hidup dengan hanya makan salad, kentang rebus dan dada ayam.” Woohyun mematikan kompor, mengangkat panci yang berisikan ramyun dan menaruhnya ke meja makan. “Kau tak keberatan makan ramyun sepagi ini ‘kan?”

Chaeri menggeleng. Dia membantu Woohyun menyiapkan peralatan makan. Mereka kemudian bersiap menyantap makanan. Saat Chaeri siap menyumpit ramyun, Woohyun menghentikan tangan Chaeri.

“Berdoa dulu.” Katanya. Dia mengambil sumpit Chaeri. Lalu memegang tangan kanan gadis itu. “Terima kasih atas rezeki Mu hari ini.”

“Amin.” Sahut Chaeri.

Woohyun tersenyum, dia mengembalikan sumpit Chaeri. Membiarkan gadis itu menikmati ramyun buatannya.

Baru satu suap, Chaeri berseru, “Masitaa~.” Dia segera menyuapkan mie lebih banyak lagi ke mulutnya. “Ramyun terenak yang pernah ku makan!”

“Sincha?” Woohyun makan lebih santai dibanding Chaeri yang seperti orang tak makan berhari-hari. “Ini hanya makanan instan.”

“Tapi enak sekali.” Chaeri berkata dengan mulut penuh.

“Makannya pelan-pelan.” Kekeh Woohyun.

——

“Hm, kau mau kemana?” Tanya Chaeri saat melihat Woohyun yang baru keluar kamar dengan mengenakan kemeja dan jas.

“Tentu saja ke kantor. Bekerja.”

######## STOP SAMPE SINI… GARA GARA TERLALU SIBUK JADI LUPA MAU NGELANJUTIN GIMANA… UHUUU UHUUUUUUUUU

jujur, aku aja sampe lupa klo punya nih FF… buaahahahahaha

oke dah lanjut

FF GAGAL #3

INFINITELY LOVES Part 1

 

‘aku mengasihimu tanpa batasan hari, akankah kau melakukan hal yang sama untukku?’

 

— INFINITELY LOVES–

Author: Onmithee

Cast: Kim Rumi, Lee Jinki

Leigth : Sequel

Genre: Romance, Life

Rated: PG 15

 

STORY

Pertama kali melihatnya…

Saat itu dia sedang duduk termenung di atas pasir pantai…

Membiarkan celana jeans biru yang dikenakan basah karena permainan ombak…

Matanya terpejam. Wajahnya menengadah kelangit…

Hari itu, matahari bersinar terik…

Temperatur lembab sementara angin laut berhembus kencang…

Dia duduk tenang disana…

Sementara aku memperhatikan dan perlahan-lahan hatiku terpikat padanya.

 

+++++

Lee Jinki, nama pria itu. Usianya 23 tahun. Dia adalah putra tunggal pemilik resort sekaligus hotel tempat Kim Rumi bekerja sebagai petugas kebersihan taman selama 2 tahun ini.

Pria muda yang tampan namun wajah rupawan itu tertutupi oleh raut kesedihan. Entah seburuk apa kejadian yang pernah menimpanya sehingga senyuman tak pernah menghiasi wajahnya.

Rumi mendengar isu yang dibisikkan oleh rekan sejawatnya. Pikiran sang tuan muda itu terganggu. Hal itu disebabkan kecelakaan yang terjadi tiga tahun silam. Speed boat yang ditumpanginya bersama ayah, kakak perempuan dan dua orang  sahabatnya tenggelam ketika mereka hendak liburan ke sebuah pulau pribadi milik keluarga Lee. Hanya Jinki yang selamat dari musibah itu. Sejak kecelakaan tragis itu, Jinki berubah. Dia yang semula gemar bercanda, penuh tawa dan memiliki rasa humor tinggi berubah menjadi pemurung. Wajar saja, siapa yang tak terpukul akan kejadian tragis seperti itu.

Kemudian perasaan yang muncul adalah bahwa Rumi telah jatuh cinta pada Jinki sejak pertama kali melihat pria itu di hari pertama ia bekerja.

Lee Jinki selalu duduk di tepi pantai yang berada di belakang resort setiap hari dari jam 10 pagi hingga jam 2 siang. Duduk termenung. Memandang laut dengan tatapan kosong. Itulah yang dia lakukan setiap hari.

Rumi menyukai Jinki. Walau status social mereka berbeda dan Rumi sadar perasaan yang tumbuh di hatinya untuk Jinki tak sepatutnya ada.

Tapi Rumi tetap menyukainya. Tak keberatan perasaannya tak tersampaikan sampai kapanpun.

Yang Rumi inginkan hanyalah, suatu hari nanti bisa melihat Jinki tersenyum.

Rumi ingin, luka hati yang diderita Jinki sembuh.

Rumi ingin suatu hari nanti Jinki akan hidup normal. Ingin Jinki bisa melupakan kejadian buruk yang pernah menimpanya.

Perasaan konyol yang disebut cinta itu memang benar sudah membuat seseorang menjadi bodoh. Rumi memang seorang gadis bodoh. Sok pahlawan membiarkan cintanya tak tersampaikan. Menikmati perih dari luka cinta terpendam.

Tapi apakah selamanya cinta terpendam itu akan tetap terkubur di hati Rumi? Tak adakah kesempatan untuknya agar bisa memikat hati sang tuan muda di suatu saat nanti?

+++++

Musim panas di tahun kedua Rumi bekerja, pertengahan bulan Juli yang dihiasi awan mendung. Tak biasanya, hari ini Rumi melihat tuan muda Lee Jinki sudah berada di pantai saat jarum jam masih menunjuk di angka tujuh. Dia terlihat sangat rapi tak seperti biasanya. Sehari-hari ketika ke pantai, Jinki biasanya hanya mengenakan celana jeans dan T-shirt. Tapi hari ini dia mengenakan stelan jas lengkap dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam senada dengan warna jas dan celana berbahan kain yang dia kenakan.

Walau mengenakan pakaian berbeda, sorot matanya tetap sama. Sorot mata yang memandang dunia dengan tatapan lelah.

Rumi yang seharusnya pagi ini bertugas untuk membersihkan taman depan gedung mengurungkan dulu pekerjaannya itu. Ada yang tak beres pada tuan muda. Rumi harus mengawasinya, pikir Rumi saat itu.

Pagi ini, ombak yang cukup besar bergulung menghempas pantai disertai angin kencang dan hujan rintik-rintik. Mata Rumi tak lepas mengawasi tuan mudanya yang berdiri di tepi pantai. Walau Rumi mengawasinya dari jarak sekitar 5 meter tapi Rumi berusaha agar tetap sigap.

Rumi melihat Jinki yang menengadahkan wajahnya kelangit. Terlihat menikmati ketika tetesan hujan membasahi wajahnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Tubuhnya menjadi condong ke belakang. Tak lama, dia melepas sepatu yang ia kenakan. Dia berjalan perlahan menuju lepas pantai.

Rumi mengikuti tuan mudanya itu. Langkahnya dipercepat ketika dia melihat langkah Jinki semakin semangat menerjang ombak.

“Gila! Apa yang ada dipikirannya saat ini? Berusaha bunuh diri?! Begitu?” batin Rumi tetap mengejar Jinki

“Tuan Lee!” panggil Rumi ketika ia semakin dekat dengan Jinki.

Jinki menoleh. Menatap Rumi dengan ekspresi kosong.

“Apa yang tuan lakukan? Ayo ikut aku. Kita kembali ke darat.” Ajak Rumi. Jarak mereka ke pantai sekarang berkisar 5 meter dan ombak mempermainkan tubuh keduanya. “Jika aku tak menghentikannya sekarang, bisa-bisa aku juga ikut terseret semakin jauh ke laut lepas lalu mati.” Pikir Rumi saat ini.

Jinki tak menyahut. Ia kembali menatap laut. Sejenak kemudian dia menyelam.

“Tuan Lee!” jerit Rumi mencoba menyelam mengikuti pemuda itu. Tapi jarak pandang buruk. Rumi tak bisa melihat Jinki.

Rumi kembali ke permukaan. Jaraknya sudah semakin jauh dari pantai, tekanan air menyeretnya. Tapi ia harus menemukan tuan Lee. Harapan Rumi adalah Jinki dapat  hidup bahagia suatu hari nanti. Dia tak ingin Jinki mati dalam keadaan terpuruk seperti sekarang.

Rumi kembali berenang sambil sesekali menyelam. Berteriak memanggil Jinki. Hujan semakin deras. Angin semakin kencang dan air laut semakin ganas. Tubuh Rumi mulai kaku. Tapi ia tak mau menyerah. “Aku harus menemukannya.” Tekat Rumi.

Rumi tak tahu, sudah berapa lama ia mencari tuan mudanya itu. Rumi bahkan tak bisa melihat tepi pantai lagi tapi akhirnya Rumi berhasil menemukan Jinki. Pria itu terlihat lemas. Berusaha berenang menuju laut tapi tak bertenaga. Rumi menarik tangan Jinki sebelum dia tenggelam. Sekuat tenaga Rumi menyeretnya menuju pantai.

Jinki tak berusaha melawan ketika Rumi membawanya menuju pantai. Dia sudah pingsan dan meminum terlalu banyak air. Walau harus melewati perjuangan yang cukup keras hingga bisa mencapai pantai. Rumi bersyukur bisa kembali bersamanya.

Sudah ada beberapa orang di pantai. Diantara orang-orang yang menunggu dengan cemas itu, Rumi melihat nyonya pemilik resort. Yah, dia adalah nyonya Han Min Kyung, ibu dari pria yang baru saja usaha bunuh dirinya Rumi cegah.

+++++

“Tiga tahun yang lalu, tepat pada hari ini musibah itu terjadi.” Kata Nyonya Han. Dia member Rumi secangkir coklat panas. Merapatkan handuk besar yang menyelimuti tubuh gadis itu. “Terima kasih karena tadi kau menyelamatkan putraku.”

Rumi mengangguk. Ia berada di kediaman pribadi milik keluarga Lee yang masih berada di lokasi yang sama dengan resort tempatnya bekerja. Dari ruangan tempnyaku berada kini, kamar tuan muda Lee Jinki, Rumi dapat melihat laut China selatan dengan jelas. Walaupun pemandangan yang  ia lihat saat ini begitu suram karena langit berwarna abu-abu dan hujan begitu deras di luar sana.

“Saat itu cuaca juga seperti sekarang. Harusnya, aku mencegah saat mereka pamit pergi.”

Rumi turut prihatin mendengar kisah yang diceritakan ibu dari pria yang ia puja selama ini. Rumi menatap nyonya Han duduk di tepi ranjang, menatap putranya yang kini tertidur lelap. Dia membelai rambut anaknya itu sembari mengusap airmata yang mengalir dari pelupuk matanya.

“Hanya Jinki yang kumiliki sekarang. Entah apalagi yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan luka batinnya. Aku sudah membawanya ke psikiater terbaik. Namun tak ada hasil. Hatinya tertutup, hanya ada kenangan akan kecelakaan itu yang ada di memorinya. Dia begitu menderita.”

Rumi bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati wanita paruh baya itu.

“Aku hanya ingin putraku kembali seperti dirinya dahulu.”

“Nyonya…” kata Rumi perlahan.

“Maaf kau harus melihatku seperti ini.”

“Itu tak jadi masalah.” Sergah Rumi.

“Terima kasih bantuanmu. Kau bisa beristirahat hari ini. Aku mengijinkanmu tak bekerja hingga besok.”

“A-aku tak butuh itu.” Rumi menolak sehalus mungkin.

Nyonya Han menatapnya. “Kau butuh uang?”

“Bukan!” Rumi menegaskan. “A-aku ingin putramu.”

Seketika suasana yang sudah kaku menjadi makin beku. Rumi sendiri tak bisa mempercayai ucapannya barusan.

“Apa maksudmu!” seru Nyonya Han. Alis kanannya meninggi. Dia terlihat marah.

“Ma-maksudku… a-aku…” Rumi kebingungan mencari kata-kata yang tepat. “A-aku menyukainya.”

Rumi merasa dirinya sangat kurang ajar. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu. Di tengah situasi dan keadaan yang seperti sekarang, benar-benar tak tepat.

Rumi menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Nyonya Han. Suasana hening tapi sedetik kemudian terdengar suara tawa.

“Berani sekali kau!”

Rumi mencoba memberanikan diri melihat wajah Nyonya Han, setelah mendengar kata-kata yang melengkin nyaring menganggu rongga telinganya. Nyonya Han menatap Rumi dengan tatapan menghina. Terlihat sangat angkuh.

“Ma-maafkan aku.” Kata Rumi, cukup ketakutan.

“Tak bisa dipercaya orang sepertimu berani menyukai putraku!”

“Maaf nyonya. Tapi menurutku aku dan putra anda setara.”

“Konyol!” serunya. “Kau yang hanya pegawai rendahan menyamakan dirimu dengan putraku?! Dia sejak kecil mendapatkan pendidikan dan makanan terbaik. Status social kalian berbeda! Berbeda sangat jauh!”

“Meski begitu.” Sergah Rumi. Ia menatap tajam nyonya Han. Dia tak tahu darimana keberanian dan ketidaksopanan dari ucapannya ini muncul. “Walau putra anda memiliki kehidupan bagai dewa dimasa lalu, dia yang sekarang tak lebih dari manusia yang kehilangan akal. Aku yang hina dan hanya pegawai rendahan justru hidup lebih normal daripada putra anda.”

“Lancang kau!” Nyonya Han melayangkan tamparan keras pada pipi kanan Rumi. Sakit sekali. “Kau berani merendahkan putraku!” pekiknya.

“Aku bersumpah nyonya!” pekikkan Rumi tak kalah keras wanita itu. Mengabaikan rasa sakit tamparannya. “Aku bersumpah demi hidupku, aku akan membuatnya kembali seperti semula. Aku akan membuatnya tersenyum kembali. Aku bersumpah, aku akan melakukan itu.” Rumi lalu berlutut. “Aku mohon biarkan aku berada di dekatnya. Hanya seratus hari. ijinkan aku bersamanya. Kumohon…”

Rumi memeluk lutut Nyonya Han Min Kyung. Ia  Menangis. Sementara wanita dihadapannya itu tak menjawab apapun. Seolah tak percaya dengan ucapan Rumi.

“Ke-kenapa kau lakukan ini…”

“Karena aku mencintai putra anda. Tak ada alasan lain.”

Hening. Rumi menunggu keputusan Nyonya Han dengan menahan debaran dari rasa gugup di dadanya. Rumi bahkan hampir melompat ketika tiba-tiba terdengar guruh petir menyambar. Tapi kemudian hening lagi. Hanya terdengar tetes hujan. Hingga…

“Baiklah. Kalau kau bersikeras. Aku beri kau kesempatan. Hanya seratus hari, aku akan membiarkanmu bersamanya. Tapi jika dia menolakmu dari awal maka kau harus pergi saat itu juga.”

+++++

–To Be Continued–

 

 

INFINITELY LOVES Part 2

Author: Onmithee

Cast: Kim Rumi, Lee Jinki

Leigth : Sequel

Genre: Romance, Life

Rated: PG 15

STORY

 

 

Setelah melakukan perjanjian seratus hari dengan nyonya Han kemarin. Hari ini menjadi hari pertama perjanjian dilakukan.

Sebelum pukul tujuh pagi, Rumi sudah berada di kamar Lee Jinki. Dia bertekat mulai hari ini tak akan memanggil Jinki dengan sebutan ‘tuan’ lagi. Dia akan memanggil pria itu dengan sapaan ‘Jinki-ya’ sekarang.  Itu agar tak ada lagi batasan diantara mereka berdua.

Saat Rumi masuk ke kamar Jinki. Dia  melihat pemuda itu sedang berdiri menatap laut lewat jendela besar di kamarnya. Rumi membawakan nampan berisi sarapan untuk Jinki. Pria itu tampak kaget ketika melihat Rumi. Tapi Jinki tak berkata apa-apa. Dia hanya beranjak menuju kursi yang berada di tengah ruangan.

Rumi meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja di hadapan Jinki. Dia duduk di kursi yang ada disamping Jinki. Senyumnya tak sekalipun hilang sejak masuk tadi.

“Mulai hari ini kita akan sarapan, makan siang dan makan malam bersama. Aku juga akan menemanimu sepanjang hari. kau tak keberatan ‘kan?” Tanya Rumi.

Dia tak menjawab. Hanya menunduk.

“Kalau tak ada jawaban artinya kau tak menolak.” Seruku. Aku memberikan sendok dan mangkuk berisi nasi padanya. “Aku yang membuat semua masakan ini. Sangat enak. Kau harus memakannya sampai habis.” Aku menyumpitkan sepotong daging ayam yang ku masak  kecap padanya.  Dia terlihat risih tapi aku tak peduli. “Makanlah yang lahap.”

Mungkin dimatanya aku seperti orang yang seenaknya , tak tahu malu. Tapi aku tak peduli. Aku ingin dekat dengannya. Aku ingin dia bisa membuka dirinya padaku. Merasakan kebahagian yang kurasakan seperti aku ketika bisa dekat dengannya.

Setelah sarapan usai, aku lihat dia ingin keluar kamar tapi aku mencegahnya.

“Kau lihat, di luar hujan deras. Kau tak boleh keluar.” Seruku. “Kita bisa melakukan banyak hal disini. Aku akan menemanimu.”

Aku lalu mengajaknya ke sisi kiri kamar. Ada sofa panjang disana, di belakang sofa ada rak berisikan banyak buku-buku.

“Kau suka membaca?” seruku. Dia masih tak menyahut. Aku lalu memeriksa koleksi bukunya. “Wah, banyak buku ilmu pengetahuan. Tapi ada juga buku kisah dongeng. Hmm, kau suka dongeng putri duyung?”

Aku tahu dia tak akan mau menjawabku. Dia duduk diam di sofa dengan pandangan menatap kosong ke luar lewat jendela besar kamarnya.

“Aku akan menjadi putri duyung untukmu.”

Pandangannya teralih. Dia kini menatapku raut wajahnya tak ku mengerti.

“Walau aku harus menjadi buih, asal kau terus hidup pangeranku. Aku tak keberatan.”

Aku berdiri menghadapnya. Mataku berusaha masuk menyelami tatapannya. Ku raih jemari tangan kirinya. Mengecupnya. Lalu menggenggamnya. Tanganku yang lain merengkuh wajahnya. Aku menahan ini begitu lama. Keinginan untuk menciumnya.

Perlahan aku semakin mendekatkan wajahku. Mengecup pipi kirinya. Dia tak melawan, aku rasa dia juga menikmati perlakuanku. Bagaimanapun dia seorang pria. Lalu aku semakin berani, mendekatkan bibirku pada bibirnya.

Perasaan seperti disetrum oleh listrik berjuta-juta kilowatt, mungkin aku berlebihan. Tapi moment ini begitu menakjubkan untukku. Selama 25 tahun aku hidup, inilah kali pertama aku mencium seorang pria. Pria yang sangat aku cintai selama dua tahun terakhir ini.

Aku harap dia merasakan perasaan seperti yang ku rasakan.

++++++

Ini baru hari pertama, tapi aku sudah membuatnya merasa begitu nyaman dengan keberadaanku. Mungkin aku terlalu cepat mengambil kesimpulan tapi melihat dia yang mau berbaring di pangkuanku, kalau bukan merasa nyaman terus itu apa?

“Aku Kim Rumi, usiaku 25 tahun. Lebih tua 2 tahun darimu. Tapi tak pentingkan kalau aku lebih tua, yang penting aku cantik dan enak dipandang.” Kekehku membelai rambutnya yang lebat berwarna kecoklatan.

“Jinki-ya,” dia menatapku ketika aku menyebut namanya. “Boleh aku memanggilmu seperti itu.”

Dia tak menjawab.

“Tak menjawab berarti tak keberatan.” Aku kembali tertawa. “Selama ini, ibumu selalu membuatmu kesepian. Tak membiarkan seorang pun mendekatimu. Tapi mulai hari ini, ada aku. Aku yang akan selalu disisimu. Aku akan selalu bersamamu sepanjang hari.”

Aku terdiam. Aku bisa merasakan wajahku memanas. Pasti merah sekali jika aku melihatnya di cermin.

“Aku juga akan tidur di kamar ini. Bersamamu…”

Matanya mengerjap. Ekspresi pertama yang dia tunjukkan.

“Aku akan tidur di sofa. Tentu saja…” aku terkekeh. Menggaruk tengkuk. Mencoba tak melihat wajahnya, “… tapi, kalau kau ingin aku tidur disampingmu, aku tak keberatan.”

Aku mencoba melihat ekspresinya. Kembali ke awal. Lagi-lagi kosong.

“Apa kau mengganggap aku wanita rendah?” seruku nyaris berbisik. Aku hina sekali jika dia menganggapku begitu. “Jangan anggap aku seperti itu, kumohon…”

Dia mendudukkan diri. Dia tak menatapku tapi dia berjalan menjauh. Menuju jendela besar yang berada di bagian kanan kamar.

Aku bergegas menyusulnya. Memeluk punggungnya.

“Aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Seperti putri duyung yang mencintai pangerannya.”

Aku bisa mendengar degup jantungnya yang iramanya berubah setelah mendengar pengakuanku itu. Aku bisa merasakan tangannya yang membelai punggung tanganku yang melingkar diperutnya. Perlahan jari-jarinya menaut pada jari tanganku. Mengarahkan tanganku ke dadanya. Aku bisa merasakannya. Merasakan debaran jantungnya.

“Jinki-ya, terima kasih. Terima kasih karena membiarkanku menemanimu.”

+++++

Untuk seminggu pertama, belum ada perubahan berarti padanya. Dia tetap tak bercakap. Lebih sering melamun walau terkadang aku melihat ekspresinya dari gerak matanya.

Menurutku itu perkembangan yang bagus.

Selama seminggu aku menemaninya, aku menyadari kalau dia merupakan pribadi yang tenang di pagi dan siang hari. tapi ketika malam tiba, ketika dia tertidur. Aku melihat dia gelisah. Di hari ke lima, untuk pertama kalinya aku mendengar dia bersuara.

Dia menjerit, memanggil nama orang-orang yang aku tahu terlibat kecelakaan bersamanya.

Dia baru tenang ketika aku memeluknya. Aku yang selama beberapa hari tidur di sofa, untuk pertama kalinya tidur di ranjang yang sama dengannya. Dan sepanjang malam itu kami berpelukan. Tapi, kejadian itu tak terjadi keesokan harinya. Hanya malam itu saja dan hari berikutnya aku kembali tidur meringkuk di sofa.

Setelah selama seminggu langit kelabu memayungi pulau ini, akhirnya matahari kembali bersinar tanpa ditutupi awan lagi. Aku melihat Jinki yang begitu merindukan dunia luar kamar. Jadi, aku mengajaknya keluar hari ini.

Aku menggandeng tangannya dengan riang ketika keluar dari resort. Mengabaikan pandangan sinis dari pegawai-pegawai resort. Aku banyak mendengar cibiran dan gossip-gosip buruk tentangku akhir-akhir ini.  Tapi, untuk apa aku peduli. Bagiku yang terpenting adalah bersama Jinki. Mengusahakan agar dia bisa tersenyum. Hanya itu.

Aku menghentikan langkah ketika kami akan sampai di depan gerbang resort. aku memandangnya yang tampak enggan untuk pergi. Matanya menatap laut yang ada di belakang resort.

“Kita tak akan main ke laut.” Kataku.

Dia melepaskan pegangan tanganku.

Yaa! Lee Jinki. Perjanjiannya adalah kau mau ikut kemanapun aku mengajakmu. Kau mau melanggarnya?”

Wajahnya terlihat makin gelisah. Aku lalu memegang wajahnya. Menatapnya.

“Di dunia ini tak hanya ada laut. Banyak hal yang jauh lebih indah.”

Dia menunduk. Aku yakin dia sudah menurut. Aku lalu mengajaknya ke luar gerbang. Kami berjalan kaki sekitar lima belas menit menuju halte bis. Jinki terlihat takjub melihat keramaian yang kami lewati. Aku rasa dia sudah terlalu lama terkurung di kamarnya.

Saat kami berada di dalam bis, aku bisa semakin jelas melihat ekspresinya. Dari yang semula takut menjadi semakin bergairah.  Perubahan yang cukup signifikan menurutku.

“Kau pasti bertanya-tanya kemana aku hendak mengajakmu.” Bisikku. Dia yang asyik menatap pemandangan lewat jendela bus, menoleh padaku. “Kita akan berkencan, sayang.” Kataku mengecup pipinya.

Keajaiban terjadi, aku melihat semburat merah di wajahnya.

Aku rasa untuk bisa melihatnya tersenyum bisa terwujud dalam beberapa hari lagi. Aku yakin itu.

Kencan pertama kami, terjadi setelah tujuh hari kami bersama. Aku mengajaknya ke taman bermain. Menaiki bianglala, berfoto bersama badut, bermain menangkap ikan mas mini walau dia tak sekalipun tersenyum tapi pancaran matanya menyiratkan kebahagiaan, penuh gairah dan ketakjuban. Kencan kami akhiri dengan menonton film kartun Doraemon yang sedang naik tayang di bioskop. Setiap ada adegan lucu dan aku tertawa, saat itu dia menggenggam tanganku. Aku rasa dia juga ingin tertawa, tapi dia menahannya.

“Jinki-ya, hari ini aku bahagia sekali.” Kataku, menyenderkan kepalaku di bahunya saat kami di dalam bis saat perjalanan pulang. “Ini adalah kencan pertamaku. Kau benar-benar pasangan yang baik.”

Jinki semakin mengeratkan genggaman tangannya.

“Aku sangat bahagia bersama denganmu.” Aku menatapnya. Mendekatkan wajahku padanya. Mencium bibirnya. Kali ini, dia membalasku.

++++++

Dia memang membutuhkan cinta. Bukan hanya dari sang ibu, tapi cinta yang lebih dalam lagi, cinta dari lawan jenis. Itu yang dia butuhkan.

Usaha dan kenekatanku ternyata membuahkan hasil. Kondisi Jinki membaik setelah kami bersama selama 2 minggu ini.

Ini bukanlah disebabkan keajaiban. Tapi karena usahaku yang tanpa tahu malu mendekatinya dan mencurahkan begitu banyak cinta, hanya untuknya.

Dia tersenyum sangat lebar pagi hari ini ketika kami berjalan bersama menuju pantai. dia bahkan berteriak sangat kencang, menyebutkan namaku ketika kami bermain air di pantai.

Lihatlah Nyonya Han Min Kyung. Aku berhasil menyembuhkan putramu, bahkan sebelum batas 100 hari dari perjanjian kita.

Aku hanya memerlukan waktu dua minggu. Walau begitu, selama dua minggu itu sepanjang harinya selalu rasa cinta kucurahkan untuk Lee Jinki. Kadarnya tak berkurang, malah semakin bertambah setiap harinya.

Tapi, bukan tanpa alasan sederhana sehingga Jinki bisa menunjukkan ekspresi bahagia seperti saat ini. Terjadi sesuatu pada kami semalam.

Kami bercinta…

Walau tentu saja, aku yang lebih aktif dan agresif ketimbang dirinya.

Tapi lihatlah perubahannya. Dia begitu bahagia. Tak sungkan menunjukkan ekspresi.

Aku menatap Nyonya Han Min Kyung yang mengmati kami dari teras kamarnya yang memang menghadap pantai.

“Kau tahu nyonya, putramu sudah menjadi milikku sepenuhnya…” lirihku tersenyum padanya.

Aku lalu menyusul Jinki yang begitu antusias bermain dengan ombak. Memeluk priaku itu, Jinki yang tampaknya tertular keagresifanku, tanpa sungkan menciumku. Kami berciuman liar mengabaikan tatapan terkejut orang-orang yang melihat kami.

Lihatlah, kami sudah tak bisa terpisahkan lagi!

+++++

“Pergi dari tempat ini! Aku akan memberi uang sebanyak yang kau mau. Tapi tinggalkan tempat ini!”

Kalimat yang Nyonya Han Min Kyung ucapkan ketika aku masuk ke ruangan kerjanya. Tanpa basa-basi, aku bahkan belum sempat duduk, dia sudah mengatakan hal itu.

“Yang benar saja?” sahutku. Tertawa mengejek. “Perjanjiannya bahkan baru berjalan 45 hari. aku sudah melakukan hal yang ku janjikan. Membuat putramu kembali normal. Tapi kau malah mengusirku?! Tak bisa dipercaya.”

“Persetan tentang perjanjian kita! Kau sudah merusak putraku!” pekiknya.

“Aku justru membuatnya menjadi pria normal.” Aku menekankan pada kata terakhir.

“Jinki sudah menjadi pria normal sebelum bersamamu!”

“Jangan bercanda…” kekehku. “… dia justru sangat menderita sebelum bersamaku. Itu karena kau mengekangnya. Membuatnya tak bisa melupakan kepahitan akan kecelakaan tiga tahun lalu. Dia sudah mulai membuka diri sekarang. Harusnya nyonya berterima kasih padaku karena akulah yang membuat perasaannya lebih baik sekarang!”

“Memang apa yang sudah kau lakukan?” dia menatapku hina. “Kau hanya memberikan tubuhmu sebagai pemuas nafsu yang kau puja sebagai cinta. Benar-benar rendah!”

Aku tak bisa berkata. Dia benar-benar merendahkan ku.

“Aku akan memberimu uang. Itu sebagai wujud terima kasihku karena kau menepati janji. Tapi kau harus pergi. Aku tak bisa membiarkan kau berada disisi putraku.” Lanjutnya.

“Sudah ku katakan! Aku tak butuh uangmu!” pekikku.

“Omong kosong.” Nyonya Han mendekatiku. Dia menjambak rambutku, “Kau membuatku ingin muntah. Sok memiliki harga diri, nyatanya kau menjual diri. Turuti ucapanku, maka kau tak akan kehilangan apa-apa!”

Dia lalu mendorong tubuhku. Membuatku tersungkur. “Aku beri waktu hingga besok malam. Kau harus pergi diam-diam dan jangan membawa putraku bersamamu! Sekarang keluar dari ruanganku!”

++++++

–To Be Continued–

INFINITELY LOVES

Part 3

Author: Onmithee

Cast: Kim Rumi, Lee Jinki

Leigth : Sequel

Genre: Romance, Life

Rated: PG 15

STORY

 

Jangan harap aku menuruti ucapan nyonya tua itu agar aku mau meninggalkan putranya. Aku memang akan pergi dari tempat ini tanpa dia minta. Tapi aku tak akan pergi sendiri. Jinki akan ikut bersamaku.

Jika Nyonya Han Min Kyung bisa melanggar janjinya. Maka untuk apa aku menuruti semua ucapannya?

“Jinki-ya.”

Dia yang sedang membaca buku mengalihkan matanya dari buku itu, dia menatapku dengan pandangan polos.

“Aku hamil…”

Dia menaruh buku, bangkit dari sofa yang di dudukinya. Meraih kedua tanganku. Menatapku tak percaya.

“Katakan lagi…” titahnya.

“Aku mengandung. Anak kita.” Aku memegang perutku.

Tiba-tiba air mata mengalir deras dari matanya, tapi dia tertawa. Kedua tangannya memegangi wajahku.

“Anak kita?” ucapnya. Aku mengangguk. dia memelukku, “Terima kasih, Rumi-ya…”

“Kita akan membesarkannya bersama-sama ‘kan?” aku membelai punggungnya.

“Tentu saja.”

“Tapi tidak di tempat ini…” lanjutku lagi.

Jinki seketika melepaskan pelukannya. Dia menatapku bingung, “Kenapa?”

“Karena ibumu tak menginginkan anak ini.” Kataku berbohong. Aku bahkan belum memberitahu Nyonya Han tentang kehamilanku yang baru berjalan dua minggu karena dia mengusirku terlebih dahulu. “Ibumu mengusirku.”

“Itu tak boleh terjadi! Aku akan bicara dengannya!” dia hendak keluar dari kamarnya tapi aku mencegah.

“Jangan lakukan itu!” seruku. “Dia akan makin membenciku dan mengusahakan berbagai cara untuk memisahkan kita.”

Jinki mengurungkan niatnya keluar dari kamar setelah mendengar ucapanku itu. Dia menatapku, matanya begitu sedih.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanyanya lemah.

“Kita pergi bersama. Kita tinggalkan tempat ini bersama-sama. Hanya itu cara agar kita tak berpisah.” Usulku menggenggam tangannya.

+++++

Aku dan Jinki sekarang sedang berada di dalam taksi dalam perjalanan menuju pelabuhan. Kami akan meninggalkan pulau ini. Kami pergi saat tengah malam ditengah derasnya hujan tanpa seorang di resort pun tahu. Hanya membawa uang dan pakaian secukupnya. Hidup kami akan dimulai sesungguhnya mulai saat ini.

Aku menggenggam tangan Jinki yang terasa dingin. Dia terlihat gugup dan sedih.

“Kau takut?” tanyaku.

Dia menggeleng. Mencoba tersenyum.

“Apa kau sedih karena akan berpisah dengan ibumu?”

Jinki terlihat ragu ingin menjawab. “Ya.” Sahutnya, “Tapi akan lebih menyedihkan jika aku berpisah denganmu.”

Aku mengecup bibirnya. Rasa ragu yang sempat hadir dibenakku akan tekadnya, kini hilang menjadi keyakinan.

Aku melihatnya tersenyum lebar sementara tangannya mengelus perutku.

“Ini akan menjadi awal bahagia bagi kita. Kita akan me…”

Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya. Bunyi gemuruh dan hentakan keras membuat mobil terhenti bersamaan dengan jatuhnya sesuatu yang besar di atas atap taksi yang kami tumpangi. Tak berhenti disitu, ada tenaga besar yang menubruk mobil kami yang sudah tak bisa bergerak dari arah belakang.

Yang aku ingat setelah itu, teriakan Jinki yang memanggil-manggil namaku. Aku masih bisa melihat wajahnya yang menangis sementara darah segar mengalir dari keningnya.

Dia yang mengeluarkanku dari mobil. Sementara supir taksi yang kami tumpangi, aku tak tahu bagaimana nasibnya.

Di tengah hujan deras Jinki menggendongku yang tak memiliki tenaga sama sekali. Dia membawaku ke sebuah klinik yang tak jauh dari lokasi kecelakaan kami.

Aku masih bisa merasakan genggaman tangannya ketika dokter klinik itu mencoba memberi pertolongan padaku.

Tapi setelah itu, aku tak sadarkan diri. Tak merasakan apapun.

+++++

Itu semua, kejadian yang aku alami tiga tahun silam. Ketika aku menjalani hidup di salah satu pulau tercantik di dunia, Cheju Island.

Pulau dimana aku bertemu dengan cinta pertama sekaligus cinta sejatiku.

Pulau dimana aku bertemu dengan kebahagiaan dan kesedihan.

Aku merasakan 45 hari penuh kebahagiaan yang kemudian berganti menjadi hari-hari penuh air mata di hari berikutnya selama tiga tahun ini.

Aku mengerti perasaan Jinki ketika dia kehilangan orang-orang yang dia cintai hingga membuatnya membisu selama tiga tahun sampai akhirnya kami bertemu dan saling jatuh cinta.

Aku merasakan hal yang dia rasakan setelah aku kehilangan dirinya dan janinku pada kecelakaan itu.

Tapi Jinki tidak mati. Yang mati hanya janinku. Namun, hal yang lebih buruk dari semua itu adalah Jinki melupakanku.

Dia melupakanku dan cinta kami.

Dia berubah, dia menjadi dirinya sebelum tragedi speed boat yang membuatnya membisu selama tiga tahun.

Dia menjadi orang yang sama sekali tak kukenal. Terlebih, dia menjadi orang yang tak membutuhkanku untuk bisa tersenyum.

Dia memang tak membutuhkan ku lagi.

Kim Rumi sudah tak menjadi arti apapun bagi hidupnya.

+++++

Aku mengecek rekeningku. Uangku bertambah tanpa perlu susah payah bekerja. Nyonya Han Min Kyung dengan senang hati selalu mengisi rekeningku dengan uang sebesar satu juta won setiap bulannya.

Tentunya tidak tanpa syarat. Dia memintaku tak muncul di depan wajah putranya.

Permintaan yang bodoh, karena walau aku tak menuruti dan menampakkan batang hidungku di depan wajah Jinki, dia sama sekali tak mengenaliku.

Aku adalah orang asing baginya kini.

Tapi tak masalah bagiku, asalkan aku bisa melihatnya tersenyum. Walau harus bersembunyi, aku tak keberatan.

Dia menjalani hidupnya dengan baik setelah kecelakaan yang menimpa kami. Aku rasa selain dia melupakanku, dia juga melupakan kesedihan akan kecelakan kapal speed boat yang dia alami sebelumnya.

Jinki melanjutkan kuliahnya yang tertunda di Seoul. Aku mendengar dia sempat berkencan dengan beberapa teman wanita di kampusnya. Dia bahkan pernah membawa seorang pacarnya saat liburan musim panas ke pulau ini.

Hatiku terasa sakit melihatnya bersama wanita itu. Melihatnya tertawa, memperlakukan gadisnya dengan penuh kasih sayang. Oh, tak bolehkan aku merasa iri?

Aku hanya bisa memendam perasaanku. Melarikannya pada minuman keras yang merusak tubuhku.

Oh, Lee Jinki kenapa begitu teganya engkau melupakanku? Aku bahkan tak berani mengusikmu karena takut luka yang sudah sembuh di hatimu, akan terbuka lagi dan menjadikanmu pria yang lemah. Aku tak mau itu.

Tapi kenapa kau tega melupakanku? Kenapa cinta kita termasuk perasaan yang kau lupakan?

Kau kejam padaku…

+++++

Aku menyusulnya. Aku sudah tak kuat menjalani hidup dengan menahan perasaanku ini. Aku akan nekat menyusulnya ke Seoul walau aku tak pernah menginjakkan kaki disana.

Karena sangat mungkin, aku tak akan bisa menyentuhnya seumur hidup jika berdiam diri saja di pulau ini.

Jinki harus tahu, aku adalah bagian dari hidupnya. Aku bukanlah kenangan yang dapat dilupakan begitu saja olehnya.

Aku adalah kekasihnya. Satu-satunya wanita yang menerima dia apa-adanya. Dia tak boleh mencampakkanku!

+++++

Satu bulan aku tinggal di Seoul. Sekalipun aku tak pernah melihat Jinki walau aku bekerja di rumah makan di depan kampusnya.

Dimana dia? Bagaimana aku mencari informasi tempat tinggalnya? Aku hanya tahu tempat dia bersekolah. Tak ada informasi lain.

+++++

Satu tahun berlalu. Sia-sia aku meninggalkan Cheju. Tak ada hal pasti di Seoul. Kota ini terlalu luas untuk ditelusuri. Aku tak bisa menemukan Jinki. Menyesal rasanya meninggalkan pulau, paling tidak jika aku tetap disana, disaat musim panas aku bisa melihat Jinki walau tak bisa menyapa.

Aku memang bodoh. Tak pernah berpikir panjang melakukan sesuatu.

Uang satu juta won yang selalu Nyonya Han berikan juga berhenti dikirimkan sejak enam bulan lalu. Aku tak tahu apa yang terjadi. Mungkinkah karena dia tahu kalau aku hendak muncul di kehidupan putranya lagi?

Sekarang aku hanya menutupi biaya kebutuhan hidupku dengan bekerja sebagai pramusaji di sebuah rumah makan kecil. Aku sudah tak bekerja di rumah makan di depan kampus Jinki karena disana aku dibayar sangat murah, hanya tiga ratus ribu. Sementara di tempat kerjaku sekarang aku dibayar lima ratus ribu. Itupun tak mencukupi untuk biaya hidup yang besar disamping biaya untuk mencari Jinki. Tabunganku tak tersisa. Aku tak memiliki uang untuk kembali ke Cheju.

Ketika petang tiba, setiap harinya setelah pulang bekerja, aku menyempatkan diri untuk merenung di tepian sungai Han. Air sungai membawa ketenangan pada batinku. Disana aku berpikir dan mencoba mengumpulkan semangat agar tak menyerah setiap harinya. Mungkin perasaan itulah yang dicari Jinki ketika dia memandangi laut dulu.

+++++

Setelah satu tahun tiga bulan berada di Seoul untuk mencari Jinki, akhirnya hari yang kunantikan  tiba. Disaat aku sudah akan menyerah, aku melihatnya. Aku melihat Lee Jinki.

Aku melihat dia yang baru saja keluar dari sebuah mobil memasuki gedung apartemen mewah yang biasanya selalu aku lewati ketika hendak menuju tempat kerja.

Aku memutuskan untuk menunggu di depan gedung apartemennya hingga Jinki keluar lagi. Tak masalah tak bekerja hari ini. Karena inilah tujuanku ketika memutuskan pergi ke Seoul. Aku harus bertemu dengan Jinki dan membuatnya teringat lagi padaku.

Pada pukul sepuluh, setelah tiga jam menunggu, aku melihat Jinki yang mengenakan stelan jas keluar dari gedung apartemen. Berbeda sekali penampilannya seperti pagi tadi yang sporty karena tampaknya dia akan pergi bekerja sekarang. Dia langsung berjalan menuju tempat dia memarkirkan mobilnya tadi pagi. Akupun segera menyusulnya.

“Lee Jinki.” Pekikku ketika tak berhasil menyusul langkahnya yang lebar.

Dia menghentikan langkah. Berbalik menghadapku.

–To Be Continued–

INFINITELY LOVES

Part 4

Author: Onmithee

Cast: Kim Rumi, Lee Jinki, Kim Myungsoo

Leigth : Sequel

Genre: Romance, Life

Rated: PG 15

STORY

“Lee Jinki.” Pekikku ketika tak berhasil menyusul langkahnya yang lebar.

Dia menghentikan langkah. Berbalik menghadapku.

“Ahjumma, kau memanggilku?” dia mengarahkan telunjuk kanannya pada wajahnya.

“Ya.” Sahutku. Sial dia memanggilku dengan sebutan ‘ahjumma’, apa aku terlihat begitu tua di matanya? Bertahun-tahun berlalu, aku menunggunya dan dia masih belum bisa mengingatku.

“Ada perlu apa?”

“Apa kau tak mengenaliku?” aku sadari, aku menangis. Kecewa dengan sikap dinginnya yang menganggapku orang asing.

Dia menghela nafas, memperhatikanku dari kepala hingga kaki. Menggeleng dan berbalik memunggungiku. Dia mengacuhkanku. Tanpa menjawab pertanyaanku, dia hendak meninggalkanku begitu saja. Dia sudah akan membuka pintu mobilnya, tapi buru-buru kucegah.

“Ini aku, Jinki-ya. Rumi! Aku Kim Rumi. Cobalah untuk memandangku. Kau pasti akan mengingatku…”

“Maaf, aku sedang terburu-buru.”

“Jinki-ya…” rengekku. Dia menatapku. Terlihat kesal. “Kenapa menatapku seperti itu? Aku Rumi, mengapa sulit untukmu mengingatku??? Bertahun-tahun aku menderita karena ulahmu ini. Bukankah kita saling mencintai?? Tapi kenapa kau tega melupakanku? Kenapa kau biarkan aku sendirian mencarimu? Aku Rumi. Kumohon ingatlah padaku!”

Saat aku menyelesaikan ucapanku, saat itu juga aku melihat Jinki memegangi kepalanya. Tubuhnya terhuyung, hampir terjatuh kalau saja tak ditahan oleh seorang pria.

“Hyung, gwenchanayo?” seru pria itu.

Jinki tak menjawab. Dia pingsan.

++++++

Aku menunggu di loby rumah sakit, sementara Jinki sedang mendapatkan perawatan di Instalasi Rawat Darurat. Aku menggigiti kuku jempol tangan kananku menahan rasa gugup. Ini salahku. Tak seharusnya aku mencecarnya di hari pertama kali kami bertemu lagi setelah sekian lama.

Jinki pingsan. Ini salahku. Dia terlihat menahan rasa sakit di kepalanya saat aku memaksanya untuk mengingatku. Seharusnya aku tak melakukan itu. Bagaimana jika ada hal yang buruk terjadi padanya?

“Agasshi…”

Aku dikejutkan oleh sapaan pria yang menolong Jinki tadi. Aku tak sadar pria itu berdiri dihadapanku. Menatapku dengan pandangan tajam menusuk. Seakan dia marah padaku.

“… dia baik-baik saja…” lanjut pria itu.

“Benarkah?” seketika rasa takutku akan tatapan mata pria itu sirna. Refleks, aku mencengkram kedua lengannya. “Dimana dia sekarang? Bolehkah aku menemuinya?” tanyaku.

“Sebelumnya, kau harus memberitahuku, siapa dirimu?!” titahnya.

++++++

Aku menceritakan segalanya pada pria itu. Menceritakan kisah cintaku dengan Jinki. Menceritakan segala hal yang kulakukan selama 4 tahun ini untuk dapat bertemu dengannya. Dia mendengarkan ceritaku dengan seksama. Tak pernah menyela. Seumur hidupku, baru kali ini ada orang yang mau mendengarkan apa yang kukatakan.

“Tapi, aku tak yakin, hyung mau menerimamu.” Ujarnya setelah ceritaku berakhir.

“Kenapa?” seruku.

“Karena, seindah apapun kenangan yang pernah kalian rasakan bersama. Sekarang sama sekali tak ada arti untuknya. Aku rasa dia sedang mencoba menutup kenangan yang pernah dia alami. Jadi hargai dia. Kalau kau sungguh-sungguh mencintainya. Lupakan dia, biarkan dia menjalani hidupnya yang sekarang.” Saran pria itu padaku.

Aku kesal. Aku tak menyangka dia akan berkata sekejam itu padaku. Dia sudah mendengar ceritaku, perjuanganku hingga berhasil bertemu Jinki lagi hari ini. Dan dia berkata dengan santainya, menyuruhku melepaskan Jinki! Ah, yang benar saja?!

Aku bangkit dari kursiku. Kami masih berada di lobby Rumah sakit. Aku ingin pergi menemui Jinki di IGD. Tapi, pria itu mencegahku. Dia menarik tangan kananku. Menyeretku menuju pintu keluar Rumah sakit. Aku mencoba melepas cengkraman tangannya. Tapi, tenagaku tak cukup.

“Lepaskan aku!” jeritku. Berkali-kali kukatakan itu tapi tak di gubris dan lagi tak ada orang yang berusaha membantuku.

“Apa kau gila?! Berteriak di Rumah sakit!” bentak pria itu saat kami sudah di pelataran.

“Kau yang gila! Lepaskan tanganku! Aku ingin bertemu Jinki!”

“Kau bodoh atau apa!” suara pria itu tak kalah keras dengan suaraku. “Apa kau tidak lihat apa yang sudah kau lakukan? Kau menyebabkan Jinki-hyung pingsan!” Pria itu melepaskan tanganku. Dia berkecak pinggang. Menghela nafas. “Kembalilah ke Cheju dan jalani hidupmu dengan baik. Jangan memaksakan diri. Jika kalian memang berjodoh, kalian pasti akan bersama lagi.”

Aku menatapnya, kata-katanya benar-benar membuatku putus asa. Tapi aku belum ingin menyerah. Aku tak ingin mempertaruhkan nasib percintaanku.

Dia kemudian meraih lengan kananku yang tadi dicengkramnya.

“A-aku tak menyangka membuat tanganmu memar seperti ini. Maafkan aku…”

Aku diam saja. Aku bahkan tak merasakan sakit pada lenganku.

“Kau tinggal dimana? Aku akan mengantarmu.”

+++++++

“Namaku Kim Myungsoo,” pria itu baru memperkenalkan dirinya saat kami sampai di depan pintu rumahku. Aku tinggal di basement sebuah Hanok. Tempat yang kusebut rumah itu hanyalah kamar berukuran 3×3 meter. Tak ada kamar mandi dan toilet di dalam rumahku. Tempat tidurpun bergabung dengan dapur yang jarang ku gunakan. Jika ingin buang air, aku menggunakan toilet rumah utama. Dan jika ingin mandi, aku harus pergi ke pemandian umum. “Apa kau tinggal sendirian di tempat ini?” Tanya pria itu.

“Ne,” jawabku pendek. Aku berdiri memunggunginya, menghadap pintu kayu yang masih tertutup.

“Aku akan mengabarimu kalau keadaan hyung baikkan.”

Aku segera berbalik. Berhadapan dengannya, “Sungguh?!” seruku.

“Tapi kau harus janji! Jangan muncul dihadapannya.”

“Ke-kenapa harus seperti itu??” aku menunduk. Perasaan ini sedih sekali.

“Agar Hyung tak pingsan lagi.”

Aku mencibir ucapan pria bernama Kim Myungsoo ini. “Cih, siapa kau hingga begitu perhatian padanya. Aku tak mengenalmu padahal aku tahu semua anggota keluarga Lee.”

“Aku memang bukan keluarganya. Tapi aku adalah sahabatnya. Kami sudah saling kenal sejak 15 tahun lalu. Kakak perempuanku dan Jinki-hyung berteman sejak mereka duduk di tingkat pertama SMP. Dan kakak perempuanku adalah salah satu korban tewas pada kecelakaan speed boat yang dialami Jinki-hyung 7 tahun lalu.”

Aku memperhatikan mata pria dihadapanku ini. Di balik sorot tajam pandangannya, ada kesedihan disana. Tapi dia menceritakan kisah itu dengan senyuman tipis di wajahnya.

“Luka yang Jinki-hyung rasakan. Akupun merasakannya. Kehilangan seseorang yang sangat berarti itu bagaikan kehilangan salah satu organ tubuh. Sampai sekarang aku tak bisa melupakan saat-saat ketika kakakku pergi. Jadi, bukankah lebih baik jika Jinki-hyung melupakan kejadian tragis yang menghilangkan nyawa orang-orang terdekatnya?”

“Termasuk melupakanku?” tanyaku lirih.

“Ya. Kau benar, termasuk melupakan dirimu.”

+++++++

Tiga hari berlalu, setiap harinya selama tiga hari ini, ketika aku membuka pintu rumah di pagi hari, aku menemukan Kim Myungsoo berdiri tepat di depan pintu rumahku. Dia datang hanya untuk mengabariku tentang keadaan Jinki yang sekarang sudah baikan dan menjalani kegiatan dengan normal. Kim Myungsoo pula yang memberitahuku kalau Jinki sudah menyelesaikan kuliahnya sejak setahun lalu. Pantas saja aku tak pernah melihatnya walau sudah mengelilingi kampus tempat dia berkuliah dulu. Sekarang Jinki bekerja di sebuah perusahaan kontruksi, sebagai desainer. Tak memiliki minat meneruskan usaha milik ibunya.

“Aku sudah menepati ucapanku. Mengabarkan keadaan hyung padamu. Jadi, kapan kau akan kembali ke Cheju?” Tanyanya.

“Tak akan!” sahutku ketus. “Aku akan tetap disini. Mencari cara agar bisa bertemu Jinki.”

“Keras kepala,” kekeh Myungsoo.

“Kenapa kau tak membantuku? Bukankah kau bilang kalau kau adalah sahabatnya? Aku adalah orang yang bisa membuat Jinki bahagia. Jadi kumohon, kau bisa menceritakan kenangan saat aku dan Jinki bersama yang sudah aku kisahkan padamu. Kumohon, bantu aku…”

Dia menggeleng, “Apa kau tak berpikir, kalau usahamu ini sia-sia? Kau hanya akan terluka oleh penolakannya. Lebih baik lupakan dia dan mulailah hidup baru.”

Aku menggeram kesal. Ku kepalkan kedua tanganku menahan emosi. Dia melihat usaha kerasku menahan keinginan menamparnya. Dia meraih tangan kananku yang terkepal. Dia tertawa. Berusaha melemahkan jari-jari tanganku agar kepalan tanganku terbuka. Dia berhasil. Aku sendiri tak mengerti mengapa, saat dia melakukan itu, hawa amarah di hati perlahan memudar.

“Apa imbalan kalau aku membantumu?” dia masih memainkan jemariku. Aku tak mengerti kenapa membiarkan dia melakukan itu.

“Aku tak punya uang.” Aku berusaha menarik tangan kananku yang masih berada di genggamannya.

“Aku tak butuh uang. Asal kau tahu, aku lebih kaya dari Jinki-hyung.”

Pria ini, sangat sombong rupanya.

“Lalu, kau mau apa?” aku memalingkan wajahku. Aku baru sadar, kalau dia sangat tampan. Tapi, bukan berarti aku tertarik padanya. Hanya saja sorot matanya itu seakan ingin mengusai perasaanku. Tatapannya sangat tajam dan seakan menunjukkan sisi tegas dalam sifatnya.

Dia melepaskan tanganku. Dia menunduk. Terlihat cukup ragu berkata-kata.

“Aku akan membantumu jika kau bersedia memeriksakan diri untuk menjalani proses pencangkokkan sumsum tulang belakang…” dia terdiam cukup lama. “… aku menderita Leukimia. Punya banyak uangpun tak ada artinya kalau tak punya harapan hidup. Keluarga kandungku sudah tiada, tak ada donor yang cocok. Tapi saat melihatmu, tiba-tiba aku merasa, harapanku masih ada. Kau sangat mirip dengan kakak perempuanku. Matamu, sifat keras kepala yang kau miliki. Kalau kau bisa berharap agar Jinki-hyung mengingatmu lagi, maka tak bolehkah aku berharap agar kau menjadi donor yang cocok untukku?”

++++++

Aku melakukannya. Yah, aku menyetujui permintaan Myungsoo untuk menjadi donor baginya. Esoknya aku melakukan pemeriksaan. Aku tak yakin apakah aku donor yang tepat untuknya. Tapi aku berusaha membantu karena dia bilang dia akan membantuku untuk bisa mendekati Jinki. Bagiku, walaupun harus memberikan ginjal atau separuh hatiku untuk di donorkan padanya, itu bukanlah masalah. Apapun akan aku lakukan untuk bisa bersama Jinki lagi!

“Hasil pemeriksaannya akan keluar beberapa hari lagi…”seru Myungsoo saat kami hendak meninggalkan rumah sakit. Aku merasakan ada nada gembira dari suaranya. “… aku harap seperti dugaanku, kau adalah donor yang tepat.”

“Percaya diri sekali.” Gerutuku. “Bagaimana kalau bukan?”

Dia menghentikan langkahku dengan mencengkram lengan kananku. “Aku yakin dugaanku tepat. Ayolah, Kim Rumi jangan buat aku patah semangat. Apa kau tidak mengasihaniku?”

“Kau sendiri tak mengasihaniku!” balasku.

Aku menghentakkan tangan kananku agar dia melepaskan cengkramannya. Berjalan cepat meninggalkannya. Tapi dia berhasil menyusul saat aku menuju pelataran Rumah sakit. “Hei, aku akan mengantarkanmu pulang.” Serunya.

“Tak perlu.” Aku menubrukkan bahuku pada tubuhnya karena dia mencoba menghalang-halangi jalanku. Setelah berjalan cukup jauh, aku menoleh. Melihat dia yang masih berdiri di tempat aku menubruknya. Dia terlihat kesakitan memegangi dadanya. “Kau tak apa-apa kan?” tanyaku kembali mendekatinya.

Wajahnya meringis, menahan sakit walau berusaha tertawa.

“Kau kasar sekali!” ucapnya. Dia lalu mencoba meraih tanganku lagi. “Bisa antar aku pulang ke apartementku? Sepertinya aku tak bisa mengemudi gara-gara ulahmu ini!”

“Yaa!” hentakku. “Kalau kau kesakitan, bukankah lebih baik kau dirawat di Rumah sakit?!”

Dia menggeleng. Masih tersenyum, “Kumohon, Rumi-sshi. Antar aku ke rumahku.”

+++++++

Rupanya Myungsoo tinggal di gedung apartemen yang sama dengan Jinki. Tapi kata Myungsoo mereka tinggal di lantai yang berbeda. Dia tak memberitahuku, dimana tepatnya lantai tempat Jinki tinggal. Rumah Myungsoo sendiri merupakan sebuah kondomunium yang terletak paling atas di gedung yang memiliki 20 lantai ini.

“Kau tinggal sendirian di tempat seluas ini?” seruku saat memasuki rumah yang semua dindingnya di cat putih, terkesan minimalis walau aku sangat yakin perabotan yang ada berharga sangat mahal. Tapi semua yang ada di rumah ini terkesan kaku, dingin dan sunyi.

“Tentu saja.” Sahutnya. Dia seakan bangga. “Kenapa? Apa kau iri? Aku tak keberatan kalau kau mau menemaniku disini.”

Aku mengutuk pria ini dalam hati. Dia sombong sekali. Aku memalingkan wajah setiap kali dia tersenyum.

“Kalau kau tinggal disini, kau akan bisa lebih dekat dengan Jinki-hyung.” Lanjutnya.

Dia berhasil membuatku beradu pandang dengannya. Saat mata kami bertemu, aku merasa tatapannya begitu ingin masuk, menerobos, mencari sebuah ruang sempit untuk tempat dirinya di hatiku.

“Kenapa diam saja? Bukankah yang paling kau inginkan di dunia ini adalah agar bisa dekat dengan Jinki-hyung ‘kan?”

Aku mengerjapkan mataku. Tersadar seakan aku di hipnotis oleh tatapannya. Aku mengangguk pelan.

“Kalau begitu tinggalah di rumah ini. Tempat ini jauh lebih baik daripada tempat tinggalmu.”

Kata-katanya terdengar merendahkan, tapi yang dikatakannya benar.

“Benarkah? Sungguhan aku boleh tinggal di rumah ini?” aku masih ragu.

“Ya.”

“Tapi, ini tak gratis kan? Aku ingin tahu syarat apa yang akan kau pinta!” seruku.

Dia terkekeh. Menutup mulutnya dengan lengan kiri, tertawa cukup lama. Membiarkanku kesal menunggu, hingga akhirnya dia menepuk bahuku dengan kedua tangannya.

“Syaratnya mudah…” dia mencengkram pundakku agar aku berdiri lebih tegap. Matanya mencoba menelusuri bola mataku. “… cukup biarkan aku menikmati keindahan matamu. Matamu yang begitu mirip dengan mata kakakku. Biarkan aku menatapmu. Jangan menunduk atau merasa malu padaku.”

++++++++

-to be continued-

INFINITELY LOVES

Part 5

Author: Onmithee

Cast: Kim Rumi, Lee Jinki, Kim Myungsoo

Leigth : Sequel

Genre: Romance, Life

Rated: PG 15

STORY

Hasil pemeriksaan keluar seminggu kemudian. Myungsoo benar, aku donor yang cocok untuknya. Dia sangat gembira sekali. Sementara aku, yah aku akui, ada rasa gugup dan cemas menggelayuti hati ini. Bisa dikatakan, aku sebenarnya cukup takut dengan yang namanya ‘operasi’. Menjalani pemeriksaan sebagai pendonor saja rasanya sudah sakit dan cukup mengerikan. Prosedur operasi yang aku dengar dari penjelasan dokter tadi juga hampir sama dengan saat proses pencocokan dilakukan.

“Persiapkan dirimu, Rumi!” kata Myungsoo menepuk pundakku. Kami berjalan beriringan keluar dari ruang dokter yang menangani Myungsoo. “Tiga minggu lagi, operasinya akan dilaksanakan. Mulai minggu depan, aku sudah harus dirawat inap di tempat ini. Kau harus menjengukku setiap hari!”

Aku menatap wajah Myungsoo yang berseri-seri. Pria ini sangat optimistis rupanya. Tapi dia lupa dengan satu hal.

“Aku ingin bertemu Jinki sebelum operasi dilakukan!” seruku.

“Memangnya aku melarangmu menemuinya?” kekeh Myungsoo.

“Sama saja kan? Dengan tidak membiarkan aku tahu tepatnya di lantai berapa Jinki tinggal? Kau melanggar janjimu, Kim Myungsoo! Kau bilang asalkan aku memeriksakan diri, kau sudah akan membantuku!”

Senyum Myungsoo yang sedari tadi menghiasi wajahnya sirna. Dia terlihat berpikir dengan mengerutkan kening. Aku tak mengerti, kenapa dia harus berpikir rumit padahal aku hanya ingin bertemu Jinki.

“Baiklah, tapi sebelumnya aku minta kau berjanji!” dia mengacungkan jari kelingking tangan kanannya. “berjanjilah padaku. Jangan bicara apapun. Cukup menyetujui semua yang ku katakan padanya. Hanya itu!”

Aku menyambut jari kelingkingnya dengan kelingking kananku. “Aku janji!” kataku.

++++++

Myungsoo berbohong selama ini padaku, dia bilang apartement Jinki berada di lantai berbeda dengannya. Tapi, rupanya, apartement Jinki terletak di lantai yang sama dengan apartemen Myungsoo. Bedanya, jika Myungsoo berada di bagian barat, sedangkan Jinki berada di utara. Dia benar-benar membuatku kesal. Aku tak tahu muslihat apa yang akan dia lakukan nanti. Terlebih dia menyuruhku untuk tak bicara apapun saat bertemu Jinki. Berbagai macam pikiran bergejolak di kepalaku. Ditambah jantungku berdegup kencang saat kami sampai di depan pintu apartemen Jinki.

Myungsoo menertawakanku dan mengataiku ‘bodoh’ berkali-kali saat melihatku yang sibuk menggigiti kuku jempol tangan kananku. Dia tahu aku gugup dan dia juga tampaknya tahu kalau aku sangat kesal padanya saat ini.

Dia benar-benar pria yang menyebalkan!

Tak butuh waktu lama setelah Myungsoo melakukan panggilan lewat interphone. Jinki langsung membukakan pintu. Dia terlihat ceria ketika menyambut Myungsoo. Tetapi dahinya berkerut saat melihatku.

Jangan bilang dia tak mengenaliku lagi?!

++++++

Oh Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi pada Jinki? Dia benar-benar tak ingat lagi padaku. Dia bahkan lupa dengan kejadian minggu lalu. Saat dia pingsan karena ulahku!

Aku duduk di sofa panjang bewarna marun yang terletak di ruang tamu apartemen Jinki seorang diri sementara Myungsoo dan pemilik rumah sedang berada di dapur. Berbeda dengan apartemen Myungsoo yang di dominasi warna putih. Dinding apartement Jinki dihiasi oleh warna-warna pastel. Perabotannya tak banyak. Apa karena dia hanya tinggal sendirian? Lalu untuk apa tinggal di rumah yang cukup luas seperti yang dilakukannya sekarang? Itu hanya akan membuatnya merasa kesepian.

Aku bisa mendengar gelak tawa Jinki dan Myungsoo yang saat ini sedang mengobrol di dapur. Aku tak pernah mendengar Jinki tertawa seperti saat ini. Apa dia sungguhan merasa bahagia dengan hidupnya yang sekarang? Kehidupan dengan tiadanya diriku di ingatannya?

Aku segera bangkit dari dudukku saat melihat Jinki dan Myungsoo kembali ke ruang tamu. Jinki membawa nampan berisi teh dan makanan ringan. Senyumnya sangat lebar. Begitu juga dengan Myungsoo.

“Dia benar-benar noona yang cantik. Bagaimana kalian bisa bertemu? Ceritakan padaku!” Jinki menarik tanganku setelah meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja. Dia mengajakku untuk duduk kembali ke sofa. Dia duduk di sampingku sementara Myungsoo duduk di kursi kayu di hadapan kami. Senyum Jinki yang lebar. Yang diberikannya padaku adalah senyum yang sama sekali tak pernah kulihat dahulu.

Belum sempat aku menjawab pertanyaan Jinki karena aku masih terpaku dengan senyum manisnya. Myungsoo sudah menjawab duluan, “Tiga bulan yang lalu. Kami bertemu di Yeouido Park, saat aku sedang bersepeda sore…”

“Myungsoo..” seruku. Menyadari Myungsoo berbohong.

“Dua bulan yang lalu kami mulai berkencan…” Myungsoo tak peduli dengan  protesku.

“I-itu tidak…” aku mencoba meralat. Tapi Jinki terlihat lebih antusias mendengar ucapan Myungsoo.

“… dan kami tinggal bersama sejak seminggu yang lalu.” Myungsoo menatapku penuh kemenangan. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi saat mendengar Jinki bertepuk tangan.

Daebak.” Dia berseru. Jinki kemudian bangkit dari duduknya. Mendekati Myungsoo dan memeluknya. “Aku bahagia. Akhirnya kau menemukan pasangan jiwa yang selalu kau cari. Sekarang, aku tak perlu terlalu mencemaskanmu lagi.”

Aku syok mendengar ucapan Jinki itu. Aku tak terima dengan kebohongan Myungsoo ini. Jadi ini alasan dia menyuruhku tak berbicara?! Aku lalu bangkit dari dudukku. Mencoba meralat. Tapi lagi-lagi belum sempat berbicara, aku mendengar isakan. Yah, itu isakan Myungsoo. Dia menangis.

“Kumohon, hyung maukah kau menjaga Rumi untukku? Jika operasiku tak berjalan lancar, kumohon… jagalah Rumi untukku!”

“Jangan berkata seperti itu! Kau harus optimis. Kau seperti bukan Myungsoo yang ku kenal.” Sahut Jinki. Aku bisa melihat air mata berlinang membasahi pipinya.

Yah, dia memang tidak seperti Myungsoo yang ku kenal selama seminggu ini. Myungsoo yang selalu berpikiran optimis.

++++++

“Kau sudah mengerti rencananya ‘kan?” seru Myungsoo saat kami sudah berada di rumahnya. Dia bersidekap. Menatapku dengan senyum licik.

“Sama sekali tidak!” ketusku.

“Hah, kau ini memang bodoh. Padahal aku sudah memikirkan rencana ini sejak dua hari yang lalu.”  Dia merebahkan diri di sofa. Sementara aku terus berdiri menatap tajam padanya. “Baiklah, aku jelaskan rencanaku.” Dia terdiam sesaat. Memperhatikan wajah kusutku, lalu menertawakan.

“Apa yang lucu sih?” pekikku.

“Tentu saja ekspresimu!” dia masih tertawa sambil memegangi perutnya. Dia berusaha menghentikan tawa dengan menarik nafas dalam. “Oke, aku akan mulai menjelaskan. Begini, kau bisa lihat kan, betapa parahnya masalah yang dihadapi Jinki-hyung?”

“Ya.” Anggukku. “Dia sama sekali tak ingat padaku. Bahkan melupakan kejadian seminggu yang lalu.”

“Hal itu dikarenakan alam bawah sadarnya memberikan proteksi berlebihan pada pikirannya. Itu yang kudengar dari psikiater yang merawatnya setahun lalu. Dia melupakan hal-hal yang menyakitkan, yang memberikan perasaan sedih, kalut dan panik. Jadi, percuma saja kalau mengenalkanmu padanya sebagai bagian dari masa lalu yang coba dilupakannya. Aku harus mengenalkannya padamu sebagai pribadi yang baru. Orang baru yang kemudian akan dicintainya…”

Segera saja aku mendekat pada Myungsoo. Duduk berlutut di hadapannya. Memegang erat kedua tangannya. Menatapnya dengan penuh harap.

“Apa kau yakin, dia akan mencintaiku?” seruku.

“Tentu. Aku sangat optimis.”

“Kenapa kau yakin sekali?”

“Kau ingat apa yang kukatakan padanya tadi? Aku memintanya menjagamu jika terjadi hal buruk padaku…”

“Jadi, kau tidak yakin operasimu akan berhasil?” putusku.

“Tentu saja tidak.  Seribu persen aku yakin operasiku akan berhasil. Hanya saja, saat aku sembuh nanti, aku akan melupakanmu. Kau akan menderita saat aku campakkan dan saat itulah Jinki-hyung akan menghiburmu, kemudian melihat kau yang menderita membuatnya ingin melindungimu. Hingga akhirnya, dia tak bisa melepaskanmu. Lalu dia jatuh cinta dan kalian hidup bahagia selamanya.”

Aku tercengang mendengar penjelasan rencananya itu. Aku bahkan tak sadar saat dia membelai rambutku.

Neomu yeoppo…” katanya lirih. Jari jemarinya masih bermain membelai rambut sebahuku. “Andai noona masih hidup, dia mungkin lebih cantik darimu. Rambutnya jauh lebih lembut daripada rambutmu. Senyumnya pun lebih manis. Cara bicaranya lebih lembut…”

Entah kenapa aku tak tersinggung dengan ucapannya. Aku malah merasa kasihan. Dia pasti sangat merindukan kakaknya itu.

“Kau bisa menganggapku sebagai kakakmu. Jangan berbicara banmal lagi padaku, panggil aku dengan sebutan ‘noona’. Aku tak keberatan…”

Dia menyeringai. “Aku tak sudi! Kau itu bukan ‘noona’ ku. Gadis bodoh!”

Aku cemberut. Aku lepaskan genggaman tanganku padanya. Bangkit dari dudukku. Hendak meninggalkannya untuk masuk ke kamarku. Tempat dimana aku bisa dengan bebas berteriak mengumpatnya. Tapi dia mencegahku. Menarik tanganku. Lalu memelukku. Dia merapatkan kepalanya di perutku membuatku sesak berhafas.

“Kumohon Rumi! Biarkan aku seperti ini. Biarkan aku memelukmu sebentar saja…”

++++++++

Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri Myungsoo. Setelah kemarin dia memelukku begitu lama, hingga membuat kakiku pegal karena terlalu lama berdiri, sebelumnya dia juga bersikap baik dengan mempertemukanku dengan Jinki. Serta, dia memberikan sebuah gagasan agar aku dan Jinki bisa bersama lagi. Dia benar-benar seperti malaikat kemarin…

Tapi pagi ini dia tampak berbeda…

Biasanya setiap pagi, saat dia baru bangun, dia selalu mendatangiku yang sedang menyiapkan sarapan untuknya. Berteriak mengucapkan salam pagi tepat di telingaku. Selalu cerewet mengomentari masakanku yang dia sebut masakan terhambar yang pernah dia makan –walaupun dia tetap menghabiskan semua masakan yang kubuat untuknya.

Dia terlihat tak seperti biasanya pagi ini…

Dia tak memberikan salam pagi. Tak mengomentari masakanku.

Hingga ketika dia menyelesaikan sarapannya, hendak berlalu begitu saja dari meja makan. Aku menegurnya.

“Ada apa denganmu? Kenapa diam saja?”

Dia kembali duduk di kursinya. Dia menunduk. Matanya menatap lekat mangkuk nasi kosong yang ada di depannya.

“A-aku hanya merasa sungkan…” dia berkata nyaris tak terdengar telingaku.

Aku menyeringai, “Hanya karena pelukan, kau jadi seperti ini?”

Dia tersenyum, masih menundukkan kepalanya. “Tapi, aku mendengar bunyi degap jantungmu yang begitu keras. Apa kau yakin sama sekali tak ada perasaan yang tumbuh diantara kita?” dia mengangkat kepalanya. Tersenyum lebar padaku. Terlihat sangat puas dengan kata-kata yang aku yakin sudah dia persiapkan sedari tadi.

Mataku mengerjap. Rahangku terasa kaku sehingga tak bisa membuat bibir atas dan bibir bawahku menutup. Seharusnya aku tak perlu kaget setiap kali melihat perubahan sikap pria ini. Dia pribadi yang rumit. Tinggal bersamanya selama beberapa hari harusnya bisa membuatku memahaminya walau sedikit.

“Itu hanya degup jantung biasa, menurutku,” jawabku berusaha tak panik.

“Baguslah.” Dia mengangguk. “Aku sempat cemas, khawatir kalau kau tiba-tiba memiliki perasaan special padaku, padahal kau selalu bilang hanya Jinki-hyung yang ada di hatimu. Aku takut membantu gadis yang salah…”

“Kau tak perlu mencemaskan hal itu,” sahutku memotong ucapannya. “aku hanya mencintai Jinki. Dan itu untuk selamanya.”

+++++++

“Selama aku dirawat, kau harus tetap tinggal di rumah ini! Arraseo?!” titah Myungsoo sesaat sebelum dia melangkahkan kaki keluar dari pintu apartemennya untuk mulai menjalani perawatan awal menuju operasi cangkok sumsum tulang belakang yang akan berlangsung tiga minggu lagi.

“Iyaa!” seruku.

“Jaga kesehatanmu,” kata Myungsoo lagi. Dia menepuk puncak kepalaku berkali-kali dengan agak kasar. Benar-benar tak sopan pada orang yang lebih tua darinya. “Kesembuhanku sangat bergantung padamu!”

Aku mencoba menjauh dari jangkauan tangannya. Memasang tampang cemberut. “Yaa, kesembuhanmu itu berasal dari tekadmu! Jangan mengantungkan diri padaku! Itu membebani, kau tahu!”

Dia tertawa. Lalu berbalik memunggungiku. Akupun mengikutinya untuk mengantarnya ke Rumah sakit. Tapi dia menghentikan langkahnya, menoleh dan berseru, “Kau mau kemana?”

“Mengantarmu!”

“Tak perlu.” Dia kembali menepuk kepalaku. “Sudah ada driver yang akan mengantarku. Kau cukup jaga rumah!”

“Rumahmu tak akan lari tanpa kujaga!” bentakku.

“Tapi dia akan lari kalau kau tak mencoba menahannya dari sekarang.” Dia mengendikkan kepalanya. Aku menoleh ke belakang, melihat Jinki yang berjalan terburu-buru ke arah kami.

“Myungsoo-ya, aku baru tahu kalau kau akan… “

Kata-kata Jinki belum selesai diucapkan, Myungsoo sudah memotongnya, “Tolong jaga dia untukku.”  Sambil mendorongku mendekati Jinki.

Aku tak bisa menahan degup jantung ini saat berdiri begitu dekat dengan Jinki. Aku bisa mencium aroma parfumnya dan itu membuatku sesak nafas saking girangnya.

“Aku akan mengantarmu!” seru Jinki. Dia terlihat begitu mencemaskan Myungsoo. Dia sama sekali tak memperdulikanku.

“Tak perlu, hyung. Ini bukan kali pertama aku dirawat. Tak perlu cemas.” Myungsoo lalu melambaikan tangannya padaku. “Rumi-ya, baik-baiklah kau disini. Jaga kesehatanmu.”

Dia lalu membungkuk pada Jinki, “Hyung, aku pamit.” Ucapnya. Lalu berlalu pergi meninggalkan aku dan Jinki di lorong apartemen.

Aku bisa mendengar suara helaan nafas Jinki berkali-kali. Aku menatap wajahnya. Dia terlihat sedih.

“Dia akan baik-baik saja.” Aku mencoba menggapai lengan Jinki. Berharap bisa menenangkan kegelisahan hatinya. Saat aku sudah hampir menyentuhnya, Jinki memandangku. Membuat tanganku berhenti bergerak.

“Kau benar. Seharusnya aku tak bersikap seperti ini. Aku tahu sebenarnya yang paling mencemaskan dirinya adalah kau.”

##### DAN CERITAPUN BUNTU SAMPE SINI.. HEOLLLL.. HEOOLLLLLLLL

MAU LANJUT KE FF GAGAL SELANJUTNYA???

OKEE…

FF GAGAL #4

UNTUK PARK SIHOO OPPA…. DAN AKU GAK NYANGKA INI FF KASUSNYA HAMPIR MIRIP MA SKANDAL DIA… OH NOOOOOOOO

#nangisin belatung

ANEMONE

The Main’s Characters

 Lu Han, Yoon Geum Hee, Baek SiHoo

 

Genre

Romance

 

Rated  

PG 15

 

Leigth

 Sequel

Bahasa bunga “Anemone” yang bermakna cinta yang tidak luntur, ketulusan,  serta  harapan yang pudar.

 

STORY


Pagi di hari terakhir bulan Agustus yang dihiasi awan mendung serta rintik hujan sejak subuh tadi, merupakan pagi yang cukup dingin di tengah musim panas. Setiap orang pastinya ingin melanjutkan tidur mereka di cuaca seperti ini. Menarik selimut menutupi seluruh tubuh, melindungi diri dari hawa dingin dan aktifitas hari. Bersyukur, ini adalah hari minggu. Tidur masih bisa dilanjutkan untuk beberapa saat, paling tidak sampai matahari benar-benar sudah berani menunjukkan diri tanpa awan gelap menutupi.

Di minggu pagi yang biasa saja seperti itu, sesungguhnya menjadi pagi yang luar biasa bagi seorang gadis bernama Yoon Geum Hee.

Ketika dia membuka matanya dikarenakan bunyi bising dari weker yang memekak telinga. Dia menyadari dia tidak tidur di tempat tidurnya.

Menyadari hal itu tentu saja bukanlah hal yang luar biasa. Geum, seperti biasa ia dipanggil, sering menginap di rumah rekan kerja yang sesama wanita dan juga dia sering tidur di kantor jika sedang lembur.

Yang menjadikan pagi ini luar biasa bagi Geum adalah, dia  tidur di sebuah ranjang super empuk dan sangat besar. Yang paling luar biasa lagi, dia tak tidur sendirian. Tubuhnya dipeluk erat oleh seorang pria yang cukup kekar. Geum dan Pria itu dalam keadaan tanpa busana. Hanya ditutupi selimut berwarna hijau beraroma wine.

Pagi ini bukanlah pagi yang luar biasa baik. Tapi sangat luar biasa buruk bagi sejarah hidup Geum.

“Geum-ah, kau sudah bangun?” pria yang bersama Geum itu tersenyum melihat wajah kebingungan Geum. Dia mengecup kening Geum. “Gomawo.” Bisiknya. “Bersihkan dirimu. Aku akan menyiapkan sarapan.” Lanjut pria itu sambil bangkit dari tempat tidur. Mengenakan pakaian seadanya. Mengedipkan mata pada Geum sebelum meninggalkan gadis itu sendirian di kamar.

Ketika pria itu pergi, Geum baru menyadari kegilaan yang dia lakukan semalam. Dia mengutuk dirinya. Menangis. Menyesali hal hina yang dia lakukan semalam bersama pria itu, Baek SiHoo yang merupakan atasannya sendiri. Pria yang berusia lebih tua 7 tahun darinya. Seorang Chabyeol putra pemilik jaringan Bioskop dan pemimpin di bidang industry hiburan dalam negeri.

Otthokae?” bisik Geum terisak-isak. Dia tak tahu siapa yang bisa membantunya saat ini.

++++

Geum ragu melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Tapi itu harus ia lakukan karena ia ingin pulang ke rumahnya segera. Hampir satu jam dia mengurung diri di kamar mandi. Membersihkan diri dengan menggunakan sabun dan air yang banyak sama sekali tak cukup bagi Geum. Dia sangat kotor sekarang. Tak ada lagi hal yang berharga pada dirinya kini. Dia telah memberikan keperawanannya pada Baek SiHoo, pria yang setiap harinya dia sapa dengan sebutan ‘sajangnim’. Pria yang tak pernah memandangnya ketika mereka bertemu atau berbicara. Pria yang angkuh dan dingin kepada bawahannya.

Telapak tangan Geum basah oleh keringat ketika saat ia keluar dari kamar, SiHoo telah menyambutnya di depan pintu. Pria itu tersenyum sangat ramah. Tatapan matanya juga menyejukkan. Ekspresi yang tak pernah Geum lihat selama tiga tahun ia bekerja bersama pria itu.

“Kau lama sekali. Aku ingin memeriksa karena kau tak kunjung keluar. Syukurlah kau baik-baik saja.” SiHoo menepuk puncak kepala Geum. Mengacak-acak rambut Geum yang masih basah. Senyum pria itu tak pudar. Malah semakin lebar.

Dia lalu menggandeng tangan Geum. Mengajak gadis itu mengikutinya menuju dapur. Dia telah membuatkan sarapan yang menurut Sihoo pasti akan membuat Geum kagum padanya. Dan benar saja, Geum cukup takjub melihat sarapan yang tersedia di sebuah meja makan berukuran kecil dan hanya untuk dua orang, sarapan yang terdiri dari nasi goreng dan roti bakar itu dibuat oleh SiHoo, pikiran Geum tentang pria arogan seperti SiHoo pastinya tak bisa memasak tampaknya salah.

“Ayo kita makan.” Ajak SiHoo, dia mempersilahkan Geum untuk duduk di kursi.

Geum tak bisa menolak  ajakan SiHoo. Perutnya memang perlu diisi, walau ada rasa sedikit mual efek mabuk semalam yang menjadi awal bencana bagi hidup Geum. Geum akan menghabiskan sarapannya kemudian langsung pergi dari apartemen milik SiHoo ini.

“Aku ingin kau tahu, Geum. Aku ini pria yang sangat bertanggung jawab.” Kata SiHoo disela menikmati makanannya. “Aku akan bertanggung jawab akan hal yang terjadi semalam. Aku akan menikahimu.”

Geum meletakkan sendok yang dipegangnya. Dia baru memakan nasi goreng sebanyak tiga sendok dan dia merasa sangat mual sekarang. Tapi dia masih bisa menahannya. Dengan terbata dia berkata, “ S-sajangnim, k-kau… bukankah kau sudah memiliki kekasih?”

“Sudah berakhir!” seru SiHoo. “Kau pikir, alasan apa yang membuatku menegak begitu banyak minuman keras semalam? Gadis itu lebih memilih karirnya di dunia acting ketimbang hidup bersamaku. Dia mencampakkanku! Jadi aku bebas…” suara SiHoo terdengar getir.

“Walau begitu, kita tak bisa menikah…” Geum berkata lirih. “… aku tak bisa menikah dengan orang yang tidak kucintai.”

“Kau memiliki kekasih?” SiHoo agak terkejut dengan penolakan Geum.

“Tidak.” Geum menggeleng, “Tapi aku mencintai seseorang. Mencintainya bertahun-tahun. Impian terbesarku adalah melangkah ke altar pernikahan bersamanya.”

“Geum…” SiHoo menghapus airmata yang mulai membasahi wajah gadis itu, dia berbicara dengan nada selembut mungkin pada gadis yang duduk dihadapannya ini. “Apa tidak akan apa-apa? Bagaimana kalau kau hamil? Aku hanya ingin…”

“Tak perlu bertanggung jawab atas hal yang telah terjadi.” Geum menyela SiHoo. “Hal yang terjadi semalam bukan hanya kesalahanmu. A-aku yang tak bisa menjaga diri. Aku tak akan menuntutmu. Apapun yang terjadi nanti, aku tak ingin membuat kesalahan lagi…”

“Dengan menolak lamaranku. Kau pikir itu bukan suatu kesalahan?” SiHoo menyeringai, dia meremehkan ucapan Geum.

Sajangnim…” Geum berusaha memberanikan diri menatap mata SiHoo, “… aku tahu menerimamu atau tidak, semua jalan yang kupilih adalah kesalahan. Tapi aku yakin, menolak menikah denganmu akan menghindarkanku dari kesalahan yang lebih besar lagi.”  Geum lalu bangkit dari kursinya, “Terima kasih atas makanannya. Aku harus pulang segera. Dan aku rasa jika besok kita bertemu di kantor, kita bisa bersikap seperti hari-hari sebelumnya. Menganggap tak ada hal yang pernah terjadi.”

Geum membungkuk, memberikan hormat pada SiHoo. Kemudian bersegera menuju pintu keluar apartemen pria itu.

+++++

Geum melangkah gontai menuju area tempat tinggalnya setelah turun dari bis. Jalanan yang cukup menanjak itu semakin melemahkan langkahnya. Tubuhnya seakan berat untuk tetap tegak setelah memuntahkan isi perutnya di sepertiga jalan tadi. Dia hampir terjatuh andai saja tak ada seseorang yang sigap menangkapnya.

Geum memandang wajah pria muda yang membantunya berdiri tegak. Dia sangat mengenal pria ini. Pria yang selalu bisa membuat kabut gelap menyingkir dari hati Geum. Pria yang selalu membuat Geum tersenyum. Pria yang selalu dia cintai semenjak Geum berusia 15 tahun.

Pria muda yang tampan. Tubuhnya agak kurus tapi sangat kuat. Wajahnya sangat lembut tapi dia memiliki sifat yang keras. Mata yang bening, bibir tipis dan leher yang jenjang. Rambutnya ikal kecoklatan, kulitnya putih bersih. Pria yang berusia 5 tahun lebih muda dari Geum ini bahkan memiliki postur yang lebih tinggi daripada Geum. Secara fisik, Luhan, nama pria muda keturunan Chinese ini memang begitu memikat sejak pertama kali dipandang. Tapi Geum, mencintai Luhan lebih dari sekedar fisik sempurna pemuda ini. Tapi karena rasa aman, nyaman dan tenang yang selalu Geum rasakan ketika mereka bersama sejak bertahun-tahun silam.

Noona, kau baru pulang? Kau lembur atau mabuk-mabukan lagi dengan teman kantormu!” seru Luhan. Nada bicaranya terdengar marah.

“Kau sendiri? Pagi-pagi sudah keluyuran.” Balas Geum tak kalah sewot.

“Mengantar  koran dan susu. Walau hari minggu tetap harus dilakukan. Sekalian lari pagi. Aku harus banyak berolahraga untuk debutku sebagai actor. Aku tak mau menjadi trainee terlama sepanjang sejarah agensi tempat kau bekerja itu.” Serunya. “Aku akan mengantarmu ke rumah setelah itu melanjutkan tugasku.”

Luhan menggandeng tangan Geum. Tapi gadis itu menepisnya.

“Kau tak takut digosipkan berkencan denganku?” seru Geum.

Luhan berdecak. “Bukankah warga disekitar sini menganggap kau itu kakakku. Aku juga menganggapmu seperti itu. Jadi tak akan ada gossip seperti yang kau kira.”

“Jadi, kau hanya menganggapku sebagai ‘kakak’?” Geum merasakan sesak didadanya. Sangat ingin menangis saat ini.

“Tentu, dari dulu, sekarang dan nanti. Kau adalah kakaku. Kakak terbaik dan tercantik.”

Geum merasa hatinya hancur. Kata-kata yang diucapkan Luhan dengan senyuman indah menghiasi wajahnya bagaikan petir yang menyambar hati Geum. Membuatnya hancur berkeping-keping. Tak ada harapan bagi Geum untuk menjadi kekasih bagi Luhan. Pemuda itu sudah menolaknya bahkan sebelum kata cinta keluar dari bibir tipis milik Geum.

“K-kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku bisa pulang sendiri,” kata Geum berusaha menyembunyikan matanya yang basah dari tatapan Luhan.

Rasa pusing dan mual seakan sirna ketika Geum mempercepat langkahnya. Diabaikan seruan Luhan yang memanggilnya.  Hanya perlu berjalan satu blok setelah tanjakan ini. Geum akan sampai dirumahnya yang letaknya bersebelahan dengan rumah Luhan. Mengabaikan Chen dan Sehun, dua adik lelaki Luhan yang sedang asyik bermain dengan genangan air yang berada tepat di depan pagar rumah mereka. Geum berlari masuk ke rumahnya. Mengunci pintu kemudian menangis dalam sunyi.

Pada saat seperti ini, dia sangat ingin ibunya yang telah tiada sejak dua tahun silam menemaninya. Tak membiarkan dia menangis sendirian di rumah ini. Tak membiarkannya kesepian dan merasa sebatang kara.

Ya. Pagi di akhir bulan agustus ini memang menjadi pagi yang luar biasa buruk bagi Geum.

+++++

Geum membuka matanya ketika terdengar suara ketukan keras di pintu rumahnya yang disertai suara seseorang memanggil namanya dari luar sana. Rupanya Geum tadi tertidur di ruang depan rumahnya setelah menangis sepanjang pagi, dilihatnya kini waktu menunjukkan pukul tiga sore.

Geum masih enggan membukakan pintu, membiarkan Luhan memanggil-manggil namanya. Paling tidak dengan bersikap seperti ini, Geum tahu jika Luhan mencemaskannya.

“Yoon Geum Hee-ya! Kalau kau tak membuka pintu  sekarang, maka aku akan mendobraknya!”

Geum terkejut mendengar Luhan memanggil namanya seperti itu. Ini baru pertama kali terjadi. Cepat-cepat Geum membukakan pintu rumah. Memastikan kalau sungguhan Luhan yang memanggilnya tanpa sebutan ‘noona’.

Geum bahagia, ternyata pendengarannya tak salah. Tanpa ragu dia memeluk Luhan. Membuat pemuda itu yang semula tampak kesal dan cemas, menjadi kebingungan. Tapi kemudian dia tersenyum. Menepuk punggung Geum. Membiarkan wanita itu mendekapnya.

“Aku tak mengerti sebenarnya apa yang terjadi. Tapi aku senang kalau kau baik-baik saja. Aku khawatir, melihatmu tak keluar dari rumah sepanjang hari. takut kau sakit atau marah padaku.”

Geum menggeleng, “A-aku tak mungkin bisa marah padamu.”

“Ah, itu benar.” Angguk Luhan. “Kau sangat mengkhawatirkan hari ini. Kau sudah makan siang?”

Geum menggeleng. Dia melepaskan pelukannya pada Luhan. Pemuda itu menyentuh wajah Geum dengan kedua tangannya. Mengusap airmata Geum dengan lembut.

“Kau menangis?” Luhan bertanya.

“Ya.”

“Apa karena aku?”

Geum mengangguk. “ Ya. Salahmu.”

Luhan tersenyum. Dia mengerti perasaan Geum yang menyukainya. Dia tahu Geum tak pernah menganggapnya seperti seorang adik. Dia tahu kalau selama ini Geum memandangnya sebagai seorang pria. Tapi, dia tak bisa membalas perasaan itu. Geum bagi Luhan selamanya adalah seorang kakak yang selalu melindunginya. Terlebih semenjak setahun belakangan ini, semenjak perceraian orangtuanya kemudian sang ibu jatuh sakit. Geum membantunya mengurus ibu dan adik-adiknya. Hubungan yang erat seperti keluarga kandung sudah mereka jalani. Dan untuk merubah perasaan sayang menjadi perasaan cinta antar pria dan wanita itu cukup sulit. Terlebih, Luhan sudah mencintai orang lain. Gadis yang sebaya dengannya, teman saat di sekolah menengah dan sekarang bersamanya berjuang meraih impian menjadi  seorang bintang.

“Aku akan mentraktirmu makan. Jadi, maafkan aku.” Kata Luhan. Dia memperlakukan Geum kali ini seperti mempelakukan seorang anak kecil. Itu untuk menebus perasaan bersalahnya karena ucapannya yang seolah tak mengerti perasaan Geum tadi pagi.

“Tak cukup!” seru Geum. “Traktir aku nonton di Bioskop. Lalu kita jalan-jalan hingga malam. Aku sudah menghabiskan hari mingguku dengan hanya tidur dan menangis. Aku perlu bersenang-senang.”

Luhan tersenyum. “Baik, bersihkan dirimu. Tiga puluh menit lagi kita pergi.”

+++++

Seperti sepasang kekasih yang berkencan, itulah yang terjadi kini antara Geum dan Luhan. Geum sama sekali tak membiarkan pemuda yang berjalan bersamanya itu jauh. Dia tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada pria itu.

Mereka berdua menonton film romantic di bioskop, menikmati ramyun, minum caramel machiatho, berjalan di pusat kota. Menikmati petang menyenangkan bersama.

Geum berhasil melupakan kegalauannya hari ini. Hari ini memang hari yang buruk, tapi tak sepenuhnya, Karena ada Luhan yang memperbaikinya. Seperti biasa, kedamaian akan selalu Geum rasakan jika bersama pemuda ini.

“Masuklah,” seru Luhan ketika mereka pulang, saat dia mengantarkan Geum  di depan pagar rumah wanita itu.

Geum menggeleng, dia masih menggenggam jari jemari Luhan. Pemuda itu berusaha melepaskan, tapi ketika sudah berhasil, Geum menarik kembali tangan Luhan.

“Apa kita tak bisa berjalan-jalan sebentar?” Tanya Geum.

“Kau tak lelah?”

Geum menggeleng, dia menarik tangan Luhan, menyuruh pemuda itu mengikutinya berjalan menuju taman yang berada di kompleks tempat mereka tinggal.

“Masih ingin bermain rupanya,” Kekeh Luhan.

Geum mengangguk, “Hani-ya, aku ingat selalu membawamu bermain ketempat ini setiap sore saat kau masih kecil. Aku menggendongmu yang penakut dan cengeng. Kita bermain membuat istana pasir bersama, bermain ayunan, jungkat jungkit dan perosotan. Ah menyenangkan sekali, rasanya itu baru terjadi kemarin.”

Geum kembali mendekati Luhan, dia menyentuh pelipis pemuda itu lalu tersenyum.

“Lukamu masih belum hilang rupanya. Gara-gara aku, kau hampir saja mengalami cedera parah di kepala. Apa masih terasa sakit?”

Luhan menggeleng, dia memegang bagian kepala yang disentuh Geum. Teringat kejadian lima tahun silam, saat dia menolong Geum yang sedang diganggu berandalan. Karena bersikap sok heroic, dia malah mendapatkan luka jahitan yang cukup banyak karena salah satu berandal yang menggoda Geum, memukul kepala Luhan dengan batu. Dia kehilangan banyak darah saat itu.

“Kau benar-benar kesatria-ku,” senyum Geum mengembang. Tanpa permisi, dia mencium bibir Luhan. Airmatanya mengalir menyesali seharusnya dia melakukan hal ini sejak dulu. Sekelebat pikirannya tentang kejadian dengan SiHoo muncul. Dia mencoba menepis itu dengan semakin dalam mencium Luhan. Walau terasa sekali, pemuda itu menolaknya.

Geum terkejut ketika Luhan mendorongnya dengan kasar, pertanda menyuruh Geum menghentikan ciumannya.

“Jangan lakukan itu lagi!” Bentak Luhan. Dia tak dapat menyembunyikan kekesalannya atas tindakan lancang Geum barusan. “Kau tak bisa bersikap seperti itu padaku noona.”

“Tapi aku mencintaimu! Dan berhenti menganggapku sebagai kakak! Kita bahkan bukan saudara. Kau juga dulu pernah bilang, wanita yang kau sukai hanya aku. Kau akan menikahiku ketika kita dewasa. Bukankah sekarang saatnya? Aku sudah 25 tahun dan kau 20 tahun. Kita sudah sama-sama dewasa…”

“Perkataan saat aku berusia 9 tahun, tidak bisa dijadikan pegangan!” Seru Luhan merasa gerah. “Mengapa kau begitu mempercayai janji seorang bocah? Apa kau tidak berpikir kalau perasaanku bisa berubah. Dulu, memang hanya kau yang aku puja, tapi sekarang kau tak lebih seorang kakak bagiku. Jadi kumohon, jangan sampai hubungan baik yang kita bina selama ini menjadi hancur hanya gara-gara masalah ‘cinta’. Aku tak siap akan hal itu. Aku tak siap akan pernikahan atau komitment untuk saat ini. Yang aku inginkan saat ini adalah debutku, kesehatan ibu dan kesejahteraan adik-adikku. Hanya itu!”

Luapan perasaan yang diungkapkan Luhan membuat airmata Geum berhenti mengalir. Dia memandang Luhan tak mempercayai yang barusan didengarnya.

“Sejujurnya, demi tiga hal yang menjadi harapanku saat ini, aku juga melepaskan cintaku. Aku menyukai seorang gadis. Tapi demi debutku, demi ibu, Chen dan Sehun, aku membulatkan tekat untuk tak menjalin hubungan asmara. Aku ingin menjadi seorang bintang. Membuat ibu tersenyum, membuat Chen dan Sehun bangga padaku. Apalah artinya menjalin asmara dibanding kebahagiaan keluargaku. Mereka butuh aku yang mapan. Yang bisa menghidupi mereka. Membuat mereka bisa makan enak tiga kali sehari…”

Luhan mengepalkan tangannya, mendundukkan kepala menahan perasaan perih yang berkecamuk dihatinya. Dia mencengkram dadanya. Mencoba mengendalikan pedih itu. Tapi dampaknya, airmata mengalir membasahi wajahnya.

“… aku harus melupakannya. Yah itu harus, demi ibu dan adik-adik. Demi diriku, aku harus melupakannya.” Luhan menyeka matanya. Berusaha mengusir bayang-bayang gadis yang disukainya.

“Apa kau begitu menyukai gadis itu?” Geum berkata lirih. Melihat ekspresi Luhan yang berusaha keras menyembunyikan perasaannya. “Dia pasti gadis yang sangat istimewa.”

“Ya. Aku sangat menyukainya. Tapi dia bukan yang teristimewa bagi hidupku.” Ujar Luhan.

Geum dan Luhan bertatapan. Luhan menepuk puncak kepala Geum. Kemudian memeluknya.

“Kau lebih istimewa bagiku. Tapi, bukan berarti aku mencintaimu. Aku sudah terbiasa berada didekatmu sejak dulu. Menganggapmu istimewa karena kau selalu tersenyum padaku setiap hari. memberikan aku semangat dan dukungan. Setelah orangtuaku bercerai dan ibuku menjadi sangat lemah, kaulah yang selalu membantuku. Aku mungkin bisa hidup tanpa dirinya. Tapi tanpamu, semuanya akan terasa hampa…”

“Kau tak mencintaiku tapi kau berusaha mengekangku…”

“Yah, itu benar.” Luhan semakin mengeratkan pelukannya.

“Kau jahat.”

“Maafkan aku.” Bisik Luhan. “Aku hanya ingin kita bisa bersama selama mungkin. Cinta hanya akan mempersulit kita…”

Geum memukul lemah punggung Luhan. Dia menangis. Meluapkan kekesalannya. Bukannya melepaskan, Luhan semakin erat memeluknya. Membuat perasaan Geum semakin sesak. Luhan marah ketika Geum menciumnya tapi pemuda ini bertindak semena-mena. Memeluk erat Geum hingga membuatnya tak bisa kemana-mana. Egois, Geum menyadari sikap buruk Luhan yang satu ini. Tapi Geum juga menyadari, dia merasa begitu nyaman di dalam dekapan pria ini.

+++++

Hari-hari dengan cepatnya berlalu, SiHoo dan Geum setiap harinya bertemu di kantor, bersikap seakan tak ada hal yang pernah terjadi diantara keduanya. Sementara Luhan semakin merasa was-was menanti hari debutnya sebagai actor yang terjadi dalam beberapa hari kedepan.

Pertengahan bulan September, syuting untuk drama perdana Luhan dimulai. Dia hanya mendapat peran kecil di drama pertamanya itu tapi tak mempengaruhi rasa antusiasmenya yang tinggi. Dia berlatih dengan keras. Berharap tak ada kesalahan sekecil apapun yang dapat mencoreng karirnya kelak.

Support tak pernah henti Geum berikan untuk Luhan. Dia juga berusaha membantu Luhan untuk segera mendapatkan tawaran pemotretan. Walau itu memang bukan tugas Geum, tapi dia meminta pada rekannya yang menjadi manager Luhan

#SEKETIKA AKU LAGI-LAGI KETEMU JALAN BUNTU

oke… lanjut di FF GAGAL TERAKHIR…

YANG TERAKHIR MEMBINGUNGKAN…. HABISNYA AKU BIKIN 3 VERSI

YANG SUKA CHANYEOL EXO MARI DIBACA… TAPI GAK ADA LANJUTANNYA LHOOOO

FF GAGAL #5

Title: 10 Meters

Main Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Yoojin & Han Jiyeon

Genre: Romance, Friendship

Rated : 15+

Disclaimer: Happy Virus Is Mine. LOL

 

Part I

 

40 hari bersamamu dalam jarak 10 meter. Tak terpisahkan. Perlahan rasa cinta itu tumbuh dari hari ke hari.

Tapi, pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku bertepuk sebelah tangan.

Kau melupakanku dan kembali pada hidupmu…

10 Meters

 

 

Kim Yoojin memegang erat lengan baju Park Chanyeol. Berharap pria yang sedang mendekapnya itu tak pergi. Selalu berada disisinya. Tangis Yoojin pecah. Airmatanya berurai, sementara Chanyeol tetap diam tanpa kata dan semakin mengeratkan pelukannya pada Yoojin.

Kajima… ” isak Yoojin.

“Aku selalu disisimu… ” jawab Chanyeol sumbang menahan perasaan pedih yang menusuk hati . “Uljima, Yoojin-ah. Percaya padaku… ”

Yoojin mencoba melepaskan diri dari pelukan Chanyeol. Menatap mata pria itu yang tak kalah sembabnya.

“A-aku percaya… ” angguk Yoojin.

Ia meraih lengan kanan Chanyeol. Disana melingkar gelang tali yang dibuat oleh Yoojin. Pemberiannya di hari ke-15 mereka bersama. Mereka mengenakan gelang yang sama. Gelang yang menjadi penanda kepercayaan dan perasaan kasih diantara mereka. Samar-samar dipergelangan tangan kanan Chanyeol dan Yoojin terlihat juga seuntai benang merah, benang yang terlihat rapuh tapi ternyata sangat kuat yang menghubungkan mereka sejak 40 hari yang lalu. Penanda ikatan takdir mereka

“Aku tak akan melepaskan gelang ini… ” Chanyeol berjanji. Ia mengusap air mata Yoojin. Mengecup kening, pipi dan bibir gadis itu. “Saranghaeyo, Kim Yoojin… ”

++++++

41th Days

Bunyi jam beker membangunkan Yoojin. Dia bangkit dari tempat tidurnya. Memandang sekeliling kamar, matanya menelusuri setiap sudut memastikan Chanyeol masih ada di ruangan yang sama dengannya. Rasa panik muncul karena dia sendirian. Diperhatikannya pergelangan tangan kanannya. Tak ada lagi benang merah penghubung antara dia dan Chanyeol. Yoojin segera keluar kamar. Berusaha menc ari keberadaan pria itu di setiap ruang di rumahnya. Tapi hasilnya nihil. Pria itu tak ada. Hal yang ditakutkan Yoojin menjadi kenyataan.

“Yoojin-ah, kenapa belum bersiap-siap? Kau harus ke sekolah!” seru Ibu Yoojin tampak bingung melihat putrinya tampak seperti orang tak sadarkan diri.

Andwe… ”

“Yoojin-ah, Gwenchana?” sang ibu mencoba menyentuh tubuh Yoojin. Tapi gadis itu keburu berlari menuju pintu depan. Pergi dari rumah begitu saja meski hanya mengenakan baju tidur.

Cuaca di luar cukup dingin karena musim dingin sudah mulai tiba. Yoojin tak memperdulikan itu, dengan ditutupi baju tidur yang tak cukup untuk menghangatkan tubuh, dia bergegas keluar rumah. Menuju rumah sakit pusat Ulsan yang hanya berjarak tiga blok dari rumah Yoojin dengan berjalan kaki. Isi otak Yoojin saat ini hanyalah Chanyeol. Memastikan keberadaan pria itu. Dia tak memperdulikan hawa dingin yang menyentuh kulitnya.

Ketika sampai di rumah sakit. Yoojin bergegas menuju ruangan tempat Chanyeol dirawat selama ini. Belum sampai ke ruangan tempat  dimana pria yang dicintainya itu berada, dia dicegat oleh Byun Baekhyun, sahabat Park Chanyeol.

Yaa! Kim Yoojin. Aku memanggilmu dari tadi. Kenapa tak mendengarku?” serunya, wajah Baekhyun terlihat sumringah.

“A-aku… ” Yoojin tak ingin menanggapi Baekhyun. Yang dia ingin hanyalah bertemu Chanyeol.

“Dari mana kau tahu Chanyeol sudah sadar?”

“Jadi… dia… “

“Ya. Dia sudah sadar.” Baekhyun memegang bahu Yoojin. Dia menyadari sesuatu. Tubuh gadis itu sangat dingin dan wajahnya pun  pucat. “Astaga, ada apa denganmu Yoojin?” segera saja Baekhyun melepaskan mantelnya dan mengenakannya pada tubuh Yoojin. “Apa kau berangkat dari rumah hanya memakai baju setipis ini? Yaa! Babo! Ini sudah masuk musim dingin! Kau bisa sakit!”

“A-aku ingin bertemu Chan… ” Yoojin terisak.

Araseo… ” Baekhyun mengusap air mata Yoojin. “Tapi, kita harus menunggu. Kita biarkan Chanyeol bersama orang tuanya dan Jiyeon terlebih dahulu… ”

“Ji-jiyeon… ” Yoojin mencoba memastikan pendengarannya tak salah. “Dia bersama Chanyeol sekarang?”

Ne… ” sahut Baekhyun.

Seketika itu juga Yoojin merasa tubuhnya lemas. Pandangannya berputar dan kakinya tak bisa berdiri tegak. Dia hampir terjatuh kalau saja Baekhyun tak menahan tubuhnya.

Yaa, kau kenapa?” seru pria itu.

Yoojin mencoba untuk kembali berdiri tegak. Dia mengabaikan pertanyaan Baekhyun. Tangan kanannya meraih selusur penyangga yang berada di dinding rumah sakit. Dengan bantuan itu, Yoojin berjalan walau sedikit terseok. Baekhyun mencoba membantunya.

“Yoojin-ah, kau harus memeriksakan kondisimu. Kau seperti tak sehat… ”

Yoojin menggeleng. “Aku baik! Biarkan aku melihat Chanyeol. Kumohon… ”

Baekhyun tak mengerti isi pikiran Yoojin. Tapi dia tak mau membuat gadis itu muak padanya. Dia menyukai Yoojin. Prasaan suka pada seorang wanita yang mungkin dulu tak pernah ia rasakan. Baekhyun menyukainya seiring berjalannya waktu selama 40 hari mereka bersama mencemaskan Chanyeol yang terbujur koma akibat kecelakaan.

Mengenal dekat Yoojin selama 40 hari membuat Baekhyun menyadari kalau dia adalah lelaki ‘normal’. Hal yang sempat disanggahnya.  Baekhyun ternyata bisa mencintai seorang wanita. Mencoba melindungi wanita itu serta ingin memilikinya. Walau ia sadar, cintanya kali ini lagi-lagi bertepuk sebelah tangan. Dia tahu, Yoojin tak merasakan hal yang sama padanya. Gadis itu dulu memang pernah menyukainya. Tapi, tampaknya sekarang perasaan Yoojin pada Baekhyun sudah berubah.

“Baiklah, aku akan menemanimu melihat keadaannya… ”

Mereka bersama masuk ke ruangan Chanyeol dirawat. Pria itu sudah siuman dari koma yang dialaminya selama 40 hari, walau masih terbaring lemah. Peralatan pembantu kinerja tubuh yang terpasang pada tubuh Chanyeol, mulai dilepas satu persatu. Duduk disamping kiri ranjang pasien seorang gadis yang sangat cantik dan berambut indah, tangan gadis itu dan Chanyeol bertautan erat. Wajah Chanyeol pun terlihat sangat bahagia menatap gadis itu. Tanpa diucapkan dengan kata, terlihat jelas kalau itu adalah tatapan kerinduan dan penuh cinta. Hal ini sangat menyakitkan bagi Yoojin yang melihatnya.

Baekhyun segera menghampiri Chanyeol, sementara Yoojin masih terpaku di dekat pintu.

“Selamat datang kembali… ” seru Baekhyun yang dibalas Chanyeol dengan senyuman tipis. Terlihat Chanyeol ingin menjawab sapaan Baekhyun. Tapi dia masih kesulitan menggerakan bibirnya. “Tak usah dipaksakan, Chanyeol-ah. Yang terpenting, kau kembali pada kami. Kau akan pulih seperti sedia kala saudaraku.”

++++++++

First Day

Pagi di hari pertama bulan November terlihat sangat cerah. Tak ada langit mendung, matahari bersinar dengan lembut, memberikan kehangatan di akhir musim gugur. Kim Yoojin, gadis yang baru saja merayakan ulang tahun ke-18 nya tiga hari yang lalu menjalankan rutinitas pagi seperti biasanya. Berjalan kaki berangkat ke sekolahnya di Hyundai Chungun High School dengan penuh semangat dan ceria.  Sesekali, dia berhenti di depan toko yang memiliki jendela besar. Tersenyum pada bayangan dirinya yang terpantul pada jendela itu. Merapikan rambut lurus sebahu miliknya. Membenarkan letak bando dan menyisir poni tipisnya menggunakan jari.

Yoojin tersenyum melihat betapa manis dirinya hari ini. Penampilannya sudah cukup sempurna dan tidak memalukan untuk mengajak Byun Baekhyun -pria yang disukainya selama hampir 3 bulan ini, berkencan.

Mungkin terdengar memalukan. Seorang gadis mengajak pria berkencan. Tapi bagi Yoojin, jika dia memikirkan malu saja, perasaannya tak akan tersampaikan. Yoojin bukan tipe seorang gadis yang hanya bisa memendam perasaan. Menyimpan perasaan suka tanpa menyampaikan. Apalagi, Yoojin bukanlah orang yang gampang jatuh cinta. Jika Yoojin menyukai atau membenci seseorang, maka orang itu wajib tahu perasaan Yoojin. Tak peduli perasaannya terbalas atau tidak.

Yoojin dan Baekhyun adalah teman sekelas. Mereka tak dekat, karena di kelas Baekhyun hanya akrab dengan Park Chanyeol dan Han Jiyeon.  Chanyeol adalah pemuda bertubuh tinggi dan memiliki senyum terindah. Dia termasuk siswa paling populer di sekolah, tentu saja karena wajahnya yang sangat tampan, otaknya yang cerdas, serta sifat ceria dan ramah yang dimilikinya membuat ia sangat disukai oleh seluruh sekolah.  Han Jiyeon sangat beruntung bisa menjadi kekasih dari pria yang terlihat hampir sempurna itu. Tapi, gadis itu juga sangat cantik. Mereka pasangan yang sangat serasi. Dan ketika Chanyeol, Baekhyun dan Jiyeon bersama membuat seisi sekolah merasa iri dengan persahabatan erat yang terjalin sejak SMP.

Yoojin bergegas menyusul Baekhyun yang terlihat berjalan sendirian memasuki gerbang sekolah. Tumben sekali, hari ini dia tak bersama kedua sahabatnya. Biasanya mereka selalu pergi dan pulang bersama-sama karena letak rumah mereka yang berdekatan.

“Byun Baekhyun,” sapa Yoojin menepuk bahu pria itu.

“Hai,” balasnya tersenyum.

“Tumben sendirian?”

“Tak boleh?” Baekhyun balik bertanya, masih tersenyum. Mereka  lalu berjalan bersama menuju kelas

Yoojin tertawa, “Boleh. Justru bagus. Jadi aku bisa menyapamu pagi ini.”

Baekhyun hanya tersenyum tipis menanggapi Yoojin yang menggodanya. Kemudian saat mereka hampir sampai di kelas. Yoojin memegang lengan Baekhyun. Menyuruh pria itu berhenti berjalan. Yoojin kemudian berjinjit, berusaha menyamakan posisi bibirnya dengan telinga Baekhyun. Lalu berbisik, “saranghaeyo”.

Wajah Baekhyun bersemu merah, ia cukup kaget mendengar pernyataan cinta dari teman sekelas. Dia menatap Yoojin yang juga sedang tersipu dengan tatapan kebingungan.

“Pulang sekolah! Kau baru boleh menjawabnya setelah pulang sekolah dan pergi ke bioskop denganku. Arasseo?!” seru Yoojin sedikit memaksa.

“Ta-tapi–  ”

“Aku mohon!” Yoojin mengatupkan kedua tangannya di depan wajah. Sedikit menunduk.

“Baiklah– ”

++++++++

Yoojin berjalan sambil menghapus airmata yang membanjiri kedua pipinya. Siang yang kelabu, tak seindah pagi tadi. Begitu pula perasaan Yoojin yang sedang patah hati. Ketika pulang sekolah, di kelas saat hanya tersisa Yoojin dan Baekhyun, pria itu menjawab pernyataan cinta Yoojin yang diungkapkannya tadi pagi dengan kata ‘maaf’ dan ‘aku menyukai orang lain’.

Yoojin tahu seharusnya dia sudah siap jika ditolak. Tapi, nyatanya dia tetap menangis.

Perasaan suka Yoojin pada Baekhyun  muncul sejak akhir musim panas lalu setelah Baekhyun yang selama ini dikiranya hanya hidup demi Chanyeol dan Jiyeon, menolong Yoojin yang hampir disengat ubur-ubur pada saat darmasiwata kelas di pantai Incheon. Sejak saat itu, Yoojin memiliki pemikiran yang berbeda tentang Baekhyun yang selalu terkesan dingin dan sinis.

Yoojin jatuh cinta pada Baekhyun dan berharap pria itu membalasnya.

Tapi sayangnya pria itu tak merasakan hal yang sama. Sudah ada orang lain yang mengisi hatinya dan itu membuat Yoojin kecewa.

“Aku benci kau, Byun Baekhyun!!” rutuk Yoojin sambil menendang-nendang batu kerikil kecil saat dia berada dipenyebrangan jalan.

Mwo? Waeyo?”

Yoojin melirik pria bertubuh tinggi yang berdiri di sampingnya. Pria itu tersenyum memamerkan gigi-gigi putih miliknya, tersenyum seperti itu membuatnya terlihat seperti orang bodoh.

Yaa! Yoojin-sshi, waeyo? Kenapa kau membenci Baekhyun-ku? Apa salah dia padamu? Huh?!” seru Chanyeol melotot tapi tetap tersenyum.

“Tanyakan padanya!” seru Yoojin ketus.

Chanyeol tertawa, sementara Yoojin menatap sinis pria itu. Sebenarnya cukup jarang mereka berbicara seakrab ini. Walaupun mereka selalu sekelas semenjak di tingkat pertama.

“Aku tak melihatmu tadi di sekolah,” ujar Yoojin kemudian.

“Sedikit flu… ” jawab Chanyeol. “ … dan aku sedang tidak ingin belajar.”

“Ohya? Membolos dan berkeliaran di dekat sekolah?”

“Sudah cukup aku menjadi anak baik… ” balas Chanyeol dingin.

“Ada masalah denganmu!” Yoojin mengatakannya sambil menunjuk kepala Chanyeol.

“Yah, kau juga. Ada masalah denganmu… ” Chanyeol menunjuk mata Yoojin yang sembab. Kemudian dia bergumam sendiri, “… masalah dengan orang yang sama, sepertinya.”

“Maksudmu?” Tanya Yoojin mendengar gumaman Chanyeol.

Pria itu terkekeh, “Tak ada.” Sahutnya. “Kau tidak ingin menyebrang jalan? Kita sudah melewatkan 4 kali lampu merah.”

“Siapa penyebabnya?” dengus Yoojin, mulai melangkahkan kakinya menyebrang jalan diiringi Chanyeol yang menertawakan. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam katung jaket yang menutupi seragam sekolah yang ia kenakan. Yoojin tak mengerti kenapa pria disampingnya ini membolos. Chanyeol terkenal sebagai siswa teladan di sekolah. Prestasi akademik dan olahraganya bagus. Dia juga termasuk dalam anggota ketertiban sekolah. Tapi, mungkin benar seperti yang dikatakan Chanyeol tadi, dia mungkin sedang bosan menjadi siswa baik-baik.

“Hahh, aku ingin ramyun,” seru Chanyeol sebelum beberapa saat kemudian melaju sebuah sepeda motor dengan kecepatan penuh ke arah mereka. “Gila, dia tidak lihat lampu sedang berwarna merah!”

Refleks Chanyeol cukup cepat untuk menghindari motor yang melaju tanpa bisa dikendalikan pemiliknya yang sudah mulai oleng mengupayakan rem tangan. Tapi tidak untuk Yoojin. Tubuh gadis itu tak bisa bergerak untuk menghindari motor yang sudah tak terkendali itu. Chanyeol yang menyadari ketidakberdayaan Yoojin, segera menarik tubuh gadis itu. Mereka berhasil menghindar dari tubrukan dengan sepeda motor, tapi sayang saat menyelamatkan Yoojin, tubuh Chanyeol kehilangan keseimbangannya. Bersama Yoojin dia terjatuh, dengan kepala Chanyeol terhempas dengan keras membentur trotoar.

Rasa sakit teramat sangat dirasakan Chanyeol pada kepalanya. Saat dia membuka mata, ia terkejut melihat dirinya tak berdaya, sementara Yoojin yang berada dipelukannya terbelalak melihatnya. Mata gadis itu bergantian menatap Chanyeol yang terlihat bugar dan Chanyeol yang sedang pingsan sambil memeluknya. Sekejap kemudian gadis itu tak sadarkan diri.

Sementara Chanyeol menyadari, kini di pergelangan tangan kanannya dan Yoojin terhubung sebuah benang merah…

+++++++

#### OKE… VERSI PERTAMA BERAKHIR SAMPE SINI

LANJUT KE VERSI KEDUA

Aku selalu merasa iri pada Kim Jiyeon. Bukan karena wajah cantiknya, bukan juga karena prestasi akademiknya yang selalu terbaik di sekolah. Aku iri padanya karena dia adalah sahabat terbaik dari pria yang ku suka, Byun Baekhyun.

Aku selalu menatap iri pada Jiyeon yang bercengkrama akrab bersama Baekhyun dari sudut kelas. Mereka berbincang akrab dengan sesekali Baekhyun membelai lembut rambut Jiyeon yang terurai panjang dan lebat. Cara mereka saling menatap membuatku selalu berpikir, mustahil tak ada rasa cinta disana. Jiyeon yang selalu bertingkah manja dan Baekhyun yang merespon dengan sesekali merangkul dan memeluknya. Terlalu mesra, jika dipikir mereka hanya bersahabat, bahwa Jiyeon sudah memiliki kekasih bernama Park Chanyeol yang berbeda kelas dengan kami, pria yang tak kalah tampannya dengan Baekhyun, bertubuh jangkung dengan senyum ramah memikat.

Apakah Chanyeol tak pernah merasa cemburu melihat betapa dekatnya hubungan Jiyeon dan Baekhyun? Tak pernahkah dia merasakan ada keganjilan dibalik ‘persahabatan akrab’ diantara keduanya?

Entah Park Chanyeol itu bodoh atau tidak peka! Bahkan seisi sekolah bergasak-gusuk menggunjingkan kalau Baekhyun dan Jiyeon bukan hanya sahabat belaka. Mereka bermain api dibalik punggung Chanyeol, tapi pria itu bagai idiot yang menutup mata. Memuja Jiyeon laksana dewi sehingga tak ambil pusing ketika dewinya memiliki kuil lain yang dapat disinggahi.

Tapi, sebodoh apapun Chanyeol. Dia lebih beruntung karena Jiyeon secara resmi adalah kekasihnya. Tak seperti aku yang hanya bisa memandang Baekhyun yang menjadi pihak ketiga  dalam hubungan percintaan sahabatnya.

+++

Aku bukanlah gadis yang populer di sekolah. Aku bahkan sangat bersyukur jika ada teman sekelas yang mengingat namaku. Kehidupan di sekolah mungkin seperti pengasingan bagiku. Aku selalu duduk di kursi paling belakang dan paling sudut, disamping jendela paling ujung di kelas. Aku selalu meragukan eksistensiku selama ini, mengingat sangat jarang teman sekelas mengajakku berbicara.

Wali kelas mempertanyakan padaku, mengapa teman-teman sekelas memperlakukan ku seperti itu? Beliau memintaku untuk lebih aktif dan membaur. Tapi, aku tak bisa. Suaraku yang pelan tak pernah mereka dengar, prestasi akademikku yang tak bagus membuat mereka merasa tak ada manfaatnya berteman denganku. Tubuhku yang kurus dan terkesan lemah, membuat teman-teman berpikir kalau aku dihinggapi penyakit berbahaya sehingga mereka enggan mendekat.

Jadi, jawaban apa yang harus ku berikan pada wali kelas?

Sering terdengar cerita dan kasus yang terjadi di sekolah, terutama ditingkat menengah akhir, tentang kasus pembully-an, siswa yang dianiyaya dan siswa yang dikucilkan. Yang terjadi padaku adalah yang terakhir, aku dikucilkan dan aku tak bisa bertindak banyak.

Aku tak pernah merasa nyaman dengan hiruk-pikuk, jeritan dan gurauan tak berguna para siswa. Aku menemukan tempat terbaik bagiku  di sekolah adalah di perpustakaan. Tempat yang tenang dan bersih dari gangguan. Aku bukan kutu buku tapi aku merasa damai ketika duduk diantara rak-rak tua yang menyimpan ratusan buku. Bersembunyi di salah satu sudut yang lembab dan membuka lembar demi lembar sumber ilmu yang bernama buku, bagiku adalah cara menghabiskan waktu istirahat terbaik.

Dan kau tahu? Di perpustakaan inilah tempat pertama kali aku merasakan jatuh cinta. Suaranya yang berat tapi lembut menyapa saat aku menikmati kesendirianku, dia mengetahui namaku. Dia tahu kalau kami sekelas. Hal itu membuatku terharu, perasaanku berbunga-bungan dan bunyi degup jantungku tak bisa ku kendalikan saat mengamati lekuk wajahnya.

“Apa yang kau lakukan disini, Kim Yoojin?” itu kalimat pertama darinya.

“Kau bisa membaca di tempat yang lebih terang!” lanjutnya lagi.

“Tapi, disini lebih sejuk, memang…” dia tersenyum saat mengatakan itu.

Aku tak menjawab satu katapun. Hanya terpana padanya. Walaupun, tampaknya ia tak menyadari.

“Kau tahu, bel sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu. Apa kau ingin membolos sepertiku?”

Aku menggeleng. Dengan cepat aku bangkit dari dudukku. Aku tak berani menatapnya saat aku melewatinya. Wajahku panas, aku merona hanya karena melihat seringainya,  bibirnya yang tipis dan tatapannya yang nakal. Byun Baekhyun membuatku untuk pertama kalinya mengalami salah tingkah sejak kami menjadi teman sekelas, dua tahun lamanya.

Untuk pertama kalinya dia menyapaku dan itu membuatku jatuh cinta padanya.

Betapa menyedihkannya hidupku selama 18 tahun ini, aku jatuh cinta hanya karena sapaan, seakan persis dengan kisah roman tentang butanya sebuah cinta. Dan tenyata aku mengalaminya.

Aku merasakan nelangsa, pahitnya merindu dan sesaknya mengagumi. Hanya bisa menatapnya tanpa bisa mengutarakan perasaanku. Hanya bisa terpana melihat senyumnya tanpa bisa menyatakan cintaku. Hanya bisa menangis dalam senyap saat aku meyakini bahwa cintanya tak akan pernah menjadi milikku.

+++

Musim dingin berganti menjadi musim semi, rumput-rumput kecil mulai berani menunjukkan diri dibalik dinginnya salju yang mencair. Akhir tahun ajaran sekaligus awal semester ditandai dengan upacara yang membosankan di aula sekolah. Di tahun ketigaku ini, aku tak yakin semua akan berubah. Aku yakin akan tetap sendirian tanpa teman di kelas baru nanti. Tapi aku merasakan ada kecemasan berkecamuk di dadaku. Aku takut tak sekelas lagi dengan Byun Baekhyun. Dialah, orang yang membuatku tetap bersemangat pergi ke sekolah. Mengagumi wajah tampannya secara sembunyi-sembunyi adalah alasanku untuk tetap pergi ke sekolah selama hampir 6 bulan ini.

Ketika aku merasakan jenuh akan sekolah dan akhirnya menemukan penyemangat tapi ternyata kami harus berpisah kelas, itu membuat aku merasa patah arang dan sangat kecewa.

Dan benar saja, kecemasanku beralasan. Kami berpisah kelas, Baekhyun tetap sekelas dengan Jiyeon sahabatnya yang selalu membuatku iri, dan tentu saja aku jadi semakin iri pada gadis itu. Selama satu tahun kedepan aku akan di kelas yang membosankan, menghabiskan waktuku dalam keterasingan seperti biasanya,karena bahkan di kelas baruku ini tak seorang pun yang berusaha menyapaku. Tapi, aku tak peduli pada mereka. Aku hanya memikirkan pria pujaanku, Byun Baekhyun.

Oh, betapa membosankannya kelas ini tanpa tawa renyah dan guyonan serta kalimat-kalimat cerdas yang kadang terlontar dari bibir pujaanku itu. Aku tak bisa lagi mendengar suaranya yang berisik dan juga senandungnya saat guru tak datang.

“Kau bisa bertukar tempat duduk denganku?”

Aku menatap orang yang berbicara padaku. Ini ajaib, baru kali ini sepanjang hari pertama tahun ajaran ada orang yang mengajakku bicara.

“Kau akan kesulitan melihat papan tulis kalau aku duduk di depanmu.” Serunya lagi.

“Tapi aku suka disini…” sahutku lirih.

“Apa kau selalu seperti itu? Sangat senang berada dipojok ruangan. Merasa terasing. Menikmati kesendirian?”

“Ya…”

“Bagaimana rasanya?”

Aku mengernyitkan kening. Tak percaya seorang Park Chanyeol menanyakan itu padaku.

“Seakan dunia adalah milikku sendiri…” jawabku kemudian.

Chanyeol tak membantahku ataupun kembali bertanya. Dia menatap keluar jendela yang ada disamping kami. Aku mengikuti arah pandangannya. Tak ada yang menarik selain sebuah pohon gingko besar kering yang menjadi kebanggaan sekolah kami. Saat puncak musim semi, pohon itu baru akan terlihat indah dengan daunnya yang lebat.

Berkali-kali kulihat Chanyeol menghela nafasnya. Terlihat merasa sesak, seakan ada beban yang menumpuk dihatinya. Sepengamatanku, baru kali ini kulihat wajahnya yang bersedih. Yang kutahu, dia adalah orang yang sangat ceria. Dia selalu tersenyum, tertawa, matanya yang membesar saat tertawa terlihat seperti orang bodoh.

Ah, tapi masa bodoh dengannya. Aku tak peduli.

+++

Hari pertama sekolah berjalan membosankan. Kami pulang pukul 4 sore dan mulai besok kami akan pulang lebih telat, pukul 8 malam. Itu karena akan ada pelajaran tambahan.  Walau aku tak berniat melanjutkan ke universitas tapi sekolah tetap memaksa aku mengikuti pelajaran tambahan karena nilai-nilaiku yang buruk.

Sore yang muram. Tapi ada yang lebih muram lagi, yaitu wajah Park Chanyeol. Aku berusaha tak peduli padanya, tapi jujur saja aku merasa penasaran. Aku melihat dia mengabaikan Baekhyun yang berbicara padanya saat istirahat pertama. Seperti ada masalah diantara mereka. Aku tahu, Chanyeol tak meninggalkan kelas sepanjang hari. Dia hanya duduk diam di kursinya dan menatap pohon gingko. Saat istirahat kedua, Baekhyun kembali ke kelasku, menghampiri Chanyeol dan mengajaknya makan bersama. Tapi tak digubris, Jiyeon menatap cemas pada mereka berdua dari luar kelas.

Tebakkanku, Chanyeol tahu perselingkuhan Jiyeon dan Baekhyun. Dan dia merasa terpukul.

Tentu saja jika tebakanku benar, ini bukan kabar baik untukku.

Aku mencoba mensejajarkan langkahku dengan langkah gontai Chanyeol walau cukup sulit, kakinya yang panjang membuat langkahnya sangat lebar. Menyusahkanku menyusulnya. Dan dia menyadari itu, tampaknya. Dia menghentikan langkahnya dan menatapku tajam seakan aku baru saja melakukan kesalahan padanya.

“Mengikutiku?” serunya. Suaranya yang berat dan lantang membuat aku seakan berdiri di pojokkan.

“Tidak!” jawabku gugup.

Dia memandangku, tampaknya tak percaya dengan yang ku katakan.

“Untuk apa aku mengikutimu?” kataku lagi, memberikan penegasan. “k-kita hanya sejalur.”

“Itu bagus.” Ujarnya, “paling tidak, aku tak berjalan sendirian.”

Kami kemudian berjalan beriringan. Tak berkata apa-apa, meniti jalur trotoar bersama-sama dengan di kanan jalan hilir mudik kendaraan melaju.

Hingga di tikungan jalan yang licin, dimana air dari salju yang mencair bergenang. Bunyi decit kencang dari truk yang sedang melakukan pengereman mengejutkan kami. Bunyi klakson yang diisyaratkan oleh pengemudi truk yang panik meminta kami menghindari jalan.

Chanyeol mencengkram lenganku. Memintaku mempercepat langkah walau itu cukup sulit, kakiku lemas. Dia menarikku kuat. Truk di belakang kami yang lepas kendali menaiki trotoar tapi belum membuatnya berhenti dan akhinya menabrak kami.

Aku tertegun melihat tubuhku yang tak berdaya tergeletak setelah terlempar beberapa meter dari lokasi. Tubuh Chanyeol tak jauh dariku, dari keningnya darah mengucur. Sementara truk pembawa sial itu berhenti setelah menubruk sebuah kios.

Aku lalu memandang Chanyeol yang masih mencengkram lenganku. Matanya membulat, dia seperti tak bisa mengatupkan bibirnya. Dia memandang fisiknya yang menyedihkan.

“Apakah kita mati?”

Kali ini, aku sama sekali tak berani menjawab, “ya”.

+++

Aku dan Chanyeol mengikuti tubuh kami yang dibawa ke rumah sakit. Chanyeol tampak ketakutan tak seperti aku yang berusaha pasrah.  Dia sangat panik ketika melihat ayah, ibu, dan kakak perempuannya tiba. Dia ikut menangis bersama keluarganya. Berusaha memeluk ibunya, tetapi itu justru membuatnya terpental.

Aku dan Chanyeol saat ini mungkin dalam kondisi ‘roh’. Tapi tak seperti dicerita kalau roh bisa menembus tubuh manusia, hal itu tak terjadi pada kami. Ketika menyentuh manusia, itu akan membuat kami terpental, termasuk menyentuh tubuh kami sendiri. Kami hanya bisa menyentuh benda mati dan berpindah dengan menembus dinding.

Aku tak berani berjalan karena aku takut tak sengaja menyentuh tubuh manusia. Saat terpental begitu sangat menyakitkan.

Yang aku tahu, kondisi roh kami sangat tidak stabil. Kakiku sangat lemas karena tak menyentuh tanah. Tak ada yang dapat menjelaskan hal apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, saat ini aku dan Chanyeol belum mati. Tubuh fisik kami dalam kondisi kritis.

Chanyeol akhinya menghentikan tangisannya. Dia menghampiriku.

“Aku lelah…”

“Begitupun aku,” sahutku.

“Berapa lama kita akan seperti ini?”

Aku menatapnya, “kau bertanya seakan aku tahu jawabnya.”

Dia menghenyakkan diri, “tubuh ini terasa ringan. Tapi, aku ingin tubuhku.”

“Apa kita akan mati?”

Kali ini aku melihat Chanyeol menyeringai, “kau bertanya seakan aku tahu jawabnya.”

+++

Dua hari berlalu, tak ada perubahan. Aku tak dapat kembali ke tubuhku, begitu juga Chanyeol. Membosankan sekali ketika tak bisa melakukan apapun.

“Aku tak melihat keluargamu.”

“Aku yatim piatu,” sahutku. “Aku hidup sendirian.”

“Aku turut prihatin.”

“Itu tak perlu,” aku tersenyum.

“Hah? Ternyata kau bisa tersenyum.” Chanyeol menunjuk wajahku.

“Tak perlu kaget.”

“Bagaimana kalau kita pergi?” usulnya tiba-tiba.

“Kemana?”

“Berkeliling. Apa kau tak merasa di rumah sakit saja sangat membosankan. Sekarang kita berwujud roh. Kita bisa kemana saja. Bisa menembus tembok. Banyak tempat yang ingin ku kunjungi di Seoul ini.”

“Aku rasa aku tak bisa. Kakiku lemas, rasanya susah sekali menggerakkannya. Dan aku merasa takut…”

“Tak ada yang perlu ditakutkan. Aku menemanimu…”

Chanyeol menjulurkan tangannya untuk kuraih dan aku menggenggamnya. Ajaib  memang kami dapat bersentuhan. Mungkin karena kami sama-sama roh. Dan yang kuyakini sekarang, Chanyeol berhasil mengusir segala ketakutanku.

+++

Hari ketiga, senja. Aku dan Chanyeol duduk di halte bus. Mengamati orang-orang berlalu lalang. Berharap kami dapat bertemu dengan roh seperti kami. Yang lebih berpengalaman untuk dimintai bantuan. Tapi nihil. Hanya ada kami berdua di Seoul ini.

“Aku pikir hantu itu ada. Mereka sangat banyak keluyuran di jalan-jalan. Tapi, nyatanya? Hantu itu hanya kita berdua,” Chanyeol terkekeh mengatakannya.

“Kita bahkan hantu yang takut pada manusia. Bersentuhan sedikit saja membuat kita terpental jauh.”

“Yoojin…”

“Hm?” sahutku.

“Yoojin…”

Aku tertawa.

“Ayo kita ke bioskop.” Ajaknya.

“Ok.”

+++

Hari kelima, malam. Kami di sekolah, di perpustakaan tepatnya. Berbaring bersisian diantara rak buku. Lengan Chanyeol menjadi bantalan kepalaku. Tak kusangka dia memiliki suara yang merdu. Lagu-lagu yang indah mengalun dari bibirnya. Setelah lagu ke sepuluh, dia mengakhirinya dengan mengecup bibirku.

Aku terkejut dan mendudukkan diri. Dia melihat kepanikanku.

“Kau tak suka?”

“Tentu saja. Begitu tiba-tiba. Tanpa peringatan. Aku kaget!”

“Apa itu pertama kalinya untukmu?”

Aku mengangguk kemudian menggeleng. Dia mengerjaiku. Dia tertawa keras. Aku sangat malu.

“Boleh aku melakukannya lagi?”

Aku menatapnya sejenak. Lalu, menundukkan wajahku, berpikir. Tak lama aku mengangguk.

Jemari Chanyeol yang panjang merengkuh wajahku, membelainya. Rasanya seperti tersengat listrik ringan saat bibir Chanyeol menyapu bibirku. Saat Chanyeol menciumku, aku berpikir, begitu beruntungnya Jiyeon yang selalu merasakan bibir ini. Pasti rasanya berbeda jika tubuh fisiknya yang melakukan ini.

Karena kami tak bernafas, tak ada rasa sesak pada dada walau kami berciuman sangat lama. Walau tampak menggairahkan, kami tak bisa melakukan hal yang lebih jauh.

“Yoojin, kita harus berciuman saat kembali ke tubuh kita. Rasanya pasti sangat luar biasa.”

“Apa boleh? Kau memiliki Jiyeon.”

“Kami sudah putus.”

“Kenapa?”

“Karena dia tak pernah mencintaiku…”

Aku menatapnya, “akupun tidak mencintaimu.”

###### LANJUT KE VERSI KETIGA

10 Meters

-Cast:

Park Chanyeol,

Byun Baekhyun,

Kim Jongin,

Song Yoojin and Jung Jiyeon.

-Genre:

Friendship, Romance

-First Jump-

“Siapa yang paling kau sukai?”

“Byun Baekhyun, Park Chanyeol dan Kim Jongin. Ah.. mereka adalah pangeran sekolah. Sulit memilih salah satu…”

“Coret Park Chanyeol dari daftar! Dia milik Jung Jiyeon, mereka adalah pasangan paling serasi di sekolah ini! Berani mengusik hubungan mereka, kau akan masuk daftar siswa yang akan ditindas oleh seluruh sekolah!”

Itulah isi percakapan para siswi yang tak asing di dengar  setiap kali jam istirahat ataupun jam kosong tiba di sekolah tinggi Yanhwa. Di lorong sekolah, di kantin dan di kelas mereka tak henti-henti membicarakan dan mengagumi empat orang paling popular di sekolah itu.

“Kenapa Byun Baekhyun selalu menolak gadis yang menyatakan cinta padanya?” gumam seorang gadis bernama Song Yoojin. Gadis bertubuh kurus dengan rambut hitam lebat sebahu yang masih duduk di tingkat 2  . Dia memandangi kedua sahabatnya, Jung Hanbyul dan Im Soojung. Mereka berada di kelas mereka, menikmati bekal makan siang saat jam istirahat tiba.

“Entahlah…” sahut Hanbyul.

“Walau begitu, apa kau akan menyerah? Paling tidak biarkan dia tahu kalau kau menyukainya.”  Seru Soojung.

Yoojin tersenyum pada dua sahabatnya. “Aku tak akan menyerah. Aku pastikan, dia akan menjadi milikku!”

++++++++

Song Yoojin hanyalah seorang gadis biasa dengan prestasi akademik yang juga biasa saja. Wajahnya tak secantik Han Ga In artis tercantik di Korea selatan, tubuhnya tak seimut Moon Geum Yoong sang gadis kesayangan negeri ini. Dia hanyalah gadis bertampang biasa saja , usianya genap 17 tahun pada bulan September tahun ini. Seperti gadis biasa lain yang sebaya dengannya, diapun merasakan jatuh cinta. Ya, jatuh cinta pada  seorang pria,  yang merupakan teman di sekolahnya.

Pria itu adalah Byun Baekhyun. Yoojin tak pernah berhenti memikirkan pria itu sejak pertama kali mereka berjumpa. Perjumpaan pertama di musim semi tahun lalu saat hari pertama Yoojin terdaftar di YanHwa High school.

Sayangnya, Baekhyun bukanlah pria yang gampang didekati. Dia termasuk orang yang selektif dalam berteman. Dan Baekhyun, seperti seorang yang anti wanita. Dia hanya dekat dengan Jung Jiyeon yang merupakan sahabatnya sejak kecil. Selain dengan gadis itu, Baekhyun hanya berteman akrab dengan Park Chanyeol  yang merupakan kekasih Jiyeon dan Kim Jongin yang merupakan anak kepala sekolah.

Mereka berempat adalah siswa yang menjadi kebanggaan sekolah. Sangat popular dan dikagumi. Chanyeol adalah siswa terpandai, bertubuh tinggi dan sangat mahir dalam olahraga basket dan sepak bola.  Wajahnya yang tampan selalu dihiasi senyuman manis. Sangat ramah pada setiap orang dan selalu membawa keceriaan dengan cara berbicaranya. Jiyeon juga tak kalah hebatnya dengan sang pacar. Gadis itu juga sangat pandai secara akademis maupun dalam kesenian. Dia adalah ratu theater sekolah. Sementara Baekhyun dia dianugerahi suara yang sangat indah. Di bidang akademik nilai matematikanya selalu yang terbaik. Dan Kim Jongin, dia adalah bintang sepak bola sekolah. Dia juga termasuk siswa terpandai dan tertampan.

Hubungan persahabatan mereka begitu rekat. Seakan tak membiarkan orang lain mencari celah untuk masuk ke dalam hubungan mereka. Dan kebanyakan siswa Yanhwa, hanya bisa menatap iri setiap kali melihat mereka bersama.

Tapi, Yoojin tak akan menyerah. Dia ingin menarik Baekhyun dari pelukan sahabat-sahabatnya itu. Dia ingin Baekhyun sadar bahwa masih ada orang lain yang mencintai dan menyayanginya selain sahabat-sahabatnya.

Ada seorang Song Yoojin yang begitu menyukainya dan bersumpah akan membuat Baekhyun mendapatkan kebahagian yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Ya, tekad Yoojin menyatakan cinta pada Byun Baekhyun di pepero’s day tahun ini sudah bulat. Yoojin tak akan menyerah hingga Baekhyun mau menjadikan Yoojin kekasihnya.

++++++++

“Yoojin-ah. Kau sudah siap?! Lakukan dengan baik atau jangan menyatakannya sama sekali! Kau mengerti maksudku. Kau harus siap mendapatkan penolakan!” seru Hanbyul sepulang sekolah.

“Kenapa pesimistis begitu! Yaa, berikan sugesti positif padaku!”

“Jangan berdebat. Baekhyun sudah semakin jauh. Dan kau tahu, tidak hanya kau yang akan menembaknya hari ini!” ujar Soojung.

Arraseo!”

Ketiga gadis itu berjalan dengan sangat cepat mengikuti Baekhyun, Chanyeol dan Jongin yang sedang berjalan menuju halte bis yang akan mengantar mereka ke pulang.

“Kita akan masuk ke bis yang sama dengan mereka! Saat akan turun nanti, aku dan Soojung akan mengamankan Chanyeol dan Jongin. Kau harus dekati Baekhyun pada saat itu! Hanya ini kesempatan yang bagus untuk menyatakan cinta. Jangan sampai kau mengacaukannya!” Hanbyul kembali menjelaskan rencana yang mereka susun saat istirahat sekolah.

“Aku mengandalkan kalian!” seru Yoojin. “Kajja, bis mereka sudah dekat!”

Misi pertama sukses. Yoojin dan sahabatnya berhasil masuk ke dalam bis yang sama dengan Baekhyun dan kawan-kawannya.

Sepanjang perjalanan, Yoojin berdoa agar keajaiban datang. Baekhyun menerima perasaannya. Sudah berbuat nekat seperti sasaeng akan sangat mengecewakan jika ditolak.

Hingga pada akhirnya misi sesungguhnya mulai dilancarkan. Yoojin bersama sahabatnya mengikuti Baekhyun dan kawan-kawannya turun dari bis. Pada saat itu juga, Hanbyul dan Soojung berlari sekuat tenaga hingga mereka berdua meraih lengan Chanyeol  dan Jongin.

Yaa.. kami mohon ikut kami!” seru mereka kompak pada Chanyeol dan Jongin.

Ige Mwo?!” ketiga pria itu tersentak kaget dan membulatkan bibir mereka.

Sementara itu Yoojin mendekati Baekhyun. “Aku ingin bicara berdua denganmu!”

kekeke~”

Yoojin memandang Chanyeol yang menertawakan. “Boleh aku berbicara berdua saja dengan temanmu ini?”

“Tentu.Gwenchana, Silahkan dan semoga berhasil…” sahutnya masih terkekeh. Dia menepuk pundak Baekhyun lalu melirik pada Jongin, “… Jongin-ah, ayo kita tinggalkan mereka. Hei, kalian juga…” dia menunjuk pada Hanbyul dan Soojung.

“Chanyeola~” seru Baekhyun. Dari ekspresinya dia tak ingin meladeni Yoojin.

“Berikan kesempatan pada dia untuk bicara!” bujuk Chanyeol. “Hei, bagaimana kalau kita berempat menikmati ice cream di toko seberang sana.” Ajak Chanyeol pada  yang lain.

“Di cuaca sedingin ini?!” seru Hanbyul dan Soojung.

Ne, tak mau? Aku yang traktir…”

“Tentu saja mau!” sahut kedua gadis itu.

Chanyeol mengangguk sembari tertawa. Dia memimpin menyebrangi jalan yang cukup ramai dilalui kendaraan diikuti oleh Hanbyul, Soojung dan Jongin yang sedari tadi diam saja.

“Baiklah, apa yang ingin kau katakan?” Tanya Baekhyun setelah empat orang tadi sudah di sebrang jalan.

“A-aku hanya ingin bilang kalau aku menyukaimu…” seru Yoojin berusaha menekan rasa gugupnya. Sebelumnya dia tak merasa segugup ini, tapi setelah dibiarkan berdua saja dengan Baekhyun membuat rasa gugup itu muncul. Melihat wajah tampan Baekhyun saja dia takut. Takut tak bisa menahan perasaan ingin memeluk dan mencium lelaki itu.

“Baiklah, kau sudah mengatakannya. Aku pergi…”

Baekhyun mulai berjalan. Dia ingin pulang segera karena tubuhnya sedang tidak sehat hari ini. Pernyataan cinta dari Yoojin hanya dianggap angin lalu olehnya.

Kajima….” Yoojin berusaha menyusul Baekhyun. “… kau belum menjawabku, Baekhyun-ah.”

Pria itu menghentikan langkahnya.

“Maaf. Kita bahkan tak saling kenal…”

“Kita satu sekolah, dan kelas kita bersebelahan.” Seru Yoojin.

“Tapi tetap saja kita tak saling kenal!”

“Ki-kita… kita bisa berusaha saling mengenal!”

Baekhyun menghela nafas. Dia menatap kesal pada Yoojin. “Kau harusnya paham kalau aku sedang menolakmu!”

YooJin menunduk. Bulir air yang bening seketika mulai mengalir dari matanya. Dengan cepat dia menghapusnya. Dia memandang ke sebrang jalan. Dia melihat Hanbyul dan Soojung sedang memberikan semangat padanya dari sana.

“Aku tak akan menyerah!” Hentak Yoojin. Mengagetkan Baekhyun. Dia menatap pria itu, matanya berkaca-kaca menahan perasaan pedih ditolak. “Aku tak akan menyerah untuk menyukaimu! Aku akan selalu menyukaimu!”

Yoojin segera berlari menjauh dari Baekhyun.  Dia lalu menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri terlebih dahulu padahal banyak kendaraan yang berlalu lalang dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Hingga tragedy itu terjadi dengan cepat.

Yoojin tak bisa mengingat dengan jelas apa yang telah terjadi berikutnya Dia hanya bisa menatap Chanyeol yang mendekap tubuhnya dan mereka berdua tergeletak tak berdaya di tengah jalan.

“K-kau tak apa-apa….” Kata pria itu lemah dengan darah mengucur deras dari kepalanya.

Yoojin tak menjawab. Tak ada tenaga untuk menggerakan lidahnya dan setelah itu semua berubah menjadi gelap.

++++++++

Yoojin membuka matanya perlahan. Cahaya lampu ruangan rumah sakit segera saja menyilaukan mata. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Semua terasa sakit. Di tangan sebelah kirinya tertancap jarum infuse.

Dia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Dia mulai ingat, dia tertabrak mobil tapi Chanyeol  yang berada di sebrang jalan berusaha menyelamatkannya. Kejadiannya sangat cepat. Yoojin bersyukur dia masih hidup walau sekujur tubuhnya saat ini sangat sakit.

Semulai Yoojin mengira dirinya hanya sendirian di ruangannya itu. Tapi ternyata tidak.

Park Chanyeol dan Hanbyul bersamanya. Pria itu berdiri di samping pintu, sementara Hanbyul tertidur di kursi di sudut kiri ruangan . Ketika Yoojin mencoba mendudukkan diri , Chanyeol mendekatinya.

“Ternyata… kau tak apa-apa.” Seru Yoojin memperhatikan Chanyeol yang masih mengenakan seragam sekolah dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Chanyeol tak menjawab.

“Syukurlah kau baik-baik saja. Te-terima kasih sudah menolongku….” kata Yoojin.

“Hm… Yoojin-ah. K-kau sudah sadar?!” Hanbyul terbangun, segera mendekati Yoojin.

“Byul….”

“Berbaringlah! Aku akan panggil ibumu dan dokter!” Hanbyul segera keluar ruangan.

“Eugh… tubuhku sakit semua. Tapi bisa ku gerakkan…” Yoojin berusaha tersenyum pada Chanyeol yang masih memandangnya dingin. “… Yaa, kau kenapa? Kenapa menemaniku disini?”

“K-kau…”

“Hm?”

“K-kau… bisa melihatku?”

Sunyi segera saja menyergap Yoojin dan seisi ruangan.

“T-tentu s-saja!” seru Yoojin.

“Tapi… kenapa hanya kau saja?” suara berat Chanyeol terdengar bergetar.

Yoojin menatap Chanyeol. Memang ada yang aneh pada pria ini. Terakhir yang Yoojin ingat, dia berada dipelukan pria itu. Dan saat itu dia melihat Chanyeol mengeluarkan darah yang banyak dari kepalanya. Dia benar-benar tak mengerti.

“A-aku tak mengerti ma-maksudmu….” Yoojin terbata.

“K-kenapa sejak kecelakaan dua hari lalu, tak ada yang bisa melihatku! Kenapa hanya kau? Dan kenapa aku tak bisa beranjak jauh darimu! Aku terkurung di ruangan ini bersamamu!”

Yoojin terdiam.

“A-aku belum mati! A-aku bisa merasakan jantungku berdetak. “ Chanyeol memegang dadanya. “Ta-tapi, kenapa aku tak bisa mendekati tubuhku. Aku bahkan tak tahu dimana aku di rawat. Saat aku mencoba mencari. Aku selalu kembali disampingmu! Ada apa ini?! Apa yang terjadi denganku?!”

++++++++

Yoojin berbaring, dia masih di rawat di rumah sakit. Dia menutupi wajah dengan kedua tangannya. Merasa ketakutan karena Chanyeol yang hanya bisa dilihat olehnya berdiri disampingnya tak berpindah.  Entah kenapa semua orang yang mengunjunginya tak menyadari keberadaan Chanyeol di ruangan itu. Itu membuat Yoojin sangat ketakutan. Apakah pria disebelahnya ini hantu? Tapi Hanbyul bilang Chanyeol belum mati. Pria itu dirawat di ruangan khusus di rumah sakit ini.

Park Chanyeol dalam kondisi koma. Dia mengalami cedera parah di kepalanya. Dan itu semua karena salah Yoojin. Yoojin yang tak berhati-hati saat menyebrang jalan. Yoojin yang menyebabkan Chanyeol yang menyelamatkan dirinya justru terluka lebih parah.

“Mianhae…” Yoojin berbisik pada Chanyeol setiap kali dia ditinggal sendirian di ruang perawatan.

“A-aku ingin pergi dari ruangan ini. Aku ingin melihat tubuhku…”

“A-aku.. tahu. Tapi, aku tak bisa membantumu!” Yoojin terisak. Ini sudah hari keempat Yoojin dirawat. Dia masih belum bisa keluar dari ruang inapnya.

Chanyeol menatapnya, “Empat hari terkurung di ruangan ini bersamamu. A-aku juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, jika aku memang tak bisa kembali pada tubuhku. Aku ingin kau mengatakan pada keluargaku, katakan pada mereka aku sangat menyayangi mereka. Juga pada Baekhyun dan Jongin, mereka sahabat terbaikku dan….” Chanyeol meneteskan air mata. Entahlah bagaimana hantu seperti dia bisa menangis. Tapi dengan keberadaanya di samping Yoojin padahal seharusnya secara fisik dia dalam kondisi koma, ini semua sudah diluar nalar Yoojin. “…. Katakan pada Jiyeon kalau aku sangat mencintainya.”

“Maafkan aku. Aku yang membuatmu seperti ini…”

“Mungkin ini takdirku. Tapi, aku tak menyangka aku akan mati semuda ini.”

“Kau belum mati Park Chanyeol!” seru Yoojin.  Dia mendudukkan diri, menatap Chanyeol. “Kau belum mati!”

“Tapi, aku yakin waktuku tak lama lagi…”

“Ini semua salahku….” Isak Yoojin.

“Aku memaafkanmu…. “ Chanyeol menepuk puncak kepala Yoojin. Dan Chanyeol terkejut. Dia tak bisa menyentuh benda lain tapi bisa menyentuh tubuh Yoojin. Semula dia seperti roh yang ada di film, tak bisa menyentuh apapun, tapi entah kenapa dia bisa menyentuh Yoojin.  “A-aku bisa menyentuhmu….”

#### DAN SAMPAI SINILAH KEBERSAMAAN KITA… SAMPAI JUMPA LAGI KAWAN-KAWAN

11 thoughts on “ISENG DOANG, ada FF gagal Lhoo, dibaca aja klo senggang

  1. klo liat nma Author onmithee psti lngsung inget sm ff chocolate in love yg bner2 buming🙂 stlah skian lma akhir nya kambeck jga^^bnran tu ga akan ada lanjutan nya? Aigo!!! Author tga bnget😦 pdhal ak ngepens bnget sm Author onmithee🙂 smua ff nya ak ska apa lg yg chocolate in love itu ff prtma yg bkin ak knel sm Author onmithe dn stlah itu ak bner2 ngpens..!!!
    Ayo dng Author bkin ff yg saquel lg? Jebal..!!!ak bner2 mnanti krya2 nya Author🙂

  2. hahahahahaaaaa…. baca ff ini bikin aku seneng dan ngakak bangeet.. apalagi kalo udah end tiba-tiba di saat yg ga disangka-sangka.. hahaha.. berasa kayak gmn gituu, perasaan campur aduk tapi seruu.. thanks a lot for you who gave me that feeling🙂 kamu pinter banget dapetin ide-ide yg ga biasa dan mengemasnya dgn ciamik bangeet.. aku ga bakalan protes kamu bikin ff gantung kayak gini karena aku sendiri yg bakal ngelanjutin ceritanya sesuai imajinasiku sendirii dan itu sangat menyenangkaan~~ terima kasiih yaa😀

  3. Onnie.. lanjutin yang cerita tentang delusi dan yang tentang kembar meninggal satu dong… :)) Pasti deh akan jadi ff daebak.. secara yg bikin onnie mitha.. :))

  4. ASSFGHJKL …
    APA INI???
    oenni … ini namanya PHP😥
    kangen ff oenn, beneran deh …
    ini ff yg Heeyeojyea kyknya seru klo dilanjut *ngarep*😄

  5. eonni itu infinitely lovenya yakin ga dilanjutin? *puppy eyes

    ITU SERU BANGET EONNI OH MAY GAWD SERIOUSLY BAGUS BANGEEEEEEET.

    Suka kisah Jinki-Ruminya, aku jadi inget married idol ih!

    hiks sayang bgt ga dilanjutin, partnya udah banyak pula.

  6. hai eonni
    aku paling suka yg ff gagal #2
    misterius bgt si hyorin mati knp
    pdhal yg nolong kyu wktu kcil kan chaeri tp knp mlah diusir
    msh clueless bgt lah
    pengennya si bisa dilanjutin gitu

    oh ya, aku baca ff prtama kali itu tahun 2011-an
    dan yg aku baca pertama itu Chocolate in LOve yg bener2 wow n fantastis itu
    gud job eonni

  7. suka banget sama 3 ff teratas..
    lanjutin dong kak~
    plisss..
    ide ff nya bener2 freshh,sayang banget kalo ga di lannjutin ㅠㅠ

  8. Setelah baca ff-ff diatas jadi kangen betulan sama tulisannya onmithee; ya, sama zaman-zaman chocolate in love.

    Tulisan unnie itu rapi, cara nulisnya khas, dan ceritanya beda dari yang lain. Sedih karena sekarang udah jarang update ff. Semoga dikasih ide dan kesempatan supaya bisa aktif di ff lagi🙂 se ma ngat ya unnie

    Oh ya, di atas yang paling bagus menurutku itu Heeyeojya. ide ceritanya menarik dan endingnya ga bisa kebaca sama sekali tapi dari potongan naas segitu aja udah attracted. errrm, penasaran banget sama lanjutannya haha. ugh kayanya kyuhyun disitu bakal dingin-dingin tapi loveable❤

    okaaay, in the end, semangat ya buat apapunnya onmithee unnie! ff-nya selalu ditunggu whenever it is :—-)

  9. entahlah udah berapa kali baca postingan ini..masih berharap 3 ff teratas dilanjutin haha

    author kapan balik ke dunia per-ff-an??kangen banget sama tulisan2 kamu :”

*Ayo Comment Dunks ^0^/

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s